cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Ilmu Kehutanan
ISSN : 01264451     EISSN : 24773751     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Journal of Forest Science (printed version) is accredited by Directorate General of Research Enhancement and Development, Ministry of Research, Technology, and Higher Education No. 36a/E/KPT/2016 which will be valid until May, 2021.
Arjuna Subject : -
Articles 198 Documents
Studi Mutu Kayu Jati di Hutan Rakyat Gunungkidul IV. Sifat Mekanika Kayu Marsoem, Sri Nugroho; Prasetyo, Vendy Eko; Sulistyo, Joko; Sudaryono, Sudaryono; Lukmandaru, Ganis
Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 9, No 2 (2015)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (232.477 KB) | DOI: 10.22146/jik.10197

Abstract

Sifat mekanika dari kayu gergajian adalah persyaratan terpenting dalam banyak penerapan khususnya untuk keperluan konstruksi. Paper ini merupakan lanjutan dari penelitian sifat fisika kayu di tiga tempat tumbuh (Panggang, Playen, Nglipar) hutan rakyat Kabupaten Gunungkidul. Pengujian sifat mekanika dilakukan mengacu pada British Standards 373:57. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kayu yang diteliti termasuk dalam kelas kuat II-III. Dari perhitungan analisis varian, tempat tumbuh berpengaruh nyata pada modulus patah (MoR) keteguhan lengkung statik, keteguhan tekan tegak lurus serat maksimum, keteguhan geser, dan kekerasan. Secara keseluruhan, kecuali untuk nilai MoR, sampel kayu dari Nglipar memberikan nilai kekuatan yang lebih tinggi. Pengaruh arah aksial dan radial pohon secara umum tidak begitu terlihat pada semua parameter kekuatan kecuali di keteguhan belah. Meskipun berkorelasi secara linier, hanya korelasi moderat yang diamati dari hubungan sifat mekanika (MoR/keteguhan geser) dan kerapatan dasar. Tidak ada korelasi nyata antara kerapatan dasar dan modulus elastisitas keteguhan lengkung statik serta antara kerapatan dasar dan keteguhan tekan sejajar serat maksimum.Kata kunci: Tectona grandis, sifat mekanika, kerapatan dasar, hutan rakyat, Gunungkidul. A study of teak wood quality from community forests in Gunungkidul  IV. Mechanical PropertiesAbstractMechanical properties of sawn timber are the most important characteristics in many applications, particularly for structural timber. The previous paper in this series reported on the physical properties of teak trees at different sites (Panggang, Playen, Nglipar) from community forests in Gunungkidul regency. In this study, the mechanical properties were evaluated according to British Standards 373:57. The results showed that the timber were classified in the II-III of strength class. By analysis of variance, site factor affected the values of modulus of rupture (MoR) in statical bending strength, maximum compression perpendicular to grain strength, shear strength and hardness. In general, except for MoR, the wood samples from Nglipar gave higher strength levels. Except for cleavage strength, the effects of the axial and radial position of the tree on mechanical properties were mostly negligible. Although linearly related, only modest correlations were observed between the mechanical parameters (MoR/shear strength) and basic density. No significant correlation was found between the values of basic density and modulus of elasticity of static bending strength as well as between basic density and the strength of maximum compression parallel to grain.
Tingkat Pendapatan Curahan Tenaga Kerja pada Hutan Rakyat di Kabupaten Ciamis Achmad, Budiman; Purwanto, Ris Hadi; Sabarnurdin, Sambas
Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 9, No 2 (2015)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (208.15 KB) | DOI: 10.22146/jik.10195

Abstract

Tenaga kerja pada usaha hutan rakyat belum diperhitungkan sebagai faktor produksi yang penting sehingga menyebabkan pendapatan dari hutan rakyat kurang optimal. Penelitian ini dilaksanakan untuk mengetahui pendapatan dan alokasi tenaga kerja pada pengelolaan hutan rakyat serta hubungannya dengan karakter petani. Data dikumpulkan selama bulan Mei sampai Juli 2010 di Desa Ciomas, Desa Kalijaya, dan Desa Kertaharja melalui wawancara pada 60 petani yang dipilih secara sengaja. Data yang terkumpul kemudian dianalisa menggunakan analisis deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan rata-rata luas pemilikan hutan, usaha hutan rakyat menyumbangkan pendapatan pada petani di Desa Ciomas, Kalijaya, dan Kertaharja Kabupaten Ciamis berturut-turut sebesar Rp 6.641.783,-/th; Rp 8.029.358,-/th, dan Rp 6.302.431,-/th. Mayoritas tenaga kerja di Desa Kalijaya dan Desa Ciomas Kabupaten Ciamis dialokasikan untuk mengelola hutan rakyat yaitu sebesar 104,77 HKP/ha/th dan 216,93 HKP/ha/th, sedangkan alokasi tenaga kerja di Desa Kertaharja sebesar 210,05 HKP/ha/th. Potensi penyerapan tenaga kerja pada sektor pertanian di Kabupaten Ciamis tergolong tinggi, yakni lebih dari 75%. Dalam hubungannya dengan alokasi tenaga kerja, secara umum usia petani mempunyai korelasi positif sedangkan luas lahan mempunyai korelasi negatif.Kata kunci: potensi serapan, alokasi tenaga kerja, pendapatan, hari kerja pria (HKP), luas lahan. Incomes and labor allocation in community forests in Ciamis RegencyAbstractLabor for private forest business has not been considered as an important production factor, which it makes the incomes from the private forests is unfavourable. The research was carried out to find out the incomes and labor allocation on private forests management as well as their correlation to farmer characteristics. Data were collected during May to July 2010 at Ciomas, Kalijaya and Kertaharja villages by interviewing sixty purposively selected farmers. Data were analyzed by qualitative and quantitative description. The results revealed that on the basis of land width ownership, the business earned an income to the farmers in Ciomas, Kalijaya and Kertaharja villages of Ciamis district were 6,641,783 IDR/year; 8,029,358 IDR/year, and 6,302,431 IDR/year, respectively. The labors in Kalijaya and Ciomas villages of Ciamis district were mostly allocated to manage private forests i.e. 104.77 MDW/ha/year and 216.93 MDW/ha/year respectively as labors allocation in Kertaharja village were 210.05 MDW/ha/year. The potency of labor absorption level on agriculture sectors in Ciamis district defined as high, which was more than 75 percent. In relation to labor allocation, generally, ages of farmers had positive correlation while the land width had negative ones. 
Karakter Jamur Ceratocystis sp. Penyebab Penyakit Busuk Batang pada Acacia decurrens dan Status Penyakitnya di Taman Nasional Gunung Merapi, Yogyakarta Rahayu, Sri; Nurjanto, Handojo Hadi; Pratama, Rahman Gilang
Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 9, No 2 (2015)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (234.729 KB) | DOI: 10.22146/jik.10193

Abstract

Acacia decurrens merupakan salah satu jenis tanaman yang tumbuh mendominasi kawasan Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM), pasca erupsi Gunung Merapi tahun 2010. Sekitar 80% tegakan A. decurrens di kawasan tersebut menunjukkan gejala busuk batang akibat infeksi jamur Ceratocystis sp. yang umumnya dipicu oleh luka gerekan kumbang dari kelompok ambrosia. Penelitian bertujuan untuk : (1) mendeskripsikan karakter morfologi jamur Ceratocystis sp., serta kemampuannya beradaptasi pada beberapa jenis tanaman hutan, (2) mengevaluasi status penyakit busuk batang oleh jamur Ceratocystis sp. Karakter morfologi dan kemampuan adaptasinya pada inang akasia, melina, jabon, sengon, dan jati dilakukan di Laboratorium Perlindungan dan Kesehatan Hutan, Fakultas Kehutanan UGM. Survei untuk evaluasi status penyakit busuk batang dilakukan pada bulan Februari sampai Agustus 2014 di demplot restorasi pasca erupsi Merapi (luas 8,4 ha), dengan intensitas sampling 8%. Berdasarkan karakter morfologi, terdapat 2 isolat jamur Ceratocystis sp. yaitu asal lembah (L) dan dari bukit (B) dengan warna koloni krem, luas koloni 20-22 cm2 pada umur 14 hari, membentuk konidia menyerupai tong, dan silindris. Sifat lainnya yaitu memiliki kemampuan yang sama untuk tumbuh, mengkolonisasi, dan menginfeksi inang akasia, sengon, jabon, dan melina, tetapi tidak mampu tumbuh pada inang jati. Berdasarkan luas serangan, status penyakit busuk batang berkisar antara sangat umum sampai menyebar luas (luas serangan = 54-100%), dengan tingkat keparahan bekisar antara ringan sampai parah (intensitas penyakit = 15-67%).Kata kunci: Ceratocystis sp., Acacia decurrens, luas serangan, intensitas penyakit, Taman Nasional Gunung Merapi. Characteristic of stem rot diseases caused by Ceratocystis sp. on Acacia decurrens and its status in Gunung Merapi National Park, YogyakartaAbstractMount Merapi National Park (TNGM) has been dominated by Acacia decurrens after the eruption in 2010. Almost 80% of A. decurrens trees showed stem rot diseases caused by Ceratocystis sp. which may associate with stem wound induced by ambrosia beetle and other physical injuries. The research objective were (1) to characterize the morphological feature, in vitro growth, and ability to adapt, colonize as well as to infect akasia, jabon, sengon, melina and jati sedlings, (2) to evaluate the status of stem rot disease in TNGM demonstration plot. Laboratory work was conducted in order to study the morphological feature of the fungus, in vitro growth on PDA media, and to evaluate its compatibility to growth, colonize, and infect on 5th month seedling of akasia, sengon, jati, jabon and melina. Field monitorings were conducted from February to August 2014 at the restoration plot (8.4 ha) at 8% sampling intensity. Disease status was evaluated in order to ascertain the disease incidence and severity of stem rot disease at the demonstration plot area. Two Ceratocistys isolates found from the hill (B) and valley (L) had similar characteristics on morphologic features i.e. cream color, 20 to 22 cm2 colony size at 14 days growth in PDA media, having both cylindrical and barrel shaped conidia. The other characteristics of the Ceratocistys were an ability to growth, to colonize, and to infect akasia, sengon, melina and jabon, except on jati. The status of stem rot disease was ranged from highly common to widespread (disease incidence = 54%-100%) as the disease severity status was ranged from low to severe (disease severity = 15%-67%).
Klasifikasi Habitat Mangrove untuk Pengembangan Silvofishery Kepiting Soka (Scylla serrata) di Pantai Utara Kabupaten Rembang Poedjirahajoe, Erny
Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 9, No 2 (2015)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (215.23 KB) | DOI: 10.22146/jik.10192

Abstract

Pemanfaatan mangrove untuk silvofishery mampu mendatangkan keuntungan bagi masyarakat sekitarnya, maka perlu dikembangkan agar hasilnya optimal dan berkelanjutan. Tujuan penelitian ini untuk mendapatkan klasifikasi karakteristik habitat mangrove yang sesuai untuk pengembangan kepiting soka yang selama ini sudah dikembangkan di Pantai Utara Pemalang. Penelitian dilakukan di Pantai Utara Kabupaten Rembang pada tahun tanam 2000, 2003, dan 2004. Masing-masing tahun tanam dibagi menjadi jalur-jalur tegak lurus garis pantai. Setiap jalur diletakkan 3 petak ukur 5 x 5m sesuai dengan zonasi yang ada pada hutan mangrove, kemudian diukur kerapatan tanaman mangrove, ketebalan lumpur, DO, salinitas, suhu, pH, dan kepadatan plankton. Sebagai pembanding, maka diambil pula data karakteristik habitat di mangrove Pemalang yang sudah digunakan silvofishery kepiting soka. Data pada setiap petak ukur dirata-rata dan dibedakan pada setiap zonasi. Data setiap zonasi dianggap sebagai relevé. Relevé-relevé pada kedua lokasi kemudian dianalisis menggunakan uji pengelompokan atau cluster analysis dengan metode jarak Mean Euclidean Distance (MED). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada umumnya cluster yang terbentuk kurang bervariasi. Sepintas terlihat hanya ada 2 kelompok besar yang terpisahkan, yaitu pada jarak cluster 10. Pengelompokan demikian ini cukup bagus karena kemiripan habitat ditunjukkan secara ekstrim oleh dua kelompok besar tersebut. Meskipun pada jarak cluster 5 terdapat kelompok yaitu relevé 3,6,8 dengan relevé 2, namun demikian kurang terlihat jika dibanding dengan jarak di atasnya. Pada umumnya habitat mangrove di Rembang kurang sesuai untuk pemeliharaan kepiting soka, karena hanya relevé 1 yang sesuai. Perlakuan lebih lanjut untuk perbaikan habitat diperlukan agar jenis kepiting ini dapat hidup dengan optimal.Kata kunci: silvofishery, kepiting soka, habitat mangrove, Rembang, relevé. Classification of mangrove habitat for  development of soka crab (Scylla serrata) silvofishery in the north coast of Rembang RegencyAbstractSilvofishery practices as mangrove utilization have been providing various benefit for local societies, thus it needs to be developed for its product optimization and sustainability. Providing suitable area for silvofisheries is crucial for the development of silvofishery. This study was aimed to classify the mangrove habitat characteristics that were suitable for soka crab farming in the north coast of Rembang Regency, following the success of the north coast of Pemalang Regency. This research were conducted in the north coastof Rembang Regency in 2000, 2003, and 2004 planting years. Perpendicular transects to the coastal line were established on each plantation area. On each transect, three plots of 5 x 5 m were established and distributed on each mangrove zone. Mangrove tree density, mud depth, dissolved oxygen, salinity, temperature, pH and plankton density were measured from each plot. The measurements of habitat characteristics were also conducted in the mangrove area of Pemalang, where soka crab farming was developed earlier as a comparison between areas with the same plantation period). Data collected from all plot were averaged and differentiated based on Mangrove zonation. Data of each zone were treated as relevé. The relevé of the two study sites (Rembang and Pemalang) were then analyzed using cluster analysis with Mean Euclidean Distance (MED). The results showed that the cluster was relatively less various. There were two main separated groups with cluster distance at 10. This grouping was relatively good, indicated by distinctive similarity of habitat within each group. At cluster distance of 5, there were two main groups which were relevé 3,6,8 with relevé 2 and the rest as other group. Whereas the cluster distance of 5 in the relevé 3,6,8 was grouped with relevé 2, but it was not clearer than above group. Commonly, mangrove habitat in Rembang was less suitable for soka crab farming because only relevé 1 was suitable for the habitat of this crab. Further intervention is required for habitat improvement.
Risiko Kepunahan Keanekaragaman Hayati di Taman Nasional Gunung Merapi: Tinjauan Spasial Marhaento, Hero; Faida, Lies Rahayu Wijayanti
Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 9, No 2 (2015)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (275.012 KB) | DOI: 10.22146/jik.10189

Abstract

Gunung Merapi merupakan habitat dari berbagai spesies khas pegunungan Jawa bagian tengah. Namun demikian, tingginya aktivitas vulkanik Gunung Merapi dan besarnya tekanan masyarakat terhadap kawasan menyebabkan keanekaragaman hayati di sekitar kawasan Gunung Merapi berisiko untuk punah. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan analisis spasial risiko kepunahan keanekaragaman hayati di Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM). Analisis risiko dilakukan dengan mengukur komponen risiko, yaitu: kerawanan, elemen yang berisiko, dan kerentanan. Identifikasi komponen risiko dilakukan dengan melaksanakan grup diskusi terarah dengan staf Taman Nasional Gunung Merapi. Analisis risiko diukur menggunakan analisis spasial dengan perangkat lunak ArcGIS 10.1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kawasan Taman Nasional Gunung Merapi memiliki kawasan dengan tingkat risiko tinggi seluas 2185.6 ha (35,6%), risiko sedang seluas 3910,1 ha (63,6%), dan risiko rendah seluas 49,8 ha (0,8%). Wilayah yang berisiko tinggi berada di wilayah Resort Pengelolaan Taman Nasional (RPTN) Dukun Kabupaten Magelang, RPTN Turi-Pakem Kabupaten Sleman, dan RPTN Kemalang Kabupaten Klaten.Kata kunci: analisis risiko, keanekaragaman hayati, Taman Nasional Gunung Merapi, analisis spasial, vulkanik. Risk of biodiversity extinction in Gunung Merapi National Park : Spatial assessionAbstractThe Mount Merapi (MM) has a unique landscape and becomes the habitat for mountainous species in the central Java, Indonesia. However, high volcanic activities and massive public pressure on its natural resources have increased the risk of biodiversity extinction in the MM. This study aims to assess the spatial risk of biodiversity extinction in the Mount Merapi National Park (MMNP). The risk analysis has been done by spatially measuring the risk elements i.e. hazard area, element at risk, and vulnerability rate. A Focus Group Discussion has been done to define and to identify components of each risk element. A spatial analysis using ArcGIS 10.1 has been used to measure the risk. The results showed that MMNP have three levels of risks: high risk level area (2185.6 ha, 35. 6%), moderate risk area (3910.1 ha, 63.6%) and low risk area (49.8 ha, 0.8%). The high risk areas were located in Resort Pengelolaan Taman Nasional (RPTN) Dukun in Magelang Distict, RPTN Turi-Pakem in Sleman District, and RPTN Kemalang in Klaten District.
Floristic Inventory of The Proposed Site for Tarsier Tourism Center in Villa Aurora, Bilar, Bohol, Philippines Reyes Jr, Tomas D; Abadingo, Jeralyn D; Tabuno, Shiela G; Serino, Eunice K L; Mabanag, Joecel B; Merdacal, Rizaldy C
Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 9, No 2 (2015)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (178.609 KB) | DOI: 10.22146/jik.10188

Abstract

The study assessed the present vegetation composition of the Proposed Site for the Tarsier Tourism Center (PTTC) at Villa Aurora, Bilar, Bohol and performed a comparative analysis with the existing Tarsier Sanctuary (TS) at Canapnapan, Corella, Bohol. The basis for comparison was the computed importance values, species richness, species dominance, and percent distribution of plants according to self-defined DBH classes. Results showed that both sites had very high species richness and evenness values. Common overstorey and understorey plant species found in both areas were katagpo (Psychotria sp.), sagimsim (Syzygium brevistylum [C. B. Rob]Merr.) and bagauak (Clerodendrum minahassae Teijsm. & Binn.). Apart from sagimsim (Syzygium brevistylum [C.B.Rob.] Merr.), selaginella (Selaginella cuppresina Lin.), and lunas (Lunasia amara Blanco) were also common in the ground vegetation of both areas. Percent distribution of trees according to self-defined DBH classes revealed that PTTC had 87.55% of the total recorded plants with DBH measurements of <10 cm. Our data was found lower by almost 10% from TS. Considerable percentages of trees were also shared in other DBH classes for PTTC. DBH class range of 10-20 cm had 6.88%, while 5.58% was computed for DBH class of >20 cm. Percent distribution of trees on these DBH ranges (especially on DBH class >20 cm) indicated the presence of medium and large trees. The largest DBH measured in the PTTC was 70 cm while in TS was only 22 cm. The proposed 10-ha site in Villa Aurora, Bilar, is suited to be utilized as Tarsier Tourism Center. In case the proposed project is to be pursued, enclosure similar to what has been constructed in Canapnapan, Corella, Bohol, Philippines should also be established to prevent stray animals from predating the captive tarsiers.Keywords: floristic inventory, Philippine tarsier, Bohol, primate conservation, tourism. Inventarisasi flora dari Situs Usulan untuk Sentra Wisata Tarsier di Villa Aurora, Bilar, Bohol, FilipinaAbstractPenelitian ini ditujukan untuk melakukan penilaian komposisi vegetasi dari Usulan Lokasi Pusat Wisata Tarsius (ULPWT) di Villa Aurora, Bilar, Bohol dan melakukan analisis perbandingan antara Tarsier Sanctuary (TS) yang ada di Canapnapan, Corella, Bohol. Dasar perbandingan yang digunakan yaitu dengan menghitung nilai penting, kekayaan spesies, dominansi spesies, dan prosentase distribusi dari tumbuhan berdasarkan kelas diameter yang telah ditentukan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua tempat memiliki kekayaan spesies dan nilai evenness/ kemerataan yang sangat tinggi. Spesies tumbuhan yang umum ditemukan di overstorey dan understorey di kedua area adalah katagpo (Psychotria sp.), sagimsim (Syzygium brevistylum [C. B. Rob]Merr.), dan bagauak (Clerodendrum minahassae Teijsm. & Binn.). Selain itu, sagimsim (Syzygium brevistylum [C.B.Rob.] Merr.), selaginella (Selaginella cuppresina Lin.), dan lunas (Lunasia amara Blanco) juga umum ditemukan di lantai hutan di kedua tempat. Prosentase distribusi dari tumbuhan berdasarkan kelas diameter yang telah ditentukan menunjukkan bahwa ULPWT memiliki 87.55% dari keseluruhan tumbuhan yang tercatat dengan ukuran diameter <10 cm. Data kami menunjukkan bahwa nilai tersebut lebih rendah 10% dari TS. Sebagian persentase dari pohon juga dimiliki di ULPWT pada kelas diameter lainnya. Kelas diameter 10-20 cm memiliki 6,88%, sementara 5,58% terhitung untuk kelas diameter >20 cm. Prosentase distribusi dari pohon pada kisaran ini (khususnya pada diameter >20 cm) menunjukkan adanya kehadiran pohon berukuran medium dan besar. Diameter terbesar yang terukur di ULPWT adalah 70 cm sementara di TS hanya sebesar 22 cm. Lokasi seluas 10 ha di Villa Aurora, Bilar, sesuai untuk digunakan sebagai Pusat Wisata Tarsius. Apabila akan didirikan, maka kandang yang dibangun diharapkan mirip dengan yang telah dibangun di Canapnapan, Corella, Bohol, Pilipina, agar mencegah pemangsaan oleh satwa yang lepas. 
Sistem Perburuan Landak Moncong Panjang (Zaglossus bruijnii) pada Masyarakat Kampung Waibem dan Kampung Saukorem Tambrauw, Papua Barat Awak, Tresia Frida; Fatem, Sepus; Yohanita, Aksamina
Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 9, No 1 (2015)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (495.495 KB) | DOI: 10.22146/jik.10184

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sistem perburuan landak moncong panjang (Zaglossus bruijnii) oleh masyarakat kampung Waibem dan Saukorem, Kabupaten Tambrauw. Penelitian ini dilakukan di Kampung Waibem dan Saukorem selama 1 bulan, yaitu sejak bulan Juli-Agustus 2014. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan teknik observasi lapangan dan wawancara semi struktural yang mengacu pada daftar kuisioner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa umumnya masyarakat Kampung Waibem dan Saukorem melakukan perburuan dengan 3 (tiga) tujuan, yaitu untuk dikonsumsi, dijual, dan sebagai hiburan. Masyarakat Kampung Waibem dan Saukorem berburu landak moncong panjang dengan menggunakan jerat, parang, bantuan anjing, dan berburu secara visual (bantuan mata). Waktu berburu landak moncong panjang adalah sehabis hujan, bulan sabit, dan pada malam hari. Pengembangan ekowisata berbasis satwa landak moncong panjang menjadi salah satu strategi untuk menambah pendapatan masyarakat pada kedua kampung serta secara perlahan-lahan mengurangi tingkat perburuan masyarakat.Kata kunci: sistem perburuan, Zaglossus bruijnii, landak moncong panjang, Saukorem Village, Waibem Village Hunting system of long-beaked echidna (Zaglossus bruijnii) by Waibem and Saukorem local communities, Tambrauw Regency, West PapuaAbstractThe objective of this research was to investigate hunting system of western long-beaked echidna (Zaglossus bruijnii) by Waibem and Saukorem Local Communities, Tambrauw Regency in Papua Province of Indonesia during July to August 2014. The observation technique and semi-structural interview were carried out by asking local people through questionnaire and analyzed by descriptive method. The result shows that local people in Waibem and Saukorem villagers generally do hunting for consumption, commercial/sale and hobby. The hunting method used by these communities were lasso, chopping knife, dog, and visual hunting. Hunting time of western long-beaked echidnais normally done after rain, crescent moon, and during night. Eco-tourism development is expected to increase the income of local people as well as reducing hunting pressure of this species.
Pengaruh Cekaman Kekeringan terhadap Perilaku Fisiologis dan Pertumbuhan Bibit Black Locust (Robinia pseudoacacia) Anggraini, Novita; Faridah, Eny; Indrioko, Sapto
Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 9, No 1 (2015)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (894.681 KB) | DOI: 10.22146/jik.10183

Abstract

Black locust (Robinia pseudoacacia) merupakan tanaman asli Amerika Utara dan telah tersebar ke Eropa dan Asia serta menjadi salah satu spesies yang digunakan untuk rehabilitasi lahan semiarid dan arid. Walau demikian, kemampuan adaptasi black locust pada daerah persebarannya cukup meresahkan disebabkan jenis ini memiliki potensi invasif yang cenderung menekan pertumbuhan tanaman asli setempat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mempelajari pengaruh cekaman kekeringan berupa volume penyiraman dan interval penyiraman terhadap perilaku fisiologis dan pertumbuhan bibit black locust, serta untuk menganalisis tingkat toleransi black locust terhadap kekeringan melalui karakter efisiensi penggunaan air (WUE) dan kandungan klorofil. Perlakuan volume penyiraman berupa kapasitas lapang 30-40 % mewakili kondisi kekeringan dan kapasitas lapang 70-80 % mewakili kondisi air yang memadai, sementara periode interval penyiraman adalah 1 hari, 3 hari dan 7 hari. Metode analisis yang digunakan ialah analisis tren. Hasil yang diperoleh pada penelitian ini adalah semakin rendah volume penyiraman (KL 30-40 %) dan semakin lama interval penyiraman (ke 7 hari) maka fotosintesis, transpirasi, konduktansi stomata, serta pertumbuhan (tinggi, diameter, berat kering tajuk dan akar) akan semakin rendah, sementara untuk WUE dan kandungan klorofil semakin tinggi. Peningkatan WUE dan kandungan klorofil merupakan dua indikator bahwa black locust mampu beradaptasi (toleran) pada kondisi cekaman kekeringan. Dengan begitu, dapat disimpulkan bahwa penggunaan black locust dalam upaya reklamasi lahan kering perlu didahului studi khusus dan pertimbangan yang matang agar tidak membawa dampak invasif pada kehidupan mendatang.Kata kunci: black locust, cekaman kekeringan, jenis invasif, water use efficiency, kandungan klorofil. Effect of drought stress on physiological behavior and growth ofblack locust (Robinia pseudoacacia) seedlingsAbstractBlack locust (Robinia pseudoacacia) is a native species from North America and it has spread to Europe and Asia. Black locust is also one species used for land rehabilitation in semiarid and arid areas. However, adaptability of black locust on their distribution area is quite disturbing due to its invasive potential that tends to suppress the growth of native plants. The purpose of this study is to examine the effect of drought stress through watering volume and watering intervals treatments on physiological behavior and growth of black locust seedlings, and to analyze the level of black locust on drought tolerance through water use efficiency (WUE) character and chlorophyll content. The watering volumes are 30-40 % of field capacity representing drought conditions and 70-80 % of field capacity representing good water conditions, while the watering intervals are 1, 3 and 7 days. Trend analysis is used to analyze the data. The results indicate that the lower watering volume (30-40 %) and the longer the watering interval (for 7 days), the lower the photosynthesis and transpiration rate, stomatal conductance and growth (height, diameter, shoot dry weight and root) of plants, but the higher the WUE and chlorophyll content. Increasing WUE and chlorophyll content are two indicators indicating that black locust is able to adapt (tolerant) to drought stress situations. Therefore, the use of black locust for dry land reclamation requires special attention and careful strategy to avoid its invasive impact in the future.
Prospek Pengembangan Pala (Myristica fragrans Houtt) di Hutan Rakyat Fauziyah, Eva; Kuswantoro, Devy Priambodo; Sanudin, Sanudin
Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 9, No 1 (2015)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1014.723 KB) | DOI: 10.22146/jik.10182

Abstract

Hutan rakyat sebagian besar dikelola secara agroforestri. Salah satu jenis tanaman yang banyak dikembangkan di hutan rakyat adalah pala (Myristica fragrans). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prospek pengembangan pala di lahan hutan rakyat. Penelitian dilakukan di Desa Kemawi, Kecamatan Somagede, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah pada bulan Juni sampai dengan Juli 2012. Pengumpulan data dilakukan melalui penelusuran data sekunder, wawancara terbuka dan mendalam. Narasumber dipilih secara sengaja (purposive sampling) yaitu petani yang menanam pala di lahannya sebanyak 20 orang. Data yang diperoleh kemudian diolah dan dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pala memiliki prospek yang baik sebagai salah satu jenis tanaman untuk pengembangan hutan rakyat di Desa Kemawi karena terdapat faktor-faktor yang mendukung pengembangannya yaitu :1) lahan secara bio fisik sesuai untuk pertumbuhan tanaman pala, 2) secara sosial dapat diterima oleh masyarakat karena jauh sebelumnya sudah banyak petani yang membudidayakan pala di lahannya 3) secara ekonomi memiliki harga yang cukup tinggi dan stabil sehingga memberikan tambahan pendapatan, 4) kondisi pemasaran baik buah maupun bibitnya sangat mudah, dan 5) perhatian pemerintah terhadap pengembangan pala pada tingkat produksi hingga pengolahan pasca panen cukup besar yang telihat dari adanya beberapa program yang berkaitan dengan pengembangan tanaman pala di wilayah ini.Kata kunci: pala, hutan rakyat, prospek, Desa Kemawi, agroforestri. Development prospect of nutmeg (Myristica fragrans Houtt) in the community forest AbstractThe private forest is largely managed with agroforestry pattern. Nutmeg (Myristica fragrans) is a plant that has been developed in the private forest. This study aimed to determine the prospect of nutmeg in the private forest. This research was conducted in the Kemawi village, Somagede Subdistrict of Banyumas District, Central Java Province in June to July 2012. Data were collected through secondary data study, open and in-depth interviews. Twenty farmers who planted nutmeg were selected with purposive sampling technique. The obtained data were processed and analyzed descriptively. The results showed that nutmeg had a good prospect as one of the plantation species for private forest development in Kemawi village because of these several factors: 1) Kemawi land was biophysically suitable for nutmeg plantation, 2) socially, many farmers had been planting nutmeg in their land, 3) economically, nutmeg had a good and stable price that can provide additional income, 4) marketing of both fruit and seed of nutmeg were very easy, and 5) there were good attentions from the government to the nutmeg development program from production to post-harvesting process.
Kontribusi Pendapatan Hasil Hutan Bukan Kayu pada Usaha Hutan Rakyat Pola Agroforestri di Kabupaten Tasikmalaya Diniyati, Dian; Achmad, Budiman
Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 9, No 1 (2015)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (172.32 KB) | DOI: 10.22146/jik.10181

Abstract

Hutan rakyat tidak hanya menghasilkan kayu akan tetapi juga memberikan hasil hutan bukan kayu (HHBK), malah pada beberapa tempat HHBK ini menjadi primadona. Tujuan penelitian ini untuk mendapatkan data mengenai jumlah kontribusi pendapatan HHBK di hutan rakyat serta permasalahan dan keunggulan pengembangan HHBK. Kegiatan dilaksanakan di Desa Karyabakti Kecamatan Parungponteng Tasikmalaya, pada bulan Juni-Desember 2013. Obyek kajian adalah petani hutan rakyat yang dipilih secara stratified random sampling berdasarkan luas kepemilikan lahan hutan rakyat sebanyak 30 orang. Pengambilan data dilakukan dengan cara wawancara dengan menggunakan kuisioner. Selanjutnya data yang terkumpul dianalis secara statistik dan disajikan secara diskriptif. Hasil kajian menunjukkan bahwa rata-rata responden memiliki lahan seluas 0,374 ha dan paling luas diperuntukkan untuk usaha hutan rakyat yaitu 0,246 ha atau 65,78 %. Pola tanam yang dikembangkan adalah pola agroforestri yaitu percampuran antara tanaman kayu dan HHBK yang merupakan tanaman perkebunan, tanaman buah, tanaman obat dan tanaman pangan. Periode pendapatan dari tanaman HHBK ini adalah mingguan, bulanan dan tahunan. Kontribusi HHBK terhadap total pendapatan hutan rakyat adalah 67,56% (strata 1), 63,93 % (strata 2) dan 75,11 % (strata 3) sedangkan kontribusi tanaman kayu sebesar 32,44 % (strata I), 36,07 % (strata II) dan 24,89 % (strata III). Dengan demikian, kontribusi HHBK setiap tahunnya jauh lebih tinggi namun sayangnya pengembangan HHBK ini belum maksimal, padahal hasilnya masih dapat lebih ditingkatkan. Salah satu kendala pengembangan HHBK adalah aspek budidaya yang diterapkan masih belum sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP) dari Kementerian Kehutanan. Untuk itu, maka perlu upaya peningkatan HHBK salah satunya dengan transfer pengetahuan dan teknologi melalui penyuluhan.Kata kunci: hutan rakyat, hasil kayu, HHBK, kontribusi, pendapatan The  contribution of  income from Non Timber Forest Product to the  agroforestry business in community forest in Tasikmalaya RegencyAbstractCommunity forests is not merely producing timbers, but also non timber forest products (NTFPs) which are even more important at several places. The objective of the research was to obtain the data with regard to the advantage of developing NTFPs from community forests and its contribution to income of farmer. This study was conducted at Karyamukti village, Parungponteng Sub-district, Tasikmalaya District from June to December 2013. Thirty forest farmers were selected by stratified random sampling technique based on the size of forest ownership. Questioners were used to support interviews during data collection activities. Collected data were statistically analyzed and presented descriptively. The result showed that respondents own land areas averagely 0.374 ha whereas 0.246 ha or 65.78 % of them were utilized for community forest business. The developed planting system was agroforestry i.e. mixing the timber plants with NTFP plants such as estate, fruity, medicinal, and food plants. The period income gained from NTFP could be weekly, monthly, and annually. Income contributions of NTFPs to total income from farm forest were 67.56 % (level 1), 63.93 % (level 2) and 75.11 % (level 3), while the income contributions of timbers were only 32.44 % (level 1), 36.07 % (level 2), and 24.89 % (level 3). The annual income contribution of NTFPs, therefore, was higher than the one from timbers. The contribution, actually, could be increased if the NTFPs were developed seriously. One constrain in the NTFPs development was the silviculture technique operated by farmers, which did not follow the standard operational procedure (SOP) issued by The Ministry of Agriculture. Based on that condition, efforts to improve NTFPs development by transferring the knowledge and technology through extension are urgently required.

Page 1 of 20 | Total Record : 198