cover
Contact Name
Yufitri Mayasari
Contact Email
yufitrimayasrai@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
yufitrimayasari@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
JITEKGI Jurnal Ilmiah dan Teknologi Kedokteran Gigi
ISSN : 16933079     EISSN : 26218356     DOI : -
Core Subject : Health,
Bidang ilmu Kedokteran Gigi yang disajikan dalam jurnal ini adalah meliputi Ilmu Konservasi Gigi, Periodontologi, Ortodontik, Ilmu Penyakit Mulut, Prostodontia, Ilmu Kedokteran Gigi Anak, Ilmu Bedah Mulut, Ilmu kesehatan Gigi Masyarakat & Pencegahan, serta bidang ilmu penunjang Kedokteran Gigi seperti Radiologi Dental, Biologi Oral, Ilmu Material dan Teknologi Kedokteran Gigi, juga bidang ilmu kesehatan umum lain. Jurnal ini terbit berkala dua kali setahun (di bulan Mei dan November).
Arjuna Subject : -
Articles 49 Documents
RESTORASI GIGI ANTERIOR MENGGUNAKAN TEKNIK DIRECT KOMPOSIT (Kajian Pustaka) Dewiyani, Sari
Jurnal Ilmiah dan Teknologi Kedokteran Gigi Vol 13, No 2 (2017)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32509/jitekgi.v13i2.843

Abstract

Restorasi gigi anterior yang terlihat natural merupakan faktor estetik yang penting. Restorasi resin komposit adalah restorasi estetik di bidang konservasi gigi. Restorasi resin komposit direct paling umum dilakukan pada pasien karena langsung dikerjakan didalam mulut, menggunakan bahan yang sewarna dengan gigi aslinya dan cara manipulasi yang mudah. Restorasi direct pada gigi anterior dilakukan pada kasus diastema anterior, fraktur gigi anterior, karies kelas III, IV GV Black dan perubahan warna pada gigi. Teknik restorasi ini merupakan perawatan konservatif di kedokteran gigi.
HUBUNGAN ANTARA pH SALIA DENGAN STATUS KARIES GIGI ANAK USIA PRASEKOLAH DI KABUPATEN SLEMAN Utami, Sri
Jurnal Ilmiah dan Teknologi Kedokteran Gigi Vol 14, No 2 (2018)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32509/jitekgi.v14i2.653

Abstract

Latar belakang: prevalensi karies pada anak-anak usia 2-4 tahun di negara-negara yang sedang berkembang mencapai 18 % , sedangkan pada anak-anak usia 3-6 tahun di Kota Yogyakarta mencapai 84,1 %. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara pH saliva dengan status karies gigi anak usia prasekolah Kabupaten Sleman tahun 2015. Metode: jenis penelitian ini adalah observasional analitik dengan desain kasus kontrol. Jumlah subyek penelitian adalah 120 anak usia prasekolah , 60 anak sebagai kasus dan 60 anak sebagai kontrol, dengan usia 4-6 tahun. Tempat penelitian adalah di sekolah TK Kabupaten Sleman, menggunakan teknik sampling  simple random sampling. Variabel penelitian adalah pH saliva yang diukur menggunakan pH digital meter (Hanna), dan status karies gigi anak diukur menggunakan indeks def-t. Koefisien Kappa pengukuran indeks def-s adalah 100%. Analisis data yang digunakan adalah uji Simple Logistic Regression. Hasil: terdapat hubungan yang signifikan antara pH saliva dengan status karies gigi anak usia prasekolah (p=0,004, OR=4,094, 95% CI= 1,583 – 10,587). Kesimpulan: derajat keasaman saliva berhubungan dengan status karies gigi anak usia prasekolah di Kabupaten Sleman, anak-anak dengan pH saliva rendah mempunyai risiko 4 kali lebih besar untuk menderita karies dibandingkan anak-nak dengan pH yang tinggi. Kata kunci: pH saliva, karies gigi, anak usia prasekolah
RELINING GIGI TIRUAN RAHANG BAWAH SECARA LANGSUNG DENGAN PENCETAKAN MULUT TERTUTUP Nikolas, Nikolas
Jurnal Ilmiah dan Teknologi Kedokteran Gigi Vol 14, No 1 (2018)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32509/jitekgi.v14i1.607

Abstract

Pendahuluan: Pembuatan gigi tiruan lengkap adalah bertujuan agar pasien dapat merasa nyaman dan cekat saat memakai gigi tiruannya, memperbaiki estetik, fungsi mastikasi, dan fonetik. Permukaan basis dan batas tepi GTL tidak boleh menyebabkan terjadinya inflamasi dan ulserasi pada jaringan. Resorpsi tulang alveolar merupakan masalah yang sering menyebabkan GTL menjadi tidak cekat, dan banyak dijumpai pada rahang bawah. Tujuan: Untuk memperbaiki kecekatan gigi tiruan dengan tindakan relining. Metode langsung merupakan suatu proses immediate, sehingga pasien tidak ada fase kehilangan giginya. Laporan kasus seorang wanita  59 tahun telah memakai GTL selama 7 tahun, tetapi sekarang GTL rahang bawahnya terasa longgar dan tidak stabil. Penatalaksanaan: Diagnosis yang tepat dapat menyelesaikan penyebab masalah kasus tersebut secara baik. Dilakukan metode relining secara langsung dengan teknik pencetakan mulut tertutup. Kesimpulan: Diagnosis yang tepat mengenai penyebab tidak cekatnya GTL dapat diperoleh dengan mendengarkan keluhan penderita dan observasi yang teliti. Bila diagnosis tidak dilakukan dengan tepat, maka tindakan relining tidak dapat memperbaiki retensi dan stabilitas. Bahan material tersebut harus akurat dengan permukaan GT, mudah dipoles, tidak mengiritasi jaringan dan mempunyai daya mekanik yang baik.
Radiographic assessment of keratocyst odontogenic tumor in maxilla using cbct: a case report Pramatika, Berty
JITEKGI Jurnal Ilmiah dan Teknologi Kedokteran Gigi Vol 14, No 1 (2018)
Publisher : JITEKGI Jurnal Ilmiah dan Teknologi Kedokteran Gigi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Keratocyst odontogenic tumor (KCOT) is a developmental odontogenic cyst of epithelial origin. This lesion shows features of a cyst and a benign neoplasm, because of its behavior, autonomous growth, and potential for recurrence. The KCOT occurs more significant in the posterior mandible than in maxilla. Occasionally, pain, swelling, and drainage indicate a secondary infection of the cyst. Asymptomatic KCOT usually detected in routine radiograph.  The radiographic examination is important to determine KCOT diagnose and treatment planning to prevent recurrence. The aim of this case report is to describe radiographic characteristic of keratocyst odontogenic tumor in maxilla using CBCT. A 20 year-old women patient was referred to the oral maxillofacial radiology department of Padjadjaran University with the  chief complaint of swelling, painless in the anterior of the upper jaw. In this presented case, we used cone beam computed tomography to find out the margin of the cortical extension, and diameter of the lesion. The CBCT examination shows radiolucent, well-defined lesion in 12-14 region with displacement of 12. The size of the lesion is about 20x15x19mm extended posterior-superiorly near to nasal cavity and it shows less degree of bone expansion. Based on radiographic and clinical examination, the diagnosis was keratocyst odontogenic tumor. KCOT has some radiographic characteristic distinguishable with another odontogenic lesion. Therefore; cbct examination is recommended for the diagnosis of odontogenic keratocysts and proper surgical planning. 
EFEKTIFITAS TEKNIK MENYIKAT GIGI SCRUB DAN FONES TERHADAP PENURUNAN INDEKS PLAK ANAK USIA 3-5 TAHUN Wijayanti, Tri
Jurnal Ilmiah dan Teknologi Kedokteran Gigi Vol 14, No 2 (2018)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32509/jitekgi.v14i2.603

Abstract

Latar belakang : Penyakit gigi dan mulut terutama karies gigi menjadi salah satu masalah utama bagi anak-anak. Anak dengan indeks plak yang tinggi mempunyai risiko 3,3 kali lebih besar menderita karies.Teknik menyikat gigi scrub dan fones bisa diajarkan kepada anak usia 3-5 tahun tetapi tidak diketahui teknik mana dari kedua teknik ini yang paling efektif untuk menurunkan plak gigi. Tujuan : Untuk mengetahui perbandingan efektifitas teknik menyikat gigi scrub dan fones terhadap penurunan indeks plak pada anak usia 3-5 tahun. Metode : Metode quasi eksperimental  dengan rancangan pre-post test one group design. Menggunakan disclosing  agent  untuk  mengidentifikasi  plak  pada  gigi  sebelum  dan  sesudah  perlakuan  dan menggunakan indeks pengukuran Personal Hygiene  Performance (PHP). Hasil : Ada perbedaan signifikan antara teknik menyikat gigi scrub dan fones. Perbandingan rata-rata penurunan skor plak pada kelompok teknik menyikat gigi scrub adalah 1,77 dan fones adalah 0,52. Kesimpulan : Menyikat gigi teknik scrub lebih efektif menurunkan indeks plak dibandingkan dengan teknik fones pada anak usia 3-5 tahun.
PERAWATAN SALURAN AKAR NON BEDAH PADA GIGI ANTERIOR DENGAN LESI PERIAPIKAL YANG MELUAS Aryanto, Mirza
Jurnal Ilmiah dan Teknologi Kedokteran Gigi Vol 14, No 1 (2018)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32509/jitekgi.v14i1.639

Abstract

Pendahuluan: kasus ini memperlihatkan lesi periapikal yang meluas pada gigi anterior. Perawatan saluran akar dilakukan secara konservatif, dengan mengaplikasikan medikasi intrakanal berupa kalsium hidroksida. Tujuan: setahun setelah perawatan memperlihatkan penyembuhan melalui berkurangnya ukuran lesi. Penatalaksanaan: perawatan saluran akar dilakukan dengan beberapa kali kunjungan menggunakan medikamen berupa kalsium hidroksida Kesimpulan: laporan kasus ini memperlihatkan keberhasilan perawatan saluran akar konvensional non bedah.
Perawatan Ortodonti Kamuflase Pada Pasien Dewasa dengan Maloklusi Dentoskeletal Kelas III Jusup, Chrisni Oktavia
Jurnal Ilmiah dan Teknologi Kedokteran Gigi Vol 14, No 2 (2018)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32509/jitekgi.v14i2.615

Abstract

Latar belakang: Perawatan maloklusi dentoskeletal kelas III terdiri dari perawatan modifikasi pertumbuhan, kamuflase dan bedah ortognati. Pasien dewasa  yang telah melewati masa pertumbuhan lebih memilih perawatan kamuflase karena lebih tidak invasif disbanding bedah ortognati. Laporan kasus: Pasien wanita, 19 tahun, datang dengan keluhan utama gigi-gigi depan atas dan bawahnya berjejal dan mengganggu penampilan. Diagnosis pasien berdasarkan analisis model dan analisis sefalometri adalah maloklusi dentoskeletal kelas III disertai crowding anterior, crossbite anterior dan posterior, garis median rahang bawah bergeser ke kanan dan prognati mandibula. Perawatan dilakukan menggunakan alat cekat standard Edgewise slot 0,018”. Perawatan pada rahang atas adalah ekspansi ke lateral menggunakan quad helix dan ekspansi ke anterior mengunakan multiloop edgewise Archwire (MEAW). Perawatan rahang bawah dilakukan dengan ekstraksi gigi premolar. Penggunaan elastik kelas III juga digunakan untuk meretraksi gigi-gigi rahang bawah. Hasil perawatan yang dicapai adalah terkoreksinya crowding, crossbite anterior dan posterior, overbite normal dan overjet positif. Kesimpulan: Perawatan maloklusi dentoskeletal kelas III dapat dilakukan dengan perawatan kamuflase menggunakan alat ortodonti cekat dengan kombinasi penggunaan MEAW, karet elastik dan pencabutan gigi rahang bawah.
PENGARUH LEMON TERHADAP PELEPASAN ION NIKEL DAN KROMIUM BRAKET ORTODONTI STAINLESS STELL Pakpahan, Evie Lamtiur
Jurnal Ilmiah dan Teknologi Kedokteran Gigi Vol 14, No 2 (2018)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32509/jitekgi.v14i2.610

Abstract

Latar belakang : lemon merupakan salah satu bahan makanan yang sering dikonsumsi oleh masyarakat pada umumnya, namun masyarakat tidak menyadari bahwa konsumsi berlebih dapat mempengaruhi lingkungan rongga mulut. Kandungan pH yang asam pada lemon dapat mempengaruhi pH saliva pada pasien dengan perawatan ortodonti cekat. pH saliva yang asam diketahui merupakan salah satu faktor pemicu timbulnya pelepasan ion pada komponen ortodonti cekat.  Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan pengaruh lemon terhadap korosi dengan adanya pelepasan ion nikel dan kromium pada braket ortodonti stainless steel. Metode penelitian : penelitian ini menggunakan metode eksperimental laboratorium. Enam belas sampel braket stainless steel yang direndam dalam saliva buatan dan lemon selama 48 jam dalam inkubator (37 °C). Hasil : hasil penelitian menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan dalam pelepasan kurung stainless steel ion nikel dan kromium yang direndam dalam saliva buatan dengan yang direndam dalam lemon setelah perendaman selama 48 jam (p> 0,05). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelepasan nikel adalah 0,00436 ppm dan kromium adalah 0,0188 ppm. Kesimpulan: pelepasan ion kromium dan nikel pada braket stainless steel yang diuji masih dalam batas aman rerata intake Cr perhari melalui makanan 280µg dan Ni 200-300 µg, sedangkan konsentrasi Ni pada air minum umumnya di bawah 20µg/L dan Cr sekitar 0,43µg/L.Kata Kunci: braket ortodonti, lemon, pelepasan Ion Ni dan Cr, stainless steel 
KOMPARASI ELECTROSURGERY, ABRASIVE BUR DAN SCALPEL TECHNIQUE PADA DEPIGMENTASI GUSI DENGAN TEKNIK SPLIT MOUTH (Case Series) Indro, RM Norman Tri Kusumo
JITEKGI Jurnal Ilmiah dan Teknologi Kedokteran Gigi Vol 14, No 1 (2018)
Publisher : JITEKGI Jurnal Ilmiah dan Teknologi Kedokteran Gigi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan dan tujuan : pigmentasi gingiva merupakan keluhan estetik utama terutama orang Asia. Pigmentasi melanin disebabkan oleh berlebihnya granul melanin didalan lapisan epitelium gingiva. Senyum yang harmonis dipengaruhi tidak hanya dari bentuk, posisi ,warna dari gigi, akan tetapi gusi berpengaruh. Pigmentasi melanin bukan merupakan kelainan patologis dan tidak berbahaya, penanganan secara estetik dapat dilakukan dengan hasil yang sangat baik. Penatalaksanaan : kasus ini menjelaskan teknik split mouth  pada prosedur depigmentasi dengan tiga teknik yang berbeda. Prosedur dengan pisau bedah,dan dengan mata bur. kedua teknik ini dinilai efektif untuk menangani kasus depigmentasi gingiva. Pengukuran komparasi akan diukur dari wound healing index and visual analog scale. Kesimpulan : teknik dengan pisau bedah merupakan teknik yang paling umum dan memberikan hasil yang baik, kelemahan teknik pisau bedah adalah waktu operasi yang cukup lama. Prosedur dengan bur merupakan teknik yang mulai sering digunakan, teknik ini tidak memakan waktu serta hasil maksimal. Kelemahan teknik ini membutuhkan presisi. Kasus ini akan membahas mengenai kekurangan dan kelebihan dari ketiga teknik tersebut dengan mempertahankan prosedur pisau bedah sebagai terapi gold standard untuk depigmentasi.
Hubungan antara pengetahuan dan perilaku pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut dengan status kesehatan periodontal pada lanjut usia (kajian di Panti Wreda Abiyoso) Astuti, Novitasari Ratna
Jurnal Ilmiah dan Teknologi Kedokteran Gigi Vol 14, No 2 (2018)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32509/jitekgi.v14i2.638

Abstract

Latar belakang : pertumbuhan jumlah penduduk lanjut usia di Indonesia lima tahun terakhir ini meningkat tajam dari 7,25 % menjadi 7,62%. Peningkatan tersebut berpotensi meningkatnya jumlah penyakit periodontal (gingivitis) pada kaum lanjut usia, karena orang lanjut usia rentan terhadap penyakit dan berkecenderungan terjadi defisiensi jaringan.Tujuan : mengetahui hubungan antara pengetahuan dan perilaku pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut dengan status kesehatan periodontal pada lanjut usia (kajian di Panti Wreda Abiyoso). Metode penelitian : penelitian ini menggunakan metode survey dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian adalah seluruh penghuni Panti Wreda Abiyoso. Teknik pengambilan sampel menggunakan metode purposive  sampling. Semua sampel diberi kuesioner tentang pengetahuan dan perilaku serta diadakan pemeriksaan terhadap status kesehatan priodontalnya dengan menggunakan lembar pemeriksaan status kesehatan periodontal WHO. Hasil dari uji validitas dan reliabilitas menunjukkan kuesioner valid (r 0,741) dan reabel  (r 0.672).Hasil penelitian : hasil uji korelasi Pearson menunjukkan ada hubungan antara pengetahuan dengan status kesehatan periodontal (gingivitis) (p 0,010), dan hubungan antara perilaku dengan status kesehatan periodontal (gingivitis) (p 0,001). Hasil analisis regresi berganda menunjukkan ada hubungan yang sangat bermakna antara pengetahuan dan perilaku pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut dengan status kesehatan periodontal (gingivitis) (p  0,000). Kesimpulan : terdapat hubungan yang sangat bermakna antara pengetahuan dan perilaku terhadap status kesehatan periodontal (gingivitis) pada lanjut usia. Kata Kunci : pengetahuan,  perilaku, gingivitis