cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Siddhayatra: Jurnal Arkeologi
ISSN : 08539030     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Art,
Siddhayatra publishes papers devoted to a broad scope in archaeological research comprises quaternary and prehistory, classical archaeology, colonial archaeology, maritime archaeology, epigraphy, ethnoarchaeology, paleoanthropology, zooarchaeology, geoarchaeology and other applied science related with human past.
Arjuna Subject : -
Articles 56 Documents
Manfaat Sumber Daya Arkeologi di Situs Lesung Batu Siregar, Sondang Martini; Putri, Zelin Nofena
Siddhayatra Vol 22, No 2 (2017): Jurnal Arkeologi Siddhayatra
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1635.63 KB) | DOI: 10.24832/siddhayatra.v22i2.98

Abstract

  Sumber daya arkeologi adalah semua bentuk fisik atau sisa budaya yang ditinggalkan oleh manusia masa lampau pada bentang alam tertentu yang berguna untuk menggambarkan dan menjelaskan proses perubahan budaya. Situs Lesung Batu yang terletak di Kabupaten Musi Rawas Utara merupakan salah satu situs arkeologi yang memiliki potensi sumber daya arkeologi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menyajikan data yang ada di Situs Lesung Batu. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan analisis deskriptif interpretatif. Hasil dari penelitian ini adalah diketahui sumber daya arkeologi di situs Lesung Batu adalah pondasi candi, struktur batu tuf, fragmen wadah keramik dan tembikar dan arca yoni. Sedangkan manfaat dari sumber daya arkeologi di situs Lesung Batu adalah untuk kepentingan akademis, ideologi dan praktis.Kata kunci: sumber, daya, arkeologi, manfaat, kepentingan 
Seni Lukis dan Seni Gores Pada Megalitik Pasemah, Provinsi Sumatera Selatan Indriastuti, Kristantina
Siddhayatra Vol 20, No 2 (2015): Jurnal Arkeologi Siddhayatra
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1339.894 KB) | DOI: 10.24832/siddhayatra.v20i2.84

Abstract

Pada masyarakat prasejarah seni dianggap sebagai ungkapan religi mereka tehadap kekuatan roh nenek moyang dan kekuatan alam sekitar, begitu pula dengan manusia prasejarah yang hidup menetap di Dataran Tinggi Pasemah, sebagai ungkapan akan kehidupan mereka yang lebih baik, maka mereka mengungkapkannya dalam bentuk karya lukis yang menggambarkan berbagai bentuk dan corak. Keberadaan karya lukis prasejarah di Pasemah mempunyai makna tertentu yang berafiliasi dalam kehidupan relegi-magis mereka. permasalahan yang timbul terhadap karya seni prasejarah yang diciptakan parapesohor seni saat itu yakni apakah makna pola hias motif manusia, binatang, flora dan motif geometris yang menjadi obyek lukisan prasejarah di beberapa situs megalitik di dataran tinggi Pasemah, provinsi, Sumatera Selatan. Setelah melalui pengkajian pada beberapa situs maka dapat disimpulkan sementara bahwa adanya seni lukis dan seni gores pada dinding batu di Pasemah tampaknya merupakan simbol yang berkaitan dengan kepercayaan pendukungnya. Mereka percaya akan adanya arwah nenek moyang sebagaikekuatan gaib yang dapat melindungi kehidupan manusia di dunia. Bukan tidak mungkin bahwa goresan-goresan berupa manusia-manusia kecil yang ada di situs Tegurwangi dan di situs Jarakan itu dimaksudkan sebagai penambah kekuatan gaib dan digunakan sebagai sarana pemujaan untuk memohon kesuburan, keamanan, kesehatan dan lain-lain
GEOARKEOLOGI CEKUNGAN SOA, FLORES, NUSA TENGGARA TIMUR Intan, Fadhlan Syuaib
Siddhayatra Vol 23, No 1 (2018): Jurnal Arkeologi Siddhayatra
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2790.577 KB) | DOI: 10.24832/siddhayatra.v23i1.111

Abstract

Cekungan Soa yang termasuk wilayah Kabupaten Ngada dan Kabupaten Nagekeo terletak di Pulau Flores, banyak menyimpan tinggalan budaya yang antara lain berasal dari masa Paleolitik, yang selama ini belum terlalu diperhatikan oleh peneliti lingkungan, khususnya geoarkeologi. Hal inilah yang menjadi pokok permasalahan yang mencakup kondisi geologi secara umum. Adapun maksud penelitian ini adalah melakukan pemetaan geologi permukaan secara umum sebagai salah satu upaya menyajikan informasi geologi terkait dengan situs arkeologi. Tujuannya adalah untuk mengetahui aspek-aspek geomorfologi, stratigrafi di situs-situs arkeologi. Metode penelitian dilakukan melalui kajian pustaka, survei, analisis data lapangan dan interpretasi. Pengamatan lingkungan memberikan informasi tentang bentang alam daerah penelitian yang terdiri dari satuan morfologi dataran, dan satuan morfologi bergelombang lemah. Sungainya berpola aliran centripetal, berstadia Sungai Dewasa-Tua, sungai tua, Sungai Periodik/Permanen, dan Sungai Episodik/Intermittent. Batuan penyusun adalah breksi vulkanik, tufa, konglomerat, dan endapan aluvial. Struktur geologi berupa patahan dari jenis patahan normal. Eksplorasi di Cekungan Soa telah mendata 12 situs paleolitik. Dari klasifikasi petrologi, alat-alat litik terbuat dari batuan jasper, chert, andesit, dan basal. Batuan sebagai bahan baku alat litik, banyak ditemukan di Cekungan Soa dan sekitarnya, baik dalam bentuk singkapan maupun boulder. Kata kunci: geologi, plistosen, paleolitik, situs terbuka, bahan alat litikSoa Basin, which belongs to Ngada Regency and Nagekeo Regency, is located on Flores Island, with many cultural stays, among others, from the Paleolithic period, which has not been too concerned by environmental researchers, especially geoarkeology. This is the issue that covers general geological conditions. The purpose of this research is to mapping the surface geology in general as an effort to present geological information related to archeological site. The aim is to know the geomorphological, stratigraphic aspects of the archaeological sites. The research method is done through literature review, survey, field data analysis and interpretation. Environmental observations provide information on the landscape of the study area consisting of terrestrial morphology units, and weak wavy morphology units. The river is centripetal flow pattern, with the old river, mature-old river, periodic/permanent river, and episodik /intermittent river. Constituent rocks are volcanic breccias, tuffs, conglomerates, and alluvial deposits. The geological structure is a fracture of the normal fault type. Exploration in the Soa Basin has listed 12 paleolithic sites. From the classification of petrology, litik tools made of jasper, chert, andesite, and basalt rocks. Rock as a raw material litik, found in Soa Basin and surrounding areas, both in the form of outcrops and boulder. Keywords: geology, pleistocene, paleolithic, open site, lithic tools materials
BANYU BIRU: JEJAK SUNGAI LAMA DI LAHAN BASAH Intan, Muhammad Fadhlan Syuaib
Siddhayatra Vol 22, No 1 (2017): Jurnal Arkeologi Siddhayatra
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6322.601 KB) | DOI: 10.24832/siddhayatra.v22i1.59

Abstract

Air Sugihan merupakan daerah rawa pasang surut yang dalam arkeologi termasuk dalam kajian arkeologi lahan basah. Daerah ini adalah suatu wilayah permukiman sejak awal-awal masa sejarah hingga abad ke-11 Masehi. Lokasi penelitian difokuskan di wilayah Banyu Biru, Kecamatan Air Sugihan, Kabupaten Ogan Komering Ilir, Provinsi Sumatera Selatan. Tulisan ini membahas kondisi lingkungan geologi, yang mencakup bentuk dan pola aliran serta posisi dan hubungan antara sungai lama dengan Sungai Air Sugihan. Tujuan pemetaan jejak sungai lama adalah mencari hubungan antara sungai-sungai lama dengan beberapa sungai yang masih mengalir. Rangkaian metode penelitian yang digunakan antara lain studi pustaka, survei lapangan, analisis peta, dan pemetaan jejak sungai lama. Wilayah penelitian termasuk dalam satuan morfologi dataran, dengan ketinggian 5-15 meter di atas permukaan air laut. Stadia sungai tergolong dewasa-tua, dengan pola pengeringan deranged, dan sungai periodis. Banyu Biru tersusun oleh satuan aluvial dan endapan rawa yang umumnya bersifat tufan, serta tidak mengalami gangguan struktur geologi. Hasil pemetaan menunjukkan bahwa sungai lama terkoneksi dengan Sungai Air Sugihan.
TOPONIM PADA MASA PEMERINTAHAN KESULTANAN PALEMBANG DARUSALLAM DI KECAMATAN ILIR TIMUR 1 PALEMBANG Apriansyah, Refico; Zamhari, Ahmad Zamhari
Siddhayatra Vol 23, No 1 (2018): Jurnal Arkeologi Siddhayatra
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1533.145 KB) | DOI: 10.24832/siddhayatra.v23i1.126

Abstract

East Ilir District I Palembang contains a wealth of historical and cultural data such as historical sites from the time of Sriwijaya to Colonial especially on toponymous studies. The purpose of this research is to know the value of toponym history during the reign of Sultanate of Palembang Darusallam in subdistrict of ilir east I Palembang. This study uses descriptive qualitative method is a method that talked about the results of observation interviewsor penelaan documents. This research is also systematically there are main activities ysng done: Technique of data collection through activity of direct observation to research location. From the research results can be concluded that the history of toponyms in East Ilir District I Palembang has a relationship with the history of the government of the Islamic empire in Palembang Palembang Sultanate Darusallam. The toponymous study in East Ilir I Palembang Sub-district is a lot of historical relics such as Kepandean Street (Iron Craft), Sayangan Street (Copper Craftsmen), Street Segaran (Swimming Baths), Tengkuruk River Road (Son of Musi River), Angsoko Temple Road (Temple Complex and Tomb of Prince Madi Angsoko of the kingdom of Palembang) as well as toponyms in the form of Nationalism and Geographical form (Natural Results).
ISLAMISASI BANGKA: TINJAUAN ARKEO-FILOLOGI Purwanti, Retno
Siddhayatra Vol 21, No 1 (2016): Jurnal Arkeologi Siddhayatra
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (367.492 KB) | DOI: 10.24832/siddhayatra.v21i1.17

Abstract

Kepulauan Bangka Belitung dikenal sebagai jalur pelayaran penting setidak-tidaknya sejak awal abad ke-5 Masehi terbukti dengan ditemukannya sisa-sisa bangunan candi di Kotakapur, Kabupaten Bangka Barat. Bukti lain adalah kapal-kapal karam, yang salah satu di antaranya berasal dari abad ke-9 Masehi dengan muatan barang-barang mewah. Kapal dagang tersebut berasal dari Arab yang pada saat itu sudah menganut Islam. Berdasarkan data tersebut dapat diketahui, bahwa Kepulauan Bangka Belitung sudah bersentuhan dengan Islam sejak abad ke-9 Masehi. Pada saat itu Islam belum masuk dan dianut oleh masyarakatnya. Bukti-bukti arkeologis dan sejarah justru mengungkapkan fakta, bahwa Islam baru mulai masuk di kepulauan ini sejak abad ke-18 Masehi. Namun demikian, darimana Islam masuk ke Bangka dan siapa yang membawanya belum diketahui. Untuk itu tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui proses masuknya Islam di Bangka, terutama berkaitan dengan asal dan pembawanya. Metode penelitian yang akan digunakan untuk menjawab permasalahan tersebut adalah arkeo-filologi. Berdasarkan data arkeologi dan naskah beraksara Jawi yang ditemukan dapat diketahui bahwa Islam masuk ke Bangka berasal dari Palembang dan dibawa oleh ulama keturunan Arab.Kepulauan Bangka Belitung dikenal sebagai jalur pelayaran penting setidak-tidaknya sejak awal abad ke-5 Masehi terbukti dengan ditemukannya sisa-sisa bangunan candi di Kotakapur, Kabupaten Bangka Barat. Bukti lain adalah kapal-kapal karam, yang salah satu di antaranya berasal dari abad ke-9 Masehi dengan muatan barang-barang mewah. Kapal dagang tersebut berasal dari Arab yang pada saat itu sudah menganut Islam. Berdasarkan data tersebut dapat diketahui, bahwa Kepulauan Bangka Belitung sudah bersentuhan dengan Islam sejak abad ke-9 Masehi. Pada saat itu Islam belum masuk dan dianut oleh masyarakatnya. Bukti-bukti arkeologis dan sejarah justru mengungkapkan fakta, bahwa Islam baru mulai masuk di kepulauan ini sejak abad ke-18 Masehi. Namun demikian, darimana Islam masuk ke Bangka dan siapa yang membawanya belum diketahui. Untuk itu tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui proses masuknya Islam di Bangka, terutama berkaitan dengan asal dan pembawanya. Metode penelitian yang akan digunakan untuk menjawab permasalahan tersebut adalah arkeo-filologi. Berdasarkan data arkeologi dan naskah beraksara Jawi yang ditemukan dapat diketahui bahwa Islam masuk ke Bangka berasal dari Palembang dan dibawa oleh ulama keturunan Arab.
Jalur Pelayaran Perdagangan Sriwijaya yang Strategis dan Perekonomiannya pada Abad Ke-7 Masehi kabib, kabib kabib
Siddhayatra Vol 22, No 2 (2017): Jurnal Arkeologi Siddhayatra
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1348.129 KB) | DOI: 10.24832/siddhayatra.v22i2.79

Abstract

ABSTRAKJalur Pelayaran Perdagangan Sriwijaya yang Strategis dan Perekonomiannya  pada Abad Ke-7 MasehiOleh:Kabib Sholehhabibsholeh978@gmail.com  Secara geografis Sriwijaya memiliki letak kestrategisan pada jalur pelayaran perdagangan yang dilewati para pedagang asing pada abad ke-7 Masehi. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis jalur pelayaran perdagangan Sriwijaya yang menguntungkan perekonomian Sriwijaya, untuk menganalisis kegiatan perdagangan Sriwijaya dan bagaimana strategi Sriwijaya dalam mempertahankan perekonomiannya. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode historis dengan pendekatan keilmuan ekonomologis, politikologis dan sosialogis. Langkah-langkah metode historis adalah heuristik atau pengumpulan sumber, verifikasi sumber, interpretasi atau penafsiran sumber dan historiografi atau penulisan sejarah. Kerajaan Sriwijaya adalah kerajaan maritim yang berkuasa di laut dan hasil perekonomiannya diperoleh dari berdagang dan hasil bea pajak. Sriwijaya mampu menjadi penguasa sekaligus pengendali perdagangan di jalur-jalur pelayaran milik Sriwijaya. Sriwijaya menerapkan monopoli perdagangan bagi para pedagang asing yang singgah di Sriwijaya. Dalam mempertahankan keamanan di jalur-jalur pelayaran perdagangan, Sriwijaya mengerahkan seluruh kekuatan armada lautnya dengan dibantu oleh para perompak yang sudah ditaklukan Sriwijaya serta dengan sebuah perjanjian yang saling menguntungkan diantara kedua belah pihak.
Back Cover Siddhayatra Vol. 22 (1) Mei 2017 Dewan Redaksi, Dewan Redaksi Dewan Redaksi
Siddhayatra Vol 22, No 1 (2017): Jurnal Arkeologi Siddhayatra
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1192.795 KB) | DOI: 10.24832/siddhayatra.v22i1.65

Abstract

CANDI TINGKIP DAN LINGKUNGANNYA Widyawati, Surini; Siregar, Sondang Martini
Siddhayatra Vol 23, No 2 (2018): Jurnal Arkeologi Siddhayatra
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1398.571 KB) | DOI: 10.24832/siddhayatra.v23i2.137

Abstract

Environment and humans are two variables that are interrelated and influence each other, as well as their culture and environment. The environment chosen as a place to live and the construction of religious buildings need to consider the potential and resources they have. In building sacred buildings Hindu-Buddhist religions have special consideration for the environment. Tingkip Temple is one of the temples in the Musi Rawas area. The purpose of this paper is to determine the relationship between the establishment of Tingkip temple buildings and natural resources in the Musi Rawas area. This research uses qualitative methods, with inductive reasoning, by collecting library and field data, as well as data processing by conducting environmental analysis. The results of the research show that Musi Rawas has natural potential that is suitable as a place for the establishment of sacred buildings, because it has the type of soil that is suitable for organic farming, besides being surrounded by rivers and creeks, and the vegetation around it in the form of agricultural and plantation crops. Musi Rawas natural resource potential affects the establishment of the Tingkip Temple.
SEJARAH SONGKET BERDASARKAN DATA ARKEOLOGI Purwanti, Retno; Siregar, Sondang Martini
Siddhayatra Vol 21, No 2 (2016): Jurnal Arkeologi Siddhayatra
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (897.766 KB) | DOI: 10.24832/siddhayatra.v21i2.22

Abstract

Songket merupakan jenis kain tenun yang dikenal di seluruh Indonesia, meskipun cara penenunan dan motif berbeda antara daerah yang satu dengan daerah lainnya. Sumatera merupakan salah satu pewaris seni tenun tradisional, yang dikenal dengan istilah songket, yang diyakini oleh para ahli sejarah sudah dikenal sejak masa Kerajaan Sriwijaya (abad 7-14 Masehi). Meskipun demikian, sampai sekarang belum ditemukan bukti-bukti arkeologi dan sejarah yang membenarkan pendapat tersebut. Berdasarkan acuan maka tulisan ini akan menguji kebenaran asumsi tersebut. Dengan demikian, tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui sejarah songket berdasarkan data arkeologis. Adapun metode penelitian yang digunakan adalah metode arkeologi. Berdasarkan analisis yang dilakukan terhadap arca-arca di Situs Bumiayu, Sumatera Selatan dapat diketahui, bahwa songket sudah dikenakan oleh masyarakat Sumatera Selatan sejak abad ke-9 Masehi, ketika Sriwijaya berpusat di Palembang.