cover
Contact Name
dr. Maya Nuriya Widyasari, Sp,Rad (K)
Contact Email
medica.hospitalia@yahoo.com
Phone
-
Journal Mail Official
medica.hospitalia@yahoo.com
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine
ISSN : 23014369     EISSN : 26857898     DOI : -
Core Subject : Health,
Medica Hospitalia: Journal of Clinical Medicine adalah jurnal ilmiah yang diterbitkan RSUP Dr. Kariadi dan menerima artikel ilmiah dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris yang diharapkan dapat menjadi media untuk menyampaikan temuan dan inovasi ilmiah dibidang kedokteran atau kesehatan kepada para praktisi dan akedemisi di bidang kesehatan dan kedokteran.
Arjuna Subject : -
Articles 224 Documents
PREDIKSI KEBERHASILAN KEHAMILAN TEKNIK FERTILISASI IN VITRO PADA BERBAGAI UMUR ISTRI Soegiharto, Soebijanto
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol 2 No 1 (2013): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (236.495 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v2i1.80

Abstract

Obyektif: Tulisan ini mempelajari hubungan keberhasilankehamilan teknik fertilisasi in vitro dengan umur istri.Metode: Dilakukan penilaian kehamilan pada 8 buah pusat pelayanan fertilisasi in vitro di Indonesia: di Rumah Sakit Anak dan Bersalin Harapan Kita sejak tahun 1997 sampai 2001 dan 7 Pusat Pelayanan fertilisasi in vitro di Indonesia. Induksi folikel dilakukan dengan long protocol, short protocoldan natural cycle. Inseminasi dilakukan dengan cara inseminasi di cawan petri dan dengan cara ICSI (intra cytoplasmic sperm injection). Pengambilanspermatozoa dilakukan dengan masturbasi, biopsi testes, dan biopsi epididimis. Keberhasilan kehamilan dinilai dengankehamilan kimiawi, adanya denyut jantung bayi dan kelahiran bayi hidup (take home baby).Hasil: Diperoleh hasil kehamilan 34% untuk kelompok umur di bawah 30 tahun, 33,75% untuk kelompok umur 31-35 tahun, 26% untuk kelompok umur 36-40 tahun dan 8% untuk kelompok umur di atas 40 tahun.
PENGARUH PENAMBAHAN MORFIN DAN KLONIDIN PADA BUPIVAKAIN DOSIS RENDAH PADA ANESTESI SPINAL UNTUK BEDAH SESAR DITINJAU DARI PERUBAHAN HEMODINAMIK DAN KADAR GLUKOSA DARAH Rindarto, Rindarto; Istanto, Widya
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol 2 No 1 (2013): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (258.89 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v2i1.81

Abstract

Latar belakang: anestesi spinal masih merupakan pilihan untuk operasi bedah sesar karena mula kerja dan masa pulih anestesia yang cepat, relatif mudah, kualitas blokade sensorik dan motorik yang baik, memungkinkan ibu tetap sadar pada saat kelahiran bayinya serta diduga dapat menurunkan kadar gula darah. Komplikasi anestesi ini adalah hipotensi. Untuk mengurangi efek, dilakukan dengan cara menurunkan dosis obat anestesi lokal dan ditambah dengan ajuvan. Penelitian ini akan membandingkan penggunaan bupivakain 0,5% hiperbarik 7,5 mg ditambah klonidin 75 mcg dan morfin 0,2 mg dengan bupivakain 0,5% hiperbarik 12,5 mg
MANAGEMENT OF OBSTRUCTIVE SLEEP APNEA SYNDROME IN OBESE CHILDREN Rosalina, Vina; Mexitalia, Maria; Wastoro, Dwi
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol 1 No 3 (2013): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (225.826 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v1i3.74

Abstract

Background : Obstructive Sleep Apnea Syndrome (OSAS) is strongly associated with obesity. The common presenting complaints are excessive daytime sleepiness and loud snoring which potential for significant comorbidity of metabolic syndrome and decreasing in quality of life. Case : An 11-year-old obese boy was refereed to Dr. Kariadi Hospital with complaints of fatique and frontal headache. His mother reported the loud snoring, apneic events during the night, excessive daytime sleepiness, increased irritability, and difficulty of school learning. Imaging studies showed cardiomegaly, adenoidal/nasopharyngeal ratio 0.714; opaque mass on cervical and airway space narrowing. Tympanometric audiogram showed mild right conductive hearing loss. The patient was diagnosed with OSAS, chronic and hypertrophic adenotonsillitis, severe hypertension, dilated right ventricle, right conductive hearing loss, obesity. The boy was undergone adenotonsillectomy and management of weight lossed. Antihipertensive and other supportive medication were given and good results. Discussion : The recommended initial treatment, even in obese children, consists of surgical removal of the adenoids and tonsils.5,6 Several studies have shown that adenotonsillectomy reverses the symptoms and confirm the beneficial effects for OSAS on children's growth, school performance, improvements in PSG, behavior, QoL and cardiac function. The success rate for adenotonsillectomy in the context of OSA was approximately 85%. Conclusion : Adenotonsillectomy and weight reduction is considered to be the primary intervention for OSAS children. Because the case had also severe hypertension, antihypertensive and other supportive medicine were give and had a good result. Keywords : OSAS, obesity, children, adenotonsillectomy  
DETEKSI DINI SERTA EVALUASI PADA ANAK YANG DICURIGAI KEGANASAN Sudarmanto, Bambang
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol 1 No 3 (2013): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (220.589 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v1i3.75

Abstract

Penatalaksanaan kanker anak dan dewasa saat ini berkembang dengan pesat. Hal ini bisa terjadi karena berkembangnya pusat pelayanan kanker anak di rumah sakit dengan tersedianya sarana medik dan obat kemoterapi serta bertambahnya tenaga ahli di rumah sakit, ditunjang dengan beberapa hasil riset dengan metode yang lebih baik dibidang diagnosis dan strategi pengobatan. Disisi lain jumlah kasus yang selalu bertambah dilaporkan 12.000 kasus baru kanker anak pada usia anak 10 tahun di Amerika Serikat (AS).1 Di Indonesia belum ada data yang konkrit peningkatan jumlah kasus kanker anak setiap tahunnya, namun di pahami bersama bahwa jumlah pasien rawat inap dengan kanker rujukan dari rumah sakit kabupaten meningkat. Di Negara maju AS dikatakan bahwa kanker anak merupakan penyebab kematian tertinggi pada usia anak setelah infeksi dankecelakaan lalu lintas. Meskipun penurunan angka kematian pada usia dibawah 14 tahun menurun terutama pada kasus limfoma maligna (LMNH), sarkoma jaringan lunak serta leukemia limfoblastik akut. Bahwa anak bukanlah orang dewasa yang kecil perlu di pahami bersama, sehingga jenis kanker pada anak sangat berbeda dengan jenis kanker pada dewasa. Leukemia limfoblastik akut misalnya merupakan jumlah terbesar kanker pada anak usia 0?14 tahun.
PELAKSANAAN TERAPI BERMAIN OLEH MAHASISWA PROFESI NERS DI BANGSAL PERAWATAN ANAK RSUP DR . KARIADI SEMARANG Fatmawati, Endang; Samiasih, Amin; -, Pawestri
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol 1 No 3 (2013): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (193.41 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v1i3.71

Abstract

Latar belakang : Pertumbuhan dan perkembangan merupakan proses berkesinambungan dari janin sampai dewasa dan proses itu membutuhkan stimulasi agar tercapai pertumbuhan dan perkembangan yang optimal. Salah satu stimulasi yang dapat diberikan adalah bermain. Kegiatan bermain seharusnya di berikan pada setiap anak, baik sehat maupun yang sedang mendapatkan perawatan di rumah sakit. Ketika anak di rawat di rumah sakit, perawat maupun mahasiswa keperawatan sangat berperan dalam memberikan asuhan keperawatan tanpa mengabaikan kebutuhan anak untuk bermain. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran pelaksanaan terapi bermain oleh mahasiswa profesi Ners di ruang C1L2 RSUP Dr Kariadi Semarang. Metode : Jenis penelitian diskriptif kualitatif. Data dikumpulkan dengan pengamatan, kuesioner, wawancara mendalam, dan diskusi kelompok terarah. Subyek adalah mahasiswa profesi Ners yang belajar di ruang C1L2 RSUP Dr. Kariadi, yang diambil dengan teknik purposive sample. Hasil : Penelitian ini menunjukkan bahwa mahasiswa profesi Ners kurang menguasai materi, tetapi terampil dalam melaksanakan terapi bermain sesuai satuan angka pembelajaran (SAP) dan standar prosedur operasional (SPO). Kegiatan terapi bermain yang kurang dipersiapkan dengan baik akan menghambat dalam pelaksanaan terapi bermain, untuk itu diperlukan supervisi oleh pembimbing akademik dan pembimbing klinis. Diperlukan rekomendasi untuk yang dapat dipakai sebagai acuan dan pengembangan pelaksanaan terapi bermain. Simpulan : Mahasiswa profesi Ners kurang menguasai materi terapi bermain, walaupun trampil dalam melaksanakannya. Kata kunci : Terapi Bermain, mahasiswa Profesi Ners, Bangsal Perawatan Anak
TINDAKAN KEPERAWATAN YANG DITERIMA PASIEN PREOPERATIF DI BANGSAL BEDAH RSUP DR . KARIADI SEMARANG Qosim, Nanang
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol 1 No 3 (2013): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (206.695 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v1i3.73

Abstract

Latar belakang : Persiapan preoperasi sangat diperlukan karena kesuksesan suatu tindakan pembedahan berawal dari kesuksesan persiapan yang dilakukan selama tahap persiapan. Kesalahan yang dilakukan pada saat tindakan preoperatif apapun bentuknya dapat berdampak pada tahap-tahap selanjutnya. Metode : Desain yang digunakan diskriptif dengan pendekatan survey, besar sampel 60 orang. Penelitian dilakukan bulan Maret?April 2011. Kriteria inklusi adalah responden kondisi sadar dan sehat jiwa. Alat yang digunakan berupa kuesioner (angket) yang sebelumnya telah dilakukan uji validitas. Hasil baik apabila kuantitas 76% atau >25% tindakan keperawatan/4 aspek. Hasil cukup apabila kuantitas 60?75% atau 20?25% tindakan keperawatan/3?4 aspek. Hasil kurang apabila kuantitas <60% atau<20% tindakan keperawatan/<3 aspek. Analisis data secaraunivariat Hasil : Aspek informed consent, persiapan penunjang, persiapan anestesi, dan premedikasi dilakukan dengan baik dengan prosentase lebih dari 76%. Aspek psikis dan aspek fisik khususnya pada sub aspek latihan praoperasi yang diterima responden adalah kurang <60 %. Sub aspek personal hygiene tindakan yang diterima responden adalah cukup (71%). Simpulan : Tindakan keperawatan pada aspek informed consent, persiapan penunjang, persiapan anestesi dan premedikasi adalah baik. Tindakan keperawatan pada sub aspek personal hygiene adalah cukup. Pada sub aspek latihan praoperasi dan persiapan psikis adalah kurang. Kata kunci : Tindakan keperawatan, preoperatif  
PENGARUH PEMBERIAN MONOSODIUM GLUTAMAT PERORAL TERHADAP DEGENERASI NEURON PIRAMIDAL CA1 HIPOKAMPUS PADA TIKUS WISTAR Simon, Halomoan; Muhartomo, Hexanto; Pudjonarko, Dwi
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol 1 No 3 (2013): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1426.781 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v1i3.67

Abstract

Latar belakang : Monosodium glutamat (MSG) adalah garam sodium dari asam amino asam glutamat digunakan luas di masyarakat sebagai penyedap rasa. Pemakaian MSG dalam dosis tepat relatif aman. Penggunaan MSG dalam dosis tinggi dan berlangsung lama menyebabkan gangguan neuroendokrin dan degenerasi neuron, sehingga muncul pertanyaan seberapa jauh MSG peroral berpengaruh terhadap degenerasi neuron piramidal di regio CA1 hipokampus. Tujuan penelitian ini adalah membuktikan pengaruh pemberian MSG peroral terhadap degenerasi neuron piramidal di regio CA1 hipokampus pada tikus Wistar. Metode: Penelitian eksperimental laboratorik dengan 30 tikus Wistar jantan usia 8 minggu, berat 200 gram dibagi menjadi 5 kelompok (1 kelompok kontrol, 4 kelompok perlakuan) diberikan MSG secara oral dosis 5 mg/grBB/hr dan 10 mg/grBB/hr selama 4 minggu. Setelah 2 minggu dan 4 minggu perlakuan dilakukan pemeriksaan patologi anatomi di jaringan hipokampus dan rerata jumlah sel piramidal yang berdegenerasi pada CA1 hipokampus dianalisa dengan Uji ANOVA dilanjutkan Post Hoc, Kruskal Wallis Test dilanjutkan Mann-Whitney Test, uji Paired T-Test dan Wilcoxon Signed Ranks Test. Analisa data menggunakan program SPSS versi 17.0. Hasil: Ada perbedaan bermakna pada rerata jumlah neuron piramidal yang berdegenerasi di regio CA1 hipokampus antara kelompok penelitian setelah 2 minggu dan 4 minggu perlakuan (p=0,0001). Simpulan: Pemberian MSG per oral dosis 5 mg/grBB/hr dan 10 mg/grBB/hr selama 2 minggu dan 4 minggu terbukti berpengaruh terhadap rerata jumlah neuron piramidal yang berdegenerasi di region CA1 hipokampus tikus Wistar. Kata kunci: Monosodium glutamat, degenerasi neuron piramidal CA1 hipokampus.  
HUBUNGAN GAMBARAN FOTO TORAKS POSISI SUPINE DENGAN VOLUME EFUSI PLEURA BERDASARKAN PEMERIKSAAN ULTRASONOGRAFI Wulandari, Komang; Satoto, Bambang; Suryanto, Agus
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol 1 No 3 (2013): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (239.153 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v1i3.68

Abstract

Latar belakang : Foto toraks dan ultrasonografi merupakan sarana pemeriksaan radiologi yang sederhana dan praktis untuk memperlihatkan efusi pleura. Manifestasi gambaran radiologi pada foto toraks supine dapat bervariasi tergantung dari jumlah volume efusi pleura yang dapat diperkirakan dengan pemeriksaan ultrasonografi. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis hubungan gambaran foto toraks posisi supine dengan volume efusi pleura berdasarkan pemeriksaan ultrasonografi (USG). Metode : Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan menggunakan rancangan belah lintang dan subyek penelitian adalah pasien dengan efusi pleura yang telah mendapatkan pemeriksaan ultrasonografi dan pemeriksaan foto toraks supine di RSUP Dr. Kariadi Semarang pada bulan Januari?April 2011. Hasil : Terdapat 53 paru yang diperiksa dari 35 subyek penelitian yang terdiri dari 16 laki-laki (45,7%) dan 19 perempuan (54,3%). Gambaran peningkatan densitas homogen hemitoraks dan kesuraman sinus kostofrenikus lateralis keduanya terjadi pada semua paru yang diteliti. Sedangkan hilangnya silhouette hemidiafragma terjadi pada 41 paru (77,4%) dan apical capping terdapat pada 18 paru (35,8%). Sebagian besar paru yang diteliti 24 (45,3%) berada pada kelompok volume efusi pleura 600?1000 ml (efusi pleura moderate). Peningkatan densitas homogen hemitoraks dan kesuraman sinus kostofrenikus lateralis dijumpai pada semua tingkat volume efusi pleura tetapi tidak berhubungan dengan tingkat volume efusi pleura (p=0,180) sedangkan variabel hilangnya silhouette hemidiafragma dan apical capping masing-masing mempunyai hubungan yang bermakna dengan tingkat volume efusi pleura (p=0,0001). Secara statistik dengan uji Kappa menunjukkan adanya kesesuaian hasil pembacaan oleh kedua dokter spesialis radiologi (p=0,889). Simpulan : Terdapat hubungan yang bermakna antara gambaran foto toraks posisi supine (AP) dengan volume efusi pleura yang diukur dengan USG. Gambaran radiologis yang bermakna pada foto toraks posisi supine yaitu hilangnya sillhouette hemidiafragma dan apical capping yang akan ditemukan pada volume efusi pleura ? 600 ml. Kata kunci : Efusi pleura, volume efusi pleura, apical capping, hilangnya silhouette hemidiafragma.  
KARAKTERISTIK PASIEN HIV/AIDS DENGAN KANDIDIASIS OROFARINGEAL DI RSUP DR . KARIADI SEMARANG Sofro, Muchlis; Angita, Innes; Isbandrio, Bambang
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol 1 No 3 (2013): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (209.625 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v1i3.65

Abstract

Latar belakang : Epidemi HIV/AIDS di Indonesia merupakan salah satu yang paling cepat di Asia. Penelitian di RSUP Dr. Kariadi Semarang menunjukkan bahwa infeksi oportunistik yang tersering pada pasien HIV/AIDS adalah kandidiasis orofaringeal sebesar 79%. Kandidiasis orofaringeal merupakan infeksi oportunistik mukosa yang banyak disebabkan oleh jamur Candida albicans, tetapi dapat disebabkan oleh spesies lain seperti Candida glabrata, Candida tropicalis dan Candida krusei. Tujuan penelitian adalah mengetahui karakteristik dan jenis kandida pasien HIV/AIDS dengan kandidiasis orofaringeal di RSUP Dr. Kariadi Semarang. Metode : Penelitian deskriptif observasional pada pasien HIV/AIDS dengan kandidiasis orofaringeal yang dirawat di Bangsal Penyakit Dalam RSUP Dr. Kariadi Semarang pada Desember 2010?Mei 2011. Kriteria diagnosis melalui identifikasi mikrobiologi (pengecatan gram, kultur, germ tube dan fermentasi) Hasil : Total 42 Pasien HIV/AIDS dengan kandidiasis orofaringeal terdapat 29 laki-laki (69%), rentang usia terbanyak 30?39 tahun, pekerjaan buruh dan pegawai swasta (21,43%), pasien sudah menikah (88,09%), underweight (52,38%), berasal dari Semarang (33,33%), CD4 <50 sel/µl (78,57%). Hasil kultur mikrobiologi 40 sampel tumbuh koloni kandida, 75% tumbuh >300 koloni kandida, jenis spesies kandida 55% non C. albicans yang terdiri dari C. stellatoidea 15%, C. tropicalis 15%, C. parapsilosis 12,5%, C. krusei 7,5%, C. glabrata 2,5%, C. guilliermondia 2,5%. Simpulan : Pasien HIV/AIDS yang menderita kandidiasis orofaringeal sebagian besar mempunyai CD4 <50 sel/µl, didapatkan koloni kandida pada kultur mikrobiologi dengan 55% diantaranya jenis non C. albicans. Kata kunci : Kandidiasis orofaringeal, HIV/AIDS
ASOSIASI GENOTIP APOLIPOPROTEIN E DENGAN KELUARAN PASIEN PASCA STROKE ISKEMIK Sebastian, Everhardus; Kustiowati, Endang; -, Noorwijayahadi
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol 1 No 3 (2013): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (249.171 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v1i3.66

Abstract

Latar belakang : Gen Apolipoprotein E (ApoE) diduga mempunyai peranan dalam kepekaan kejadian dan keluaran stroke. ApoE berperan dalam plastisitas susunan saraf pusat dengan melindungi dan memperbaiki neuron secara langsung maupun melalui protein yang dibentuknya. Alel ApoE ?4 memiliki kadar kolesterol plasma yang lebih tinggi serta kurang efektif dalam memproteksi neuron dari proses inflamasi dibandingkan alel ApoE ?2 dan ?3. Hubungan antara genotip ApoE dan keluaran fungsional pada pasien stroke iskemik masih kontroversi. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui adanya asosiasi antara alel genotip ApoE dan faktor risiko stroke dengan keluaran pada pasien pasca stroke iskemik. Metode : penelitian belah lintang dari bulan April ? Juni 2012 dengan pengambilan sampel secara konsekutif sebanyak 34 pasien pasca stroke iskemik di RSUP Dr. Kariadi Semarang. Dilakukan anamnesis, pemeriksaan status neurologis dengan NIHSS, pemeriksaan laboratorium darah serta pemeriksaan genotip ApoE dengan metode PCR-RFLP. Analisis data menggunakan analisis univariat dan bivariat dengan pengolah data statistik. Hasil : Tidak didapatkan asosiasi antara genotip ApoE dengan skor NIHSS. Terdapat asosiasi antara umur, kadar kolesterol total dengan skor NIHSS (p<0,05) Simpulan : Tidak didapatkan asosiasi antara genotip ApoE dengan keluaran pasien pasca stroke iskemik. Kata kunci : Genotip ApoE, Skor NIHSS, Stroke Iskemik

Page 1 of 23 | Total Record : 224