cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota pekalongan,
Jawa tengah
INDONESIA
RELIGIA
ISSN : 14111632     EISSN : 25275992     DOI : -
Religia is a periodical scientific journal with ISSN Print: 1411-1632; Online: 2527-5992 published by the Faculty of Ushuluddin, Adab and Da'wah IAIN Pekalongan. This journal specializes in the study of Islamic sciences (Islamic Theology, Philosophy and Islamic thought, Tafsir-Hadith, Science of Da'wah, and Sufism). The managers invite scientists, scholars, professionals, and researchers in Islamic scholarship disciplines to publish their research results after the selection mechanism of the manuscript, the review of the partner bebestari, and the editing process. The Religia Journal is published in April and October each year. This journal has been indexed in a reputable national indexing agency.
Arjuna Subject : -
Articles 112 Documents
PEMBELAAN GUS DUR TERHADAP KESESATAN AHMADIYAH (Pembacaan Hermeneutika Schleiermacher) Basyir, Musoffa
RELIGIA Vol 19 No 1: April 2016
Publisher : IAIN Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28918/religia.v19i1.659

Abstract

Abdurrahman Wahid atau yang biasa disebut Gus Dur telah luas diketahui sebagai sosok yang kontroversial. Salah satu kontroversi tersebut adalah pembelaan Gus Dur terhadap Jamaah Ahmadiyah Indonesia (JAI) yang difatwa sesat oleh Majelis Ulama Indonesia. Padahal, Gus Dur adalah salah satu ulama Indonesia yang dikenal sebagai pemimpin Nahdlatul Ulama (NU) yang notabene tradisional dan berfaham Ahlussunnah Waljama’ah. Pembelaan Gus Dur terhadap JAI ini, tak pelak, secara teologis menimbulkan keraguan mengenai jati diri keaswajaannya. Tulisan ini berusaha memahami pembelaan Gus Dur terhadap kesesatan JAI melalui cara baca hermeneutika a la Schleiermacher. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa pembelaan Gus Dur terhadap JAI bukanlah sebentuk pembelaan teologis melainkan pembelaan terhadap sisi kemanusiaan dan konstitusi berbangsa dan bernegara yang berlaku di Indonesia. Pembelaan semacam ini justru merupakan wujud dari teologi Aswaja yang dipahamnyai dan yang telah ia kembangkan sesuai dengan kerangka dasar pengembangan Aswaja yang disusunnya.
KEPEMIMPINAN ISLAM DAN KONVENSIONAL (Sebagai Studi Perbandingan) Chaniago, Siti Aminah
RELIGIA Vol 13 No 2: Oktober 2010
Publisher : IAIN Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28918/religia.v13i2.184

Abstract

The majority population of Indonesia is Moslem. The leadership of Islamic system is dominant to run the organization, although the regulation of the country does not adopt Islamic system. Now, How to compare the leadership of Islam to conventional and how to implement both of the regulation? Because the leadership influences the product and goal of organization either the family or public organization or company or country leadership, etc. The other hand, the success of organization depends on the leadership. This article tries to give the comparison between Islamic leadership and conventional and how to get the synergy both of them.
REKONSEPSI EKONOMI ISLAM DALAM PERILAKU DAN MOTIVASI EKONOMI Asytuti, Rinda
RELIGIA Vol 14 No 1: April 2011
Publisher : IAIN Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28918/religia.v14i1.34

Abstract

Perilaku ekonomi pada dasarnya dilatarbelakangi olehmotivasi dan motivasi dipengaruhi oleh pengetahuan dan perilakukeagamaan bagi umat beragama.Agama sebagai perangkat kepercayaan dan tuntunan hidup muslimseyogyanya mendasari dan memaknai perilaku ekonomi seorangmuslim. Prilaku ekonomi muslim telah digariskan dengan jelas yaknimenghindari Riba, Gharar, dan Maysir juga perilaku—perilakuspekulasi demi kepentingan pribadi.Sejauh mana motivasi mempengaruhi perilaku ekonomi Manusia danbagaimana Islam membahas motivasi ekonomi manusia, tulisan iniberusaha membahasnya dengan menggunakan paradigama ekonomiIslam.Human economic behavior is basically influenced by their motivation,and their motivation is influenced by their knowledge and religiousbehavior. Therefore, Moslems should make their religion (read: Islam)be their guidance to lead their economic behavior. Some of rules thatthey have to obey are to avoid riba, gharar, maysir, and anyspeculations for their own interest. This paper will discuss how farthe motivation influences human economic behavior from Islamiceconomic paradigm.
PETIK LAUT: Social-Ideological Accommodation in the Fishermen Community of Kedungrejo Muncar Banyuwangi Ainiyah, Nur
RELIGIA Vol 20 No 2: Oktober 2017
Publisher : IAIN Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28918/religia.v20i2.905

Abstract

This research aims to showing how accommodating the differences of two traditions ideologically and socially can create tolerance and peace in a plural society. The plurality of Muncar such ethnicity, religion, culture and class-economy could protect the conflict. They more choose the public interest than personal interest. The social reality of Muncar is showing with ritual Petik Laut which combines between Islamic and Osing tradition. Cosmologically both of them are different, Islam believes in the singular God and the Osing believes in the plural God. The main problem of this research is how the ideological and social accommodation between the Islamic and Osing tradition can work. So my conceptual framework of research that syncretism is the accommodation of differences which can create society to be peaceful. And the ritual collective is the combining media of how the differences because the ritual has the collective goal which is reached by society as the actors.This research shows that the differences of religion and ideology in the multi-ethnical and cultural society have potentials for conflict. But the conflict can be protected by involving the social agents of society like santri and kejawen  in order to avoid riot. The ideological problem is significant and sensitive and it is easy to create raise strong emotions among the fishermen. The wrong interpretation of ideology can be fatal. However the coastal society generally is known as less temperamental and open-minded person and permissive for the religious and ideological plurality. Their attitudes which want to show ‘dignity’ (jati diri) are the characteristic of the coastal society. This attitude manifests in the petik laut ritual by involving the symbols of religions, cultures and ethnicities in Kedungrejo.The Kedungrejo society majority is Islam but they believe in Ratu Reja Mina as the fish Queen although it is the Osing belief. The honor for the Sayid Yusuf as the historical figure of the Petik Laut history is done together by them. These beliefs complete the Islamic belief for Prophet Hidir. The coastal cosmology of Kedungrejo is the result of accommodating between Islam and Osing. So it became the local ideology which can avoid the conflict. Because left one of two ideologies can create the ideological conflict in society. They are still doing the process for the survival society life peacefully although they have the different interpretation about ritual petik laut. The conflict of economy as the consequence of the work system between jaragan and pandiga, and the environmental conflict between fabric and society can assimilate in this ritual because the social function of petik laut can accommodate all of the elements of society even religion to include in this ritual. So the person who has the certain conflict became the ritual as the mediation for building up the social cohesion (silaturohmi) among the fishermen community, religious institution and the organization of the pesantren’s alumni. From the social accommodation, the social cohesion came back to unity so that peace can return to Kedungrejo. 
Kualitas Hadits dalam Kitab Tafsir Tanwir al-Miqbas Min Tafsir Ibni Abbas (Kritik Sanad Hadits) Su'aidi, Hasan
RELIGIA Vol 18 No 1: April 2015
Publisher : IAIN Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28918/religia.v18i1.620

Abstract

Penafsiran al-Qur`an mempunyai ragam corak, antara lain tafsir bil Ma’tsur dan tafsir bil Ra’yi. Tafsir bil Ma’tsur masih diyakini oleh sementara kalangan sebagai tafsir yang cenderung lebih dapat dipercaya walaupun dianggap “konservatif”. Tafsir ini bersumber dari periwayatan, baik yang bersumber dari Nabi SAW maupun sahabat. Tafsir sahabat seringkali dipermasalahkan apakah tafsir tersebut bisa disebut dengan tafsir bil ma’tsur atau tidak. Hal ini disebabkan penafsiran tersebut merupakan ijtihad. Selain itu, riwayatriwayat yang terdapat di dalam tafsir bil ma’tsur tidak semua dapat dipertanggung jawabkan otentitasnya. Di antara kitab tafsir bercorak demikian adalah Tanwir al-Miqbas min Tafsir Ibni Abbas. Kitab ini disandarkan kepada Muhammad bin Ya’qub bin Muhammad bin Ibrahim as-Syairazi al-Fairuzabadi. Kitab tafsir ini merupakan kitab tafsir al-Qur`an yang menggunakan manhaj tafsir tahlili (tafsir ayat per ayat) dengan mendasarkan kepada jalur periwayatan tunggal yang berujung kepada Abdullah bin Abbas RA (sebagai sumber penafsiran). Otentitas terhadap periwayatan baik terhadap riwayat-riwayat yang terkait dengan penafsiran maupun hadits sangat penting dilakukan. Hal tersebut bertujuan untuk mengetahui kualitas periwayatan, sehingga dapat ditentukan apakah riwayat tersebut valid ataukah tidak. Dalam penelitian ini, akan dilakukan telaah terhadap hal-hal yang terkait dengan jalur periwayatan tafsir Tanwir al-Miqbas min Tafsir Ibni Abbas, tentang penilaian terhadap sanad perawinya, perbandingan penafsiran Abdullah bin Abbas dalam kitab tafsir ini dan kitab tafsir Ibnu Abbas lainnya dan pembahasan tentang keabsahan penyandaran kitab tafsir ini kepada al-Fairuzabadi. Dengan demikian penelitian ini merupakan penelitian library dengan menitik beratkan kepada tinjauan sejarah dan tinjauan sanad.
PERDEBATAN SEPUTAR AHL AL-KITAB Sya’roni, Sam’ani
RELIGIA Vol 13 No 1: April 2010
Publisher : IAIN Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28918/religia.v13i1.175

Abstract

Ahl al-Kitab is a very popular term but it is still not clear to those who are meant by the term and it is always debated by Islamic scholars, both classical and contemporary. Is the term identical with Jews and Christian only or it also include other believers, like Zoroastrian, Shabi’in, and even Hindis or Buddhist? Discourse of the coverage of the term is certainly very interesting to discuss because it can give wide law implication in social life like marriage with them and their slaughtered animal.
TAUBAT DALAM PERSPEKTIF HADITS Sya’roni, Sam’ani
RELIGIA Vol 12 No 1: April 2009
Publisher : IAIN Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28918/religia.v12i1.198

Abstract

As the perfect creature, human beings have naturally good nearness and harmony either with their God or among them. This natural tendency, however, is often depraved by themselves by committing a sin or break norm. The fadedness of this natural tendency makes them suffering in their whole life. Therefore, there is no other way unless seeking medicine and solution, i.e. repenting or al-taubah al-shâdiqah or taubatan nasûha.
DAKWAH DAN DIALEKTIKA AKULTURASI BUDAYA Zuhdi, Muhammad Harfin
RELIGIA Vol 15 No 1: April 2012
Publisher : IAIN Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28918/religia.v15i1.122

Abstract

Dakwah para penyebar Islam awal ke Nusantara telah menunjukkan akomodasi yang kuat terhadap tradisi lokal  masyarakat setempat. Sehingga Islam datang bukan sebagai ancaman, melainkan sahabat yang memainkan peran penting dalam transformasi kebudayaan. Hal ini menunjukkan bahwa karakter Islam Indonesia yang berdialog dengan tradisi masyarakat sesungguhnya dibawa oleh para mubaligh India dalam penyebaran Islam awal di Indonesia yang bersikap akomodatif terhadap tradisi masyarakat atau kultur masyarakat setempat ketimbang mubaligh Arab yang puritan untuk memberantas praktik-praktik lokal masyarakat. Karakter Islam yang dibawa orang-orang India inilah yang diteruskan Walisongo dalam dakwahnya di Jawa. Proses dialog Islam dengan tradisi masyarakat diwujudkan dalam mekanisme proses kultural dalam menghadapi negosiasi lokal. Perpaduan antara Islam dengan tradisi masyarakat ini adalah sebuah kekayaan tafsir lokal agar Islam tidak tampil hampa terhadap realitas yang sesungguhnya. Islam tidak harus dipersepsikan sebagai Islam yang ada di Arab, tetapi Islam mesti berdialog dengan tradisi lokal masyarakat setempat
Infiltrasi Dakwah Moderat dalam Novel Kyai Joksin - Kyai Tanpa Pesantren Nuriyah, Nuriyah
RELIGIA Vol 21 No 2: Oktober 2018
Publisher : IAIN Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28918/religia.v21i2.1506

Abstract

Artikel ini menjelaskan dakwah dalam karya fiksi, yakni novel Kyai Joksin Kyai Tanpa Pesantren karya Imam Sibawaih el-Hasany. Sebuah karya sastra termasuk selalu menyimpan pesan yang hendak disampaikan. Pesan moral agama seringkali disajikan dalam karya bentuk novel untuk tujuan menginspirasi masyarakat pembacanya. Novel Kyai Joksin Kyai Tanpa Pesantren merupakan salah satu karya sastra yang sarat dengan pesan religius khususnya berkaitan dengan dakwah. Dengan pendekatan teori dakwah, fokus kajian ini berkaitan dengan metode dakwah yang digunakan Kyai Joksin. Kajian ini menghasilkan kesimpulan bahwa Novel Kyai Joksin Kyai Tanpa Pesantren adalah sebuah novel yang bercerita mengenai perjalanan kisah seorang kyai yang tidak mempunyai pesantren namun dakwahnya mampu memberikan pengaruh signifikan karena metode yang diterapkan berupa kesantunan dan lemah lembut, uswatun hasanah, dakwah dengan nasihat, wasiat, dakwah dengan hikmah, tidak melakukan diskriminasi sosial, dakwah dengan metode tanya jawab dan dialog.
MU’TAZILAHISME DALAM PEMIKIRAN TEOLOGI ABDUH Huda, Miftahul
RELIGIA Vol 14 No 2: Oktober 2011
Publisher : IAIN Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28918/religia.v14i2.88

Abstract

Muhammad Abduh merupakan salah satu di antarapara pemimpin reformasi Islam yang memiliki pemikiran yangkompleks. Keinginan yang kuat untuk mengimplementasikanreformasi dan menempatkan Islam dalam situasi yang harmonisberhadapan dengan tuntutan jaman untuk kembali kepada Islamyang sesungguhnya membuatnya memikirkan ulangpermasalahan Islam dan menuliskannya dengan sebuahpemahaman baru. Ide Abduh terinspirasi oleh pemikiranpembaharuan ijtihadnya Ibn Taimiyah, yang bercorak Wahabi,tentang puritanisme, paham Mu’tazilah, paham para filosofmuslim tentang rasionalisme dan ilmu sosial. Pemikiranpembaharuannya yang dinamis dan jangkauannya yang luas,meliputi: bidang agama, bahasa Arab dan seni perang, tafsir,pendidikan, dan politik, tidak dapat dipisahkan, meskipunberkaitan erat dengan karakter teologi rasionalnya. Untuk itu,dapat dikatakan bahwa Abduh adalah seorang pemikirindependen di dunia Islam yang menghidupkan kembali pahamMu’tazilah.

Page 1 of 12 | Total Record : 112