cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. aceh besar,
Aceh
INDONESIA
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 326 Documents
Profll Narakontak Serumah Penderita Kusta di Puskesmas Talango Kabupaten Sumenep, Jawa Timur Tahun 2005 Iswahyudi, Iswahyudi; Mudatsir, Mudatsir
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala Vol 6, No 3 (2006): Volume 6 Nomor 3 Desember 2006
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (347.534 KB)

Abstract

Abstrak,  Narakontak   kusta  adalah   kelompok    paling  berisiko    terjangkitnya   kusta  dan  kelompok ini  belum  dimasukkan   dalam   program   pemberantarasan    penyakit  kusta.  Penelitian   ini bertujian untuk  mendapatkan profil narakontak   serumah  kusta  meliputi   umur, jenis  kelarnin,   lama  kontak, tipe   kusta   sumber    penular    serta   status    hubungan    keluarga.    Penelitian    ini    menggunanakan rancangan   deskriptif   menggunakan    studi  cross sectional. Populasi   penelitian   adalah   narakontak.. serumah  penderita  kusta  dan  pengambilan   sampel  dilakaukan  dengan  cara systematic random danhasil  penelitian   dianalisis  secara  deskriptif.  Hasil  penelitian  menunjukkan    bahwa  kelompok  umur rata-rata   narakontak   39,2  ±  17,24  tahun,      narakontak   paling  banyak  perempuan,  rata-rata   lama kontak   dengan  penderita   kusta    2  tahun,   narakontak   serumah   dengan  penderita   kusta   tipe  MB paling   banyak   dan  status   hubungan   narakontak.  bukan   anggota   keluarga   inti   paling    banyak. (JKS 2006,· 3:117-124) Kata K1111cl: Narakontak serumah, kusta, Mycobacterium leprae Abstract.  Household  contacts  of leprosy  patients  are the group  with the highest  risk of developing the disease,   and although  many  risk or prevention   factors  have been identified,   they  have not been employed   in  leprosy-monitoring    programs.  This  study  aims to obtain  a profile  household   contacts of  leprosy  include  age,  sex, duration  of contact,  type of leprosy  transmission   source  and  status  of family  relationships.   This  study  used  a descriptive   design   using   cross  sectional   study.  The  study population    was   the   same   household    contacts    leprosy    patients   and   sampling    conducted    by systematic   random  and  research  results  were  analyzed  descriptively.   The  results  showed  that  the average  age group  household  contacts  ofleprosy  39.2 ± 17.24 years,  household   contacts  ofleprosy most   of  the  women,   the  average   length   of  contacts   with  leprosy   patients   2  years,  household contacts  with   MB leprosy  patients   most  and  relationship    status  was  not a member  of family  themost.  (JKS 2006; 3:117-124) Keywords:Household contacts, leprosy,Mycobacteriumleprae
OSTEOPOROSIS PADA HIPERTIROIDISME Salwani, Desi
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala Vol 13, No 3 (2013): Volume 13 Nomor 3 Desember 2013
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (318.502 KB)

Abstract

Abstract. Osteoporosis didefenisikan sebagai pengurangan masa dan kekuatan tulang sehingga meningkatakan risiko fraktur.  Di Amerika serikat, terjadi pada 1 dari 2 wanita usia lebih dari 50 tahun dan meningkat sejalan dengan bertambahnya usia, mengakibatkan fraktur, meningkatkan morbiditas serta mortalitas.Hipertiroidisme mencetuskan bone turnover dan mempersingkat siklus remodelling tulang normal dan lebih sering merusak tulang kortikal (hip dan forearm) dibanding tulang trabekular (spine).Hypertiroidisme berkaitan dengan remodelling tulang, menurunnya densitas tulang, osteoporosis dan meningkatnya kejadian fraktur. Konsentrasi hormon tiroid yang tinggi dalam jangka waktu lama meningkatkan risiko osteoporosis dan risiko fraktur. Perubahan metabolisme tulang berkaitan dengan keseimbangan kalsium negatif, hiperkalsiuria dan kadang-kadang hiperkalsemia. Penanganan terhadap hipertiroidisme akan mengembalikan densitas tulang.Abstract. Osteoporosis is defined as low bone mass density  that increase fractur risk.  In US, 0steoporosis affecting approximately 1 of 2 old women  and increase fractur risk, morbidity and mortality.Hipertiroidisme causes bone turnover and  stimullates bone remodelling  cycle, cortikal (hip and forearm) than trabecular (spine).Hypertiroidisme was associated with bone remodelling, reduced bone density, osteoporosis and could increase fracture risk. High concentration of thyroid hormone causes osteoporosis and increase fracture risk. Changes in bone metabolism are associated with negative calcium balance, hypercalciuria and, rarely, hypercalcemia Management of  hypertiroidisme affects bone density. 
Acetylation phenotype in squamous cell lung cancer Mulyadi, Mulyadi
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala Vol 9, No 1 (2009): Volume 9 Nomor 1 April 2009
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1026.051 KB)

Abstract

Abstrak.   Risiko  kanker dipengaruhi   oleh   faktor   host dan lingkungan.    Bahan  dari lingkungan   yang   banyak menyebabkan   kanker   paru-paru   adalah   metabolite   dalam  asap   rokok,    Squamous    sel   kanker   paru-paru merupakan   jenis   kanker  paru-paru  yang  berkaitan  dengan  kebiasaan   merokok,   Diantara  faktor  host  yang memainkan    peran  penting     adalah  pcningkatan    kadar   acetylation    pada   bahan   karsinogenik    oleh   enzim acctyltransferase.  Acetylation  phenotype dapat  ditentukan   dengan pengukuran   isoniazid   acetylation   nilai yang dapat  dikategorikan    menjadi   cepat  dan   lambat  acetylators.  Tujuan  dari  kajian    ini   adalah  mengidentifikasi acetylation  phenotype di paru-paru   squamous sel  kanker di  Indonesia.   Metode belajar  adalah metode deskriptif,dan  dilakukan    pada  30 pasien  squamous  cell  lung cancer.  Yariabel  dari  studi   ini adalah  cepat  dan  lam.batacetylator.  Dalam semua (100%) squamous  sel kanker paru-paru  pasien  yang acetylation   phenotype ditemukan menjadi lambat,  yang menunjukkan efek  yang  lambat  dalam  acetylation   terjadinya squamous  sel  kanker paru- paru  perokok  di  Indonesia.   Kesimpulannya:   acetylation  lambat  memiliki  asosiasi  kausal  dengan  terjadinya squamous sel kanker paru-paru,   (JKS2009;  I: /-3) Kata kunci: squamous  sel.kanker paru-paru, acctylation   phenotype Abstract.   Risk of cancer is  influenced   by the host factors and environment.   Most of carcinogenic  material  from environment   that cause lung  cancer are metabolite  in  cigarette  smoke. Squamous cell lung  cancer  is a type of lung cancer that related to smoking habit.  Among host  factor that plays role is acetylation   rate on carcinogenic material   by enzyme  acetyltransferase.   Acetylation     phenotype     can  be determined  by   measuring    isoniazid acetylation   rate  which  can  be categorized    into  fast and slow   acetylators.   The  objective  of this  study is to identify   the  acetylation    phenotype   in   squamous     cell   lung   cancers  in   Indonesia.  Method  of  study    was descriptive   method, and undertaken in 30 squamous cell  lung  cancer patiens.   The variables   of this  study  were fast and slow acetylator.  In all (100%)  squamous  cell lung cancer patients  the acetylation phenotype was found to be slow,  which  indicating     the effect  of   slow  acetylation   in  occurence    of squamous  cell  lung cancer in Indonesian cigarette  smokers.    In conclusion   :  slow acctylation  has a causal  association   with  the occurence of squamous cell lung cancer. (JKS2009; I: 1-3)                                      ' Key words:   squamous cell lung cancer,  acetylation  phenotype
TALASEMIA DALAM KEHAMILAN: SEBUAH TINJAUAN KASUS Andalas, Mohd; Mumtaz, Marisa; Aulia, Nanda; Arytha, Ratu Meutia
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala Vol 16, No 1 (2016): Volume 16 Nomor 1 April 2016
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (67.767 KB)

Abstract

Abstrak. Talasemia merupakan kelompok heterogen anemia hemolitik herediter akibat gangguan sintesis hemoglobin. Kehamilan dengan talasemia harus mendapatkan pemantauan yang ketat terhadap perburukan gejala anemia dan perkembangan komplikasi yang berhubungan dengan kehamilan, seperti perkembangan janin terhambat (PJT), kelahiran prematur, dan bayi kecil masa kehamilan. Wanita hamil dengan talasemia harus berkonsultasi dengan tim medis pada saat prakonsepsi, saat kehamilan, dan menjelang persalinan. Berikut dibahas kasus seorang wanita Indonesia berusia 31 tahun yang datang ke Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin, Banda Aceh dengan G2P0A1 hamil 34-35 minggu, keluhan rasa mules pada perut sejak 3 jam SMRS. Pasien juga sering lemas dan lesu selama kehamilan. Pasien sudah didiagnosa dengan talasemia beta minor sejak 12 tahun yang lalu. Dari pemeriksaan USG didapatkan TBJ 1750 gram. Dalam perawatannya, pasien dikonsulkan ke bagian Penyakit Dalam divisi Hemato Onkologi Medik, Kardiologi dan Fetomaternal. Pada kasus ini akan dibahas dampak  dan penanganan talasemia terhadap kehamilan. (JKS 2016; 1:20-25)Kata kunci: Talasemia beta minor, kehamilan, anemia, persalinan prematur, PJTAbstract. Thalassemia is a hereditary hemolytic anemia caused by haemoglobin synthesis disorder. Talassemia in pregnancy should be monitoring of the worsening symptom of anemia and complications such  as fetal growth restriction (IUGR),  preterm birth and small of gestational age infant. Pregnant women with thalassemia should consult with medical professional before conception, during pregnancy and before delivery. This article discussed a case of 31-years-old Indonesian woman who came to the General Hospital dr. Zainoel Abidin, Banda Aceh with G2P0A1 34-35 weeks of gestasional age, complained abdominal discomfort since 3 hours before admission. During pregnancy the patient felt weak and fatigue. Patient already diagnosed with beta thalassemia minor since 12 years ago. Fetal weight estimation was 1750 grams from ultrasound examination. The patient was consulted to the division of Hemato Medical Oncology, Cardiology and Fetomaternal. This article will discussed the impact and management of thalassemia against pregnancy. (JKS 2016; 1:20-25)Keyword:Thalassemia beta minor, pregnancy, anemia, preterm labor, IUGR
Pengaruh Pemberian Ekstrak Ganja (Cannabis sativa L.) ! Terhadap Sel Spermatozoa Menclt (Mus musculus L.) Strain Swiss Webster Zulfitri, Zulfitri
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala Vol 7, No 1 (2007): Volume 7 Nomor 1 April 2007
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6383.463 KB)

Abstract

Abstrak.  Penelitian ini bertujuan melihat pengaruh pernberian ekstraks ganja terhadap pembentukan sel-sel spermatozoa mencit (Mus musculus L) strain Swiss Webster.' Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksperimental, dengan rancangan acak kelornpok satu faktor, yang terdiri dari 7 variabel dosis perlakuan (12,5 mg, 25 mg, 50 mg, 100 mg, 200 mg/ kg BB/ hari/ oral dan  kontrol perlakuan 0,3 ml CMC serta control perlakuan 0,3 mL  Aquabidest) dan 5  ulangan. Penelitian ini dilakukan dibagian Biologi FK UL Data hasil penelitian diuji normalitas digunakan metode distribusi Varians, sedangkan uji homogenitas digunakan Uji Barlett. Untuk melihat pengaruh digunakan uji Anova dan dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil untuk melihat pengaruh antar perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian ekstrak ganja pada dosis perlakuan 1 QO  dan 200 mgl,kg EB/.hari/  oral/  dapat menyebabkan penurunan jumlah sel-sel  spermatozoa vas deferens mencit. (JKS 2007; 1: 1-8) Kata Kunci: Ekstraks ganja, pengaruhi, sel spermatozoa .Abstract.   This study intends to observe the effects of cannabis extracts on the formation of sperm cells of mice SMus musculus L) strain Swiss Webster. The methodology used in this study is an experimental method, with pne factor randomized group design, consisting of 7 variables treatment dose (12.5 mg, 25 mg, 50 mg, 100 mg,200 mg/kg/day/orally and the control treatment 0.3 ml of CMC and the control treatment Aquabidest 0.3 mL) and 5  repititions. Research was conducted in Biology Department Faculty of Medicine Indonesia University. Data were tested for normality of distribution method is used variance, while the homogeneity test used Barletttest. To see the effect of Anova test was used and followed by Least Significant Difference test for the effect among the treatments. The results showed that administration of cannabis extract on the treatment dose of 100 and 200 mg I kg I day I oral I can cause a decrease in the number of sperm cells of mice vas deferens. (JKS2007; 1: 1-8) Keywords:   Cannabis  extract,  effect, sperm  cell
ANALISIS KEPUASAN DOKTER SPESIALIS TERHADAP PROGRAM JAMINAN KESEHATAN NASIONAL (JKN) DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH DR. ZAINOEL ABIDIN TAHUN 2014 Meutuah, Latifa Dara; Ishak, Saifuddin
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala Vol 15, No 1 (2015): Volume 15 Nomor 1 April 2015
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (302.944 KB)

Abstract

Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) merupakan program Pemerintah Indonesia yang bertujuan untuk meningkatkan derajat kesehatan seluruh masyarakat Indonesia. Dalam menjalankan program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dokter spesialis mempunyai peran penting bagi rumah sakit. Oleh karena itu, kepuasan dokter spesialis sangatlah berpengaruh terhadap kinerja rumah sakit. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis faktor yang berhubungan dengan kepuasan dokter spesialis dalam menjalankan program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) di RSUDZA Banda Aceh. Penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan desain cross sectional. Pengambilan data dilakukan pada bulan November sampai Desember 2014. Pengambilan sampel menggunakan teknik total sampling sebanyak 82 dokter spesialis. Hasil penelitian membuktikan bahwa 12,2% responden merasa sangat tidak puas, 35,4% responden merasa tidak puas. 47,6% yang merasa puas, dan hanya 4,9% responden merasa sangat puas. Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan antara kepuasan dengan pengetahuan tentang INA CBGs (P = 0,000), kondisi lingkungan kerja (p = 0,000), remunerasi (p = 0,000), transparansi (p = 0,000), dan kebijakan rumah sakit (p = 0,000). Disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara kepuasan dengan pengetahuan tentang INA CBgs, kondisi lingkungan kerja, remunerasi, transparansi, dan kebijakan rumah sakit.
NUTRISI PADA 1000 HARI PERTAMA KEHIDUPAN Husnah, Husnah
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala Vol 17, No 3 (2017): Volume 17 Nomor 3 Desember 2017
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (598.583 KB) | DOI: 10.24815/jks.v17i3.9065

Abstract

Abstrak. Status gizi sangat di tentukan oleh asupan makanan, dimana status gizi yang optimal mencerminkan derajat kesehatan setiap individu. Nutrisi ibu selama kehamilan sangat berpengaruh untuk pertumbuhan dan perkembangan janin di dalam kandungan, karena pembentukan sistem organ tubuh janin paling pesat di masa 9 bulan (270 hari) selamakehamilan dan 2 tahun (730 hari) setelah lahir yaitu 75% sampai 80%,dan sisanya setelah usia tersebut. 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK)atau windowof opportunities merupakan masa pertumbuhan dan perkembangan seluruh organ dan sistem tubuh, sehingga di sebut sebagai golden periode dan periode kritis. Masalah gizi yang terjadi sangat berkaitan erat dengan gizi ibu selama hamil dan menyusui, akan berdampak pada bayi baru lahir, anak usia 2 tahun dan remaja putri. Gizi ibu selama hamil berdampak terhadap Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) yang merupakan indikator kemajuan kesehatan suatu negara. 1000 HPK dimulai dari konsepsi, bentuk embrio sampai anak berusia 2 tahun dimana peran tenaga kesehatan dalam cakupan continuvasi of care dalam pemeriksaan kehamilan harus lebih ditingkatkan secara optimal.
MANIFESTASI KARSINOMA BRONKOGENIK PADA PENDERITA YANG DIRAWAT DI RSUD Dr. ZAINOEL ABIDIN BANDA ACEH PERIODE JULI 2009 - APRIL 2011 TR, Saputra; Mulyadi, Mulyadi; Fajriah, Fajriah
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala Vol 12, No 2 (2012): Volume 12 Nomor 2 Agustus 2012
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (102.216 KB)

Abstract

Abstrak. Kanker paru pada saat ini merupakan salah satu penyakit keganasan yang tersering di dunia dan 95% merupakan karsinoma bronkogenik. Tingginya mortalitas karsinoma bronkogenik disebabkan oleh sering terjadinya keterlambatan diagnosa suatu karsinoma bronkogenik sehingga pada diagnosis awal kebanyakan pasien sudah dalam stadium lanjut. Penelitian ini bertujuan untuk   mengetahui   gambaran manifestasi klinis penderita karsinoma bronkogenik yang dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zanoel Abidin Banda Aceh periode Juli 2009 s/d April 2011. Jenis penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dan ditinjau secara retrospektif. Populasi dalam penelitian ini adalah semua penderita karsinoma bronkogenik  yang dirawat di Bagian/SMF Pulmonologi RSUD dr. Zainoel Abidin Banda Aceh periode Juli 2009 s/d April 2011 dengan sampel sebanyak 28 orang yang dipilih secara total sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan data sekunder yaitu rekam medik. Analisa data yang digunakan pada penelitian ini adalah analisa data univariat dan dari hasil penelitian diperoleh frekuensi gejala intrapulmoner yang tertinggi adalah batuk sebesar 93%, disusul sesak napas sebesar 82%, nyeri dada 68% dan hemoptisis sebesar 29%. Frekuensi gejala intratorasik ekstrapulmoner yang tertinggi adalah gambaran efusi pleura sebesar 39% dan disusul disfagi sebesar 25%, sedangkan suara parau dan SVKS masing-masing memiliki proporsi sebesar 11%. Frekuensi gejala ekstratorasik non metastatik yang tertinggi adalah clubbing finger sebesar 11%, disusul tromboflebitis sebesar 7%, sedangkan gambaran ginekomastia dan anemia tidak ditemukan. Frekuensi gejala ekstratorasik metastatik yang tertinggi adalah tumor tulang sebesar 7%, disusul tumor hati dan tumor otak masing-masing sebesar 4%. Abstract. Lung cancer currently is one of the most common malignant disease in the world and 95% are bronchogenic carcinoma. The high mortality bronchogenic carcinoma caused by the frequent occurrence of delayed diagnosis of a bronchogenic carcinoma so that the initial diagnosis many patients already in an advanced stage. This study aims to know the description of clinical manifestations of patients with bronchogenic carcinoma District General Hospital, dr. Zanoel Abidin Banda Aceh, the period from July 2009 until April 2011. This study was a descriptive study and reviewed retrospectively. The population in this study were all patients with bronchogenic carcinoma were treated at the Section / SMF Pulmonology RSUDZA Banda Aceh, the period from July 2009 until April 2011 with a sample of 28 people chosen at a total sampling. The data was collected using secondary data, medical record. Analysis of the data used in this study is the analysis of univariate data and the results were obtained with the highest frequency intrapulmoner symptoms were cough 93%, followed by 82% shortness of breath, chest pain 68% and haemoptysis were 29%. Frequency of symptoms of extrapulmonary intrathorasic the highest was the feature of pleural effusions 39%, followed by 25% disfagi, while the hoarseness and SVCS each had a proportion of 11%. The highest frequency of non-metastatic ekstrathorasic were clubbing finger 11%, followed by thrombophlebitis 7%, while the sign of gynecomastia and anemia were not found. The highest frequency of ekstrathorasic metastatic were bone tumors 7%, then  followed by  liver tumors and brain tumors each had a proportion of 4%.
Pengaruh Modifikasi Pola Hidup Terhadap Parameter Antropometri Pada Penderita Obesitas Zufry, Hendra
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala Vol 11, No 1 (2011): Volume 11 Nomor 1 April 2011
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (194.044 KB)

Abstract

Abstrak.  Modifikasi pola hidup berupa pengurangan kalori makanan dan aktifitas fisik sedang merupakan terapi lini pertama pada obesitas. Penelitian yang dilakukan pada bulan Maret- September 2010 di Rumah Sakit Umum H.Adam Malik Medan ini bertujuan menilai pengaruh modifikasi pola hidup selama 12 minggu terhadap parameter antropometri penderita obesitas. Uji klinis terhadap 18 pasien obesitas (9 pria dan 9 wanita, usia 33,50 ± 7,13 tahun, berat badan (BB) 81,25 ± 16,07 kg, Indeks Massa Tubuh (IMT) 31,31 ± 3,09 serta Lingkar Pinggang (LP) 97,39 ± 10,36 cm ) ini mendapatkan hasil adanya perbaikan parameter antropometri BB – 5,02 %, LP – 3,8 % serta IMT sebesar – 6,5 % yang kesemuanya bermakna secara statistik. Berdasarkan hasil ini dapat disimpulkan bahwa modifikasi pola hidup dapat memperbaiki parameter antropometri pada penderita obesitas.Abstract. Lifestyle modification (LSM) consist reduced of calories food intake and moderate physical activity is the first line therapy for obesity patients. This study done during March-September 2010 at H.Adam Malik Hospital Medan to investigated effect of LSM  to anthropometric parameters of obesity patients. This clinical trials give intervention of LSM for 18 patients (9 male dan 9 female , Mean age 33,50 ± 7,13 years, body weight (Bw) 81,25 ± 16,07 kg, body mass index  (BMI) 31,31 ± 3,09 kg/m 2 and waist circumference (WC) 97,39 ± 10,36 cm ). The Result of this study was significant reduced of Bw – 5,02 %, WC – 3,8 % and BMI -6,5 % of obesity after achieve LSM intervention during 12 weeks. Conclusion of this study was LSM have significant and improved anthropometric parameter of obesity patients.
Kanker Paru dan Penatalaksanaannya Bakhtiar, Arief; Soeprijanto, Bambang
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala Vol 6, No 1 (2006): Volume 6 Nomor 1 April 2006
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4452.953 KB)

Abstract

Abstr  ak.  Keluhan    kanker  paru   terjadi   akibat   kelainan   :  intra  pulmonal,    intra  torasik    ekstra  pulmonal, ekstra   torasik    metastatik,     ekstra  torasik   non  meiastatik.     Prosedur   diagnosa    meliputi    deteksi   dini   dan tindakan   diagnostik    lebih   Ianjut    yang secara  garis  besar dapat dibagi  dua :  Tindakan  Non  lnvasif  ( CT­ Scan   Toraks,   Positron Emission Tomography (PET)   Magnetic Resonance Imaging);  dan  tindakan invasif    (Transthoracic   Needle  Aspiration,   Fiber  Optik  Bronkoscopi,      Endoscopic      Ultrasound, Mediastinoskopi).      Klasifikasi    kanker  paru jenis   karsinorna    bukan   sel  kecil  berdasarkan   TNM  staging, sedangkan   small cell lung carsinoma berdasarkan   Veterans  Administrasion      Lung  Cancer  Study  grup. Penatalaksanaan     kanker  paru  bersifat   multimodalitas      terapi   yang   terdiri   dari:    pernbedahan,     radiasi, kernoterapi,    irnunoterapi,   terapi  hormonal   dan tempi  gen.  (JKS 2006;1:23-38) Kata   kunci   :  karsinorna  bron.kogenik,    diagnose,    penatalaksanaan. Abstract.  Lung  cancer  is  caused  by  intra­pulmonary,      intra­thoracic     extra­pulmonary,     extra­thoracic metastatic,     and  extra  thoracic   non­metastatic     abnormalities.     The  diagnosis    procedure   includes    early detection   and  further  diagnostic   action   which are divided  into  two: Non­Invasive     Action  (Thoracic   CT­ Scan,     Positron     Emission       Tomography     (PET),      Magnetic      Resonance     Imaging)     and    invasive (Transthoracic        Needle       Aspiration,         Fiber     Optical       Bronchoscopy,       Endoscopic       Ultrasound, Mediastinoscopy).     The  classification   of carcinoma  lung  caricer of non­small  cell  carcinoma    is  based  on TNM  staging,   whereas  small  cell  lung  Veterans  Administrasion     carcinoma    is  based  on Lung  Cancer Study  Group.  The  treatment   of lung  cancer  is identi   lied as multi modality  therapy  consisting   of surgery,radiation,    chemotherapy,   irnrnunotherapy,     hormonal   therapy and gene  therapy.  (JKS 2006;1:23-38) Keywords: carcinoma bronchogenic, diagnosis, treatment.

Page 1 of 33 | Total Record : 326


Filter by Year

2005 2018


Filter By Issues
All Issue Vol 18, No 1 (2018): Volume 18 Nomor 1 April 2018 Vol 17, No 3 (2017): Volume 17 Nomor 3 Desember 2017 Vol 17, No 2 (2017): Volume 17 Nomor 2 Agustus 2017 Vol 17, No 1 (2017): Volume 17 Nomor 1 April 2017 Vol 16, No 3 (2016): Volume 16 Nomor 3 Desember 2016 Vol 16, No 2 (2016): Volume 16 Nomor 2 Agustus 2016 Vol 16, No 1 (2016): Volume 16 Nomor 1 April 2016 Vol 15, No 3 (2015): Volume 15 Nomor 3 Desember 2015 Vol 15, No 2 (2015): Volume 15 Nomor 2 Agustus 2015 Vol 15, No 1 (2015): Volume 15 Nomor 1 April 2015 Vol 14, No 3 (2014): Volume 14 Nomor 3 Desember 2014 Vol 14, No 2 (2014): Volume 14 Nomor 2 Agustus 2014 Vol 14, No 1 (2014): Volume 14 Nomor 1 April 2014 Vol 13, No 3 (2013): Volume 13 Nomor 3 Desember 2013 Vol 13, No 2 (2013): Volume 13 Nomor 2 Agustus 2013 Vol 13, No 1 (2013): Volume 13 Nomor 1 April 2013 Vol 12, No 3 (2012): Volume 12 Nomor 3 Desember 2012 Vol 12, No 2 (2012): Volume 12 Nomor 2 Agustus 2012 Vol 12, No 1 (2012): Volume 12 Nomor 1 April 2012 Vol 11, No 3 (2011): Volume 11 Nomor 3 Desember 2011 Vol 11, No 2 (2011): Volume 11 Nomor 2 Agustus 2011 Vol 11, No 1 (2011): Volume 11 Nomor 1 April 2011 Vol 10, No 3 (2010): Volume 10 Nomor 3 Desember 2010 Vol 10, No 2 (2010): Volume 10 Nomor 2 Agustus 2010 Vol 10, No 1 (2010): Volume 10 Nomor 1 April 2010 Vol 9, No 3 (2009): Volume 9 Nomor 3 Desember 2009 Vol 9, No 2 (2009): Volume 9 Nomor 2 Agustus 2009 Vol 9, No 1 (2009): Volume 9 Nomor 1 April 2009 Vol 8, No 3 (2008): Volume 8 Nomor 3 Desember 2008 Vol 8, No 2 (2008): Volume 8 Nomor 2 Agustus 2008 Vol 8, No 1 (2008): Volume 8 Nomor 1 April 2008 Vol 7, No 3 (2007): Volume 7 Nomor 3 Desember 2007 Vol 7, No 2 (2007): Volume 7 Nomor 2 Agustus 2007 Vol 7, No 1 (2007): Volume 7 Nomor 1 April 2007 Vol 6, No 3 (2006): Volume 6 Nomor 3 Desember 2006 Vol 6, No 2 (2006): Volume 6 Nomor 2 Agustus 2006 Vol 6, No 1 (2006): Volume 6 Nomor 1 April 2006 Vol 5, No 1 (2005): Volume 5 Nomor 1 April 2005 More Issue