cover
Contact Name
Majalah Kedokteran Andalas
Contact Email
mka.fk.unand@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
mka.fk.unand@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota padang,
Sumatera barat
INDONESIA
Majalah Kedokteran Andalas
Published by Universitas Andalas
ISSN : 01262092     EISSN : 24425230     DOI : -
Core Subject : Health,
Majalah Kedokteran Andalas (MKA) (p-ISSN: 0126-2092, e-ISSN: 2442-5230) is a peer-reviewed, open access national journal published by Faculty of Medicine, Universitas Andalas and is dedicated to publish and disseminate research articles, literature reviews, and case reports, in the field of medicine and health, and other related disciplines.
Arjuna Subject : -
Articles 313 Documents
Pengaruh asupan tinggi fruktosa terhadap tekanan darah Desmawati, Desmawati
Majalah Kedokteran Andalas Vol 40, No 1 (2017): Published in May 2017
Publisher : Faculty of Medicine Andalas University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22338/mka.v40.i1.p31-39.2017

Abstract

Peningkatan jumlah konsumsi fruktosa, terutama dalam bentuk (high fructose corn syrup) HFCS, mempunyai hubungan yang erat dengan peningkatan tekanan darah. Artikel ini bertujuan untuk membahas pengaruh asupan tinggi fruktosa terhadap tekanan darah. Artikel ini ditulis berdasarkan review beberapa literatur dengan berbagai metode penelitian. Hasil penelusuran literatur didapatkan bahwa fruktosa dapat meningkatkan tekanan darah melalui beberapa mekanisme, meliputi peningkatan absorpsi natrium di usus halus, dan meningkatkan pembentukan asam urat, serta menstimulasi sistem saraf simpatik. Selain itu, fruktosa juga dapat meningkatkan regulasi sistem renin angiotensin yang merupakan mediator disfungsi vaskuler dan stres oksidatif. Mekanisme fruktosa dalam meningkatkan tekanan darah masih belum jelas, namun beberapa penelitian telah dilakukan untuk menggali hal tersebut.
FREKUENSI KUMAN Neisseriae gonorrhoeae YANG MENGINFEKSI WANITA USIA ANAK DI PADANG Bahar, Elizabeth
Majalah Kedokteran Andalas Vol 32, No 2: Agustus 2008
Publisher : Faculty of Medicine Andalas University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (283.926 KB) | DOI: 10.22338/mka.v32.i2.p%p.2008

Abstract

AbstrakInfeksi traktus reproduksi wanita dapat disebabkan oleh penyakit hubungan seksual (sifilis, gonore, trikhomonas dan sebagainya). Dari semua penyakit kelamin insidens gonore merupakan yang tertinggi. Gonore penyakit yang disebabkan oleh kuman Neisseriae gonorrhoea atau disebut juga Coccus Gram negatif sampai saat ini merupakan suatu penyakit yang banyak menimbulkan problem bukan saja di negara berkembang, tetapi juga merupakan masalah di negara super power (adikuasa) bahkan di seluruh dunia. Selain mempengaruhi kesehatan reproduksi erat sekali hubungannya dengan perilaku seks. Dari sudut psikologi sosial sebagian besar perilaku seks adalah perilaku sosial.Telah dilakukan penelitian dengan pengumpulan sampel secara cross sectional sampling dari wanita usia anak di Padang untuk mengetahui adanya kuman Neisseriae gonorrhoeae. Penelitian deskriptif dengan menggunakan metoda pewarnaan Gram mikroskopis langsung. Dari 18 sampel, ditemukan frekuensi penderita terinfeksi kuman Neisseriae gonorrhoeae 11 (61%) dan 7 (38,9%) non N gonorrhoeae. Dari variable-variable yang diuji anak sebagai sample yang terinfeksi kuman gonore berusia 1 – 3 tahun 4 (22,2 %), 4 – 7 tahun 6 (33,3%), 8 – 11 tahun 1 (5,5%} dan 12 – 15 tahun 0 (0%), di mana di lihat tingkat usia pendidikan anak pra sekolah dan sekolah. Orang tua si anak, ibu dan ayah pendidikan mencakup SD 0 (0%), SLP 0 (0%), SLA 14 (77,8) dan 7 (38,9%) dan PT 4 (22,2%) dan 10 (55,5 %). Kemudian pekerjaan orang tua anak meliputi RT 9 (50%), PNS/Swasta 8 (44,4%) dan 14 (77,8%). Dagang 1 (5,6%) dan 2 (11,1%) dan sopir 2 (11,1%). Kesimpulannya penderita wanita usia anak di Padang cukup tinggi terinfeksi kuman N gonorrhoeae.Kata Kunci : gonore, wanita usia anak-anak, resistensi antibiotika.AbstractFemale genital infection may causes by sexual transmitted diseases (Syphilis, gonorrhoea, ect). From all vebereal diseases, incidence of gonorrhoeae is the highest. Current gonorrhoeae caused by Neisseriae gonorrhoeae or Gram negative coccus is the disease induced the problem both in the developing countries and super power countries event world wide. In addition to reproduction health, it close relate to sexual behaviour. From comerstone of social psychologic then major sexual behaviour is social behaviour. We have the saples collection cross sectionally sampling from some girls in Padang with the purpose to know presence bacterial, Neisseriae gonorrhoeae. The descriptive study using direct microscopical Gram stain.ARTIKEL PENELITIAN136Of 18 samples, found patient infected by bacterial N.gonorrhoeae 11 (61%) and 7 (38.9%). From the variables tested, the child as bacterial infected are 4 have age 1-3 years (22.22%); 6.4 -7 years (33.3%); 1.8-11 years (5.5%) and 0.12-15 years (0%) respectively where observed the educational age rates are pre school and school. The children parent that mother and father education are 0 SD (0%); 0 SLP (0%); 14 SLA (77.8%) and 4 PT (22.2%) and 10 (55.5%) respectively (tables 2 and 3). Subsequent the parent jobs include 9 household (50%), 8 PNS/private (44.4%) and 14 (77.8%); Trading 1(5.6%) and 2 (11.1%) Conclude that girls in Padang have been infected by bacteries Neisseriae gonorrhoeae are high.Keywords: gonorrhoea, infected girls, antibiotics resistance.
ANALISIS KEBIJAKAN INISIASI MENYUSU DINI (IMD) DAN PEMBERIAN AIR SUSU IBU EKSLUSIF DI RS BERSALIN BUDI KEMULIAAN JAKARTA Syamsyiah, Siti; Hardisman, Hardisman
Majalah Kedokteran Andalas Vol 37, No 3 (2014): Published in December 2014
Publisher : Faculty of Medicine Andalas University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (389.736 KB) | DOI: 10.22338/mka.v37.i3.p205-218.2014

Abstract

AbstrakRumah Sakit Bersalin (RSB) Budi Kemuliaan Jakarta adalah salah satu RS Sayang Bayi yang menjalankan Inisiasi Menyusu Dini (IMD) sebagai prosedur yang wajib di kerjakan oleh tenaga penolong saat membantu proses persalinan sejak tahun 2008. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagiamana kebijakan dan implementasi IMD dan advokasi ASI ekslusif di RS Bersalin Budi Kemuliaan. Studi dilakukan secara kualitatif berdasarkan analisis dokumen-dokumen terkait dan observasi langsung ke lapangan pada trimester terakhir tahun 2013 (Oktober-Desember 2013). Hasil kajian ini memperlihatkan pelaksanaan IMD dan pemberian ASI ekslusif di RS Bersalin Budi Kemuliaan belum optimal karena kurangnya fasilitas pendukung, kejelasan implementasi kebijakan dan advokasi petugas kesehatan. Studi ini menunjukkan bahwa IMD dan ASI ekslusif sangat ditentukan oleh advokasi yang baik dan petunjuk teknis kebijakan yang jelas. Studi ini juga memperlihatkan bahwa kesuksesan pencapaian ASI eksklusif terkait dengan keberhasilan pencapaian IMDAbstractMaternity Hospital (RSB) Budi Kemuliaan Jakarta has implemented friendly hospital Early Initiation of Breastfeeding (EIB) approach as standard procedure for asssisting childbirth process since 2008. This study was carried out to examine the policy and the implementation of EIB and exclusive breastfeeding policy in the Maternity Hospital Budi Kemuliaan. To answer the research objectives, the qualitative study was conducted using document analysis and direct observation from Oktober to Desember 2013. The result of the study revealed that the implementation of EIB and the implementation of exclusive breastfeeding did not reach the target due to lack of supporting factors, advocacy, and clear guideline of the policy. The study also indicated that successful implementation exclusive breasfeeding policy related to successful of EIB.
AUTOIMMUNE HEPATITIS Jurnalis, Yusri Dianne; Sayoeti, Yorva; Nelvirina, Nelvirina
Majalah Kedokteran Andalas Vol 34, No 1 (2010): Published in April 2010
Publisher : Faculty of Medicine Andalas University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1947.713 KB) | DOI: 10.22338/mka.v34.i1.p1-24.2010

Abstract

AbstrakHepatitis autoimun merupakan penyakit inflamasi hati yang berat dengan penyebab pasti yang tidak diketahui yang mengakibatkan morbiditas dan mortalitas yang tinggi. Semua usia dan jenis kelamin dapat dikenai dengan insiden tertinggi pada anak perempuan usia prepubertas, meskipun dapat didiagnosis pada usia 6 bulan. Hepatitis autoimun dapat diklasifikasikan menjadi 2 bagian berdasarkan adanya antibodi spesifik: Smooth Muscle Antibody (SMA) dengan anti-actin specificity dan/atau Anti Nuclear Antibody (ANA) pada tipe 1 dan Liver-Kidney Microsome antibody (LKM1) dan/atau anti-liver cytosol pada tipe 2. Gambaran histologisnya berupa “interface hepatitis”, dengan infiltrasi sel mononuklear pada saluran portal, berbagai tingkat nekrosis, dan fibrosis yang progresf. Penyakit berjalan secara kronik tetapi keadaan yang berat biasanya menjadi sirosis dan gagal hati.Tipe onset yang paling sering sama dengan hepatitis virus akut dengan gagal hati akut pada beberapa pasien; sekitar sepertiga pasien dengan onset tersembunyi dengan kelemahan dan ikterik progresif ketika 10-15% asimptomatik dan mendadak ditemukan hepatomegali dan/atau peningkatan kadar aminotransferase serum. Adanya predominasi perempuan pada kedua tipe. Pasien LKM1 positif menunjukkan keadaan lebih akut, pada usia yang lebih muda, dan biasanya dengan defisiensi Immunoglobulin A (IgA), dengan durasi gejala sebelum diagnosis, tanda klinis, riwayat penyakit autoimun pada keluarga, adanya kaitan dengan gangguan autoimun, respon pengobatan dan prognosis jangka panjang sama pada kedua tipe.Kortikosteroid yang digunakan secara tunggal atau kombinasi azathioprine merupakan terapi pilihan yang dapat menimbulkan remisi pada lebih dari 90% kasus. Strategi terapi alternatif adalah cyclosporine. Penurunan imunosupresi dikaitkan dengan tingginya relap. Transplantasi hati dianjurkan pada penyakit hati dekom-pensata yang tidak respon dengan pengobatan medis lainnya.Kata kunci : hepatitis Autoimmune; Aetiopathogenesis; Lymphocyte disease; Cellular immune attack; Histocompatibility lymphocyte antigen, Immunosuppressive therapy, Cyclosporine, transplantasi hatiAbstractAutoimmune hepatitis is a severe and inflammatory disease of the liver of unknown etiology carrying high morbidity and mortality. All ages and genders are concerned with a peak of incidence in girls in prepubertal age, even if the diseaseTINJAUAN PUSTAKA2has been diagnosed as early as 6 months. Autoimmune hepatitis may be classified in two major subgroups on a presence of a specific set of autoantibodies: smooth muscle antibody (SMA) mostly with anti-actin specificity and/or by antinuclear antibody (ANA) in type 1 and liver-kidney microsome antibody (LKM1) and/or the anti-liver cytosol in type 2. The histological hallmark is “interface hepatitis”, with a mononuclear cell infiltrate in the portal tracts, variable degrees of necrosis, and progressive fibrosis. The disease follows a chronic but fluctuating course usually progressing to cirrhosis and liver failure.The most frequent type onset is similar to that of an acute viral hepatitis with acute liver failure in some patients; about a third of patients have an insidious onset with progressive fatigue and jaundice while 10-15% are asymptomatic and are accidentally discovered by the finding of hepatomegaly and/or an increase of serum aminotransferase activity. There is a female predominance in both. LKM1-positive patients tend to present more acutely, at a younger age, and commonly have immunoglobulin A (IgA) deficiency, while duration of symptoms before diagnosis, clinical signs, family history of autoimmunity, presence of associated autoimmune disorders, response to treatment and long-term prognosis are similar in both groups.Corticosteroids alone or in conjunction with azathioprine are the treatment of choice inducing remission in over 90% of patients. An alternative therapeutic strategy is cyclosporine. Withdrawal of immunosuppression is associated with high risk of relapse. Liver transplantation manages patients with decompensated liver disease unresponsive to “rescue” medical treatment.Key words: Autoimmune hepatitis; Aetiopathogenesis; Lymphocyte disease; Cellular immune attack; Histocompatibility lymphocyte antigen, Immunosuppressive therapy, Cyclosporine, Liver transplantation.
ANALISIS PERSEPSI DAN HARAPAN DOKTER TERHADAP PERAN APOTEKER DI RSUD PROF. DR. MARGONO SOEKARJO PURWOKERTO Hidayat, Zaenuri S; Punruonugroho, TunggulAdi; Fera RU, Vitis Vini
Majalah Kedokteran Andalas Vol 37 (2014): Supplement 1 | Published in March 2014
Publisher : Faculty of Medicine Andalas University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6254.481 KB)

Abstract

Abstrakbahasa lndonesia Kolaborasi antara tenaga kesehatan terbukti meningkalkan kualitaspelayanan kesehatan. Khusus untuk hubungan antara dokter dan apoteker, interaksi dokterapotekerdalam paradigma patiet-oriented t€rbukti menghasilkan terapi obat yang lebih efektif,aman, dan murah. Tujuan penelitian ini adalah menerangkan persepsi dan harapan dokterterhadap peran apoteker, serta menerangkan faktor-faktor yang berpengaruh pada persepsi danharapan dokter terhadap peran apoteker di RSUD Prof Dr Margono Soekarjo Punrvokerto.Penelitian ini merupakan cross-sectional study dengan alat bantu kuesioner. Subyek penelitianadalah semua dokter yang berpraktek di RSUD Prof Dr Margono Soekarjo Purwokerto. Datayang terkumpul dianalisis secara deskriptif danselanjutnya dilakukan analisis hubungan antaravariabel dependen dan variabel independen menggunakan uji chi-square. Variabel akan dinilaisignifikan berhubungan jika P< 0.05. Enam puluh dua dokter mengembalikan secaara lengkapkuesioner yang ciibagikan. Mayoritas responden memiliki persepsi dan harapan yang baikterhadap peran apoteker. Responden laki-laki dan dokter spesialis/konsultan memiliki persepsiyang lebih baik- Untuk mengkaji faktor-faktor yang berpengaruh terhadap persepsi, dan harapan,penelitian dengan metode kualitatif diperlukan sebagai kelanjutan penelitian ini.Kata kunci: interaksi dokter'-apoteker, persepsi, harapan
MANIFESTASI ORAL DAN PENATALAKSANAAN PADA PENDERITA SINDROM STEVENS-JOHNSON Ramayanti, Sri
Majalah Kedokteran Andalas Vol 35, No 2 (2011): Published in August 2011
Publisher : Faculty of Medicine Andalas University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (360.032 KB) | DOI: 10.22338/mka.v35.i2.p91-97.2011

Abstract

AbstrakSindrom Stevens-Johnson adalah bentuk penyakit mukokutan dengan tanda dan gejala sistemik yang parah berupa lesi target dengan bentuk yang tidak teratur, disertai macula, vesikel, bula, dan purpura yang tersebar luas terutama pada rangka tubuh. Sindrom Stevens-Johnson mempunyai tiga gelaja yang khas yaitu kelainan pada mata berupa konjungtivitis, kelainan pada genital berupa balanitis dan vulvovaginitis, serta kelainan oral berupa stomatitis. Diagnosis sindrom Stevens-Johnson terutama berdasarkan atas anamnesis, pemeriksaan klinis dan pemeriksaan penunjang perawatan pada penderita sindrom Stevens-Johnson lebih ditekankan pada perawatan simtomatik dan suportif karena etiologinya belum diketahui secara pasti.Kata Kunci : Sindrom Stevens-Johnson, manifestasi oral, manajemen perawatanAbstractStevens-Johnson Syndrome is a mucocutaneous disease with severe signs and symptoms of systemic form of the target lesion with an irregular shape, with the macula, vesicles, bullae, and widespread purpura, especially in the framework of the body. Stevens-Johnson syndrome have a typical three gelaja disorders of the eye such as conjunctivitis, genital abnormalities in the form of balanitis and vulvovaginitis, as well as oral abnormalities such as stomatitis. Stevens-Johnson syndrome diagnosis is mainly based on history, clinical examination and investigations treatment in patients with Stevens-Johnson syndrome were focused on symptomatic and supportive care because its etiology is not known with certainty.Key word : Stevens-Johnson syndrome, oral manifestation, treatment managementTINJAUAN PUSTAKA
ADENOMA HIPOFISIS Hidayat, Muhammad
Majalah Kedokteran Andalas Vol 38, No 2 (2015): Published in September 2015
Publisher : Faculty of Medicine Andalas University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (363.68 KB) | DOI: 10.22338/mka.v38.i2.p130-138.2015

Abstract

AbstrakAdenoma hipofisis diklasifikasikan berdasarkan beberapa kriteria yaitu klinis dan endokrin, patologi, serta radiologi. Klasifikasi endokrin membedakan tumor sebagai fungsional dan nonfungsional, berdasarkan aktivitas sekretorinya in-vivo. Klasifikasi patologi berusaha untuk membatasi kelompok tumor heterogenus secara klinis dan patologis dengan kategori yaitu asidofilik, basofilik, dan kromofobik. Klasifikasi radiologi mengelompokkan tumor hipofisis berdasarkan ukuran dan karakteristik pertumbuhan, yang dapat ditemukan dari studi imaging. WHO membuat klasifikasi yang mencoba untuk mengintegrasikan semua klasifikasi yang ada dan menyediakan sinopsis praktis untuk aspek klinis dan patologis dari adenoma. Diagnosa adenoma hipofisis dibuat berdasarkan: gejala klinis dari gangguan hormon, adanya riwayat penyakit dahulu yang jelas, pemeriksaan fisik yang menunjang, pemeriksaan laboratorium yang menunjukkan disfungsi dari hormon yang terganggu, adanya pemeriksaan penunjang yang akurat seperti CTScan, MRI-Scan. Jenis, besar dan fungsi dari tumor sangat menentukan dalam mempertimbangkan penatalaksanaan dari adenoma hipofisis. Pengobatan diindikasikan pada semua pasien dengan gejala, terutama dengan hipogonadisme. Pilihan terapi termasuk kontrol dengan obat-obatan, reseksi bedah, dan terapi radiasi.AbstractPituitary adenomas are classified according to several criteria; clinical endocrine, pathology, and radiology. Endocrine classification distinguishes tumors as functional and nonfunctional, based on in-vivo secretory activity. Pathology classification seeks to restrict clinically heterogeneous group of tumors and pathological categories namely acidophilic, basophilic, and kromofobik. Radiological classification classifies pituitary tumors by size and growth characteristics, which can be found on imaging studies. WHO made a classification that attempts to integrate all existing classifications and provide practical synopsis for the clinical and pathological aspects of adenoma. Diagnosis of pituitary adenoma is made based on: clinical symptoms of hormonal disorders, clear past medical history, clear physical examination, laboratory tests show hormonal dysfunction or disturbance, and accurate investigations such as CT scan and MRI scan. Types, large and function of the tumor is crucial in considering the management of pituitary adenomas. Treatment is indicated in all patients with symptoms, especially with hypogonadism. Therapeutic options include control with drugs, surgical resection and radiation therapy.
EFEK HIDROTERAPI PADA PENURUNAN KADAR GULA DARAH SESAAT (KGDS) TERHADAP PENDERITA DIABETES MELITUS TIPE 2 Sy, Elmatris; Afrianti, Esy; Bahri, Nelwati; Yuniarti, Yuniarti
Majalah Kedokteran Andalas Vol 36, No 2 (2012): Published in August 2012
Publisher : Faculty of Medicine Andalas University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (235.139 KB) | DOI: 10.22338/mka.v36.i2.p202-214.2012

Abstract

AbstrakHidroterapi atau terapi air putih merupakan metode perawatan danpenyembuhan dengan menggunakan air putih untuk mendapatkan manfaat terapisdalam penanganan penyakit. Diabetes Mellitus adalah salah satu penyakitdegeneratif, yang mana perlu suatu upaya untuk menekan terjadinya peningkataninsiden penyakit tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efekhidroterapi terhadap penurunan kadar gula darah sesaat pada penderita DM tipe 2.Metode penelitian ini adalah quasi eksperimen dengan pendekatan control groupdesign with pretest and posttest. dengan teknik pengambilan sampel yangdigunakan adalah non probability sampling dengan pendekatan purposivesampling. Total responden adalah 27 orang, 15 responden untuk kelompok kontroldan 12 orang kelompok intervensi. Hasil penelitian menunjukan bahwa kurangdari separoh (40%) responden yang mengalami penurunan kadar gula darah sesaat(KGDS) setelah pemberian terapi oral, dan didapatkan semua responden (100%)mengalami penurunan KGDS setelah diberikan terapi oral dan hidroterapi. Dapatdisimpulkan bahwa Terdapat pengaruh hidroterapi pada penderita diabetes melitustipe 2 yang diberi terapi oral, ini terlihat terdapatnya perbedaan yang signifikandengan p = 0,00 (p<0,05) dari rata-rata kadar gula darah sesaat (KGDS) antarakelompok intervensi (pemberian terapi oral dan hidfroterapi) dan kelompokkontrol (hanya pemberian terapi oral).Kata kunci: Hidroterapi, kadar gula darah sesaat, dan diabetes mellitusAbstractHydrotherapy or water therapy is a method of treatment and healing withwater for get the profit therapeutic in the treatment of disease. Diabetes Mellitus isa degenerative disease, which need an effort to suppress the increased incidenceof the disease. This the aims of the research to determine the effect ofhydrotherapy to decrease blood sugar random diabetes mellitus type 2 patients.The method of this research is a quasi experimental control group design approachwith pretest and posttest. the sampling techniques used is non probabilitysampling with purposive sampling approach. Total respondent are 27 peoples, 15respondents for the control group and 12 intervention group. The results ofresearch is less than half (40%) of respondents have a decrease in content bloodsugar random (CBSR) after giving oral therapy, and all the respondents (100%)have a decrease in content blood sugar random (CBSR) after be given oral therapy202ARTIKEL PENELITIANand hydrotherapy. There is an influence of hydrotherapy to patients diabetesmellitus type 2 who was given oral therapy, it can seen have of a significantdifference with p = 0,00 (p < 0,05) in the average content blood sugar random(CBSR) between the intervention group (given hidfroterapi therapy and oraltherapy) and control group (only therapy oral).Key word : Hydrotherapy, instantaneous blood sugar levels, and diabetes mellitus203
PENGARUH ESTROGEN TERHADAP AKTIFITAS SEL MAKROFAG DALAM MENFAGOSIT Candida albicans SECARA IN VITRO Rasyid, Roslaili; Yanwirasti, Yanwirasti; Nasrul, Ellyza
Majalah Kedokteran Andalas Vol 32, No 1: April 2008
Publisher : Faculty of Medicine Andalas University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22338/mka.v32.i1.p83-92.2008

Abstract

AbstrakSaat ini estrogen banyak digunakan untuk keperluan terapi, mengurangi keluhan menopause atau untuk kontrasepsi, terutama di negara berpenduduk padat seperti Indonesia. Pemberian terapi estrogen juga dapat menyebabkan efek samping, mulai dari yang ringan sampai berat, seperti vulvovaginal candidiasis. Fluktuasi kadar hormon ini dapat mempengaruhi kerentanan vagina terhadap infeksi dengan memodulasi mekanisme imun protektif seperti menurunnya aktifitas sel fagosit seperti netrophil, makrofag dan juga natural killer (NK). Penelitian eksperimental dilakukan untuk mengetahui perubahan aktifitas makrofag karena pengaruh estrogen dalam menfagosit Candida albicans secara in vitro. Penelitian menggunakan 12 mencit putih betina galur Swiss, berumur 4-6 minggu dengan berat sekitar 20 mg. Selama 10 hari berturut-turut diberikan estrogen peroral dengan berbagai perbedaan konsentrasi. Pengujian dilakukan terhadap jumlah blastospora yang mampu difagosit oleh tiap makrofag dari kelompok kontrol, dengan makrofag dari kelompok yang mendapat tambahan estrogen. Jumlah blastospora yang difagosit oleh tiap sel makrofag antara kelompok kontrol dengan kelompok estrogen menunjukkan perbedaan yang bermakna secara statistik. Rata-rata persentase tiap 100 sel makrofag yang dapat menfagosit blastospora antara kelompok kontrol dengan kelompok estrogen juga menunjukkan perbedaan bermakna. Diduga estrogen mempengaruhi fungsi enzim-enzim yang berfungsi membantu terbentuknya bahan-bahan yang bersifat oksidatif kuat yang membantu proses fagositosis di dalam makrofag, sehingga dapat menurunkan aktifitas fagositosisnya.Kata kunci : Estrogen, makrofag, Candida albicansAbstractEstrogen is used widely for treatments, reducing symptoms of menopausal women, or even as a choice of contraception, especially in developing countries like Indonesia. Estrogen therapy may result in various side effect, with mild to severe symptoms such as vulvovaginal candidiasis. Fluctuation of this hormone affects vaginal susceptibility toward infections due to modulation of protective immune mechanism which assists in the suppression of neutrophil, macrophage, and nature killer (NK) cell. A laboratory experimental study was conducted to assess the change of macrophageARTIKEL PENELITIAN84activity in phagocyting blastospores of Candida albicans due to estrogen in vitro. This study used 12 white Swiss female mice which characteristics are 4-6 weeks ages and 20 grams weight. Those mice were given estrogen orally for 10 consecutive days in different concentration. The number of phagocyted blastophore in each macrophage of control and estrogen treated groups were counted. The number of phagocyted blastophore of control group and estrogen treated group was significantly diffeterent. Average percentage of macrophage which are able to phagocyte blastophore between control and estrogen treated group were also significantly different. It is concluded that estrogen affects enzyme function which is assisted in compounding strong oxidant which result in decresase phagocytes activity of macrophage.Keywords: Estrogen, Macrophage, Candida albicans
STRUKTUR PROTEOMIK VIRUS DENGUE DAN MANFAATNYA SEBAGAI TARGET ANTIVIRUS Rachmayanti, Novia
Majalah Kedokteran Andalas Vol 37, No 2 (2014): Published in September 2014
Publisher : Faculty of Medicine Andalas University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (430.792 KB) | DOI: 10.22338/mka.v37.i2.p136-142.2014

Abstract

AbstrakVirus dengue (DENV) telah menyebabkan sekitar 50 juta kasus infeksi demam berdarah setiap tahunnya, akan tetapi hingga saat ini belum terdapat vaksin maupun antivirus yang mampu mencegah atau mengobati penyakit tersebut. Selama pengembangan vaksin dan antivirus, diperoleh berbagai informasi tentang struktur protein DENV yang dapat dimanfaatkan sebagai target obat. Makalah membahas tentang struktur proteomik pada DENV, yaitu glikoprotein pada envelope, NS3 protease, NS3 helikase, NS5 metiltransferase, dan NS5 RNA-dependent RNA polimerase.AbstractDengue virus (DENV) has caused over 50 millions infection every year. However, to date neither vaccine nor medicine could be used to prevent or cure the illness. During researches in finding the vaccine or antiviral for DENV, information on DENV protein structure has been obtained which is potentially used as drug target. This paper disscuss DENV proteomic structure that consist of envelope glicoprotein, NS3 protease, NS3 helicase, NS5 methyl-transferase, and NS5 RNA-dependent RNA polymerase.

Page 1 of 32 | Total Record : 313


Filter by Year

2008 2020


Filter By Issues
All Issue Vol 43, No 1 (2020): Published in January 2020 Vol 42, No 3S (2019): Published in November 2019 Vol 42, No 3 (2019): Published in September 2019 Vol 42, No 2 (2019): Published in May 2019 Vol 42, No 1 (2019): Published in January 2019 Vol 42, No 2 (2019): Published in May 2019 Vol 42, No 1 (2019): Published in January 2019 Vol 41, No 3 (2018): Published in September 2018 Vol 41, No 2 (2018): Published in May 2018 Vol 41, No 1 (2018): Published in January 2018 Vol 41, No 3 (2018): Published in September 2018 Vol 41, No 2 (2018): Published in May 2018 Vol 41, No 1 (2018): Published in January 2018 Vol 40, No 2 (2017): Published in September 2017 Vol 40, No 2 (2017): Published in September 2017 Vol 40, No 1 (2017): Published in May 2017 Vol 39, No 1 (2016): Published in April 2016 Vol 39, No 2 (2016): Published in August 2016 Vol 39, No 1 (2016): Published in April 2016 Vol 38, No 3 (2015): Published in December 2015 Vol 38, No 2 (2015): Published in September 2015 Vol 38, No 1 (2015): Published in May 2015 Vol 38 (2015): Supplement 1 | Published in September 2015 Vol 37, No 3 (2014): Published in December 2014 Vol 37, No 2 (2014): Published in September 2014 Vol 37, No 1 (2014): Published in May 2014 Vol 37 (2014): Supplement 2 | Published in December 2014 Vol 37 (2014): Supplement 1 | Published in March 2014 Vol 36, No 1 (2012): Published in April 2012 Vol 36, No 2 (2012): Published in August 2012 Vol 36, No 1 (2012): Published in April 2012 Vol 35, No 2 (2011): Published in August 2011 Vol 35, No 1 (2011): Published in April 2011 Vol 34, No 2 (2010): Published in August 2010 Vol 34, No 1 (2010): Published in April 2010 Vol 33, No 2: Agustus 2009 Vol 33, No 1: April 2009 Vol 32, No 2: Agustus 2008 Vol 32, No 1: April 2008 More Issue