cover
Contact Name
Defrizal, S.Kom.M.Kom
Contact Email
-
Phone
+6275139246
Journal Mail Official
redaksi_jurnalobgin@fk.unand.ac.id
Editorial Address
RSUP DR. M. Djamil Padang, Jl. Perintis Kemerdekaan Padang, Sumatera Barat 25127
Location
Kota padang,
Sumatera barat
INDONESIA
Andalas Obstetric and Gynecology Journal
Published by Universitas Andalas
ISSN : 25798324     EISSN : 25798413     DOI : https://doi.org/10.25077/aogj
Core Subject : Health, Science,
Andalas Obstetrics And Gynecology Journal (AOJ) (e-ISSN: 2579-8324) is a peer-reviewed, open-access national journal published by Universitas Andalas and is dedicated to publish and disseminate research articles, literature reviews, and case reports, in the field of obstetrics, gynecology, and other related disciplines.
Articles 86 Documents
Inferior Vena Caval Syndrom in Paraaortic Metastastic Lession of Ovarian Dysgerminoma in Pregnancy Manage with Chemotherapy : a Case Report Dewi, Madona Utami; Muhammad, Syamel
Andalas Obstetrics And Gynecology Journal Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/aogj.3.1.1-19.2019

Abstract

Background : Inferior caval syndrom is a rare case. It can caused by compresssion of the tumor mass and paraaortic metastastasis lession of ovarian dysgerminoma.  Dysgerminoma is one of the most common germ cell tumor, approximately 3-5% of all ovarian cancers.1 Rate of dysgerminoma metastasis to lymph node is around 28%. In all type of germ cell, dysgerminoma has higher insidens to lymph node metastasis compare to the others. The first level of lymph node metastsis is paraaortic lymph node. However, the insidens is unknown because there is no research about it yet.2,3Dysgerminoma frequently in young age, less then 30 years. The exact etiology of dysgerminomas has not been determined, although recent molecular studies have implicated loss function of potential tumor suppressor gene TRC8/RNF139, abnormality of Y chromosome and gonadal dysgenesis.4 The problem arises when dysgerminoma is diagnosed in pregnancy woman as clinically has inferior vena cava syndrom sign and symptoms which acquired efective and fast management.Objective : Discuss inferior caval syndrom  as effect of compression by tumor mass, metastasis tumor lesion and chemotherapy management in dysgerminoma with pregnancyCase Report : Patient 32 years old admitted to M. Djamil central general hospital referred from Batusangkar hospital with diagnosis G3P2A0L2 25-26 weeks of preterm pregnancy + dysgerminoma + obs. Dyspnue. Patient has symptoms dispnue, exercise intolerance, oedem extremity. Physical examination : blood pressure was 100/70 mmHg, HR 120 dpm, RR 35 bpm, T 37 C. Abdomen : uterus fundal was palpated 2 fingers above umbilical, ballotement (+), FHR 150-158 bpm. Genitalia : I V/U normal, vaginal bleeding (-), oedem extremity +/+. From ultrasonography  found dysgerminoma ovary with compression to inferior vena cava and  paraaortic metastatic. Patient was diagnosed with dispnue ec. inferior vena cava syndrom caused by compression of tumor mass + paraaortic lymph node metastasis lession of ovarian dysgerminoma on G3P2A0L2 25-26 weeks of preterm pregnancy. Patient was managed by BEP chemotherapy and symptom was dissapeared. Patient was admitted to M. Djamil  again with 34-35 weeks of preterm pregnancy in active phase of first stage. Because obtructed of labor patient was decide to performed LSCS. Female baby was born 1800 gram, baby?s length was 45 cm, A/S 7/8, there is no congenital anomaly. Patient was followed up 1 month after surgery, there is no symptoms, but fromUltrasonograhy found corpus metastasis and  CT scan impressed paraaortic lymph node metastasis + copus metastasis. Chemotherapy was continue one month after caesarean section. She was completed 4 cycles chemothrapy and the disease was cureable.Conclusion :Caval syndrom is a rare case  and fatal, caused by direct compression of dysgerminoma mass and paraaortic lymph node metastasisDiagnosis of dysgerminoma is anatomy pathology diagnoseManagement of dysgerminoma is surgical staging and 3-4 cycle of chemoterapy with BEP regimenChemoterapy with  BEP (Bleomisin-Etopuside-Cisplatin) is safe to performed at second trimester with inferior vena cava syndrom ec paraaorta lymph nodes metastasisDysgerminoma has a good response to chemotherapy  with survival rate 96%
PERBEDAAN KADAR ZINC SERUM PENDERITA PREEKLAMPSIA BERAT DENGAN KEHAMILAN NORMAL Ermawati, Ermawati; Bachtiar, Hafni
Andalas Obstetrics And Gynecology Journal Vol 2, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/aogj.2.1.45-52.2018

Abstract

Preeklampsia merupakan komplikasi kehamilan utama yang insidennya semakin meningkat dan ber- hubungan dengan morbiditas dan mortalitas maternal. Salah satu teori mengenai preeklampsia ini adalah terjadinya stress oksidatif akibat ketidakseimbangan antara pro-oxidant dan antioksidan, sehingga meng- hasilkan radikal bebas atau oksigen reaktif atau nitrogen reaktif. Adanya penurunan dari Zinc sebagai kofaktor enzim antioksidan. dilaporkan berhubungan dengan meningkatnya faktor resiko preeklampsia. Penelitian ini dilakukan dengan metode cross sectional comparative di RSUP Dr. M. Djamil Padang, RSUD Solok, RSUD Painan, RSUD Batu Sangkar dan Laboratorium Biomedik FK Unand pada bulan September 2014-Februari 2015. Dari 40 sampel penelitian kehamilan diatas 20 minggu, dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu preeklampsia berat dan hamil normal. Dilakukan pemeriksaan zinc serum pada kedua kelompok. Zinc serum pada preeklampsia berat dan hamil normal menunjukkan perbedaan yang ber- makna (p < 0,05) kadar rata ? rata zinc serum kelompok penderita preeklampsia berat ( 0,45 ± 0,09 ?g/ ml ) dengan kelompok kehamilan normal ( 0,78 ± 0,55 ?g/ml ) yaitu p = 0,02. Dan perbedaan ini secara statistik bermakna dengan p value < 0,05. Terdapat perbedaan bermakna antara kadar zinc serum wanita hamil normal dengan zinc serum wanita pada Preeklampsia Berat.Kata Kunci : Preeklampsia berat, hamil normal, zinc serum,
Hubungan Skor Plasenta Akreta Indeks (PAI) dengan Kejadian Plasenta Akreta pada pasien bersalin di bagian kebidanan RSUP.dr.M.Djamil Padang Marni, Herti; Putri, Intan Firmana; Ariadi, Ariadi
Andalas Obstetrics And Gynecology Journal Vol 2, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/aogj.2.2.47-51.2018

Abstract

Tujuan: Mengetahui hubungan skor PAI dengan kejadian plasenta akreta pada pasien plasenta previa suspek akreta yang bersalin di RSUP M. Djamil Padang.Metode: Penelitian ini merupakan studi analitik menggunakan desain cross sectional study dengan sampel seluruh pasien dengan plasenta previa totalis suspek akreta yang bersalin di bagian kebidanan RSUP M. Djamil Padang selama periode 1 Januari 2017 ? 30 April 2018. Data diambil dari rekam medis pasien yang mencangkup umur, status paritas, riwayat persalinan, dan skor PAI dari hasil pemeriksaan USG. Hubungan skor PAI dengan kejadian plasenta akreta dianalisis menggunakan uji T independen dengan derajat kemaknaan <0,05. Hasil penelitian disajikan dalam bentuk tabel.Hasil: Selama periode penelitian didapatkan 30 pasien bersalin dengan plasenta previa suspek akreta di RSUP M. Djamil Padang. Diketahui bahwa kasus plasenta akreta lebih banyak terjadi pada multipara (57,7%), suspek akreta (57,7%), memiliki riwayat SC (65,2%), dan rerata umur pasien dengan akreta 34,7 ± 3,5 tahun. Dan dapat disimpulkan bahwa rerata skor PAI pada pasien dengan plasenta akreta lebih tinggi dibandingkan tidak akreta dan terdapat hubungan bermakna antara skor PAI dengan kasus plasenta akreta (p>0,05).Kesimpulan: Rerata skor PAI pada pasien dengan plasenta akreta lebih tinggi dibandingkan tidak akreta dan terdapat hubungan bermakna antara skor PAI dengan kasus plasenta akretaKata Kunci: Plasenta Akreta, Skor PAI
AKURASI INSPEKSI VISUAL ASAM ASETAT PADA LOW SQUAMOUS INTRAEPITHELIAL LESIONDIBANDINGKAN DENGAN KOLPOSKOPI DI POLI GINEKOLOGI RS M.DJAMIL PADANG Desmiwarti, Desmiwarti; Nirmala, Vera; Bachtiar, Hafni
Andalas Obstetrics And Gynecology Journal Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/aogj.3.1.55-62.2019

Abstract

LSIL merupakan lesi prakanker serviks derajat rendah, yang apabila cepat diketahui dan diobati bisa menurunkan angka kejadian kanker serviks sampai 90% dan menurunkan angka kematian 70-80%. Pemeriksaan kolposkopi akan mempercepat diagnosis lesi prakanker serviks sehingga penatalaksanaannya bisa cepat, dan menguntung- kan bagi pasien dari jauh. Gabungan pap?s smear, kolposkopi dan biopsi merupakan paket diagnosis yang baik bila digunakan untuk pelayanan. Penelitian ini dilakukan dengan metode uji diagnostik dengan desain cross-sec- tional, pada wanita terdiagnosis LSIL (Pap?s smear) yang kemudian dilakukan pemeriksaan kolposkopi-biopsi di Poli Ginekologi dan laboratorium PA RS Dr.M.Djamil Padang, periode Juli ? Desember 2014. Penelitian dilakukan untuk mengetahui diagnosis pasti LSIL. Total jumlah wanita yang diikutsertakan dalam penelitian iniadalah70orang,yangdibagimenjadi2kelompokyaitu35 orang pada kelompok IVA positif dan 35 orang pada kelompok IVA negative untuk kemudian dianalisis statistik menggunakan unpaired t test dan chi square. Tidak ada hubungan yang ditemukan antara usia, usia pertamakali koitus, pekerjaan, pekerjaan suami, paritas dan metode kontrasepsi yang dipakai. Terdapat perbedaan bermakna antara pemeriksaan IVAdengan kolposkopi.Kata kunci : IVA, kolposkopi, LSIL, biopsi
PENGARUH PENGIKATAN ALAT KONTRASEPSI DALAM RAHIM TERHADAP KONTINUITAS PADA PEMASANGAN KELUARGA BERENCANA PASCA SALIN METODE TRANSESAREA Ariadi, Ariadi; Bachtiar, Hafni
Andalas Obstetrics And Gynecology Journal Vol 2, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/aogj.2.2.79-83.2018

Abstract

Insersi alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR) yang dipasang segera setelah melahirkan telah direkomen- dasikan oleh WHO, sebagai salah satu metode yang aman dan efektif untuk kontrasepsi sementara. Penyisipan AKDR setelah melahirkan dapat menghindari ketidaknyamanan yang biasanya terjadi pada saat penyisipan interval, dan setiap perdarahan dari penyisipan dapat tersamarkan dengan lokia. Na- mun, pemasangan AKDR postpartum ini memiliki kelemahan juga. Risiko kemungkinan terjadinya ekspulsi spontan sangat tinggi. Penelitian ini merupakan studi eksperimental dengan metode post test control group design untuk mengetahui perbedaan angka ekspulsi AKDR yang diikat dan tidak diikat yang dipasang saat seksio sesarea di RSUP.Dr.M.Djamil Padang, RST Reksodiwiryo Padang dan RSUD Painan. Tidak terdapat perbedaan yang bermakna antara pemasangan AKDR metode transesarea yang tidak diikat dan diikat (P > 0,05). Persentase ekspulsi yang tidak diikat lebih tinggi 11,4 % dibanding- kan dengan angka ekspulsi yang diikat 0%. Secara statistik tidak didapatkan perbedaan yang bermakna karena didapatkan nilai P > 0,05.Kata Kunci : AKDR, diikat, transesarea
PENGGUNAAN SELAPUT AMNION SEGAR PADA INSISI LUKA OPERASI SEKSIO SESAREA SA, Syahredi; Bachtiar, Hafni
Andalas Obstetrics And Gynecology Journal Vol 1, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/aogj.1.2.41-48.2017

Abstract

Beberapa tahun terakhir angka kejadian seksio sesarea meningkat di dunia, tidak terkecuali Indonesia. Salah satu cara penanganan luka bias adalah melalui dressing biologis maupun sintetik dimana saat ini amnion telah sering digunakan sebagai dressing biologis. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh penggunaan selaput amnion segar pada insisi luka operasi seksio sesarea dibandingkan dengan insisi luka operasi seksio sesarea yang menggunakan kassa yang ditutup dengan perban biasa dan difiksasi dengan plester di RS. Dr. Reksodiwiryo Padang. Penelitian eksperimental dengan rancangan Post test with control group design. Pemilihan sampel dilakukan secara consecutive sampling menggunakan rumus uji beda dua rata-rata didapatkan sampel sebesar 72 orang untuk masing-masing kelompok. Analisis yang digunakan meliputi analisis univariat dan bivariat. Didapatkan rata-rata waktu penyembuhan luka terdapat perbedaan yang sangat bermakna secara statistik (nilai p<0,05) pada kelompok perlakuan dan kontrol. Terdapat perbedaan yang sangat bermakna pada proporsi infeksi lokal pada hari ke-3 antara perlakuan dan kelompok kontrol (p<0,05). Terdapat perbedaan yang sangat bermakna pada proporsi reaksi alergi lokal pada hari ke-3 dan 5 antara kelompok perlakuan dan kelompok kontrol (p<0,05.) Terdapat perbedaan yang bermakna ditinjau dari biaya rawatan per hari antara kelompok perlakuan dan kontrol (p<0,05). Dari penelitian ini rata-rata waktu penyembuhan luka mempunyai perbedaan yang sangat bermakna.Kata Kunci : Selaput Amnion Segar, Luka Operasi Seksio Sesarea, Penyembuhan Luka
TUMOR GANAS OVARIUM RESIDIF METASTASIS KARSINOMA MUSIN KE UMBILIKUS, PERITONEUM, DAN CAIRAN ASITES TANPA DITEMUKAN TANDA KEGANASAN PADA PEMERIKSAAN HISTOPATOLOGIS PASCA OPERATIF SEBELUMNYA Fadillah, Arif; Friadi, Andi
Andalas Obstetrics And Gynecology Journal Vol 3, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/aogj.3.2.82-89.2019

Abstract

Latar Belakang : Tumor ganas ovarium saat ini masih menjadi penyebab kematian nomor satu dan insiden nomor dua terbanyak untuk kasus tumor ganas ginekologi. Prinsip-prinsip penatalaksanaan kanker ovarium adalah sama dengan prinsip penanganan penyakit keganasan lainnya yaitu pengobatan terhadap lesi primer secara operatif dan penanganan tempat potensial metastasis tumor dengan kemoterapi. Pemeriksaan histopatologi sampai saat ini masih dianggap sebagai baku emas untuk diagnosis dan terapi definitif tumor ganas ovarium. Jika didapatkan hasil histopatologi merupakan suatu keganasan maka pasien akan direncanakan untuk menjalani kemoterapi pascaoperatif. Ketidaksesuaian antara gambaran klinis preoperatif, dan intraoperatif, dengan hasil pemeriksaan histopatologis pascaoperatif merupakan suatu masalah dalam mengelola kasus tumor ganas ovarium.Objektif : Melaporkan sebuah kasus karsinoma ovarium residif dengan kesan pemeriksaan histopatologi tidak ditemukan tanda keganasan pascaoperatif sebelumnya.Metode : Laporan kasusKasus : Kami melaporkan kasus seorang wanita usia 45 tahun dengan riwayat dua kali laparatomi sebelumnya. Operasi pertama dilaksanakan bulan Februari tahun 2014 atas indikasi kista ovarium dekstra, didapatkan kesan pemeriksaan histopatologi ?Follicular Cysts?. Operasi kedua dilaksanakan pada bulan Maret tahun 2015, dilakukan surgical staging tumor dengan indikasi curiga tumor ovarium ganas dengan metastasis secara klinis, akan tetapi dari pemeriksaan histopatologi didapatkan kesan ?Cystadenoma Ovarii Muscinosum Multilokulare? dan ?tidak tampak tanda keganasan?, sehingga pasien tidak ditatalaksana dengan kemoterapi pascaoperatif. Pada bulan April 2019 pasien datang dengan keluhan pertumbuhan massa baru, dari pemeriksaan penunjang CT-Scan dan USG didapatkan kesan curiga tumor ovarium residif dengan metastase ke omentum serta asites masif. Pada tanggal 16 Mei 2019 dilakukan optimal debulking dengan temuan residif massa, asites, serta metastasis massa pada peritoneum intra operatif. Dari hasil pemeriksaan histopatologi didapatkan kesan ?Muscinous Carcinoma dengan metastasis ke umblikus, peritoneum, serta cairan asites?Kata Kunci : Tumor ganas ovarium residif, Muscinous carcinoma ovarii
Malformasi Arteriovena Pada Bekas Seksio Sesaria Yusrawati, Yusrawati
Andalas Obstetrics And Gynecology Journal Vol 1, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/aogj.1.2.84-89.2017

Abstract

Malformasi arteriovena uteri / uterine arterio-venous malformation (AVM) merupakan kasus yang jarang yang menyebabkan perdarahan postpartum sekunder. Kelainan ini dapat menyebabkan perdarahan pervaginam yang masif dan tiba-tiba. Walaupun jarang, malformasi arteriovena sekunder dapat terjadi setelah seksio sesaria. Pasien yang mengalami malformasi arteriovena uteri umumnya memiliki gejala menoragia atau metroragia setelah keguguran, operasi uterus termasuk tindakan seksio sesaria, maupun kuretase. Pada kasus yang berat, malformasi ini dapat mengakibatkan dispneu dan gagal jantung. Penatalaksanaan AVM ini dapat berupa embolisasi, pemberian metotreksat hingga histerektomi tergantung kondisi pasien.Dilaporkan sebuah kasus seorang pasien usia 25 tahun dengan diagnosis P2H1, AUB ec AVM. Pasien post SC 6 bulan yang lalu, sejak 5 bulan yang lalu pasien dirawat 8x untuk perbaikan KU dan transfusi darah karena keuhan perdarahan berulang. Dari pemeriksaan diagnostik ditemukan adanya AVM dan dilakukan tindakan histerektomi. Diagnosis AUB pada pasien kurang tepat, seharusnya pasien didiagnosis dengan perdarahan postpartum sekunder. Perdarahan postpartum sekunder pada pasien disebabkan karena malformasi arteriovena uteri yang didapat. Tindakan histerektomi pada kasus ini kurang tepat. Malformasi arteriovena uteri sebaiknya menjadi pertimbangan diagnosis banding pada pasien dengan perdarahan postpartum sekunder.Kata kunci : Malformasi arteriovena, bekas seksio sesaria, AUB
OMPHALOCELE Nafis, Muhammad Johar; Yusrawati, Yusrawati
Andalas Obstetrics And Gynecology Journal Vol 2, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/aogj.2.1.22-26.2018

Abstract

Tujuan: Melaporkan kasus omphaloceleMetode: Laporan kasusHasil: Kasus wanita berusia 24 tahun, dengan diagnosa G1P0A0H0 gravid aterm 37-38 minggu + omphalocele + IUGR. Pada pemeriksaan USG ditemukan biometri janin; BPD : 84 mm, FL : 67 mm, HL: 59 mm, AC : 305 mm, AFI : 8,8 cm, tampak massa menonjol dengan batas tegas pada dinding anterior abdomen. Pemeriksaan USG tersebut memberikan kesan Omphalocele. Analisa kromosom dilakukan dengan teknik G-Banding dengan hasil 46,XY yang berarti bahwa jumlah kromosom adalah 46 buah dengan kromosom seks pasien adalah XY. Tidak tampak kelainan struktur yang mayor. Dimana biasanya kelainan yang terjadi adalah trisomi 13, 18 dan 21 dan dengan Beckwith-Wiedemann Syndrome. Kesimpulan: Omphalocele adalah defek dinding perut pada insersi tali pusat dengan herniasi usus atau isi rongga perut lainnya yang terbungkus dengan selaput/membran. Diagnosis prenatal omphalocele dapat ditegakkan dengan pemeriksaan ultrasonografi.Kata kunci: Omphalocele, diagnosis prenatal
PERBEDAAN RERATA RASIO KALSIUM MAGNESIUM DAN RERATA RASIO NATRIUM KALIUM SERUM Serudji, Joserizal; Helga, Helga; Bachtiar, Hafni
Andalas Obstetrics And Gynecology Journal Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/aogj.1.1.18-24.2017

Abstract

Tingginya angka kejadian preeklamsia dan eklamsia menyebabkan pentingnya untuk detektsi dini terutama kejadian eklamsia yang menimbulkan morbiditas dan mortalitas maternal dan perinatal yang lebih buruk. Etiologi pasti tidak diketahui, namun ada kaitannya dengan perubahan dalam status elektrolit. Elektrolit seperti Kalsium (Ca2+), Magnesium (Mg2+), Natrium (Na+), dan Kalium (K+) memainkan peran penting dalam preeklamsia dan eklamsia karena mereka memberikan kontribusi yang signifikan dalam fungsi otot polos vascular. Penelitian dilakukan untuk menganalisis perbedaan rerata rasio kalsium magnesium dan rerata rasio natrium kalium serum maternal pada PEB dan eklamsia. Penelitian observasional komparatif dengan desain cross sectional pada 16 wanita dengan PEB, dan 16 wanita eklamsia yang memenuhi kriteria inklusi dan tidak terdapat kriteria eksklusi. Subjek penelitian dikumpulkan di RSUP Dr M Djamil Padang, RSUD Solok, dan RSUD Pariaman dari bulan Mei 2015 sampai Januari 2016. Kadar kalsium diperiksa dengan atomic absorption spectrophotometry (AAS), kadar magnesium diperiksa dengan metode enzymatic, kadar natrium dan kalium diperiksa dengan ion selection electrode (ISE). Perbedaan rerata rasio kalsium magnesium dan rasio natrium kalium antara kedua kelompok dianalisis menggunakan uji t independent. Rerata rasio kalsium magnesium pada PEB lebih tinggi secara bermakna dibandingkan eklamsia dan rerata rasio natrium kalium pada PEB lebih rendah secara bermakna dibandingkan eklamsiaKata Kunci: Rasio kalsium magnesium, rasio natrium kalium, preeklamsia berat, eklamsia