cover
Contact Name
Aly Ashghor
Contact Email
puskamnas@ubharajaya.ac.id
Phone
+6281314082099
Journal Mail Official
puskamnas@ubharajaya.ac.id
Editorial Address
Center for National Security Studies (Puskamnas), Bhayangkara Jakarta Raya University (UBJ) Puskamnas, GRHA Summarecon Lt.3 Jl. Raya Perjuangan, Marga Mulya Bekasi Utara, Jawa Barat 17121
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Keamanan Nasional
ISSN : 24427985     EISSN : 25797727     DOI : https://doi.org/10.31599/jkn.v5i2.437
Core Subject : Social,
Jurnal Keamanan Nasional presenting works or article on national security issues, and the influence of international-strategic environment dynamics. PUSKAMNAS invites you to carved critical and original ideas on national security issues (terrorism, insurgency, police issue, military issues, conflict, social issues, brawl, etc.). The works could be a teoritical, analytical, research publication, history, case study, including recent issues on national, regional or international scope.
Articles 60 Documents
THE INDONESIA'S URGENCY ON ADOPTING NEW APPROACH ON COMPREHENSIVE PREVENTION IN COUNTERING TERRORISM STRATEGY: LESSON LEARNT FROM THE MAKO DETENTION FACILITY'S RIOT AND EAST JAVA BOMBS Amaritasari, Indah Pangestu
Jurnal Keamanan Nasional Vol 4, No 1 (2018): Mei
Publisher : Pusat Kajian Keamanan Nasional (Puskamnas) Universitas Bhayangkara Jakarta Raya (UBJ)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31599/jkn.v4i1.346

Abstract

Indonesia was confronted with a series of terror attacks in May 2018, among others: riot incidents accompanied by police hostage by terrorist prisoners at Mako Brimob Prison in Kelapa Dua, Depok on May 8, 2018, suicide bombing occurred in three churches simultaneously on Sunday morning, 13 May, suicide bombing at the entrance of Polrestabes Surabaya on May 14th. This series of events shows that terrorism remains a security threat in Indonesia. A number of terror attacks in Indonesia are believed to have been committed by terrorist groups baiting to ISIS. Indonesia in the context of countermeasures against acamanism has done a number of approaches both soft approach and hard approach by using criminal justice model. Nevertheless, Indonesia has modified the criminal justice approach by involving the role of the military. Therefore, it is necessary to understand the various forms associated with hard approach? and how do new strategies also need to be considered looking at existing threats? This paper attempts to explore possible new strategies adopted by Indonesia as a continuation of the UN response to the problem of violent extremism. This paper is a further development of the research results of the Center for National Security Studies (Puskamnas) Bhayangkara Raya University of Jakarta on the global map of terrorism.
GOOD ETHNIC MINORITY JUSTICE: THE NEED FOR GOOD GOVERNANCE BY ETHNIC MINORITY GROUP Marwan, Awaludin
Jurnal Keamanan Nasional Vol 5, No 2 (2019): November
Publisher : Pusat Kajian Keamanan Nasional (Puskamnas) Universitas Bhayangkara Jakarta Raya (UBJ)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31599/jkn.v5i2.444

Abstract

Good ethnic minority justice is a notion which stipulates equal treatment for all people, including ethnic minorities, regardless of their ethnic, religious, or cultural background. This paper will discuss the vital demand for the implementation of good governance in providing justice to ethnic minorities. Good governance, at least, comprises of the principle of transparency, the principle of participation and the principle of human rights. Furthermore, this paper will focus on theoretical and philosophical analyses towards the need for good ethnic minority justice. Some examples are mentioned from the situation of legal protection of ethnic minorities in Indonesia and the Netherlands. Meanwhile, philosophical discourses emphasize good ethnic minority justice which is the opposite of the dominant theory of justice. The theory of justice mostly supports the position of the majority. Good ethnic minority justice highlights the legal protection of ethnic minorities.
REVOLUSI MENTAL DALAM PERSPEKTIF KEPOLISIAN: MENGHADIRKAN NEGARA DI TENGAH-TENGAH MASYARAKAT Supriyadi, Mohammad
Jurnal Keamanan Nasional Vol 1, No 1 (2015): April
Publisher : Pusat Kajian Keamanan Nasional (Puskamnas) Universitas Bhayangkara Jakarta Raya (UBJ)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31599/jkn.v1i1.16

Abstract

Reformasi 1998 dengan tumbangnya rezim Orde Baru Soeharto menghasilkan perombakan yang sifatnya institusional dan belum sampai pada paradigma, mindset, atau budaya politik kita dalam rangka pembangunan bangsa (nation building). Setelah Joko Widodo terpilih menjadi Presiden, langkah awal yang ditekankan kepada seluruh lembaga pemerintahan (kementerian dan non-kementerian) melakukan revolusi mental. Revolusi mental yang menjadi jargon pemerintahan Joko Widodo ditarjamahkan dalam Reformari Birokrasi Polri (RBP). RBP pada awalnya lahir atas dasar ?kemauan perubahan? yang datang dari dalam institusi (the spirit of internal change), dengan mengusung 3 pilar perubahan yang lebih dulu dirumuskan dalam ?Buku Biru Reformasi Polri?, yaitu: intrumental, struktural dan kultural. Namun sejauh ini, RBP belum sepenuhnya berjalan maksimal. Terlihat dari beberapa riset media massa maupun kajian akademik yang menyimpulkan bahwa kepercayaan masyarakat terhadap Polri masih rendah. Oleh karena itu, Polri ke depan harus merumuskan kebijakan yang lebih strategis, cepat serta tepat dalam menghadapi perkembangan dinamika kejahatan dalam negeri maupun internasional. Manajemen pengetahuan (knowledge management) sangat berperan penting dalam membantu mengatasi permasalahan yang dihadapi. Dalam perdebatan akademik yang terfokus pada peran polisi modern, bahwa keberhasilan polisi tidak hanya dihitung dari sejauhmana tindak pidana kriminalitas dapat diselesaikan, namun pendekatan yang digunakan sejauhmana kedekatan polisi dengan masyrakat sekitar. Dari kerangka pemikiran inilah polisi saat ini didorong ke arah Democratic Policing yang mengakomoditr 5 penilaian: (1) protecting democratic political life; (2) governance, accountability, and transparancy; (3) service delivery for safety, justice and security; (4) proper police conduct; dan (5) police as citizens.Kata kunci: Democratic Policing, RBP, polisi, revolusi mental
PENGELOLAAN KEMARITIMAN MENUJU INDONESIA SEBAGAI POROS MARITIM DUNIA Kadar, A.
Jurnal Keamanan Nasional Vol 1, No 3 (2015): Desember
Publisher : Pusat Kajian Keamanan Nasional (Puskamnas) Universitas Bhayangkara Jakarta Raya (UBJ)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31599/jkn.v1i3.33

Abstract

Tulisan ini memberikan critical issue terhadap visi Indonesia menuju poros maritim dunia. Dalam pandangan penulis, Indonesia menuju poros maritim dunia sejalan dengan jati diri Indonesia atau identitas nasional sebagai sebuah negara kepulauan. Namun demikian, pembentukan Badan Keamanan Laut (Bakamla) sebagai jalan menuju poros maritim cenderung memicu tumpang tindih dengan tugas pokok dan fungsi yang dimiliki TNI AL, Polair maupun Bakamla. Oleh karena itu, perlu dilakukan kajian ulang terhadap posisi Bakamla dalam pengelolaan keamanan laut di Indonesia.
REFORMASI DI KEMENTERIAN PERTAHANAN RI Sukadis, Beni
Jurnal Keamanan Nasional Vol 2, No 2 (2016): November
Publisher : Pusat Kajian Keamanan Nasional (Puskamnas) Universitas Bhayangkara Jakarta Raya (UBJ)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31599/jkn.v2i2.45

Abstract

AbstrakReformasi bidang pertahanan yang dialami Indonesia sejak disahkan UU Pertahanan Negara dan UU TNI hingga kini belum selesai karena beberapa faktor yang cukup menghambat reformasi ini. Beberapa faktor yang menghambat, yaitu masih ada budaya paternalistik dalam birokrasi, masih ada ketidakjelasan kedudukan antara menteri pertahanan dan panglima TNI dalam pembagian wewenang khususnya terkait hubungan sipil-militer dan kepemimpinan sipil yang lemah dalam mengelola reformasi di Kementerian Pertahanan. Hingga saat ini implementasi supremasi sipil masih samar di Kementerian Pertahanan, walaupun secara faktual menteri pertahanan berasal dari sipil, tapi di sisi lain dominasi militer dalam jabatan pengambilan keputusan masih terjadi. Padahal supremasi sipil seharusnya direpresentasikan dalam wujud nyata bukan hanya dari hanya dari satu posisi pimpinan, yakni bagaimana otoritas sipil secara dominan dapat mengambil keputusan politik yang otonom sesuai dengan kebijakan negara yang dimandatkan oleh UU dan aturan yang ada.Kata kunci: reformasi pertahanan, hubungan sipil militer, supremasi sipil. Defense reform still underway since Indonesia passed the Law on State Defense and the TNI the reform law has not completed yet, because there are many factors that impede the reform process. Some of the factors are the paternalistic culture still exist in the bureaucracy, there is also ambiguity on the relations between the Defense Minister and the Commander of TNI in the division of labor especially to civil-military relations and weak civilian leadership in managing the reform at the Ministry of Defense. Until now, the implementation of civil supremacy within the Ministry is vague, although the ministers are civilian, but in fact the military domination in decision making process remains strong. Whereas, civil supremacy should not be exemplified on the top position, but the civilians authority take the lead in the decision making in accordance to the State Policy as stipulated by the law.Keywords: defense reform, civil-military, civilian supremacy.
BOOK REVIEW: ATAS NAMA KEBENCIAN: KAJIAN KASUS-KASUS KEJAHATAN BERBASIS KEBENCIAN DI INDONESIA Kartodiono, Sumarno
Jurnal Keamanan Nasional Vol 4, No 2 (2018): November
Publisher : Pusat Kajian Keamanan Nasional (Puskamnas) Universitas Bhayangkara Jakarta Raya (UBJ)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31599/jkn.v4i2.149

Abstract

Indonesia in the last few years has been faced with religious-based intra-religious or inter-religious conflicts. What factors can lead to religious sentiment and trigger conflicts in Indonesia are the lighters of discussion in this book. In this book, Maruli CC Simanjuntak shows that utterances of hatred based on religion are one of the triggers for the birth of conflicts in Indonesia. Speeches of hatred have alienated minority groups and endangered their position.
RUANG PEMOLISIAN PADA MEDIA SOSIAL: SEBUAH TANTANGAN DAN KEBUTUHAN Mujab, Saeful
Jurnal Keamanan Nasional Vol 5, No 2 (2019): November
Publisher : Pusat Kajian Keamanan Nasional (Puskamnas) Universitas Bhayangkara Jakarta Raya (UBJ)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31599/jkn.v5i2.430

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hal-hal yang dibutuhkan kepolisian dalam menghadapi tantangan pemolisian di ruang media sosial. Hal ini terinspirasi oleh maraknya berita penuh kebohongan yang dibuat dengan tujuan jahat atau hoaks, besarnya penyebaran berita dan konten pornografi dan prostitusi online, serta tontonan tindak kekerasan dan ujaran kebencian yang telah menjadi makanan sehari-hari, merusak tali persaudaraan dan cinta kasih sesama. Perkembangan media sosial yang luar biasa, telah memberikan manfaat di satu sisi, tetapi juga memberikan mudarat di sisi lain. Sehingga perkembangan media sosial menjadi tantangan baru bagi mereka yang bertanggung jawab menjaga keamanan dan ketertiban publik. Penelitian ini mengupas dan mengulas karya-karya ilmiyah terbaik dunia yang berhubungan dengan pemolisian dan media sosial. Selanjutnya mengawinkan tulisan-tulisan para ahli yang brilian tersebut, sehingga menjawab pertanyaan dari penelitian ini tentang apa yang dibutuhkan kepolisian dalam menghadapi tantangan pemolisian di ruang media sosial. 
RELASI NEGARA DAN ISLAM DI INDONESIA: PENGALAMAN NAHDLATUL ULAMA Asy'ari, Hasyim
Jurnal Keamanan Nasional Vol 1, No 1 (2015): April
Publisher : Pusat Kajian Keamanan Nasional (Puskamnas) Universitas Bhayangkara Jakarta Raya (UBJ)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31599/jkn.v1i1.12

Abstract

Tulisan ini hendak mendeskripsikan relasi masyarakat dan negara di Indonesia, terutama respon masyarakat muslim. Kajian ini akan difokuskan kepada pengalaman respon Nahdlatul Ulama (NU) terhadap negara, karena NU adalah organisasi sosial keagamaan terbesar di Indonesia dan dikenal memiliki sikap toleran dan moderat sebagai pandangan hidupnya, sehingga kajian tentang NU penting untuk mendapat perhatian dalam beradaptasi dengan negara-bangsa selama ini. Tulisan akan dimulai dengan mengkaji relasi Islam dan negara, terutama di Indonesia, dan dilanjutkan dengan mengkaji sejumlah pengalaman titik-temu antara NU dan negara. Kesimpulan yang diambil dalam tulisan ini adalah relasi negara dan Islam di Indonesia diwarnai oleh ketegangan dan moderasi. Namun demikian, NU sebagai organisasi sosial keagamaan terbesar di Indonesia lebih memilih jalan moderat dan toleransi daripada memilih jalan kekerasan.Kata kunci: Indonesia, NU, moderat, toleransi dan pancasila
PERSELISIHAN POLRI DENGAN KPK: BELAJAR DARI SEJARAH PERSELISIHAN WEWENANG PENYIDIK/POLISI DAN PENUNTUT UMUM/JAKSA Ibrahim, Muhammad
Jurnal Keamanan Nasional Vol 1, No 2 (2015): Agustus
Publisher : Pusat Kajian Keamanan Nasional (Puskamnas) Universitas Bhayangkara Jakarta Raya (UBJ)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31599/jkn.v1i2.28

Abstract

Tulisan ini menjelaskan sejarah perselisihan antar lembaga penegak hukum. Dengan mengambil contoh kasus pada perselisihan antara Polri dan KPK, pada pemaparan selanjutnya menjelaskan bahwa perselisihan antar lembaga penegak hukum pada dasarnya bukanlah hal baru. Konflik yang ada lebih pada terjadinya perselisihan wewenang dan/atau kepentingan. Pada kesimpunnya terlihat bahwa perselisihan pada hakekatnya terkait masalah politik dengan hukum.
CONSUMER TRIBE DAN INDUSTRI GAYA HIDUP DI BANDUNG, INDONESIA Soeriaatmadja, Keni
Jurnal Keamanan Nasional Vol 3, No 1 (2017): Mei
Publisher : Pusat Kajian Keamanan Nasional (Puskamnas) Universitas Bhayangkara Jakarta Raya (UBJ)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31599/jkn.v3i1.20

Abstract

AbstractIn 2015, UNESCO rewarded Bandung as one of World?s Creative City for ?design? category. This raised many reactions from the public, including ones questioning the emergence and existence of communities who plays the main role in the creative industry of the city. One of the most significant role comes from the youth culture in the city who produces goods as part of their life styles that has become economically successful and is claimed to be the actors of creative industry in Bandung, and in Indonesia in a bigger scheme. The fact is, many of these companies emmerge from the diffusion of globalization into the youth culture where at some point create the need to reproduce its cultural icons and symbols into items with more reasonable pricing. The youth culture and its life styles then construct a mutual relation, between producers and consumers, to support this act of reproduction which is unique because it involves sharing of idealisms. With a perspective of consumers tribe, this article tries to unfold the historical journey of Bandung?s youth culture and relates it with the social process that occurs within its economic significance.Keywords: Culture, Life Styles, Globalization and economic AbstrakPada tahun 2015, UNESCO menobatkan Bandung sebagai salah satu kota kreatif dunia, atau World?s Creative City, dalam kategori desain. Hal ini mengundang banyak reaksi publik, termasuk mereka yang mempertanyakan kemunculan dan eksistensi komunitas-komunitas yang memiliki peran utama dalam industri kreatif kota tersebut. Salah satu peran signifikan dipegang oleh budaya anak muda perkotaan yang memproduksi barang sebagai bagian dari gaya hidup mereka yang menjadi sukses secara ekonomi dan diklaim sebagai aktor industri kreatif baik di Bandung maupun di Indonesia. Faktanya, banyak dari perusahaan ini muncul dari difusi globalisasi dalam budaya anak muda sampai pada satu titik dimana anak muda memiliki kebutuhan untuk meniru ikon dan simbol kultural menjadi barang dengan harga yang lebih terjangkau. Budaya anak muda dan gaya hidup mereka kemudian membentuk hubungan timbal balik antara produsen dan konsumen untuk mendukung aksi meniru yang unik ini, karena melibatkan pertukaran idealisme. Dengan perspektif kaum konsumen, artikel ini membuka perjalanan historis budaya anak muda Bandung dan menghubungkannya dengan proses sosial yang terjadi dalam makna ekonominya.Kata Kunci: Budaya, Gaya Hidup, Globalsasi dan Ekonomi