cover
Contact Name
Yosep Ginting
Contact Email
josep@jurnalvow.sttwmi.ac.id
Phone
+6282114130502
Journal Mail Official
jurnalvow@gmail.com
Editorial Address
Jl. Babakan Madang No. 40, Kec. Babakan Madang, Sentul City, Bogor, Jawa Barat, Indonesia,
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Voice of Wesley: Jurnal Ilmiah Musik dan Agama
ISSN : 25807900     EISSN : 26860198     DOI : https://doi.org/10.36972/jvow
Jurnal Voice Of Wesley, terbit Sejak tahun 2017, Mulai Volume 1 Nomer 1 Tahun 2017 Jurnal ini terbit secara berkala sebanyak dua kali dalam setahun dibulan Mei dan November. Jurnal Voice of Wesley bertujuan untuk kemajuan dan kreatifitas karya tulis ilmiah melalui media penelitian dan pemikiran kritis analistis di bidang kajian musik dan Agama dan ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan Agama yang di terbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologia Wesley Methodist Indonesia
Articles 31 Documents
POLITIK MENURUT ALKITAB DAN IMPLIKASINYA BAGI PERAN GEREJA DALAM PUSARAN POLITIK DI INDONESIA Simamora, Adolf Bastian
Voice of Wesley: Jurnal Ilmiah Musik dan Agama Vol 2, No 1 (2018): J.VoW Vol. 2 No. 1 2018
Publisher : Sekolah Tinggi Teologia Wesley Methodist Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (215.86 KB) | DOI: 10.36972/jvow.v2i1.16

Abstract

Saat ini warga Indonesia disibukkan dengan kegiatan politik yakni berhubungan dengan Pemilihan Legislatif ditingkat dua, satu dan pusat secara serempak dan juga pemilihan Presiden dan wakil Presiden pada tahun 2019. Berita ini dimuat dalam media sosial, surat kabar maupun televisi tentang gereja-gereja atau perkumpulan pendeta dari aras tertentu yang mendeklarasikan dukungan kepada pasangan Pilpres tertentu. Bagaimana pandangan gereja terhadap berita ini? Apakah yang menjadi dasar pedoman peran gereja dalam menjalankan hak dan kewajiban berpolitik di negara kita?Tulisan ini mengulas masalah penelitian tEntang pandangan politik Alkitab khususnya pandangan Kitab Injil dan Kitab Roma dan implikasinya bagi peran gereja dalam pusaran politik di Indonesia. Makalah ini membahas dasar teologis tentang pandangan yang setuju dan tidak setuju bahwa gereja harus terlibat dalam politik di tanah air ini. Tujuan penelitian dari makalah ini adalah menjelaskan pemahaman politik Alkitab dan implikasinya bagi peran gereja dalam pusaran politik di Indonesia. Prosedur Penelitian dari makalah ini menggunakan metode kajian kepustakaan khususnya pandangan politik Alkitab yang terdapat dalam kitab Injil dan kitab Roma dan implikasinya bagi peran gereja dalam pusaran politik di Indonesia.Kesimpulan makalah ini mengacu kepada pandangan politik Alkitab bahwa Gereja harus menjalankan hak dan kewajiban sebagai warga negara menurut pandangan politik kitab Injil dan kitab Roma. Gereja bukan anti pluralistik dan mendukung kebebasan warganya berpolitik. Implikasi peran gereja secara nyata bahwa gereja secara individual dapat menjadi politikus, sedangkan gereja secara institusional tidak berpolitik praktis. Namun gereja tetap aktif menjalankan fungsi sosial kontrol melakukan ?suara kenabian? di tengah-tengah bangsa dan negara Indonesia.
PERSPEKTIF BIBLIKAL TENTANG AGAMA DAN KEKERASAN DALAM PERISTIWA PENYALIBAN YESUS Simamora, Adolf Bastian
Voice of Wesley: Jurnal Ilmiah Musik dan Agama Vol 1, No 2 (2018): J.VoW Vol. 1 No. 2 2018
Publisher : Sekolah Tinggi Teologia Wesley Methodist Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (301.041 KB) | DOI: 10.36972/jvow.v1i2.11

Abstract

Artikel ini membahas tentang bagaimana perspektif biblikal tentang agama dan kekerasan dalam peristiwa penyaliban Yesus. Analisis dari bagaimana narasi yang berhubungan dengan masalah Yudaisme yang berhubungan dengan kehidupan dan pelayanan Yesus dalam catatan biblikal Injil. Diceritakan bahwa karena khotbat-khotbah Yesus yang juga mengecam para pemimpin agama Yahudi, ahli ?ahli Taurat, Farisi , Saduki, dan Herodian berakibat konflik. Sehingga pemimpin agama merancang suatu strategi untuk menyingkirkan Yesus dengan dalih agama (Yudaime). Konflik berkembang dan klimaksnya terjadi penganiyaan dan penyaliban Yesus. Konflik ini melibatkan kelompok penganut Yudaisme dan sekte-sektenya. Lantas pertanyaan berikutnya adalah apakah faktor-faktor utama pemicu munculnya kekerasan (penganiayaan, penyiksaan) terhadap Yesus? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, tulisan ini dibagi ke dalam empat. Pertama, perspektif Yudaisme tentang agama dan kekerasan. Kedua, konflik Yesus dengan pemimpin agama Yahudi. Ketiga, ?penganiayaan dan ?penyaliban? Yesus dianggap jalan keluar terhadap konflik antara Yesus dengan para pemimpin agama Yahudi. Dan keempat, ?ucapan bahagia? dari khotbah Yesus di Bukit menjadi solusi teologis menghadapi persoalan agama dan kekerasan.
Menjadi Pemimpin Musik Gereja Yang Handal Tanujaya, Jonathan
Voice of Wesley: Jurnal Ilmiah Musik dan Agama Vol 2, No 2 (2019): J.VoW Vol. 2 No. 2 2019
Publisher : Sekolah Tinggi Teologia Wesley Methodist Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (91.885 KB) | DOI: 10.36972/jvow.v2i2.28

Abstract

Beberapa tahun terakhir ini, pertumbuhan jemaat gereja-gereja ( khususnya gereja Injili ) semakin hari semakin lambat dan bahkan merasa tidak dapat bertumbuh baik secara kuantitas maupun kualitas. Sehingga pemimpin-peminpin gereja mulai mencari penyebab dari lambatnya pertumbuhan jemaat mereka. Disaat yang bersamaan, ada gereja-gereja yang tiba-tiba bertumbuh dengan pesat dalam jumlah jemaat yang banyak dalam kurun waktu yang singkat. Sehingga banyak gereja lainnya ingin meniru dan belajar dari gereja tersebut, salah satunya yaitu melalui corak-corak ibadah khusus didalam musik dan lagunya.Apa yang terjadi didalam ibadah mereka? Ternyata mereka beribadah dengan puji-pujian yang diiringi dengan alat-alat musik ( guitar elektrik, keyboard, drum set dan bass ). Sehingga membangkitkan suasana dan semangat ibadah mereka. Hal ini sangat menarik perhatian pemuda dan pemudi gereja-gereja yang masih bersifat konservatif ( Injili ). Sehingga mulai meniru dan menghilangkan tata ibadah tradisi yang ada. Apa kah ini benar dan pasti berhasil?Penulis tidak menyangkal dan menolak cara ibadah mereka, tetapi penulis ingin bertanya kepada Hamba Tuhan, majelis, penatua serta tim ibadah yang ada saat ini, apakah kita sudah memiliki Pemimpin Musik Gereja yang Handal yang benar-benar mengerti musik gerejawi yang dapat membangun kerohanian jemaat. Dan membimbing pelayan-pelayan musik dalam ibadah dengan baik dan benar. Penulis menulis tema ini karena penulis sejak kecil sudah dipimpin dan dibina oleh pembimbing kami dengan belajar musik gereja yang baik dan benar, mengerti setiap lagu yang dinyanyikan bahkan menceritakan tokoh-tokoh penulis lagu tersebut.Berharap tulisan ini dapat dipelajari oleh pemimpin-peminpin gereja baik pendeta ( Hamba Tuhan) , majelis, penatua maupun tim musik ibadah. Sehingga kita dapat menbina dan mendidik jemaat dengan musik gereja yang benar melalui seorang Pemimpin Musik Gereja yang handal.
KETERLIBATAN KAUM INJILI DALAM DIALOG ANTAR UMAT BERAGAMA: SUATU REFLEKSI TEOLOGIS-PEDAGOGIS ATAS METODE DIALOG “PASSING OVER” Sianipar, Desi
Voice of Wesley: Jurnal Ilmiah Musik dan Agama Vol 1, No 1 (2017): J.VoW Vol. 1 No. 1 2017
Publisher : Sekolah Tinggi Teologia Wesley Methodist Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (742.528 KB) | DOI: 10.36972/jvow.v1i1.4

Abstract

Penulisan makalah ini dilatarbelakangi oleh pengamatan penulis mengenai kurangnya keterlibatan kaum Injili dalam dialog antar umat beragama, yang justru banyak dilakukan oleh kalangan Kristen lainnya. Hal ini disebabkan kaum Injili memiliki pemahaman teologis yang berbeda mengenai perjumpaan dengan agama-agama lain, dan kekuatiran mengenai akibat dari perjumpaan tersebut.Berdasarkan pembahasan teoritis, tampak bahwa ada beberapa penyebab kaum Injili kurang terlibat dalam dialog antar umat beragama, yaitu: kekuatiran terjadinya sinkretisme melalui dialog; kekuatiran akan disalahmengerti mengenai keterlibatan dalam dialog; dialog tidak dibutuhkan dalam penginjilan, yang dibutuhkan adalah pendampingan pastoral Kristen; kekuatiran akan terjadinya kemunduran dalam penginjilan; dan sikap eksklusivisme dalammemandang agama-agama lain. Meski dalam posisi demikian, menurut penulis, sebenarnya keterlibatan kaum Injili dalam dialog antar umat beragama masih bisa dimungkinkan kalau mereka memahami dan menghayati keteladan Kristus dalam hal mengosongkan diri (kenosis) untuk mampu membuka diri terhadap orang lain. Metode yang digunakan dalam penulisan makalah ini adalah metode kepustakaan di mana penulis menggunakan sejumlah literatur berbahasa Indonesia dan Inggris, yang membahas tentang dialog antar umat beragama dan keterlibatan kaum Injili dalam dialog antar umat beragama. Selanjutnya, pembahasan dilakukan menurut tinjauan secara teologis pedagogis.Orang Kristen semestinya mampu terlibat dalam dialog antar umat beragama. Penulis mengusulkan suatu metode dialog ?melintas batas? atau ?passing over?, yang kalau menerapkan prinsip kenosis, kaum Injili dapat melakukannya. Metode ini akan memampukan setiap orang mengalami pengenalan yang mendalam mengenai para penganut agama lain dimana orang tidak pindah agama atau keyakinan, dan bukan sedang dalam pencarian jati diri,juga bukan sedang mencoba-coba mencicipi rasa keagamaan yang lain. Dia melakukan dialog ini untuk memiliki pemahaman yang lebih dalam lagi tentang keyakinan orang-orang dalam agama lain, dan dengan itu justru akan memperkuat keyakinannya sendiri.
LEADING BY SERVING: MEMIMPIN DENGAN MELAYANI Tomala, Yacob T.
Voice of Wesley: Jurnal Ilmiah Musik dan Agama Vol 2, No 2 (2019): J.VoW Vol. 2 No. 2 2019
Publisher : Sekolah Tinggi Teologia Wesley Methodist Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (219.223 KB) | DOI: 10.36972/jvow.v2i2.23

Abstract

Pokok pikiran Leading by Serving atau ?Memimpin dengan Melayani,? adalah kebenaran tentang kepemimpinan yang bersumber dari Kitab Suci Alkitab. Gagasan ?Leading by Serving? ini dibangun berlandaskan ajaran dan praktik kepemimpinan Yesus Kristus. Dalam penelitian, ditemukan bahwa memimpin dengan melayani merupakan pola atau model kepemimpinan yang unik Alkitab, yang menjelaskan bahwa model kepemimpinan pelayan atau servant leadership ini adalah otentik Alkitab dan Kristen, karena diarsiteki oleh Yesus Kristus. Model atau pola kepemimpinan pelayan ini terbukti relevan, pas untuk segala situasi serta semua organisasi, karena sesungguhnya ?memimpin sejatinya adalah melayani?. Sebagai upaya mengembangkan gagasan penelitian ini, maka pokok-pokok yang akan dikembangkan adalah antara lain: Pertama, Dasar-dasar Memimpin dengan Melayani; Kedua, Pola Memimpin dengan Melayani; yang diakhiri dengan suatu kesimpulan.
PEMIMPIN YANG MENGHAMBA, BUKAN DIPERHAMBA Natonis, S.Pd, M.Si, Dr. Harun Y.
Voice of Wesley: Jurnal Ilmiah Musik dan Agama Vol 2, No 1 (2018): J.VoW Vol. 2 No. 1 2018
Publisher : Sekolah Tinggi Teologia Wesley Methodist Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (207.089 KB) | DOI: 10.36972/jvow.v2i1.17

Abstract

The church and politics in Indonesia are two opposing institutions, but live side by side. On the one hand, the church is prohibited from engaging in various political contexts. But on the other hand, the church also has an obligation to voice the truth in a political context. The church is not involved in the political world, it does not mean that the church turns a blind eye to the political conditions that occur in Indonesia. The church have to give voice its prophethood, so that the political conditions in Indonesia continue to provide a temperature of comfort and justice for all the interests of society.The church is like a small candle which despite its small flame, gives enough light in dark conditions. The Church through its leaders can provide encouragement in actualizing services that are more real amid the development of the nation in competition in the global world.What kind of leader does the church need to survive amid the current political turmoil in Indonesia? This question is the core goal of writing this article in order to address the extent of the role of the church in the midst of a political vortex.The church needs servant leaders, not leaders who are enslaved. Church leaders who are servants are church leaders who want to serve with love, humility and sincere sacrifice. While church leaders who are worshiped are church leaders who are only concerned with personal interests and self-comfort. Church leaders who are able to survive in the midst of political turmoil are church leaders who are servants, not non-worshiped church leaders.Keywords: Church leader who slaves, Jesus Prototype Leader who slaves
MENDIDIK ANAK BERKARAKTER KRISTEN MENGATASI KEKERASAN Hutabarat, Oditha R.
Voice of Wesley: Jurnal Ilmiah Musik dan Agama Vol 1, No 2 (2018): J.VoW Vol. 1 No. 2 2018
Publisher : Sekolah Tinggi Teologia Wesley Methodist Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1004.818 KB) | DOI: 10.36972/jvow.v1i2.12

Abstract

Artikel ini berjudul: Mendidik anak Berkarakter Kristen Mengatasi Kekerasandalam Tema Agama dan Kekerasan.Data yang terus meningkat tentang peristiwa kekerasan atas nama agama di Indonesia dari Wahid Institut dan sata hasil penelitian dari UIN Jakarta bahwa peristiwa kekerasan jika diurai dari hulu adalah terletak pada pendidikan agama yang intoleran yang diterima anak-anak di sekolah, sehingga Sistem Pendidikan Nasional harus melakukan kontrol dan perbaikan.Penulis meneliti dari sudt Pendidikan Agama Kristen (PAK), apakah peran PAK keluarga sudah juga dibenahi?, keluarga sebagai sel masyarakat demikian juga Gereja tentu patut berperan serta meminimalisir terjadinya kasuskekerasan yang berkaitan dengan agama. PAK Keluarga bukan hanya mengajarkan pengetahuan agama Kristen, tetapi keluarga menanamkan keteladanan dan praktek hidup toleran yang dasarnya Cinta Kasih Yesus Kristus yang sudah rela berkorban di salib untuk menebus dosa manusia.PAK Keluarga adalah upaya-upaya keluarga membentuk karakter Kristen pada diri anak-anaksejak dini dengan menanamlkan nilai-nilai Kristen dalam kehidupan sehari-hari.Kerjasma keluarga dengan gereja dan pendidik PAK di sekolah menjadi penting agar pertumbuhan karakter Kristen pada diri anak semakin kuat berakar.PAK Keluarga yang baik menjadi solusi mengatasi kekerasan yang dapat saja dialami anak-anak dalam kontek kemajemukan dan multikultural di Indonesia. Tokoh Gereja dan PAK dalam sejarah melihat pentingnya asuhan keluarga bagi pembentukan karakter Kristen.Sehingga perlu ada cara berteologi dan melakukan Pekabaran Injil yang baru dan kontekstual sehingga dapat terjalin dialog yang intens dari berbagai pihak.
KEPEMIMPINAN DALAM GEREJA SEBAGAI PELAYANAN Borrong, Robert P.
Voice of Wesley: Jurnal Ilmiah Musik dan Agama Vol 2, No 2 (2019): J.VoW Vol. 2 No. 2 2019
Publisher : Sekolah Tinggi Teologia Wesley Methodist Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (324.384 KB) | DOI: 10.36972/jvow.v2i2.29

Abstract

Kepemimpinan dalam gereja bukanlah pelaksanaan kekuasaan atau otoritas manusia melainkan suatu kegiatan pelayanan. Pelayanan yang ditujukan kepada Yesus Kristus, Pemilik dan Kepala Gereja. Gereja ada karena panggilan untuk mewartakan Kerajaan Allah di dunia. Oleh sebab itu kepemimpinan tidak terutama berkenaan dengan penataan organisasi gereja tetapi berkenaan dengan penataan pelayanan gereja kepada Tuhan dan bagi dunia. Kepemimpinan gereja tidak bertujuan membuat organisasi gereja dengan baik, tetapi menata organisasi gereja dengan baik supaya pelayanan dan kesaksian kepada dunia berjalan dengan baik.Pemimpin-pemimpin dalam gereja adalah pelayan-pelayan yang bekerja dengan sukacita dan sukarela karena adanya panggilan dari Tuhan bagi mereka untuk mengambil bagian dalam karya Yesus Kristus di dunia yaitu memberitakan keeselamatan yang telah diberikan kepada dunia oleh dan melalui pengorbanan Yesus Kristus di atas kayu salib. Oleh sebab kepemimpinan adalah panggilan, maka kepemimpinan dijalankan dengan sukarela dan sukacita. Itulah hakekat kepemimpinan sebagai pelayanan gereja. Menjadi pemimpin yang melayani berarti menjadi pemimpin yang memberikan dirinya untuk mengabdi kepada Tuhan, bukan kepada manusia
SIGNIFIKANSI GAGASAN KRISTEN ANONIMUS KARL RAHNER TERHADAP KONTEKS KEMAJEMUKAN DI INDONESIA Pamusu, Viktor K
Voice of Wesley: Jurnal Ilmiah Musik dan Agama Vol 1, No 1 (2017): J.VoW Vol. 1 No. 1 2017
Publisher : Sekolah Tinggi Teologia Wesley Methodist Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (270.063 KB) | DOI: 10.36972/jvow.v1i1.5

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk mengkaji signifikansi gagasan Kristen Anonimus dari Karl Rahner, terhadap konteks keberagamaan yang majemuk di Indonesia. Kajiannya sendiri dibagun diatas dasar keyakinan bahwa pergumulan Karl Rahner tatkala merumuskan pemikirannya, relevan dengan fakta kemajemukan di Indonesia. Atas dasar keyakinan itu, peninjauan atas gagasan Karl Rahner di lakukan dalam pendekatan tafsir terhadap konteks Indonesia itu sendiri. Hal ini tentunya menarik untuk dilakukan, mengingat pentingnya suatu acuan kerangka berpikir teologis yang merefleksikan pergumulan kontekstual dalam menjawab kebutuhan mendasar dari konteks dimana pemikiran tersebut akan diterapkan. Dalam arti inilah, peninjaun atas gagasan ?Anonimous Christian?? Karl Rahner dilakukan. Daripadanya akan ditarik prinsip prinsip yang diyakini akan menjawab kebutuhan masyarakat Kristen terhadap acuan dalam pengembangan sikap di tengah konteksnya yang majemuk. Dengan begitu, gereja Tuhan terhindar dari tuduhan akan? ketidak pedulian terhadap konteksnya yang mejemuk. Dalam hal ini, tafsiran yang baik, antara lain, terhadap pemikiran Karl Rahner, akan mempunkan gereja menegaskan sikapnya yang tidak anti kemajemukan.
MANAJEMEN MUTU PEMIMPIN DAN KEPEMIMPINAN KONTEMPORER BAGI PENINGKATAN PERGURUAN TINGGI KEAGAMAAN DI ABAD XXI Lumintang, Stevri Indra
Voice of Wesley: Jurnal Ilmiah Musik dan Agama Vol 2, No 2 (2019): J.VoW Vol. 2 No. 2 2019
Publisher : Sekolah Tinggi Teologia Wesley Methodist Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (199.313 KB) | DOI: 10.36972/jvow.v2i2.24

Abstract

The objective of this research was to analize deeply and objectively the contemporary management quality of some leaders and their leadership at religiousity higher educations in Indonesia for finding a model of quality improvement the higher education. This research was based upon the naturalistic paradigm with qualitative approach, and the said methodology was a phenomenologic method, by using Ishikawa Fishbone Diagram as a technical tool to improve the quality. The datas were colleted through participant observation using interview, and document study. The data analysis and interpretation indicate that: (1) The real problem is the weak management quality; (2) The weak management quality is caused by the weak leaders and leadership. This main factor influences other factors, just as all influence one and another; (3) The root of weak management quality is caused by the weak leader and leadership. The findings lead to the recommendation to practice quality improvement, and to apply the model of quality improvement, in order for it be one of the quality religiousity higher education in this 21st century.

Page 1 of 4 | Total Record : 31