cover
Contact Name
M Dian Hikmawan
Contact Email
demos.ijd@gmail.com
Phone
+6281284963876
Journal Mail Official
demos.ijd@gmail.com
Editorial Address
Jl. Raya Serang-Pandeglang KM. 5 Pandeglang, Banten
Location
Kab. pandeglang,
Banten
INDONESIA
International Journal of Demos
Published by HK-Publishing
ISSN : -     EISSN : 27210642     DOI : 10.31506/ijd
International Journal of Demos (IJD) is an open access, and peer-reviewed journal. IJD try to disseminate current and original articles from researchers and practitioners on various contemporary social and political issues: citizenship, civil society movement, environmental issues, gender politics and identity, digital society and disruption, urban politics, community welfare, social development, public management, public policy innovation, international politics & security, media, information & literacy, politics, governance, human rights & democracy, radicalism, and terrorism. Publish three times in a year i.e. April, August, and December. IJD Invites researcher, academician, practitioners, and public to submit their critical writings and to contribute to the development of social and political sciences
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Volume 2 Issue 1, April 2020" : 7 Documents clear
DINAMKA KONFLIK ANTAR ETNIS DAYAK DAN ETNIS MADURA DI SAMALANTAN KALIMANTAN BARAT Sutianti, Sutianti
ijd-demos Volume 2 Issue 1, April 2020
Publisher : HK-Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37950/ijd.v2i1.35

Abstract

Conflict is one of the social phenomena that continues to exist in human life. Conflict usually comes from several aspects such as social change, differences in authority (authority), differences in interests and cultural differences. Because Indonesia is a very diverse country of pluralism it is a variety of ethnic and ethnic diversity. Such diversity and diversity can lead to ethnic conflict. Simply put, this article will analyze the causes of conflict between ethnic Dayak and Madura in West Kalimantan, especially in Samalantan sub-district, how the impact will be caused by the conflict between Dayak ethnic with Madura in Samalantan, and also the attitude or action of the government to the conflict. In writing this scientific paper the author uses the method of literature study that comes from books or various articles that according to the author can support this writing. And based on the author?s analysis of the conflict between Dayak ethnic with Madura in Samalantan. Apparently the conflict in Samalantan has happened more than ten times, can not be added with certainty. The background of the conflict occurred because of the lack of government role in providing information to the Madura who will migrate to the island of Borneo about the customs, culture, and things that are not liked by the Dayaks when incoming by ethnic immigrants. The government's action to resolve the conflict is to facilitate the meeting between the two Dayak ethnic groups with Madura. But the impact of the conflict is certainly there are positive and negative, the positive Madurese become independent, and the Dayak negatively arise casualties. Konflik merupakan salah satu fenomena sosial yang terus ada dalam kehidupan manusia. Konflik biasanya bersumber dari beberapa aspek seperti adanya perubahan sosial, perbedaan kewenangan (otoritas),perbedaan kepentingan dan perbedaan kultural. Karena indonesia merupakan sebuah negara yang sangat majemuk dari kemajemukan itu adalah adanya berbagai keragaman etnis dan suku bangsa. Dari keberagaman dan perbedaan tersebut dapat menimbulkan terjadinya konflik etnis. Secara sederhana, tulisan ini akan menganalisa penyebab terjadinya konflik antara etnis dayak dan madura di kalimantan barat khususnya di kecamatan samalantan, bagaimana dampak yang akan ditimbulkan dari konflik antar etnis Dayak dengan Madura di Samalantan, serta bagaimana sikap ataupun tindakan pemerintah terhadap konflik tersebut. Dalam penulisan karya ilmiah ini penulis menggunakan metode studi pustaka yang bersumber dari buku-buku atau berbagai artikel yang menurut penulis dapat mendukung penulisan ini. Dan berdasarkan hasil analisa penulis terhadap konflik antar etnis Dayak dengan Madura di Samalantan. Ternyata konflik di Samalantan sudah terjadi lebih dari sepuluh kali, tidak bisa dijumlahkan dengan pasti. Adapun latar belakang dari konflik tersebut terjadi karena kurang adanya peran pemerintah dalam memberi informasi terhadap orang Madura yang akan bertransmigrasi ke pulau Kalimantan mengenai adat istiadat, budaya, serta hal-hal yang tidak disukai oleh orang-orang Dayak ketika di datangi oleh etnis pendatang. Tindakan pemerintah dalam mengatasi konflik adalah dengan memfasilitasi pertemuan antara kedua etnis Dayak dengan Madura. Tetapi dampak yang di timbulkan dari konflik itu tentu ada yang positif dan negatif, positifnya orang Madura menjadi mandiri, serta orang Dayak negatifnya timbul korban jiwa
THE RISE OF STUDENT SOCIAL MOVEMENT: CASE STUDY OF #GEJAYANCALLING MOVEMENT IN YOGYAKARTA Mahpudin, Mahpudin; Kelihu, Ardiman; Sarmiasih, Mia
ijd-demos Volume 2 Issue 1, April 2020
Publisher : HK-Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37950/ijd.v2i1.2

Abstract

This paper discusses the rise of student social movements in response to the presence of a crisis of public legitimacy triggered by the failure of the government to carry out the functions of the state and failure to realize the welfare of society. The climax when the government and the parliament agreed to revise the rules regarding the authority of the Corruption Eradication Commission (Komisi Pemberantasan Korupsi, KPK) which was considered by many elements of civil society as weakening the KPK. This issue became the dominant discourse and triggered the presence of other issues and demands. The focus of this study is the #GejayanCalling movement initiated by a number of students in Yogyakarta who successfully attracted the sympathy and support of thousands of students and various elements of civil society to take to the streets. This paper uses qualitative research methods with a case study approach. The data collection is done through primary data through interviews with key informants and secondary data through literature studies. The results of the study revealed that the #GejayanCalling movement became massive and significant through the consolidation and political compromise undertaken by students in managing the movement to respond to public unrest marked by a crisis of public legitimacy towards the government. The protest was able to attract thousands of students because of the emphasis on the issue by overriding the role of certain figures, actors or organizations. Emphasis on issues rather than actors becomes an effective strategy in creating shared goals and collective action. Besides that, the use of social media as a repertoire of movements in framing issues is very contributing to strengthen demonstration. Penelitian ini membahas kebangkitan gerakan sosial mahasiswa sebagai tanggapan terhadap adanya krisis legitimasi publik yang dipicu oleh kegagalan pemerintah untuk menjalankan fungsi negara dan kegagalan untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Puncaknya ketika pemerintah dan parlemen sepakat untuk merevisi aturan mengenai kewenangan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang dianggap oleh banyak elemen masyarakat sipil sebagai pelemahan KPK. Masalah ini menjadi wacana dominan dan memicu kehadiran isu dan tuntutan lainnya. Fokus penelitian ini adalah gerakan #GejayanCalling yang diprakarsai oleh sejumlah siswa di Yogyakarta yang berhasil menarik simpati dan dukungan ribuan siswa dan berbagai elemen masyarakat sipil untuk turun ke jalan. Makalah ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Pengumpulan data dilakukan melalui data primer melalui wawancara dengan informan kunci dan data sekunder melalui studi literatur. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa gerakan #GejayanMemanggil menjadi masif dan signifikan melalui konsolidasi dan kompromi politik yang dilakukan oleh siswa dalam mengelola gerakan untuk menanggapi keresahan publik yang ditandai oleh krisis legitimasi publik terhadap pemerintah. Protes ini mampu menarik ribuan siswa karena penekanan pada masalah ini dengan mengesampingkan peran tokoh, aktor atau organisasi tertentu. Penekanan pada masalah daripada aktor menjadi strategi yang efektif dalam menciptakan tujuan bersama dan tindakan kolektif. Selain itu, penggunaan media sosial sebagai repertoar gerakan dalam membingkai isu sangat berkontribusi untuk memperkuat demonstrasi.
LETTER OF CREDIT (L/C) SEBAGAI CARA PEMBAYARAN YANG PALING AMAN DALAM TRANSAKSI PEMBAYARAN PERDAGANGAN INTERNASIONAL/EKSPOR-IMPOR. (STUDI KASUS PADA PT. SAN SAN SAUDARATEX JAYA). Subagja, Agus Dedi
ijd-demos Volume 2 Issue 1, April 2020
Publisher : HK-Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37950/ijd.v2i1.38

Abstract

International trade is a trade between two companies with different countries, place, social, economic conditions involving those conditions, there are problems arise is the method of payments in that trade. The purpose of this observation is to explain the process of using the Letter of Credit that was used by PT. San San Saudaratex Jaya, ascertaining this Letter of Credit in export and import. Letter of Credit is one of the international paying methods, that the safest against to the exporter or importer. The observation method that was used by the writer to collect data and information is field research, observation and whereas, the descriptive method was used to analyze the data. The result of this observation, are PT. San San Saudaratex Jaya, uses a Letter of Credit as a method of payment in export and import. There are L/C type Sight and Usance, and also Transferable L/C for the other beneficiary. The company chooses that kind of L/C because there is better for both sides the exporter and the importer. The problems are facing by the company are discrepancies, bank fees in relation to the documents in using L/C. It is better if the company using another method of payments base on relation and trust among importer and exporter in doing the business for deducting expenses in relation to L/C documents, that so expansive. Perdagangan internasional adalah perdagangan yang melibatkan dua pengusaha dengan tempat, sosial budaya, kondisi ekonomi yang berbeda dengan melihat hal tersebut maka ada masalah yang timbul yaitu cara penyelesaian pembayaran yang sering menjadi masalah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menjelaskan bagaimana proses pelaksanaan penggunaan Letter of Credit (L/C) dalam transaksi ekspor dan impor yang telah dilakukan oleh PT. San San Saudaratex Jaya. Letter of Credit merupakan salah satu cara pembayaran didalam perdagangan internasional yang paling aman ditinjau dari sudut eksportir  maupun importir. Metode penelitian yang digunakan penulis untuk mengumpulkan data dan informasi yaitu penelitian lapangan berupa observasi dan wawancara, serta penelitian pustaka. Sedangkan untuk menganalisa data, metode yang digunakan yaitu metode deskriptif. Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini, antara lain; PT. San San Saudaratex Jaya, menggunakan L/C dalam transaksi ekspor dan impor. Dalam hal ini perusahaan menggunakan L/C dengan cara pembayaran Sight dan Usance, sedangkan kemungkinan penggunaannya oleh Beneficiary lain digunakan Transferable L/C. Perusahaan memilih jenis-jenis L/C tersebut, karena dianggap menguntungkan ditinjau dari segi eksportir maupun importir. Hambatan-hambatan yang berupa discrepancies, pembayaran biaya bank, didalam pengurusan dokumen merupakan salah satu hambatan didalam penggunaan L/C. Akan lebih baik lagi jika perusahaan menggunakan metode pembayaran internasional yang lainnya, tentunya sesuai dengan kesepakatan kedua belah pihak untuk menekan biaya-biaya yang timbul didalam penggunaan L/C, yang dirasakan cukup besar. 
THE DARK SIDE OF REGULATORY ECONOMICS: EVIDENCE FROM THE SALT IMPORT POLICY IN POST-SOEHARTO INDONESIA Hidayat, Rahmad; Raman, Asrul
ijd-demos Volume 2 Issue 1, April 2020
Publisher : HK-Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37950/ijd.v2i1.5

Abstract

Economics regulation by the state is indeed very necessary to ensure that the pursuit of profit does not conflict with social welfare. That is the reason why regulatory economics becomes really important. However, the context in this paper contradicts with the ideal substance of regulatory economics in which the government proactively provides incentives to remain entrenched monopolistic business practices while taking a dominant role in importing salt commodity through the issuance of a public policy that is more permissive and accommodating to those interests. This paper aims to describe the political dynamics in the formulation and implementation of salt import policy in Post-Soeharto Indonesia which was mainly characterized by the practice of unfair business competition. As descriptive qualitative research, this study utilized in-depth interviews, observation, document tracking, and document analysis techniques in which a number of bureaucrats, entrepreneurs, and salt farmers were used as informants to mine the data. The results of this study show that government intervention through Permendag No. 125/2015 does not reveal a pure orientation of "liberating salt commodity trade from monopolistic business practices", but to satisfy its vested interests and save the sakes of certain importers who were being the important part of its business collusion. Content imperfections, deliberate elimination of substantive obligations, facilitation of rent-seeking and monopolistic business practices, and the impartiality of the regulation?s purpose with the livelihoods of salt farmers in Indonesia become primary impetuses of the resistance of various parties to the dark side of regulatory economics imposed by the government.Regulasi ekonomi oleh negara memang sangat diperlukan untuk memastikan bahwa pengejaran keuntungan tidak bertentangan dengan kesejahteraan sosial. Itulah alasan mengapa ekonomi regulasi menjadi sangat penting. Namun, konteks dalam makalah ini bertentangan dengan substansi ideal ekonomi pengatur di mana pemerintah secara proaktif memberikan insentif untuk tetap mempertahankan praktik bisnis monopolistik sambil mengambil peran dominan dalam mengimpor komoditas garam melalui penerbitan kebijakan publik yang lebih permisif dan akomodatif. untuk kepentingan itu. Makalah ini bertujuan untuk menggambarkan dinamika politik dalam perumusan dan implementasi kebijakan impor garam di Indonesia pasca-Soeharto yang terutama ditandai oleh praktik persaingan usaha tidak sehat. Sebagai penelitian kualitatif deskriptif, penelitian ini menggunakan wawancara mendalam, observasi, penelusuran dokumen, dan teknik analisis dokumen di mana sejumlah birokrat, pengusaha, dan petani garam digunakan sebagai informan untuk menambang data. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa intervensi pemerintah melalui Permendag No. 125/2015 tidak mengungkapkan orientasi murni "membebaskan perdagangan komoditas garam dari praktik bisnis monopolistik", tetapi untuk memuaskan kepentingan pribadi dan menyelamatkan kepentingan importir tertentu yang sedang bagian penting dari kolusi bisnisnya. Ketidaksempurnaan konten, penghapusan sengaja kewajiban substantif, fasilitasi perburuan rente dan praktik bisnis monopolistik, dan ketidakberpihakan tujuan regulasi dengan mata pencaharian petani garam di Indonesia menjadi dorongan utama dari resistensi berbagai pihak terhadap sisi gelap ekonomi regulasi. dipaksakan oleh pemerintah.
KEPEMIMPINAN PEREMPUAN DI BALIK BAYANG–BAYANG PATRIARKI: STUDI KASUS TERHADAP PERAN PEREMPUAN DALAM RANAH POLITIK LOKAL Zahra, Essa Fatima
ijd-demos Volume 2 Issue 1, April 2020
Publisher : HK-Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37950/ijd.v2i1.32

Abstract

Today, a woman becomes a leader is not impossible. With the growing understanding of feminism and popular has awakened women - women to be leaders like men. However, the government of women in politics still can not be separated from the patriarchal system because of the culture of a binding political dynasty. As in Banten itself, some regions have indeed emerged female leaders but the tactala became a pawn in maintaining the continuity of the established political dynasty and the leader of this woman finally lost her feminism and political freedom because of the local power that governs this woman and the night does not appear in this woman's role. But one of the female leaders in Banten is no different from other female leaders. Airin as the mayor of South Tangerang is quite affordable on the other hand and applied from the applied policy. Although, he himself is still in the field of political dynasty and hidden in Banten political patriarchal system.Saat ini, seorang perempuan menjadi seorang pemimpin bukanlah hal yang tidak mungkin. Dengan paham feminism yang semakin berkembang dan populer telah menyadarkan perempuan?perempuan untuk dapat menjadi pemimpin seperti laki ? laki. Namun, kenyataannya kepemimpinan perempuan dalam politik masih tidak lepas dari system patriarki karena budaya dinasti politik yang mengikat. Seperti di Banten sendiri, beberapa daerah memang sudah muncul pemimpin ? pemimpin perempuan tapi taktala hanyalah menjadi sebuah pion dalam menjaga kelanggengan dinasti politik yang terbangun dan pemimpin perepmpuan ini akhirnya kehilangan sisi feminisme dan kewenangan politiknya akibat adanya local strongman yang mengatur pemimpin perempuan ini dan akhirnya tidak muncul kemajuan dalam kepemimpinan perempuan ini. Namun salah satu pemimpin perempuan di banten sepertinya sedikit berbeda dibanding pemimpin perempuan lainnya. Airin sebagai walikota Tangerang Selatan cukup demokratis dalam sisi kebijakan dan menunjukkan arti kepemimpinan perempuan dari kebijakan yang diterapkan. Walaupun,ia sendiri masih dalam lingkup dinasti politik dan terjebak dalam sistem patriarki politik Banten.
GERAKAN SOSIAL EKOFEMINISME MELAWAN PENAMBANGAN MARMER DI GUNUNG MUTIS NUSA TENGGARA TIMUR Nagari, Hajeng Pandu
ijd-demos Volume 2 Issue 1, April 2020
Publisher : HK-Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37950/ijd.v2i1.33

Abstract

This research aims to understand the movement of ecofeminism that can not be separated from women's unease on the practice of ecological damage. where social movements are the most important factor in realizing social change. Where their presence aims to the realization of better social change and meets the interests of the people. The social movement of ecofeminism discussed in my writing is about the resistance of women from the east who live around the mountain of mutis, who daily perform activities that interact with nature. In 2006 there was a social movement of women in the form of rejection of marble mining around the mountain of mutis done by weaving action in the mining area of Mount Mutis for one year.Tulisan ini bertujuan untuk memahami pergerakan ekofeminisme yang tidak dapat dipisahkan dari ketidaknyamanan perempuan pada praktik kerusakan ekologis. dimana gerakan sosial adalah faktor terpenting dalam mewujudkan perubahan sosial. Dimana kehadiran mereka bertujuan untuk mewujudkan perubahan sosial yang lebih baik dan memenuhi kepentingan rakyat. Gerakan sosial ekofeminisme yang dibahas dalam tulisan saya adalah tentang perlawanan perempuan dari timur yang tinggal di sekitar gunung mutis, yang setiap hari melakukan kegiatan yang berinteraksi dengan alam. Pada 2006 ada gerakan sosial perempuan berupa penolakan penambangan marmer di sekitar gunung mutis yang dilakukan dengan menenun di kawasan penambangan Gunung Mutis selama satu tahun.
VIHARA AVALOKITESVARA: STUDI KASUS KEHIDUPAN ANTAR BUDAYA ISLAM TIONGHOA DI BANTEN Abdillah, M Fauzaan
ijd-demos Volume 2 Issue 1, April 2020
Publisher : HK-Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37950/ijd.v2i1.34

Abstract

The establishment of Avalokitesvara Monastery in Banten is a trace of the marriage story of Sharif Hidayatullah and Princess Ong Tien from China. Which is the Grand Mosque and Vihara is a symbol of the multiculturalism and openings of Banten community at that time to immigrants. And the existence of this research also aims to get answers to how the role of Sharif Hidayatullah in the construction of the monastery and also how the treatment of the people of Banten against minorities. The method that the author uses is the Study Library with the approach of Will Kymlicka Multicultural Cultural theory. The result is that the people of Banten are people who are able to accept openness to other realities outside them and are able to acculturate culturally and pluralally in a manner. Proven by the 5-story roof at the Great Mosque of Banten which is designed by the Chinese and the presence of the High Pacinan Mosque. In conclusion, so much the role of Sharif Hidayatullah in the construction of the monastery and prove that the people of Banten at that time have received valuesoutside of reality or multiculturalism. Berdirinya Vihara Avalokitesvara di Banten adalah jejak kisah pernikahan Syarif Hidayatullah dan Putri Ong Tien dari Tiongkok. Yang mana Masjid Agung dan Vihara adalah simbol dari multikulturalisme dan keterbukaan masyarakat Banten kala itu kepada pendatang.  Dan adanya penelitian ini pun bertujuan untuk memperoleh jawaban atas bagaimana peran Syarif Hidayatullah dalam pembangunan vihara dan juga bagaimana perlakuan masyarakat Banten terhadap kaum minoritas. Metode yang penulis gunakan ialah Studi Pustaka dengan pendekatan teori Kewarganegaraan Multikultural Will Kymlicka. Hasil yang didapat adalah bahwa masyarakat Banten adalah masyarakat yang mampu menerima keterbukaan terhadap realitas lain  di luar mereka dan mampu berakulturasi secara budaya serta plural secara sikap. Terbukti dengan adanya atap bertingkat 5 pada Masjid Agung Banten yang di kelurahanin oleh orang Tiongkok dan adanya Masjid Pacinan Tinggi. Kesimpulannya, begitu besarnya peran Syarif Hidayatullah dalam pembangunan vihara tersebut dan membuktikan bahwa masyarakat Banten saat itu telah menerima nilai-nilai di luar realitasnya atau multikulturalisme. Berdirinya Vihara Avalokitesvara di Banten adalah jejak kisah pernikahan Syarif Hidayatullah dan Putri Ong Tien dari Tiongkok. Yang mana Masjid Agung dan Vihara adalah simbol dari multikulturalisme dan keterbukaan masyarakat Banten kala itu kepada pendatang.  Dan adanya penelitian ini pun bertujuan untuk memperoleh jawaban atas bagaimana peran Syarif Hidayatullah dalam pembangunan vihara dan juga bagaimana perlakuan masyarakat Banten terhadap kaum minoritas. Metode yang penulis gunakan ialah Studi Pustaka dengan pendekatan teori Kewarganegaraan Multikultural Will Kymlicka. Hasil yang didapat adalah bahwa masyarakat Banten adalah masyarakat yang mampu menerima keterbukaan terhadap realitas lain  di luar mereka dan mampu berakulturasi secara budaya serta plural secara sikap. Terbukti dengan adanya atap bertingkat 5 pada Masjid Agung Banten yang di desain oleh orang Tiongkok dan adanya Masjid Pacinan Tinggi. Kesimpulannya, begitu besarnya peran Syarif Hidayatullah dalam pembangunan vihara tersebut dan membuktikan bahwa masyarakat Banten saat itu telah menerima nilai-nilai di luar realitasnya atau multikulturalisme.

Page 1 of 1 | Total Record : 7