cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Patrawidya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya
ISSN : 14115239     EISSN : 25984209     DOI : -
Core Subject : Art, Social,
The Patrawidya appears in a dark gray cover with a papyrus manuscript. The Patrawidya Journal is published three times a year in April, August and December. The study of the Patrawidya Journal article is on the family of history and culture. The Patrawidya name came from a combination of two words "patra" and "widya", derived from Sanskrit, and became an absorption word in Old Javanese. the word "patra" is derived from the word "pattra", from the root of the term pat = float, which is then interpreted by the wings of birds; fur, leaves; flower leaf; fragrant plants fragrant; leaves used for writing; letter; document; thin metal or gold leaf. The word "widya" comes from the word "vidya", from the root vid = know, which then means "science". Patrawidya is defined as "a sheet containing science" ISSN 1411-5239 (print) ISSN 2598-4209 (online).
Arjuna Subject : -
Articles 11 Documents
Search results for , issue " Vol 19, No 3 (2018)" : 11 Documents clear
PERAN KIAI IBRAHIM TUNGGUL WULUNG SEBAGAI MISIONARIS DI TEGALOMBO, PATI, PADA ABAD 18: PERSPEKTIF POSTKOLONIAL Dikawati, reni
Patrawidya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya Vol 19, No 3 (2018)
Publisher : Balai Pelestarian nilai budaya Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (285.199 KB)

Abstract

Perspektif postcolonial memberi ruang menyuarakan sekaligus penelusuran ulang terhadap upaya teologi lokal yang terpinggirkan, mengungkap idealitas yang diharapkan individu (indigeneous) dibawah relasi kuasa penguasa yang diwacanakan sebelumnya oleh pemerintah kolonial. Telaah postcolonial di era kontemporer menjadi ruang negosiasi yang berimplikasi pada suatu kesadaran dan sistem mentalitas kritis dalam memandang dikotomi Barat dan Timur. Penelitian ini bertujuan menelaah peranan dan konsistensi pengajaran Kiai Ibrahim Tunggul Wulung dengan sudut pandang postcolonial dalam menyebarkan ajaran Kristen Kejawen, sehingga menjadi bentuk negosiasi identitas dalam struktur sosial di bawah pemerintah kolonial. Hasil temuan menunjukkan transfer pengajaran Kristen oleh Tunggul Wulung menampilkan spiritualitas dan humanisme religious, diimbangi asketisme serta kesadaran politik menentukan  hak nasib sendiri, resistensi atas represi kolonialisme, yang secara implisit menampilkan keinginan hidup bersama dalam suasana demokrasi. Pola nalar dan mentalitas yang mengidentifikasikan kebebasan berpikir dan kadar penerimaan yang mengarah pada pembentukan identitas sosial sebagai bekal pembebasan dari kesewenangan pemeintah.____________________________________________________________The postcolonial perspective gives space to voice and retrace the efforts of marginalized local theology, uncovering the ideality that is expected by the individual (indigeneous) under the power relations of the authorities which were pre-discouraged by the colonial government. Postcolonial analysis in the contemporary era has become a space for negotiation which has implications for an awareness and critical mentality system in looking at the West and East dichotomy. This study aims to examine the role and consistency of the teaching of Kiai Ibrahim Tunggul Wulung in spreading the teachings of Kejawen Christianity, so that it becomes a form of identity negotiation in social structures under the colonial government. The findings show that the transfer of Christian teaching by Tunggul Wulung shows religious humanism and spirituality, balanced with asceticism and political awareness of selfdetermination, resistance to colonial repression, which implicitly displays the desire to live together in an atmosphere of democracy. The pattern of reasoning and mentality that identifies freedom of thought and the level of acceptance that leads to the formation of social identity as a provision for liberation from the authority of the government.
Cover Widya, Patra
Patrawidya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya Vol 19, No 3 (2018)
Publisher : Balai Pelestarian nilai budaya Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (72.311 KB)

Abstract

MENYELAMATKAN NADI KEHIDUPAN: PENCEMARAN SUNGAI BRANTAS DAN PENANGGULANGANNYA DALAM PERPEKSTIF SEJARAH Nawiyanto, Nawiyanto
Patrawidya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya Vol 19, No 3 (2018)
Publisher : Balai Pelestarian nilai budaya Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (270.817 KB)

Abstract

Sungai mempunyai peran vital bagi berlangsungnya kehidupan. Mengingat begitu pentingnya sungai bagi kehidupan, keberadaan sungai telah menarik minat sejumlah peneliti untuk mengangkatnya dalam penulisan sejarah. Kajian-kajian historis tentang sungai cenderung melihat peran sentral sungai sebagai fondasi peradaban dan sungai sebagai sumber bencana dalam bentuk banjir. Belum banyak kajian sejarah yang menyoroti sungai sebagai elemen lingkungan yang sedang sekarat. Oleh karena itu, tulisan ini bermaksud untuk mengkaji problem pencemaran Sungai Brantas dan upaya penanggulangannya dalam perspektif sejarah. Sungai Brantas dijadikan sebagai fokus kajian dengan pertimbangan bahwa sungai ini merupakan sungai terbesar dan terpenting di wilayah Jawa Timur, serta kondisi cabang-cabang Sungai Brantas khususnya di kawasan kota Surabaya mengalami pencemaran. Tulisan ini bertujuan: 1) Mengkaji faktor-faktor yang menyebabkan parahnya problem pencemaran yang terjadi di Sungai Brantas dan 2) Menjelaskan upaya-upaya yang telah dilakukan untuk mengatasi problem pencemaran Sungai Brantas.____________________________________________________________River has a vital role for life. Given the importance of the river for life, the existence of the river has attracted the interest of a number of researchers to raise it in historical writing. Historical studies of rivers tend to see the central role of rivers as the foundation of civilization and as a source of disasters in the form of flooding. There have not been many historical studies that highlight the rivers as an element of the environment that is dying. Therefore, this paper intends to examine the problem of Brantas River pollution and efforts to overcome it in a historical perspective. The Brantas River is used as the focus of the study with the consideration that this river is the largest and most important river in the East Java region, and the condition of the Brantas River branches, especially in the Surabaya city area, has been polluted. This paper aims at examining the sources that caused the growing pollution problem that occured in the Brantas River and explaining the efforts that have been made to overcome the problem of Brantas River pollution.
DARI OPIUM HINGGA BATIK: LASEM DALAM “KUASA” TIONGHOA ABAD XIX-XX Lestari, Siska Nurazizah; Wiratama, Nara Setya
Patrawidya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya Vol 19, No 3 (2018)
Publisher : Balai Pelestarian nilai budaya Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (396.211 KB)

Abstract

Dalam menghadapi kompetisi perdagangan dengan warga etnis Tionghoa, warga Belanda (vrijburgers) memang tidak dapat menandingi, sehingga timbul perasaan tidak senang. Hal itu membuat VOC menerapkan pembatasan-pembatasan terhadap warga etnis Tionghoa. Sementara itu, kepiawaian etnis Tionghoa dalam berdagang opium menyebabkan etnis Tionghoa di Lasem tumbuh sangat kaya pada abad XIX. Setelah meredupnya bisnis candu, warga Tionghoa Lasem kembali lagi menggeluti bisnis batik yang telah lama ditinggalkan. Sejak abad ke-19, para pengrajin Tionghoa telah berperan penting dalam produksi sejumlah rumah produksi batik di pesisir di Lasem. Akan tetapi hubungan sosial antara pengusaha dan buruh kurang terjalin dengan baik, karena hak-hak buruh tersebut kurang terpenuhi dengan baik. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif, dan termasuk dalam penelitian sejarah sosial-ekonomi, di mana masyarakat Lasem abad XIX hingga XX sebagai objek. Adapun tujuan historiografis yang ingin dicapai dari penelitian ini yaitu mendokumentasikan sejarah sosial-ekonomi sebagai dampak perkembangan bisnis opium dan batik di Lasem pada abad XIX sampai dengan abad XX.____________________________________________________________In the case of facing trade competition with Chinese citizens, Dutch citizens (vrijburgers) couldn’t compete it, so they created feelings of displeasure.This situation made the VOC imposed restrictions on Chinese citizen. Meanwhile, Chinese expertise in the trade of opium caused the Chinese in Lasem to grow very rich in the nineteenth century. After the declining of opiate business, the Chinese resident Lasem back again focussed on batik business that has been long abandoned. Since the 19th century, Chinese craftsmen have the significant role in the production of a number of batik houses on the coast in Lasem. However, the social relations between employers and workers are poorly intertwined, because the labor rights are poorly fulfilled. This research is a qualitative research, and included in the study of socio-economic history, where the people of Lasem XIX to XX as the object. The historiographic objective to be achieved from this research is documenting the socio-economic history as the impact of the development of opium and batik business in Lasem in the XIX century up to the XX century.
FUNGSI RUMAH ADAT TANGFA KOMUNITAS SKOUW SAE Usman, La
Patrawidya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya Vol 19, No 3 (2018)
Publisher : Balai Pelestarian nilai budaya Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (259.82 KB)

Abstract

Warga kampung Skouw Sae, Distrik Muara Tami, Kota Jayapura sering melakukan kegiatan pewarisan pengetahuan pada rumah adat. Pertanyaan yang ingin dijawab berkaitan dengan judul di atas adalah apa saja fungsi kegiatan tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan antropologi dengan menggunakan beberapa teknik yaitu: studi pustaka, observasi, wawancara. Setelah semua data yang dibutuhkan terkumpul kemudian dideskripsikan, dianalisis dan diinterpretasikan, dan ditarik suatu kesimpulan Hasil penelitian menemukan terdapat tujuh fungsi kegiatan di atas. Pertama, pewarisan pengetahuan kegiatan ekonomi (tegalan, beternak, nelayan, serta berburu) untuk pemenuhan kebutuhan dasar. Kedua, pengenalan perkawinan untuk pemenuhan kebutuhan reproduksi guna keberlangsungan kehidupan individu, keluarga, klan serta komunitas. Ketiga, pengenalan pembayaran kepala (denda) dari keluarga suami kepada kepada keluarga istri untuk pemenuhan kebutuhan kenyaman dan kesejahteraan tubuh. Keempat, pengenalan kegiatan Natal dan Paskah untuk pemenuhan kebutuhan keselamatan. Kelima, pengenalan kegiatan kunjungan keluarga ke wilayah Wutung untuk pemenuhan kebutuhan relaks individu. Keenam, pengenalan peran kepemimpinan kampung untuk pemenuhan kebutuhan gerakan. Ketiga, pengenalan pentingnya pendidikan formal untuk pemenuhan kebutuhan pertumbuhan.____________________________________________________________Residents of the Skouw Sae village, Muara Tami District, Jayapura City often carry out inheritance activities in traditional houses. The question to be answered regarding the title above is what are the functions of the activity. This study uses an anthropological approach using several techniques, namely: literature study, observation, interview. After all the required data collected then described, analyzed and interpreted, and drawn a conclusion The results of the study found that there are seven functions of the above activities. First, inheritance of knowledge of economic activities (moor, breeding, fishing, and hunting) to fulfill basic needs. Second, the introduction of marriage for the fulfillment of reproductive needs in order to sustain the lives of individuals, families, clans and communities. Third, the introduction of head payments (fines) from the husband's family to the wife's family to fulfill the body's comfort and well-being needs. Fourth, the introduction of Christmas and Easter activities to meet safety needs. Fifth, the introduction of family visit activities to the Wutung area to fulfill individual relaxation needs. Sixth, the introduction of the village leadership role to fulfill the needs of the movement. Third, the introduction of the importance of formal education to fulfill growth needs.
RITUAL MENUMBAI ORANG PETALANGAN DALAM PERSPEKTIF LINGUISTIK ANTROPOLOGIS Yance, Imelda
Patrawidya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya Vol 19, No 3 (2018)
Publisher : Balai Pelestarian nilai budaya Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (524.817 KB)

Abstract

Kajian ini berfokus pada ritual menumbai yang dilakukan oleh Orang Petalangan, salah satu suku asli di Provinsi Riau. Kajian ini dilakukan untuk mendeskripsikan bentuk dan makna leksikon, fungsi dan sistem kognisi Orang Petalangan yang tercermin dalam ritual tersebut.Kajian ini dilakukan dengan pendekatan linguistik antropologis dan metode kualitatif-deskriptif. Dari hasil analisis data terungkap bahwa ritual menumbai terekam dalam sejumlah leksikon budaya berupa kata dan kelompok kata, kata asal dan kata turunan, bersifat denotatif dan konotatif. Leksikon tersebut menjadi indeks dan simbol dalam pengungkapan realitas budaya Orang Petalangan baik dalam wujud benda, cara hidup, maupun cara berpikir. Ritual menumbai berfungsi untuk meminta petunjuk, menghormati, memberi tahu, menghipnotis, membujuk, memohon izin, meminta perlindungan, meminta berbohong, mengingatkan, menggambarkan keberadaan, memuji, mengusir, mongonsentrasikan pikiran, mengutarakan keinginan, pamit, dan menghibur. Secara umum, semua fungsi tersebut bersifat produktif dan protektif. Sistem kognisi Orang Petalangan yang tercermin dalam ritual menumbai terkait dengan religi, alam gaib, manusia, dan lingkungan.____________________________________________________________This study focused on the menumbai ritual performed by Petalangan People, one of the indigenous people in Riau Province. The study was conducted to describe the shape and meaning of the lexicon, function and cognition system of Petalangan People which is reflected in the ritual. The study was conducted with an anthropological linguistic approach and a qualitative-descriptive method. The findings obtained from the data analysis show that the ritual is recorded in a number of cultural lexicons such as word and word group, base and derivative words, denotative and connotative. The lexicon is an index and symbol in the cultural expression of Petalangan People both in the form of things, way of life and way of thinking. Theritual serves to ask for clues, to respect, to tell, to hypnotize, to persuade, to ask permission, to ask for protection, to ask for lies, to remind, to describe existence, to praise, to expel, to concentrate thoughts, to express desires, to say goodbye and to comfort. In general, all of these functions are productive and protective. The Petalangan cognition system is reflected in the ritual associated with religi, the occult, human and the environment.
Cover Belakang Widya, Patra
Patrawidya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya Vol 19, No 3 (2018)
Publisher : Balai Pelestarian nilai budaya Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2288.803 KB)

Abstract

PENGALAMAN RELIJIUSITAS DALAM TEATER TRADISIONAL MASYARAKAT MADURA DI SITUBONDO Hidayatullah, Panakajaya
Patrawidya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya Vol 19, No 3 (2018)
Publisher : Balai Pelestarian nilai budaya Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (618.522 KB)

Abstract

Artikel ini merupakan hasil penelitian antropologi seni dengan menggunakan metode etnografi. Secara komprehensif menyoroti persoalan mengenai pengalaman relijiusitas masyarakat Madura di Situbondo dalam pertunjukan teater tradisional: Drama Al Badar dan Tabbhuwân Wali Sanga. Hasil kajian menunjukkan bahwa pengalaman relijiusitas masyarakat Madura melalui seni lebih bisa mendekatkan diri kepada Tuhan. Dibuktikan dari beberapa pengalaman pelaku seni dan penonton yang memaknai seni teater tradisional sebagai bagian dari laku spiritualnya. Internalisasi nilai-nilai Islam kepada masyarakat Madura cenderung lebih mudah diterima melalui seni tradisi. Relijiusitas melalui teater tradisional ini menunjukkan kecenderungan Islam tradisional, bisa dikatakan juga Islam kultural, atau Islam yang bisa integral dengan budaya lokal (sinkretis). Pengalaman relijiusitas ini juga dapat dijelaskan melalui sifat seni tradisi yang mampu menghadirkan peristiwa ‘ambang’ pada pelaku seni dan penontonnya. Peristiwa ‘ambang’ memberikan pengalaman yang kompleks, ambigu, pelik, serta membuka kemungkinan alternatif dan cara pandang yang baru dalam memahami dunia dan kehidupan. Melalui pengalaman relijiusitas yang dihadirkan oleh peristiwa ‘ambang’ inilah masyarakat Madura menemukan momen perjumpaannya dengan Tuhan.____________________________________________________________This article is the result of anthropological research using ethnographic methods. Comprehensively highlight the issue of the religious experience of Madurese people in Situbondo in traditional theater performances: Drama Al Badar and Tabbhuwân Wali Sanga. The results of the study show that the religious experience of Madurese people through art can be closer to God. Evidenced by several experiences of art performers and spectators who interpret traditional theater art as part of their spiritual practice. Internalization of Islamic values to the Madurese people tends to be more easily accepted through traditional arts. Religion through traditional theater shows the tendency of traditional Islam, it can be said that cultural Islam, or Islam can be integral to local culture (syncretic). This religious experience can also be explained by the nature of traditional art that is able to present the ‘liminal’ event to the art performer and the audience. The ‘liminal’ event provides a complex, ambiguous, complicated experience, and opens up alternative possibilities and new perspectives in understanding the world and life. Through the religious experience presented by the ‘liminal’ event, the Madurese found the moment of their encounter with God. 
Indeks Penulis Widya, Patra
Patrawidya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya Vol 19, No 3 (2018)
Publisher : Balai Pelestarian nilai budaya Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (207.308 KB)

Abstract

IMPLEMENTASI PROGRAM REVITALISASI DESA ADAT DI PROVINSI JAWA BARAT Hendrik, Herman
Patrawidya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya Vol 19, No 3 (2018)
Publisher : Balai Pelestarian nilai budaya Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (273.987 KB)

Abstract

Adat merupakan subjek dari berbagai kebijakan, misalnya kebijakan sosial, kebijakan sumber daya alam, kebijakan pemerintahan lokal, dan kebijakan kebudayaan. Sehubungan dengan itu, banyak kajian telah dilakukan untuk melihat adat dalam konteks kebijakan tertentu. Namun, kajian-kajian tersebut lebih banyak membahas adat dalam konteks kebijakan sosial, kebijakan sumber daya alam, dan kebijakan pemerintahan lokal. Kajian mengenai adat dalam konteks kebijakan kebudayaan masih sedikit. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah menjalankan program Revitalisasi Desa Adat (RDA). Tujuan utama RDA yaitu merevitalisasi bangunan adat, dengan mekanisme pemberian bantuan dana. Tulisan ini memaparkan implementasi program RDA di Jawa Barat, tepatnya di Desa Panjalu (Ciamis) dan di Kampung Dukuh (Garut). Penelitian yang mendasari tulisan ini dilakukan pada Agustus 2016. Metode yang digunakan yaitu kualitatif dengan wawancara sebagai teknik pengumpulan data. Berdasarkan temuan, tulisan ini berargumen bahwa program RDA, tanpa mengesampingkan manfaat yang diterima oleh komunitas penerima bantuan, masih belum menjawab masalah utama yang dihadapi oleh masyarakat adat. ____________________________________________________________Adat is a subject of many policies, e.g. social policy, natural resources policy, local government policy, and cultural policy. Accordingly, many studies have been conducted on adat in the context of certain policies. However, studies on adat in the context of cultural policy are still rare. The Ministry of Education and Culture has run a program named Adat Village Revitalization, aimed at revitalizing adat-related buildings and objects with the mechanism of cash transfer. This article discusses the implementation of that program in West Java Province, namely in Desa Panjalu (Regency of Ciamis) and Kampung Dukuh (Regency of Garut). The research for this article was conducted on August 2016. The method used is qualitative, with interview as a main technique of data collection. Based on the findings, this article argue that the Adat Village Revitalization Program, without ignoring the benefit gained by the recipient communities, has not answered the main problems faced by adat communities.

Page 1 of 2 | Total Record : 11