cover
Contact Name
Delipiter Lase
Contact Email
-
Phone
+6282113755597
Journal Mail Official
jurnal@sttsundermann.ac.id
Editorial Address
Pendidikan Street No. 19 Gunungsitoli, Sumatera Utara
Location
Kota gunungsitoli,
Sumatera utara
INDONESIA
SUNDERMANN: Jurnal Ilmiah Teologi, Pendidikan, Sains, Humaniora dan Kebudayaan STT BNKP Sundermann
ISSN : 19793588     EISSN : 27158969     DOI : https://doi.org/10.36588/sundermann
Jurnal Sundermaan is a scientific journal that publishes the result of studies and researches in the areas related to theology, Christian education, and socio-culture studies. This journal focused on novelty and innovation in the field of Biblical studies, Christian theology, Educational science, Sociology, and Religious studies. The audiences of this journal are graduate students, academicians, practitioners, and others who are interested in theology, religion, education, social, and cultural issues.
Articles 6 Documents
Analisis Fenomenologi Deskriptif terhadap Panggilan Iman Kristen untuk Kerukunan Antar Umat Beragama di Indonesia Daeli, Dorkas Orienti; Zaluchu, Sonny Eli
Jurnal Sundermann Vol 1 No 1 (2019): Jurnal Sundermann - Desember 2019
Publisher : STT BNKP Sundermann

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (347.05 KB) | DOI: 10.36588/sundermann.v1i1.27

Abstract

Sifat majemuk Indonesia berlangsung di dalam segala sisi. Salah satunya adalah kemajemukan di dalam azas kepercayaan dan keberagaman di dalam menganut agama. Di tengah keberagaman seperti itu, kekristenan dituntut untuk menjelaskan dirinya sebagai terang dan garam dunia kepada penganut agama lain dalam semangat kerukunan dan pluralisme. Tulisan ini menyimpulkan bahwa salah satu kunci utama membangun kerukunan adalah mengembangkan sikap dialogis yang terbuka, jujur dan saling percaya antar-umat beragama. Dialog akan membuka pintu yang tertutup akibat sikap saling curiga dan eksklusifisme. Dalam paper ini juga dijelaskan bahwa kerukunan umat beragama bukanlah pilihan melainkan panggilan di dalam keyakinan kristiani untuk menjadi berkat bagi pemeluk keyakinan lain. Analisis dan pengembangan di dalam tulisan ini dilakukan dengan model fenomenologi deskriptif.
Theology of Mission of Banua Niha Keriso Protestant in the Context of Religious Pluralism in Indonesia: A Critical Analysis Harefa, Oinike Natalia
Jurnal Sundermann Vol 1 No 1 (2019): Jurnal Sundermann - Desember 2019
Publisher : STT BNKP Sundermann

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (364.445 KB) | DOI: 10.36588/sundermann.v1i1.25

Abstract

Banua Niha Keriso Protestan (BNKP) is one of the churches organized by the Western missionaries in Nias, Indonesia. Missionaries sent by Rheinische Missions-Gesellschaft (RMG) since 1865 imparted a theology of mission which emphasized the superiority of Christianity compared to other religions. This kind of mission theology can cause tension and triggered conflict among religions because of the issue of Christianization. Therefore, the primary purpose of this study was to do a critical analysis of the theology of mission of BNKP that is informed by the theology of religion, which addresses the challenge of religious pluralism in Indonesia. This research focused on mission and religions studies. Through historical, sociological, or anthropological studies and content analysis of religions and BNKP, author found four models of mission that is acknowledged by BNKP. The first is a mission as conversion. Here, mission means being a witness of the Gospel to others, so they make a personal decision to believe in Jesus Christ and to be a member of the church. The second is the church-centered mission. The mission is done for the sake of planting and building the church by self-governing, self-propagating, and self-sustaining churches. The third is missio Dei. The mission is understood as God?s mission, and the church is only the instrument of God?s mission. The last is a mission as a holistic mission. In this model, mission means reaching the whole dimension of life including the whole creation.
Hakikat Pelayan Jemaat dari Perspektif Allah Gea, Nurcahaya
Jurnal Sundermann Vol 1 No 1 (2019): Jurnal Sundermann - Desember 2019
Publisher : STT BNKP Sundermann

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (247.544 KB) | DOI: 10.36588/sundermann.v1i1.23

Abstract

Artikel ini ditulis dalam rangka membantu para Pendeta Jemaat menjawab pergumulan mereka oleh karena tuntutan Jemaat terhadap kriteria pendidikan dan kecakapan yang harus mereka miliki, untuk merespons perkembangan zaman. Tuntutan tersebut mendorong para pelayan berusaha memenuhinya dengan menempuh pendidikan atau pelatihan atas usaha sendiri. Namun di sisi lain, hal itu menimbulkan problema baru. Para pelayan semakin kurang mengandalkan kekuatan spiritualitas dalam melayani. Pelayanan semakin berorientasi pada prestasi. Akibatnya tidak sedikit pelayan yang lupa akan hakikat pelayanan. Tingginya biaya untuk mengasah kemampuan dan ketrampilan, yang tidak diimbangi oleh kemampuan Jemaat menanggulangi biaya hidup pelayan, menyebabkan pelayanan pelayan berorientasi pada kepentingan dirinya. Untuk menjawab pergumulan tersebut, penulis menyodorkan perspektif lain tentang hakikat pelayan, dengan menelusuri pengalaman dan pandangan Paulus, melalui kajian literatur, dengan melakukan studi hermeneutik atas 2 Korintus 2:14a. Ayat tersebut mengandung sebuah metafora, yakni tawanan perang, yang digunakan Paulus untuk mengemukakan pembelaannya terhadap kerasulannya, yang sedang mendapat serangan dari pihak luar Jemaat, yang berhasil memprovokasi Jemaat Korintus, sehingga Jemaat itu mulai menilai Paulus berdasarkan tradisi pada waktu itu, yaitu mengandalkan kemampuan manusia. Dengan ukuran itu mereka menganggap Paulus tidak layak sebagai rasul. Menghadapi tuduhan tersebut, Paulus menggambarkan kerasulannya dengan menggunakan metafora tawanan perang yang rela dipermalukan dan digiring ke dalam maut (2 Kor 2:14a) demi kemuliaan sang pemenang yang menawannya. Melalui metafora itu, Paulus mendemonstrasikan pelayanan Yesus, yang rela menyerahkan diriNya ke dalam maut untuk melakukan kehendak BapaNya. Untuk itu Paulus memandang bahwa kemampuannya melayani tidak dengan mengandalkan usaha-usaha manusia, melainkan kemampuan yang semata-mata berasal (keluar) dari Allah saja.
PAK Dewasa Dalam Konteks Dua Dunia: Indonesia dan Negeri Belanda Nieke Kristiana Atmadja
Jurnal Sundermann Vol 1 No 1 (2019): Jurnal Sundermann - Desember 2019
Publisher : STT BNKP Sundermann

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (217.152 KB) | DOI: 10.36588/sundermann.v1i1.20

Abstract

Paper ini hendak menjelaskan bahwa Life-story based Theology merupakan jenis teologi yang mengacu kepada respons pembaca, seperti halnya: Reading the Bible through another eyes; Laity Movement di awal tahun 80-an. Life-story based Theology, menyangkut dua aspek yakni menawarkan alternatif lain di samping metode-metode tafsir historis-kritis, tafsir literair, dan bertujuan untuk mengangkat dan menggiatkan partisipasi pembaca Alkitab, sebagai pemegang peran yang tidak kalah pentingnya dari metode-metode lain. Life-story based Theology memang tampak mudah dan sedikit bisa diparalelkan dengan kesaksian iman yang sudah lama dikenal di jemaat-jemaat. Seseorang warga gereja berdiri di depan dan bercerita mengenai pengalaman imannya. Tetapi perlu menerapkan apa yang diminta oleh Life-story based Theology, yakni teologi Kristen sebagai ungkapan dari iman yang mencari dan menyelidiki makna dari riwayat hidup Tuhan Yesus dengan segala dimensinya. Namun juga mencari makna yang terkait dari bermacam-macam interpretasi dari riwayat Yesus dengan riwayat hidup kita dengan berbagai interpretasinya. Intinya, segala dimensi dari riwayat Yesus dalam kaitan dengan riwayat hidup manusia. Itulah sebabnya, kita dapat mengatakan adanya life story yang didasarkan pada Teologi.
Pendidikan di Era Revolusi Industri 4.0 Lase, Delipiter
Jurnal Sundermann Vol 1 No 1 (2019): Jurnal Sundermann - Desember 2019
Publisher : STT BNKP Sundermann

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (329.093 KB) | DOI: 10.36588/sundermann.v1i1.18

Abstract

Makalah ini bertujuan untuk  menjelaskan perubahan yang harus dilakukan di lembaga pendidikan sehingga sumber daya manusia yang dihasilkan dapat bersaing dan berkontribusi secara global. Melalui kajian literatur dan analisis isi, penulis menjelaskan bahwa pengembangan kurikulum saat ini dan di masa depan harus melengkapi kemampuan siswa dalam dimensi akademik, keterampilan hidup, kemampuan untuk hidup bersama dan berpikir secara kritis dan kreatif. Keterampilan tak kasat mata seperti keterampilan interpersonal, berpikir global, dan literasi media dan informasi. Kurikulum juga harus dapat membentuk siswa dengan penekanan pada bidang STEM, merujuk pada pembelajaran berbasis TIK, internet of things, big data dan komputer, serta kewirausahaan dan magang. Selain guru memiliki kompetensi mengajar dan mendidik, literasi media, competence in globalization, competence in future strategies, dan konseling, juga perlu memiliki sikap ramah teknologi, kolaborasi, menjadi kreatif dan mengambil risiko, memiliki selera humor yang baik, serta mengajar secara holistik. Sekolah dan guru perlu mempertimbangkan pembelajaran terbuka dan daring dalam memutuskan bagaimana menyelenggarakan pendidikan dan pembelajaran.
Kaum Milenial & Kebudayaan Nias Telaumbanua, Tuhoni
Jurnal Sundermann Vol 1 No 1 (2019): Jurnal Sundermann - Desember 2019
Publisher : STT BNKP Sundermann

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (300.866 KB) | DOI: 10.36588/sundermann.v1i1.19

Abstract

This article is intended to explicate how to assist the millennial generation of Ono Niha not to be uprooted from the Nias identity amid globalization and encourage them to participate in preserving Niasan culture. Through the social-historical analysis, this article appeals to the millennial generation not to be alienated from their own culture but participate in cultural conservation. Therefore, it is crucial to conduct a dialogue with millennials by presenting their origins, strengthening the family as a cultural home. Through formal education, the young generation is educated to recognize their cultural values and local wisdom as cultural heritage. Empowering them as subjects and objects of culture is one of the practices to understand local wisdom in the context of Nias. Moreover, increasing institutional roles in preserving various cultural elements are part of the way to increase the interest of millennial to learn their existence, identity, and culture.

Page 1 of 1 | Total Record : 6