cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Patrawidya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya
ISSN : 14115239     EISSN : 25984209     DOI : -
Core Subject : Art, Social,
The Patrawidya appears in a dark gray cover with a papyrus manuscript. The Patrawidya Journal is published three times a year in April, August and December. The study of the Patrawidya Journal article is on the family of history and culture. The Patrawidya name came from a combination of two words "patra" and "widya", derived from Sanskrit, and became an absorption word in Old Javanese. the word "patra" is derived from the word "pattra", from the root of the term pat = float, which is then interpreted by the wings of birds; fur, leaves; flower leaf; fragrant plants fragrant; leaves used for writing; letter; document; thin metal or gold leaf. The word "widya" comes from the word "vidya", from the root vid = know, which then means "science". Patrawidya is defined as "a sheet containing science" ISSN 1411-5239 (print) ISSN 2598-4209 (online).
Arjuna Subject : -
Articles 112 Documents
NATIONALISM FROM THE OOSTHOEK: THE CONTRIBUTION OF GEMEENTERAAD MALANG ON THE EMPOWERING OF INDONESIA LOCAL POLITICIAN (1920-1941) Hudiyanto, Reza
Patrawidya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya Vol 17, No 3 (2016)
Publisher : Balai Pelestarian nilai budaya Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (401.65 KB)

Abstract

The implementation of indirect local election has blossomed political sphere in the regions such as regency and municipal. The unexpected results of this 10 years old implemented democracy are returning new order politician, mushrooming money politics and rebirth of local dynastic. In fact, the role of local legislative member in empowering civil society comes to blurred. Corruption that involved many politician have made distrust among people lately. In fact, in second decade of 20th century, Indonesian politician in local parliament had represented honor and dignity of the nation. They fought for progression among indigenous people. How did this local council shaped their mind and skill? This article emphasized on the role of local parliament in the empowering of national consciousness among Indonesian politician in Dutch Colonial periods. According to notice if local parliament, there were names of Indonesian local council members the very local in the parliament court such as Soekardjo Wirjopranoto, R P Pandji Soeroso and many others. As a minority fraction in the council, their attitude toward the pressure of the colonial discrimination showed that they used their position as a member of local council to empower their critical stand against local colonial policy. The methods used in this research is historical methods. By collecting, appreciating and interpreting local parliament documents (notulen) and newspapers from 1925 to 1940, we knew the situation, context and discussion in parliament room. From this documentary research, it can be concluded that local parliament (gemeenteraad) Malang has played important role on empowering the political skill among the Indonesian city council members at that time. By doing their function as a member of local city council, they know how to manage and to solve the city problem. It is become clear that in the post independence period, many of their names were enlist in the member of Republic Indonesia Cabinet. Penerapan dari system Pemilihan anggota legislative secara tidak langsung telah mengembangkan iklim politik di daerah tingkat dua seperti Kabupaten dan Kota. Hasil yang tidak terduga dari 10 tahun pelaksanaan demokrasi adalah kembalinya politisi-politisi Orde Baru, menjamurnya politik uang dan kebangkitan kembali dinasti local. Dalam kenyataan, peran dari anggota dewan di daerah dalam pemberdayaan masyarakat masih belum jelas. Korupsi yang melibatkan politis di daerah telah menciptakan kekecewaan di kalangan public akhir-akhir ini. Sejak kapan penyalahgunaan kekuatasn oleh anggota Parlemen ini terjadi?Penerapan sistem pemilihan anggota legislatif secara tidak langsung telah mengembangkan iklim politik di daerah tingkat dua seperti kabupaten dan kota. Hasil yang tidak terduga dari 10 tahun pelaksanaan demokrasi adalah kembalinya politisi-politisi orde baru, menjamurnya politik uang dan kebangkitan kembali dinasti lokal. Dalam kenyataan, peran anggota dewan di daerah dalam pemberdayaan masyarakat masih belum jelas. Korupsi yang melibatkan politisi di daerah telah menciptakan kekecewaan di kalangan publik akhir-akhir ini. Sejak kapan penyalahgunaan kekuatan oleh anggota Parlemen ini terjadi? Artikel singkat ini mencoba memberikan penekanan pada peran lembaga dewan kota dalam pemberdayaan kesadaran nasionalisme di kalangan politisi lokal bangsa Indonesia pada periode Kolonial Belanda. Menurut catatan dari parlemen lokal atau dalam teks asli disebut Stadsgemeente Raad, terdapat beberapa nama anggota parlemen daerah seperti Soekardjo Wirjopranoto, Pandji Soeroso dan beberapa anggota lain. Sebagai faksi yang minoritas di dewan, sikap mereka terhadap tekanan diskriminasi koloial membuktikan bahwa mereka telah menggunakan kesempatan itu untuk pemberdayaan sikap kritis terhadap kebijakan pemerintah kolonial. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode sejarah. Melalui pengumpulan, kritik, dan interpretasi dokumen dewan kota, dan surat kabar yang berasal dari tahun 1925 hingga 1940, diperoleh gambaran tentang situasi, konteks dan diskusi yang dikembangkan dalam ruang sidang parlemen. Dari kajian dokumen ini dapat disimpulkan bahwa dewan kota (gemeenteraad) Malang telah memainkan peran penting dalam pemberdayaan politisi Indonesia, terutama ketrampilan dalam berargumen, pemahaman sistem hukum dan birokrasi, pemecahan permasalahan kota pada saat itu. Sebagai dampak positif adalah munculnya tokohtokoh kompeten yang menjalankan fungsi pemerintahan sesudah kolonialisme berakhir pada tahun 1945.
RUMAH TRADISIONAL LAMBAN PESAGI LAMPUNG BARAT Harsono, T. Dibyo
Patrawidya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya Vol 18, No 1 (2017)
Publisher : Balai Pelestarian nilai budaya Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4985.8 KB)

Abstract

Keberadaan perkampungan adat atau perkampungan tradisional pada masyarakat Lampung sangat erat dengan kehidupan masyarakat adat, yang telah berlangsung ratusan tahun. Salah satu perkampungan tradisional Lampung adalah yang ada di Desa Kenali, Kecamatan Belalau, Kabupaten Lampung Barat yang sarat dengan beragam makna dan simbol.Sampai saat ini masih hidup dan dihayati oleh sebagian masyarakat Lampung, yakni penetapan rumah adat sebagai situs rumah tradisional Pesagi. Rumah adat ini mendapatkan penetapan sebagai situs rumah tradisional berdasarkan Undang-undang RI Nomor 5 Tahun 1992, Nomor Inventaris: 397.04.06.05 Tahun 1992, oleh Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Serang. Lamban Pesagi merupakan salah satu rumah tradisional Lampung yang masih tersisa, yang apabila tidak mendapatkan perhatian akan hilang tanpa meninggalkan jejak lagi. Hal ini tentunya sangat disayangkan, karena aset budaya Lampung yang sangat berharga ini patut dan wajib dilestarikan sebagai warisan budaya untuk anak cucu kita. Untuk itu kegiatan pencatatan warisan budaya tak benda (WBTB) mengenai Lamban Pesagi ini dirasakan sangat penting. Pengumpulan data di lapangan dengan pengamatan atau observasi, wawancara dengan para informan pemilik Lamban Pesagi, dan juga dilengkapi dengan studi kepustakaan yang relevan.____________________________________________________________The existence of traditional villages at community Lampung society very closely with life indigenous peoples, who has been ongoing hundreds of years. One of the traditional Lampung is Lamban Pesagi in Kenali Villages, Belalau Districts, West Lampung of district  laden with religious pupose and symbol, until now who still alive and be lived by most people of Lampung and has been designated as: the site of traditional villages, Pesagi, base on reserved Republic of Indonesia number 5, 1992 investory of number 397.04.06.05, 1992, by The Ministry Cultural and Tourism, Heritege Preservation Hall relicse ancient of Serang. Lamban Pesagi is one the traditional of Lampung, still left, is not interest will be lost without left a trail again. Its certainly we very dear right, because the cultural assets in Lampung very percious it should be and requested shall we everlasting as cultural  heritage to offspring. For that the registration an intangible cultural heritage (WBTB) respecting Lamban Pesagi. Its feel very important to inventory and documenting traditional houses of Lampung. As for to complete it needs to data collected based on result of supervision or observations, the results data an interview with informant as well as proprietor of Lamban Pesagi, and also fitted with study of decision to find a relevant reference.
Appendix Nurhajarini, Dwi Ratna
Patrawidya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya Vol 18, No 3 (2017)
Publisher : Balai Pelestarian nilai budaya Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (42.62 KB)

Abstract

Pengantar Redaksi Widya, Patra
Patrawidya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya Vol 19, No 1 (2018)
Publisher : Balai Pelestarian nilai budaya Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (668.98 KB)

Abstract

FUNGSI RUMAH ADAT TANGFA KOMUNITAS SKOUW SAE Usman, La
Patrawidya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya Vol 19, No 3 (2018)
Publisher : Balai Pelestarian nilai budaya Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (259.82 KB)

Abstract

Warga kampung Skouw Sae, Distrik Muara Tami, Kota Jayapura sering melakukan kegiatan pewarisan pengetahuan pada rumah adat. Pertanyaan yang ingin dijawab berkaitan dengan judul di atas adalah apa saja fungsi kegiatan tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan antropologi dengan menggunakan beberapa teknik yaitu: studi pustaka, observasi, wawancara. Setelah semua data yang dibutuhkan terkumpul kemudian dideskripsikan, dianalisis dan diinterpretasikan, dan ditarik suatu kesimpulan Hasil penelitian menemukan terdapat tujuh fungsi kegiatan di atas. Pertama, pewarisan pengetahuan kegiatan ekonomi (tegalan, beternak, nelayan, serta berburu) untuk pemenuhan kebutuhan dasar. Kedua, pengenalan perkawinan untuk pemenuhan kebutuhan reproduksi guna keberlangsungan kehidupan individu, keluarga, klan serta komunitas. Ketiga, pengenalan pembayaran kepala (denda) dari keluarga suami kepada kepada keluarga istri untuk pemenuhan kebutuhan kenyaman dan kesejahteraan tubuh. Keempat, pengenalan kegiatan Natal dan Paskah untuk pemenuhan kebutuhan keselamatan. Kelima, pengenalan kegiatan kunjungan keluarga ke wilayah Wutung untuk pemenuhan kebutuhan relaks individu. Keenam, pengenalan peran kepemimpinan kampung untuk pemenuhan kebutuhan gerakan. Ketiga, pengenalan pentingnya pendidikan formal untuk pemenuhan kebutuhan pertumbuhan.____________________________________________________________Residents of the Skouw Sae village, Muara Tami District, Jayapura City often carry out inheritance activities in traditional houses. The question to be answered regarding the title above is what are the functions of the activity. This study uses an anthropological approach using several techniques, namely: literature study, observation, interview. After all the required data collected then described, analyzed and interpreted, and drawn a conclusion The results of the study found that there are seven functions of the above activities. First, inheritance of knowledge of economic activities (moor, breeding, fishing, and hunting) to fulfill basic needs. Second, the introduction of marriage for the fulfillment of reproductive needs in order to sustain the lives of individuals, families, clans and communities. Third, the introduction of head payments (fines) from the husband's family to the wife's family to fulfill the body's comfort and well-being needs. Fourth, the introduction of Christmas and Easter activities to meet safety needs. Fifth, the introduction of family visit activities to the Wutung area to fulfill individual relaxation needs. Sixth, the introduction of the village leadership role to fulfill the needs of the movement. Third, the introduction of the importance of formal education to fulfill growth needs.
TEMU: MAESTRO GANDRUNG DARI DESA KEMIREN BANYUWANGI Nurhajarini, Dwi Ratna
Patrawidya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya Vol 16, No 4 (2015)
Publisher : Balai Pelestarian nilai budaya Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (103.105 KB)

Abstract

Artikel ini berbicara tentang biografi Temu, seorang tokoh seni gandrung yang berasal dari Kemiren, Glagah, Banyuwangi. Kesenian gandrung tersebut termasuk seni pertunjukkan rakyat. Oleh kalangan masyarakat Banyuwangi Temu dianggap identik dengan gandrung dan dianggap sebagai seorang maestro gandrung. Kemampuannya menari, nembang, dan menyampaikan wangsalan dimiliki oleh Temu dengan ditambah ciri khas suara Temu yang unik. Suara Temu melengking tinggi dengan gaya khas Using menjadikan suara Temu menghiasi beberapa isi VCD maupun DVD. Pada masa awal perkembangan rekaman kaset suara Temu termasuk yang awal menghias pita rekaman. Permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini adalah mengapa Temu terus mendedikasikan dirinya untuk gandrung? Dengan pertanyaan utama itu maka sekaligus menjawab tentang siapa Temu dan apa saja kiprahnya. Biografi Temu ditulis dengan menggunakan metode sejarah, dengan melihat kiprah Temu sejak kecil hingga saat penelitian dilakukan. Hasil penelitian menemukan Temu mendedikasikan dirinya kepada seni gandrung dengan terus melakukan aktivitas yang terkait dengan gandrung, yakni pergelaran dan melatih para calon gandrung. Gandrung bagi Temu adalah ladang penghidupan dan sekaligus untuk ekspresi diri. Beberapa penghargaan di tingkal lokal hingga nasional pernah di raih Temu, perempuan yang tidak tamat sekolah dasar. Temu pun berhasil tampil dari panggung hajatan warga hingga acara di Taman Ismail Marzuki serta di panggung Frankfrut, Jerman. Untuk melestarikan dan mewariskan kemampuaannya menjadi gandrung, Temu mendirikan sebuah sanggar yang diberi nama “Sopo Ngiro”. Sanggar tersebut diharapkan dapat menjadi persemaian para calon penerus gandrung dan Temu berharap menemukan penerusnya dari sanggar tersebut.This article is discussing about biography of Temu, a gandrung artist who comes from Kemiren, Glagah, Banyuwangi. The gandrung art belongs to a folk art. People in Banyuwangi acknowledge Temu to be identical to gandrung art and is regarded a maestro of gandrung. Temu was able to dance, nembang, and deliver wangsalan with her unique style. Temu has a high pitch voice with Using style recorded to some VCDs and DVDs. Also, Temu contributed to the development of tape cassette recording as the pioneer of that recording. The topic which will be discussed in this research is why Temu keeps dedicating herself to gandrung. The main question will also answer who Temu is and what her contributions are. Biography of Temu is written using historical approach by looking at the early life of Temu until the research is being done. The result of the research finds that Temu is dedicating herself to gandrung art by keeping doing activity which relates to gandrung, that are shows and teaching gandrung art. For Temu, gandrung are a means of earning money and also a self-expression. Temu has got some achievements from local until national level although she was not graduated in Elementary School. Temu also managed to perform in Taman Ismail Marzuki and in Frankfurt, Germany. For preserving and handing down her ability, Temu established a studio which is named “Sopo Ngiro”. The studio is expected to be able to recreate successors of gandrung art and Temu hopes to find them in her studio.
MOBILITAS PEKERJA PADA KAWASAN INDUSTRI PIYUNGAN DI KABUPATEN BANTUL, DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA Sadali, Mohammad Isnaini
Patrawidya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya Vol 17, No 3 (2016)
Publisher : Balai Pelestarian nilai budaya Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (963.789 KB)

Abstract

Perkembangan sektor industri di suatu wilayah dapat berpengaruh terhadap mobilitas masyarakat pekerja dan perkembangan wilayah. Mobilitas pekerja di Kawasan Industri Piyungan Bantul, tidak hanya dipengaruhi oleh faktor ekonomi, akan tetapi juga dipengaruhi oleh kebijakan regional. Tulisan ini mengungkap hasil penelitian dengan tujuan mengkaji (1) hubungan mobilitas pekerja dengan eksistensi kawasan industri, dan (2)ragam bentuk mobilitas pekerja industri. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survey. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberadaan Kawasan Industri Piyungan berpengaruh terhadap tipe mobilitas pekerja di DI Yogyakarta. Para pekerja dari luar daerah kecamatan, memilih melakukan mobilitas permanen, dan setelah menetap di sekitar Kawasan Industri Piyungan seluruh pekerja melaksanakan mobilitas non permanen secara rutin dengan bentuk mobilitas ulang-alik. Kawasan Industri Piyungan berperan besar dalam penyerapan tenaga kerja dan mengurangi mobilitas penduduk ke arah perkotaan. Orientasi penduduk untuk mendapat pekerjaan di Kota Yogyakarta, dapat teralihkan ke beberapa titik-titik pusat kegiatan ekonomi di sekitar Kota Yogyakarta.Industrial development will affect on the development of the region and also peoples mobility in the region. Worker mobility process in Piyungan Industrial Estate is not only guided by economic factors, but also the regional policy. This paper is revealing the results of research with the aim of assessing (1) the relationship of worker mobilitywith the existence ofPiyungan Industrial Estate, and (2) the different forms of industrialworker mobility.This study uses survey method. The results showed that Piyungan Industrial Estate give a new type on labour mobility in Yogyakarta.The workers come from outside area (the District Piyungan) chose to do permanent mobility, after settling around Piyungan Industrial Estate, all workers execute a non permanent mobility which is dominated shuttle mobility.Piyungan Industrial Estate has a major role in absorbing workers and reduce the worker mobility into Yogyakarta City. Workers orientation to work in Yogyakarta City can be diverted into some other economic growth poles around Yogyakarta City.
MODEL WISATA BUDAYA BERBASIS CERITA PANJI (CULTURE TOURISM MODEL BASED ON PANJI STORIES) Satrya, I Dewa Gde; Indrianto, Agoes Tinus Lis
Patrawidya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya Vol 18, No 2 (2017)
Publisher : Balai Pelestarian nilai budaya Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5655.962 KB)

Abstract

Cerita Panji berkisah mengenai Kerajaan Kadiri, berkembang pesat pada masa Majapahit. Ragam ekspresi Budaya Panji dalam bentuk sastra oral, sastra visual, seni pertunjukan dan nilai-nilai kehidupan. Artikel ini menyajikan pengembangan ragam ekspresi Budaya Panji tersebut dalam kegiatan wisata. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana model wisata Budaya Panji? Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif sumber data primer diperoleh melalui wawancara dan eksperimen perjalanan wisata bertema Panji yang diselenggarakan oleh Lab of Tourism, data sekunder melalui studi literatur terkait. Kesimpulan penelitian ini adalah, model wisata Budaya Panji dapat diterapkan dalam tiga kegiatan wisata, pertama, memadukan ekspresi Budaya Panji dalam seni pertunjukan topeng dengan artefak. Kedua, menampilkan ekspresi Budaya Panji dalam seni pertunjukan dengan konsep Heritage Performing Art di situs atau candi. Ketiga, archaeological trail di Gunung Penanggungan, di mana gunung ini dikenal sebagai Gunung yang disucikan di masa Majapahit dengan nama Pawitra. Banyak situs dan punden berundak yang didirikan di lereng gunung, di antaranya Candi Kendallsodo yang berisi relief Cerita Panji dan Candi Selokelir tempat ditemukannya area Panji.Panji story that was growing rapidly at the time of Majapahit Empire, tells of the Kadiri kingdom. Variety of Panji cultural was expression in the form of oral literature, visual literature, performing arts and the values of life. This article reports the development of diverse expressions of Panji culture in tourism activities. The research problem is how the model of Panji Culture in tourism activities? The method used in this research is qualitative descriptive, where the source of primary data obtained through interviews and Panji thematic tour experiment held by Lab of Tourism, and secondary data through the study of related literature. The conclusion of this study are as follows, the model of PanjiCulture can be applied in three traveling activities. First, combining Panji Cultural expression in the performing arts of mask with artifacts. Second, watching Panji Cultural expression in the performing arts with the concept of Heritage Performing Art in the site or temple. Third, the archaeological trail at Mount Penanggungan, where the mountain is known as the Sanctified Mountain in Majapahit's time under the name Pawitra. Many sites and punden terraces are erected on the slopes, including Kendalisodo temple containing reliefs Story of Panji and Temple Selokelir where the discovery of Panji's statue.
Cover Widya, Patra
Patrawidya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya Vol 18, No 2 (2017)
Publisher : Balai Pelestarian nilai budaya Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1029.673 KB)

Abstract

INDUSTRI BATIK KENONGODI MADIUN : EKSPLORASI DALAM PEMBELAJARAN SEJARAH MELALUI DISCOVERY LEARNING Hamdiyah, Laili Masithoh; Suryani, Nunuk; Musadad, Akhmad Arif
Patrawidya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya Vol 18, No 2 (2017)
Publisher : Balai Pelestarian nilai budaya Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4944.183 KB)

Abstract

Artikel ini didasarkan pada hasilpenelitian dengan tujnan untuk mendeskripsikan bagaimana penggunaan model discovery learning dalam proses pembelajaran untuk mengeksplorasi materi sejarah lokal tentang industri Batik Kenongo di Madiun. Metode yang digunakan adalah kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sejarah industri Batik Kenongo merupakan bagian dari sejarah lokal yang harus diekplorasi dalam pembelajaran sejarah dengan menggunakan salah satu model pembelajaran yakni discovery learning. Selain untuk memperkenalkan Batik Kenongo pada siswa (khususnya di Madiun), eksplorasi juga bisa meningkatkan kecintaan mereka terhadap kebudayaan lokal. Hal ini terlihat saat ada siswa melakukan penelitian di Desa Kenongorejo, Kabupaten Madiun yang merupakan tempat industri batik tersebut. Eksplorasi sejarah industri Batik Kenongo dalam pembelajaran sejarah melalui model discovery learning mampu membangkitkan antusiasme siswa terhadap informasi kesejarahan dari Batik Kenongo. Dengan demikian maka dapat dikatakan bahwa model discovery learning mampu memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada siswa untuk mengkonstruksi pemahaman sejarah mereka terhadap Sejarah Industri Batik Kenongo di Madiun.This article is based on research results with a purpose to describe how to use the model of discovery learning in process of learning to explore the local historical material about industry of Batik Kenongo in Madiun.This research used qualitative method. The results showed that the history ofBatik Kenongo industryis part of local history that should be explored in the history teaching using one of the learning models, that is Discovery Learning. In addition to introducing Batik Kenongo on students (particularly in Madiun), exploration can also increase their love of local culture. This is seen when there are students doing research in the Village Kenongorejo, Madiun district which is where thebatik industry. Exploring the history of Batik Kenongo industry in learning history through the model of discovery learning can generate students' enthusiasm for the historical Information of Batik Kenongo.Thus it can be said that the model of Discovery Learning is able to provide the widest opportunity to students to construct their historical understanding of the History of Kenongo Batik Industry in Madiun.

Page 5 of 12 | Total Record : 112