cover
Contact Name
Azwinur
Contact Email
welding@pnl.ac.id
Phone
+628126930456
Journal Mail Official
welding@pnl.ac.id
Editorial Address
Jl. Banda Aceh-Medan Km. 280,3, Buketrata, Mesjid Punteut, Blang Mangat, Kota Lhokseumawe, 24301
Location
Kota lhokseumawe,
Aceh
INDONESIA
Journal of Welding Technology
ISSN : 27161471     EISSN : 27160475     DOI : -
The main scope of the journal is to publish original research articles in the area of Welding Technology The main focus of the journal is on experimental research. The scope of the journal includes;
Articles 10 Documents
Analisa Pengaruh Kuat Arus Pengelasan Gmaw Pada Pengujian Impak Baja AISI 1050 Fakri, Zainal; Bukhari, Bukhari; Juhan, Nawawi
Journal of Welding Technology Vol 1, No 1 (2019): Juni
Publisher : Politeknik Negeri Lhokseumawe

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (694.018 KB)

Abstract

GMAW welding is a welding process that uses CO2  gas as a weld metal protective media from the influence of outside air. This welding uses a heat source from electrical energy that is converted or converted into heat energy. While the AISI 1050 steel plate is steel which has a carbon content of 0.50% so it is classified as medium carbon steel. This steel is widely used in the market because it has many advantages, one of which is having good weldability (machinability), good wear resistance (wear) and good mechanical properties as well. This study aims to determine the shock strength (impact) on the results of welding using the charpy method in the GMAW welding process against AISI 1050 steel with seam 70 ° V angle. Current variations used in this welding process are 100, 120 and 140 Amperes. From the tests that have been done, it is known that the highest shock strength (impact) at 100 Amperes current produces a toughness value of 2.36 joules / mm². While the lowest impact test results at a current of 120 Amperes produce a toughness value of 2.02 joules / mm². The results of the fracture form after the impact testing process show that the specimen at 100 Amperes current has a ductile fracture. While at currents of 120 and 140 Amperes the mixture is broken.. Keywords :  GMAW Welding, Impact Testing, Tough Value, Impack Test AbstrakPengelasan GMAW adalah suatu proses pengelasan yang menggunakan gas  sebagai media pelindung weld metal dari pengaruh udara luar. Pengelasan ini menggunakan sumber panas dari energi listrik yang dirubah atau dikonversikan menjadi energi panas. Sementara plat baja AISI 1050 merupakan baja yang memiliki kadar karbon 0.50% sehingga tergolong dalam baja karbon sedang. Baja ini banyak digunakan di pasaran karena memiliki banyak keunggulan salah satunya adalah mempunyai sifat mampu las yang baik (machinability), wear resistance-nya (keausan) baik dan sifat mekaniknya yang baik juga. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kekuatan kejut (impak) pada hasil pengelasan dengan menggunakan metode charpy pada proses las GMAW terhadap baja AISI 1050 dengan kampuh V sudut 70º. Variasi arus yang digunakan  dalam proses pengelasan ini yaitu 100, 120 dan 140 Ampere. Dari pengujian yang telah dilakukan, diketahui bahwa kekuatan kejut (impak) tertinggi pada  arus 100 Ampere menghasilkan nilai ketangguhan sebesar 2.36 joule/mm². Sementara hasil pengujian impak terendah pada arus 120 Ampere menghasilkan nilai ketangguhan sebesar 2.02 joule/mm². Hasil bentuk patahan setelah proses pengujian impak menunjukkan benda uji pada arus 100 Ampere mengalami patah ulet. Sementara pada arus 120 dan 140 Ampere mengalami patah campuran.Kata Kunci: Pengelasan GMAW,  Pengujian Impak, Nilai Ketangguhan, Uji Impack
Pengaruh PWHT terhadap struktur mikro pada lasan pipa baja ASTM A106 grade B Sawaldi, Andripa; Al Fathier, Al Fathier; Ibrahim, Akhyar
Journal of Welding Technology Vol 1, No 2 (2019): Desember
Publisher : Politeknik Negeri Lhokseumawe

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (801 KB)

Abstract

AbstrakPada saat dilakukan pengelasan, suatu material (terutama carbon steel) akan mengalami perubahan struktur mikro karena terjadinya proses pemanasan dan pendinginan. Perubahan struktur yang menjadi tidak homogen inilah yang menyebabkan terjadinya tegangan sisa pada material pasca pengelasan. Dampak dari tegangan sisa ini material akan menjadi lebih keras akan tetapi ketangguhannya kecil. Ini tentu sifat yang tidak diharapkan. Oleh sebab itu, material harus dikembalikan ke sifat semula dengan cara pemanasan dengan suhu dan tempo waktu (holding time) tertentu. Post weld heat treatment (PWHT) merupakan proses perlakuan panas ulang (reheating) yang dilakukan pada hasil pengelasan suatu komponen. Pemanasan ini dilakukan hingga mencapai temperatur di bawah temperatur transformasi dengan laju pemanasan yang terkontrol dan juga dilakukan penahanan pada temperatur tersebut pada waktu tertentu kemudian laju pendinginan yang terkontrol. Tujuan utama dilakukan Post weld heat treatment adalah untuk menghilangkan tegangan sisa yang terjadi pada hasil pengelasan. Metode eksperimen yang dilakukan adalah melihat struktur mikro dari variasi temperatur PWHT 300°C, 500°C, 700°C  dengan lama waktu penahan 45 menit menggunakan material pipa baja ASTM A106 Grade B yaitu pipa baja cardon sedang. Pada tanpa perlakuan PWHT memiki struktur mikro yang kasar, pada saat temperatur 300°C struktur ferit dan perlite mengalami perubahan menjadi halus, pada temperatur 500°C struktur ferit lebih dominan dari pada perlit, pada temperatur 700°C struktur perlit dan ferit berubah menjadi halus tetapi tidak sehalus pada saat tanpa PWHT.Kata kunci: Pengelasan SMAW, PWHT, MetalografiAbstractWhen welding, a material (especially carbon steel) will experience changes in the micro structure due to the heating and cooling process. It is this change in structure which becomes homogeneous that causes residual stress in the post-welding material. The impact of this residual stress material will be harder but its toughness is small. This is certainly an unexpected trait. Therefore, the material must be returned to its original nature by heating with a certain temperature and tempo of time (holding time). Post weld heat treatment (PWHT) is a reheating process carried out on the welding results of a component. This heating is carried out until it reaches a temperature below the transformation temperature with a controlled heating rate and also held at that temperature at a certain time then the controlled cooling rate. The main purpose of the Post weld heat treatment is to eliminate residual stresses that occur in the welding results. The experimental method used is to look at the microstructure of PWHT temperature variations of 300 ° C, 500 ° C, 700 ° C with 45 minutes holding time using ASTM A106 Grade B steel pipe material which is a medium cardon steel pipe. In the absence of PWHT treatment, the microstructure is rough, at a temperature of 300 ° C the structure of ferrite and perlite changes smoothly, at a temperature of 500 ° C the structure of ferrite is more dominant than pearlite, at a temperature of 700 ° C the structure of the pearlite and ferrite changes to become smooth but not as smooth as without PWHT.Keywords: SMAW Welding Process, PWHT, Metallography
Pengaruh jenis kampuh terhadap ketangguhan sambungan pengelasan material St37 dengan AISI 1050 menggunakan proses SMAW Siddiq, Muhammad; Nurdin, Nurdin; Amalia, Ismi
Journal of Welding Technology Vol 1, No 1 (2019): Juni
Publisher : Politeknik Negeri Lhokseumawe

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (526.939 KB)

Abstract

The strength of the material joints is one of the expected goals of the material joints process using the welding process. This study aims to determine the effect of welding groove on the toughness of the welded joints in the SMAW welding process by using E7016 electrodes. This research uses St37 and AISI 1050 steel materials, St37 including low carbon steel and Aisi 1050 including medium carbon steel. The material is given a welding treatment with a variation of single V groove, single tire, and double tire using reverse DC polarity SMAW welding, the welding position used is horizontal or underhanded and the current used is 100 Amperes. The welding specimens were tested by the charpy method to determine the value of the material joints toughness. The Charpy Method Impact test results show that specimens of single V groove, single tapered, and Double tapered have varying absorbed energy values. Single V groove has the highest absorbed energy value with an average value of 256 Joules and 3.21 Joules / mm2, compared to single tapered and double tapered groove. The type of fracture obtained is also different, for specimen V groove and a single tapered duct fracture while double tapered groove occurs brittle fracture.Keywords: Groove, SMAW, Toughness, E7016, St37 steel and AISI 1050AbstrakKekuatan sambungan material merupakan salah satu tujuan yang diharapkan dari proses penyambungan material menggunakan proses pengelasan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kampuh pengelasan terhadap ketangguhan sambungan las pada proses las SMAW dengan menggunakan elektroda E7016. Penelitian ini menggunakan material baja St37 dan AISI 1050, St37 termasuk baja karbon rendah dan Aisi 1050 termasuk baja karbon sedang. Bahan diberi perlakuan pengelasan dengan variasi kampuh V tunggal, Tirus tunggal, dan Tirus ganda dengan menggunakan las SMAW DC polaritas terbalik, posisi pengelasan yang digunakan adalah mendatar atau bawah tangan dan arus yang digunakan adalah 100 Ampere. Spesimen pengelasan dilakukan pengujian impak metode charpy untuk mengetahui nilai ketangguhan sambungan material.  Hasil pengujian Impak Metode charpy menunjukkan bahwa spesimen kampuh V tunggal, tirus tunggal, dan tirus Ganda memiliki nilai energi yang diserap bervariasi. Kampuh V tunggal mempunyai nilai energi yang diserap tertinggi dengan nilai rata-ratanya sebesar  256 Joule dan 3,21 Joule/mm2, dibandingkan dengan kampuh tirus tunggal dan tirus ganda. Jenis perpatahan yang didapat juga berbeda, untuk spesimen kampuh V dan tirus tunggal terjadi patah ulet sedangkan kampuh tirus ganda terjadi patah getas.Kata kunci : Kampuh, SMAW, Ketangguhan, E7016, baja St37 dan AISI 1050
Studi eksperimental kekuatan tarik dan kekerasan pada sambungan pipa ASTM A 106 Grade B dengan pengelasan SMAW Rinaldi, Rio; Usman, Ramli; Al Fathier, Al Fathier
Journal of Welding Technology Vol 1, No 2 (2019): Desember
Publisher : Politeknik Negeri Lhokseumawe

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (433.855 KB)

Abstract

AbstrakKekuatan sambungan las sangat berpengaruh terhadap mutu dari sambungan las dan syarat dari sebuat konstruksi yang standar apalagi kontruksi tersebut dilingkungan industry migas seperti piping. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kekuatan sambungan las pipa ASTM A 106 Grade B mengunakan proses pengelasan SMAW menggunakan arus 80 A . Elektroda yang digunakan adalah E 6010 dan E 7018, kampuh yang digunakan adalah kampuh v dengan sudut 35 derajat. Pengujian yang dilakukan adalah pengujian tarik dan Kekerasan.. Dari hasil penelitian maka di dapat nilai rata rata Kekuatan tegangan tarik senilai 41,83 kgf/mm2 dan untuk nilai rata rata  kekuatan regangan tarik (kgf/mm2) senilai 8,25%. Hasil rata rata dari setiap titik pengujian kekerasan, Nilai rata ?rata  base metal I senilai 61,12 HRC, HAZ I senilai 54,37 HRC, Weld senilai 61,62 HRC, HAZ II senilai 54,12 HRC dan base metal II senilai 59,35 HRC.. Kata kunci : SMAW, Elektroda, Kekuatan tarik, Kekerasan AbstractThe strength of the welded joints greatly influences the quality of the welded joints and the requirements of a standard construction let alone the construction of the oil and gas industry environment such as piping. This study aims to determine the strength of ASTM A 106 Grade B pipe joint connections using the SMAW welding process using 80 A currents. The electrodes used are E 6010 and E 7018, the seam used is the v seam with an angle of 35 degrees. Tests carried out are tensile and hardness testing. From the results of the study, the average value of tensile stress strength is 41.83 kgf / mm2 and for the average tensile strain strength value (kgf / mm2) is 8.25%. The average results from each point of hardness testing, the average value of base metal I worth 61.12 HRC, HAZ I worth 54.37 HRC, Weld worth 61.62 HRC, HAZ II worth 54.12 HRC and base metal II worth 59 , 35 HRC ..Keywords: SMAW, Electrodes, Tensile Strength, Hardness
Pengaruh interpass temperatur terhadap sifat mekanik proses pengelasan SMAW material carbon steel SS400 Muqsalmina, Muqsalmina; Syukran, Syukran; Hanif, Hanif
Journal of Welding Technology Vol 1, No 1 (2019): Juni
Publisher : Politeknik Negeri Lhokseumawe

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (529.971 KB)

Abstract

Welding is the process of joints metals by melting through heating. Interpass temperature can influence the rapid slowing of the cooling rate and also determine the percentage of accicular ferrite formation, the slower cooling rate will form more accicular ferrite. Accicular ferrite is a structure that is expected from every welding process because it has more resilient properties. This study aims to determine the effect of temperature interpas on the mechanical properties of the welding process SMAW SS400 carbon steel material. Welding specimens were given variations in interpas temperature treatment namely 100oC, 150oC, and 200oC. The results showed that interpas temperature variation could affect the tensile strength value of welded material. The voltage value on the 100oC interpas specimen is 38.26 Kgf / mm2. The value of the stress in the 150oC interpas specimen is 39.09 Kgf / mm2. The value of the stress in the 200oC specimen is 37.37 Kgf / mm2. The value of the stress without treatment is 32.21 Kgf / mm2. Keywords: Welding, SS400 Carbon Steel, Tensile Test, Interpass TemperatureAbstrak Pengelasan merupakan proses penyambungan logam dengan cara pencairan melalui pemanasan. Interpass temperatur dapat mempengaruhi cepat lambatnya laju pendinginan dan turut menentukan prosentasi terbentuknya accicular ferrite, laju pendinginan lebih lambat akan terbentuk accicular ferrite yang lebih banyak. Accicular ferrite ini merupakan struktur yang diharapkan dari setiap proses pengelasan karena memiliki properties yang lebih tangguh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh interpas temperatur terhadap sifat mekanik proses pengelasan SMAW material carbon steel SS400. Spesimen pengelasan diberi variasi perlakuan temperatur interpas yakni 100oC, 150oC, dan 200oC. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variasi temperatur interpas dapat mempengaruhi nilai kekuatan tarik suatu material hasil lasan. Nilai tegangan pada spesimen interpas 100oC adalah sebesar 38,26 Kgf/mm2. Nilai tegangan pada spesimen interpas 150oC adalah sebesar 39,09 Kgf/mm2. Nilai tegangan pada spesimen 200oC adalah sebesar 37,37 Kgf/mm2.Nilai tegangan tanpa perlakuan adalah sebesar 32,21 Kgf/mm2.Kata Kunci : Pengelasan, Carbon Steel SS400, Uji Tarik, Temperatur Interpass
Analisa pengaruh jenis elektroda pada pengelasan SMAW penyambungan baja karbon rendah dengan baja karbon sedang terhadap tensile strenght Wahyudi, Rizki; Nurdin, Nurdin; Saifuddin, Saifuddin
Journal of Welding Technology Vol 1, No 2 (2019): Desember
Publisher : Politeknik Negeri Lhokseumawe

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (504.969 KB)

Abstract

Abstrak Pengelasan merupakan proses penyambungan dua buah logam khususnya baja untuk menghasilkan sebuah kontruksi mesin dilaksanakan dalam keadaan lumer atau cair. Baja mempuyai jenis dan spesifikasi yang beragam tidak semua mempuyai sifat mampu las yang baik. Elektroda yang digunakan pada pengelasan SMAW mempunyai perbedaan komposisi selaput maupun kawat Inti. kuat arus dan komposisi kimia ini dapat mempengaruhi sifat mekanik pada sambungan material hasil pengelasan yang berdampak pada kekuatan dan ketangguhan sambungan pengelasan. Pemilihan elektroda yang tepat akan menghasilkan hasil pengelasan yang baik dan sempuran oleh karena itu pemilihan jenis elektroda sangat penting sebelum melakukan proses pengelasan. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh jenis elektroda terhadap kekuatan tarik pengelasan material ASTM A36 dengan AISI 1050 menggunakan proses pengelasan SMAW. Material ASTM A36 dengan AISI 1050 diberi perlakuan pengelasan dengan variasi jenis elektroda yaitu E7016, E7018 dan E7016 + E7018 . Dari hasil penelitian maka dapat dijelaskan bahwa jenis elektroda berpengaruh terhadap kekuatan tarik material dimana nilai kekuatan tarik yang paling tinggi terdapat pada jenis elektroda E7016 + E7018 yaitu sebesar 55.06 kgf/mm2  selanjutnya diikuti oleh elektroda E7016 yaitu sebesar 54.29 kgf/mm2 dan terakhir dengan nilai terendah menggunakan elektroda E7018 yaitu sebesar 51.81 kgf/mm2. Kata kunci :  SMAW, Elektroda, Kekuatan tarik, Material ASTM A36, AISI 1050AbstractWelding is the process of connecting two metals, especially steel to produce a construction machine carried out in a melted or liquid state. Not all types of steel have various specifications and specifications. They have good weldability. The electrodes used in SMAW welding have different compositions of membranes and core wires. current strength and chemical composition can affect the mechanical properties of the welded material joints which have an impact on the strength and toughness of the welding joints. The selection of the right electrode will produce good welding results and therefore the choice of electrode type is very important before making the welding process. The purpose of this study was to determine the effect of electrode type on the tensile strength of ASTM A36 material welding with AISI 1050 using the SMAW welding process. ASTM A36 materials with AISI 1050 were treated with various types of electrodes, namely E7016, E7018 and E7016 + E7018. From the results of the study it can be explained that the type of electrode influences the tensile strength of the material where the highest tensile strength value is found in the type of electrode E7016 + E7018 which is 55.06 kgf / mm2 and then followed by E7016 electrode which is 54.29 kgf / mm2 and finally the lowest value using E7018 electrodes that is equal to 51.81 kgf / mm2.Keywords: SMAW, Electrodes, Tensile Strength, ASTM A36 Material, AISI 1050
Pengaruh variasi arus pengelasan GTAW terhadap sifat mekanik material St 37 Rirismaranggi S, Rirismaranggi S; Syamsuar, Syamsuar; Sumardi, Sumardi
Journal of Welding Technology Vol 1, No 1 (2019): Juni
Publisher : Politeknik Negeri Lhokseumawe

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (425.354 KB)

Abstract

In the joints process by using welding many stages must be considered to get optimal results, starting from the design stage to the processing stage. Stages of design that starts from the selection of welding types to the selection of the seam angle used. Whereas at the processing stage, the appropriate current strength will be chosen up to the working position. The purpose of this study was to determine the effect of welding currents on the mechanical strength of St 37 steel on GTAW welding. In this study the material used was St 37 and the protective gas used was argon gas and the current variation used was 70 A, 75 A and 80 A. After conducting the research, the welding of GTAW on the St 37 material with current variations affected the tensile strength values , violence and stretches that occur after welding. The results obtained are 80 A welding current has the highest tensile strength and hardness compared to 75 A and 70 A which has the lowest tensile strength and hardness, while the highest strain occurs at 80A current of 10.59%, followed by 75A current with a value of stretch which occurred by 8.6% and the lowest in the current 70 A is 2.96%.Keywords: GTAW, welding current, tensile strength, hardnessAbstrak Pada proses penyambungan dengan menggunakan pengelasan banyak tahapan yang harus diperhatikan untuk mendapatkan hasil yang optimal, mulai dari tahapan desain sampai tahapan pengerjaan. Tahapan desain yang dimulai dari pemilihan jenis pengelasan sampai pada pemilihan sudut kampuh yang digunakan. Sedangkan pada tahapan pengerjaan akan dipilih kuat arus yang sesuai sampai pada posisi pengerjaan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh arus pengelasan terhadap kekuatan mekanik baja St 37 pada pengelasan GTAW. Pada penelitian ini material yang digunakan adalah St 37 dan gas pelindung yang digunakan adalah gas argon serta variasi arus yang digunakan adalah 70 A, 75 A dan 80 A. Setelah dilakukan penelitian, maka pengelasan GTAW pada material St 37 dengan variasi arus mempengaruhi nilai kekuatan tarik, kekerasan dan rengangan yang terjadi setelah pengelasan. Hasil yang didapat adalah arus pengelasan 80 A memiliki kekuatan tarik dan kekerasan yang tertinggi dibandingkan dengan 75 A dan 70 A yang memiliki kekuatan tarik dan kekerasan terendah, sedangkan rengangan yang tertinggi terjadi pada arus 80A sebesar 10.59%, selanjutnya diikuti oleh arus 75A dengan nilai rengangan yang terjadi sebesar 8.6% dan yang terendah pada arus 70 A yaitus sebesar 2.96%. Kata kunci :  GTAW, arus pengelasan, kekuatan tarik, kekerasan
Analisa Pengaruh Variasi Media Pendingin Terhadap Kekuatan Mekanik Pada Hasil Pengelasan Metode Smaw Material Baja St 52 ZULKIFLI, ZULKIFLI; Dahlan, Basri; Fatimah, Nurul
Journal of Welding Technology Vol 1, No 2 (2019): Desember
Publisher : Politeknik Negeri Lhokseumawe

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (419.941 KB)

Abstract

AbstrakBeberapa tahun terakhr ini perkembangan teknologi di bidang manufaktur berkembang pesat, salah satunya pada konstruksi alat berat. Konstruksi excavator pada bagian atasnya mampu berputar (swing) 360º, yang mana part boom termasuk salah satu bagian yang melakukan swing dan  bekerja dengan keras karena mengangkat beban sehingga dalam proses pembuatan cylinder boom dilakukan pengelasan. Salah satu metode pengelasan yang banyak dilakukan adalah proses pengelasan SMAW (Shield Metal Arc Welding) yang juga  disebut Las Busur Listrik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa pengaruh variasi media pendingin terhadap hasil uji tarik pada hasil pengelasan material baja ST52. Penelitian ini menggunakan material ST52. Material di beri pelakuan las single vee joint, dimana pada saat selesai pengelasan material direndam dalam media pendingin oli bekas, collant engine, dan collant bubut selama 30 menit. Setelah itu material dibentuk sesuai standar ASTM E8/E8M-11 untuk dilakukan pengujian tarik.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil pengujian tarik pada spesimen dengan media pendingin oli bekas memiliki nilai kekuatan tarik yang paling besar yaitu sebesar 48,3 Kgf/mm2 dengan nilai elongasi yang kecil yaitu 6,4% , sedangkan media pendingin yang menghasilkan nilai terendah yaitu pada collant bubut sebesar 45,49 Kgf/mm2 dengan nilai elongasi yang besar yaitu sebesar 9,61% .Kata kunci :  pengelasan, kekuatan tarik, media pendingin, ST52, SMAWAbstrackIn the last few years, the development of technology in manufacturing has grown rapidly, one of which is the construction of heavy equipment. Excavator construction at the top is able to rotate (swing) 360º, where the boom part is one of the parts that do the swing and work hard because it lifts the load so that in the process of making the cylinder boom welding is carried out. One welding method that is mostly done is the welding process of SMAW (Shield Metal Arc Welding) which is also called Electric Arc Welding. This study aims to analyze the effect of cooling media variations on the results of tensile tests on the welding results of ST52 steel material. This research uses ST52 material. The material is given a single vee joint welding, where when finished welding the material is immersed in a used oil cooler, collant engine, and collant lathe for 30 minutes. After that the material is formed according to ASTM E8 / E8M-11 standards for tensile testing. The results showed that the tensile test results on specimens with used oil coolant media had the greatest tensile strength values of 48.3 Kgf / mm2 with a small elongation value of 6.4%, while the cooling media which produced the lowest value was in the collant lathe of 45.49 Kgf / mm2 with a large elongation value of 9.61%.Keywords: welding, tensile strength, cooling media, ST52, SMAW.
Analisa kekuatan sambungan material AISI 1050 dengan ASTM A36 dengan variasi arus pada proses pengelasan SMAW Aditia, Aditia; Nurdin, Nurdin; Ismy, Adi Saputra
Journal of Welding Technology Vol 1, No 1 (2019): Juni
Publisher : Politeknik Negeri Lhokseumawe

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (482.053 KB)

Abstract

Metal joining is a process carried out to connect 2 or more metal parts of a similar or dissimilar metal. Connection strength is the goal of the process of connecting metals or materials. SMAW welding is a process of connecting metals or materials using heat energy. The purpose of this study was to determine the effect of welding currents on the tensile strength of AISI 1050 and ASTM A36 material links. In this study, test data show that in the welding process using 120A current the tensile strength value is 51.27 kgf / mm2, followed by welding using a current of 140A with 49.31 kgf / mm2, and welding using a current 160A 48.25 kgf / mm2. In tensile testing of welding current variations with currents 120A, 140A, and 160A, all fractures approach the welded joint. From the test data it can be concluded that the current affects the tensile strength of the material which the process is affected by arc voltage, current magnitude, welding speed, magnitude of penetration and electric polarity. Determination of the amount of current in connecting metals using arc welding affects the efficiency of the welding results.Keywords: SMAW Welding, Tensile Testing, AISI 1050 Steel and ASTM A36                                                          AbstrakPenyambungan logam adalah suatu proses yang dilakukan untuk menyambung 2 bagian logam atau lebih baik logam yang sejenis maupun tidak sejenis. Kekuatan sambungan merupakan tujuan dari proses penyambungan logam atau material. Pengelasan SMAW merupakan suatu proses penyambungan logam atau material dengan menggunakan energi panas. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh arus pengelasan terhadap kekuatan tarik pada sambunagn material AISI 1050 dan ASTM A36. Pada penelitian ini, Data pengujian menunjukkan bahwa pada proses pengelasan menggunakan arus 120A nilai kekuatan tarik adalah  sebesar 51,27  kgf/mm2, di ikuti oleh pengelasan menggunakan arus 140A dengan 49,31 kgf/mm2, dan pengelasan menggunakan arus 160A 48,25 kgf/mm2. Dalam pengujian tarik variasi arus pengelasan  dengan arus 120A, 140A, dan 160A, semua patah mendekati sambungan las. Dari data uji tersebut dapat disimpulkan bahwa arus berpengaruh terhadap kekuatan tarik material yang proses tersebut dipengaruhi oleh tegangan busur, besar arus, kecepatan pengelasan, besarnya penembusan dan polaritas listrik.Penentuan besarnya arus dalam penyambungan logam menggunakan las busur mempengaruhi efisiensi dari hasil pengelasan.Kata kunci: Pengelasan SMAW, Pengujian tarik, Baja AISI 1050 dan ASTM A36   
Analisa pengaruh variasi kampuh las terhadap ketangguhan material baja AISI 1050 Iqbal, Maulana; Ibrahim, Akhyar; Azwinur, Azwinur
Journal of Welding Technology Vol 1, No 2 (2019): Desember
Publisher : Politeknik Negeri Lhokseumawe

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (679.742 KB)

Abstract

AbstrakPengelasan SMAW adalah sebuah proses penyambungan logam yang menggunakan energi panas umtuk mencairkan benda kerja dan elektroda. Sementara plat baja AISI 1050 merupakan baja yang memiliki kadar karbon 0.50% sehingga tergolong dalam baja karbon sedang. Baja ini banyak digunakan di pasaran karena memiliki banyak keunggulan salah satunya adalah sebagai komponen otomotif. Baja ini memiliki karakteristik sifat mampu mesin yang baik (machinability), wear resistance-nya (keausan) baik dan sifat mekaniknya menengah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kekuatan kejut (Impact) dengan menggunakan metode charpy dan kekuetan (Hardness) terhadap hasil pengelasan SMAW pada baja AISI 1050 dengan variasi kampuh V Groove, Bevel Groove dan Double V Groove. Pada sampel pengujian di daerah Weld Metal, Weld Root, HAZ dan Base Metal. Dan arus yang digunakan 100 Ampere. Dari pengujian yang telah dilakukan, diketahui bahwa kekuatan kejut (Impact) tertinggi pada kampuh V memiliki nilai tertinggi terdapat pada Weld Metal yaitu sebesar 1,65 Joule/mm2, kampuh Bevel memiliki nilai tertinggi pada Weld Root yaitu sebesar 1,78 Joule/mm2 dan kampuh Double V memiliki nilai tertinggi pada HAZ yaitu sebesar 1,48 Joule/mm2. Kampuh V dan kampuh Double V memiliki nilai tertinggi terdapat pada HAZ yaitu sebesar 86,5 HRC, kampuh Bevel memiliki nilai tertinggi pada Base Metal yaitu sebesar 81 HRC. Sedangkan nilai kekerasan terendah terdapat pada kampuh Bevel di daerah pengujian Weld Root yaitu sebesar 56,67 HRC. Dan dari ke 3 jenis kampuh pada daerah Weld Metal memiliki nilai kekerasan yang sama yaitu 76,5 HRC. Untuk kampuh V dan kampuh Double V memiliki nilai yang sama pada semua daerah pengujian. Kata kunci :  SMAW, Weld Metal, Weld Root, HAZ, Kampuh V, Double V. AbstractSMAW welding is a metal joining process that uses heat energy to melt the workpiece and electrodes. While the AISI 1050 steel plate is steel which has a carbon content of 0.50% so it is classified as medium carbon steel. This steel is widely used in the market because it has many advantages, one of which is as an automotive component. This steel has characteristics of good machinability, good wear resistance and medium mechanical properties. This study aims to determine the strength of the shock (Impact) using the charpy method and the strength (Hardness) on the results of SMAW welding on AISI 1050 steel with a variation of seam V Groove, Bevel Groove and Double V Groove. In the test sample in the area of Weld Metal, Weld Root, HAZ and Base Metal. And the current used is 100 Amperes. From the tests that have been done, it is known that the highest shock strength (Impact) in Kampung V has the highest value found in Weld Metal which is 1.65 Joules / mm2, Bevel Camp has the highest value in Weld Root that is 1.78 Joules / mm2 and Double V seam has the highest value on the HAZ of 1.48 Joules / mm2. Kampung V and Kampung Double V have the highest value found in the HAZ that is 86.5 HRC, Bevel Village has the highest value in Base Metal which is 81 HRC. While the lowest value of violence is in the Bevel camp in the Weld Root testing area, which is 56.67 HRC. And of the 3 types of camps in the Weld Metal area have the same violence value of 76.5 HRC. For seam V and seam Double V have the same value in all test areas. Keywords: SMAW, Weld Metal, Weld Root, HAZ, Kampung V, Double V.

Page 1 of 1 | Total Record : 10