cover
Contact Name
Ni Luh Putu Trisdyani
Contact Email
trisdyani@unhi.ac.id
Phone
+6281239751400
Journal Mail Official
widyanatya@unhi.ac.id
Editorial Address
Jl. Sanggalangit Tembau - Penatih - Denpasar 80238
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Widyanatya: Jurnal Pendidikan Agama dan Seni
ISSN : 20888880     EISSN : 2656577     DOI : https://doi.org/10.32795/widyanatya.v2i01
Journal Widyanatya is an open access published by Education Society of Universitas Hindu Indonesia. The main objective of Widyanatya is to provide a platform for the regional, national, and international scholars, academicians and researchers to share the contemporary thoughts in the fields of religious and art. It is also aimed at promoting interdisciplinary studies in religious education and art, religious and art teaching. The journal publishes research papers in the all the fields of religious education and art, religious and art teaching such as: Paedagogy Contemporary education Religious education Arts education Traditional education Sociology of education Psychology of education Philosophy of education etc
Articles 32 Documents
ORNAMEN KARANG BHOMA PADA BANGUNAN KORI AGUNG DI KOTA DENPASAR Sumadiyasa, I Kadek; Budhi Utama, I Gede Satria; Yudabakti, I Made
WIDYANATYA Vol 2 No 01 (2020): WIDYANATYA
Publisher : UNHI PRESS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32795/widyanatya.v2i01.631

Abstract

Salah satu karya seni rupa keagamaan Hindu yang digunakan dalam bangunan suci umat Hindu adalah ornamen. Ornamen dalam perkembangannya mendapat pengaruh globalisasi dari luar Bali. Ornamen Karang Bhoma yang terdapat di bangunan Kori Agung di Kota Denpasar mempunyai keunikan yang spesifik khas yaitu berbentuk ukiran madya berdasarkan sastra Hindu. Berdasarkan kepercayaan yang berkembang di Kota Denpasar, pakemnya menggunakan perhitungan hari astawara, tepatnya pada hari kala raksa. Perhitungan ini dilakukan agar undagi (pembuat bangunan) bersama pemilik bangunan agar dapat memulai (ngendag) penempatan. Pahatan Karang Bhoma dengan ciri bentuk ornamen ukiran madya dipercaya membawa kesejahteraan keluarga.
TARI BARIS KEKUPU DALAM UPACARA MAMUKUR DI BANJAR LEBAH DESA ADAT SUMERTA KAJA DENPASAR Sudarsana, I Made; Dwi Dirgantini, Anak Agung; Darmayasa, Ida Bagus
WIDYANATYA Vol 2 No 01 (2020): WIDYANATYA
Publisher : UNHI PRESS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32795/widyanatya.v2i01.630

Abstract

Merefleksikan unsur-unsur kesenian, khususnya seni pertunjukan, dalam ritual keagamaan, seni tari wali atau tari sakral merupakan salah satu unsur yang menunjang rangkaian segala upacara keagamaan yang ada di Bali. Artikel ini membahas salah satu tari sakral atau wali bernama Tari Baris Kekupu yang berada di Banjar Lebah Desa Adat Sumerta Kaja, Denpasar. Berdasarkan hasil penelitian, tarian ini merupakan bagian integral dari kehidupan masyarakat setempat yang selalu terikat dengan peristiwa ritual atau upacara Mamukur. Bentuk Tari Baris Kekupu, ditarikan oleh penari anak-anak perempuan karena didalam Tari Baris Kekupu ini terdapat unsur-unsur Tari Legong, Idenya terinspirasi dari hiasan kupu-kupu pada damar kurung yang dipasang saat upacara Mamukur. Selain itu, secara fungsional tarian ini dapat dipahami memiliki fungsi religius dan fungsi pelestarian budaya.
NILAI PENDIDIKAN PADA TARI REJANG PAMENDAK DI PURA LUHUR BATUKAU Wiwin Astari, Ni Luh Putu; Sugiarta, I Made
WIDYANATYA Vol 2 No 01 (2020): WIDYANATYA
Publisher : UNHI PRESS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32795/widyanatya.v2i01.629

Abstract

Pelaksanaan yadnya bagi umat Hindu, tidak hanya dalam bentuk upacara saja, akan tetapi melalui karya seni salah satunya seni Tari. Hampir tidak ada upacara ritual agama Hindu di Bali yang tidak dilengkapi dengan sajian tari-tarian, baik yang merupakan bagian dari upacara adat atau agama, sebagai sajian penunjang untuk melengkapi pelaksanaan upacara, maupun sebagai hiburan yang bersifat sekuler. Tari Rejang Pamendak sebagai bagian dari pelaksanaan upacara agama dimana kata ”Pamendak” mengandung makna memendak para Dewa yang berstana di Pura Batukau dari payogan dihadirkan pada saat upacara penyineban serangkaian Pujawali atau Piodalan di pura Luhur Batukau, Desa Wongaya Gede, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan yang diselenggarakan setiap enam bulan sekali bertepatan dengan Umanis Galungan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan menggungkap dua hal yaitu bagaimana bentuk tari Rejang Pamendak dan nilai pendidikan apa saja yang terkandung dalam tari Rejang Pamendak. Maka diperoleh kesimpulan bahwa tari Rejang Pamendak ditarikan oleh 10 orang atau lebih para wanita yang sudah menikah dengan membawa sarana dupa. Gerakan serta kostum sangat sederhana dan menggunakan gamelan Gong Kebyar dengan bilah daun sembilan. Nilai pendidikan yang terkandung pada Rejang Pamendak adalah Nilai Pendidikan Religi, Nilai Pendidikan Estetika, Nilai Pendidikan Etika,dan Nilai Pendidikan Tattwa.
RITUAL HINDU DALAM PERSPEKTIF KONTEMPORER Suksma, I Gde Widya; Widana, I Gusti Ketut; Winantra, I Ketut
WIDYANATYA Vol 2 No 01 (2020): WIDYANATYA
Publisher : UNHI PRESS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32795/widyanatya.v2i01.628

Abstract

Secara konseptual pelaksanaan upacara yadnya yang dilaksanakan umat Hindu itu memang tampak ideal. Namun jika ditinjau secara kontekstual, aktivitasnya terlalu menitikberatkan kepada unsur ritual dibandingkan pemahaman Tattwa (filosofi) dan aktualisasi Susila atau prilaku sesuai kode etik. Realita di atas, antara lain disebabkan oleh pengaruh modernisasi di era globalisasi, yang secara simultan turut mendistorsi segala tatanan mapan yang di waktu lalu sudah berjalan secara ideal-konseptual, namun kini bergerak cepat dan cenderung berkembang ke arah situasional-kontekstual. Kondisi ini akhirnya menampakkan wujudnya, ketika umat Hindu melaksanakan kewajiban beragama (bhakti), tak dapat dihindari telah disusupi pengaruh gaya hidup kontemporer yang lebih mementingkan penampilan fisikal/personal dan sajian material, daripada peningkatan rohani guna mencapai kesadaran spiritual.
TARI BALI: TANTANGAN DAN SOLUSI DI ERA GLOBALISASI Bagus Supartama, I Gusti Made; Sukadana, I Wayan
WIDYANATYA Vol 2 No 01 (2020): WIDYANATYA
Publisher : UNHI PRESS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32795/widyanatya.v2i01.627

Abstract

Globalisasi dibangun dengan karakteristik ekonomi untuk mengintegrasikan bebagai elemen kehidupan kedalam system tunggal yang breskala dunia. Dengan demikian, maka akan terjadi eksploitas budaya local yang dikemas secara sistematis dalam bentuk komoditi kapitalis. Sesungguhnya hal ini merupakan ancaman terhadap keutuhan dan keaslian budaya lokal beserta pilar-pilar identitas yang membangunnya. Hal ini sangat nampak pada kesenian khususnya seni tari sebagai identitas budaya Bali, sehingga memerlukan revitalisasi terhadap tari Bali melalui konsensus bersama antara intelektual, seniman, tokoh-tokoh agama, beserta para pengusaha untuk merumuskan kembali kesenian dalam menghadapi era globalisasi.
AKTUALISASI AJARAN TRI HITA KARANA DALAM TRADISI TAJEN PANGANGON DI SUBAK TEBA DESA ADAT TANGEB Surawati, Ni Made; Putu Sari, Ida Ayu
WIDYANATYA Vol 2 No 01 (2020): WIDYANATYA
Publisher : UNHI PRESS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32795/widyanatya.v2i01.626

Abstract

Tradisi Tajen Pangangon merupakan tradisi unik yang terdapat di Subak Teba Desa Adat Tangeb, Mengwi, Badung. Tradisi ini dilaksanakan oleh krama ‘masyarakat anggota’ Subak Teba di Desa Adat Tangeb setiap satu tahun sekali, tepatnya menjelang panen padi masa ‘padi yang berumur 105 hari’. Pelaksanaanya dilakukan di tiga tempat yaitu di Pura Ulun Carik, Pura Bedugul, dan Pura Bale Agung. Sarana utama yang digunakan dalam pelaksanaan tradisi Tajen Pangangon adalag ketupat dan bantal ‘ketupat berbentuk lonjong panjang’ yang merupakan simbol purusa dan pradhana. Ketupat dan bantal tersebut digunakan sebagai alat untuk saling lempar-melempar (matetimpugan) oleh krama subak yang dibagi menjadi dua kelompok. Dalam pelaksanaannya, konsep Tri Hita Karana digunakan sebagai landasan filosofis pelestarian tradisi Tajen Pangangon yang diperlihatkan melalui tahap persiapan hingga penutup, terutama dicerminkan dengan pola pikir pengelolaan air irigasi yang dilakukan dengan landasan harmoni dan kebersamaan antar karma dan hubungan dengan pencipta dan alam.
KONSEP TRI ANGGA DALAM BELAJAR TEKNIK TARI BALI Prayitna Dewi, Ida Ayu Gede; Satria, I Kadek
WIDYANATYA Vol 2 No 01 (2020): WIDYANATYA
Publisher : UNHI PRESS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32795/widyanatya.v2i01.625

Abstract

Salah satu konsep keagamaan Hindu yang relevan dengan Teknik Tari Bali adalah konsep Tri Angga, dimana konsep ini merupakan konsep yang ada dalam pembagian tubuh manusia dengan istilah utama angga, madya angga, dan nista angga. Ketika konsep ini masuk di dalam Teknik Tari Bali, maka dapat dipahami bahwa konsep ini mampu memberikan pemahaman yang lebih terhadap pembagian tubuh saat mempelajari perbendaharaan gerak yang ada dalam teknik tari Bali. Pembagian tubuh ini mampu memudahkan pembelajaran dengan mengklasifikasikan gerak-gerak sesuai dengan pembagian tubuh (angga) penari. Utamaning angga merupakan bagian utama dalam tubuh yang dalam estetika Hindu dikaitkan dengan bagian yang paling disucikan adalah bagian kepala. Madyaning Angga merupakan bagian kedua dalam pembagian tubuh di antaranya bagian torso atau badan, dari bahu hingga pinggul. Dalam bagian ini terdapat banyak perbendaharaan gerak yang ada, beberapa contohnya adalah gerakan ngejat pala, ngeseh, ngelo, nyeleog, dan lainnya. Nistaning angga adalah bagian terakhir dari pembagian ini yang terdapat pada bagian bawah pinggul dan kaki.
SOUVENIR BAGI WISATAWAN BALI Sumardiana, I Putu Gede Padma; Trisdyani, Ni Luh Putu
WIDYANATYA Vol 2 No 01 (2020): WIDYANATYA
Publisher : UNHI PRESS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32795/widyanatya.v2i01.624

Abstract

Era globalisasi saat ini telah melahirkan industri baru yaitu berupa industri pariwisata yang telah menggeser nilai-nilai tradisional budaya agraris masyarakat menjadi sekedar hasil produksi berupa jasa dan barang. Dengan merebaknya industri pariwisata ini, oleh-oleh memiliki prospek tinggi dalam memberikan keuntungan berupa materi bagi masyarakat pariwisata dan menjadikan industri ini sebagai pendapatan terfavorit, karena kedatangan setiap wisatawan yang berkunjung ke sebuah tempat wisata, tentu menginginkan kenang-kenangan untuk dibawa ke Negara mereka masing-masing dan di sinilah peranan penting dari keberadaan souvenir sebagai salah satu komoditi pariwisata selain pertunjukan dan alam.
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN TWO STAY TWO STRAY (TSTS) DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA HINDU PADA SISWA KELAS VII DI SMP NEGERI 2 MENDOYO Ayu Nilawati, I Gusti; Sidemen, I.B Purwa
WIDYANATYA Vol 2 No 01 (2020): WIDYANATYA
Publisher : UNHI PRESS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32795/widyanatya.v2i01.623

Abstract

Berlakunya KBK yang dikembangkan menjadi KTSP menuntut perubahan paradigma dalam pendidikan yaitu orientasi pembelajaran yang semula berpusat pada guru beralih berpusat pada murid. Model Pembelajaran Two Stay Two Stray menjadi salah satu inovasi yang diterapkan guru pendidikan agama Hindu dalam pembelajaran pendidikan agama Hindu pada siswa kelas VII di SMP Negeri 2 Mendoyo, Jembrana. Teori konstruktivistik dan behavioristik menjadi relevan disandingkan dalam memahami berbagai fenomena yang hadir dalam penerapan model pembelajaran dimaksud. Berdasarkan analisis diperoleh hasil penelitian sebagai berikut: (1) pembelajaran pendidikan agama Hindu dilakukan dengan cara pembagian kelompok secara heterogen dan melaksanakan setiap tahapan-tahapan dari model pembelajaran Two Stay Two Stray, (2) guru dapat melatih siswa menjadi lebih aktif lagi dalam menerima proses pembelajaran pendidikan agama Hindu, (3) kendala-kendala yang dihadapi guru agama Hindu dalam penerapan model pembelajaran Two Stay Two Stray yaitu ada beberapa siswa yang kurang mengerti dengan tujuan bertamu ke kelompok lain dan siswa yang aktif di dalam model pembelajaran ini hanya beberapa saja, sehingga pembelajaran kurang efektif karena waktu yang diperlukan juga cukup panjang. Dengan demikian guru harus benar-benar menjelaskan kepada siswa tujuan dari bertamu dan mengatur waktu agar tidak kekurangan waktu.
KONSELING BEHAVIORAL DAN PENGUATAN POSITIF DALAM MENINGKATKAN PRILAKU SOSIAL PESERTA DIDIK Sudyana, Dewa Kadek; Sri Winarti, Ni Nyoman
WIDYANATYA Vol 2 No 01 (2020): WIDYANATYA
Publisher : UNHI PRESS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32795/widyanatya.v2i01.622

Abstract

Siswa sebagai individu yang melaksanakan proses pembelajaran di sekolah dituntut untuk berperilaku yang baik walaupun terdapat perbedaan dengan individu lainnya.Perilaku sosial Behavioristik menyatakan bahwa tingkah laku manusia dapat diubah atau dimanipulasi, dengan cara mengendalikan tingkah laku manusia, yaitu dengan mengontrol perangsang-perangsang yang ada di lingkungan. Berdasarkan hal tersebut, maka perilaku sosialpun dapat dikembangkan dengan jalan memanipulasinya menggunakan konseling behavioral. Konseling behavioral menekankan pada penguatan perilaku positif. Melalui penerapan bimbingan konseling behavioral akan dapat dibentuk perilaku sosial yang lebih baik

Page 1 of 4 | Total Record : 32