cover
Contact Name
Hartiningsih
Contact Email
kalselbalitbangda.jkp@gmail.com
Phone
+628115013929
Journal Mail Official
jkp.balitbangda@kalselprov.go.id
Editorial Address
Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Provinsi Kalimantan Selatan Jl. Dharma Praja I, Kawasan Perkantoran Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan, Kelurahan Palam Kecamatan Cempaka Kota Banjarbaru Provinsi Kalimantan Selatan , Indonesia
Location
Kota banjarbaru,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Jurnal Kebijakan Pembangunan
ISSN : 20856091     EISSN : 27156656     DOI : -
Jurnal Kebijakan Pembangunan (JKP) is a scientific publication media that contains articles of research results and / or scientific thought within the scope of government policy. JKP managed and published by Regional Research and Development Agency (Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah) Kalimantan Selatan Province, Indonesia. In 2019, JKP was ranked SINTA 4 and continues to improve its quality to become a national accredited journal. JKP is published twice a year (June and December), each edition consists of 10 - 12 articles. The scope of JKP is as follows: Government empowerment (government capability, regional finance, government facilities and infrastructure). Community empowerment (population and employment, community welfare, social conditions, politics and culture) Regional development (public facilities, regional economy, physical condition, environment and natural resources). Development in the fields of health, education and economy.
Articles 76 Documents
LITERACY HUB (L-HUB): STUDI STRATEGI LITERASI PEMERINTAH DAERAH (STUDI KASUS DI KOTA BAUBAU) Saksono, Herie
Jurnal Kebijakan Pembangunan Vol 15 No 1 (2020): Jurnal Kebijakan Pembangunan
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Provinsi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (426.415 KB)

Abstract

  Literacy is still a problem in various regions. The times? development has also changed the spectrum of literacy, so literacy is not just the ability to read, write, and count. The results of the measurement of various international institutions prove how the condition of literacy has deteriorated. How is the management of literacy carried out by the Government, Regional Government and the community? What should literacy stakeholders do in an effort to develop a cultural literacy? This study aims to describe the condition of literacy in the region, encourage the presence of the Government and Regional Governments to initiate extraordinary agenda of literacy implementation, and provide understanding to the public regarding the availability of public participation space to actualize literacy culture. This study used a descriptive qualitative approach to describe literacy in the area with a case study method in Baubau City. The study concluded the importance of rearranging literacy management in an integrated manner - Central and regional by involving stakeholders in literacy. It is recommended that the Baubau City Government initiate the Literacy Hub (L-Hub) which will be an accelerator of the development of cultural literacy by prioritizing the active role and collaboration between community elements. In addition, it is necessary to create a conducive climate that supports ecosystem literacy and literacy as a lifestyle for the sake of the creation of literate generations that will accelerate the realization of the city of literacy. Abstrak Literasi masih menjadi problematika di berbagai daerah. Perkembangan zaman turut merubah spektrum literasi, sehingga literasi tidak sekedar kemampuan membaca, menulis, dan berhitung. Hasil pengukuran berbagai institusi internasional membuktikan betapa terpuruknya kondisi literasi. Bagaimana pengelolaan literasi yang dilakukan Pemerintah, Pemerintah Daerah, dan masyarakat? Apa yang harus dilakukan para pemangku kepentingan literasi dalam upaya mengembangkan budaya literasi? Kajian ini bertujuan mendeskripsikan kondisi literasi di daerah, mendorong kehadiran Pemerintah dan Pemerintah Daerah untuk menginisiasi extraordinary agendapenyelenggaraan literasi, dan memberi pemahaman kepada masyarakat terkait ketersediaan ruang partisipasi publik untuk mengaktualisasikan budaya literasi. Kajian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif untuk mendeskripsikan literasi di daerah dengan metode studi kasus di Kota Baubau. Kajian menyimpulkan pentingnya menata kembali manajemen literasi secara terintegrasi - Pusat dan daerah dengan melibatkan para pemangku kepentingan literasi. Direkomendasikan agar Pemerintah Kota Baubau menginisiasi Literacy Hub(L-Hub) yang akan menjadi akselerator pengembangan budaya literasi dengan mengedepankan peran aktif dan kolaborasi antarelemen masyarakat. Selain itu, diperlukan penciptaan iklim kondusif yang mendukung ekosistem literasi dan pembiasaan berliterasi sebagai gaya hidup demi terciptanya generasi literat yang akan memercepat terwujudnya kota literasi.
PERSPEKTIF PERAN PARA PEMNAGKU KEPENTINGAN DAN PETA PERMASALAHAN PENGEMBANGAN WISATA DESA SAWARNA KABUPATEN LEBAK PROVINSI BANTEN Mohammad Sofyan Budiarto
Jurnal Kebijakan Pembangunan Vol 12 No 1 (2017): JURNAL KEBIJAKAN PEMBANGUNAN
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Provinsi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1129.262 KB)

Abstract

The research objective are to determine the various issues and the role of stakeholders in the development of Tourism of Sawarna village. This study used qualitative descriptive method. The data analysis used Problem Tree Analysis and Stakeholder Analysis. The results of the analysis showed the tourism sector?s contribution to earnings Sawarna village community is low, because the number of tourists had been fluctuating. Three main problems areidentified: revenue from business services sector is still low, tourism promotion is not optimal and less comprehensive infrastructure. Stakeholder analysis results indicate that the Central Government, Provincial Government of Banten, Lebak District Government and investors heve high leverage and low risk while Perhutani and PTPN VIII has a low impact and low risk. Sawarna village government and rural communities Sawarna have high leverage and high risk in the development of travel, while the Non Governmental Organization (NGO) and has led organizations impact and low risk. Lebak regency government as a leader on implementing strategy needs to plan and reformulate strategies of tourism development of Sawarna village by involving the role and influence of all stakeholders. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui berbagai permasalahan  dan menganalisa peran serta pengaruh para Pemangku kepentingan dalam pengembangan objek wisata desa Sawarna. Penelitian ini menggunakan Metode diskriptif kualitatif. Analisa data dengan menggunakan Probem Tree Analisis dan Stakeholder Analisis. Hasil analisis menunjukan konstribusi sektor pariwisata desa Sawarna terhadap pendapatan Masyarakat rendah, karena jumlah wisatawan berfluktuatif. Terdapat tiga masalah utama yaitu mendapatkan dari sektor usaha jasa masih rendah, promosi wisata belum optimal dan infrastruktur yang kurang memadahi. Hasil analisis stakeholder menunjukan bahwa Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi Banten, Pemerintah Kabupaten Lebak dan investor memiliki pengaruh tinggi dan resiko rendah sedangkan Perhutani dan PTPN VIII memiliki pengaruh rendah dan resiko rendah. Pemerintah desa Sawarna dan masyarakat Desa Sawarna memiliki peran tinggi dan resiko tinggi dalam pengembangan wisata, sedangkan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan Organisasi kepemudaan memiliki pengaruh dan resiko rendah. Pemerintahan Kabupaten Lebak sebagai penanggung jawab pengembangan harus merencanakan dan merumuskan kembali strategi pengembangan wisata desa Sawarna dengan melibatkan peran dan pengaruh semua pemangku kepentingan.  
KEBIJAKAN PENGENDALIAN DIARE BERDASARKAN ANALISIS SPACIAL FAKTOR PENYEBAB DIARE DI KABUPATEN TANAH BUMBU DickyAndiarsa; Ika Setianingsih; Sri Sulasmi
Jurnal Kebijakan Pembangunan Vol 12 No 1 (2017): JURNAL KEBIJAKAN PEMBANGUNAN
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Provinsi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1728.174 KB)

Abstract

Abstract The numbers of diarrhea cases in Indonesia generally and Tanah Bumbu District in particularly are still quite high. Limited access to clean water, sanitation, and behavior clean and Healthy Lifestyle (PHBS) are factors that affect the incidence of diarrhea. These three factors are also related to the state of the environment and the local socio-cultural spatially. Therefore the purpose of this study was to identify the factors that cause diarrhea in Tanah Bumbu regency by Geospatial method approach. Cross-sectional study design with observational analytical held for the total sample of 501 households from 6 Primary health care selected, respondents had experienced diarrhea and registered at the local health center. Observations and interview carried out via a questionnaire in order to know the characteristics of respondents, factors environmental sanitation, and PHBS. Examination of water samples carried out to determine the bacteriological contamination. Analyses were performed with Geographical Information System (GIS) approach. The results show that there are differences parents?work, the quality of water resources, usage, and water treatment in cases of diarrhea in the city and village area. The poor of water source (unimproved) is also closely related to that presence of the agent contamination of the water was checked. In all areas of health centers showed that diarrhea can have an impact to nearby settlements in socio-environmental. Based on the map of the area at risk of diarrhea indicates that most areas of the six health centers had high risk zone. Abstrak Kasus diare di Indonesia secara umum dan di Kabupaten Tanah Bumbu khususnya masih cukup tinggi. Keterbatasan akses air bersih, sanitasi lingkungan , dan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) merupakan factor yang mempengaruhi kejadian diare. Ketiga faktor tersebut terkait pula dengan keadaan lingkunagn dan sosial budaya masyarakat setempat secara spasial. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi faktor-faktor penyebab diare di Kabupaten Tanah Bumbu dengan pendekatan metode Geospasial. Penelitian ini menggunakan pendekatan observasional analitik dengan desain studi cross-sectional. Jumlah sampel sebanyak 501 rumah tangga dari 6 wilayah kerja puskesmas terpilih. Populasi adalah seluruh masyarakat di 12 wilayah kerja puskesmas di Kab Tanah Bumbu. Responden pernah mengalami diare dan terdaftar di puskesmas setempat. Observasi dengan form observasi dan wawancara menggunakan kuisioner untuk dapat mengetahui karakteristik responden, faktor sanitasi lingkungan, dan PHBS. Pemeriksaan sampel air dilakukan untuk mengetahui cemaran bakteri. Analisis dilakukan dengan pendekatan Sistem Informasi Geografi (SIG). Hasil menunjukan bahwa terdapat perbedaan pekerjaan kepala keluarga, kualitas sumber air, pemakaian dan pengolahan air pada kasus diare yang ada di kota maupun di desa. Kualitas sumber air yang tidak bagus (unimproved) juga berhubungan erat dengan keberadaan agen cemaran pada air yang diperiksa. Semua wilayah puskesmas menunjukan bahwa diare dapat berdampak ke pemukiman terdekat secara socio-enviromental. Berdasarka peta wilayah risiko diare menunjukan bahwa sebagian besar wilayah puskesmas berzona risiko tinggi terhadap kasus diare.
PELAKSANAAN TRANSPARANSI DALAM MEWUJUDKAN GOOD GOVERNANCE PADA DINAS PENDIDIKAN DI KALIMANTAN SELATAN Latifa Suhada Nisa
Jurnal Kebijakan Pembangunan Vol 12 No 1 (2017): JURNAL KEBIJAKAN PEMBANGUNAN
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Provinsi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1635.275 KB)

Abstract

The implementation of transparency is a one way of good governance action to increase publics services. The aims of' this study were to identified and analized the implementation, problems and strategies on transparency implementation in the regional education offices. This study was conducted in March ? November 2016 in the 13 regencies/city. The data were collected by literature study, kuesioner, deep interview and obeservation. Scooring, base statistics and descriptive qualitative method were used to analized. The results showed that 10 of 14  overnment education department have the value below  66.67% that means the transparency has not implemented well. The problems in transparency implementation were the lacking of regulation, information canter, low human resources, and budgeting. The strategies to overcome that problems were by behavioral; institutional; and social politics-laws approaching. The good team work, good will/political will from leader, regulation about standart education services need to be build, in other hand society?s coopertive behavior in implementation of public services etics also needed. Abstrak Pelaksanaan transparansi merupakan salah satu wujud pelaksanaan good governance sebagai upaya peningkatan pelayanan pada sektor public. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis pelaksanaan, kendala, dan strategi dalam mengatasi kendala pelaksanaan transparansi pada dinas pendidikan di Kalimantan Selatan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret ? November 2016, pada dinas pendidikan di 13 Kabupaten/Kota di Kalimantan Selatan. Teknik pengumpulan data, yaitu melalui studi literatur, kuesioner, wawancara mendalam, dan observasi. Analisi data dilakukan melalui teknik skoring dengan analisis statistic sederhana dan metode deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukan bahwa sebanyak 10 dinas pendidikan memiliki nilai di bawah 66,67% atau tidak melaksanakan prinsip transparansi. Kendala pelaksanaan prinsip transparansi, yaitu tidak adanya regulasi terkait pelaksanaan prinsip transparansi, tidak tersedianya bidang khusus yang menangani pemberian informasi, minimnya sumber daya manusia, dan pendanaan/penganggaran .Strategi yang dapat dilakukan untuk mengatasi kendala tersebut, yaitu melalui pendekatan behavioral; institusional; dan sistem social politik  dan hukum. Penyelesaian kendala pelaksanaan prinsip good governance perlu dilakukan melalui pembetukan tim kelompok kerja, perlu adanya good will/political will dari setiap pimpinan dan kepala daerah, perlu menyusunan Peraturan Gubernur/ Peraturan Walikota/ Peraturan Bupati tentang Standar Pelayanan pada Dinas Pendidikan, dan perlu sikap kooperatif  dari masyarakat dalam pelaksanakan etika pelayanan publik yang diselenggarakan oleh penyelenggara pelayanan publik.
KARAKTERISTIK INOVASI DAERAH BERBASIS POTENSI WILAYAH DI KOTA BANDUNG DAN KABUPATEN SLEMAN Ray Septianis Kartika
Jurnal Kebijakan Pembangunan Vol 12 No 1 (2017): JURNAL KEBIJAKAN PEMBANGUNAN
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Provinsi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1935.722 KB)

Abstract

Regional potentials have the power to develop local innovation. Potential natural resources with the support of human resource assets, became one of the indicators of strengthening innovation. The problem in this study is how the characteristics of regional innovation and what factors influence the formation of innovation characteristics. The purpose of this study is to know the characteristics of innovation and to identify factors inhibiting the characteristics of innovation. The study method used descriptive explorative with qualitative approach through interview guidance. The informants are Bappeda, Social Bureau and related SKPD. The technique of analysis is qualitative data analysis with data triangulation. The results of the study identified the characteristics of regional innovation in Bandung and Sleman Regency consisting of innovation, innovation, innovation and easy observation. Characteristic inhibiting factors are (1) government and society policy in proposing innovation idea, (2) territorial thematic mapping which includes identification of type and distribution of regional superior economic potential (3) cooperation with development of OVOP center in Bandung, (4) The existence of local capacity building (natural resources, human, institutional), (5) enormous natural potential, (2) strong government involvement in giving salak cultivation training, (3) SOP cultivation of salak, (4) innovation replication, and (5) intellectual property of salak. Potensi wilayah memiliki kekuatan untuk dapat mengembangkan inovasi daerah. Sumber daya alam potensial dengan didukung aset sumber daya manusia, menjadi salah satu indikator penguatan inovasi. Permasalahan dalam kajian ini adalah bagaimana karakteristik inovasi daerah  dan faktor apa saja yang mempengaruhi pembentukan karakteristik inovasi. Tujuan kajian ini mengetahui karakteristik inovasi dan mengidentifikasi faktor penghambat karakteristik inovasi. Metode kajian menggunakan deskriptif eksploratif dengan pendekatan kualitatif melalui pedoman wawancara. Informannya adalah Bappeda, Biro Sosial dan SKPD terkait. Teknik analisanya adalah analisa data kualitatif dengan triangulasi data. Hasil kajian mengidentifikasi karakteristik inovasi daerah di Kota Bandung dan Kabupaten Sleman terdiri dari keunggulan inovasi, kemudahan inovasi, uji coba inovasi dan mudah diamati. Faktor penghambat karakteristik yaitu (1) kebijakan merintah dan masyarakat dalam mengusulkan ide inovasi, (2) pemetaan tematik kewilayahan yang di dalamnya mencakup identifikasi jenis dan persebaran potensi ekonomi unggulan wilayah (3) adanya kerjasama dengan pengembangan sentra OVOP di Kota Bandung, (4) Adanya pembangunan kapasitas lokal (sumber daya alam, manusia, kelembagaan), (5) potensi alam yang sangat besar, (6) kuatnya pelibatnya pemerintah dalam memberikan pelatihan budidaya salak, (7) adanya SOP budidaya salak, (8) replikasi inovasi, dan (9) HAKI budidaya salak. Metode dan alat analisis apa yang digunakan, perlu disinggung di dalam abstrak.
HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP MASYARAKAT DALAM PENGGUNAAN LARVASIDA TEMEPOS DI KOTA BANJARMASIN M. Rasyid Ridha; Khairatun Nisa; Siti Aisyah
Jurnal Kebijakan Pembangunan Vol 12 No 1 (2017): JURNAL KEBIJAKAN PEMBANGUNAN
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Provinsi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1530.212 KB)

Abstract

The use temefos an attempt to control the mosquito Aedes aegypti in the pre-adult stage is used in the District of North Banjarmasin, Banjarmasin City as dengue endemic areas. The purpose of this study to determine the knowledge and attitudes of people in using time-fuse. The study design used is explanatory research using questionnaires by simple accidental sampling. Results showed no relationship between attitude, experience of use, frequency of use and knowledge of the behavior of people in using time-fuse in the District of North Banjarmasin.Based on the results of logistic regression analysis showed only experience (p = 0.058 Exp. B = 3.164) and attitude (p = 0.027 Exp. B = 4.542) effect on people's behavior in using time-fuse in Banjarmasin.There is a need for counseling about the use of temepos, especially regarding the mechanism of the ways and doses used. Abstrak Penggunaan temefos merupakan upaya pengendalian nyamuk Aedes aegypti pada tahap pra dewasa yang digunakan di Kecamatan Banjarmasin Utara, Kota banjarmasin sebagai daerah endemis DBD. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengetahuan dan sikap  masyarakat dalam menggunakan temefos. Desain penelitian yang digunakan adalah explanatory research dengan menggunakan kuisioner secara simple accidental sampling. Hasil Penelitian menunjukkan ada hubungan antara sikap, pengalaman penggunaan, frekuensi penggunaan dan pengetahuan dengan perilaku masyarakat dalam  menggunakan temefos di Kecamatan Banjarmasin Utara. Berdasarkan hasil analisis regresi logistik didapatkan hasil hanya pengalaman (p = 0,058 Exp.B = 3,164) dan sikap (p = 0,027 Exp.B = 4,542) yang berpengaruh terhadap perilaku masyarakat dalam menggunakan temefos di Kota Banjarmasin.Perlu dilakukan penyuluhan mengenai penggunaan temepos, khususnya mengenai mekanisme cara dan dosis yang digunakan.
URGENSI KEBIJAKAN MENETAPKAN KELEMBAGAAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN DI DAERAH Teguh Narutomo
Jurnal Kebijakan Pembangunan Vol 12 No 1 (2017): JURNAL KEBIJAKAN PEMBANGUNAN
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Provinsi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1340.258 KB)

Abstract

Charges against research-based policy has become a claim that is prevalent in hampi rsemua parts of the world, not least in Indonesia. But skill practice that applies particularly in almost all governance in the region are responsible for the spending policies in the region apparently still can not realize its full potential. In fact many are born without a policy based on research and not least the policy could tridak operations and should be revised or even withdrawn. The urgency to implement policies based on research and development is becoming increasingly important because of better demand field, theory and rules have been urged to be realized. This condition makes the importance of an institution that performs research and development functions in the region. This study uses qualitative research with case study approach. The results of this study conclude that the research and development function can not be ruled out and should be applied in the implementation of local government by establishing research and development institutions in the region. Abstrak Tuntutan terhadap kebijakan berbasis riset sudah menjadi tuntutan yang lazim di hampir semua belahan dunia, tidak terkecuali di Indonesia. Tetapi praktik yang berlaku khususnya di hampir semua penyelenggaraan pemerintahan di daerah yang bertanggungjawab terhadap pengeluaran kebijakan di daerah ternyata masih belum bisa merealisasikannya secara maksimal. Pada kenyataannya banyak kebijakan yang lahir tanpa didasari oleh riset dan tidak sedikit kebijakan tersebut tidak bisa operasional serta harus direvisi atau bahkan dicabut kembali. Untuk itu urgensi menerapkan kebijakan berbasis penelitian dan pengembangan menjadi semakin penting karena baik tuntutan lapangan, teori maupun aturan udah mendesak untuk direalisasikan. Kondisi ini membuat pentingnya sebuah lembaga yang menjalankan fungsi penelitian dan pengembangan di daerah. Kajian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Hasil dari kajian ini menyimpulkan bahwa fungsi penelitian dan pengembangan sudah tidak bisa dikesampingkan dan harus diterapkan dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah dengan membentuk lembaga penelitian dan pengembangan di daerah.
PENGUATAN KOORDINASI FUNGSIONAL RENCANA KERJA PEMERINTAH DAERAH (RKPD) UNTUK PEMBANGUNAN BERBASIS IPM (STUDI KASUS DI KABUPATEN SAMBAS, KALIMANTAN BARAT) Suwarli
Jurnal Kebijakan Pembangunan Vol 12 No 1 (2017): JURNAL KEBIJAKAN PEMBANGUNAN
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Provinsi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1989.35 KB)

Abstract

Achievement of the Human Development Index is one of the success performance indicator of government agencies and national development are realized in the form of the development program set out in planning documents, such as the Local Government Work Plan. This study was conducted in March-June 2016. The research location in Sambas District, The purpose of this study are analyzed the level of strengthening functional coordination on local government work plan documents include are preparation, implementation, and result evaluation to accelerate of HDI achievement. The approach of this study is qualitative method were analyzed use triangulation and descriptive statistical.The results showed that the level of strengthening functional coordination of RKPD based on HDI in Sambas Regency is classified as strong category.In the preparation stages has a score of 2.33, the implementation evaluation stage has a score of 2.32 and the evaluation stage of the results have a score of 2.30. These results indicate that the process of coordination in the preparation RKPD in Sambas district already has a good performance. Synergy and effective coordination among the internal bureaucracy is a key to success Abstrak Pencapaian target Indeks Pembangunan Manusia merupakan salah satu indikator keberhasilan kinerja instansi pemerintah dan pembangunan  nasional yang diwujudkan dalam bentuk program pembangunan yang tertuang dalam dokumen perencanaan, seperti Rencana Kerja Pemerintah Daerah. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret ? Juni 2016. Lokasi penelitian di Kabupaten Sambas.Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk menganalisis tingkat penguatan koordinasi fungsional terhadap dokumen perencanaan tahunan RKPD Kabupaten Sambas sejak tahap awal penyusunan, evaluasi pelaksanaan, dan evaluasi hasil yang berorientasi pada percepatan pencapaian Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif. Teknik analisis data menggunakan pendekatan triangulasi dan data kuantitatif dianalisis dengan menggunakan pendekatan statistik deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat penguatan koordinasi fungsional RKPD berbasis IPM di Kabupaten Sambas termasuk kedalam kategori kuat. Pada tahap awal penyusunan memiliki skor 2.33, tahap evaluasi pelaksanaan memiliki skor 2.32 dan tahap evaluasi hasil memiliki skor 2.30. Hasil tersebut menunjukkan bahwa proses koordinasi dalam penyusunan RKPD di Kabupaten Sambas sudah memiliki kinerja yang baik. Sinergitas dan koordinasi yang efektif antar internal birokrasi menjadi salah satu kunci keberhasilannya.
DAMPAK TINGGINYA PREVALENSI TRICHURIS TRICHIURA TERHADAP KEBIJAKAN PENGOBATAN MASSAL KECACINGAN DI TIGA SD DI KABUPATEN TANAH BUMBU Paisal; Budi Hairani; Erly Haryanti; Listiana Indriyati
Jurnal Kebijakan Pembangunan Vol 12 No 1 (2017): JURNAL KEBIJAKAN PEMBANGUNAN
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Provinsi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1576.578 KB)

Abstract

Soil transmitted helminth (STH) is a neglected parasitic disease with a high prevalence in the world. The prevalence of STH in elementary school children in Indonesia was 31.8%, while the prevalence of STH for Tanah Bumbu District was 56.6%, with the most common species was T. trichiura (81%). The objectives of this study were to obtain STH prevalence rates for schoolchildren in SD Juku Eja, SD Sungai Lembu and SD Sepunggur, and to assess the conformity of the Ministry of Health's mass deworming policy with the most prevalence of worm species. The study was conducted in February 2015. The sample of the study was all elementary school students of class I-VI in selected schools. Fecal examination using the direct method. The statistical test using chi square test between the variables of worm infection and the variable of schools. Respondents were 348 people and a third (35.1%) were worm infected. Among the three schools, primary school with the highest infection regardless of worm species was SD Juku Eja (77%) followed by SD Lembu River (15.6%). There was a significant difference between the prevalence of worms for each elementary school. Among the 122 respondents who suffered from worms, 49.2% were single infections of T. trichiura. The mass deworming guidelines released by the Ministry of Health are slightly different from the effective treatment for T. trichiura infection, ie on the number of days of administration. In the Ministry of Health's mass deworming guidelines, albendazole was given a single dose while the specific treatment of T. trichiura infection, albendazole was given 3 times for 3 consecutive days. Because the dominant infection at this study was T. trichiura, it is recommended to change the dose of albendazole treatment in the mass treatment, from single dose administered to 3 times for 3 consecutive days. Abstrak Kecacingan merupakan penyakit parasit terabaikan yang banyak diderita oleh penduduk dunia. Prevalensi pada anak sekolah dasar di Indonesia sebesar 31,8%. Sedangkan untuk Kabupaten Tanah Bumbu, prevalensi kecacingan mencapai 56,6% dan spesies yang paling banyak ditemukan adalah T. trichiura (81%). Tujuan penelitian ini adalah mendapatkan data prevalensi kecacingan pada anak sekolah di SD Juku Eja, SD Sungai Lembu, dan SD Sepunggur, Kabupaten Tanah Bumbu, kemudian menilai kesesuaian kebijakan pengobatan massal kecacingan Kementerian Kesehatan dengan prevalensi spesies cacing yang paling banyak ditemukan. Penelitian dilakukan pada Februari 2015. Sampel penelitian adalah seluruh siswa SD kelas I-VI di sekolah terpilih. Pemeriksaan tinja menggunakan metode langsung. Uji statistik menggunakan uji chi square antara variabel status kecacingan dengan variabel tempat bersekolah. Responden sebanyak 348 orang dan sepertiganya (35,1%) positif kecacingan. Dari ketiga sekolah, SD yang memiliki infeksi paling tinggi tanpa memandang spesies cacing adalah SD Juku Eja (77%) disusul SD Sungai Lembu (15,6%). Terdapat perbedaan bermakna antara kejadian kecacingan untuk setiap SD. Dari 122 orang responden yang mengalami kecacingan, sebanyak 49,2% adalah infeksi tunggal T. trichiura. Pedoman pengobatan massal kecacingan yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan sedikit berbeda dengan pengobatan efektif untuk infeksi T. trichiura, yaitu pada jumlah hari pemberian. Pada pedoman pengobatan massal Kementerian Kesehatan, albendazol diberikan dosis tunggal sedangkan pengobatan spesifik infeksi T. trichiura albendazol diberikan 3 kali selama 3 hari berturut-turut. Karena infeksi dominan di lokasi penelitian adalah T. trichiura, disarankan untuk mempertimbangkan dosis pengobatan albendazol pada pengobatan massal, dari pemberian dosis tunggal menjadi pemberian sebanyak 3 kali selama 3 hari berturut-turut.
IMPLEMENTASI KEWENANGAN DESA: DINAMIKA, MASALAH, DAN SOLUSI KEBIJAKAN Gunawan
Jurnal Kebijakan Pembangunan Vol 12 No 1 (2017): JURNAL KEBIJAKAN PEMBANGUNAN
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Provinsi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1897.231 KB)

Abstract

Based on Law No. 6 of 2014 about Village (desa), there are four types of authority in village (desa) administration. In Village Administration implementation, there's always interpretation distortion that causes contradiction with other stakeholders. This study aim to discover how far does the implementation and implication of Village Administration authorities, specialy authorities that come from local village administration rights of orign. The Study use qualitative-descriptive approach. Main study locus is on 6 district (desa) and 3 nagari (similar to desa) that purposively chosen and located in three regencies in three provinces. This study conclude that the regulation of Village Authorities as stated in The Village, Rural Area Development and Transmigration Minister Decree 1, 2015 hasn't reach and/or implemented in the Village level. Currently, there's still perception differences in interpreting the Village Authorities, and also dispute between Regencies and Village Authorities and between Village and private sectors authorities. It is highly recommended to review the Village Authorities regulations and to intensively socialize the regulation to the village officials through village stakeholders and societies participation. Abstrak Berdasarkan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa, Desa memiliki 4 (empat) jenis kewenangan. Namun dalam implementasi kewenangan desa tersebut, seringkali terjadi distorsi yaitu berupa  perbedaan pemahaman dan penafsiran, sehingga menimbulkan gesekan ataupunsengketa dengan pihak lain. Studi ini bertujuan mengevaluasi Peraturan Menteri Desa, Pembangunan DaerahTertinggal, dan Transmigrasi Nomor 1 Tahun 2015 Tentang Tentang Pedoman Kewenangan Berdasarkan Hak Asal Usul dan Kewenangan Lokal Berskala Desa serta mengetahui sejauhmana implementasi beserta implikasi kewenangan desa, khususnya kewenangan desa yang berasal dari hak asal usul dan kewenangan desa berskala lokal desa. Penelitian menggunakan metode kualitatif-deskriptif. Lokus studi adalah 6 (enam) desa dan 3 (tiga) nagari yang dipilih secara purposif dan tersebar di 3 (tiga) kabupaten pada 3 (tiga) provinsi.Hasil penelitian ini membuktikan bahwa sosialiasi regulasi tentang kewenangan desa sebagaimana ditetapkan dalam Peraturan Menteri Desa, Pembangunan DaerahTertinggal, dan Transmigrasi Nomor 1 Tahun 2015 belum diselenggarakan sampai pada tataran desa.Sampai saat ini, masih terdapat perbedaan persepsi dalam menafsirkan kewenangan desa, seringnya terjadi sengketa antara kewenangan kabupaten dengan kewenangan desa serta kewenangan desa dengan pihak swasta. Direkomendasikan untuk mereviu regulasi/kebijakan tentang kewenangan desa dan melakukan sosialisasi secara intensif sampai ke tataran pelaksana dengan mengikutsertakan pemangku kepentingan dan masyarakat di desa. Abstrak Berdasarkan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa, Desa memiliki 4 (empat) jenis kewenangan. Namun dalam implementasi kewenangan desa tersebut, seringkali terjadi distorsi yaitu berupa  perbedaan pemahaman dan penafsiran, sehingga menimbulkan gesekan ataupunsengketa dengan pihak lain. Studi ini bertujuan mengevaluasi Peraturan Menteri Desa, Pembangunan DaerahTertinggal, dan Transmigrasi Nomor 1 Tahun 2015 Tentang Tentang Pedoman Kewenangan Berdasarkan Hak Asal Usul dan Kewenangan Lokal Berskala Desa serta mengetahui sejauhmana implementasi beserta implikasi kewenangan desa, khususnya kewenangan desa yang berasal dari hak asal usul dan kewenangan desa berskala lokal desa. Penelitian menggunakan metode kualitatif-deskriptif. Lokus studi adalah 6 (enam) desa dan 3 (tiga) nagari yang dipilih secara purposif dan tersebar di 3 (tiga) kabupaten pada 3 (tiga) provinsi.Hasil penelitian ini membuktikan bahwa sosialiasi regulasi tentang kewenangan desa sebagaimana ditetapkan dalam Peraturan Menteri Desa, Pembangunan DaerahTertinggal, dan Transmigrasi Nomor 1 Tahun 2015 belum diselenggarakan sampai pada tataran desa.Sampai saat ini, masih terdapat perbedaan persepsi dalam menafsirkan kewenangan desa, seringnya terjadi sengketa antara kewenangan kabupaten dengan kewenangan desa serta kewenangan desa dengan pihak swasta. Direkomendasikan untuk mereviu regulasi/kebijakan tentang kewenangan desa dan melakukan sosialisasi secara intensif sampai ke tataran pelaksana dengan mengikutsertakan pemangku kepentingan dan masyarakat di desa.