cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Teknik Mesin
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Arjuna Subject : -
Articles 223 Documents
PENINGKATAN PERFORMANCE MOTOR BENSIN 4 TAK 3 SILINDER YANG MENGGUNAKAN BAHAN BAKAR GAS DENGAN PENAMBAHAN BLOWER DAN SISTEM INJEKSI Tirtoatmodjo, Rahardjo; Willyanto, Willyanto
Jurnal Teknik Mesin Vol 1, No 1 (1999): APRIL 1999
Publisher : Institute of Research and Community Outreach - Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (60.408 KB) | DOI: 10.9744/jtm.1.1.pp. 1-7

Abstract

Replacing from gasoline to gas fuel (BBG) for automotive, in fact, decreases the motor’s power. By adding some equipments such as blower (+ inverter) and BBG injection, the pressure and density of BBG and air mixture into combustion chamber will be higher. This can make the power of combustion engine be equal even bigger than using gasoline. Abstract in Bahasa Indonesia : Penggantian BBM menjadi BBG untuk kendaraan bermotor ternyata mengakibatkan penurunan daya motor yang dihasilkan. Dengan menambahkan peralatan tambahan berupa blower (+ inverter) dan injeksi BBG, maka tekanan dan kepadatan campuran BBG dan udara yang masuk ke dalam ruang bakar bisa lebih tinggi dan daya yang dihasilkan motor bakar lebih meningkat dan bisa menyamai bahkan melebihi daya motor dari motor bakar pada waktu menggunakan bensin. Kata kunci : performance, bahan bakar gas, blower, sistem injeksi, inverter
PENGARUH POSISI DIFUSER DAN VARIASI KECEPATAN UDARA MASUK TERHADAP DISTRIBUSI TEMPERATUR RUANG TERKONDISI SEBUAH STUDI NUMERIK Sarsetiyanto, Joko; M E Soedjono, Denny
Jurnal Teknik Mesin Vol 8, No 1 (2006): APRIL 2006
Publisher : Institute of Research and Community Outreach - Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (314.287 KB) | DOI: 10.9744/jtm.8.1.pp. 1-7

Abstract

There are a number of fundamental functions to be fulfilled by an air distribution systems in a room. Heat generated by different sources such as sunlight, lighting and other electrical installations has to be removed from the conditioned room. The air distribution system must also supply fresh air to the conditioned room. The temperature distribution pattern in the conditioned room is influenced by room geometry, heat sources, diffuser position and type, and air supply velocity on diffuser. In general, the goal of this research is to find the optimum diffuser position by numerical method. Numerical method, simulates diffuser position and air supply velocity variation. The results shows that inclined diffuser position (+30o) and high velocity air supply (4.2 m/s) indicate that the temperature distribution equal on all levels Steady state condition (conditioned air temperatur of 21oC) occured 275 seconds after the supply air comes into contact with the non conditioned room air (the shortest time compared to others). Abstract in Bahasa Indonesia : Ada banyak fungsi dasar yang harus dipenuhi oleh sistem pendistribusian udara di ruangan. Kalor yang ditimbulkan oleh sumber-sumber seperti sinar matahari, lampu-lampu dan alat-alat listrik harus dikeluarkan dari ruangan yang dikondisikan. Sistem distribusi udara juga harus mencatu udara segar ke ruangan yang dikondisikan. Pola distribusi temperatur pada ruangan yang dikondisikan dipengaruhi oleh geometri ruangan, sumber panas, jenis, letak, dan posisi difuser serta kecepatan aliran udara masuk difuser. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan posisi difuser yang optimum dengan menggunakanan metoda numerik. Metoda numerik mensimulasikan variasi posisi difuser dan kecepatan udara masuk difuser. Hasil simulasi dengan posisi difuser miring (+30o) dan kecepatan udara masuk difuser tinggi (4,2 m/s) menunjukkan distribusi temperatur sama untuk semua level. Kondisi tunak (temperatur ruangan 21o C) dicapai selama 275 detik setelah udara dialirkan ke ruangan yang dikondisikan (waktu untuk mencapai kondisi tunak ini adalah waktu tercepat bila dibandingkan dengan yang lainnya). Kata kunci: Metode nomerik, posisi diffuser, kecepatan suplai udara.
PERANCANGAN MESIN PENGADUK PADA FLEXIBLE BLAST CHILLER DENGAN KAPASITAS 10 LITER ATAU 10 KG Alexander, Richard
Jurnal Teknik Mesin Vol 16, No 1 (2016): April 2016
Publisher : Institute of Research and Community Outreach - Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (241.866 KB) | DOI: 10.9744/jtm.16.1.24-26

Abstract

Seperti kita tahu makanan merupakan kebutuhan primer dalam kehidupan sehari-hari. Maka dari itu perlu diperhatikan kebersihan dari setiap makanan yang kita makan. Makanan dapat dengan mudah terkontaminasi bakteri yang ada di udara terutama kuah yang selesai di masak maka bakteri akan cepat berkembang di makanan tersebut. Oleh karena itu dibutuhan sebuah mesin yang dapat mendinginkan makanan dengan cepat.   Blast chiller merupakan suatu mesin yang di desain untuk mendinginkan makanan dengan cepat baik produk padat maupun cair. Pada perancangan kali ini akan dibuat sebuah blast chiller dengan inovasi baru yaitu dengan mesin pengaduk. Harapan dari mesin ini dapat mendinginkan makanan baik padat ataupun cair dengan cepat karena heat transfer dari pengadukan.
PENINGKATAN UNJUK KERJA DESAIN FLEXIBLE SHIELD UNTUK POMPA SABUN DENGAN MENGGUNAKAN METODE ELEMEN HINGGA Anggono, Willyanto
Jurnal Teknik Mesin Vol 6, No 2 (2004): OCTOBER 2004
Publisher : Institute of Research and Community Outreach - Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1340.376 KB) | DOI: 10.9744/jtm.6.2.pp. 57-64

Abstract

The flexible shield is a part of the pump system that dispenses soap-product. The function of the flexible shield is to protect the soap pump from intruding water. Investigation on performance of the current design flexible shield found that the current design of the flexible shield has not succeeded yet because there are no enough vertical reaction force in the upper part of the flexible shield after the deformation 9 mm to return to its rest position by itself (the requirement is 10 mm deformation). In the real experiment, the product must contain enough vertical reaction force on the upper part area of the flexible shield to return to its rest position independently. At that situation, there is no minimum turning point in the force against displacement graph. In the Ansys simulation, this condition is illustrated by the same graph force against displacement as the real experiment. To eliminate the locking mechanism during the deformation, the discontinuity should not exist, which means there should be no minimum turning point in the force against displacement graph. The combination of material and geometry are two very influencing factors to the performance of new design flexible shield. From the analysis using Finite Element Method, it is discovered that the displacement position of the minimum turning point in the force against displacement graph of the new design concept is bigger than the current design, which matches our requirement. The force-displacement relationship graphs the minimum turning point position (11 mm displacement). Abstract in Bahasa Indonesia : Flexible shield adalah bagian sistem pompa untuk mengeluarkan suatu produk sabun cair, disamping itu flexible shield juga berfungsi untuk memproteksi pompa sabun dari kemasukan air. Hasil penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa desain flexible shield yang ada saat ini belum sepenuhnya berhasil. Hal ini disebabkan gaya reaksi vertikal pada flexible shield yang terjadi belum cukup untuk mengembalikan flexible shield ke posisi semula dengan sendirinya setelah mencapai deformasi 9 mm. Sedangkan kebutuhan desain flexible shield adalah dapat kembali keposisi semula dengan sendirinya setelah mencapai deformasi 10 mm. Pada percobaan sesungguhnya, agar flexible shield dapat kembali ke posisi semula, keadaan tersebut digambarkan dengan tidak adanya nilai minimum turning point pada grafik gaya sebagai fungsi perpindahan (force against displacement graph). Pada simulasi dengan menggunakan metode elemen hingga (ANSYS 5.7), kondisi tersebut diilustrasikan dengan grafik gaya sebagai fungsi perpindahan, sama seperti pada percobaan sesungguhnya. Minimum turning point pada force against displacement graph ini menggambarkan mekanisme penguncian yang menyebabkan flexible shield tidak dapat kembali ke posisi semula setelah terjadinya deformasi 9 mm. Untuk meniadakan pengaruh mekanisme penguncian selama proses deformasi, maka pada force against displacement graph haruslah tidak terdapat minimum turning point. Kombinasi material dan geometri adalah dua faktor yang sangat berpengaruh pada performansi desain flexible shield yang baru. Dengan menggunakan analisa dari Metode Elemen Hingga, dapat diketahui force against displacement graph dari setiap desain baru yang akan dibuat, sehingga dapat diketahui performansi dari setiap desain yang ada. Pada akhirnya desain baru dapat diketahui unjuk kerjanya dengan posisi minimum turning point 11 mm (melebihi dengan kebutuhan desain yang ditentukan). Kata kunci : flexible shield, metode elemen hingga, minimum turning point, grafik gaya sebagai fungsi perpindahan.
ANALISIS TERMAL MACRO-THERMOBALANCE PEMBAKARAN SERBUK GERGAJI DAN CAMPURANNYA ,, Sudarno; Himawanto, Dwi Aris; Sujono, Agustinus
Jurnal Teknik Mesin Vol 14, No 2 (2013): OCTOBER 2013
Publisher : Institute of Research and Community Outreach - Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (587.888 KB) | DOI: 10.9744/jtm.14.2.76-83

Abstract

The Sawdust is a waste of sawmill industry which can be used for energy sources. However, the existences of wastes are generally susceptible to mixed with other biomass. This research will investigated the combustion characteristics of sawdust mixed with rice husks or corncobs in powder form. Percentage weight of a mixture of rice husks or corn cobs into sawdust be varied in the range 0, 25, 50, 75, and 100%. Thermal analysis of macro-thermo balance at heating rate 20°C/min in air environment is used in this case. While the samples with weight 10g to be applied in this experiment. The results showed that the graphics TG of the sample mixture has shifted to the right for the powder size 40+/60-mesh. It means the decomposition has been delayed or occurre data higher temperature region. As for the powde rsize 20+/40- mesh graphics TG of the sample mixture shifted to the left, it means early decomposition occurred or occurs at a lower temperature. The average activation energy of carbon combustion from saw dust, saw dust-rice husk and saw dust-corncobs respectively 91.67kJ/mole, 95.28kJ/mole, and 89.83kJ/mol. While the average minimum peak of the graphics DTG, mixture of sawdust-rice husk higher and sawdust-corncobs lower than sawdust. The average reaction rate constants of carbon burning from sawdust, sawdust-rice husk and sawdust-corncobs are 0.0071, 0.0047, and 0.007, respectively.
ANALISA KARAKTERISTIK DISTRIBUSI TEKANAN DAN KECEPATAN PADA BODI AERODINAMIKA AIRFOIL DENGAN METODA PANEL DALAM FENOMENA Sasongko, Herman; Harahap, Yudiansyah
Jurnal Teknik Mesin Vol 5, No 1 (2003): APRIL 2003
Publisher : Institute of Research and Community Outreach - Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (367.07 KB) | DOI: 10.9744/jtm.5.1.pp. 22-35

Abstract

The aerodynamics characteristics of a body are the most important in the subject of aerodynamics application in which is intended to get the aerodynamically body profile. This research was performed on both a symmetrical model of NACA Airfoil and Joukowski Airfoil. In this research, the analysis of aerodynamics characteristics had been performed by using Smith-Hess' panel method that distributes both the source flow and the vortex flow along the surface of airfoil to get the velocity distribution, in which is used to get the pressure distribution on the surface of airfoil. The parameters used as the aerodynamics characteristics are the coefficient of pressure distribution (Cp) and the coefficient of lift (Cl). The research results show that the accuracy level of panel method in analyzing the aerodynamics characteristics is high quite. It could be proved by the graphical visualization of software simulation. This visualization met the trend line of the available charts, hence, the greater of pressure difference between upper and lower surface of airfoil, the bigger of lift. Furthermore, the chart of lift coefficient (Cl) to the angle of attack is linear. The pressure difference was trigged by some factors including the variance of attack angle and the maximum thickness of airfoil. Furthermore, in the geometric of airfoil profile, the difference between the NACA Airfoil and the Joukowski Airfoil is on their sharper trailing edge. Abstract in Bahasa Indonesia : Karakteristik aerodinamika suatu benda uji merupakan suatu hal yang sangat penting dalam bidang ilmu aplikasi aerodinamika yang ditujukan untuk mendapatkan bentuk benda yang aerodinamis. Penelitian karakteristik aerodinamika ini dilakukan pada benda uji simetrik NACA Airfoil dan Joukowski Airfoil. Dalam penelitian ini, analisa karakteristik aerodinamika dilakukan dengan metoda panel Smith-Hess yang mendistribusikan aliran source dan aliran vortex di sepanjang kontur airfoil untuk mendapatkan distribusi kecepatan, yang kemudian digunakan untuk mendapatkan distribusi tekanan pada kontur airfoil. Parameter yang digunakan sebagai karakteristik aerodinamika adalah koefisien distribusi tekanan (Cp), koefisien lift (Cl). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat keakuratan metoda panel di dalam analisa karakteristik aerodinamika cukup tinggi, dengan terlihatnya hasil grafik dari simulasi software yang dapat mengikuti trend line atau alur dari grafik pembanding yang telah ada sebelumnya, demikian dengan semakin besarnya perbedaan tekanan (pressure difference) antara bagian atas dengan bagian bawah kontur airfoil maka akan menimbulkan lift yang semakin besar, sedangkan grafik koefisien lift (Cl) terhadap sudut serang adalah linier. Perbedaan tekanan dipicu oleh beberapa faktor, misalnya perubahan sudut serang, dan perubahan ketebalan maksimum yang dimiliki airfoil. Sedangkan untuk geometri penyusun airfoil, perbedaan antara NACA Airfoil dengan Joukowski Airfoil terletak pada bentuk trailing edge-nya yang lebih lancip. Kata kunci: karakteristik aerodinamika, NACA Airfoil, Joukowski Airfoil, metoda panel Smith-Hess, koefisien distribusi tekanan, koefisien lift.
SENSITIVITY ANALYSIS OF FLUTTER OF A TWO-DEGREE OF FREEDOM LINEAR AEROELASTIC SYSTEM Kurniawan, Riccy
Jurnal Teknik Mesin Vol 13, No 1 (2011): APRIL 2011
Publisher : Institute of Research and Community Outreach - Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (508.766 KB) | DOI: 10.9744/jtm.13.1.32-36

Abstract

This paper deals with the problem of the aeroelastic stability of a typical aerofoil section with two degrees of freedom induced by unsteady aerodynamic loads. A method is presented to model the unsteady lift and pitching moment acting on a two dimensional typical aerofoil section, operating under attached flow conditions in an incompressible flow. Starting from suitable generalisations and approximations to aerodynamic indicial functions, the unsteady loads due to an arbitrary forcing are represented in a state-space form. From the resulting equations of motion, the flutter speed is computed through stability analysis of a linear state-space system. The sensitivity analysis of the aeroelastic stability boundaries to the structural parameter is evaluated. The results show that the parameter with the greatest influence on flutter speed is the center of gravity.
STUDI EKSPERIMENTAL TENTANG PENGARUH PERUBAHAN DIAMETER LUBANG ORIFICE TERHADAP KARAKTERISTIK BOUNDARY LAYER ALIRAN HILIR Setyo Pratomo, Hariyo Priambudi
Jurnal Teknik Mesin Vol 4, No 1 (2002): APRIL 2002
Publisher : Institute of Research and Community Outreach - Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (434.882 KB) | DOI: 10.9744/jtm.4.1.pp. 32-42

Abstract

Goal of this experiment is knowing about influence of orifice's hole diameter variation to characteristics of down stream flow in circular ducting. The presence of orifice in channel system will cause any vortex at down stream region of flow, which was predicted could influence characteristics of flow in its moving to down stream direction. Vorticity which is contained by vortex will accumulate with flow vorticity, so that can influences produced boundary layer characteristics, involving boundary layer thickness and velocity profile. Influence of orifice's hole diameter variation to characteristics of down stream flow can be known by measuring static pressure and dynamic pressure along cross section to find out boundary layer thickness and velocity profile. The experiment results show that boundary layer develops faster at the smallest orifice's hole diameter, because vortex that happened at down stream region was the biggest. Abstract in Bahasa Indonesia : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perubahan diameter lubang orifice terhadap karakteristik aliran down stream dalam penampang circular. Adanya orifice dalam sistem saluran akan menyebabkan terjadinya vortex pada down stream region aliran yang diduga sangat mempengaruhi karakteristik aliran dalam pergerakannya ke arah down stream. Vorticity yang dikandung oleh vortex akan berakumulasi dengan vorticity aliran sehingga mempengaruhi karakteristik boundary layer yang terbentuk; antara lain : ketebalan boundary layer dan velocity profile. Pengaruh perubahan diameter lubang orifice terhadap karakteristik aliran down stream dapat diketahui dengan mengukur tekanan statis dan tekanan dinamis sepanjang penampang untuk mengetahui ketebalan boundary layer dan velocity profile yang terbentuk. Hasil penelitian menunjukkan bahwa boundary layer berkembang semakin cepat pada diameter lubang orifice yang paling kecil, karena vortex yang terjadi pada down stream region paling besar. Kata kunci: vortex, down stream, vorticity, boundary layer, velocity profile.
PENURUNAN KERUGIAN HEAD PADA BELOKAN PIPA DENGAN PELETAKAN TUBE BUNDLE , Pratikto; Wahyudi, Slamet
Jurnal Teknik Mesin Vol 12, No 1 (2010): APRIL 2010
Publisher : Institute of Research and Community Outreach - Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (353.699 KB) | DOI: 10.9744/jtm.12.1.51-57

Abstract

Fluid flow flowing through an elbow causes separation. Separation leads to vortex, shake and cavity. As a result, the head loss will increase and the pipe installation is potentially damaged. Thus, separation must be eliminated. The separation is identified by the presence of high pressure decreasing in the downstream of elbow. To minimize the pressure decreasing in elbow, we need flow conditioner like a tube bundle. The aim of this research is to identify the influence of tube bundle placement toward the head loss such as pressure drop. The elbow being tested is placed on a pipe installation already equipped by testing aids such as computers and its software, pressure transmitter, and rotameter. The free variable in this study is the distance of the tube bundle from the outlet edge of the pipe turn 2D, 3D, 4D and 5D and fluid flow volume which flows through the installation that are 1000, 1100, 1200, 1300, 1400, 1500, 1600, 1700, 1800, 1900 and 2000 litres/hour. Whereas, the dependent variable is the pressure drop (?p) measured by pressure transmitter and the head loss of which the value is obtained from the measurement of pressure drop. The test was conducted on 1.25 inch in diameter elbow with 22 holes of tube bundle and 27 mm in length. To know the head loss, so the pressure drop (?p) of fluid at upstream and downstream of the pipe turn are measured using 2 pressure transmitters connected to the computer through ADC (Analog Digital Converter). The data had already recorded in computer was processed using the LabView software to get the averaged value of the pressure drop. Abstract in Bahasa Indonesia: Aliran Fluida yang mengalir melalui belokan pipa menyebabkan terjadinya separasi. Separasi mengakibatkan terjadinya vortex, getaran, dan kavitasi, dimana kerugian tersebut mengakibatkan kerugian head meningkat dan berpotensi merusak instalasi pipa sehingga separasi perlu dihilangkan. Separasi ini ditandai dengan penurunan tekanan yang besar pada bagian hilir belokan pipa. Untuk memperkecil penurunan tekanan pada belokan pipa diperlukan suatu alat pengkondisi aliran (flow conditioner) berupa tube bundle (gabungan pipa). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh peletakan tube bundle tersebut terhadap kerugian head yang berupa penurunan tekanan. Belokan pipa yang diuji dipasang pada instalasi pipa yang telah dilengkapi alat bantu pengujian seperti komputer dengan software-nya, pressure transmitter, dan rotameter. Variabel bebas pada penelitian ini adalah jarak peletakan tube bundle dari sisi keluaran belokan pipa 2D, 3D, 4D dan 5D serta debit aliran fluida yang melewati instalasi yaitu 1000, 1100, 1200, 1300, 1400, 1500, 1600, 1700, 1800, 1900 dan 2000 liter/jam. Sedangkan variabel terikatnya adalah beda tekanan (?p) diukur dengan pressure transmitter dan kerugian head yang nilainya diperoleh dari perhitungan beda tekanan tersebut. Pengujian dilakukan pada belokan pipa berdiameter 1,25 inci dengan jumlah lubang tube bundle 22 dan panjang 27 mm. Untuk mengetahui kerugian head yang terjadi, maka beda tekanan (?p) fluida antara bagian hulu dan hilir belokan pipa diukur dengan menggunakan 2 buah pressure transmitter yang dihubungkan dengan komputer melalui ADC (Analog Digital Converter). Data yang telah terekam pada komputer diolah dengan bantuan LabView software sehingga diperoleh nilai rata-rata dari beda tekanan yang terjadi. Kata kunci: Kerugian head, tube bundle, belokan pipa.
SIMULASI KOMPUTER UNTUK ANALISIS KARAKTERISTIK MODEL SISTEM PEGAS- PEREDAM KEJUT- MASSA Soegihardjo, Oegik
Jurnal Teknik Mesin Vol 3, No 1 (2001): APRIL 2001
Publisher : Institute of Research and Community Outreach - Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (276.903 KB) | DOI: 10.9744/jtm.3.1.pp. 29-34

Abstract

Computer simulation in engineering will help designer to visualize characteristics of the system being designed. By modeling of the system and implement it into the computer, designer will be able to analyze characteristics of the system on any operating condition with less cost and time. To ensure the correct analysis, mathematical model and computer programming of the system have to be developed. Data form real cases will be simulated to analyze their characteristics. Abstract in Bahasa Indonesia : Simulasi komputer dalam suatu rekayasa teknik sangat membantu perancang untuk menggambarkan/memvisualisasikan karakteristik sistem yang akan dibuat. Dengan pemodelan sistem perancang bisa menganalisis karakteristik sistem pada berbagai kondisi operasi tanpa harus kehilangan banyak waktu dan biaya, karena semua proses bisa dilakukan dengan bantuan komputer. Untuk menjamin analisis yang tepat, model matemastis dari sistem yang akan dianalisis serta program komputer harus dibuat. Beberapa kasus yang diambil dari kondisi riil akan disimulasikan untuk dianalisis karakteristiknya. Kata kunci: pegas, peredam kejut, massa, gaya pegas, gaya peredam, model matematis.

Page 1 of 23 | Total Record : 223