cover
Contact Name
Siti Nurul Rofiqo Irwan
Contact Email
rofiqoirwan@ugm.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
vegetalika.faperta@ugm.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Vegetalika
ISSN : 23024054     EISSN : 26227452     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Vegetalika ISSN (Cetak): 2302-4054 dan ISSN (Online): 2622-7452 adalah open access jurnal yang mempublikasikan artikel-artikel ilmiah berupa gagasan dan hasil penelitian. Topik publikasi berkaitan dengan disiplin ilmu Agronomi mencakup Manajemen dan Produksi Tanaman, Hortikultura, Ekologi Tanaman, Fisiologi Tanaman, Genetika dan Pemuliaan, Teknologi Benih, Bioteknologi Tanaman, dan Biostatistika.
Arjuna Subject : -
Articles 197 Documents
PENGARUH KONSENTRASI PYRACLOSTROBIN TERHADAP KANDUNGAN PROTEIN, LEMAK DAN FENOLIK TOTAL BIJI KAKAO (THEOBROMA CACAO L.) KLON ICCRI 04 DAN SCAVINA 6 Siniwi, Ratnasani Ambarwati; Susila Putra, Eka Tarwaca; Respatie, Dyah Weny
Vegetalika Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (466.611 KB) | DOI: 10.22146/veg.26169

Abstract

Produksi dan kualitas kakao di Indonesia saat ini mengalami penurunan karena serangan hama Phytophtora palmivora. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan aplikasi fungisida berbahan aktif pyraclostrobin sebagai penanganan penyakit oleh Phytophtora palmivora sekaligus sebagai Plant Growth Reguator. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan konsentrasi pyraclostrobin yang optimum dalam perbaikan kandungan protein, lemak, dan fenolik total biji kakao pada setiap set penelitian  klon ICCRI 04 dan klon Scavina 6. Percobaan disusun dalam Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) faktor tunggal dengan tiga blok sebagai ulangan. Satu set percobaan diperlakukan konsentrasi pyraclostrobin dan diaplikasikan pada dua macam klon kakao asal SE yaitu ICCRI 04 dan Scavina 6 secara terpisah. Adapun konsentrasi pyraclostrobin yang diuji pada penelitian ini adalah 0, 63, dan 126 ppm. Penyemprotan pyraclostrobin dilakukan sebanyak empat kali, yaitu 1) saat terbentuknya primordia bunga, 2) saat bunga memasuki fase anthesis pada hari ke-21, 3) saat terbentuknya pentil kakao pada hari ke-50, dan 4) saat hari ke-75 setelah pembungaan.  Data yang diperoleh dianalisis varian (ANOVA) pada taraf kepercayaan  95%, dan dilanjutkan dengan Uji Beda Nyata Terkecil (BNT) jika hasil analisis varian menunjukkan perbedaan nyata antar perlakuan. Konsentrasi pyraclostrobin yang optimal untuk perbaikan kualitas biji kakao (dengan indikasi berupa kenaikan konsentrasi, protein, lemak, dan fenolitk total) serta hubungan antar variabel pengamatan ditentukan menggunakan analisis regresi. Hasil penelitian memberikan informasi bahwa kenaikan konsentrasi pyraclostrobin yang diberikan pada tanaman kakao klon ICCRI 04 sampai dengan 126 ppm secara nyata meningkatkan aktivitas nitrat reduktase serta kandungan protein dan lemak dalam biji. Sedangkan kenaikan konsentrasi pyraclostrobin sampai dengan 126 ppm pada klon Scavina 6 tidak memberikan perbaikan terhadap indikator kualitas biji kakao yaitu kandungan protein, lemak, dan fenolik total biji kakao.  
TANGGAPAN PADI LOKAL (ORYZA SATIVA L.) MELATI MENOREH TERHADAP SISTEM BUDIDAYA SEMI ORGANIK DAN ORGANIK DENGAN JARAK TANAM BERBEDA DI KALIBAWANG, KULON PROGO Afiat, Reni; Indradewa, Didik; Kastono, Dody
Vegetalika Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (168.234 KB) | DOI: 10.22146/veg.26170

Abstract

Kebutuhan beras setiap tahun semakin bertambah seiring dengan laju pertumbuhan penduduk. Meningkatnya permintaan kebutuhan beras tersebut tidak diimbangi dengan produksi beras di dalam negeri, sehingga untuk pemenuhannya dilakukan impor beras. Oleh karena itu, untuk dapat memenuhi kebutuhan beras, diperlukan varietas dan lingkungan yang mendukung untuk kegiatan budidaya. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari tanggapan padi Melati Menoreh yang ditanam secara semi organik dan organik dengan jarak tanam berbeda, serta menentukan jarak tanam yang tepat untuk masing-masing cara budidaya. Penelitian dilaksanakan di Desa Banjararum, Kalibawang, Kulonprogo, Yogyakarta pada bulan Februari-Agustus 2016. Penelitian disusun dalam rancangan multilokasi (oversite) dua faktor dengan lima petak petani sebgai ulangan. Faktor pertama sistem budidaya yang terdiri dari 2 aras, yaitu semi organik dan organik. Faktor kedua jarak tanam yang terdiri dari 2 aras, yaitu       20 cm x 40 cm dan 25 cm x 40 cm. Perubahan sistem budidaya dari semi organik menjadi organik menyebabkan penurunan kadar klorofil total, pertumbuhan, dan kadar amilosa beras yang menyebabkan beras pulen, serta hasil gabah kering panen yang tidak berbeda, yaitu 7,31 ton/ha pada semi organik dan 7,71 ton/ha pada organik. Tetapi pergantian sistem budidaya tersebut dapat meningkatkan bobot beras yaitu dari 3,46 ton/ha menjadi 4,05 ton/ha. Jarak tanam yang lebih lebar dapat meningkatkan kadar klorofil total dan kadar amilosa beras yang menyebabkan beras pera, serta meningkatkan bobot beras di mana pada jarak tanam 25 cm x 40 cm menghasilkan 4,32 ton/ha, sedangkan jarak tanam 20 cm x 40 cm menghasilkan 3,19 ton/ha.
UJI DAYA HASIL DAN KUALITAS BUAH TUJUH HIBRIDA TOMAT (SOLANUM LYCOPERSICUM L.) DI DATARAN RENDAH Rachmatika, Widya; Murti, Rudi Hari; Basunanda, Panjisakti
Vegetalika Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (96.996 KB) | DOI: 10.22146/veg.26172

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendapatkan hibrida untuk dataran rendah dengan daya hasil tinggi serta kualitas buah yang baik dari hasil persilangan tomat seri GM dengan CLN4046. Galur tetua yang digunakan antara lain ?Gamato 1? (A131), ?Gamato 2? (A65), ?Gamato 3? (A134), ?Gamato 4? (A175), ?Gamato 5?(B52), dan CLN4046. Pembanding yang digunakan dalam penelitian ini ialah ?Kaliurang?, ?Betavila?, dan ?Servo?. Penelitian dilakukan di kebun percobaan Jambeyan, Karanganom, Klaten, serta dilakukan di Laboratorium Pemuliaan Tanaman dan Laboratorium Hortikultura, Departemen Agronomi, Fakultas Pertanian. Penelitian dilaksanakan pada bulan April-Agustus 2015. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) dengan faktor tunggal berupa macam nomor persilangan berupa tiga blok unit percobaan sebagai ulangan. Masing-masing unit blok terdiri dari sepuluh tanaman dengan tiga tanaman sebagai sampel. Hibrida hasil persilangan tomat seri GM dengan CLN4046 yaitu, ?Gamato 1? × CLN4046, ?Gamato 2? × CLN4046, ?Gamato 3? × CLN4046, CLN4046 × Gamato 3?, ?Gamato 4? × CLN4046, CLN4046 × ?Gamato 4?, dan ?Gamato 5? × CLN4046. Pemilihan hibrida dilakukan berdasarkan efek heterosis dan nisbah potensi. Hibrida terpilih berdasarkan keunggulan heterosis dengan kualitas kekerasan buah yang baik pada dataran rendah ditunjukkan pada hibrida ?Gamato 4? × CLN4046 sebesar 71,35 Newton dan ?Gamato 5? × CLN4046 sebesar 67,40 Newton dengan nisbah potensi dominansi berlebih positif. Hibrida dengan produktivitas tinggi untuk dataran rendah berdasarkan nilai heterosis paling baik ditunjukkan pada hibrida ?Gamato 4? × CLN4046 dengan produktivitas 39,93 ton/ha. Hubungan korelasi bernilai positif bobot buah per tanaman (r=0,959) terhadap produktivitas. Path analisis menunjukkan pengaruh langsung lebih besar dari pengaruh tidak langsung pada komponen hasil bobot buah per tanaman (0,965). Komponen kualitas buah tujuh hibrida menunjukkan tidak ada pengaruh langsung secara signifikan terhadap daya simpan.
PENGARUH KETEBALAN ABU VOLKAN DI ATAS PERMUKAAN TANAH YANG JATUH PADA BERBAGAI FASE TUMBUH TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL JAGUNG (ZEA MAYS L.) Rudianto, Ganang; Indradewa, Didik; Hidayah Utami, Sri Nuryani
Vegetalika Vol 6, No 3 (2017)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (171.404 KB) | DOI: 10.22146/veg.27959

Abstract

Erupsi gunung berapi tidak dapat diprediksi sedangkan menanam tanaman pangandilakukan secara terus menerus. Abu volkan hasil erupsi gunung Kelud tahun 2014mengarah ke barat daya yaitu ke arah Yogyakarta dengan jarak ratusan kilometer.Tanaman jagung adalah salah satu tanaman pangan yang dibudidayakan dari dataranrendah sanpai dataran tinggi. Stadia pertumbuhan tanaman jagung yang terkena abuvolkan dapat berbeda-beda tergantung kapan erupsi gunung berapi terjadi. Penelitian initelah dilaksanakan di Dusun Peni, Palbapang, Bantul, Yogyakarta mulai bulan Juni-September 2016. Penelitian disusun dalam rancangan acak kelompok lengkap (RAKL)faktorial dua faktor, dengan tiga ulangan. Data pengamatan dianalisis menggunakananalisis varian (ANOVA), apabila terdapat beda nyata dilakukan uji lanjut jarak bergandaDuncan taraf nyata 5% guna mengetahui perbandingan antar perlakuan. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa abu volkan yang jatuh saat tanaman jagung belum berkecambahmenyebabkan tanaman jagung tidak tumbuh. Abu volkan yang jatuh saat tanamanberumur 20 hari atau dalam fase vegetatif secara umum menunjukkan pertumbuhan danhasil yang paling baik, akan tetapi akar tanaman menjadi serabut.
PENGARUH JARAK TANAM BIBIT ASAL MATA TUNAS TUNGGAL TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL LIMA KLON TEBU (SACCHARUM OFFICINARUM L.) PADA VERTISOL LAHAN KERING Huda, Imam Nur; Tohari, Tohari; Taryono, Taryono
Vegetalika Vol 6, No 3 (2017)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (184.08 KB) | DOI: 10.22146/veg.28013

Abstract

Budidaya tebu pada vertisol lahan kering merupakan upaya untuk meningkatkanproduksi tebu sebagai bahan baku gula pasir. Budidaya tebu lahan kering memerlukancara khusus dengan sistem pindah tanam menggunakan bibit asal mata tunas tunggalserta pengaturan jarak tanam. Jarak tanam mempengaruhi persaingan antar tanamanpada penggunaan unsur hara, air, penyerapan cahaya matahari, dan ruang tumbuh.Faktor lain yang perlu diperhatikan pada budidaya tebu lahan kering yaitu pemilihanklon yang ditanam. Penelitian ini dilaksanakan untuk mengetahui jarak tanam terbaiksuatu klon pada sistem pindah tanam bibit tebu asalmata tunas tunggal pada vertisollahan kering. Percobaan dilakukan di Desa Dengok Kecamatan Playen KabupatenGunung Kidul Daerah Istimewa Yogyakarta pada bulan November 2014 sampaiSeptember 2015.Perlakuan tersusun oleh 2 faktor yaitu jarak tanam dan klon. Faktorjarak tanam terdiri dari empat aras: (1) 30 cm x 100 cm; (2) 45 cm x 100 cm; (3) 60 cmx 100 cm; dan (4) 75 cm x 100 cm . Faktor klon tebu terdiri dari lima aras: (1)Bululawang, (2)Kidang Kencana, (3) PS 864, (4)PS 881, dan (5)VMC. Perlakuandisusun dengan rancangan acak kelompok lengkap. Data pengamatan dianalisismenggunakan sidik ragam, apabila terdapat beda nyata dilakukan uji lanjut Scott-Knottdengan ? 5%.Tidak terjadi interaksi antara klon dengan jarak tanam yang digunakanpada budidaya tebu dengan bibit asal mata tunas tunggal pada vertisol lahan kering.Budidaya tebu pada vertisol lahan kering dengan bibit asal mata tunas tunggal palingbaik menggunakan klon PS 881 dan jarak tanam 30 cm x 100 cm.
PENGARUH WAKTU PENYIANGAN TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL DUA KULTIVAR KEDELAI (GLYCINE MAX (L.) MERR.) Puspita, Kurnia Dyah; Respatie, Dyah Weny; Yudono, Prapto
Vegetalika Vol 6, No 3 (2017)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (360.269 KB) | DOI: 10.22146/veg.28015

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh waktu penyiangan terhadappertumbuhan dan hasil dua kultivar kedelai, menentukan periode kritis dua kultivarkedelai dan mengetahui komposisi gulma dominan pada pertanaman dua kultivarkedelai.Penelitian dilaksanakan pada bulan November 2015 ? Februari 2016 di KebunPercobaan, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Penelitianmenggunakan Rancangan Split Plot 2 faktor yaitu kultivar kedelai (Grobogan danArgomulyo) sebagai petak utama dan perlakuan waktu penyiangan (penyiangan sejaktanam hingga umur 2, 4, 6 minggu dan panen, serta tanpa penyiangan sejak tanamhingga umur 2, 4 , 6 minggu, dan panen) sebagai anak petak.Hasil penelitianmenunjukkan bahwa waktu penyiangan berpengaruh terhadap pertumbuhan dan hasildua kultivar kedelai. Penyiangan yang dilakukan pada periode kritis tanaman kedelaimenunjukkan pertumbuhan dan hasil yang lebih baik dibandingkan dengan tanamankedelai yang tidak dilakukan penyiangan. Periode kritis tanaman kedelai kultivarGrobogan dan kultivar Argomulyo yaitu pada umur 0-6 minggu setelah tanam. Gulmayang dominan pada pertanaman kedelai Grobogan yaitu Bulbostylis puberula. Gulmayang dominan pada pertanaman kedelai Argomulyo yaitu Cyperus rotundus.
PENGARUH PENGURANGAN JUMLAH CABANG DAN JUMLAH BUAH TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TOMAT (SOLANUM LYCOPERSICUM L.) Hapsari, Risda; Indradewa, Didik; Ambarwati, Erlina
Vegetalika Vol 6, No 3 (2017)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (365.332 KB) | DOI: 10.22146/veg.28016

Abstract

Tomat ?Servo? merupakan varietas tomat unggul, tetapi memiliki bobot buah yang tidaksesuai dengan permintaan konsumen. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruhjumlah cabang terhadap pertumbuhan tanaman, pengaruh jumlah cabang dan jumlahbuah terhadap komponen hasil dan hasil buah tomat dan mendapatkan jumlah cabangdan jumlah buah yang memberikan hasil dan ukuran buah maksimal. Penelitian lapangandilakukan dengan rancangan faktorial 3 x 3+1. Faktor pertama jumlah cabang yangdipelihara terdiri dari tiga aras : 1 cabang, 2 cabang dan 3 cabang. Faktor ke dua jumlahbuah yang dipelihara terdiri dari tiga aras : 20 buah, 15 buah dan 10 buah. Kontroldibiarkan tumbuh alami. Tata letak acak kelompok dengan tiga blok sebagai ulangan. Datayang diperoleh dianalisis varian dengan taraf kepercayaan yang digunakan yaitu 95%untuk menyatakan ada perbedaan yang signifikan. Apabila perlakuan menunjukkanperbedaan yang nyata, dilanjutkan dengan perbandingan antar perlakuan dengan ujiTukey (HSD) pada taraf 5%. Hasil penelitian memberikan informasi pengurangan jumlahcabang memberikan pengaruh yang sama terhadap pertumbuhan tanaman; pengurangan jumlah buah dapat meningkatkan komponen hasil buah tomat; pengurangan jumlah buahmenjadi 4 buah per tandan dapat meningkatkan bobot buah tomat ?Servo? hingga 93,81 g.
KERAGAMAN MORFOLOGI DAN MOLEKULER EMPAT KELOMPOK KULTIVAR JAGUNG (ZEA MAYS L.) Fatmawati, Yeni; Purwantoro, Aziz; Basunanda, Panjisakti
Vegetalika Vol 6, No 3 (2017)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3060.292 KB) | DOI: 10.22146/veg.28017

Abstract

Plasma nutfah jagung memiliki berbagai jenis. Jenis jagung yang sering dibudidayakandan dikonsumsi adalah jagung hibrida, jagung manis, dan jagung berondong. Setiap jeniskelompok jagung memiliki sifat yang beragam. Keragaman pada beberapa kelompokjagung dapat diketahui berdasarkan karakterisasi morfologi dan molekuler. Penelitian inibertujuan untuk menentukan jarak kemiripan empat kelompok jagung berdasarkankarakter morfologi, menghitung nilai keragaman antar dan dalam populasi jagung, danmenghitung koefisien kemiripan pada empat kelompok jagung berdasarkan penandaRAPD, serta menentukan adanya perbedaan gen-gen pembentuk senyawa antosianin dansukrosa-pati. Empat kelompok jagung yang yaitu jagung hibrida (kelompok Indurata),jagung manis (kelompokSaccharata), jagung berondong stroberi dan berondong kuning(kelompok Everta) dikarakterisasi pada 15 sifat kuantitatif morfologi dan genotipenyamenggunakan delapan primer RAPD (OPA3, OPA5, OPA9, OPC8, OPC10, OPC3, OPC5,OPC8), serta menggunakan gen antosianin (Chs, Chi dan Pr1) dan gen sukrosa-pati(Sh1). Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan karakter morfologi, populasijagung berondong stroberi dan jagung berondong kuning memiliki kemiripan yang dekat.Hasil pengujian RAPD menghasilkan nilai keragaman dalam populasi sebesar 47 % danantar populasi sebesar 53 %. Nilai koefisien kemiripan berdasarkan RAPD sebesar 0,34?0,98. Keberadaan gen Chs, Chi dan Pr1 tidak dapat mengindikasikan adanya perbedaanpada keempat kelompok jagung, begitu juga dengan gen Sh1 tidak mengindikasikanadanya perbedaan diantara keempat kelompok jagung.
PERTUMBUHAN DAN HASIL JAGUNG (ZEA MAYS L.) PADA POLA TANAM SATU LUBANG DENGAN KEDELAI (GLYCINE MAX (L.) MERRILL) Nurhanafi, Amal Wira; Indradewa, Didik; Rogomulyo, Rohlan
Vegetalika Vol 6, No 4 (2017)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1821.003 KB) | DOI: 10.22146/veg.30899

Abstract

Jagung masih merupakan bahan pangan pokok di beberapa bagian Indonesia, antara laindi Nusa Tenggara Timur (NTT). Di NTT jagung dibudidayakan dengan cara spesifik lokasiyaitu ditanam dalam satu lubang dengan berbagai jenis tanaman lain misalnya kedelaidengan jumlah benih berbeda-beda. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruhkultivar dan jumlah benih kedelai yang ditanam dalam satu lubang terhadap pertumbuhandan hasil jagung dan kultivar apa dan jumlah benih per lubang berapa yang dapat meningkatkan hasil jagung paling tinggi. Penelitian menggunakan jenis jagung hibridavarietas BISI 2 dan sembilan varietas kedelai unggul yaitu Anjasmara, Burangrang, Gema,Gepak Kuning, Grobogan, Kaba, Panderman, Sinabung dan Wilis. Penelitian ini telahdilaksanakan di Kebun Tridharma, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada,Banguntapan, Bantul, Yogyakarta mulai bulan Agustus ? November 2015. Penelitiandirancang menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan dua faktor dan tigaulangan. Perlakuan yang digunakan terdiri dari satu kedelai dengan satu jagung, duakedelai dengan satu jagung, tiga kedelai dengan satu jagung dan empat kedelai dengansatu jagung dan monakultur jagung. Data yang diperoleh dari hasil pengamatan dianalisisdengan menggunakan analisis varian (ANOVA) dengan tingkat kepercayaan 95%.Kemudian dilakukan uji lanjut yaitu Uji Jarak Berganda Duncan dan Uji Lanjut KontrasOrtoganal taraf 5%. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa kedelaimemberikan pengaruh terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman jagung. Kedelai kultivarGema, Gepak Kuning, Kaba dan Sinabung meningkatkan hasil jagung, kultivar Anjasmara,Grobogan, Burangrang dan Wilis mempengaruhi hasil jagung namun tidak konsisten dankultivar Panderman menurunkan hasil tanaman jagung.
PENGARUH PENGAYAAN OKSIGEN DAN KALSIUM TERHADAP PERTUMBUHAN AKAR DAN HASIL SELADA KERITING (LACTUCA SATIVA L.) PADA HIDROPONIK RAKIT APUNG Krisna, Brian; Susila Putra, Eka Eka Tarwaca; Rogomulyo, Rohlan; Kastono, Dody
Vegetalika Vol 6, No 4 (2017)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1041.175 KB) | DOI: 10.22146/veg.30900

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh pengkayaan oksigen (O2) dankalsium (Ca) dalam larutan nutrisi hidroponik rakit apung terhadap pertumbuhan akar, hasil dan serapan Ca selada keriting. Penelitian dilaksanakan di Rumah KacaDepartemen Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada yangterletak di Kecamatan Banguntapan, Kabupaten Bantul, Propinsi D.I. Yogyakarta, padabulan April-Juni 2016. Percobaan lapangan disusun dalam Rancangan Acak KelompokLengkap (RAKL) faktorial dengan tiga blok sebagai ulangan. Faktor pertama adalahvariasi tekanan aerasi dalam larutan nutrisi yang meliputi 0 mPa (V1), 0,012 mPa (V2),0,006 mPa (V3), dan 0,003 mPa (V4). Faktor kedua adalah dosis Ca dalam larutannutrisi, meliputi 0 ppm (Ca0), 200 ppm (Ca1), 400 ppm (Ca2), dan 600 ppm (Ca3).Variabel yang diamati meliputi karakter iklim mikro dalam rumah kaca, karakter kimiawilarutan nutrisi, karakter perakaran, dan hasil selada keriting. Data yang telah diperolehselanjutnya dianalisis varian (ANOVA) dengan tingkat kepercayaan 95%, dandilanjutkan dengan Duncan?s Multiple Range Test (DMRT) jika terdapat beda nyataantar perlakuan. Hasil penelitian memberikan informasi bahwa karakter perakaranselada keriting yang ditanam secara hidroponik rakit apung menjadi lebih baik jikadilakukan pengayaan oksigen dan kalsium pada larutan nutrisinya, masing-masingsampai dengan tekanan aerasi 0,012 mPa dan konsentrasi 600 ppm. Indikasinyaadalah terjadi kenaikan panjang dan luas permukaan total akar, pada tanaman seladakeriting yang diberi tekanan aerasi 0,012 mPa dan kalsium 600 ppm. Pengayaankalsium sampai dengan 600 ppm secara nyata juga meningkatkan bobot segar dankering tajuk selada keriting. Sedangkan pemberian tekanan aerasi sampai dengan0,012 mPa secara nyata meningkatkan bobot segar dan kering total selada keriting.Konsentrasi kalsium dalam jaringan selada keriting mencapai maksimal pada kalsium600 ppm, yang dikombinasikan dengan tekanan aerasi 0,012 mPa. Serapan kalsiumdipengaruhi secara individual oleh masing-masing faktor, mencapai maksimal padatanaman selada keriting yang diberi tekanan aerasi 0,012 mPa atau kalsium 600 ppm.

Page 1 of 20 | Total Record : 197