cover
Contact Name
Muhammad Anwar
Contact Email
jaringansantri95@gmail.com
Phone
+6285814031363
Journal Mail Official
jaringansantri95@gmai.com
Editorial Address
Wisma Usaha UIN Jakarta Lt 2 Jl Ir Juanda No 95 Ciputat
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
The International Journal of Pegon : Islam Nusantara civilization
Published by Islam Nusantara Center
ISSN : 26214938     EISSN : 26214946     DOI : -
This journal specialized academic journal dealing with the theme of religious civilization and literature in Indonesia and Southeast Asia. The subject covers textual and fieldwork studies with perspectives of philosophy, philology, sociology, antropology, archeology, art, history, and many more. This journal invites scholars from Indonesia and non Indonesia to contribute and enrich the studies published in this journal. This journal published twice a year with the articles written in Pegon, Arabic and English and with the fair procedure of blind peer-review.
Articles 20 Documents
Keberhasilan Dakwah Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah di Kudus Jawa Tengah Estuningtiyas, Retna Dwi
The International Journal of Pegon : Islam Nusantara civilization Vol 2 No 01 (2019): Menggali dan Melestarikan Khazanah Keilmuan Ulama Nusantara
Publisher : INC- Islam Nusantara Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dakwah tarekat Naqsyabandiyah adalah dengan mengajak kepada kehidupan sufi, dalam arti merujuk definisi Said Hawwa sebagai ‘jalan menuju Allah, di jalan yang ditentukan Allah, untuk mencapai ridha Allah’. Hasilnya adalah mencapai maqam ihsan, yaitu derajat rohani. Pada awalnya, jalan menuju Allah dalam metode sufisme adalah dengan membaca dzikir bersama-sama pada majelis dzikir yang disebut zawiyah atau ribath, yang di Indonesia banyak disebut dengan pasulukan. Merujuk pada konsep-konsep Syekh Muhammad Amin Al-Kurdi dalam kitab Tanwir al-Qulûb fi Mua’malah ‘Allam al-Ghuyûb, pokok dakwah dari tarekat Naqsyabandiyah adalah terjadinya pengubahan perilaku (tasharruf) seorang murid dari kondisi lalai atau tertidur jiwanya menjadi ingat atau terjaga jiwanya, lalu kemudian senantiasa mengingat Allah. Adapun tarekat Naqsyabandiyah Sejak masuk ke Indonesia sampai kini terus berkembang khususnya di Jawa dan Sumatera. Hal ini juga berarti tarekat ini bertahan dari gempuran modernisasi di satu pihak, dan gempuran sekularisasi Islam yang anti tareqat di lain pihak. Perguruan Arwaniyyah di Kabupaten Kudus sebagai perguruan dengan mengamalkan ajaran tarekat Naqsyabandiyah terus berkembang dan berhasil dalam melaksanakan visi misi dakwahnya.
Tiga Penyebab Mandegnya Islamisasi di Tana Toraja Wahyudi, Johan
The International Journal of Pegon : Islam Nusantara civilization Vol 2 No 01 (2019): Menggali dan Melestarikan Khazanah Keilmuan Ulama Nusantara
Publisher : INC- Islam Nusantara Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tana Toraja merupakan salah satu wilayah yang penduduknya jauh dari tradisi Islam Nusantara. Wilayah ini terletak di pedalaman Sulawesi Selatan, bertetangga dengan banyak peradaban tua di pulau ini seperti kerajaan Luwu, Enrekang, Mandar dan Bone. Berbeda dengan keempat daerah tetangganya, sampai awal abad 20, penduduk Tana Toraja masih menganut kepercayaan lokal yang dinamakan Aluk Todolo atau kepercayaan orang-orang di masa silam. Mereka setia menganut kepercayaan ini hingga akhirnya terjadi konversi besar-besaran penduduk Toraja ke Nasrani. Tentu merupakan suatu anomali, mengapa Islam tidak dipeluk oleh penduduk Toraja. Padahal, jika menimbang pada peta perpolitikan Sulawesi Selatan di abad 17, masa di mana kerajaan besar Goa Tallo dan Bone mencapai puncak kejayaannya, bisa saja segenap cara digunakan untuk memperkenalkan Islam ke penduduk setempat, baik dengan cara tidak langsung, seperti perdagangan atau secara paksaan, salah satunya perang. Namun sampai menyentuh abad 21, belum jua mayoritas penduduk Toraja memeluk Islam. Tulisan ini akan mengetengahkan suatu sajian sejarah sosial. Penulis mendapatkan setidaknya tiga alasan mengapa Islam bukan menjadi agama yang dominan di masyarakat Toraja. Pertama, ingatan kelam masyarakat Toraja mengenai invasi pasukan Bone di bawah pimpinan Arung Palakka pada abad 16. Kedua, kekisruhan di masyarakat akibat peristiwa Perang Kopi pada abad 19. Terakhir, kegiatan zending yang mengunngguli dakwah Islam karena disokong pula oleh pemerintah Hindia Belanda. Tulisan ini akan mengangkat perkembangan sistem kepercayaan masyarakat Toraja yang senantiasa tetap (stagnan) namun di masa tertentu mengalami perubahan pada abad 21. Tulisan ini mematahkan argumen Edward B. Tylor yang mengatakan bahwa masyarakat primitif atau masyarakat yang masih memegang teguh adat istiadat, akan mengalami tiga fase perkembangan kepercayaan yakni animisme, politeisme dan monoteisme. Masyarakat Toraja sebenarnya tidak bisa dikatakan primitif, mereka mempunyai sistem kepercayaan yang sudah estabilished. Oleh sebab itulah mengapa islamisasi menemui kegagalan.
DIPONEGORO AND THE ULAMA NUSANTARA NETWORK Bizawie, Zainul Milal
The International Journal of Pegon : Islam Nusantara civilization Vol 3 No 02 (2020): Jaringan Ulama Nusantara dan Haramain
Publisher : INC- Islam Nusantara Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The Javanese War was the event of the greatest resistance of the Javanese against the colonial authorities. As the last form of 'old order' resistance, the Java War witnessed the disarmament of the southern central Java palaces when their territories in eastern countries were finally annexed (1830-1831) (Houben 1994: 17-72). At the end of the war, Dutch control of Java was still unchallenged. Their role only ended 112 years later (1830-1942). That, too, was in the hands of the Japan (March 9, 1942), disputing only one day with the day when Diponegoro entered the city of Magelang to conduct a "peace negotiation" (March 8-28, 1830) with De Kock (Carey 2014: 338). In the Java war, Javanese identity became a key factor in the enthusiasm of Diponegoro's supporters like Meiji Restoration in Japan. Besides upholding the dignity of the Islamic religion, restoration of Javanese values in particular was a key priority, which also encouraged enmity towards non-Javanese during the war, especially to the Netherlands. The alliance of knights (ksatria) and muslim students (santri) built by Diponegoro has inspired a five-year war that seeks social support that is very broad and unique with religious fervor. Even after the Java War, the Dutch regarded the holy war clothing as a symbol of subversion crime for Javanese aristocrats (Carey, 2017: 166). The last remnants of the Diponegaran family were removed from the palace. This means, the Dutch Colonial continued to try to separate the Diponegaran breed from the religious scholars (Ulama), keeping the remaining Diponegoro knights from the santri network scattered in various parts of Java. This paper will explore the network of Diponegoro ulama-santri (scholars-students), although many of the characters have already been mentioned. Also provides another perspective in reading differences of opinion and strategy from Diponegoro and Kyai Mojo along with a network of ulama-santri in building an Islamic Balad (region/city/land), which in essence has the same goal, namely to synergize Islam and the order of society, to construct an Islamic Nationality which was later in the hands of Hadratus Syekh Hasyim Asy'ari and other scholars succeeded in being built to uphold the Republic of Indonesia. Then, who continues the restoration of the glory of Islam in Java and connects with it outside Java? Of course it cannot be explained by exposing its descendants who for nearly a century were chased and lived in coincidence because they were hunted down by the Dutch Colonial. One thing that was instilled by Diponegoro was that he did not see any inherent conflict between the Javanese spiritual realm and its position as part of the world's Muslims, whose centers were in Hijaz (Saudi Arabia) and Ottoman Turkey. Therefore, it is not a coincidence that the ulama or the santri community then built a network in Haramain throughout the Ottoman Mufti in the Hijaz, which would later be known by the Javanese community (jama'ah al Jawiyyin) which led to the emergence of figures such as Hadratus Syekh Hasyim Asy’ari. The existence of Hasyim Asy'ari opened the veil of how his scientific network was connected with his struggle network to the paramilitary forces of the Diponegoro ulama-santri and knights also connected with other archipelago (nusantara) scholars, even worldwide, as well as connecting to sanad (scientific continuity) to previous scholars. Therefore, going through the network and sanad is very important to fade the awesome power of the spirit of Islam in building national values in Indonesia, which is different from the building of nationalism in Western countries. The spirit of Islam is inherited and maintained in the network and sanad of the scholars who succeeded in forming a unique Islamic character in Indonesia. The Diponegoro ulama network has become a crucial point in the progress of Nusantara's ulama-santri in caring for Islamic traditions in the nusantara and widespread throughout the Nusantara in mecca. Their works have become the main reference for learning systems in surau, pesantren and madrasa to date. The works are a historical legacy which is the mouth of cosmology of thought, the dynamics of knowledge and the accumulation of the culture of Jawi scholars and pesantren in this country. Tulisan ini akan mengeksplorasi jaringan ulama santri Diponegoro, meskipun dalam tokoh-tokohnya telah banyak disinggung. Juga memberikan perspektif lain dalam membaca perbedaan pendapat dan strategi dari Diponegoro dan Kyai Mojo berikut jejaring ulama santrinya dalam membangun Balad Islam, yang pada intinya memiliki tujuan sama, yaitu mensinergikan Islam dan tatanan masyarakat, mengkonstruk sebuah Islam Kebangsaan yang di kemudian hari di tangan Hadratus Syekh Hasyim Asy’ari dan para ulama lainya berhasil dibangun untuk menegakkan NKRI. Lantas, siapakah yang melanjutkan restorasi kejayaan Islam di Jawa dan mengkoneksikannya dengan luar Jawa? Tentu saja tidak dapat dijelaskan dengan mengungkap para keturunannya yang selama hampir seabad dikejar-kejar dan hidup dalam keterhimpitan karena diburu Kolonial Belanda. Satu hal yang ditanamkan Diponegoro adalah ia tidak melihat ada konflik yang melekat antara alam spiritual Jawa dan kedudukannya sebagai bagian dari umat Islam di dunia, yang pusat-pusatnyya berada di Hijaz (Arab Saudi) dan Turki Usmani. Oleh karena itu, bukan suatu kebetulan para ulama atau kalangan santri kemudian membangun jaringan di Haramain dalam penjuru para mufti Turki Usmani di Hijaz, yang nantinya dikenal komunitas Jawa (jama’ah al Jawiyyin) yang berujung munculnya tokoh seperti Hadratus Syekh Hasyim Asy’ari. Keberadaan Hasyim Asy’ari membuka tabir betapa jejaring keilmuannya bersambung dengan jejaring perjuangannya ke laskar para santri dan ksatria Diponegoro juga terhubung dengan ulama nusantara lainnya, bahkan telah mendunia, sekaligus menghubungkan pada sanad kepada ulama-ulama sebelumnya. Karena itu, menyusuri jejaring dan sanad tersebut sangat penting untuk mengudar kekuatan dahsyat dari spirit Islam dalam membangun nilai-nilai kebangsaan di Indonesia, yang berbeda dengan bangunan nasionalisme di negara-negara Barat. Spirit Islam itu terwariskan dan terjaga dalam jejaring dan sanad para ulama yang berhasil membentuk karakter keislaman yang khas di Nusantara. Jejaring ulama Diponegoro menjadi titik krusial kiprah ulama-santri Nusantara dalam merawat tradisi Islam di Nusantara dan menusantara di haramain. Karya-karya mereka menjadi referensi utama sistem pembelajaran di surau, pesantren dan madrasah hingga saat ini. Ulama Jawi menulis teks dengan menggunakan aksara Pegon, yakni beraksara Arab namun dengan bahasa Jawa. Kitab-kitab Pegon inilah yang menjadi tradisi pengetahuan dan formasi teks yang kokoh sebagai sistem komunikasi ulama untuk melawan kolonialisme. Kitab-kitab Pegon menjadi warisan sejarah yang menjadi muara kosmologi pemikiran, dinamika pengetahuan dan akumulasi kebudayaan ulama Jawi dan pesantren di negeri ini.
URGENSITAS SANAD SEBAGAI MODAL SOSIAL PESANTREN DALAM DERADIKALISASI ISLAM Syafi'i, Sufyan
The International Journal of Pegon : Islam Nusantara civilization Vol 3 No 02 (2020): Jaringan Ulama Nusantara dan Haramain
Publisher : INC- Islam Nusantara Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This paper aims to describe the role of social capital in Islamic boarding schools (pesantren) in the form of scientific links (Sanad). Sanad is not only important in a teaching process in a pesantren, but also in the teachings of Islam. The existence of clear scientific rigors in pesantren is so noted hereditary by the scholars (ulama) since the time of the Prophet Muhammad. Not only as a form of prudence of the authority of knowledge that will be obtained, but also will affect the shape of the character they will live. Scientific Sanad is a form of scientific transformation. In a sense, the knowledge learned must have a positive impact on knowledge, attitudes, and behavior. The stronger sanad that has been built, will form a steady personality as the main goal in the process of scientific interaction of a santri (student). Because the santri will behave as the sanad he received. Sanad authenticity is the pesantren's social capital that will direct a santri to enter a network path. The path he received will lead him to the qualities that have been exemplified by the source of the sanad he received. This process also indirectly becomes a fortress so that all forms of negative things are not done. including among them radicalism. Tulisan ini bertujuan untuk mendeskripsikan peran modal sosial dalam lembaga pesantren yang berupa mata rantai keilmuan (Sanad). Sanad tidak hanya penting dalam sebuah proses pengajaran di pesantren, tetapi juga dalam ajaran Islam. Adanya tali-temali keilmuan yang jelas dalam pesantren begitu diperhatikan turun temurun oleh para ulama sejak zaman Nabi Muhammad saw. Tidak saja sebagai bentuk kehati-hatian otoritas ilmu yang akan didapat, tetapi juga akan berpengaruh pada bentuk karakter yang akan mereka jalani. Sanad keilmuan merupakan wujud dalam transformasi keilmuan. Dalam artian, ilmu yang dipelajari harus berdampak positif terhadap pengetahuan, sikap, dan perilaku. Semakin kuat sanad yang telah terbangun, akan membentuk kepribadian yang ajeg sebagai tujuan utama dalam proses interaksi ilmiah seorang santri. Sebab santri akan berlaku sebagaimana sanad yang ia terima. Autentisitas sanad inilah modal sosial pesantren yang akan mengarahkan seorang santri untuk masuk dalam suatu jalur jejaring. Jalur yang ia terima tersebut akan mengatarkannya pada sifat-sifat yang telah diteladankan oleh sumber sanad yang ia terima. Proses ini pula yang secara tidak langsung menjadi benteng agar segala bentuk hal-hal negatif tidak dilakukan. Termasuk diantaranya adalah radikalisme. توليسان إيني بيرتوجووان أونتوك مينديسكريڤسيكان ڤيران مودال سوسييال دالام ليمباڬا ڤيسانترين يانڬ بيروڤا ماتا رانتإي كيإيلمووان (سناد). سناد تيداك هاۑا ڤينتيڠ دالام سيبوواه ڤروسيس ڤيڠاجاران دي ڤيسنترين, تيتاڤي جوڬا دالام أجاران إسلام. أداۑا تالي-منالي كيإيلمووان ياڠ جيلاس دالام ڤيسنترين بيڬيتو ديڤيرهاتيكان تورون-تيمورون أوليه ڤارا أولاما سيجاك زامان نبي محمّد س.أ.و. تيداك ساجا سيبڬإي بينتوك كيهاتي-هاتييان أوتوريتاس إيلمو ياڠ أكان ديداڤات, تيتاڤي جوڬا أكان بيرڤيڠاروه ڤادا بينتوك كاراكتير ياڠ أكان ميريكا جالاني. سناد كيإيلمووان ميروڤاكان ووجود دالام ترانسفورماسي كيإيلمووان. دالام أرتييان, إيلمو ياڠ ديڤيلاجاري هاروس بيردامڤاك ڤوسيتيف تيرهاداڤ ڤيڠيتاهووان, سيكاڤ, دان ڤريلاكو. سيماكين كووات سناد ياڠ تيلاه تيرباڠون, أكان ميمبينتوك كيڤريبادييان ياڠ أجيڬ سيباڬإي توجووان أوتاما دالام ڤروسيس إينتيراكسي إيلميياه سيأوراڠ سنتري. سيباب سنتري أكان بيرلاكو سيباڬإيمانا سناد ياڠ إيا تيريما. أأوتينتيسيتاس سناد إينيلاه مودال سوسييال ڤيسنترين ياڠ أكان ميڠاراهكان سيأوراڠ سنتري أونتوك ماسوك دالام سوواتو جالور جيجاريڠ. جالور ياڠ إيا تيريما تيرسيبوت أكان ميڠانتاركانۑا ڤادا صفات-صفات ياڠ تيلاه ديتيلادانكان أوليه سومبير سناد ياڠ إيا تيريما. ڤروسيس إيني ڤولا ياڠ سيچارا تيداك لڠسوڠ مينجادي بينتيڠ أڬار سيڬالا بينتوك حال-حال نيڬاتيف تيداك ديلاكوكان. تيرماسوك ديأنتااۑا أدالاه راديكاليسمي.
PARTISIPASI ULAMA PEREMPUAN DALAM PENYEBARAN ISLAM DI NUSANTARA MELALUI PENDIDIKAN Satria, Oga
The International Journal of Pegon : Islam Nusantara civilization Vol 3 No 02 (2020): Jaringan Ulama Nusantara dan Haramain
Publisher : INC- Islam Nusantara Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The process of spreading Islam in Nusantara is not only performed by men, but also involves the participation and contribution of women. The research that only illustrates the involvement of men can reduce women as part of the history of the spread of Islam, especially in Nusantara. The description of the involvement of women not only shows the similarities between men and women as part of Islamic history, but also is able to elevate the degree of women who are sometimes considered to be the second being after men. This paper shows that women have a great contribution and influence in spreading Islam through the world of education, especially to fellow women. There are two names that have a significant influence in this regard, namely Nyai Khoriyah and Rahmah el-Yunusiyah. As this research shows that the methods carried out by the two female scholars have a positive impact especially on the emancipation of women to free them from oppression and discrimination as well as to obtain proper knowledge, especially knowledge in the religious field. Proses penyebaran Islam di Nusantara tidak hanya dilakukan oleh kaum laki-laki saja, akan tetapi juga melibatkan partisipasi dan kontribusi dari kalangan perempuan. Penelitian yang hanya menggambarkan keterlibatan laki-laki dapat mereduksi kaum perempuan sebagai bagian dari sejarah penyebaran Islam terutama di Nusantara. Deskripsi tentang keterlibatan kaum perempuan tidak hanya memperlihatkan adanya kesamaan antara laki-laki dan perempuan sebagai bagian dari sejarah Islam, akan tetapi juga mampu mengangkat derajat kaum perempuan yang terkadang dianggap sebagai makhluk kedua setelah laki-laki. Tulisan ini menunjukkan bahwa kaum perempuan memiliki kontribusi dan pengaruh besar dalam menyebarkan Islam melalui dunia pendidikan terutama kepada sesama perempuan. Terdapat dua nama yang memiliki pengaruh yang signifikan dalam hal ini, yaitu Nyai Khoriyah dan Rahmah el-Yunusiyah. Sebagaimana yang ditunjukkan oleh penelitian ini bahwa metode yang dilakukan oleh kedua ulama perempuan tersebut memiliki dampak positif terutama bagi emansipasi wanita untuk membabaskan mereka dari penindasan dan sikap deskriminatif serta memperoleh pengetahuan yang layak, terutama pengetahuan dalam bidang agama. ڤروسيس ڤيۑيباران إسلام دي نوسانتارا تيداك هاۑا ديلاكوكان أوليه كأوم لاكي-لاكي ساجا, أكان تيتاڤي جوڬا ميليباتكان ڤارتيسيڤاسي دان كونتريبوسي داري كالاڠان ڤيريمڤووان. ڤينيليتييان ياڠ هاۑا ميڠڬمبركان كيتيرليباتان لاكي-لاكي داڤات ميريدوكسي كأوم ڤيريمڤووان سيباڬإي باڬييان داري سيجاراه ڤيۑيباران إسلام تيروتاما دي نوسانتارا. ديسكريڤسي تينتاڠ كيتيرليباتان كأوم ڤيريمڤووان تيداك هاۑا ميمڤيرليهاتكان أداۑا كيسامأن أنتارا لاكي-لاكي دان ڤيريمڤووان سيباڬإي باڬييان داري سيجاراه إسلام, أكان تيتاڤي جوڬا مامڤو ميڠاڠكات ديراجات كأوم ڤيريمڤووان ياڠ تيركاداڠ ديأڠكاڤ سباڬإي مخلوق كيدووا سيتيلاه لاكي-لاكي. توليسان إيني مينونجوكّان بهوا ڤيريمڤووان ميميليكي كونتريبوسي دان ڤيڠاروه بيسار دالام ميۑيباركان إسلام ميلالووي دونييا ڤينديديكان تيروتاما كيڤادا سيساما ڤيريمڤووان. تيرداڤات دووا ناما ياڠ داڤات ميميليكي ڤيڠاروه سيڬنيفيكان دالام حال إيني, يإيتو ۑإي خريّة دان رحمه الينوسيّه. سيباڬإيمانا ياڠ ديتونجوكّان أوليه ڤينيليتييان إيني بهوا ميتودي ياڠ ديلاكوكان أوليه كيدووا أولاما ڤيريمڤووان تيرسيبوت ميميليكي دمڤاك ڤوسيتيف تيروتاما باڬي أيمانسيڤاسي وانيتا أونتوك ميمبيباسكان ميريكا داري ڤينينداسان دان سيكاڤ ديسكريميناتيف سيرتا ميمڤيروليه ڤيڠيتاهووان ياڠ لاياك, تيروتاما ڤيڠيتاهووان دالام بيداڠ أڬاما.
TAREKAT KHALWATIYAH DAN PERKEMBANGANNYA DI INDONESIA Estuningtiyas, Retna Dwi
The International Journal of Pegon : Islam Nusantara civilization Vol 3 No 02 (2020): Jaringan Ulama Nusantara dan Haramain
Publisher : INC- Islam Nusantara Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The Khalwatiyah order is a form of tarekat in South Sulawesi which relies on the name of its carrier, Sheikh Yusuf al-Makassari. This tarekat is followed by many aristocrats and the people because it is friendly to the style of the tarekat and social composition. As for someone if they will follow this tarekat as a place to draw closer to the Creator, then there are stages that are carried out, namely to purify the mind, attitude and behavior and self-control. Furthermore, a prospective student will experience a period of obedience or a promise of loyalty to the tarekat conducted by the Murshid appointed by the Murshid Shaykh. As for the practice carried out is to dhikr with solemnity and presents God in every breath. The connection between the Shaykh Murshid and the students of the Congregation is very closely related, as the father with his sons. Tarekat Khalwatiyah adalah bentuk tarekat yang berada di Sulawesi Selatan dengan menyandarkan pada nama pembawanya Syaikh Yusuf al-Makassari. Tarekat ini banyak diikuti oleh para bangsawan dan rakyat karena sifatnya yang ramah terhadap gaya tarekat dan komposisi sosial. Adapun seseorang jika akan mengikuti tarekat ini sebagai wadahnya mendekatkan diri pada Sang Khalik, maka ada tahapan-tahapan yang dilakukan, yaitu melakukan penyucian batin, sikap dan perilaku tidak baik serta penguasaan diri. Selanjutnya seorang calon murid akan mengalami masa pembaiatan atau janji setia pada tarekat yang dilakukan oleh mursyid yang ditunjuk oleh syaikh mursyid. Adapun dalam amalan yang dilakukan adalah berzikir dengan khusyuk dan menghadirkan Allah dalam setiap hela nafas. Antara syaikh mursyid dan murid tarekat sangat erat hubungannya, sebagaimana bapak dengan anaknya. تاريكات خلواتيّه أدالاه بينتوك تاريكات ياڠ بيرادا دي سولاوسي سيلاتان ديڠان ميۑانداركان ڤادا ناما ڤيمباواۑا شيخ يوسف المكسّرى. تاريكات إيني باۑاك ديإيكوتي أوليه ڤارا بڠساوان دان ركيات كارينا صيفتۑا ياڠ راماه تيرهاداڤ ڬايا تاريكات دان كومڤوسيسي سوسييال. أداڤون سيسيأوراڠ جيكا أكان ميڠيكوتي تاريكات إيني سيباڬإي واداهۑا مينديكتكان ديري ڤادا ساڠ خالق, ماكا أدا تاهاڤان-تاهاڤان ياڠ ديلاكوكان, يإيتو ميلاكوكان ڤيۑوچييان باطين, سيكاڤ دان ڤيريلاكو تيداك بإيك سيرتا ڤيڠوواسأن ديري. سيلنجوتۑا سيأوراڠ چالون موريد أكان ميڠالامي ماسا ڤيمبإيأتان أتأو جانجي سيتييا ڤادا تاريكات ياڠ ديلاكوكان أوليه مرشيد ياڠ ديتونجوك أوليه شيخ مرشيد. أداڤون دالام أمالان ياڠ ديلاكوكان أدالاه بيرزيكير ديڠان خشوع دان ميڠهاديركان ألله دالام سيتيياڤ هيلا نفاس. أنتارا شيخ مرشيد دان موريد تاريكات سڠات أيرات هوبوڠانۑا, سيباڬإيمانا باڤاك ديڠان أناكۑا.
SUNTINGAN TEKS, TERJEMAHAN DAN ANALISIS NARATIF KADIS NABI MUHAMMAD DALAM NASKAH BALINES LT, Lutfianto
The International Journal of Pegon : Islam Nusantara civilization Vol 3 No 02 (2020): Jaringan Ulama Nusantara dan Haramain
Publisher : INC- Islam Nusantara Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

دأيراه بالي كينتال ديڠان أڬاما هيندو. نامون ديميكيان كيتيكا أدا نسكاه بيرأكسارا بالي بيرباهاسا جاوا بيرإيسي أڬاما إسلام ميروڤاكان كيأنيهان تيرسينديري. ناسكاه بالينيس ديڠان كيتيراڠان تيرتوليس كاديس نبي محمّد تيرسيبوت تيرسيمڤان دي ڤيرڤوستاكأن ناسكاه بيرلين جيرمان ديڠان نومور III ٣١ ١٩٧٠. ناسكاه إيني ميناريك أونتوك ديتيليتي. سيجأوه مانا إيسيۑا, سيبيراڤا باۑاك حديث نبي محمّد ياڠ تيرداڤات دالام ناسكاه تيرسيبوت. أوليه كارينا إيتو ڤينيليتي إيڠين ميلاكوكان ڤينيليتييان أوال ديڠان سونتيڠان تيكس دان تيرجيماهان. سونتيڠان دان تيرجيماهان مينجادي لڠكاه أوال دالام ڤينيليتييان فيلولوڬي. سيهيڠڬا داڤات ميڠوڠكاڤ إيسي نسكاه تيرسيبوت. ڤينوليس تيداك هاۑا بيرهينتي ڤادا ميڠهاديركان تيكس دان تيرجيماهنۑا ساجا تيتاڤي جوڬا ميڠاناليساۑا ديڠان أناليسيس ناراتيف. حال إيني بيرتوجووان أونتوك ميمبانتو ڤيماهامان ڤيمباچا تينتاڠ إيسي كاديس نبي محمّد دي دالام نسكاه بالينيس. حصيل ڤينيليتييان مينونجوكّان بهوا ناسكاه تيرسيبوت ليبيه باۑاك بيرإيسي چيريتا سيجاراه نبي محمّد دان ياڠ بيركإيتان ديڠانۑا. Daerah Bali kental dengan agama Hindu. Namun demikian ketika ada naskah beraksara Bali berbahasa Jawa berisi agama Islam merupakan keanehan tersendiri. Naskah Balines dengan keterangan tertulis Kadis Nabi Muhammad tersebut tersimpan di Perpustakaan Naskah Berlin Jerman dengan Nomor III 31 1970. Naskah ini menarik untuk diteliti. Sejauh mana isinya, seberapa banyak hadis Nabi Muhammad yang terdapat dalam naskah tersebut. Oleh karena itu peneliti ingin melakukan penelitian awal dengan suntingan teks dan terjemahan. Suntingan dan terjemahan menjadi langkah awal dalam penelitian filologi. Sehingga dapat mengungkap isi naskah tersebut. Penulis tidak hanya berhenti pada menghadirkan teks dan terjemahannya saja tetapi juga menganalisisnya dengan analisis naratif. Hal ini bertujuan untuk membantu pemahaman pembaca tentang isi Kadis Nabi Muhammad di dalam Naskah Balines. Hasil penelitian menunjukkan bahwa naskah tersebut lebih banyak berisi cerita sejarah Nabi Muhammad dan yang berkaitan denganya.
KAFF AL-‘AWÂM : SAAT KIAI HASYIM BERBICARA SAREKAT ISLAM elbahr, Azhari
The International Journal of Pegon : Islam Nusantara civilization Vol 3 No 02 (2020): Jaringan Ulama Nusantara dan Haramain
Publisher : INC- Islam Nusantara Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Naskah Kaff al-‘Awâm ‘an al-Khaudhi fî Syirkah al-Islâm yang ditulis pada tahun 1913 M mengkaji pemikiran dan sikap KH. M. Hasyim Asy’ari terhadap fenomena kemunculan Sarekat Islam pada masa awal berdirinya. Naskah ini adalah sebuah korespondensi KH. M. Hasyim Asy’ari kepada salah satu gurunya, yakni Syeikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi, yang di dalamnya memberikan informasi tentang adanya hal-hal yang terjadi mengiringi perjalanan awal perkembangan SI yang bertentangan dengan syariat Islam. Argumen-argumen pun disertakan untuk menguatkan pendapatnya itu. Naskah Kaff al-‘Awâm ini terdiri dari 29 halaman, dan menjelaskan tentang empat bahasan, yaitu pengertian dan klasifikasi bid’ah, pandangan dan kritik KH. M. Hasyim Asy’ari terhadap Sarekat Islam, tanbihat (peringatan-peringatan) dan khatimat (penutup) yang di dalamnya terdapat pesan-pesan terhadap hal yang sedang dibahas sebelumnya. Penelitian ini berusaha mengungkap faktor-faktor yang melatarbelakangi penulisan naskah Kaff al-‘Awâm, mengetahui sistematika penulisan, serta mengetahui pemikiran dan sikap KH. M. Hasyim Asy’ari terhadap Sarekat Islam dalam naskah tersebut.
ما هي نهضة العلماء؟ al Bantani, Imaduddin Usman
The International Journal of Pegon : Islam Nusantara civilization Vol 2 No 01 (2019): Menggali dan Melestarikan Khazanah Keilmuan Ulama Nusantara
Publisher : INC- Islam Nusantara Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

نهضة العلماء هي روح لجسد اهل السنة والجماعة فى اندونيسيا وهي نور مقتبس من انوار الحكم العالية، والطرائق المستقيمة، و البصائر اللائحة، والمفاهيم الدقيقة، و الاسرار الغالية، ورثها الاولياء التسعة، وغيرهم من الدعاة الجهبذة، ذوي العلوم الظاهرة والباطنة، ذو لا ينظرون ظواهر الاشياء الا مع الانصاف ببواطنها، و لا يخاطبونهم الجهلاء الا قالوا سلاما. وهي جنة لتخلط دين الملحدين المقصرين، و لامة لشبهات فتنة الحاسدين المتطرفين. جعل الله نهضة العلماء فى اندونيسيا وسطا بين سائر الافهام، كما جعل امة الاسلام وسطا بين سائر الامم.
Understanding Distortion of Islam Nusantara on Public Opinion in Indonesia on Political Ambience of 2019 Presidential Election Perdana, Kiki Esa
The International Journal of Pegon : Islam Nusantara civilization Vol 2 No 01 (2019): Menggali dan Melestarikan Khazanah Keilmuan Ulama Nusantara
Publisher : INC- Islam Nusantara Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

One of the most important roles in communication in life is that the information that is received is not distorted; moreover it can be received by the communicator completely. With a good plot of communication, all the process of information flows and good will from Islam Nusantara will be considered smooth and succeed. Communication effect or feedback is very important for all the information flows without exception so that the final result that is gained is really appropriate. In the end, all those people who have role to convey the communication activity of Islam Nusantara must pass through the process diligently; because it is definitely that the communication process of Islam Nusantara will be distorted, with so many unsubstantial disagreements emerge.

Page 1 of 2 | Total Record : 20