cover
Contact Name
M Dian Hikmawan
Contact Email
demos.ijd@gmail.com
Phone
+6281284963876
Journal Mail Official
demos.ijd@gmail.com
Editorial Address
Jl. Raya Serang-Pandeglang KM. 5 Pandeglang, Banten
Location
Kab. pandeglang,
Banten
INDONESIA
International Journal of Demos
Published by HK-Publishing
ISSN : -     EISSN : 27210642     DOI : 10.31506/ijd
International Journal of Demos (IJD) is an open access, and peer-reviewed journal. IJD try to disseminate current and original articles from researchers and practitioners on various contemporary social and political issues: citizenship, civil society movement, environmental issues, gender politics and identity, digital society and disruption, urban politics, community welfare, social development, public management, public policy innovation, international politics & security, media, information & literacy, politics, governance, human rights & democracy, radicalism, and terrorism. Publish three times in a year i.e. April, August, and December. IJD Invites researcher, academician, practitioners, and public to submit their critical writings and to contribute to the development of social and political sciences
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Volume 1 Issue 3, December 2019" : 7 Documents clear
TRANSFORMING GOVERNANCE DI KOTA YOGYAKARTA aisyahh, ica naisyahtul; Priyono, Eko; Salsabila, Lubna
ijd-demos Volume 1 Issue 3, December 2019
Publisher : HK-Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1188.948 KB) | DOI: 10.31506/ijd.v1i3.24

Abstract

Pemerintah Daerah kota Yogyakrata telah menyediakan berbagai aplikasi smart city guna untuk membantu masyarakat dan lemabaga pemerintah untuk mempermudah menajalankan tugasnya. Dengan adanya beberapa aplikasi ini dapat merubah tata kelola pemerintahan Yogyakarta dengan mudah. Sehingga pemerintah Kota Yogyakarta menggunakan beberapa aplikasi smart city tersebut untuk mempermudah pelayanan public. Penelitian ini bertujuan menganalisis dan menggambarkan keadaan pelayanan public yang mengguakan aplikasi smart city di daerah Yogyakarta. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian menunjukan beberapa aplikasi smart city yang di gunakan di Yogyakarta salah satunya adalah ?jogja smart service? dan sebagainya. Pemanfatan  Pelayanan public yang di lakukan elalui aplkasi ini sangat membantu masyarakat dan pemerintah kota Yogyakarta agar menjadi kota pintar.The Regional Government of Yogyakrata City has provided various smart city applications to help the community and government institutions to facilitate their tasks. With the existence of a number of these applications, Yogyakarta can easily change governance. So that the city of Yogyakarta uses several smart city applications to facilitate public services. This study aims to analyze and describe the state of public services that use smart city applications in the Yogyakarta area. This research uses qualitative methods. The results showed several smart city applications that are used in Yogyakarta, one of which is "jogja smart service" and so on. Utilization of public services that are done through this application really helps the people and the city of Yogyakarta to become smart cities. Abstract should only be typed in one paragraph and one-column format.
DEMOKRASI BUKAN UNTUK PKI: PENGEKLUSIAN HAK-HAK POLITIK KAUM KOMUNIS PASCA REFORMASI DI INDONESIA Zuhdan, Muhammad
ijd-demos Volume 1 Issue 3, December 2019
Publisher : HK-Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (266.864 KB) | DOI: 10.31506/ijd.v1i3.29

Abstract

This study wants to review the exclusion of the political rights of communist-leaning community groups to exercise their political rights in Indonesia. Political rights agreed here start from the agreed right, the right to organize, until the right to hold an election to take part in the general election. The author's thesis says that the 15 years of Reformation failed in Indonesia because there was still the exclusion of the political rights of people accused of being PKI henchmen in democratic life in Indonesia. The purpose of this paper in academia is to erase the participation of the inclusion and exclusion discourse of ex-PKI political prisoners joining the political and governance system in Indonesia. Another aim was to advocate for the exclusion of the political rights of groups or people accused of being PKI henchmen. The focus of this paper is to analyze the practice and forms of exclusion of the political rights of the Pki ex-politics and to save in socio-political life in Indonesia. After reading this paper, it will discuss the democratic ironism that developed in Indonesia after the 1998 Reformation because it still opens opportunities for exclusion of the political rights of a minority group. Penelitian ini ingin mengulas pengeklusian hak-hak politik kelompok masyarakat berhaluan komunis untuk menggunakan hak politiknya di Indonesia. Hak politik yang dimaksud disini mulai dari hak menyatakan pendapat, hak berorganisasi, sampai hak mendirikan partai sampai ikut dalam pemilihan umum (Pemilu) . Tesis penulis mengatakan bahwa 15 tahun Reformasi gagal di Indonesia karena masih ada pengeklusian hak politik  orang-orang yang dituduh antek PKI dalam kehidupan berdemokrasi di Indonesia. Tujuan tulisan ini secara akademis untuk membongkar perdebatan wacana inklusi dan ekslusi eks Tapol PKI beserta keluarganya dalam sistem politik dan pemerintahan di Indonesia. Tujuan lainnya adalah untuk mengadvokasi pengeklusian hak-hak politik kelompok ataupun orang-orang yang dituduh antek PKI. Fokus tulisan ini adalah menganalis praktek dan bentuk ekslusi atas hak-hak politik eks tahanan politik Pki dan keluarganya dalam kehidupan sosial politik di Indonesia. Setelah membaca paper ini pembaca akan memahami tentang ironisme demokrasi yang berkembang di Indonesia pasca Reformasi 1998 karena masih membuka peluang ekslusi atas hak-hak politik sebuah kelompok minoritas.
MENAKAR REPRESENTASI DALAM KONFLIK DI PULAU PARI KEPULAUAN SERIBU JAKARTA Fitriana, Nadia Nur
ijd-demos Volume 1 Issue 3, December 2019
Publisher : HK-Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (314.993 KB) | DOI: 10.31506/ijd.v1i3.28

Abstract

This research discuss about land conflict between actors happen in Pari Island involving society, local government and sovereign conflict happen because there are struggle land ownership namely society and sovereign claim each other ownership right to the land. The conflict gets worse when there are not clarity of local government in respon this problem, even local government tend to support one of them. This research aim for knowing th spread of conflict in Pari Island through representation theory from Hanna F. Pitkin, that are formalistic representation, deskriptif representation, symbolic representation, and subtantantif representation. Research methods using qualitative method with case study approach, as for data used are primary and secondary. The result of this research showing that land conflict in Pari Island consists of two forms namely vertical and horizontal. Power relation which comes from actors are involved in this conflict seen in the perspective representation theory. Namely, the societies leads to symbolic representation and descriptive representation. While local government as formalistic representation and Ombudsman as substantive representation. Penelitian ini membahas tentang konflik pertanahan antar aktor yang terjadi di Pulau Pari, yang melibatkan masyarakat, Pemerintah daerah dan Penguasa. Konflik terjadi karena adanya perebutan kepemilikan tanah dimana masyarakat dan penguasa saling mengklaim kepemilikan hak atas tanah tersebut. Konflik semakin parah ketika tidak ada kejelasan Pemerintah Daerah dalam menyikapi permasalahan yang ada, bahkan pemerintah daerah cenderung mendukung salah satu pihak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persebaran konflik di Pulau Pari melalui teori representasi dari Hanna.F.Pitkin yang terdiri dari representasi formalistik, deskriptif, simbolik, dan substantif. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus, adapun data yang digunakan adalah data primer dan sekunder. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa konflik pertanahan di Pulau Pari terdiri dari 2 bentuk yakni vertikal dan horizontal. Relasi kuasa yang berasal dari aktor-aktor yang terlibat dalam konflik dilihat dalam sudut pandang teori representasi dimana masyarakat mengarah pada representasi simbolik dan deskrtiptif. Sedangkan pemerintah masuk dalam representasi formalistik dan Ombudsman sebagai representasi Substantif.
KINERJA PEJABAT PEMBUAT AKTA TANAH SEMENTARA DALAM PENGELOLAAN BEA PEROLEHAN (BPHTB) DI KABUPATEN INDRAMAYU Bastaman, Komir
ijd-demos Volume 1 Issue 3, December 2019
Publisher : HK-Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (306.888 KB) | DOI: 10.31506/ijd.v1i3.27

Abstract

This study examines and analyzes the Performance of Temporary Land Deed Makers (PPATS) in the Management of Land or Building Acquisition Fees (BPHTB) in Sukra District, Indramayu Regency. The research approach used is a qualitative approach that is a research procedure that describes the facts and explains the object of research as well as digging the information needed in accordance with reality as it is. The results of the study illustrate that first The quality of PPATS officials especially in Sukra District in managing BPHTB is still not optimal, it can be seen from the realization that has not reached the target set by the Regional Government in accordance with the existing potential, even for the 2015 target it fell from the realization to previous year; second Quantity of results of work carried out by PPATS Officers in managing BPHTB in the Sukra District area is still not effective because the results achieved are not in accordance with the targets set by the regional government in terms of the potential that exists in the Sukra District area; third The use of time carried out by PPATS Officers in Sukra District in accordance with working hours ie from Monday to Friday Collection of BPHTB is carried out after there is a sale and purchase transaction of land and / or building and a deed of sale and purchase (AJB) conducted by PPATS Officials; fourt Cooperation of PPATS Officials in Sukra District with the community is already good, it's just that there are still many people who are not aware of the benefits of Tax, that is because the level of public education in Sukra District is still low on average plus the level of taxpayer knowledge that is still lacking. Penelitian ini mengkaji dan menganalisis mengenai Kinerja Pejabat Pembuat Akta Tanah Sementara (PPATS) dalam Pengelolaan Bea Perolehan Atas Tanah Atau Bangunan (BPHTB) di Kecamatan Sukra Kabupaten Indramayu. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif yaitu prosedur penelitian yang menggambarkan fakta-fakta dan menjelaskan objek penelitian serta menggali informasi yang dibuthkan sesuai dengan kenyataan sebagaimana adanya. Hasil penelitian memberikan gambaran bahwa pertama Kualitas Pejabat PPATS khususnya di Kecamatan Sukra dalam pengelolaan BPHTB masih kurang maksimal, itu terlihat dari realisasi yang belum mencapai target yang sudah ditentukan oleh Pemerintah Daerah sesuai dengan potensi yang ada, bahkan untuk target tahun 2015 turun dari realisasi untuk tahun sebelumnya; kedua Kuantitas hasil pekerjaan yang dilaksanakan oleh Pejabat PPATS dalam mengelola BPHTB di wilayah Kecamatan Sukra masih belum efektif karena hasil yang dicapai tersebut belum sesuai target yang telah ditetapkan oleh pemerintah daerah dilihat dari potensi yang ada di wilayah Kecamatan Sukra;  ketiga Penggunaan waktu yang dilaksanakan oleh Pejabat PPATS di Kecamatan Sukra sesuai dengan jam kerja yaitu dari hari Senin sampai dengan Jum?at. Pemungutan BPHTB dilaksanakan setelah ada transaksi jual beli tanah dan/atau bangunan dan melakukan akta jual beli (AJB) yang dilakukan oleh Pejabat PPATS; ke-empat Kerjasama Pejabat PPATS di Kecamatan Sukra dengan masyarakat sudah baik, hanya saja masih banyak masyarakat belum menyadari manfaat Pajak, itu dikarenakan tingkat pendidikan masyarakat di Kecamatan Sukra rata-rata masih rendah ditambah lagi tingkat pengetahuan wajib pajak yang masih kurang.
POLITIK TUBUH PEREMPUAN: STUDI TES GENITALIA PADA PEREKRUTAN ANGGOTA POLISI BARU DI INDONESIA Pratama, Abdul Azis
ijd-demos Volume 1 Issue 3, December 2019
Publisher : HK-Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (251.581 KB) | DOI: 10.31506/ijd.v1i3.26

Abstract

The focus of this research is to see how Body, Sex, and Norm play a role in Women?s Subjugation in Indonesia. As a conservative and moslem majority country, Indonesia often finds herself strangled in the Sexist Situation. Whereas Men had been granted a greater role in public affairs and more excepted to be a leader, than its companion gender. Besides not having the same opportunity as men in public affairs, Women in Indonesia also faced a subjugation of their body and their ?morale?. It is said, that one of the Indonesian norms is to forbids Women to have pre-marital sex, and to do so they have to cover their bodies, and not to be too friendly to Male Strangers. However, this standard doesn't apply to Men, which leads to a situation where Women?s become a more inferior gender in terms of personal expression. But the problem didn?t stop there, Women who caught already have a pre-marital sex (determined by the intactness of Hymen) will faced another discrimination, such as social judgment, excommunication and exclusion in several employment, for Instance in Kepolisian Republik Indonesia (Indonesian Police Force). Fokus penelitian ini adalah untuk melihat bagaimana politik tubuh, jenis kelamin dan norma yang berperan dalam seleksi masuk kepolisian indonesia. Sebagai negara mayoritas yang konservatif dan mayoritas beragama Islam, Indonesia sering menemukan posisi-posisi yang menyudutkan perempuan dalam Situasi yang tidak setara. Sedangkan Pria telah diberikan peran yang lebih besar dalam urusan publik, dan lebih dikecualikan untuk menjadi pemimpin, daripada gender pendampingnya. Selain tidak memiliki kesempatan yang sama dengan laki-laki dalam urusan publik, Perempuan di Indonesia juga menghadapi penaklukan tubuh dan 'moral' mereka. Penelitian ini mengelaborasi mengenai posisi perempuan dalam seleksi menjadi anggota polri, dima tubuh mereka  menjadi sebuah objek yang harus dijaga dalam sebuah status keperawanan. Riset ini juga melihat bagaimana isu yang berkembang dalam tes kesehatan yang melihat lebih jauh tubuh perempuan sebagai objek yang harus di jaga. Dengan pendekatan fenomenologi, riset ini akan lebih mengelaborasi segala objektifikasi terhadap tubuh perempuan. 
MENAKAR SAYAP POLITIK PEREMPUAN : STUDI GARNITA MALAYAHATI PARTAI NASDEM YOGYAKARTA Arianto, Bambang
ijd-demos Volume 1 Issue 3, December 2019
Publisher : HK-Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2047.057 KB) | DOI: 10.31506/ijd.v1i3.25

Abstract

This article will explain the political wing of the NasDem women's party namely Garnita Malahayati in Yogyakarta in the 2014 electoral contestation. Various affirmative action policies initiated by the government have not been able to be utilized properly by political parties either in the process of institutionalizing parties to create quality female politicians. Excess, political parties often have difficulty in building awareness of gender mainstreaming and gender-based political education. In fact, the women's political wing of the party has been designed to function to attract women's political participation. The reality is that political parties only make the political wing of women's parties a complement and symbol of politics. This study uses explanatory qualitative methods with data collection techniques by collecting data and related documents and through in-depth interviews. This article argues that there is a dysfunction in women's political wings, because Garnita Malahayati as a political wing of women has not been well institutionalized. The article also believes that the political wing of the party women has not played an active role in the process of candidacy, especially in encouraging the process of regenerating qualified female politiciansArtikel ini akan menjelaskan sayap politik perempuan partai NasDem yakni Garnita Malahayati Yogyakarta dalam kontestasi elektoral 2014. Berbagai kebijakan affirmative action yang digulirkan oleh pemerintah belum mampu dimanfaatkan dengan baik oleh partai politik baik dalam proses pelembagaan partai untuk menciptakan politisi perempuan yang berkualitas. Eksesnya, partai politik seringkali mengalami kesulitan dalam membangun kesadaran pengarusutamaan gender dan pendidikan politik yang berbasis gender. Padahal, sayap politik perempuan partai telah didesain untuk berfungsi menarik partisipasi politik kaum perempuan. Realitasnya partai politik hanya menjadikan sayap politik perempuan partai sebagai pelengkap dan simbolisasi politik. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif eksplanatoris dengan teknik pengumpulan data dengan mengumpulkan data-data dan dokumen yang terkait serta melalui wawancara mendalam (in-depth interview). Artikel ini berpendapat bahwa tengah terjadi disfungsi sayap politik perempuan, dikarenakan Garnita Malahayati sebagai sayap politik perempuan belum terlembagakan dengan baik. Artikel ini juga berpendapat bahwa sayap politik perempuan partai belum berperan aktif dalam proses kandidasi terutama mendorong proses kaderisasi politisi perempuan yang berkualitas.
WILAYAH GERAK EARTH HOUR MENJADI SARANA PEMERINTAH DAN SWASTA MERAIH DUKUNGAN PUBLIK Mardiana, Siva Yolla
ijd-demos Volume 1 Issue 3, December 2019
Publisher : HK-Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37950/ijd.v1i3.30

Abstract

the purpose of Earth Hour and the World Wide Fund for Nature (WWF) invite people around the world to continue to be a part of the social movement in the field of climate change with one of the energy-saving activities. In their campaign, Earth Hour proved to be a dominant force among other powers, associated with the three pillars of power, between political power and economic power. Environmental issues have become a global issue, a variety of damage that occurs on earth has become a serious concern by many. There are many organizations, communities and also mass movements that are concerned with environmental issues. Earth Hour is a global movement that initially campaigned energy savings with its peak event by turning off the electricity in 60 minutes at the end of March every year. Earth Hour movement spread over 153 countries around the world and 28 cities in Indonesia. The research was the focus in the area of motion Earth Hour; The Political environmental theory which was used in this research is Peterson?s theory, those are the government, the private sector and social movement itself. This type of research is a qualitative study using a descriptive study. The researcher obtained data by conducting in personal experience and study literature. Data analysis techniques include data reduction, data display, and conclusion. The Conclusion of this study is in Earth Hour has its own characteristics to do such as lobbying to local authorities, then how to lobbying with other people who have the capability to influence public opinion, cooperate with other NGOs and raise social issues in the community to lobby with the private sector. In this area of movement Earth Hour is used as best as possible by the government and private sector to achieve their interests outside environmental-related policy issues.Tujuan Earth Hour dan World Wide Fund for Nature (WWF) mengundang orang di seluruh dunia untuk terus menjadi bagian dari gerakan sosial di bidang perubahan iklim dengan salah satu kegiatan penghematan energi. Dalam kampanye mereka, Earth Hour terbukti menjadi kekuatan dominan di antara kekuatankekuatan lain, yang terkait dengan tiga pilar kekuatan, antara kekuatan politik dan kekuatan ekonomi. Masalah lingkungan telah menjadi masalah global, berbagai kerusakan yang terjadi di bumi telah menjadi perhatian serius banyak orang. Ada banyak organisasi, komunitas dan juga gerakan massa yang peduli dengan masalah lingkungan. Earth Hour adalah gerakan global yang awalnya mengkampanyekan penyempurnaan energi dengan acara puncaknya dengan mematikan listrik dalam 60 menit pada akhir Maret setiap tahun. Gerakan Earth Hour tersebar di 153 negara di seluruh dunia dan 28 kota di Indonesia. Penelitian ini fokus di bidang gerak Earth Hour; Teori lingkungan politik yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori Peterson, yaitu pemerintah, sektor swasta dan gerakan sosial itu sendiri. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan menggunakan penelitian deskriptif. Peneliti memperoleh data dengan melakukan pengalaman pribadi dan mempelajari literatur. Teknik analisis data meliputi reduksi data, tampilan data, dan penarikan kesimpulan. Kesimpulan dari penelitian ini adalah di Earth Hour memiliki karakteristik tersendiri untuk melakukan seperti melobi pihak berwenang setempat, kemudian bagaimana melobi dengan orang lain yang memiliki kemampuan untuk mempengaruhi opini publik, bekerja sama dengan LSM lain dan mengangkat masalah sosial di masyarakat untuk melobi dengan sektor swasta. Dalam bidang pergerakan ini Earth Hour digunakan sebaik mungkin oleh pemerintah dan sektor swasta untuk mencapai kepentingan mereka di luar masalah kebijakan terkait lingkungan 

Page 1 of 1 | Total Record : 7