cover
Contact Name
Johannis Siahaya
Contact Email
jurnal@stakterunabhakti.ac.id
Phone
+6281322661998
Journal Mail Official
jurnal@stakterunabhakti.ac.id
Editorial Address
Ds. Daratan 2, Sendang Arum, Kec. Minggir, Kab. Sleman, D.I. Yogyakarta 55562
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
JURNAL TERUNA BHAKTI
ISSN : 2622514X     EISSN : 26225085     DOI : 10.47131
Jurnal Teruna Bhakti merupakan wadah publikasi hasil penelitian teologi dan Pendidikan Agama Kristen yang dikelola oleh Sekolah Tinggi Agam Kristen Teruna Bhakti, Yogyakarta, dengan Scope: Teologi Sistematika, Teologi Biblika, Pendidikan Agama Kristen, Kepemimpnan Kristen, Teologi Praktika.
Articles 24 Documents
TINJAUAN PERSPEKTIF IMAN KRISTEN TENTANG MANGADATI DALAM PERNIKAHAN MASYARAKAT BATAK TOBA Siahaan, Vera Herawati; Yasin, Harlin
JURNAL TERUNA BHAKTI Vol 2, No 2 (2020): Pebruari 2020
Publisher : JURNAL TERUNA BHAKTI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (406.127 KB)

Abstract

The Toba Batak traditions in terms of "mangadati" carry out traditional Batak Toba cultural events that adhere to the exogamy law, namely marriages outside certain ethnic groups. This is seen in the Batak Toba community where people do not take wives from the clan group themselves (namariboto), because they are called siblings; women leave their groups and move to the husband's group, and are patrilineal, with the aim of preserving the husband's clan within the male line. This article uses the method of phenomenological analysis with a biblical reflection approach. Mangadati marriage custom from the perspective of Christian faith is not a contradiction, because the custom is done with love, the value of respect and the value of brotherhood and togetherness in accordance with Matthew 22: 37-40. Abstrak Adat Batak Toba dari sisi ?mangadati? melaksanakan acara adat kebudayaan Batak Toba yang menganut hukum eksogami, yaitu perkawinan di luar kelompok suku tertentu. Ini terlihat dalam masyarakat Batak Toba di mana orang tidak mengambil isteri dari kalangan kelompok marga sendiri (namariboto), karena disebut kakak-adik; perempuan meninggalkan kelompoknya dan pindah ke kelompok suami, dan bersifat patrilineal, dengan tujuan untuk melestarikan marga suami di dalam garis lelaki. Artikel ini menggunakan metode analisis fenomenologi dengan pendekatan refleksi biblikal. Adat pernikahan mangadati ditinjau dari perspektif iman kristen bukan suatu yang bertentangan, karena adat dilakukan dengan kasih, nilai hormat dan nilai persaudaraan serta nilai kebersamaan sesuai dengan Matius 22: 37-40.
MANAJEMEN KELAS Oci, Markus
JURNAL TERUNA BHAKTI Vol 1, No 1 (2018): Agustus 2018
Publisher : JURNAL TERUNA BHAKTI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (660.554 KB)

Abstract

Class management is an effort to utilize classroom management in the context and content of teaching and learning activities. Class management is a skill that must be possessed by the teacher in deciding, understanding, diagnosing and the ability to act towards improving classroom atmosphere on aspects that need to be considered in class management are: class nature, driving class strength, class situation, selection and creative actions. Class management is the teacher's skill in managing, directing and managing student learning activities to be better in learning or learning activities, so that in classroom management learning or learning activities can run well. Class management is a conscious effort to regulate all teaching and learning activities or learning in order to run systematically and dynamically. The conscious effort leads to preparation in teaching, student learning, facilities and infrastructure, learning media, designing learning spaces, creating situations and conditions in teaching and learning activities, managing time and other matters related to teaching and learning activities or learning to run well . The objectives to be achieved in classroom management are: achievement of instructional objectives (core competencies, basic competencies and indicators). Abstrak Manajemen kelas adalah upaya mendayagunaan pengelolaan kelas dalam konteks dan konten kegiatan belajar mengajar. Manajemen kelas merupakan keterampilan yang harus dimiliki guru dalam memutuskan, memahami, mendiagnosis dan kemampuan bertindak menuju perbaikan suasan kelas terhadap aspek-aspek yang perlu diperhatikan dalam manajemen kelas adalah: sifat kelas, pendorong kekuatan kelas, situasi kelas, tindakan seleksi dan kreatif. Manajemen kelas merupakan keterampilan guru dalam mengatur, mengarahkan dan mengelola kegiatan belajar siswa menjadi lebih baik dalam kegiatan belajar atau pembelajaran, sehingga dalam manajemen kelas kegiatan belajar atau pembelajaran dapat berjalan baik. Manajemen kelas merupakan usaha yang dilakukan secara sadar untuk mengatur segala kegiatan belajar mengajar atau pembelajaran agar dapat berjalan secara sistematis dan dinamis. Usaha sadar tersebut mengarah pada persiapan dalam mengajar, belajar siswa, sarana dan prasarana, media pembelajaran, mendisain ruang belajar, menciptakan situasi dan kondisi dalam kegiatan belajar mengajar, mengatur waktu dan hal-hal lainnya yang berhubungan kegiatan belajar mengajar atau pembelajaran agar berjalan dengan baik. Tujuan yang hendak dicapai dalam manejeman kelas adalah: tercapainya tujuan intruksional (kompetensi inti, kompetensi dasar serta indikator).
KRISTOLOGI DALAM INJIL YOHANES Simanjuntak, Roy Martin
JURNAL TERUNA BHAKTI Vol 1, No 2 (2019): Februari 2019
Publisher : JURNAL TERUNA BHAKTI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (549.729 KB)

Abstract

The issue of Christology from time to time is one very interesting theological topics to be discussed, both in intellectual circles, even church leaders in communities grow together in a group of local churches. The spread understanding or information about Christology are numerous and easy to find, therefore believers should to select sources so as not to cause a false understanding that led to the loss of the substance of Christology. It?s inevitable that people who are in this modern era of greatly affect the issue and the development of Christology. This discussion includes the concept Christology from the Bible, and then outlines how where fathers or figures of Christian thinkers to formulate it in a Christian doctrine that Christians are ultimately used in the history of Christianity. Christology that comes from understanding the Bible is acceptable and justified by the believer. In particular, in the Gospel of John is very fullgar when talking about Christology, both His nature as well as the work of God and man and his mission for the salvation of mankind. Abstrak Persoalan Kristologi dari zaman ke zaman merupakan sala satu topik teologi yang sangat menarik untuk dibahas, baik di kalangan intelektual, pemimpin jemaat bahkan juga di komunitas-komunitas kelompok tumbuh bersama dalam sebuah gereja lokal. Pemahaman-pemahaman yang beredar atau informasi tentang Kristologi sangatlah banyak dan mudah untuk menemukannya, oleh karenanya orang percaya mestinya menyeleksi sumber tersebut sehingga tidak menimbulkan pemahaman yang keliru dan berujung pada hilangnya substansi Kristologi tersebut. Tidak bisa dipungkiri bahwa masyarakat yang berada dalam era modern ini sangat mempengaruhi isu dan perkembangan Kristologi. Pembahasan ini meliputi konsep Kristologi yang bersumber dari Alkitab, dan kemudian menguraikan bagaimana bapa-bapa gereja atau tokoh-tokoh pemikir Kristen merumuskannya dalam sebuah doktrin Kristen yang akhirnya dipakai orang Kristen dalam sepanjang sejarah kekristenan. Kristologi yang bersumber dari Alkitab merupakan pemahaman yang dapat diterima dan dibenarkan oleh orang percaya. Secara khusus Injil Yohanes sangat terbuka membahas tentang Kristologi, baik hakikatNya sebagai Allah dan manusia maupun karya dan misiNya untuk keselamatan umat manusia.
MEREPOSISI HUBUNGAN AGAMA DAN NEGARA DI INDONESIA DALAM PERSPEKTIF IMAN KRISTEN Moru, Osian Orjumi
JURNAL TERUNA BHAKTI Vol 2, No 2 (2020): Pebruari 2020
Publisher : JURNAL TERUNA BHAKTI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (360.388 KB)

Abstract

The relationship between religion and state must be seen in terms of constructive and contextual relations. This means that the relationship between religion and the state is built on the basis of a common vision to create complete human life. This article is qualitative research literature using a descriptive analysis method about the political and national situation in Indonesia as a context for finding the relationship between religion and the state. Religion and the state are both servants of God in bringing prosperity and justice to all humanity. This framework of thinking has logical consequences in repositioning the relationship between religion and the state in a more inductive form based on historical facts and social realities of society. In the end, placing Pancasila as an empirical reality of Indonesian society was formed in the process of the nation's history. Pancasila was formed as an effort based on the common awareness of all components of the nation to harmonize religious values and national values that are different in the Indonesian-Indonesian framework. Abstrak Hubungan antara agama dan negara harus dilihat dalam kerangka hubungan yang konstruktif dan kontekstual. Hal ini berarti hubungan antara agama dan negara dibangun berdasarkan pada kesamaan visi untuk menciptakan kehidupan manusia yang seutuhnya. Artikel ini merupakan sebuah penelitian kualitatif literatur dengan menggunakan metode analisis deskriptif tentang keadaan politik dan nasional Indonesia sebagai konteks untuk mencari hubungan antara agama dan negara. Agama dan negara adalah sama-sama hamba Tuhan dalam mewujudkan kesejahteraan dan keadilan atas seluruh umat manusia. Kerangka berpikir tersebut membawa konsekuensi logis dalam mereposisi hubungan antara agama dan negara ke dalam bentuk yang lebih induktif berdasarkan fakta sejarah dan realita sosial masyarakat. Pada akhirnya menempatkan Pancasila sebagai suatu realita empiris masyarakat Indonesia yang dibentuk dalam proses perjalanan sejarah bangsa. Pancasila dibentuk sebagai upaya berdasarkan kesadaran bersama seluruh komponen bangsa untuk mengharmonisasikan nilai-nilai agama dan nilai-nilai kebangsaan yang berbeda-beda dalam kerangka keindonesiaan.
OPTIMALISASI PROFESIONALISME WIDYAISWARA MELALUI PENINGKATAN KUALITAS KARYA TULIS ILMIAH Permana, Rizky
JURNAL TERUNA BHAKTI Vol 1, No 2 (2019): Februari 2019
Publisher : JURNAL TERUNA BHAKTI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (399.508 KB)

Abstract

Scientific writing is a work in the form of research in a particular case or theme and is published in order to give a discussion in the scope of science. This article is a descriptive method study to illustrate how important a widyaiswara has skills in the field of scientific writing. Abstrak Karya tulis ilmiah merupakan sebuah hasil karya yang berupa penelitian pada sebuah kasus atau tema tertentu dan dipublikasikan demi memberikan konrtibusi dalam lingkup keilmuan. Artikel ini merupaka kajian dengan metode deskriptif untuk memberikan gambaran betapa pentingnya seorang widyaiswara memiliki ketrampilan dalam bidang tulisan karya ilmiah.
PENDEKATAN HUMANIS-RELEGIUS PADA PENDIDIKAN KRISTEN SEBAGAI PEMBENTUKAN KARAKTER GENERASI MILENIAL Marija, Petrus; Kawangung, Yudhi; Kause, Munatar
JURNAL TERUNA BHAKTI Vol 2, No 1 (2019): Agustus 2019
Publisher : JURNAL TERUNA BHAKTI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (610.144 KB)

Abstract

Prior to basic education with an age range of 6 or 7, and 8 or 9 years was a vulnerable period of cognitive, psychological, and emotional development. Children need education that can form good character and can reflect Christian values in their lives. The shift in the pattern of parental education as the first educational environment due to busy parents allows the lack of inculcation of character in the family environment. Schools become the foundation of hope for the formation of children's character in preparing generations in the millennial era. In the education process, indicators of success in learning methods are students enthusiastic about the lesson, happy, a change in thinking and attitudes of the learner's own will. Humans have a tendency for self-actualization because humans move forward to perfection or potential. Each individual has the creative ability to solve the problem. Religious humanist education contains two educational concepts that we want to integrate, namely humanist education and religious education. Integrating these two educational concepts with the aim of being able to build an education system that can shape the character of millennial generation through Christian Education. This type of research is an intrinsic case study (Intrinsic case study). Researchers focus on one particular object and are appointed as a case for in-depth study. so as to discover the reality behind the phenomenon. Based on the results of the analysis it is known that religious humanist education in Christian education has linear compounds, so the formation of the character of children, especially in this millennium era will be very tested when the religious humanist approach to Christian education can be actually carried out by educators and or educational institutions (Christian). 
KAJIAN TERHADAP STANDARISASI PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN Kawangung, Yudhi; Rinukti, Nunuk; Marbun, Arnita Ernauli
JURNAL TERUNA BHAKTI Vol 2, No 1 (2019): Agustus 2019
Publisher : JURNAL TERUNA BHAKTI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (556.853 KB)

Abstract

This paper aims to examine the standardization of Christian Religious Education based on Government Regulation Number 13 of 2015 concerning Second Amendment to Government Regulation Number 19 of 2005 concerning National Education Standards, hereinafter referred to as PP No 13 of 2015 concerning National Education Standards. Christian religious education is a basic thing that must exist in Christian religious education but is not regulated in a national standard of education. The method used for the discussion of this problem is the descriptive method with a qualitative approach to the literature. The discussion and the result is that in fact Government Regulation Number 13 of 2015 concerning Second Amendment to Government Regulation Number 19 of 2005 concerning National Standards of Education in terms of Standardization of Christian Religious Education is still lacking. Christian Religious Education is not regulated in Government Regulation Number 13 of 2015 concerning Second Amendment to Government Regulation Number 19 of 2005 concerning National Education Standards but is regulated in Minister of Religion Regulation Number 27 of 2016 concerning Amendment to Ministerial Regulation Number 7 of 2012 concerning Christian Religious Education. Abstrak Makalah ini bertujuan untuk mengkaji standarisasi Pendidikan Agama Kristen berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 13 Tahun 2015 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, yang selanjutnya disebut dengan PP No 13 Tahun 2015 tentang Standar Nasional Pendidikan. Pendidikan Agama Kristen merupakan hal dasar yang harus ada dalam pendidikan Keagamaan Kristen, namun tidak diatur dalam sebuah standar nasional pendidikan . Metode yang digunakan untuk pembahasan persoalan ini yakni dengan metode deskriptif dengan pedekatan kualitatif pada literatur. Pembahasan dan hasilnya yakni bahwa kenyataannya Peraturan Pemerintah Nomor 13 Tahun 2015 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan dalam hal Standarisasi Pendidikan Agama Kristen masih ada kekurangan. Pendidikan Agama Kristen tidak diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 13 Tahun 2015 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, melainkan diatur dalam Peraturan Menteri Agama Nomor 27 Tahun 2016 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Nomor 7 Tahun 2012 tentang Pendidikan Keagamaan Kristen.
PERANAN KEKRISTENAN DALAM MENGHADAPI MASALAH EKOLOGI Patora, Marianus
JURNAL TERUNA BHAKTI Vol 1, No 2 (2019): Februari 2019
Publisher : JURNAL TERUNA BHAKTI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (389.672 KB)

Abstract

Ecological issues are now very worried man on the planet. Deforestation, soil excavation, burning forests, polluted rivers, sewage plant that is not well controlled, until the waste can not control it advanced technology. All this makes the concerns are very exceptional in all areas of the human race. There have been many non-governmental organizations and governments are fighting to awaken humanity of the dangers of ecological destruction of the earth. In the spiritual realm, the role of religious communities are required to be actively involved to become agents of change, with a mouthpiece for the creation of the world's ecological sistima good and true. This also applies to Christians. What and how the role of Christians in the face of this ecological issues? This paper inspires Christians to engage actively to preserve the universe, such as what is contained in the word of God or the Bible. Abstrak Persoalan Ekologi saat ini sudah sangat mencemaskan manusia di planet ini. Pengrusakan hutan, penggalian tanah, pembakaran hutan, sungai-sungai yang tercemar, limbah pabrik yang tidak dikontrol dengan baik, sampai dengan tidak dapat dikontrolnya limbah teknologi canggih. Semua hal ini membuat keprihatianan yang sangat luar biasa di segala bidang umat manusia. Sudah banyak lembaga swadaya masyarakat dan pemerintah yang berperang untuk menyadarkan umat manusia akan bahaya rusaknya ekologi bumi ini. Dalam bidang spiritual, peranan umat beragama dituntut untuk terlibat aktif untuk menjadi agen perubahan, dengan menjadi corong bagi terciptanya sistima ekologi dunia yang baik dan benar. Hal ini juga berlaku bagi orang Kristen. Apa dan bagaimana peranan orang Kristen dalam menghadapi isu-isu ekologi ini? Tulisan ini menggugah orang Kristen untuk terlibat aktif untuk menjaga kelestarian alam semesta, seperti apa yang termaktub dalam firman Tuhan atau Alkitab.
MENGKAJI PENERAPAN BLENDED LEARNING MENGGUNAKAN METODE FLIPPED CLASSROOM DI PERGURUAN TINGGI AGAMA KRISTEN Permana, Rizky
JURNAL TERUNA BHAKTI Vol 2, No 2 (2020): Pebruari 2020
Publisher : JURNAL TERUNA BHAKTI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (290.648 KB)

Abstract

The purpose of this research is to develop learning e-learning-based as a solu-tion in improving attitudes, interests, and competence of student learning. The essence of this study is to look for differences between learning competencies before and after the application of-based this method. The results showed a difference and the results of learning competencies were seen from the gain is 1 with high criteria. Thus it can be concluded that the results of the development of learning in blended the method flipped classroom can improve the learning competencies. This finding is the development of the blended learning method of a flipped classroom, a learning method that can be applied in Blended the method flipped classroom can be used as a reference in new learning. Abstrak Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengembangkan pembelajaran berbasis e-learning sebagai solusi dalam meningkatkan sikap, minat dan kompetensi pembelajaran siswa. Inti dari penelitian ini adalah untuk mencari perbedaan antara kompetensi belajar sebelum dan sesudah penerapan berbasis metode ini. Hasil penelitian menunjukkan perbedaan dan hasil kompetensi belajar dilihat dari gain 1 dengan kriteria tinggi. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa hasil pengembangan pembelajaran pada kelas campuran dengan metode membalik kelas dapat meningkatkan kompetensi belajar. Temuan ini merupakan pengembangan dari metode blended learning kelas flipped, metode pembelajaran yang dapat diterapkan dalam Blended themethod kelas flipped dapat digunakan sebagai referensi dalam pembelajaran baru
MISI DALAM DOA YESUS MENURUT YOHANES 17 Siahaya, Johannis
JURNAL TERUNA BHAKTI Vol 1, No 2 (2019): Februari 2019
Publisher : JURNAL TERUNA BHAKTI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (487.219 KB)

Abstract

Jesus came into the world with a "mandate" special of the Father in Heaven, seeking and saving the lost. As an envoy mission of the eternal kingdom of heaven, Jesus becomes the "owner", and "implementing" the mandate of the Father for approximately three years in his work on earth. One way of doing mission by is through prayer. Prayer is a powerful weapon that should be possessed by any Christian or for those who would be the envoy's mission. Abstrak Yesus datang kedalam dunia dengan membawa ?mandat? khusus dari Bapa di Sorga, yakni mencari dan menyelamatkan yang hilang. Sebagai seorang utusan misi dari Kerajaan Sorga yang kekal, Yesus menjadi ?pemilik?, sekaligus ?pelaksana? mandat dari Bapa selama kurang lebih tiga tahun dalam karyaNya di bumi. Salah satu cara melakukan misi oleh adalah melalui doa. Doa adalah senjata ampuh yang seharusnya dimiliki oleh setiap orang Kristen atau bagi mereka yang akan menjadi utusan misi.

Page 1 of 3 | Total Record : 24