cover
Contact Name
Jurnal Living Islam
Contact Email
living.islam@uin-suka.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
living.islam@uin-suka.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Living Hadis
ISSN : 25287567     EISSN : 25484761     DOI : -
Jurnal Living Hadis (ISSN: 2528-7567) (e_ISSN: 2548-4761) is a yearly dual published journal issued by Department of Hadith Studies, Faculty of Ushuluddin and Islamic Thought, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta in cooperation with ASILHA (Asosiasi Ilmu Hadis Indonesia, Association of Hadith Studies in Indonesia). Jurnal Living Hadis circulates research from lecturers, researchers, as well as intellectual who focus on the study on hadith; including takhrij al hadith, ma’anil hadith, mukhtalif-musykil hadith, contemporary hadith studies, hermeneutics, methodology and syarah hadith (interpretation of hadith) up to social phenomenon of hadith, worldly known as living hadith.
Arjuna Subject : -
Articles 67 Documents
Genealogi Semiotis Term Sunah Dan Bidah: Dari Syariat Hingga Ideo-Politis Firdausy, Hilmy
Jurnal Living Hadis Vol 3, No 2 (2018)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (51.118 KB) | DOI: 10.14421/livinghadis.2018.1639

Abstract

This paper wants to emphasize that the ongoing debate around the term Sunnah and Bid’ah today is ideological, even political dissension. They two no longer reflect the pattern or Islamic syariah knot. Since it was mentioned by the Prophet Muhammad in his traditions, due to external encouragement and the dynamics of the problem of Muslims, this two terms have experienced an acute swelling of meaning. Based on that, through this paper I will try to track and objectify the terms of the Sunnah and Bid’ah which are already blurred and full of dust. By returning to the beginning of its appearance in the hadith, we can find the core of the real meaning of the concept of Sunnah and Bid’ah as well as the context and purpose contained in it before it is torn apart by many factors in the history of Muslim civilization.
TRADISI QUNUT DALAM SHALAT MAGHRIB DI PONDOK PESANTREN WAHID HASYIM YOGYAKARTA (Studi Living Hadis) Aini, Siti Qurrotul
Jurnal Living Hadis Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (419.976 KB) | DOI: 10.14421/livinghadis.2016.1120

Abstract

Living hadis tradition commonly found in Indonesian muslim practice of religiousity. To mention some are tradition of reading Qunut in subuh prayer, but this article found Qunut which is read during maghrib prayer at an-Najah and al-Hikmah boarding house, of Pondok Pesantren Wahid Hasyim, Yogyakarta. Although lots of santri (students) were lack of basic knowledge about dalil of this Qunut shalat Maghrib practice, but they realized that the practice was in line to Islamic basic teaching, as what Nabi has taught us. This paper underlines the how and why students elaborate the practice as part of their daily life.
METODE SYARAḤ AL-SUYŪṬĪ DALAM AL-DĪBĀJ: Kritik terhadap Syaraḥ Hadis Penafsiran Surah al-Mā’idah Ayat 3 dan Perbandingannya dengan Syaraḥ al-Nawawī Faza, Asrar Mabrur
Jurnal Living Hadis Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (967.63 KB) | DOI: 10.14421/livinghadis.2016.1066

Abstract

This article studies about syaraḥ hadith method used by al-Suyūṭī in his al-Dībāj where he had developed eight forms of syaraḥ within this kitab, those are Ḍabṭ  al-alfāẓ, tafsīr al-garīb, bayān ikhtilāf riwāyāt alā al-qillah, ziyādah fī khabr lam tarid lahu ṭarīquhu, tasmīyah al-mubham, i‘rāb al-musykil, jam‘u baina al-mukhtalaf, as well īḍāh mubham. This study entails when Al-Suyūṭī applied those eight forms of syaraḥ in tafsir surah al-Mā’idah ayat 3 was paradoxically inconsistent. He modestly used tafsīr al-garīb and bayān  ikhtilāf  riwāyāt alā al-qillah, while at the same time benefited linguistic, normative-theology, historicity as approach as well as respected a syaraḥ writing method called qauluhu. In order to equivocate from plagiarizing al-Minhāj, this paper views that al-Suyūṭī intentionally had furthered his work with ijmālī method. This is how he judiciously amazed his reader.
Tabayyun di Era Generasi Millenial Walidah, Iffah Al
Jurnal Living Hadis Vol 2, No 2 (2017)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (391.765 KB) | DOI: 10.14421/livinghadis.2017.1359

Abstract

Pada zaman modern ini, teknologi semakin berkembang pesat. Gadget dan internet pun seakan sudah menjadi kekasih bagi generasi millennial. Generasi millennial  saat ini (pada tahun 2017) adalah mereka yang berusia 17-36 tahun; mereka yang kini berperan sebagai mahasiswa, early jobber, dan orangtua muda. Akses media sosial yang mudah menyebabkan mudahnya pula peredaran berita bohong (hoax) di masyarakat. Hoax beragam bentuknya; mulai dari hoax dalam aspek pendidikan, kesehatan hingga politik. Ujaran kebencian yang tersebar di dunia nyata maupun dunia maya mengiringi perkembangan hoax yang berakibat pada pecahnya persatuan masyarakat yang telah dibangun dengan asas gotongroyong. Untuk itu, pengkajian ulang serta penerapan berpikir kritis ala filsafat yang didasarkan pada hadis menjadi salah satu tawaran yang solutif bagi generasi millennial sebagai benteng pertahanan dari godaan-godaan efek dari globalisasi, khususnya dalam mengatasi virus hoax yang telah merajalela. Dengan pengkajian itu, diharapkan generasi millennial dapat mewujudkan perdamaian di dunia ini; khususnya di Indonesia.AbstractIn this modern age, technology is growing rapidly. Gadgets and the internet seemed to have become lovers for the millennial generation. The current millennial generation (in 2017) are those aged 17-36; those who now act as students, early jobber, and young parents. The easy access of social media causes the easy circulation of false news (hoaxes) in the community. Hoax varies in shape; ranging from hoaxes in aspects of education, health to politics. Hate speech that spread in the real world and cyberspace accompanied the development of hoax which resulted in the outbreak of community unity that has been built with the principle of gotongroyong. For that reason, the review and application of philosophical-based philosophical critical thinking is one of the most solemn proposals for the millennial generation as a bastion of the temptations of the effects of globalization, particularly in the prevention of rampant hoaxes. With that assessment, millennials are expected to bring about peace in this world; especially in Indonesia.
Mengurai Hadis Tahnik dan Gerakan Anti Vaksin Muallifah, Anif Yuni
Jurnal Living Hadis Vol 2, No 2 (2017)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (540.91 KB) | DOI: 10.14421/livinghadis.2017.1334

Abstract

Yogyakarta pada bulan Juli 2017 gempar dengan berita adanya beberapa sekolah berbasis agama yang menolak vaksinasi pada program imunisasi MR (Measles Rubbela) yang menjadi program pemerintah. Gerakan anti vaksin memang telah lama ada baik di Indonesia maupun di luar negeri. Beberapa dari mereka menggunakan argumen teologis unntuk menolak vaksinasi. Hadits tahnik di gunakan sebagai salah satu alasan utama bahwa Islam sudah mengajarkan metode imunisasi paling unggul karena berdasarkan petunjuk nabi yang berasal dari wahyu Tuhan, sehingga program imunisasi yang dilakukan pemerintah di anggap sudah tidak diperlukan lagi. Paper ini meguraikan bagaimana sebenarnya pemahaman hadits tahnik ini dari sisi ilmu hadits, ilmu biologi, otentisitasnya, dan relevansinya dalam polemik anti vaksin di Indonesia.
HADIS DAN SIRAH DALAM LITERATUR SEJARAWA Fatihunnada, Fatihunnada
Jurnal Living Hadis Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (548.851 KB) | DOI: 10.14421/livinghadis.2016.1125

Abstract

Artikel ini mencoba mengkaji pandangan sejarawan Nusantara terhadap sejarah dan hadis dalam ranah ilmu sejarah. Berbincang sejarah Islam, pasti tidak akan bisa dilepaskan dari sosok nabi Muhammad yang menjadi tokoh utama. Oleh karena itu, peran hadis sangat penting dalam mengungkap beberapa fakta sejarah Islam terkait sosok nabi. Ahmed Faruqi menegaskan bahwa peran hadis dalam membangun pondasi awal historiografi Islam adalah sebagai referensi utama. Selanjutnya, yang menjadi daya tarik artikel ini adalah pandangan sejarawan Nusantara tentang hubungan hadis dan sejarah Islam serta pola kritik yang dipakai untuk merekonstruksi sejarah Islam. Selanjutnya artikel ini juga menyoroti hubungan hadis dengan sejarah Islam dalam pandangan sejarawan Nusantara.Artikel ini menggunakan metode kualitatif yang menitikberatkan pada pemahaman data-data dan menganalisanya untuk menemukan cara pandang beberapa tokoh. Artikel ini fokus mengkaji dua karya sejarawan Nusantara: pertama, Historiografi Islam karya Badri Yatim; dan kedua, Historiografi Islam Modern karya Azyumardi Azra.Artikel ini menyimpulkan bahwa dalam pandangan sejarawan Nusantara sejarah dan hadis memiliki hubungan yang sangat erat, karena hadis memberikan kontribusi besar dalam membangun fakta sejarah Islam awal. Akan tetapi sikap kritis terhadap fakta sejarah juga harus dikedepankan dengan pendekatan ilmu sejarah dan sosial untuk mengembangkan kajian sejarah di era modern ini.
“Barzanji Bugis” dalam Peringatan Maulid: Studi Living Hadis di Masyarakat Bugis, Soppeng, Sul-Sel Muttaqin, Ahmad
Jurnal Living Hadis Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (607.835 KB) | DOI: 10.14421/livinghadis.2016.1071

Abstract

Prior to reading this paper, it is important to realize that hadis as source of islamic teachings has been expressed on cultural varieties. This aims to explore how the Bugis society views both the meaning of Maulid (prophetic birthday celebration) and the reading of Bugis-barzanji and to analyze the acculturation between both islamic teaching and Bugis culture on reading the Barzanji in Maulid. This research uses acculturational concept to explore deeply and briefly how islamic  teaching and local tradition produce the new religious cultural practices. This concludes that first, barzanji in Bugis society is one of religious cultural practices regarded as secred tradition excepting in Maulid. Second, the Bugis-barzanji read on maulid celebration in order that society are able to understand easily the barzanji containing sīrah nabawiyyah (prophetic history) is one of living-hadis phenomena.
Memahami Hadis Larangan Bid'ah dengan Melihat Fungsinya terhadap Konteks Sosial Masyarakat anshari, zaidan
Jurnal Living Hadis VOL 3, NO 1 (2018)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (40.922 KB) | DOI: 10.14421/livinghadis.2018.1404

Abstract

The problem of bid’ah, though a classic problem, remains a polemic. The division of bid’ah into sayyi'ah and hasanah seems to have no intersection between the supporters and the repellents. The problem can be observed through a variety of perspectives, one of which is the sociology perspective with the assumption that the bid'ah's prohibition is related to the social condition of the society when the hadith is revealed. This is evidenced by the different receptions of some shahabah after the death of the Prophet Muhammad, who decided to do some things previously never done by the Prophet Muhammad during his lifetime. This paper will attempt to disclose it. Where the social conditions of society at the time of prophethood have differences with the conditions after the death of the Prophet Muhammad, so some shahabah dare to decide a case that had never been done by the Prophet Muhammad. Persoalan bid’ah, meskipun merupakan masalah yang klasik, namun hingga kini tetap menyisakan polemik. Pembagian bid’ah kepada sayyi’ah dan hasanah seakan belum memiliki titik temu antara pendukung dan penolaknya. Persoalan tersebut sejatinya dapat diteropong melalui beragam perspektif, salah satunya adalah perspektif sosiologi dengan asumsi bahwa keputusan larangan bid’ah berkaitan dengan kondisi sosial masyarakat pada saat hadis tersebut diturunkan. Hal ini dibuktikan dengan perbedaan resepsi dari beberapa sahabat sepeninggal Nabi Muhammad, yang memutuskan untuk melakukan beberapa perkara yang sebelumnya tidak pernah dilakukan oleh Nabi Muhammad semasa hidupnya. Tulisan ini akan berupaya mengungkap hal tersebut. Di mana kondisi sosial masyarakat pada masa kenabian memiliki perbedaan dengan kondisi setelah wafatnya Nabi Muhammad, sehingga beberapa orang sahabat berani memutuskan sebuah perkara yang sebelumnya tidak pernah dilakukan oleh Nabi Muhammad.
Perilaku Keagamaan Komunitas Muslim (Pemahaman Hadis dalam NU dan Salafi Wahabi di Indonesia) Nadia, Zunly Nadia
Jurnal Living Hadis Vol 2, No 2 (2017)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (653.855 KB) | DOI: 10.14421/livinghadis.2017.1327

Abstract

Perbedaan dalam memahami hadis sudah terjadi sejak masa Nabi. Namun demikian perbedaan pemahaman ini tidak sampai memunculkan perpecahan. Seiring dengan berjalannya waktu dan jarak yang semakin jauh dengan Rasulullah. Perbedaan-perbedaan dalam pemahaman hadis dirasakan semakin tajam, hingga pada masa selanjutnya perbedaan pemahaman tersebut membentuk dua aliran yang secara radikal membentuk kelompok yang berseberangan dan tidak jarang bahkan berujung pada konflik dan kekerasan. Secara garis besar, ada dua tipologi kelompok dalam memahami hadis. Tipologi ini didasarkan pada pendekatan yang digunakan. Pertama, kelompok tekstualis, kelompok ini lebih menekankan pemahaman terhadap hadis Nabi tanpa memperdulikan proses sejarah yang melahirkannya. Kelompok ini lebih mementingkan makna lahiriyah teks, dalam hal ini penekanan teks hadis terfokus hanya pada aspek bahasa. Sedangkan kedua adalah kelompok kontekstualis. Kelompok ini melakukan pemahaman hadis dengan mempertimbangkan asal-usul (asbab al-wurud) hadis, atau konteks yang berada dibalik teks.  Kelompok pertama selanjutnya disebut dengan ahl al-ra’yi, sedangkan kelompok kedua disebut dengan ahl al-hadis. Penyebutan kedua istilah tersebut mulai terlihat pada masa sahabat, dan semakin menguat khususnya pada masa perkembangan mu’tazilah sebagai reaksi atas spekulasi teologis kelompok mu’tazilah dan pada masa timbulnya reaksi Asy’ariyah.Dalam konteks Indonesia, perbedaan pemahaman terhadap hadis tentu saja terjadi pada berbagai komunitas muslim di Indonesia. Komunitas yang berbeda-beda ini secara tidak langsung memperlihatkan perbedaan pandangan dan penafsiran terhadap ajaran agama dan hal ini terutama cukup jelas terlihat dalam praktik keagamaan sehari-hari. Salah satu penyebab dari perbedaan dalam praktik keagamaan ini adalah pemahaman mereka yang berbeda terhadap hadis Nabi. Meski mayoritas umat muslim sepakat bahwa hadis merupakan sumber ajaran kedua setelah al-Qur’an, namun demikian tidak ada pemahaman yang sama terhadap sumber ajaran tersebut. Dari sini kemudian, penulis berusaha mengungkap bagaimana pemahaman hadis di NU dan komunitas Salafi Wahabi, sejauh mana perbedaan pemahaman terhadap hadis diantara keduanya dan apa yang melatarbelakangi perbedaan pemahaman terhadap hadis, kitab-kitab apa saya yang dipelajari sebagai pemandu dalam memamahi hadis serta bagaimana implikasi dari pemahaman hadis tersebut terhadap praktek keagamaan mereka. Lebih jauh, penulis ingin memperlihatkan bagaimana keragaman Islam Indonesia serta bagaimana perbedaan ini agar bisa dikelalola secara baik sehingga meminimalisir konflik yang terjadi akibat perbedaan penafsiran terhadap ajaran agama. 
ANALISIS TINDAKAN SOSIAL MAX WEBER DALAM TRADISI PEMBACAAN KITAB MUKHTASHAR AL-BUKHARI (Studi Living Hadis) Muhlis, Alis; Norkholis, Norkholis
Jurnal Living Hadis Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (550.083 KB) | DOI: 10.14421/livinghadis.2016.1121

Abstract

The tradition of reading the book of Mukhtashar Al-Bukhari is one of the welcoming traditions to the holy month Ramadan, conducted every month per year at Islamic Boarding School At-Taqwa Yogyakarta. The tradition is fully practiced on Rajab, a month before Ramadhan at lunar based calendar. This research utilizes four types of Max Weber’s social action theory, those are traditional action, affective action, instrumental rationality, and value rationality. The result found that: first, according to the traditional action, the people are willing to preserve the tradition which has been inherently practiced. Second, the affective action shows that the people are emotionallyboundedto the ulama’ figures (salafu as-shalih) and the timing (Rajab). Third, instrumental rationally the pointed out that people at At-Taqwa are capable of practicing the tradition due to the capacity on both human resource and finance. Fourth, on value rationality they are encouraged to achieve barokah by following and preserving the tradition of salafus shalih.