cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science,
Arjuna Subject : -
Articles 177 Documents
ISOLASI DAN IDENTIFIKASI BAKTERI STAPHYLOCOCCUS EPIDERMIS PADA IKAN ASAP PINEKUHE Karimela, Ely John; Ijong, Frans G; Palawe, Jaka F P; Mandeno, Jeffri A
Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Vol 9 No 1 (2018): MEI 2018
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1821.537 KB) | DOI: 10.24319/jtpk.9.35-42

Abstract

Pinekuhe smoked fish is a fishery product traditionally processed by fishermen of Sangihe Island Regency. Staphylococcus epidermis is an opportunistic phatogen that causes infection to humans of weak immunity. This study aims to identify S. epidermis isolated from the Pinekuhe smoked fish. Fourty isolate samples were grown on Mannitol salt Agar medium and suspect colonies were tested for Gram staining, Catalase, Motility and Coagulase test There were 13 isolates identified as S. epidermis which characteristics as gram-positive, round shapes, clustering, 0,5?m-1?m in diameter, non-motilepositive catalase, and not ferment Mannitol. So, there were 32.5% S. epidermis that contaminated Pinekuhe smoked fish.
PERKEMBANGAN LARVA UDANG GALAH (MACROBRACHIUM ROSENBERGII) HASIL PERSILANGAN POPULASI ACEH DAN STRAIN SIRATU Nuraini, Istiqomah; Tarsim, Tarsim; Sujatmiko, Wisnu
Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Vol 9 No 1 (2018): MEI 2018
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1325.411 KB) | DOI: 10.24319/jtpk.9.55-63

Abstract

Budidaya udang galah sangat diminati dan berkembang pesat karena memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Permasalahan yang timbul yakni pengendalian terhadap kualitas genetik udang galah menjadi turun terutama pada produksi larva tanpa diikuti manajemen induk yang baik, upaya yang dapat dilakukan yaitu perbaikan genetik melalui kegiatan persilangan induk (hibridisasi) untuk menghasilkan larva dengan kualitas unggul. Hibridisasi intraspesifik menggunakan udang galah populasi Aceh (A) dan strain Siratu (R) dilakukan secara resiprokal (RA dan AR) dan galur murni (RR dan AA). Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji persilangan resiprokal udang galah populasi Aceh dan strain Siratu terhadap laju dan durasi perkembangan larva yang dihasilkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa larva hasil persilangan dengan metode resiprokal hibrida Siratu x Aceh (RA) dengan nilai laju perkembangan 9,87 dan durasi perkembangan 27 hari lebih baik dibandingkan hibrida Aceh x Siratu (AR) dengan nilai laju perkembangan 9,78 dan durasi perkembangan 30 hari untuk mencapai post larva. Hasil persilangan hibridisasi RA dan AR lebih lama dibandingkan inbrida Siratu x Siratu (RR) tetapi lebih cepat dibandingkan dengan inbrida Aceh x Aceh (AA) sebagai tetua.
IDENTIFICATION OF PLANKTON IN SEAWEED CULTIVATION AREA DISTRICT BANTAENG, SOUTH SULAWESI WITH DNA BARCODING METHOD Apriliyanti, Margaretha Sandra; Sutanti, Sutanti; Utomo, Deny Sapto Chondro
Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Vol 9 No 1 (2018): MEI 2018
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1496.064 KB) | DOI: 10.24319/jtpk.9.65-72

Abstract

DNA barcoding merupakan metode yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi plankton dengan melihat materi genetiknya. DNA barcoding dilakukan dengan beberapa tahapan, yaitu ekstraksi, amplifikasi, purifikasi, dan sekuensing. Sampel yang digunakan adalah diambil pada bulan Juli 2017 dan Desember 2017 dari kawasan budidaya rumput laut Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi plankton dari kawasan budidaya rumput laut di Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan dengan metode DNA barcoding menggunakan primer 18S rDNA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa plankton yang teridentifikasi adalah zooplankton, yaitu Pegurus bernhardus, Canthocalanus pauper, Calanus finmarchicus, dan Copepoda pada stasiun B, Acartia longiremis dan Subeucalanus pileatus pada stasiun C, dan Oithona sp. pada stasiun D dan E.
POTENSI KECELAKAAN KERJA PADA PERIKANAN BAGAN APUNG DI PPN PALABUHANRATU, JAWA BARAT Riantoro, Muhamad Rizki; Iskandar, Budhi Hascaryo; Purwangka, Fis
Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Vol 8 No 2 (2017): NOVEMBER 2017
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (627.528 KB) | DOI: 10.24319/jtpk.8.221-236

Abstract

Fokus perhatian pada penelitian ini adalah aktivitas perikanan bagan di atas kapal angkutnya. Aktivitas pada kapal angkut inilah yang paling banyak memiliki potensi risiko berbahaya. Kecilnya area pada kapal angkut, dengan jumlah penumpang yang banyak dan ditambah dengan berat jumlah barang yang diangkut tersebut dapat menyebabkan peluang kecelakaan yang tinggi. Kondisi tersebut juga diperparah dengan situasi di atas kapal angkut yang tidak terdapat seorang penumpang pun yang menggunakan alat keselamatan dan APD (Alat Perlindungan Diri), dan juga tidak tersedianya alatalat tersebut di dalam kapal. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi risiko kerja pada kegiatan perikanan bagan apung, dan mengidentifikasi pengetahuan nelayan bagan apung terhadap keselamatan kerja.. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode studi kasus pada potensi kecelakaan kerja di kapal angkut dan bagan apung di Palabuhanratu. Data primer didapatkan dari hasil pengamatan langsung dan wawancara terhadap beberapa pihak terkait dengan keselamatan kerja nelayan. Data sekunder diperoleh dari berbagai sumber seperti literatur, dokumen serta arsip yang ada pada instansi terkait. Pengolahan data dilakukan dengan analisis keselamatan kerja (Job Safety Analysis/JSA). Hasil penelitian ini menunjukkan, (1) berdasarkan JSA diperoleh bahwa risiko yang timbul terbagi dalam 3 kategori yakni kategori tidak parah (88%), parah (12%) dan sangat parah (0%); (2) nelayan bagan memiliki pengetahuan yang dikategorikan cukup baik mengenai keselamatan kerja dan prosedur kerja di kapal.
SUHU PERMUKAAN LAUT DAN KEDALAMAN TERTANGKAPNYA TUNA OLEH KAPAL PANCING ULUR YANG DILENGKAPI LAMPU Mulyadi, Rama Agus; Sondita, Muhammad Fedi Alfiadi; Yusfiandayani, Roza
Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Vol 8 No 2 (2017): NOVEMBER 2017
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (712.449 KB) | DOI: 10.24319/jtpk.8.199-207

Abstract

Sebaran dan kelimpahan ikan tuna sangat dipengaruhi oleh suhu dan kedalaman air. Nelayan tuna Bungus menangkap ikan tuna bigeye (BET, Thunnus obesus) dan tuna sirip kuning (YFT, Thunnus albacares) menggunakan pancing ulur yang dioperasikan pada kapal yang dilengkapi lampu sebagai alat abantu. Tujuan penelitian: (1) mengukur suhu permukaan laut (SST) dan kedalaman renang tuna mata besar dan tuna sirip kuning di sekitar Pulau Mentawai, (2) mengidentifikasi pengaruh cahaya terhadap sebaran vertikal tuna, dan (3) menentukan panjang tali pancing terbaik untuk penangkapan tuna. Berdasarkan panjang garis dan konfigurasi garis, berat, kait dan umpan cumi-cumi, kait mereka berada di 45, 53, 60, dan 68 meter di bawah permukaan laut. Sebanyak 8 tuna sirip kuning tertangkap di kedalaman 45, 53 dan 60 m; berat total 354 kg. Satu BET seberat 45 kg tertangkap pada kedalaman 60 m. Penelitian ini memberitahukan bahwa tuna berukuran besar tertangkap di lapisan permukaan dengan kedalaman 15-60 m. Suhu permukaan laut (SST) di daerah penangkapan ikan di sekitar Pulau Mentawai rata-rata 28.97 oC di mana nelayan berhasil menangkap 15 tuna yang terdiri dari 3 ekor tuna mata besar dan 12 ekor tuna sirip kuning. Tuna dewasa kebanyakan tertangkap pada kedalaman 23-60 m sedangkan muda tertangkap di kedalaman 15-45 m. Penelitian ini menunjukkan pengaruh cahaya dapat menaikkan posisi lapisan renang tuna dewasa. Handline dengan panjang tali 53 m adalah panjang tali terbaik untuk menangkap tuna dewasa di daerah tersebut.
PEMETAAN ZONA GEOMORFOLOGI DAN HABITAT BENTIK DI PULAU KOTOK BESAR MENGGUNAKAN KLASIFIKASI BERBASIS OBJEK Candra, Ike Dori; Siregar, Vicentius P.; Agus, Syamsul B.
Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Vol 8 No 2 (2017): NOVEMBER 2017
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1735.645 KB) | DOI: 10.24319/jtpk.8.209-219

Abstract

This study used high-resolution satellite imagery of worldview-2 acquisition 5 October 2013. The purpose of this study was to explore the capability of high-resolution satellite imagery of worldview-2 to map the geomorphic zones of shallow water in Kotok Besar island. The method used is object-based image analysis. This method is able to define classes of objects based on spectral and spatial aspects. Image segmentation algorithm using multiresolution segmentation with different scala parameters for each level, level 1, level 2 and level 3. Shape and compactness are also customized for each level. Assign class at level 1 generates three classes, namely land, shallow water and deep water. Assign class at level 2 for geomorphic zone generates three class classes of reef flat, reef crest and reef slope. benthic habitat classification at level 3 produces 7 classes with an overall accuracy was 66.40%.
AKUSTIK DIBANDINGKAN DENGAN DENSITAS IKAN: KOMBINASI METODE AKTIF DAN PASIF Randi, Zulfathri; Hestirianoto, Totok; Pujiyati, Sri
Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Vol 8 No 2 (2017): NOVEMBER 2017
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (758.132 KB) | DOI: 10.24319/jtpk.8.187-198

Abstract

Akustik perikanan memiliki dua pembagian utama yaitu akustik aktif dan pasif. Berbagai penelitian akustik dengan metode aktif telah dilakukan untuk mengkaji hubungan antara akustik dengan densitas ikan, namun kombinasi metode aktif dengan pasif belum pernah dilakukan sekaligus pada kawanan ikan yang sama. Mengkombinasikan kedua metode ini diharapkan dapat menghasilkan informasi yang berhubungan dengan densitas ikan serta kecenderungannya baik dengan metode aktif maupun pasif. Penelitian ini dilakukan pada kawanan ikan nila (Oreochromis niloticus) dalam kondisi terkontrol berjumlah 50, 100, dan 150 individu ikan dengan kisaran panjang total 10-13cm. Akuisisi data akustik aktif dan pasif dilakukan secara stasioner selama 15 menit pada keramba jaring apung (KJA) ukuran 2 m×2 m×1.8 m menggunakan echosounder CruzPro PcFF-80 frekuensi 200 kHz (akustik aktif) dan hydrophone Dolphin EAR 100 (akustik pasif). Data akustik aktif diolah menggunakan program Matlab R2013b untuk menghasilkan nilai hambur balik volume (scattering volume, SV), sedangkan data akustik pasif diolah menggunakan program Wavelab untuk memperoleh nilai intensitas suara dalam domain frekuensi, selanjutnya keduanya dihubungkan dengan densitas ikan. Hasil pengukuran SV pada ikan berjumlah 50, 100 dan 150 individu secara berturut-turut adalah -45.898 dB, -45.887 dB dan -45.888 dB, dengan koefisien determinasi (R2) mencapai 0.6583. Terdapat penurunan rata-rata SV pada ikan berjumlah 150 individu yang diduga terjadi karena adanya efek shadowing, juga akibat ikan yang digunakan berukuran kecil. Intensitas suara tertinggi dan terendah ikan berjumlah 50 individu pada rentang frekuensi 0-22 kHz berturut-turut sebesar -28.306 dB dan -64.582 dB, pada ikan berjumlah 100 individu, sebesar -26.0793 dB dan -64.5296 dB, pada ikan berjumlah 150 individu sebesar -28.5246 dB dan -64.5679 dB.
STRATEGI PENGELOLAAN PERIKANAN GURITA DI KABUPATEN BANGGAI LAUT, PROVINSI SULAWESI TENGAH Tarigan, Daniel Julianto; Simbolon, Domu; Wiryawan, Budy
Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Vol 9 No 1 (2018): MEI 2018
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (884.367 KB) | DOI: 10.24319/jtpk.9.13-24

Abstract

Octopus fishery in Banggai Laut Regency is a fisheries small scale fisheries category. This is because Banggai Laut fishermen catch the octopus by using simple ships and fishing gear. Trend CPUE octopus in the last 3 years (2014- 2016) shows a drastic decline. The decline that occurred indicates that the level of utilization of octopus fishing areas in the area has occurred over catching. This shows that octopus in Banggai Laut Regency has not been managed optimally. Management only makes continuous arrests without considering the impact on octopus resources. Proper management needs to maintain the potential of octopus resources to be sustainable. This study aims to formulate the management strategy of octopus fishing area in Banggai Laut Regency. Management strategy using strategy approach Strength, Weakness, Oppurtunity, Threats (SWOT). The management strategy of octopus fishery in Banggai Laut Regency were done by 1) SO Strategy with strategic option: Development of cooperation with fish processing industry and utilizing octopus fishery potential 2) ST strategy with strategic option: Setting strict rules and sanctions related to fisherman who do illegal fishing and limiting the fishing fleet. 3) WO strategy with strategic options: improving human resource quality and building a fishery port. 4) WT strategy with strategic options: make rules related to octopus weight and supervision of fishing grounds.
ASPEK BIOTEKNIK DALAM PEMANFAATAN SUMBERDAYA IKAN TERI DI PERAIRAN PALABUHANRATU KABUPATEN SUKABUMI Diniah, Diniah; Sobari, Moch. Prihatna; Primadianti, Indah
Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Vol 1 No 2 (2010): NOVEMBER 2010
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (477.44 KB) | DOI: 10.24319/jtpk.1.95-104

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan aspek teknik dan aspek bioteknik dalam pemanfaatan optimal sumberdaya ikan teri di Perairan Palabuhanratu agar sumberdaya ikan teri dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan. Perhitungan dilakukan menggunakan pendekatan model Clark, Yoshimoto dan Pooley (CYP), Walter-Hiborn (W-H) dan Algoritma Fox. Penelitian ini menggunakan data time series dari tahun 1997-2007. Hasil penelitian menunjukkan konstruksi bagan rakit di Perairan Palabuhanratu terdiri atas rumah bagan, jaring bagan, anjang-anjang dan penggulung. Dalam operasionalnya alat tangkap ini dilengkapi dengan 6 buah lampu petromaks. Selama periode 1997-2007, jumlah unit dan effort bagan rakit cenderung meningkat, sedangkan produksi ikan teri cenderung menurun dan produktivitas bagan rakit cenderung meningkat. Produksi aktual rata-rata sumberdaya ikan teri sebesar 30,48 ton per tahun dengan tingkat upaya aktual mencapai 26.816 trip per tahun. Model estimasi pengelolaan sumberdaya ikan teri di Perairan Palabuhanratu yang lebih sesuai adalah model Algoritma Fox, dengan tingkat produksi optimal statik sebesar 38,51 ton per tahun dan tingkat upaya sebesar 32.049 trip per tahun. Hasil perhitungan pada periode 1997-2007 menunjukkan bahwa pemanfaatan sumberdaya ikan teri di Perairan Teluk Palabuhanratu dapat dikategorikan belum terdegradasi dan belum mengalami biological overfishing.
PELUANG PENGEMBANGAN PERIKANAN TANGKAP DI PROVINSI SUMATERA SELATAN Septifitri, Septifitri; Monintja, Daniel R.; Wisudo, Sugeng Hari; Martasuganda, Sulaeman
Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Vol 1 No 2 (2010): NOVEMBER 2010
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (615.84 KB) | DOI: 10.24319/jtpk.1.81-93

Abstract

Provinsi Sumatera Selatan sejak tahun 2000 mulai mengelola sumberdaya perikanan secara terpisah dengan Provinsi Bangka Belitung. Kontribusi Bangka Belitung di sektor perikanan terhadap Provinsi Sumatera Selatan pada tahun 1999 sebesar 72%. Berdasarkan kondisi tersebut, maka dilakukan penelitian terhadap peluang pengembangan perikanan di sekitar perairan Sumatera Selatan. Penelitian ini dilakukan pada bulan Februari 2006 sampai Juli 2006 di dua kabupaten yaitu Kabupaten Ogan Komiring Ilir dan Kabupaten Banyuasin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komoditi unggulan di provinsi Sumatera Selatan adalah udang, kepiting, manyung dan golok-golok. Komoditi unggulan ini masih memiliki peluang yang besar untuk dikembangkan karena tingkat pemanfaatannya masih berkisar antara 58,42% ? 66,77%. Jenis alat tangkap trammelnet, jarring insang hanyut dan bagan tancap merupakan alat tangkap prioritas terbaik untuk dikembangkan berdasarkan analisis dengan metode scoring dengan mempertimbangkan aspek biologi, teknis, sosial dan ekonomi

Page 1 of 18 | Total Record : 177