cover
Contact Name
almadora anwar sani
Contact Email
almadora@polsri.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.austenit@polsri.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota palembang,
Sumatera selatan
INDONESIA
AUSTENIT
ISSN : 20851286     EISSN : 26227649     DOI : -
Jurnal “AUSTENIT” adalah media ilmiah yang dikelola oleh Jurusan Teknik Mesin Politeknik Negeri Sriwijaya, sebagai wadah bagi para penulis artikel ilmiah yang berasal dari kalangan staf edukatif dari berbagai perguruan tinggi maupun masyarakat umum yang memiliki kompetensi di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.
Arjuna Subject : -
Articles 145 Documents
APLIKASI QUALITY FUNCTION DEPLOYMENT (QFD) DALAM PENYESUAIAN SILABUS TERHADAP SKKNI GAMBAR TEKNIK Ginting, Muchtar; Yunus, Moch; Karmin, Karmin
AUSTENIT Vol 6, No 1 (2014): AUSTENIT 06012014
Publisher : AUSTENIT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (531.645 KB)

Abstract

Mengutip Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia Nomor : KEP. 240/MEN/X/2004 pada poin pertama , Memutuskan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia Sektor  Logam dan Mesin yang didalamnya terdapat Drawing, Design and Drafting, poin kedua yaitu Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) sebagaimana dimaksud dalam AMAR PERTAMA berlaku secara nasional dan menjadi acuan penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan profesi. Politeknik Negeri Sriwijaya Jurusan Teknik Mesin adalah penyelenggara pendidikan yang di dalam kurikulumnya terdapat sejumlah matakuliah antara lain adalah Gambar yang dibagi menjadi tiga yaitu: Gambar Teknik diberikan pada semester 1, Gambar Mesin 1 diberikan pada semester 2 dan Gambar Mesin 2 (Berbasis Komputer) diberikan pada semester3. Silabus dan materi berdasarkan Referensi Menggambar Mesin dengan Standar ISO dan refrensi lain yang terkait.Untuk mengetahui apakah topik atau silabus Mata Kuliah Gambar pada Jurusan Teknik Mesin telah mencakup materi yang dibutuhkan pada Standar Kompetensi Gambar pada SKKNI, maka dilakukan penelitian tentang tingkat hubungan antara materi silabus sebagai objek dan SKKNI Gambar sebagai patokan kebutuhan konsumen dengan menggunakan metode Quality Function Deployment (QFD)dan hasilnya ditampilkan dalam matrik House Of Quality (HOQ). Hasil analisa terhadap kesesuaian kompetensi silabus dengan SKKNI Gambar terdapat aspek kritis sebagai hasil penelitian yang perlu ditindak lanjuti antara lain adalah belum adamya kejelasan tentang bagaimana mengorganisasi pemilihan, penggunaan alat gambar, simbol, suaian dan toleransi maupun Gambar Detail dari komponen permesinan. Untuk penyempurnaan materin silabus maka disarankan adalah perlunya tambahan materi terkait dengan SOP proses penggambaran mulai awal sampai selesai lengkap dengan sistim filing, order maupun perubahannya, perlunya pengenalan dan penekanan penggunaan Alat Gambar manual maupun komputerisasi secara utuh, serta diperbanyak latihan gambar assembling yang berkaitan dengan fungsi komponen dan proses pengerjaan permesinan. 
PENINGKATAN KINERJA KOMPOR SURYA TIPE KOTAK DENGAN PENAMBAHAN CERMIN REFLEKTOR Muin, Abdul
AUSTENIT Vol 9, No 2 (2017): AUSTENIT 09022017
Publisher : AUSTENIT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (876.484 KB)

Abstract

Pengujian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dari penambahan cermin reflektor terhadap kinerja dari kompor surya tipe kotak. Metode yang digunakan dalam pengujian ini adalah eksperimental. Pengujian dilakukan di Laboratorium Konversi Energi Teknik Mesin Universitas Tridinanti Palembang. Penelitiaan dilakukan pada kompor surya tipe kotak dengan 3 cermin reflector. Kompor surya ini di uji untuk memanaskan air sebanyak 0,7 Liter air. Pengujian yang dilakukan untuk mendapatkan kinerja kompor adalah dengan menggunakan satu cermin, kemudian berikutnya dilakukan dengan penambahan 2 cermin pada posisi kiri dan kanan kompor surya. Dari hasil pengujian diperoleh hasil untuk kompor surya cermin tunggal diperoleh temperatur yang tertinggi dalam proses pemanasan air yaitu 80.2 oC, daya kompor sebersar 486.66 Watt. Sedangkan pengujian dengan penambahan cermin temperature yang tercapai adalah 83.4 oC dan daya kompor 518.02 Watt. Efisiensi kompor tertinggi diperoleh untuk cermin tunggal adalah sebesar 9,89 %, sedangkan efisiensi dengan penambahan cermin sebesar  17.36 %.
UJI PRESTASI MESIN PENDINGIN MENGGUNAKAN REFRIGERAN LPG Witjahjo, Soegeng
AUSTENIT Vol 1, No 02 (2009): AUSTENIT 01022009
Publisher : AUSTENIT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (148.737 KB)

Abstract

Mesin pendingin mempunyai peranan penting dalam kehidupan manusia sehari-hari, baik untuk keperluan rumah tangga maupun dunia industri. Mesin pendingin dapat diaktifkan sebagai mesin pengawet (almari pendingin) maupun mesin pengkondisi udara (AC). Salah satu komponen dari mesin pendingin jenis kompresi uap adalah fluida kerja (refrigeran) yang berfungsi sebagai penyerap dan pembuang kalor. Berkaitan dengan isu pemanasan global dan perusakan ozon yang salah satu penyebanya adalah pemakaian zat jenis CFC (Chlorofluoride Carbonate) dimana zat ini terkandung pada refrigeran jenis R-12, maka pada penelitian ini akan dicoba pemakaian salah satu zat hidrokarbon yang biasanya dipakai sebagai bahan bakar, zat tersebut adalah LPG (Liquified Petrolium Gas), dengan alasan bahwa zat tersebut memiliki sifat termodinamika yang ?mendekat? sifat termodinamika R-12. Pengujian prestasi mesin pendingin ditunjukkan oleh harga COP (Coeficient of Perfomance) yang dihasilkan dengan variasi beban pendinginan dan tekanan operasi refrigeran. Hasil pengujian yang telah dilaksanakan memberikan indikasi bahwa LPG dapat dipakai sebagai refrigeran pengganti R- 12 terutama untuk beban pendinginan yang sedang. Komponen-komponen yang terlibat pada pengujian tidak mengalami kerusakan. Minyak pelumas yang dipakai untuk refrigeran R-12 dapat dipakai pada mesin pendingin yang menggunakan refrigeran LPG.
ANALISA PENGARUH VARIASI KUAT ARUS DAN JARAK PENGELASAN TERHADAP NILAI KEKERASAN SAMBUNGAN LAS BAJA KARBON RENDAH DENGAN ELEKTRODA 6013 METODE ANAVA Putri, Fenoria
AUSTENIT Vol 4, No 01 (2012): AUSTENIT 04012012
Publisher : AUSTENIT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (617.203 KB)

Abstract

The process of connecting two or more pieces of metal using electricity as a heat source and the electrode material added as named by the electric arc welding. Welding of the world's most widely used in industry today, this is due to the welding process has advantages when compared with the other connections are: less expensive, the process is relatively faster, lighter, and in more varied engineering and construction. The selection of the current strength and type of electrodes is one of the most important in the welding process, in particular electric arc welding. Materials used in this research process is a low carbon steel and to obtain the optimal results of data processing is done using the method ANAVA. Brinnel hardness testing method aims to determine the hardness of a material. Brinnel intended for testing materials that have hardness Brinnel to 400 HB. Penetration tool used is a hardened steel ball indenter with a diameter of 2.5 mm. From the results of research and testing conducted by using the current 70 A - 110 A with a distance of 1 mm seam and 2 mm, current 110 A with a distance of 1 mm seam which has a high hardness value is 174.5453 BHN. The greater the flow and the larger distance widened welding weldment is happening.
ANALISA PENGARUH VARIASI SUDUT KEMIRINGAN BAFFLE PADA ALAT PENUKAR KALOR 202-C TERHADAP ALIRAN FLUIDA DAN PERPINDAHAN PANAS Andriansyah, Ahmad Ryan; Ginting, Muchtar; Witjahjo, Soegeng; Yunus, Moch
AUSTENIT Vol 8, No 2 (2016): AUSTENIT 08022016
Publisher : AUSTENIT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1172.169 KB)

Abstract

Dalam proses pembuatan Pupuk Urea, banyak menggunakan alat penukar kalor, sehingga alat penukar kalor ini mempunyai peran yang  penting dalam suatu proses produksi atau operasi. Unit penukar kalor adalah suatu alat untuk memindahkan panas dari suatu fluida ke fluida yang lain. Kegagalan operasi alat ini dari segi mekanikal maupun opersional dapat menyebabkan berhentinya operasi unit. Penelitian terhadap desain alat penukar kalor yang paling efektif masih terus dilakukan untuk mencari kinerja dari heat exchangcher yang paling optimal. Secara khusus bagian baffle inclination menjadi salah satu cara untuk mengoptimalkan kinerja alat penukar kalor. Berdasarkan permasalahan tersebut, maka dilakukan penelitian terhadap kinerja heat exchanger tipe shell and tube dengan memvariasikan sudut kemiringan baffle (baffle inclination) dengan mengambil objek alat penukar kalor 202-C di salah satu perusahaan pupuk di Indonesia. Penelitian ini dilakukan secara numerik dengan perangkat lunak Fluent 6.3.26 dengan model solver steady. Besar baffle inclination yang telah ditentukan adalah 0o, 10o,20 o, 25o , dan 30o. Hasil analisa penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat  pengaruh baffle inclination pada alat penukar kalor 202-C tipe shell and tube terhadap aliran fluida dan perpindahan panas. Peningkatan laju aliran massa dapat meningkatkan pressure drop secara cepat, alat penukar kalor shell and tube dengan baffle inclination 20o memiliki unjuk kerja yang terbaik dibandingkan dengan baffle inclination 0o, 10o, 25o, dan  30o .
ANALISA KEGAGALAN HASIL PRODUKSI PLASTIK MOULDING DENGAN BAHAN BAKU POLYPROPYLENE ( PP ) DAN POLYETHELENE(PE) S, Mulyadi
AUSTENIT Vol 1, No 01 (2009): AUSTENIT 01012009
Publisher : AUSTENIT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (414.475 KB)

Abstract

Plastik merupakan bahan baku Non Logam yang banyak di pakai pada perlengkapan rumah tangga dan dunia Industri, pada saat ini perkembangan Industri Plastik yang sangat pesat di dunia Industri modrn ini bukan hanya perlengkapan rumah tangga saja yang menggunakan bahan plastik, tetapi lebih maju lagi dunia Industri yang berkelibar besar seperti Industri Elektronik,Industri Otomotif, bahkan Industri pesawat terbangpun sekarang banyak yang menggunakan bahan plastik sebagai material yang digunakan untuk menjadi komponen pelengkap atau sebagai asesoris, karena bahan plastik banyak mengandung beberapa keuntungan antara lain bahan baku mudah didapat,dalam pembuatan mudah di bentuk, tidak korosi dalam suhu yang dingin, dan ada sesuatu hal yang harus dihindarkan dalam bahan plastik yaitu sering terjadi gagal produk apalagi menggunakan bahan baku Polipropelene dan Polyethelene, oleh karena itu ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dengan cara seksama pada saat melakukan proses produksi plastik antara lain, apabila menggunakan jenis cetakan Injection Moulding maka yang perlu di perhatikan adalah temperatur alat, tekanan udara dari kompresor,volume cetakan,waktu pencetakan dan pendingan ini semua harus sesuai dengan perhitungan yang pasti sehingga tingkat kegagalan proses prduksi tidak mengalami kegagalan seperti yang dialami oleh beberapa industri Plastik.
BESARAN ENERGI AKTIVASI DARI OKSIDASI HASIL PENGECORAN ALUMINIUM KALENG MINIMUM YANG MENDAPAT PERLAKUAN PANAS QUENCHING DAN ANNEALING Nukman, Nukman; Dahlan, Muhammad; Firdaus MS, Firdaus M S; Yani, Irsyadi; Arifin, Amir
AUSTENIT Vol 11, No 2 (2019): AUSTENIT 11022019
Publisher : Politeknik Negeri Sriwijaya, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (561.212 KB)

Abstract

Thermogravimetry analyzer adalah suatu alat untuk melakukan analisa thermal dimana massa bahan uji akan berbanding terbalik atau berbanding lurus dengan laju temperatur yang meningkat dan fungsi waktu (temperatur meningkat konstan). TGA biasanya digunakan untuk menentukan karakteristik material. Kurva naiknya massa material Aluminium dapat digunakan untuk mengetahui oksidasi. Titik naiknya massa material bisa digunakan untuk menghitung energi aktivasi. Penelitian ini menggunakan alat Thermogravimetry Analyzer (TGA) Exstar SII 7300 dengan 3 (tiga) sampel yang berbeda yaitu: Sampel Non Heat Treatment, Sampel Quenching, Sampel Annealing.  Hasil pengujian didapatkan bahwa energi aktivasi pada keadaan temperatur 400-6500C ramp 10 pada sampel non heat treatment E = 30,137 kJ/mol. Pada quenching E = 23,537 kJ/mol. Pada annealing E = 28,373 kJ/mol.
ANALISA PERMASALAHAN KOMPONEN TEMPAT TIDUR PASIEN DENGAN METODE QFD Ginting, Muchtar
AUSTENIT Vol 3, No 02 (2011): AUSTENIT 03022011
Publisher : AUSTENIT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (342.351 KB)

Abstract

Tempat Tidur Pasien adalah salah satu sarana rehabilitasi alat kesehatan yang berfungsi sebagai tempat istirahat baik duduk maupun tidur bagi pasien. Konstruksi alat ini terdiri dari tujuh komponen utama yang diproduksi secara manual dan harus memenuhi variabel kebutuhan konsumen yaitu aman, nyaman dan mudah dioperasikan. Untuk mengetahui apakah fungsi ke tujuh komponen telah memenuhi variabel kebutuhan konsumen, maka diperlukan suatu analisa yang penulis terapkan dari teori Quality Function Deployment (QFD) yang bertujuan untuk mengembangkan produk guna memuaskan konsumen dengan menerjemahkan keinginan konsumen ke dalam karakteristik teknis yang disyaratkan (design requirement). Dari hasil analisa terindikasi bahwa permasalahan terdapat pada Frame lantai yang terkait dengan : Desain, Proses Manufaktur dan ketelitian ukuran maupun tingkat kesulitan proses produksi yang mana semuanya ini saling terkait satu sama lain. Dalam rangka pemecahan permasalahan di atas sekali gus meningkatkan kualitas dan efisiensi produksi maka disarankan desain sistem produksi yaitu menggunakan press tool.
ANALISA PENGARUH HEAT TREATMENT DENGAN MEDIA AIR GARAM TERHADAP PENINGKATAN KEKERASAN PADA MATERIAL CUTTER MILLING HSS Novarika, Wirda
AUSTENIT Vol 5, No 2 (2013): AUSTENIT 05022013
Publisher : AUSTENIT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (358.683 KB)

Abstract

HSS (High Speed Steel) merupakan baja paduan tinggi dengan unsur paduan utama karbon(C), tungsten (W), vanadium (V), molybdenum (Mo),kromium (Cr) ataupun kobalt (Co). Salah satu upaya untuk meningkatkan kekerasan, ketahanan aus dan kekuatan baja dapat dilakukan dengan proses pengerasan termal, pada proses ini baja mengalami beberapa tahap proses yaitu: pemanasan awal, pemanasan lanjut, penahanan waktu pada suhu stabil, dan pendinginan. Kekerasan yang dapat dicapai tergantung pada kadar karbon dalam logam baja dan unsur lainya dalam baja, temperatur pemanasan, holding time dan laju pendinginan yang dilakukan saat proses  laku  panas. Perlu dipahami pada proses pengerasan baja, bahan yang diproses rentan akan kejadian yang tidak kita inginkan, seperti distorsi, retak ataupun tidak tercapainya kekerasan yang kita inginkan Pada data hasil pengujian kekerasan ini menunjukkan bahwa pada specimen uji yang mengalami proses heat treatment mempunyai sifat mekanis keuletan lebih baik dari specimen uji tanpa perlakuan heat treatment, untuk hasil yang lebih stabil pada setiap no specimen pendinginan media air garam 10% mengalami peningkatan kekerasan yang lebih stabil yaitu specimen 1: 21,95 %, specimen 2:23,11%, specimen 3: 22,90%, dengan media air garam 8% specimen 1: 15,06 %, specimen 2:15,23,11%, specimen 3: 25,32% sedangkan media air garam 6% untuk specimen 1:22.91%, 2 :13,64%, 3: 13,19%. Specimen uji mengalami peningkatan kekerasan yang cukup signifikan dengan proses heat treatment pada temperatur 8500 C dan ditahan selama 30 menit. Penggunaan media air garam 10% yang mengalami peningkatan kekerasan yang lebih stabil dan mempunyai cooling capacity yang tinggi sekali jika dibandingkan dengan media air garam 8% dan 6%.
ANALISIS PENGARUH VARIASI SUDUT POTONG PADA PROSES PEMBUBUTAN AKHIR MATERIAL BAJA Karmin, Karmin; Dalom, Dalom
AUSTENIT Vol 7, No 2 (2015): AUSTENIT 07022015
Publisher : AUSTENIT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (530.293 KB)

Abstract

Pembubutan adalah salah satu proses permesinan yang digunakan untuk membentuk produk dengan mebuang bagian yang tidak diperlukan dengan cara menyayat dengan pahat yang runcing/tajam. Didalam kegiatan manufaktur proses pembubutan, terkadang dibutuhkan kriteria tertentu yang menyangkut kwalitas permukaan/kekasarn permukaan. Untuk memperoleh kekasaran tertentu dapat dilakukan dengan cara merubah posisi pahat melalui eretan atas pada mesin bubut atau mengubah geometri pahat bubut. Bila melakukan perubahan posisi pahat pada eretan atas tentu ini akan menyita waktu untuk menyeting posisi yang tepat sehingga akan mengurangi efektifitas kerja. Dengan menyiapkan geometri/ sudut potong pahat bubut yang tepat operator mesin bubut tidak perlu lagi mengatur posisi pahat bubut melaui eretan atas sehingga operator dapat menggunakan waktu yang efektif untuk bekerja. Material yang dapat dibubut sangat bervariasi jenisnya, demikian pula jenis material pahat  bubut mempunyai banyak pilihan yang disediakan dipasaran. Pada penelitian ini material yang dijadikan objek penelitian ini adalah baja (St-37, St-42 dan St-60) dibubut menggunakan  jenis pahat HSS. Sesuai dengan hasil pengujian kekasaran terhadap hasil pembubutan dengan variasi sudut potong pada pahat diperoleh hasil yang paling baik adalah : untuk material St-37 dengan sudut potong samping 10o, sudut potong akhir 12o (1,55 µm), untuk material St-42 dengan sudut potong samping 10o, sudut potong akhir 14o (1,48 µm)   dan material St-60 dengan sudut potong samping 10o, sudut potong akhir 12o  (1,59 µm)

Page 1 of 15 | Total Record : 145