cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Patrawidya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya
ISSN : 14115239     EISSN : 25984209     DOI : -
Core Subject : Art, Social,
The Patrawidya appears in a dark gray cover with a papyrus manuscript. The Patrawidya Journal is published three times a year in April, August and December. The study of the Patrawidya Journal article is on the family of history and culture. The Patrawidya name came from a combination of two words "patra" and "widya", derived from Sanskrit, and became an absorption word in Old Javanese. the word "patra" is derived from the word "pattra", from the root of the term pat = float, which is then interpreted by the wings of birds; fur, leaves; flower leaf; fragrant plants fragrant; leaves used for writing; letter; document; thin metal or gold leaf. The word "widya" comes from the word "vidya", from the root vid = know, which then means "science". Patrawidya is defined as "a sheet containing science" ISSN 1411-5239 (print) ISSN 2598-4209 (online).
Arjuna Subject : -
Articles 112 Documents
STRATEGI PENGHIDUPAN MASYARAKAT KORBAN BENCANA TANAH LONGSOR DI KABUPATEN BANJARNEGARA Ritohardoyo, Prof. Su
Patrawidya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya Vol 17, No 3 (2016)
Publisher : Balai Pelestarian nilai budaya Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (751.979 KB)

Abstract

Bencana tanah longsor berpengaruh  terhadap terhadap lingkungan biofisik dan budaya, sehingga masyarakat perlu melaksanakan strategi penghidupan untuk tetap bertahan hidup di daerah bencana. Makalah ini mengungkap hasil penelitian yang bertujuan  mencitra tipe akibat bencana, aktivitas masyarakat pasca bencana, serta mengkaji peran pemerintah dalam menanggulangi bencana tanah longsor. Metode penelitian survei digunakan untuk pengumpulan data analisis data primer dan sekunder menggunakan analisis data kuantitatif dan deskriptif kualitatif. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa 1) tipe akibat bencana tanah longsor  berupa akibat langsung dan akibat tidak langsung, 2) strategi penghidupan masyarakat pasca bencana tanah longsor lebih pada aktivitas memulihkan perekonomian, dan 3) masyarakat berperan serta aktif dalam mendukung pemerintah untuk melakukan penanganan bencana yang lebih baik.Landslides affect on the biophysical and culturalenvironment, so the people should carry out livelihood strategy to survive in the disaster area. This paper shows results based on the research that is aimed to present the type of effect and community activities post-disaster, and also examine the role of government cope with landslides. Survey method was used to collect the data, both primary and secondary data that will be analyzed. These results shows that 1) the type of effect experienced was direct result and indirect result, 2) livelihood strategy of community after a landslide was recover the economic activities, and 3)the community actively participate in supporting the government to do the better disaster management.
PENANGANAN BENCANA LETUSAN GUNUNG GALUNGGUNG PADA TAHUN 1982-1983 Ariwibowo, Gregorius Andika
Patrawidya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya Vol 18, No 2 (2017)
Publisher : Balai Pelestarian nilai budaya Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5992.433 KB)

Abstract

Letusan Galunggung merupakan salah satu bencana besar di Indonesia. Meskipun letusan ini tidak menelan jumlah korban jiwa yang besar, namun letusan yang berlangsung selama sekitar delapan bulan ini telah mempengaruhi kehidupa sehari-hari penduduk di tiga kabupaten di Jawa Barat. Kajian ini mencoba menjabarkan mengenai upaya pemerintah, terutama pemerintahan orde baru dalam penanganan bencana letusan Galunggung. Penanganan bencana merupakan upaya penanganan langsung terhadap para korban sesaat setelah bencana terjadi. Kajian ini menggunakan metodologi sejarah dengan menggali pada sumber-sumber yang merekam dan mendokumentasikan peristiwa ini. Kesimpulan dari kajian ini adalah bahwapemerintah orde baru menggunakan perangkat sipil dan militer dalam upaya penanganan bencana. Pengaruh dari konsolidasi penanganan yang dilakukan secara sistematik in berjalan dengan sangat baik antara aparat pemerintah, peneliti, militer, dan tim SAR dalam menangani para pengungsi dan dampak bencana yang lain.Galunggung eruption was one of the enormous disaster in Indonesia. Although not killed so many people, Galunggung eruption hit continuously around eight months and crackdown in a most density population area in three regency areas in West Java province. This chapter point is want observe the roles of government to manage disaster relief, especially during Galunggung eruption disaster by the New Order regime. Disaster relief refers to interventions aimed at meeting the immediate needs of the victims of a disastrous event. This studies used a historiography methodology to reconstruct disaster relief event of Galunggung eruption. Conclusion of this study underlines that New Order used their civil and military power to manage the situation in Galunggung. The impact was so good because they used a systematic order to consolidate many organization from local government, researcher, and Save and Rescue (SAR) to handle the situation.
Back Cover Widya, Patra
Patrawidya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya Vol 18, No 2 (2017)
Publisher : Balai Pelestarian nilai budaya Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (546.862 KB)

Abstract

MODEL PENYELESAIAN KONFLIK PEMANFAATAN SUMBER DAYA HUTAN BERPERSPEKTIF GENDER BERBASIS KEARIFAN LOKAL Suliantoro, Bernadus Wibowo; Runggandini, Caritas Woro Murdiati
Patrawidya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya Vol 19, No 1 (2018)
Publisher : Balai Pelestarian nilai budaya Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (578.573 KB)

Abstract

Manajemen pengelolaan dan pemanfatan hutan di Indonesia gagal mewujudkan hutan lestari  dengan salah satu indikasi laju deforestasi masih tinggi. Kerusakan hutan berdimensi gender karena besaran penderitaan yang ditanggung perempuan lebih berat dibandingkan laki-laki sebagai konsekuensi logis dari  fungsi reproduksi, produksi dan konsumsi yang melekat padanya.Masyarakat desa Beji memiliki ide inspiratif model pengelolaan konflik pemanfaatan hutan yang mampumemberikan rasa keadilan dan kesejahteraan bagi banyak pihak. Penelitian ini bertujuan  memformulasikan model pengelolaan konflik pemanfaatan sumber daya hutan yang dilakukan masyarakat desa Beji.Permasalahan yang diteliti adalah bagaimana masyarakat desa Beji memecahkan persoalan secara bijaksana pada saat  menghadapi konflik antara fungsi hutan satu dengan yang lain supaya dapat diambil keputusan yang lebih  memberikan rasa keadilan dan kesejahtaraan bagi banyak pihak? Penelitian menggunakan model riset partisipatoris, untuk menganalis data temuan lapangan supaya lebih mendalam menggunakan unsur metode filsafat berupa hermeneutika dan heuristika.Hasil penelitian masyarakat desa Beji menyelesaikan konflik pemanfaatan sumber daya alam hutan dengan mengembangkan pola berpikir sintesis, membangun pola hubungan dialektika positif antara perempuan dengan laki-laki, memprioritaskan  kelestarian serta kesejahteraan semua mahkluk dalam jangka panjang. Nilai-nilai feminitas yang digunakan sebagai fondasi penyelesaian konflik pemanfaatan sumber daya alam adalah hormat terhadap kehidupan, kerjasama secara harmoni dengan seluruh unsur kosmis, peduli pada kepentingan semua pihak, kasih sayang (welas asih) terhadap semua mahkluk, dan berorientasi bagi kesejahteraan  generasi sekarang maupun mendatang.____________________________________________________________Forest management and forest utilization in Indonesia failed to achieve its sustainability which is indicated by the high rates of deforestation. Forest destruction is a gender dimensional because the pain that women bear is heavier than men as a logical consequence of the reproductive, production and consumption functions attached to it. Beji villagers have an inspirational idea of conflict management models of forest utilization that can provide a sense of justice and prosperity for many parties. This study aims to formulate a model of conflict management about forest’s resource utilization conducted by Beji villagers. The problem under the study is how do Beji villagers solve the problem wisely when facing the conflict of the forest utilization in order to be able to take a decision that gives more sense of justice and welfare for any parties? The study used a participatory research model, in order to analyze deeper the field findings data, author uses elements of philosophical methods of hermeneutics and heuristics.The results of this research showed that Beji villagers resolved the conflict of forest utilization by developing synthetic thinking pattern, establishing positive dialectic relationship pattern between women and men, and prioritizing the sustainability and prosperity of all creatures for the long term period. The values of femininity that were used as the foundation for the settlement of natural resource utilization conflict are as follow: respecting life, harmony in cooperation with all cosmic elements, caring towards the interests of all parties, affection for all beings, and mind oriented of the welfare for present generation as well as the future generation.
Back Cover Widya, Patra
Patrawidya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya Vol 16, No 4 (2015)
Publisher : Balai Pelestarian nilai budaya Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2485.763 KB)

Abstract

WACANA IDENTITAS NASIONAL PADA BUKU TEKS PELAJARAN SEJARAH DI INGGRIS DAN INDONESIA: KAJIAN KOMPARATIF Purwanta, Hiernonymus; Santosa, Heribertus Hery; Haryono, Anton
Patrawidya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya Vol 16, No 3 (2015)
Publisher : Balai Pelestarian nilai budaya Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (165.764 KB)

Abstract

Salah satu tujuan terpenting pendidikan sejarah adalah untuk menumbuhkan identitas dalam diri generasi muda.Artikel ini bermaksud untuk meneliti bagaimana bangsa Inggris dan Indonesia memproduksi wacana identitas nasional mereka melalui buku teks pelajaran sejarah SMA. Metode yang digunakan adalah Critical Discourse Analysis (CDA) terhadap narasi yang terdapat pada buku teks pelajaran sejarah dari kedua negara sebagai subjek kajian.Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah hermeneutika. Hasil penelitian menunjukkan bahwa buku teks pelajaran sejarah di Inggris mewacanakan bahwa bangsa Inggris (British) merupakan subjek dari berbagai peristiwa sejarah yang terjadi, serta menarasikan pencapaian dan sukses yang diperoleh masyarakat Inggris. Bahkan, untuk menonjolkan wacana itu, pengarang buku teks pelajaran sejarah melakukan heroifikasi dan mitologisasi berbagai tokoh dan peristiwa sejarah. Sebaliknya, buku teks pelajaran sejarah di Indonesia justru mewacanakan masyarakat Indonesia sebagai objek dari kekuatan bangsa asing, khususnya bangsa Belanda dan peradaban Eropa. Dari sudut pandang ini, kebudayaan Indonesia sebagai sumber identitas masyarakat dinegasikan dan digambarkan sebagai “kuno” dan “kolot” yang tidak cocok dengan kebudayaan modern.One of the most important goals of history education is to infuse national identity to young generation. Aim of this article is to explore of how British (United Kingdom) and Indonesia product their discourse of national identity through their high school history textbooks. A methods use is Critical DiscourseAnalysis (CDA) where content of history textbooks from the two countries as subject of analysis. Approach used is hermeneutics.Result shows that high school textbooks in United Kingdom discoursing British as subject of historical events, achievement and success of British people. Moreover, authors of the textbooks made heroification and mythologization. In contrast, high school textbooks in Indonesia discoursing Indonesians as object of foreign powers especially Dutch and Western civilization. From this viewpoint, Indonesian cultures as source of identity is negated and described as “old fashion” that couldn't fit modern culture.
Cover Widya, Patra
Patrawidya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya Vol 17, No 3 (2016)
Publisher : Balai Pelestarian nilai budaya Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (501.581 KB)

Abstract

IKONOGRAFIS POSTER PROMOSI WISATA MASA KOLONIAL 1930-1940 Banindro, Baskoro Suryo
Patrawidya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya Vol 18, No 1 (2017)
Publisher : Balai Pelestarian nilai budaya Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4127.877 KB)

Abstract

Penelitian ini mengkaji aspek visual elemen rupa poster promosi wisata masa Kolonial Hindia Belanda tahun 1930-1940, dengan tujuan untuk mengetahui mengapa budaya lokal digambarkan dengan pendekatan barat art deco yang modern. Melalui metode ikonografi, ketepatan objektif gaya visual akan dirunut dengan sejarah gaya untuk memahami secara kritis bahasa rupa yang terselubung di dalamnya serta ideologi yang direproduksi oleh suatu sistem pertandaan, kajian ini diharapkan dapat mengungkapkan makna dibalik simbolisasi gambar poster wisata masa kolonial. Hasil kajian dalam penelitian ini adalah gaya art deco dipilih untuk memberikan nilai modernitas atas entitas budaya lokal di Hindia Belanda.____________________________________________________________This study examines the visual aspect form of promotional poster tour Netherlands East Indies colonial period 1930-1940, with the purpose to find out why the local culture is described with the Western approach "art deco". Through iconography, the accuracy of the objective of visual style will be tracked back with the history of styles to understand the language of critical way that underlies it and the ideology that page are reproduced by an system of sign, this study is expected to reveal the meaning behind the tourist poster image symbolizing the colonial period. Results of the study in this research is an art deco style resulting in works of the colonial tourist posters to give a value of modernity over the local cultural entities.
FRAGMENTASI, SEJARAH, HETEROGENITAS PENDUDUK, DAN BUDAYA KOTA PONTIANAK Bayuardi, Galuh; Firmansyah, Andang; Superman, Superman
Patrawidya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya Vol 18, No 3 (2017)
Publisher : Balai Pelestarian nilai budaya Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4024.043 KB)

Abstract

Pontianak merupakan kota madya di Indonesia. Secara geografis, lokasi Pontianak dekat dengan negara-negara tetangga, seperti Malaysia dan Singapura. Kondisi ini menyebabkan Pontianak sering dikunjungi pelancong dari negara tetangga, baik pengunjung yang memiliki urusan di Kota Pontianak, maupun yang sekadar singgah sebelum menuju destinasi lain di wilayah Indonesia. Jika ditelusuri dari sejarahnya, pada dasarnya Pontianak didesain sebagai kota perdagangan. Pontianak mengalami pembangunan yang cepat saat kedatangan VOC yang membuat kesepakatan dengan Kesultanan Pontianak. Sebagai tindaklanjut dari kesepakatan itu, mereka membangun kantor pemerintahan dan juga keraton untuk mendukung aktivitas politik di Pontianak. Seiring dengan pesatnya pentumbuhan Kota Pontianak, berbagai kelompok etnis menjadikan Pontianak sebagai kota yang heterogen. Kini, Pontianak dikunjungi berbagai etnis dari berbagai wilayah di Indonesia. Kelompok etnis yang tinggal di Pontianak di antaranya adalah Melayu, Dayak, Tionghoa, Jawa, Batak, Bugis, Madura, Banjar, Sunda, dan Bali. Berbagai etnis bergaul satu sama lain. Kondisi sosial heterogen di Pontianak tidak serta merta melahirkan pluralitas. Terkadang muncul sentimen kedaerahan baik itu klaim oleh penduduk lokal, maupun oleh mereka yang ditandai sebagai pendatang, meskipun pernyataan ini tidak terlihat secara langsung, tapi memiliki potensi masalah di kemudian hari.____________________________________________________________Pontianak is one of municipality in Indonesia. Geographicaly Pontianak location, is a region close to neighboring countries such as Malaysia and Singapore. This condition causes the Pontianak o en visited by travelers from neighboring countries either intentionally been to Pontianak Municipality and those who simply stopped to proceed to the main destinations in Indonesia other region. If traced far back on the history, basically Pontianak was designed to be a commercial city. Pontianak expertencing rapid development when VOC entrance and made an agreement with the ruler of Pontianak sultanate. As a follow up of the agreement, they established government offices and also the castle to support the political act wities in Pontianak. Along with the rapid growth of the Pontianak city, various ethnic groups from within and outside the island ofBorneo began to arrive. The arrival of the various ethnic groups making Pontianak as one of the cities where the population is heterogeneous. Today, Pontianak is much visited various ethnic groups from various regions in Indonesia. Ethnic groups who live in Pontianak, among others are Malay, Dayak, Chinese, Javanese, Batak, Bugis, Madurese, Banjar, Sunda, Bali, etc. Various ethnic coexistence between ethnic group and mingle with one another. Conditions heterogeneous society in Pontianak do not necessarily give birth to plurality. Sometimes it appears regionalist sentiment either of those claiming to be local residents as well as those who are considered immigrants even though it is not exposed directly but has the potential to become a problem in the future.
PERSPEKTIF SPASIAL PENANGGULANGAN KEMISKINAN DI YOGYAKARTA Listyaningsih, Umi
Patrawidya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya Vol 19, No 1 (2018)
Publisher : Balai Pelestarian nilai budaya Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (423.727 KB)

Abstract

Kemiskinan merupakan salah satu dimensi dari lima dimensi perangkap kemiskinan menurut Robert Chambers. Dimensi kemiskinan tersebut adalah kerentanan, kelemahan jasmani, ketidakberdayaan, dan isolasi wilayah. Isolasi wilayah berhubungan dengan aksesibilitas. Sementara itu akses merupakan media terbukanya peluang-peluang sosial dan ekonomi. Kajian berikut melihat kemiskinan berdasarkan kondisi topografi sebuah wilayah sebagai alat untuk menggambarkan asksesibilitas. Kajian ini juga bertujuan mengetahui tingkat kemiskinan yang pada akhirnya digunakan untuk menentukan program penanggulangan kemiskinan.Kemiskinan ditentukan berdasarkan penerima beras miskin. Jumlah keluarga miskin di kedua daerah penelitian adalah 207. Selain wawancara terstruktur dengan menggunakan kuesioner, penelitian ini juga melakukan kajian kualitatif dengan cara wawancara mendalam. Tujuan penelitian tentang tingkat kemiskinan dan penentuan program penanggulangan kemiskinan dianalisis secara deskriptif dengan menggunakan tabel silang. Faktor yang mempengaruhi kemiskinan dianalisis dengan menggunakan koefisien regresi.____________________________________________________________Poverty is one of dimention of the five dimentions of poverty trap by Robert Chambers. Those poverty dimentions are vulnerability, physical weakness, powerless, and region isolation. The region isolation associate to the accesibility. Meanwhile, access is a media to open the social and economic opportunity. This research see the poverty base on topography condition as a tool to figure the accesibility. Also, this research aim to examine the poverty level which ultimately  use to determine the poverty alleviation programs. Poverty is determined base on beneficiaries of rice ppoor (Beras Miskin). The number of poor family in the two research area are 207. Besides structural interview using questionnaire, this research also use qualitative methode by using indepth interview. The aim of the reseach about level of poverty and determine the poverty alleviation programs will be analysed descriptively using cross tabulation. Meanwhile, influencing factor on poverty will be analysed using coefisien regression. The demographic, social and economic caracteristic of the head of poor family at two research showed there was no differention. The age average of the head of family approximately 50 year, the level of education was low, namely junior high school, and  in generally the head of family work on service sector. The economic potention of the poor family did not show a differention as topography condition. The poor family at up land area has invested on the form of  saving, meanwhile the poverty at low land area tend to structural. The poverty factors influence the type of poverty alleviation programs for efectivity and rigth to the target. The management of program implementaion was one aspect that need to be seen in the realisation of poverty alleviation pragrams that been determined.

Page 2 of 12 | Total Record : 112