cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Patrawidya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya
ISSN : 14115239     EISSN : 25984209     DOI : -
Core Subject : Art, Social,
The Patrawidya appears in a dark gray cover with a papyrus manuscript. The Patrawidya Journal is published three times a year in April, August and December. The study of the Patrawidya Journal article is on the family of history and culture. The Patrawidya name came from a combination of two words "patra" and "widya", derived from Sanskrit, and became an absorption word in Old Javanese. the word "patra" is derived from the word "pattra", from the root of the term pat = float, which is then interpreted by the wings of birds; fur, leaves; flower leaf; fragrant plants fragrant; leaves used for writing; letter; document; thin metal or gold leaf. The word "widya" comes from the word "vidya", from the root vid = know, which then means "science". Patrawidya is defined as "a sheet containing science" ISSN 1411-5239 (print) ISSN 2598-4209 (online).
Arjuna Subject : -
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol 20, No 1 (2019)" : 9 Documents clear
PATRONASE POLITIK DI KERATON YOGYAKARTA ABAD XIX Athoillah, Ahmad
Patrawidya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya Vol 20, No 1 (2019)
Publisher : Balai Pelestarian nilai budaya Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2592.52 KB)

Abstract

Kehadiran orang-orang Arab di Jawa dalam beberapa kajian disebutkan mulai terlihat pada abad XVIII sampai awal abad XIX. Sejak berdirinya Keraton Yogyakarta pada tahun 1755, beberapa orang Arab dari kalangan sayid Hadrami telah menjadi bagian dari keluarga Sultan Yogyakarta sebagai bukti hadirnya peran mereka di Keraton Yogyakarta pada abad XIX. Kajian ini membahas tentang proses dan bentuk patronase politik yang terjadi di antara kalangan Arab dengan keluarga bangsawan Jawa di Keraton Yogyakarta, khususnya pada paruh pertama abad ke-19. Ditemukan beberapa hal penting bahwa pertukaran jasa dan aliansi pernikahan antara para sayid dengan putri bangsawan Yogyakarta telah menempatkan posisi sayid sebagai elit politik dan kuatnya legitimasi keagamaan pada bangsawan Keraton Yogyakarta. Selain itu, juga ditemukan beberapa kasus bahwa para kalangan Arab juga membangun patronase politik yang justru menjadi lawan bagi Keraton Yogyakarta.
PEMAGANGAN PEMUDA TANI INDONESIA KE JEPANG: PERIODE 1984-2016 Gusnelly, Gusnelly; Riskianingrum, Devi
Patrawidya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya Vol 20, No 1 (2019)
Publisher : Balai Pelestarian nilai budaya Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1194.218 KB)

Abstract

Sektor pertanian memegang peranan penting dan strategis dalam pembangunan nasional. Walaupun telah menyumbang 14% dari PDB nasional pada tahun 2013, ternyata penyerapan tenaga kerja pertanian mengalami penurunan. Kenyataan yang harus diakui adalah generasi muda pedesaan memandang kehidupan pertanian sebagai kehidupan tanpa prospek masa depan yang cerah sehingga mereka memilih industri lain dan meninggalkan desa untuk bekerja di Kota sehingga menyisakan orang-orang tua untuk bekerja di pertanian. Oleh karena itu, pertanian Indonesia sedang mengalami krisis regenerasi petani sekaligus diiringi dengan tren aging agriculture. Sejak zaman Orde Baru, pemerintah nampaknya menyadari bahwa krisis petani sedang berlangsung dan harus segera menemukan solusi untuk mengatasinya. Oleh karena itu, melalui Kementerian Pertanian, menyusun sebuah program yang memagangkan petani muda dari desa ke Jepang yang bertujuan untuk peningkatan SDM pertanian, belajar teknologi pertanian modern yang selanjutnya diharapkan mampu menarik kembali minat generasi muda memasuki sektor pertanian. Dengan pendekatan deskriptif-analitis dan studi literature serta wawancara mendalam kepada sejumlah alumni magang, tulisan ini berbicara mengenai pengalaman para petani muda Indonesia yang melakukan pemagangan ke Jepang, dampak paska pemagangan, dan pengetahuan yang di dapatkan di Jepang dimanfaatkan untuk pengembangan usaha pertaniannya. Dari penelitian didapatkan kesimpulan bahwa maka etos kerja adalah salah satu ide dan perilaku yang umumnya bisa ditransformasikan kedalam kehidupan para alumni magang Jepang.
PENYEBARAN UBI KAYU DI JAWA PADA MASA KOLONIAL Rinardi, Haryono
Patrawidya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya Vol 20, No 1 (2019)
Publisher : Balai Pelestarian nilai budaya Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2632.645 KB)

Abstract

Melalui penggunaan metode sejarah, artikel singkat ini bertujuan untuk membahas perkembangan ubi kayu di P. Jawa selama periode 1900-1940 dan mencoba menjelaskan faktor-faktor yang menyebabkan ubi kayu berkembang luas di P. Jawa. Ubi kayu telah berkembang menjadi tanaman pangan di ketika penduduk P. Jawa membutuhkan bahan pangan alternatif bagi beras. Ubi kayu dipilih menjadi bahan pangan alternatif karena mampu tumbuh dalam berbagai kondisi tanah kritis, seperti lahan kering, kurang subur. Hal yang lebih penting lagi adalah ubi kayu bukanlah tanaman musiman, sehingga dapat dibudidayakan dan dipanen sepanjang tahun. Ubi kayu menjadi sebuah peluang baru di bidang ekonomi bagi penduduk P. Jawa ketika terjadi krisis ekonomi.
PENGANTAR REDAKSI Widya, Patra
Patrawidya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya Vol 20, No 1 (2019)
Publisher : Balai Pelestarian nilai budaya Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (522.128 KB)

Abstract

PERUBAHAN LONDE KE PUMPBOAT PERAHU MELINTAS BATAS DI PERBATASAN INDONESIA-FILIPINA Pristiwanto, Pristiwanto
Patrawidya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya Vol 20, No 1 (2019)
Publisher : Balai Pelestarian nilai budaya Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5403.615 KB)

Abstract

Perubahan londe ke pumpboat (perahu sampan tradisional ke perahu modern bermesin) berproses begitu cepat di Perbatasan Indonesia-Filipina. Pertimbangan utama bagi nelayan karena londe berat dibanding pumpboat, kurang cocok dipasang mesin motor perahu, hanya mengandalkan ornamen bernilai arstistik dengan kesakralan tetapi berat melawan arus, ombak dan angin. Sementara pumpboat saat ini tepat berdasarkan fungsi dan pemanfaatan, rancang-bangun sesuai dengan kondisi laut dan lincah bergerak diantara ombak laju dalam membelah arus laut. Pengetahuan pasang layar dan mendayang beralih ke memahami komponen utama pada pumpboat seperti as, crosjoin, propeler harus mampu diutak-atik tanpa bekal pelatihan khusus. Disatu sisi pengetahuan tradisi bahari tentang seni sastra khususnya messambo (kebiasaan melantunkan lagu-lagu daerah dan lagu rohani ketika berperahu, sebagai pengiring dan penyemangat para pendayung) makin ditinggalkan di tengah hiruk pikuk dan derum mesin perahu pumpboat. Studi ini menunjukkan pengetahuan lokal dan ketrampilan berlayar nelayan menjadi bertambah setelah kehadiran perahu bermesin motor dari negara Filipina dengan menggunakan metode deskriptif analisis. Kata kunci : Perubahan, londe, pumpboat, Perbatasan
COVER Widya, Patra
Patrawidya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya Vol 20, No 1 (2019)
Publisher : Balai Pelestarian nilai budaya Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1359.393 KB)

Abstract

MENGENALKAN ANTROPOLOGI INDERAWI DALAM MEMAHAMI PERTAUTAN INSTRINSIK AGAMA DAN SENI: PANDANGAN AWAL Rosyid, Nur
Patrawidya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya Vol 20, No 1 (2019)
Publisher : Balai Pelestarian nilai budaya Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2579.663 KB)

Abstract

Tulisan ini dimaksudkan untuk menawarkan cara pandang baru dalam memahami pertautan intrinsik antara agama dan seni yang seringkali tumpang tindih dalam diskursus sosial-budaya di Indonesia. Pertautan keduanya terletak pada “ketergelaran”, yakni wilayah kecenderungan “rasa”, yang disebut “rasa keagamaan” dan “citarasa estetika”. Kedua hal tersebut sebenarnya merupakan hasrat yang dibentuk oleh dan melalui kecenderungan pengalaman-pengalaman ketubuhan dan penginderaan. Hasrat dan selera penting di dalam pembentukan etos tertentu, karena tidak hanya memotivasi orang untuk terus datang ke pergelaran, memilih jenis pergelaran, maupun mempergelarkan praktik seni dan agama tertentu, tetapi juga terus-menerus menciptakan suatu kecenderungan “menikmati”, mengalami, dan mempersepsi. Kecenderungan menikmati inilah yang disebut sebagai praktik konsumsi, yakni sebentuk hasrat akan suatu kebutuhan yang dengan pemenuhannya ia berkaitan dengan pengalaman ketubuhan dan penginderaan. Dalam hal ini, pengalaman-pengalaman inderawi berdasar atas intensionalitas terhadap apa yang dilihat, dirasakan, didengarkan, diraba, disentuh, atau lebih tepatnya apa yang selayaknya dialami dan dipersepsi. Hasrat tersebut berkaitan dengan (re)produksi ingatan-ingatan, sensasi, dan “rasa” tertentu yang (di)hadir(kan) dari dan dalam praktik sehari-hari.
COVER BELAKANG Widya, Patra
Patrawidya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya Vol 20, No 1 (2019)
Publisher : Balai Pelestarian nilai budaya Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1038.784 KB)

Abstract

KIPRAH PEREMPUAN MAJAPAHIT DI RUANG POLITIK Darini, Ririn
Patrawidya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya Vol 20, No 1 (2019)
Publisher : Balai Pelestarian nilai budaya Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2555.488 KB)

Abstract

Kiprah perempuan dalam ranah publik, khususnya dalam bidang politik masih menjadi perbincangan yang menarik sampai saat ini. Dalam beberapa hal kedudukan dan peran perempuan masih sering dipandang lebih rendah dibandingkan dengan laki-laki. Namun demikian apabila ditarik jauh ke belakang pada masa klasik di Nusantara, ternyata perempuan telah memainkan peran-peran penting dalam masyarakat. Sejauh mana peran perempuan Majapahit dalam wilayah publik, khususnya di bidang politik pada pusat kekuasaan? Artikel ini bermaksud untuk menjawab pertanyaan tersebut. Tulisan ini akan menjelaskan kiprah perempuan dalam kehidupan politik Kerajaan Majapahit. Tulisan ini menggunakan metode sejarah yang terdiri dari empat langkah, yaaitu heuristic, kritik sumber, interpretasi dan historiografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perempuan di Majapahit telah menjadi mitra yang sejajar laki-laki dalam politik, dan jabatan dapat diperoleh berdasarkan keturunan sesuai dengan peraturan yang berlaku.

Page 1 of 1 | Total Record : 9