cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Jamu Indonesia
ISSN : 24077178     EISSN : 24077763     DOI : -
Jurnal Jamu Indonesia (JJI) didedikasikan untuk pertukaran informasi dan pemahaman keilmuan yang meluas mengenai pengembangan dunia jamu melalui penerbitan makalah-makalah Ilmiah. Tema makalah ilmiah yang menjadi lingkup JJI meliputi tema riset jamu dari hulu kehilir yang tidak terbatas pada riset etnobotani dan pengetahuan lokal, eksplorasi, Konservasi, Domestikasi sumberdaya hayati terkait jamu, pemuliaan varietas, pengembangan Good Agricultural and Collection Practices (GACP) bahan baku jamu, pengembangan standar bahan baku dan produk jamu, pengembangan produk jamu, Identifikasi senyawa aktif serta sintesisnya, Mekanisme kerja bioaktivitas formula jamu, aspek sosial dan ekonomi terkait dengan pengembangan jamu.
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue " Vol 1 No 2 (2016): Jurnal Jamu Indonesia" : 6 Documents clear
NPK Levels and Application Methods on Productivity of Amorphophallus muelleri Blume in Intercropping System Santosa, Edi; Susila, Anas Dinurrohman; Lontoh, Adolf Pieter; Mine, Yoko; Sugiyama, Nobuo
Jurnal Jamu Indonesia Vol 1 No 2 (2016): Jurnal Jamu Indonesia
Publisher : Pusat Studi Biofarmaka Tropika LPPM IPB; Tropical Biopharmaca Research Center - Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1100.514 KB) | DOI: 10.29244/jji.v1i2.12

Abstract

Underground corm of Amorphophallus muelleri Blume contained glucomannan, a raw material widely used in beverage, food and medicinal industries. In Indonesia, A. muelleri is grown under intercropping system, however, average corm production was considered low. The low productivity could be related to the low input of chemical fertilizers. Therefore, the effects of NPK fertilizers and methods of application on A. muelleri productivity were evaluated in the present study for intercropping system. Two experiments were conducted at Leuwikopo Experimental Farm, Bogor, Indonesia from 2010-2012 under canopy of coffee trees. First experiment was conducted using four levels of N, P, and K applications, i.e., N:P2O5:K2O at the rate 0:0:0, 100:60:80, 125:60:100 and 150:60:120 kg ha-1. In second experiment, N:P2O5:K2O fertilizers at the rate of 100:60:80 were applied by conventional (solid) and liquefied. Results of first experiment showed that application of N, P and K at rate of 100 kg, 60 kg, and 80 kg ha-1 produced fresh corm weight 636.3±91.7 g per plant or increased by 63% higher than control. However, higher rate of NPK application did not increase corm yield, possibly due to the occurrence of leaf discoloration. Higher rates of NPK also delayed harvest time 1 to 2 weeks compared with control and caused wide variation of corm size. Thus, excess application of NPK should be avoided for high productivity of A. muelleri. Second experiment showed that there was no significant different among methods of application on fresh corm weight, i.e., 413 g and 396 g from conventional and liquefied applications, respectively. These experiments conclude that application of NPK is important to enhance A. muelleri production in intercropping system.
Fingerprint Study of Curcuma xanthorrhiza Rhizome by High Performance Thin Layer Chromatography (HPTLC) Wikara, Tina; Sulistiowaty, Anny; Murhandini, Sri; Usia, Tepy
Jurnal Jamu Indonesia Vol 1 No 2 (2016): Jurnal Jamu Indonesia
Publisher : Pusat Studi Biofarmaka Tropika LPPM IPB; Tropical Biopharmaca Research Center - Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1165.946 KB) | DOI: 10.29244/jji.v1i2.13

Abstract

The rhizome of Curcuma xanthorrhiza Roxb is intensively used in Indonesia as traditional medicine. It is widely used for hepatoprotective and anti inflammatory activities. To ensure the quality of its extract, we have studied the fingerprint or phytochemical analysis. This research was aimed to produce a chromatogram profile of the rhizome by HPTLC. The HPTLC fingerprint chromatogram of C. xanthorrhiza rhizome was performed using HPTLC plate of silica gel 60 F254 as the stationary phase and chloroform-methanol (97:3) as the mobile phase. Spot detection was carried out by TLC photo documentary system at 254 and 366 nm and TLC scanner at 427 nm. The developed method was validated according to ICH guidelines by determination of specificity and precision. We found that the specifity and precission of the method were met the acceptance criteria. In conclusion, the developed method is valid and could be used for quality control and standardization of herbal medicine containing C. xanthorrhiza rhizome.
Penentuan Derajat Toksisitas Akut Ekstrak Air Buah Pepaya (Carica papaya L.) Muda Pada Mencit Menggunakan Purposed New Recommended Method Nadiyah, Laila Dinda; Kharisma, Yuktiana; Yuniarti, Yuniarti
Jurnal Jamu Indonesia Vol 1 No 2 (2016): Jurnal Jamu Indonesia
Publisher : Pusat Studi Biofarmaka Tropika LPPM IPB; Tropical Biopharmaca Research Center - Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (816.205 KB) | DOI: 10.29244/jji.v1i2.14

Abstract

Papaya (Carica papaya L.) fruit was proven scientifically in having medicinal effects: such as gastroprotective, laxative, galactagogues, and antibacterial effect. Unripe papaya fruit contains saponin, alkaloid, tannin, flavonoid, triterpenoid, and quinone which may reveal toxicities as adverse effect when it consumed in high dose. The aim of this study is to determine the acute toxicity degree of unripe Carica papaya L. fruit aqueous extract in mice using proposed new recommended method. The acute toxicity degree conducted by determination of lethal dose50 (LD50) using new recommended  method to 12 female mice. The subjects were divided into three stages and each mouse was given different dose of the extract. LD50 calculated by mean of mortality lowest dose and non mortality highest dose then the result classified into the degree of acute toxicity. The study showed there was no mortality in all groups of the experimental subject. LD50 of unripe Carica papaya L. aqueous extract was found >5000 mg/kg BW and classified as Practically Non Toxic (PNT) substance.
Efek Kombinasi Ekstrak Etanol Acalypha indica dan Centella asiatica pada Jantung Tikus Pascahipoksia: Gen Hif-1a, Troponin I dan Stres Oksidatif Edhiatmi, Marsetyo; Arozal, Wawaimuli; Purwaningsih, Erni H
Jurnal Jamu Indonesia Vol 1 No 2 (2016): Jurnal Jamu Indonesia
Publisher : Pusat Studi Biofarmaka Tropika LPPM IPB; Tropical Biopharmaca Research Center - Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1083.737 KB) | DOI: 10.29244/jji.v1i2.15

Abstract

Hipoksia meningkatkan pembentukan dan pelepasan spesies oksigen reaktif (ROS). Sel mempunyai mekanisme melindungi diri terhadap kerusakan akibat pembentukan ROS yang terjadi secara alami. Jika pembentukan radikal bebas terjadi berlebihan maka dapat menyebabkan stres oksidatif yang memicu kerusakan sel terutama pada jantung. Sehingga tubuh memerlukan asupan antioksidan. Acalypha indica dan Centella asiatica terbukti memiliki efek antioksidan dan melindungi banyak organ dari kondisi hipoksia, sehingga penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui efek antioksidan kombinasi ekstrak etanol Acalypha indica dan Centella asiatica pada organ jantung tikus Spraque-Dawley pascahipoksia. Tiga puluh lima ekor tikus Sprague-Dawley jantan diinduksi hipoksia selama 7 hari dalam ruang khusus, kemudian diberi perlakuan. Ekstrak Acalypha indica, ekstrak Centella asiatica dan kombinasinya diberikan kepada kelompok tikus yang telah dibagi menjadi grup A (hipoksia dan diberi air), B (hipoksia dan diberi kombinasi Acalypha indica 200 mg/kgBB dan Centella asiatica 150 mg/kgBB), C (hipoksia dan diberi kombinasi Acalypha indica 250 mg/kgBB dan Centella asiatica 100 mg/kgBB), D (hipoksia dan diberi Acalypha indica 250 mg/kgBB), E (hipoksia dan diberi Centella asiatica 150 mg/kgBB), F (hipoksia dan diberi vitamin C 100mg/kgBB) dan kelompok normal. Perlakuan diberikan secara oral selama 7 hari setelah hipoksia. Parameter yang diamati adalah ekspresi mRNA HIF-1α, kadar MDA, aktivitas enzim SOD dan ekspresi mRNA cTnI. Tidak terdapat perbedaan bermakna pada ekspresi HIF-1α antara grup A dan kelompok tikus normal (p>0,05). Kadar MDA meningkat signifikan pada grup A (p<0,05) dibanding tikus normal. Kadar MDA grup D mengalami penurunan secara signifikan (p<0,05) dibanding grup A. Aktivitas SOD menurun signifikan pada grup A (p<0,05) dibanding tikus normal. Aktivitas SOD grup B dan E (p<0,05) mengalami peningkatan secara signifikan dibanding grup A. Grup B meningkat signifikan (p<0,05) dibanding grup E. Tidak terdapat perbedaan bermakna antar kelompok perlakuan pada Ekspresi cTnI. Tidak terdapat korelasi antara kadar MDA dan aktivitas SOD serta ekspresi mRNA HIF-1a dan mRNA cTnI. Pemberian kombinasi ekstrak Acalypha indica dan Centella asiatica tidak dapat membantu memproteksi kerusakan jantung pascahipoksia.
Analisis Gerombol Simultan dan Jejaring Farmakologi antara Senyawa dengan Protein Target pada Penentuan Senyawa Aktif Jamu Anti Diabetes Tipe 2 Qomariasih, Nurul; Susetyo, Budi; Afendi, Farit Mochamad
Jurnal Jamu Indonesia Vol 1 No 2 (2016): Jurnal Jamu Indonesia
Publisher : Pusat Studi Biofarmaka Tropika LPPM IPB; Tropical Biopharmaca Research Center - Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1519.787 KB) | DOI: 10.29244/jji.v1i2.16

Abstract

Selama ini pembuatan obat untuk menyembuhkan suatu penyakit masih menargetkan hanya satu protein khusus yang menjadi penyebab penyakit tersebut, yang tentu hanya menggunakan satu senyawa aktif. Padahal selain menimbulkan efek samping, penanganan suatu penyakit perlu menyasar banyak protein sekaligus. Sehingga, baru-baru ini terjadi perubahan paradigma dari “one drug, one target” menjadi “multi-components, network target”. Paradigma baru ini telah melahirkan beberapa penelitian untuk menghasilkan formulasi jamu, hal ini dikarenakan konsep formulasi jamu memerlukan beberapa senyawa aktif yang terlibat. Formula jamu yang diteliti sebagai upaya menyembuhkan penyakit Diabetes Melitus (DM) tipe 2 terdiri dari 4 tanaman yaitu Pare (Momordica charantia), Sembung (Blumea balsamifera), bratawali (Tinospora crispa), dan jahe (Zingiber officinale) berdasarkan hasil penelitian Nurishmaya tahun 2014 serta berdasarkan ramuan jamu yang sedang dikembangkan di Pusat Studi Biofarmaka, Bogor. Evaluasi senyawa yang berkaitan dengan DM tipe 2 dilakukan dengan terlebih dahulu menambahkan 19 obat sintetis yang ditujukan untuk DM tipe 2 dari basis data Drug Bank. Sehingga terdapat total sebanyak 74 senyawa aktif yang terdiri dari 55 senyawa alami dari tanaman dan 19 senyawa sintetis obat. Sebanyak 100 protein yang berkaitan erat dengan masing-masing senyawa diperoleh melalui hasil skor konkordan DrugCHIPER. Skor konkordan tersebut kemudian digunakan dalam analisis gerombol simultan antara senyawa dan protein target. Plot komponen utama dan submatrix penggerombolan simultan menunjukkan 2 dari 3 senyawa dari bratawali sangat dekat dengan kelompok sintetis. Selain itu, ada 11 dari 44 senyawa dari Jahe terkumpul bersama dengan senyawa sintetis tetapi dalam jarak yang jauh. Sedangkan berdasarkan jejaring kemiripan, lebih spesifik lagi terdapat 17 dari 19 senyawa obat sintetis yang memiliki kemiripan berdasarkan protein target dengan 2 senyawa tanaman Bratawali dan 5 senyawa tanaman Jahe.
Editorial dan Kelengkapan Jurnal Rafi, Mohamad
Jurnal Jamu Indonesia Vol 1 No 2 (2016): Jurnal Jamu Indonesia
Publisher : Pusat Studi Biofarmaka Tropika LPPM IPB; Tropical Biopharmaca Research Center - Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (607.906 KB) | DOI: 10.29244/jji.v1i2.17

Abstract

Puji dan syukur kami ucapkan kepada Tuhan YME atas rahmat dan hidayahnya, sehingga Pusat Studi Biofarmaka LPPM IPB dapat menerbitkan Jurnal Jamu Indonesia Volume 1 No 2 sebagai media diseminasi penelitian terkait jamu Indonesia. Jurnal ini nantinya diharapkan dapat menambah informasi menyeluruh tentang jamu dari kegiatan hulu hingga hilirnya.  Jamu merupakan warisan budaya Indonesia dan telah digunakan sejak berabad abad yang lalu. Jamu merupakan istilah lain dari obat herbal yang terbuat dari tumbuhan obat segar atau kering di Indonesia untuk kesehatan dan kecantikan. Penggunaannya saat ini menunjukkan kecenderungan yang semakin meningkat dan tren ini juga tampak dalam skala global. Lebih jauh, Sistem Kesehatan Nasional Indonesia menyatakan bahwa pengembangan dan peningkatan obat tradisional dalam hal ini jamu ditujukan agar diperoleh obat tradisional yang bermutu tinggi, aman, memiliki khasiat nyata yang teruji secara ilmiah dan dimanfaatkan secara luas, baik untuk pengobatan sendiri oleh masyarakat maupun digunakan dalam pelayanan kesehatan formal. Tiga isu kunci yaitu kualitas, keamanan dan khasiat untuk pengembangan produk jamu hanya dapat dicapai apabila prioritas diberikan sejak awal proses pengembangannya.  Dalam beberapa tahun terakhir, isu kualitas, keamanan dan khasiat telah menjadi fokus perhatian para ilmuwan yang bekerja dalam keilmuan terkait. Seiring dengan banyaknya penelitian-penelitian pengembangan Jamu ini, hasil kajian yang didapatkan tentunya akan memerlukan wadah untuk diseminasi agar hasil kajian tersebut dapat diakses oleh para pihak yang memerlukan. Jurnal Jamu Indonesia dapat menjadi fasilitas bagi para peneliti dan ilmuwan untuk memudahkan pendistribusian informasi ilmu pengetahuan mengenai jamu melalui tulisan-tulisan yang dapat dipublikasi. Semua hasil karya tersebut akan diarsipkan sebagai dokumentasi berharga demi terjaganya informasi yang dapat menjadi sumber pengembangan ilmu pengetahuan di masa depan.   Mohamad Rafi Ketua Dewan Redaksi  

Page 1 of 1 | Total Record : 6