cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
JURNAL PANGAN
ISSN : 08520607     EISSN : 25276239     DOI : -
Core Subject : Agriculture, Social,
PANGAN merupakan sebuah jurnal ilmiah yang dipublikasikan oleh Pusat Riset dan Perencanaan Strategis Perum BULOG, terbit secara berkala tiga kali dalam setahun pada bulan April, Agustus, dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 337 Documents
Perendaman Asam Askorbat Dapat Memperbaiki Sifat Fisik, Kimia, Sensori, dan Umur Simpan Tepung Bekatul Fungsional (Ascorbic Acid Soaking Can Improve Physical, Chemical, Sensory Characteristics and Storage Time of Functional Rice Bran) Astawan, Made; Riyadi, Hadi; Nurhayati, Elis
JURNAL PANGAN Vol 22, No 1 (2013): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (880.774 KB) | DOI: 10.33964/jp.v22i1.77

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis kombinasi pengaruh perendaman bekatul pada berbagai konsentrasi asam askorbat (400, 700, 1000 ppm) dan lama waktu perendaman (1, 2, 3 jam) terhadap sifat fisik, sifat kimia, pertumbuhan mikroba, perubahan mutu selama penyimpanan, umur simpan, dan daya terima bekatul fungsional. Kombinasi perlakuan perendaman bekatul dengan asam askorbat 1000 ppm selama 1 jam, menghasilkan bekatul fungsional yang terbaik. Perlakuan tersebut secara nyata meningkatkan sifat fisik (kecerahan, derajat putih, densitas kamba, densitas padat, dan indeks penyerapan air), sifat kimia (karbohidrat dan serat pangan, vitamin C), umur simpan dan daya terima. Perlakuan yang sama secara nyata menurunkan sifat fisik (rendemen dan aw), sifat kimia (kadar air dan abu, pH, TBA), dan total mikroba. Produk terpilih tersebut memiliki umur simpan selama 70,04 minggu, jauh lebih baik dibandingkan umur simpan bekatul konvensional selama 3,38 minggu pada penyimpanan suhu kamar, sehingga terjadi peningkatan sebesar 103 persen. Hasil uji sensoris menunjukkan bekatul fungsional lebih disukai dibandingkan bekatul konvensional, yaitu dalam hal kecerahan, warna, aroma, dan penampakan secara keseluruhan.The objective of this research was to analyze the combination effect of ascorbic acid concentration (400, 700, 1000 ppm) andsoaking time (1, 2, 3 hour) on physical and chemical characteristics, microbial growth, quality changes during storage, shelf life, and sensory acceptance of functional rice bran. The combination of soaking treatment with 1,000 ppm ascorbic acid solution for 1 hour produced the best functional rice bran. That treatment significantly increased physical characteristics (lightness, whiteness, bulk density, oliddensity, andwater absorption index), chemical characteristics (carbohydrate, dietary fiber, and vitamin C), shelf life and consumeracceptance. The same treatment on the otherhand significantly decreased physical characteristics (yield and water activity), chemical characteristics (moisture and ash contents, pH, TBA), andtotal microbial growth. The chosen functional rice bran had 70.04 weeksof shelf life, better than 34.48 weeks of conventional rice bran shelf life at room temperature, increased by 103 percent. Sensory analysis showed that functional rice bran hadbetter acceptance than conventional rice bran, in term of lightness, color, flavor, and overall appearance. 
SITUASI HARGA & PASAR PANGAN DALAM PERSPEKTIF PEMERINTAH Krisnamurthi, Bayu
JURNAL PANGAN Vol 17, No 1 (2008): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (969.634 KB) | DOI: 10.33964/jp.v17i1.232

Abstract

Perkembangan situasi pangan akhir-akhir ini direspon secara beragam oleh banyakkalangan. Bagaimana pemerintah menyikapi wacana tersebut dan kebijakan apa yang telah dan akan diterapkan oleh pemerintah, tergambar di dalam wawancara Redaktur MASALAH PANGAN (MP) dengan Deputi Menko Perekonomian Rl Bidang Pertanian & Kelautan, DR. Bayu Krisnamurthi (BK), pada akhir April 2008
Pengaruh Berat Umbi Bibit terhadap Pertumbuhan Uwi Cicing (Dioscorea alata) dari Jawa Timur Setyowati, Ninik
JURNAL PANGAN Vol 26, No 1 (2017): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (779.316 KB) | DOI: 10.33964/jp.v26i1.343

Abstract

Penelitian tentang ‘pengaruh berat umbi bibit terhadap pertumbuhan uwi cicing (Dioscorea alata) telah dilakukan di rumah kaca Bidang Botani, Pusat Penelitian Biologi LIPI, Cibinong Science Center. Bahan penelitian berasal dari Kampung Durjo, Jember, Jawa Timur. Percobaan menggunakan Rancangan Acak Kelompok non Faktorial (1 faktor) dengan 5 taraf perlakuan dan 5 kali ulangan. Perlakuannya adalah berat umbi bibit terdiri dari 5 taraf yaitu 20, 30, 40, 50 dan 60 g. Umbi ditanam dalam polibag dengan ukuran 25 x 25 cm dengan komposisi media tanam berupa pasir : kompos : tanah (1:1:1). Pengamatan dilakukan pada pertumbuhan tinggi tanaman, jumlah daun dan diameter batang. Hasilnya menunjukkan bahwa berat umbi bibit berpengaruh terhadap pertumbuhan uwi cicing. Pemakaian umbi bibit dengan berat 40 g.menghasilkan pertumbuhan yang cukup baik, lebih baik dari 20 dan 30 gr, dan tidak berbeda dengan berat bibit 50 dan 60 g. Sehingga perlakuan berat umbi bibit 40 g. dapat dianjurkan untuk perbanyakan uwi cicing, karena perlakuan ini masih dapat menghemat pemakaian umbi untuk bibit.
Kajian Keamanan Pangan Dan Kesehatan Minyak Goreng Budijanto, Slamet; Sitanggang, Azis Boing
JURNAL PANGAN Vol 19, No 4 (2010): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (967.692 KB) | DOI: 10.33964/jp.v19i4.165

Abstract

Penggunaan minyak goreng di Indonesia umumnya dipakai sebagai media panas untuk penggorengan berulang dengan jumlah minyak berlebih (deep frying). Pemilihan minyak goreng dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya stabilitas terhadap oksidasi, rasa dan aspek kesehatan. Seringkali terjadi kesulitan dalam memilih karena minyak tidak jenuh yang dianggap sehat tidak tahan terhadap panas, demikian juga sebaliknya minyak jenuh yang tahan panas tidak baik bagi kesehatan. Pemilihan harus didasarkan pada penggunaannya, misalnya pada penggunaan tidak berulang maka minyak tidak jenuh merupakan pilihan yang baik. Akan tetapi jika penggunaan berulang seperti yang dilakukan di Indonesia maka minyak jenuh akan lebih baik jika dibandingkan dengan menggunakan minyak tidak jenuh.Cooking oil in Indonesia is generally used as a heat medium for repeated frying with excessive cooking oil (deep frying). Selection of cooking oil is influenced by several factors, such as stability against oxidation, taste and health aspects. The most common difficulty when choosing cooking oil is that unsaturated oil is considered healthy but not resistant to heat, and on the other hand heat resistant saturated oil is not good for health. The selection should be based on the usage, for example in the use of unrepeated frying the unsaturated oil is a good choice. However, if repeated/recurring use of oil as is the purpose, the saturated oil is better when compared to the unsaturated oil. 
Pemanfaatan Komoditas Lokal Sebagai Bahan Baku Pangan Darurat Ekafitri, Riyanti; Faradilla, R. H. Firi
JURNAL PANGAN Vol 20, No 2 (2011): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (706.647 KB) | DOI: 10.33964/jp.v20i2.34

Abstract

Indonesia yang terletak dalam Lingkaran Api Pasifik (Ring of Fire) dan memiliki puluhan patahan aktif membuat negeri ini rawan terkena bencana seperti gempa tektonik maupun vulkanik. Ketika bencana terjadi bahan makanan menjadi langka. Padahal pada kondisi tersebut tubuh membutuhkan banyak energi. Penyediaan pangan darurat yang mudah dikonsumsi dan mengandung kalori yang tinggi menjadi penting untuk dilakukan. Untuk menekan biaya produksi dan meningkatkan ketahanan pangan bangsa, pengembangan pangan darurat berbasis produk lokal telah banyak dieksplorasi. Beberapa komoditas lokal yang berpotensi sebagai bahan baku pangan darurat adalah pisang, ubi jalar, dan singkong sebagai sumber karbohidrat serta kedelai dan kacang hijau sebagai sumber protein. Hingga saat ini terdapat berbagai macam bentuk pangan darurat di dunia. Di Indonesia sendiri produk pangan darurat yang telah dikembangkan berbentuk olahan pangan semi basah (IMF), cookies, food bars, dan lain-lain.Indonesia located in the Pacific “Ring of Fire” has tens of active plates. All of these make Indonesia face risks in natural disasters such as volcanic and tectonic earthquakes. When a disaster happens, food availability becomes a problem. This is not a good situation because in time of disaster our body needs much energy to recovery. Provision of emergency food that is easy to consume and high in calories becomes important to do. To suppress the emergency food production cost and to increase food security, development of emergency food based on local commodity has been explored by many studies. There are several local commodities that have potency to be raw material of food emergency, such as banana, sweet potato and cassava as carbohydrate sources and soy bean and mung bean as protein sources. Types of emergency food that are already explored in Indonesia are intermediate moisture food (IMF), cookies, food bars, etc. 
Padi Ketan dan Pemupukan Nitrogen (StickyRice and Nitrogen Fertilizer) Agustiani, Nurwulan; Abdulrachman, Sarlan
JURNAL PANGAN Vol 21, No 4 (2012): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (924.93 KB) | DOI: 10.33964/jp.v21i4.198

Abstract

Berbagai varietas padi ketan telah dilepas oleh Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BBPADI),salah satunya adalah B10299B-MFM16-2-4-1 -2 (Ciasem). Ketan Ciasem dilepas sebagai varietas dengan keunggulan potensi hasil cukup tinggi, tahan terhadap Wereng Batang Coklat (WBC) biotipe 2,agak tahan terhadap WBC biotipe 3, dan tahan penyakit Hawar Daun Bakteri (HDB) strain III dan IV,serta dengan umur yang lebih genjah (115-120 hari) dan mutu gabah yang lebih baik. Namun demikian, sampai saat ini di tingkat petani varietas ketan Ciasem masih kurang populer dibanding Ketan Lusi. Untuk mengetahui perbedaan karakter agronomis antara ketan Lusi dan Ciasem telah dilakukan penelitian dengan perlakuan berbagai level pupuk Nitrogen (N). Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan BBPADI Sukamandi pada musim tanam (MT) 12011 dengan menggunakan rancangan petak terpisah 3 ulangan. Dosis pemupukan Nsebagai petak utama dan varietas sebagai anak petak. Dosis perlakuan Nterdiri atas 4taraf yaitu N0 (Tanpa pemupukan), N1 (100 kg Urea/ha), N2 (250 kg Urea/ha), dan N3 (350 kg Urea/ha), sedangkan varietas sebagai anak petak terdiri atas2taraf yaitu Ketan Lusi (A) dan Ketan Ciasem (B). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Padi Ketan Ciasem selain berumur lebih genjah dan berpostur lebih pendek serta jumlah anakan produktif yang lebih banyak, persentase distribusi asimilat ke bagian malai lebih tinggi namun jumlah gabah isinya lebih rendah dibandingkan Lusi. Oleh karena itu tingkat hasil Lusi dan Ciasem setara. Dosis pupuk Nyang optimal untuk kedua varietas padi ketan ini adalah 250 kg Urea/ha.Some of sticky rice varieties have been released by the Indonesian Center for Rice Research (ICRR) at Sukamandi, West Java, one of them is B10299B-MR-116-2-4-1-2 (Ciasem). Ciasem was released asa variety with high yield potential, resistant to Brown Plant Hopper (BPH) biotype 2, moderately resistant to BPH biotype 3, and also resistant to Bacterial Leaf Blight (BLB)strain III and IV. Moreover, Ciasem has shorter age (115-120 days) and better quality grain than that of Lusi. Nevertheless, up to now, Ciasem is less popular than Lusi. This paperpropose to show agronomic characters between Ciasem and Lusi with 4 levels of Nitrogen fertilizer dosages. This research was conducted at the ICRR field experiment in 2011. Using split plot design with 3 replications. Nitrogen fertilizer as the main plot with 4 levels (0, 100, 250, and 350kg urea/ha) and variety as subplot with 2 levels (Lusi and Ciasem). The result showed that Ciasem hasshorter posture, greater number ofproductive tillers, and also hashigger percentage distribution asimilate to thepaniclesbut less number of filled grain than Lusi. Because of that, the producticity of Lusi and Ciasem was equal. The optimal dosage of Nitrogen fertilizer for both of the varieties were 250kg urea/ha. 
KEBIJAKAN PEMANTAPAN KETAHANAN PANGAN NASIONAL KE DEPAN Syafa'at, Nizwar; Simatupang, Pantjar
JURNAL PANGAN Vol 15, No 2 (2006): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1762.929 KB) | DOI: 10.33964/jp.v15i2.292

Abstract

Indonesia sebagai negara dengan jumlah penduduk yang besar menghadapi tantangan yang sangat kompleks dalam memenuhi kebutuhan pangan penduduknya. Oleh karena itu kebijakan pemantapan ketahanan pangan menjadi isu sentral dalam pembangunan dan menjadi fokus utama dalam pembangunan pertanian. Secara keseluruhan ada tiga program utama Departemen Pertanian yang akan dilakukan pada periode 2005-2009, yaitu; (i) Program Peningkatan Ketahanan Pangan. (ii) Program Pengembangan Agribisnis; dan (iii) Program Peningkatan Kesejahteraan Petani. Sejalan dengan Revitalisasi Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (RPPK) yang telah dicanangkan oleh Presiden Rl tanggal 11 Juni 2005 diJatiluhur, Jawa Barat mengamanatkan bangsa ini perlu membangun ketahanan pangan yang mantap dengan memfokuskan pada peningkatan kapasitas produksi nasional untuk lima komoditas pangan strategis, yaitu padi, jagung, kedelai, tebu dan daging sapi. Untuk meningkatkan kapasitas produksi pangan nasional tersebut, Indonesia masih memiliki potensi lahan untukperluasan usahatani. Dari luas lahan yang sesuai untuk usaha pertanian sebesar 100,8 juta hektar, telah dimanfaatkan 68,8 juta hektar, sehingga lahan yang belum dimanfaatkan sekitar 32 juta hektar. Selain itu, terdapal potensi lahan untuk usaha pertanian berupa lahan terlantar 11,5juta hektar serta pekarangan 5,4 juta hektar, dan belum termasuk lahan gambut dan lebak yang potensinya cukup besar. Dalamrangka memantapkan ketahanan pangan nasional akan dikembangkan terhadap lima komoditas pangan strategis selama periode 2005-2010 antara lain: padi, jagung, kedelai, gula dan daging sapi. Langkah strategis dan jumlah investasi untuk mendukung pengembangan kelima jenis komoditas pangan tersebut telah ditentukan dan disiapkan. Salah satu langkahnya adalah mengidentifikasi potensi lahan yang sesuai untuk pengembangan kelima komoditas pangan tersebut dan pembangunan infrastruktur fisik dan non fisik pendukung.
Aksesibilitas Pangan: Faktor Kunci Pencapaian Ketahanan Pangan di Indonesia Salim Rachman, Handewi Purwati
JURNAL PANGAN Vol 19, No 2 (2010): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (734.34 KB) | DOI: 10.33964/jp.v19i2.128

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk membahas pentingnya aksesibilitas rumah tangga terhadap pangan sebagai faktor kunci untuk mewujudkan ketahanan pangan di Indonesia. Analisis didasarkan pada telaahan studi pustaka dengan menggunakan data sekunder sebagai sumber informasi. Dalam perspektif sistem ekonomi pangan, ketahanan pangan memiliki tiga pilar utama yaitu subsistem ketersediaan distribusi, dan konsumsi. Pentingnya aksesibiltas rumah tangga terhadap pangan dalam pencapaian ketahanan pangan di Indonesia didasarkan pada pertimbangan berikut : (i) Ketahanan dan ketersediaan pangan di tingkat nasional,regional, wilayah merupakan syarat keharusan tetapi itu saja tidak cukup, (ii) Terjaminnya ketahanan pangan tingkat rumah tangga merupakan syarat kecukupan bagi tercapainya ketahanan pangan lokal, regionaln, nasional, global, (iii). Bukti empiris menunjukkan bahwa di wilayah tahan pangan dan terjamin masih ditemukan proporsi rumah tangga rawan pangan yang cukup tinggi (20 – 30 persen), dan (iv) Kasus rawan pangan dan insiden busung lapar di berbagai daerah pada kondisi ketersediaan pangan nasional (dan wilayah) cukup baik. Kebijakan untuk meningkatkan aksesibilitas rumah tangga terhadap pangan bertujuan untuk : (i) meningkatkan akses rumah tangga terhadap pangan dalam jumlah, kualitas, merata dan terjangkau, dan (ii) meningkatkan ketahanan pangan rumah tangga melalui keanekaragaman konsumsi pangan yang bergizi dan berimbang.This paper aims to describe the importance of food accessibility as a key factor to achieve food security in Indonesia. The analysis based on a review of literature by using secondary data. In the perspective of food economy, food security consists of three sub systems, namely availability, distribution, and consumption. The importance of household’s food accessibility for achieving food security in Indonesia based on these reasons: (i) food availability at the national, regional and local level as a necessary condition but is not sufficient, (ii) food security at a household level as a sufficient condition to achieve food security at a local, regional, national and global level, (iii) empirically shows that food insecurity at household level is still occur (20-30 percent) at the food security areas; and (iv) areas with the good in food availability is still found incident of household food insecurity or cases of stunting. Therefore, improvement in household’s food accessibility should be rise as an important issue to achieve food security in Indonesia. The goal of this policy is: (i) to increase household’s food accessibility in term of quantity, quality, save, and affordable and (ii) to increase food security at a household level through a diversify food consumption with a nutrition proportionally.
TANTANGAN MEWUJUDKAN KEBIJAKAN PANGAN NASIONAL YANG KUAT Ismet, Mohammad
JURNAL PANGAN Vol 16, No 1 (2007): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (539.093 KB) | DOI: 10.33964/jp.v16i1.271

Abstract

Pangan, dalam hal ini adalah beras, memiliki peran yang sangat penting dalamkehidupan bangsa Indonesia. Karakteristik produksi yang tersebar dan sensitif terhadap perubahan iklim, karakteristik konsumsi dengan permintaan yang in-elastis dan menyebar di seluruh Nusantara dan sepanjang waktu, serta beras sebagai komoditi paling penting di sektor pertanian (penentu inflasi, penentu tingkat upah dan mempunyai peran terbesar dalam pengeluaran rumah tangga berpendapatan rendah), mengharuskan Pemerintah untuk memberlakukan Kebijakan Perberasan. Karena berbagai karakteristik tersebut, harus terwujud kebijakan pangan yang bersifat nasional dan komprehensif, tidak terpisah-pisah atau parsial. Kebijakan pangan dalam bentuk intervensi Pemerintah terhadap harga dan pasar selalu kontroversial dalam hal permasalahannya, bagaimana Pemerintah mengatasi permasalahan tersebut serta bentuk intervensinya. Harus terwujud kebijakan harga beras yang rasional dengan dampak distorsi seminimal mungkin dan keadilan bagi semua pelaku pasar. Kebijakan ini harus tetap menciptakan iklim berusaha yang kompetitif dan memberi ruang yang cukup bagi sektor swasta agar tetap berperan dalam perdagangan antar tempat dan waktu. Kebijakan ini juga harus dilengkapi dengan kebijakan perdagangan yang terbuka dan reasoanable, misalnya dengan memberlakukan kebijakan kuota &tarif yang selektif jumlah, waktu dan tujuan impor. Dengan demikian, intervensi Pemerintah akanoptimal, tidak menimbulkan distorsi pasar terlalu besar dan penggunaan subsidi menjadi lebih efisien. Manfaat ketahanan pangan sangat besar bagi kelangsungan kehidupan bangsa, tidak saja dari aspek ekonomis tetapi juga sosial dan politis yang sulit dihitung dengan nilai rupiah.
Potensi Pemanfaatan Asparaginase dalam Produksi Keripik Kentang dan Singkong Rendah Akrilamida Budijanto, Slamet
JURNAL PANGAN Vol 27, No 1 (2018): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (918.349 KB) | DOI: 10.33964/jp.v27i1.398

Abstract

Akrilamida merupakan senyawa karsinogen yang terbentuk akibat reaksi pengolahan suhu tinggi pada produk pangan tinggi pati. Salah satu contoh produk pangan yang berpotensi mengandung akrilamida karena tingginya kandungan asparagin yang terdapat pada pati adalah produk keripik kentang dan singkong. Pembentukan akrilamida dipelopori oleh keberadaan L-asparagin (L-Asn), beserta adanya gula reduksi atau senyawa karbonil lainnya. Pembentukan akrilamida dapat ditekan melalui penggunaan asparaginase yang dapat memecah L-asparagin menjadi asam aspartat. Kentang dan singkong sebagai bahan baku pembuatan keripik direndam dalam larutan asparaginase sebelum proses penggorengan, sehingga asparagin dapat diminimalkan lebih dulu sebelum masuk dalam proses pemanasan. Asparaginase terbukti efektif dalam menurunkan kadar akrilamida pada produk keripik berbasis pati. Penggunaan asparaginase berlebihan dapat mengganggu kualitas organoleptik pada produk pangan akibat produk samping yang dihasilkan berupa ammonia. Konsistensi penggunaan dan faktor yang mempengaruhi kerja asparaginase juga perlu diteliti lebih lanjut. Asparaginase dapat menjadi jawaban untuk industri pangan agar dapat meminimalkan kadar akrilamida pada produknya sehingga menghasilkan produk yang aman bagi kesehatan.

Page 1 of 34 | Total Record : 337


Filter by Year

2006 2019