cover
Contact Name
Andreliano Yosua Rompis
Contact Email
andrelianoyosua@gmail.com
Phone
+6281382719085
Journal Mail Official
essentialredaksi@gmail.com
Editorial Address
Kelompok Ilmiah Hippocrates Fakultas Kedokteran Universitas Udayana Jl. PB. Sudirman, Denpasar, Bali - Indonesia
Location
Kab. badung,
Bali
INDONESIA
Essential: Essence of Scientific Medical Journal
Published by Universitas Udayana
ISSN : 19790147     EISSN : 26556472     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Essence of Scientific Medical Journal (ESSENTIAL) merupakan salah satu media publikasi ilmiah yang dimiliki oleh Kelompok Ilmiah Hippocrates FK Unud. Jurnal Essential menerima karya ilmiah berupa penelitian dan tinjauan pustaka dari seluruh mahasiswa kesehatan di Indonesia. Essential (Essence scientific Medical Journal) menerima dan mempublikasikan artikel penelitian dan tinjauan pustaka dalam ruang lingkup ilmu kesehatan atau bidang kedokteran meliputi ilmu dasar kedokteran, ilmu klinis dan kesehatan komunitas, ataupun penelitian eksperimental hewan atau manusia.
Articles 35 Documents
Hubungan Durasi Menderita Diabetes Melitus Tipe 2 dengan Kejadian Katarak di RSUD DR. H. Abdul Moeloek Provinsi Lampung Tahun 2018 Nadyanti, Febri; Himayani, Rani; Putri, Giska Tri; Yusran, M
Essence of Scientific Medical Journal Vol 17 No 1 (2019): Volume 17 No. 1 (Januari-Juni 2019) ESSENTIAL: Essence Of Scientific Medical Jou
Publisher : Kelompok Ilmiah Hippocrates Fakultas Kedokteran Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background: Cataract is one of the complications in type 2 diabetes mellitus caused by the buildup of sorbitol. The factors that influence occurrence of cataract is the duration of suffering type 2 diabetes mellitus. Purpose: The aim of this study was to determine the relationship among duration of type 2 diabetes mellitus with the occurrence of cataract in general hospital RSUD DR. H. Abdul Moeloek Lampung Province in 2018. Method: The design used in this study was observational analytic with a cross-sectional approach. There were 30 samples of patient with type 2 diabetes mellitus in the general hospital RSUD DR. H. Abdul Moeloek Lampung Province in 2018. Samples were chosen by total sampling and the data was analyzed by using chi square. Result: Duration of suffering from type 2 diabetes mellitus >10 years was as much as 40%, while 60% duration was ?10 years. From 30 participants, 53,3% had cataract and 46,7% had no cataract. Duration of suffering type 2 diabetes mellitus was statistically related with the occurrence of cataract with p value = 0,000 (p<0,05). Conclusion: Based on this study, we can conclude that there was a relation between duration of type 2 diabetes mellitus with the occurrence of cataracts in general hospital RSUD DR. H. Abdul Moeloek Lampung Province in 2018. Keywords: Cataract, Duration of Type 2 Diabetes Mellitus, Sorbitol
INSTRUMEN PENGKAJIAN NYERI PADA PASIEN KRITIS DI INTENSIVE CARE UNIT (ICU): STUDI LITERATUR Agastiya, I Made Cahyadi
Essence of Scientific Medical Journal Vol 16 No 1 (2018): Volume 16 No. 1 (Januari-Juni) : Essence Of Scientific Medical Journal
Publisher : Kelompok Ilmiah Hippocrates Fakultas Kedokteran Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan: Mayoritas pasien kritis di ICU mengalami nyeri selama proses perawatan. Nyeri merupakan halyang bersifat subjektif sehingga yang dilaporkan oleh pasien menjadi pengkajian dan evaluasi yang paling baik.Akan tetapi, sebagian besar pasien kritis di ICU terintubasi, menggunakan ventilasi mekanik ataupun mengalamipenurunan kesadaran. Walaupun demikian, nyeri harus tetap dikaji dan dievaluasi untuk menentukan manajemennyeri pada pasien kritis di ICU. Hal tersebut membutuhkan instrumen pengkajian nyeri yang praktis, objektif danrelevan dengan kondisi pasien di ICU.Metode: Penyusunan studi literatur ini menggunakan jurnal-jurnal yang relevan dari mesin pencari sepertiproquest.com, sciencedirect.com dan scholar.google.com dengan kata kunci pain, assessment tool, critical care.Pembahasan: Terdapat empat instrumen pengkajian nyeri pada pasien kritis di ICU yang telah teruji yaituBehavioral Pain Scale (BPS), Critical Care Pain Observation Tool (CPOT), Non-verbal Pain Scale (NVPS) danPain Assessment and Intervention Notation (PAIN). Keempat instrumen pengkajian nyeri tersebut memilikikelemahan dan kelebihannya masing-masing. Diantara keempat instrumen pengkajian nyeri tersebut, BPS danCPOT merupakan instrumen yang objektif, praktis dan relevan serta akurat sesuai karakteristik pasien kritis diICU. Kedua instrumen tersebut memiliki nilai reliabilitas dan validitas yang baik yaitu BPS: 0,72;3,9-6,8(p<0,001)dan CPOT: 0,71;0,26-0,56(p<0,001) dibandingkan dengan NVPS: 0,59;0,19-0,44(p<0,001) dan PAIN: p<0,05.Simpulan: BPS dan CPOT adalah instrumen yang paling objektif, praktis, dan relevan digunakan untuk mengkajinyeri pada pasien kritis di ICU karena dapat mengkaji nyeri pada pasien kritis di ICU dengan penurunankesadaran.
MEDITASI RAJA YOGA SEBAGAI MODALITAS PENCEGAHAN DAN TERAPI POST TRAUMATIC STRESS DISORDER (PTSD) PADA KORBAN PASCABENCANA ALAM Hartawan, I Gusti Ngurah Bagus Rai Mulya; Parastan, Rovie Hikari; Widianantara, I Made; Diniari, Ni Ketut Sri
Essence of Scientific Medical Journal Vol 17 No 2 (2020): Volume 17 No. 2 (Juli-Desember 2019) Essential: Essence of Scientific Medical Jo
Publisher : Kelompok Ilmiah Hippocrates Fakultas Kedokteran Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Pendahuluan: Indonesia merupakan negara rawan bencana alam. Sekitar 30-40% korban bencana akan mengalami Post Traumatic Stress Disorder (PTSD). Mempertimbangkan aspek neuropsikologis, PTSD dihasilkan dari kortisol dan glutamat tingkat tinggi. Sedangkan dari aspek psikodinamik, PTSD terjadi akibat menurunnya kontrol diri, rasionalitas, superego, dan kualitas mental dari dalam diri para korban akibat meningkatnya ego, yang menyebabkan mekanisme coping atau pertahanan diri. Pembahasan: Raja Yoga terbukti meregulasi neurotransmiter serotonin dan dopamin yang mampu menekan progresivitas PTSD. Peningkatan superego akibat meditasi Raja Yoga dalam meregulasi diri juga dilibatkan untuk melunakkan mekanisme koping sehingga menurunkan perasaan cemas dan takut. Penerapan Meditasi Raja Yoga juga dapat meningkatkan ego distonik dan libidinal (id) seseorang sehingga menjadikannya lebih semangat dan bergairah yang dapat mencegah menuju PTSD. Analisis manfaat dari Meditasi Raja Yoga sebagai upaya pencegahan dan terapi pada PTSD yakni memiliki keunggulan mudah dilaksanakan, ekonomis, efisien, dan pelaksanaan latihan Meditasi Raja Yoga sangat aman. Pelaksanaan Meditasi Raja Yoga secara rutin berdasarkan hasil penelitian terbaru juga menunjukan efek yang signifikan dalam mencegah morbiditas dan progresivitas PTSD. Simpulan: Meditasi Raja Yoga secara efektif dan signifikan mencegah perkembangan menuju terjadinya manifestasi klinis dari PTSD serta menterapi orang dengan PTSD Kata kunci: Meditasi Raja Yoga, PTSD, Psikodinamik, Neuropsikologi
Potensi Micro RNA (MiRNA) 499 sebagai Modalitas Multifungsi dan Mutakhir dalam Deteksi Dini Infark Miokard Akut Suksmarini, Pramita Widya; Dewi, Putu Mela; Oktavian, Hearty Indah
Essence of Scientific Medical Journal Vol 18 No 1 (2020): Volume 18 No. 1 (Januari - Juni 2020) Essential: Essence of Scientific Medical J
Publisher : Kelompok Ilmiah Hippocrates Fakultas Kedokteran Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK PENDAHULUAN: infark miokard akut merupakan keadaan rusaknya kardiomiosit karena iskemia akibat dari penyumbatan pada arteri coroner. Menjadi salah satu penyebab utama kematian di dunia, mebutuhkan biomarker yang efektif dan akurat untuk mendiagnosis sehingga mengurangi jumlah kematian dari infark miokard akut. PEMBAHASAN: MicroRNA (miRNA) adalah molekul RNA noncoding, yang terdiri dari 20-25 nukleotida. Salah satunya adalah miRNA-499 yang telah dikenal sebagai miR spesifik pada kerusakan otot jantung dan juga memiliki sensitivitas 78%, spesifisitas 82%, dan AUC 91% dan dapat mendeteksi infark miokard akut dalam waktu kurang dari 1 jam. Hal ini menunjukkan bahwa miRNA-499 memiliki potensi dalam pengelolaan infark miokard akut. SIMPULAN: MIRNA-499 memiliki potensi untuk mendiagnosis infark miokard akut. Kata Kunci: Infark miokard akut, miRNA, miRNA-499
PEMERIKSAAN ANTIGEN NON STRUKTURAL-1 SEBAGAI DETEKSI DINI INFEKSI AKUT VIRUS DENGUE Maimunah, Siti
Essence of Scientific Medical Journal Vol 17 No 2 (2020): Volume 17 No. 2 (Juli-Desember 2019) Essential: Essence of Scientific Medical Jo
Publisher : Kelompok Ilmiah Hippocrates Fakultas Kedokteran Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan: Penegakan diagnosis infeksi dengue sejak dini penting dilakukan agar penanganan infeksi dapat segera dilakukan. Terdapat berbagai pemeriksaan yang dapat menunjang diagnosis infeksi virus dengue diantaranya pemeriksaan trombosit, IgM, dan IgG. Namun, umumnya pemeriksaan tersebut baru menampakkan hasil bermakna setelah hari keempat demam. deteksi antigen virus dengue dengan teknik RT-PCR juga masih dinilai sulit dilakukan. Saat ini telah dikembangkan suatu pemeriksaan terhadap Ag NS1 yang dapat mendeteksi infeksi dengue sejak hari pertama demam. Pembahasan: NS1 merupakan glikoprotein non struktural yang dihasilkan oleh semua jenis flavivirus, glikoprotein ini berperan dalam replikasi dan viabilitas virus. Penelitian terbaru menyebutkan bahwa titer Ag NS1 terdeteksi tinggi serum pasien selama pada fase akut infeksi. Antigen ini dapat dideteksi baik pada infeksi primer maupun infeksi sekunder, titer antigen pada infeksi primer lebih tinggi dibanding infeksi sekunder. Ag NS1 dapat dideteksi dalam darah mulai dari hari pertama hingga 9 setelah onset demam. Pada fase tersebut sensitivitas pemeriksaan Ag NS1 lebih baik dibandingkan pemeriksaan antibodi IgM. Simpulan: Pemeriksaan Ag NS1 dapat dijadikan sebagai alternatif dalam mendeteksi infeksi akut virus dengue.
PERBANDINGAN EFEKTIVITAS SILVER SULFADIAZINE DAN MADU DALAM PENYEMBUHAN LUKA BAKAR Putri, Indrani Nur Winarno
Essence of Scientific Medical Journal Vol 16 No 2 (2018): Volume 16 No. 2 (Juli-Desember) : Essence Of Scientific Medical Journal
Publisher : Kelompok Ilmiah Hippocrates Fakultas Kedokteran Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction: Burns caused by heat, radiation, electricity, and chemical exposure. Because of the high of mortality and morbidity on this cases, treatments should be concern. Prevalences of burns in Indonesia are 0,7% and the highest risk are children.Discussion: Dressing Silver sulfadiazine (SSD) is baku emas in management burn healing wound. However SSD can delay burn wound healing and increase scar hypertrophy formation. Honey has antiinflamatory, antibacterial effect, and accelerate burn wound healing, so that scar hypertrophy become smaller.Conclusion: Based on some study, dressing honey give better effect than dressing Silver sulfadiazine in burn wound healing.
ASSOCIATION BETWEEN KNOWLEDGE AND BEHAVIOR IN MAINTAINING ORAL HYGIENE WITH DENTAL CARIES AMONG CHILDREN IN GIANYAR Winarno, Heidar Rauf; Nasution, Vivien Aulia Hadi; Chandra, Rizky Mega; Adiningsih, Ni Ketut Sri; Anggaraeni, Ni Made Yuliana; Handoko, Steffano Aditya; Putri, Wayan Citra Wulan Sucipta
Essence of Scientific Medical Journal Vol 16 No 1 (2018): Volume 16 No. 1 (Januari-Juni) : Essence Of Scientific Medical Journal
Publisher : Kelompok Ilmiah Hippocrates Fakultas Kedokteran Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background: The prevalence of dental caries among children in South East Asia, Indonesia, and Bali was 95%, 72%, and 22.5%, respectively. Dental caries in children can lead to another serious comorbidity of systemic problem such as diabetes and cardiovascular disease. The development of dental caries among children is influenced by their knowledge and behavior in maintaining oral hygiene. Purpose: The purpose of this study was to determine the association of knowledge and behavior in maintaining oral hygiene with dental caries status among children in Gianyar, Bali. Method: A Cross-sectional analytic study design was used to determine the association between the variables. The sample size of this study was 70 and consist of 7-8 years old state elementary school children. Bivariate and multivariate statistical analysis was performed in this study. Results: This study showed that 94.3% of the participant had dental caries. There is no significant association between knowledge in maintaining oral hygiene and dental caries (P=0.743). However, there is a significant association between behavior in maintaining oral hygiene and dental caries (P=0.011). Conclusion: Poor behavior and knowledge in maintaining oral hygiene among children are not associated with the presence of dental caries. However, education and practice lesson in maintaining oral hygiene should be directed to the lower categories of each group.
CAPSAICIN LOADED NANOLIPOSOME AGONIS TRPV1 : POTENSI TERAPI DALAM PENATALAKSANAAN ATEROSKLEROSIS Gita Sastrawan, I Gede
Essence of Scientific Medical Journal Vol 16 No 2 (2018): Volume 16 No. 2 (Juli-Desember) : Essence Of Scientific Medical Journal
Publisher : Kelompok Ilmiah Hippocrates Fakultas Kedokteran Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction: Atherosclerosis known as the cause most of cardiovascular disease. Atherosclerosis is a complex pathological process that occurs in the blood vessel. This disease can be triggered by lipid modification, which cause chronic inflammation, eventually lead to thrombosis or stenosis.Result and Discussion: Capsaicin loaded nanoliposome was constructed by extracting capsaicin from chili (Capsicum frutescens L.) using Microwave Assisted Extraction (MAE) method. Then the capsaicin extraction results were constructed with nanoliposome using a thin film hydration method. Capsaicin has LD50 in male Swiss albino mice at 190 mg/kg per oral. Once administered orally, hydrophobic capsaicin will pass through the plasma membrane of endothelial cells and lead to the receptor side of the intracellular vanilloid-binding site reseptor TRPV1 (Transient Receptor Potential Vanilloid 1). The activated TRPV1 is capable of increasing the calcium ion influx which affect the increased expression of ATP-binding cassette transporter A1 (ABCA1) and the decreased expression of LRP1 (low-density lipoprotein protective protein 1). Due to increased Ca2+ influx, endothelial TRPV1 activation also increases PKA phosporilation (protein kinase A) which implies increased UCP2 expression resulting in decreased ROS formation and foam cell formation in atherosclerosis.Conclusion: Capsaicin loaded nanoliposome has potential in the management of atherosclerosis.
PEMIKIRAN PROF. IDA BAGUS MANTRA DI BIDANG KESEHATAN Adiputra, Nyoman
Essence of Scientific Medical Journal Vol 16 No 1 (2018): Volume 16 No. 1 (Januari-Juni) : Essence Of Scientific Medical Journal
Publisher : Kelompok Ilmiah Hippocrates Fakultas Kedokteran Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Prof. Mantra sebagai orang Bali, mungkin yang pertama mempunyai gelar Pendidikan formal doktor. Beliaumemulai karyanya di UI tetapi beliau rela kembali ke Bali membangun Fakultas Sastra dan mengembangkannyamenjadi sebuah universitas. Dalam kurun waktu tersebut ide Prof. Mantra dapat dikemukakan, sebagai berikut :1) sumber daya manusia sebagai modal utama pembangunan hendaknya mempunyai derajat kesehatan yangoptimal yang meliputi kesehatan fisik dan mental; 2) kualitas SDM ditentukan oleh tingkat pendidikannya,makanya beliau sebagai konseptor dan sekaligus pelaksana, aktif dalam proses pendirian Pendidikan tinggi dibidang kedokteran; 3) beliau berkeliling universitas di Jawa bernegosiasi dengan putra/i Bali yang sedang belajarilmu kedokteran untuk nantinya bersedia kembali ke Denpasar menjadi staf pengajar di FK yang dirancang waktuitu; 4) keberadaan lontar hendaknya banyak dikaji sehingga berkontribusi dalam upaya pembinaan kesehatanmasyarakat; 5) budaya lawar menjadikan penciri budaya Bali semestinya dikaji sehingga menjadi kuliner Baliyang sejajar dengan subetnis/etnis lainnya; 6) aspek kesehatan dalam berupacara adat dan agama perludidukung oleh kajian ilmiah sehingga dapat mengakomodir kebutuhan manusia Bali di masa depan, tanpakehilangan salah satu unsur budaya pencirinya. Salah satu ciri beliau yang patut diteladani ialah kesungguhandan konsistensi dalam berkarya, mewujudkan cita-cita beliau.
Diagnosis dan Tatalaksana Sindrom Treacher Collins Kawilarang, Bertha
Essence of Scientific Medical Journal Vol 17 No 2 (2020): Volume 17 No. 2 (Juli-Desember 2019) Essential: Essence of Scientific Medical Jo
Publisher : Kelompok Ilmiah Hippocrates Fakultas Kedokteran Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Pendahuluan: Sindrom Treacher Collins adalah penyakit genetik langka yang menyebabkan berbagai malformasi kongenital dengan manifestasi klinis terutama di bagian kraniofasial. Pembahasan: Diagnosis dapat dilakukan sejak periode prenatal atau postnatal, namun analisa genetik merupakan diagnosis definitif untuk menentukan adanya mutasi gen. Tatalaksana pasien membutuhkan tim multidisiplin dengan perencanaan tindakan operatif maupun non-operatif yang dilakukan sejak lahir sampai usia dewasa. Kesimpulan: Diagnosis dan penanganan Sindrom Treacher Collins masih merupakan tantangan karena aspek fungsional dan estetik pasien harus dipertimbangkan. Pasien yang telah didiagnosis harus segera dirujuk ke pusat khusus dengan tim kraniofasial yang melibatkan tim multidisipilin. Kata kunci: Diagnosis, malformasi kraniofasial, Sindrom Treacher Collins, tatalaksana ABSTRACT Introduction: Treacher Collins syndrome is a rare genetic disease which causes various congenital malformation with clinical manifestation mainly in the craniofacial region. Discussion: Diagnosis can be made since prenatal or postnatal period, however genetic analysis remains as definitive diagnosis to determine gene mutation. Management of patient requires a multidisciplinary team, with planning of operative or non-operative approaches since birth to adult. Conclusion: Diagnosis and management of Treacher Collins syndrome is still a challenge due to patient’s functional and esthetic aspect that must be fully considered. Patient who has been diagnosed must promptly be referred to specialized center with craniofacial team involving multidisciplinary team. Keywords: Diagnosis, craniofacial malformation, Treacher Collins syndrome, management

Page 1 of 4 | Total Record : 35