cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Hortikultura Indonesia
ISSN : 20874855     EISSN : 26142872     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI) merupakan media untuk publikasi tulisan ilmiah dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris yang berkaitan dengan berbagai aspek dalam bidang hortikultura. Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI) terbit tiga kali setahun (April, Agustus, dan Desember).
Arjuna Subject : -
Articles 187 Documents
KETINGGIAN PANGKAS BERAT DAN PUPUK ORGANIK TERHADAP BIOMASSA DAN FLAVONOID DAUN KEMUNING PADA PANEN PERTAMA DAN KEDUA Eman Ayu Sasmita Jati, Gusti; Arifin Aziz, Sandra; Melati, Maya
Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 10 No. 2 (2019): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (301.409 KB) | DOI: 10.29244/jhi.10.2.135-144

Abstract

Pemanenan kemuning (Murraya paniculata (L.) Jack.), dengan cara pangkas di ketinggian yang sama terus-menerus dapat menyebabkan penurunan produksi. Penerapan pangkas berat terhadap tanaman kemuning belum pernah dilaporkan sebelumnya. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan ketinggian pangkas dan dosis pupuk yang sesuai untuk mempertahankan atau meningkatkan produksi daun kemuning dan flavonoid. Penelitian dilakukan dari bulan Juli 2015 sampai Juli 2016. Percobaan dilakukan di Kebun Percobaan Organik Institut Pertanian Bogor di Cikarawang, Bogor. Percobaan menggunakan rancangan acak kelompok dengan dua faktor dan empat ulangan. Faktor pertama adalah tinggi pemangkasan yang terdiri atas 45, 60 dan 75 cm di atas permukaan tanah. Ketinggian 75 cm didesain sebagai kontrol. Faktor kedua adalah kombinasi dosis pupuk kandang ayam (PA) dan abu sekam (AS), yaitu: tanpa pupuk (kontrol), 7 kg PA + 3 kg AS, dan 14 kg PA + 6 kg AS per tanaman per tahun. Panen dilakukan dua kali dengan interval empat bulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketinggian pangkas 60 cm di atas permukaan tanah merupakan pemangkasan berat terbaik untuk pertumbuhan, produksi, dan produksi total flavonoid daun tanaman kemuning yang berusia 45-57 bulan setelah tanam (BST) setelah 4-6 kali panen, sementara perlakuan pemupukan tidak memberikan hasil yang berbeda nyata. Kata kunci: abu sekam, kandungan pigmen, pupuk kandang ayam, tinggi pangkasan
PENAMPILAN TANAMAN KRISAN POT (DENDRANTHEMA GRANDIFLORA) AKIBAT RETARDAN DAN PEMANGKASAN PUCUK Widyawati, Nugraheni
Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 10 No. 2 (2019): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (418.426 KB) | DOI: 10.29244/jhi.10.2.128-134

Abstract

Kajian pengaruh perlakuan retardant dan pemangkasan pucuk terhadap penampilan tanaman krisan pot (Dendranthema grandiflora) dilakukan menggunakan Rancangan Acak Kelompok yang terdiri atas tujuh perlakuan dengan empat ulangan, yaitu: P1) Kontrol tanpa retardan dan pemangkasan pucuk; P2) Penyemprotan retardan saat pindah tanam bibit; P3) Penyemprotan retardan 1 minggu setelah pindah tanam bibit; P4) Penyemprotan retardan 2 minggu setelah pindah tanam bibit; P5) Pemangkasan pucuk saat pindah tanam bibit; P6). Pemangkasan pucuk 1 minggu setelah pindah tanam bibit; P7) Pemangkasan pucuk 2 minggu setelah pindah tanam bibit. Data hasil penelitian dianalisis menggunakan ANOVA dan BNJ 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa retardan meningkatkan kandungan klorofil daun, tanaman menjadi lebih pendek, diameter tajuk lebih kecil, jumlah bunga per pot lebih sedikit dan diameter bunga lebih kecil. Pemangkasan pucuk menurunkan tinggi tanaman, meningkatkan jumlah bunga per tanaman dan jumlah bunga per pot. Perlakuan retardan dan pemangkasan pucuk menyebabkan mekarnya bunga kurang serentak. Penampilan krisan pot dengan perlakuan retardan lebih ideal dibandingkan kontrol dan pemangkasan pucuk. Kata kunci : pembungaan, pertumbuhan, krisan pot, paclobutrazol, pemangkasan pucuk
AKLIMATISASI ANGGREK (PHALAEPNOPSIS AMABILIS) DENGAN MEDIA TANAM YANG BERBEDA DAN PEMBERIAN PUPUK DAUN Wukir Tini, Etik; Sulistyanto, Prasmaji; Sumartono, Gregorius Hadi
Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 10 No. 2 (2019): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (363.236 KB) | DOI: 10.29244/jhi.10.2.119-127

Abstract

Penelitian bertujuan mendapatkan media tanam dan konsentrasi pupuk daun yang paling tepat untuk aklimatisasi anggrek Phalaepnopsis agar meningkatkan pertumbuhan tanaman. Penelitian dilaksanakan November 2017 sampai Juni 2018 di rumah kasa. Rancangan percobaan yang digunakan Rancangan Kelompok Lengkap Teracak dengan dua factor perlakuan, faktor pertama adalah media tanam (pakis, sabut kelapa, dan akar kadaka), dan faktor yang kedua adalah konsentrasi pupuk daun ( tanpa diberi pupuk daun, pupuk daun dengan konsentrasi 1 g L-1, 2 g L-1, 3 g L-1). Hasil penelitian menunjukkan bahwa akar kadaka dapat meningkatkan pertambahan luas daun sebesar 19.2% dibandingkan pakis dan 26.67% dibandingkan sabut kelapa. Konsentrasi pupuk daun Greener 2 g L-1 merupakan konsentrasi paling baik yang dapat meningkatkan pertambahan luas daun sebesar 78.31% dan pertambahan jumlah klorofil 25.58%. Kombinasi jenis media tanam dan konsentrasi pupuk belum meningkatkan pertumbuhan tanaman anggrek Phalaenopsis pada fase aklimatisasi. Kata kunci: akar kadaka, konsentrasi, pakis, pertumbuhan tanaman, sabut kelapa
ESTIMASI RAGAM, JUMLAH KELOMPOK GEN PENGENDALI KARAKTER DAN HERITABILITAS HASIL TOMAT DI DATARAN RENDAH Eka Saputra, Helfi; Wahyuni Ganefianti, Dwi; Salamah, Umi; Sariasih, Yenny; Dwi Ardiansyah, Nico
Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 10 No. 2 (2019): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (349.473 KB) | DOI: 10.29244/jhi.10.2.112-118

Abstract

Persilangan merupakan salah satu teknik untuk memperluas keragaman genetik. Tujuan penelitian adalah untuk mengestimasi keragaman genetik, heritabilitas dan jumlah kelompok gen pengendali karakter hasil dan komponen hasil tomat pada populasi F2 persilangan TMU-1 x TMU-2 di dataran rendah. Penelitian dilaksanakan di Kelurahan Kandang Limun, Kota Bengkulu dengan ketinggian 10 m dpl (dataran rendah) dari bulan April sampai Oktober 2016. Estimasi keragaman genetik, heritabilitas dan jumlah kelompok gen pengendali karakter ditentukan berdasarkan nilai tengah dan ragam pada populasi. Hasil penelitian menunjukkan semua karakter yang diuji memiliki jumlah kelompok gen pengendali sebanyak satu gen. Karakter yang dikendalikan oleh satu gen diharapkan fiksasi gen-gen akan cepat tercapai pada beberapa siklus awal seleksi. Delapan karakter memiliki heritabilitas tinggi. Masing-masing karakter dan heritabilitasnya adalah umur berbunga (52.90%), jumlah buah per tanaman (92.99%), panjang buah (77.10%), diameter buah (71.76%), jumlah rongga buah (85.68%), tebal daging buah (73.05%), padatan total terlarut (89.77%) dan bobot buah per tanaman (65.19%). Kata kunci: dataran rendah, heritabilitas, jumlah kelompok gen, keragaman, komponen hasil
PENGARUH PERSIAPAN LAHAN DAN PENATAAN LAHAN TERHADAP SIFAT TANAH, PERTUMBUHAN DAN HASIL CABAI MERAH (CAPSICUM ANNUM) DI LAHAN GAMBUT Maftuah, Eni; Hayati, Afiah
Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 10 No. 2 (2019): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (374.87 KB) | DOI: 10.29244/jhi.10.2.102-111

Abstract

Peatlands are potential to be used as red pepper development areas. The technology of land preparation and land management is indispensable in the utilization of peatlands. The study aimed to study the effect of land preparation on soil fertility, growth and yield of red peppers. The research was carried out on peatland in Kalampangan village, Sebangau Sub-District, Kodya Palangkaraya, (-2 O179?9??S, 144O1?31?? E, 53,8m) from June to October, 2017. The experiment used Split Plot design, 3 replications. The main plot is types of land arrangement (U1 = without rise beds and U2 = with rise beds). The plot is a type of land preparation (A1=slash, burn, A2=slash, compost, A3=slash, mulch, A4= slash, compost, plastic mulch). Observations were made on plant growth, soil pH and P available on soil and red pepper yields. The highest yield of red pepper was reached on the treatment of land arrangement of beds system combined with land clearing system, then compostable materials+plastic mulch, while the lowest yield on the without bed + soil treatment on slash and weed was used for mulch. The result of pepper plant in peat soil is influenced by soil pH and P concentration is available in soil. Keywords: bed system, slash-burn, slash-compost, slash-mulch, plastic mulch
RESPON TANAMAN PAKCOY (BRASSICA RAPA L.) TERHADAP PEMBERIAN PUPUK ORGANIK CAIR LIMBAH PERIKANAN Rifqi Fauzi, Ahmad; Casdi; Warid
Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 10 No. 2 (2019): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (291.331 KB) | DOI: 10.29244/jhi.10.2.94-101

Abstract

One of issues in urban farming is waste management. The amount of waste in urban has not been managed well. Fishery waste is one of organic waste that can be utilized is as raw material for liquid organic fertilizer. The purpose of this study was to determine growth and yield responses of Pakcoy to the treatment of liquid organic fertilizer of fisheries waste. The research method was using factorial completely block randomized design repeated four times. First factor is fertilizer dosages of urea with five levels (0, 25%, 50%, 75%, and 100% from 250 kg ha-1 recommendation dosage), and second factor is concentration fertilizer organic liquid fisheries waste with five levels (0, 2, 4, 6, and 8 ml L-1). There are 25 treatment combinations with 6 plants per experimental unit, so there are 600 samples studied. This research was conducted at Kebun Bergizi, and Agroecotechnology Laboratory, Trilogi University, from September to October 2018. The results showed combination of 50% treatment of urea fertilizers and 2 ml L-1 of organic liquid fertilizer gave better results compared to control and other treatment on growth variable. The variable of edible leaves number and fresh weight of plants ie 19.11 strands, and 220.77 g heavier than the 100% treatment of urea dosages used. Keywords: Fertilization, nitrogen, organic waste, urban farming, vegetable
HERITABILITAS, KORELASI, DAN SIDIK LINTAS BERBAGAI KARAKTER TOMAT PADA KONDISI NAUNGAN DAN TANPA NAUNGAN Ritonga, Arya Widura; Chozin, Muhamad Achmad; Syukur, Muhamad; Maharijaya, Awang; Sobir
Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 10 No. 2 (2019): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (383.399 KB) | DOI: 10.29244/jhi.10.2.85-93

Abstract

Character selection information is essential for plant breeding program. SSH3 tomato genotype (shade-loving genotype), 4974 (shade-sensitive genotype), and F2 population derived from ?SSH3 x 4974? were evaluated to estimate the heritability, correlation, direct and indirect effects between yield and various yield atributting characters in tomato under shading and normal condition at Pasir Kuda Station, Bogor Agriculture University, West Java, Indonesia from July until October 2016. The results showed that plant height, leaf length, leaf width, leaf weight, specific leaf weight, fruit weight, fruit number per plant and fruit weight per plant had high heritability under normal condition, while plant height, fruit set, fruit number of plant and fruit weight per plant had high heritability under shading condition. High direct positive effect on yield per plant was resulted from fruit weight and fruit number of plant under shading and normal condition, while leaf width had direct positive effect on fruit weighr per plant only under shading condition. High indirect positive effect on yield per plant was resulted from fruit set, fruit length and fruit diameter under shading and normal condition, while plant heigh had high indirect effect on yield per plant only under shading condition. Fruit set, fruit weight, and fruit number per plant characters were potential to be used as character selection for tomato productivity in normal conditions. Plant height, fruit set and fruit number per plant were potential to be used as character selection for tomato productivity under shading condition. Keywords: direct effect, fruit set, indirect effect, low light tolerant
PENGARUH TINGKAT KEMATANGAN BUAH TERHADAP SETEK BASAL DAUN MAHKOTA NANAS (ANANAS COMOSUS (L.) MERR) CV. SMOOTH CAYENNE Eprilian, Husna Fatima; Suhartanto, Mohamad Rahmad; Palupi, Endah Retno
Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 10 No. 2 (2019): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (485.989 KB) | DOI: 10.29244/jhi.10.2.75-84

Abstract

Metode pembibitan nanas yang dapat dikembangkan untuk meningkatkan jumlah bibit yang dapat dihasilkan adalah setek basal daun mahkota. Tingkat kematangan buah diduga berpengaruh terhadap tingkat keberhasilan setek basal daun. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi mengenai pengaruh tingkat kematangan buah pada saat pengambilan bahan setek untuk produksi bibit asal setek basal daun mahkota pada nanas cv. Smooth Cayenne. Percobaan menggunakan RKLT satu faktor, yaitu tingkat kematangan dengan empat taraf perlakuan: tingkat kematangan 1 (K1) : semua mata berwarna hijau; kematangan 2 (K2) : mata buah yang berwarna kuning < 20%; kematangan 3 (K3) : mata buah yang berwarna kuning 40-55%; kematangan 4 (K4): mata buah yang berwarna kuning >90%; tetapi yang berwarna jingga kemerahan <20%. Hasil penelitian menunjukkan kandungan auksin dan sitokinin endogen tidak berbeda pada semua tingkat kematangan, namun Nisbah C/N K3 dan K4 menunjukkan hasil lebih tinggi. Pada semua tingkat kematangan, terbentuknya tunas maksimum terjadi pada 4-6 MST. Tingkat kematangan buah terbaik untuk produksi bibit nanas dengan setek basal daun mahkota adalah K4 (mata buah yang berwarna kuning >90%, tetapi yang berwarna jingga kemerahan <20%). K4 memiliki kecenderunguan menghasilkan setek hidup, bertunas, dan berakar lebih tinggi. K4 menghasilkan bobot kering tunas tertinggi dan memenuhi standar bibit sertifikasi lebih cepat (52 MST). Kata kunci: buah tropis, mata tunas dorman, perbanyakan cepat, split crown
DAYA SAING DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI EKSPOR NANAS INDONESIA Rachma Safitri, Viola; Kartiasih, Fitri
Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 10 No. 1 (2019): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (449.206 KB) | DOI: 10.29244/jhi.10.1.63-73

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran umum produksi dan ekspor nanas di Indonesia, menganalisis daya saing nanas Indonesia di tujuh negara tujuan ekspor utama, dan menganalisis faktor faktor yang mepengaruhi ekspor nanas Indonesia di negara tujuan ekspor utama nanas tahun 2001-2014. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Revealed Comparative Advantage (RCA), Indeks Spesialisasi Perdagangan (ISP), Intra Industry Trade (IIT), dan regresi data panel. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tingginya produksi nanas Indonesia belum diimbangi dengan peningkatan volume ekspor nanas. Indeks RCA menunjukkan bahwa Indonesia lebih unggul dibandingkan Filipina di beberapa negara seperti Belanda, Jerman, Singapura, Spanyol, dan Argentina untuk komoditi nanas. Indeks ISP dan IIT menunjukkan bahwa Indonesia memiliki kecenderungan sebagai negara eksportir. Variabel indeks daya saing, nilai tukar riil rupiah terhadap mata uang negara tujuan, pendapatan per kapita negara tujuan, serta jumlah produksi nanas Indonesia memiliki pengaruh positif terhadap pertumbuhan volume ekspor nanas di ketujuh negara tujuan ekspor utama sedangkan harga ekspor riil nanas memiliki pengaruh yang negatif terhadap volume ekspor nanas di ketujuh negara tujuan ekspor utama. Kata Kunci: data panel, daya saing, ekspor nanas, RCA
PENGARUH CEKAMAN KEKERINGAN TERHADAP PERTUMBUHAN DAN KADAR FLAVONOID TOTAL TUMBUHAN TABAT BARITO (FICUS DELTOIDEA JACK) Manurung, Hetty; Kustiawan, Wawan; Wijaya Kusuma, Irawan; Marjenah
Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 10 No. 1 (2019): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (429.559 KB) | DOI: 10.29244/jhi.10.1.55-62

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh perlakuan cekaman kekeringan terhadap pertumbuhan dan kadar flavonoid total tumbuhan tabat barito. Penelitian dilakukan di rumah kaca Laboratorium Fisiologi Tumbuhan, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Mulawarman, menggunakan rancangan acak lengkap yang terdiri dari 4 perlakuan kapasitas lapang air (KL) yaitu: KL 100%, KL 80%, KL 60% dan KL 40%. Setelah tanaman berumur 9 bulan dilakukan pengamatan terhadap peubah pertumbuhan (tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, jumlah cabang, diameter batang, biomassa). Perlakuan cekaman kekeringan berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman, jumlah cabang, diameter batang dan biomassa tanaman. Berdasarkan hasil uji fitokimia ekstrak daun tabat barito mengandung alkaloid, fenolik, flavonoid, steroid dan kumarin. Kadar total flavonoid ekstrak daun tertinggi dihasilkan pada perlakuan KL 40% sebesar 430.77 ?g Catechin Equivalen (CE) mg-1 ekstrak daun dan berbeda nyata dengan perlakuan KL 100%, 80% dan 60%. Kadar flavonoid total terendah terdapat pada perlakuan KL 100% sebesar 282.05 ?g CE mg-1 ekstrak. Secara umum, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perlakuan cekaman kekeringan secara nyata menghambat pertumbuhan dan meningkatkan kadar total flavonoid ekstrak daun tabat barito. Kata kunci: budidaya, cekaman kekeringan, flavonoid, tabat barito (Ficus deltoidea)

Page 1 of 19 | Total Record : 187