cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Buletin Alara
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Buletin Alara terbit pertama kali pada Bulan Agustus 1997 dengan frekuensi terbit tiga kali dalam setahun (Agustus, Desember dan April) ini diharapkan dapat menjadi salah satu sarana informasi, komunikasi dan diskusi di antara para peneliti dan pemerhati masalah keselamatan radiasi dan lingkungan di Indonesia
Arjuna Subject : -
Articles 45 Documents
PEMANTAUAN LINGKUNGAN PADA KEGIATAN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA NUKLIR Sutarman, Sutarman
Buletin Alara Vol 8, No 1 (2006): Agustus 2006
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (231.14 KB)

Abstract

Kemajuan tingkat kehidupan suatu bangsa biasanya dilihat dari peningkatan kebutuhan energi listrik oleh masyarakat. Jumlah penduduk yang terus meningkat memerlukan energi listrik untuk membantu dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, misalnya untuk kegiatan rumah-tangga, komersil, industri, dan transportasi. Energi listrik tidak tersedia dalam bentuk siap pakai, namun dapat diperoleh dari sumber daya alam melalui berbagai proses konversi dari beberapa pembangkit, misalnya Pusat Listrik Tenaga Air (PLTA) menggunakan sumber daya alam air, Pusat Listrik Tenaga Uap (PLTU) menggunakan sumber daya alam batubara atau minyak atau gas, Pusat Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) menggunakan bahan bakar nuklir (uranium), dan masih banyak lagi sumber daya alam yang dapat dipakai untuk pembangkit energi listrik (angin, matahari, panas bumi, gelombang laut, dan biomasa). Seluruh kegiatan pembangkit energi listrik dapat menimbulkan dampak negatif terhadap manusia dan lingkungan.
UPAYA PENCEGAHAN TERJADINYA “ILLICIT TRAFFICKING” PADA SUMBER RADIOAKTIF Jumpeno, B.Y. Eko Budi
Buletin Alara Vol 6, No 3 (2005): April 2005
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (126.611 KB)

Abstract

Pemanfaatan zat radioaktif dalam bentuk bahan nuklir (nuclear material) maupun sumber radioaktif (radioactive sources) telah merambah mulai dari bidang energi, perminyakan, uji tak merusak, kesehatan, pertanian dan bidang-bidang lainnya. Pada pemanfaatan bahan nuklir di instalasi pembangkit energi (pembangkit listrik tenaga nuklir), instalasi penelitian (reaktor penelitian) dan instalasi persenjataan nuklir, bidang keselamatan (safety) maupun bidang keamanan (security) mendapat perhatian yang besar. Potensi bahan nuklir untuk digunakan dalam teror, menciptakan ketakutan dan kekacauan dalam masyarakat dunia relatif tinggi. Hal ini menjadi alasan ditempuhnya kebijakan tersebut. Di sisi lain, segi keamanan sumber radioaktif kurang mendapatkan perhatian sehingga muncul beberapa kasus kejadian tak normal (anomali) atau kecelakaan yang melibatkan sumber radioaktif; misalnya pencurian sumber radioaktif PT Krakatau Steel di Cilegon, Indonesia pada tanggal 20 Oktober 2000 atau pengambilan sumber radioaktif secara sembrono di bekas instalasi radioterapi oleh pemulung di Goiania, Brasil tanggal 21 September 1987. Berdasarkan tindakan penanggaulangan dan investigasi yang dilakukan Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN) terhadap kasus yang terjadi di PT Krakatau Steel, ternyata telah ditemukan 3 unit sumber Cobalt-60, sedangkan 22 unit sumber lainnya belum ditemukan. Pencarian mengalami kesulitan karena waktu pasti hilangnya sumber tidak diketahui. Hasil investigasi kesehatan yang dilakukan oleh BAPETEN tidak menemukan indikasi adanya dampak kesehatan pada manusia.
PENGKAJIAN KASUS SINDROMA RADIASI AKUT Alatas, Zubaidah
Buletin Alara Vol 6, No 2 (2004): Desember 2004
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (480.538 KB)

Abstract

Radiasi pengion adalah radiasi yang dapat menimbulkan terjadinya ionisasi atau pengionan sebagai proses pelepasan satu atau lebih elektron dari suatu atom/molekul, baik dalam bentuk gelombang elektromagnetik (radiasi gamma dan sinar-X) atau partikel (alpa, beta atau elektron, dan neutron). Kedua jenis radiasi di atas mempunyai daya rusak yang berbeda terhadap materi biologis karena mempunyai kemampuan yang berbeda dalam menimbulkan tingkat pengionan dan dalam jarak lintasan yang dapat ditempuh. Radiasi partikel mempunyai tingkat pengionan yang jauh lebih tinggi dan jarak lintasan yang jauh lebih pendek dari radiasi elektromagnetik. Dengan demikian partikel alpa dan beta (elektron) mempunyai daya rusak per satuan jarak lintasan yang besar tetapi daya tembusnya rendah. Sedangkan radiasi gamma dan sinar-X meskipun mempunyai daya rusak yang rendah tetapi mempunyai jarak tempuh yang jauh.
PROSPEK PEMANFAATAN RADIASI DALAM PENGENDALIAN VEKTOR PENYAKIT DEMAM BERDARAH DENGUE Nurhayati, Siti
Buletin Alara Vol 7, No 1&2 (2005): Agustus & Desember 2005
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (295.563 KB)

Abstract

PENDAHULUANPenyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) atau Dengue Haemorrhagic Fever (DHF) dapat bermanifestasi sebagai Dengue Shock Syndrome (DSS) yang merupakan suatu penyakit infeksi akibat virus dengue, ditularkan melalui gigitan vektor nyamuk Aedes aegypti (A. Aegypti).Infeksi virus dengue akan memberikan gejala bervariasi mulai dari sindroma virus nonspesifik sampai perdarahan akut. Sampai saat ini, dikenal empat tipe virus penyebab DBD yang termasuk dalam kelompok ?Arthropod Borne Virus? atau arbovirus yaitu Dengue -1, Dengue-2, Dengue-3 dan Dengue-4. Keempat tipe ini telah ditemukan di berbagai daerah di Indonesia. Dari hasil penelitian Knipling dkk dikatakan bahwa Dengue-3 merupakan tipe yang paling luas penyebarannya dan sangat ber- kaitan dengan kasus yang paling berat disusul Dengue-2, Dengue-1 dan Dengue-4 [1]. A.aegypti adalah nyamuk (serangga) berukuran tubuh kecil, berwarna hitam, dan ber- bintik-bintik putih, dengan penyebaran hampir di seluruh wilayah Indonesia, kecuali di daerah dengan ketinggian lebih dari 1000 meter di atas permukaan laut [2]. Nyamuk betina akan terinfeksi virus dengue pada saat menghisap darah seseorang yang sedang dalam fase demam akut. Setelah melalui periode inkubasi ekstrinsik 8 sampai 10 hari, kelenjar ludah nyamuk bersangkutan akan terinfeksi dan virusnya akan ditularkan ketika nyamuk tersebut menggigit dan mengeluarkan cairan ludahnya ke dalam luka gigitan ke tubuh orang lain. Setelah masa inkubasi di tubuh manusia selama 3-14 hari (rerata 4-6 hari) secara mendadak timbul gejala awal penyakit ditandai dengan demam, pusing, nyeri otot, hilang nafsu makan, dan berbagai tanda atau gejala non spesifik seperti mual, muntah dan ruam pada kulit.
TEKNOLOGI NUKLIR DALAM PENGENDALIAN VEKTOR PENYAKIT MALARIA Nurhayati, Siti
Buletin Alara Vol 8, No 1 (2006): Agustus 2006
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (148.579 KB)

Abstract

Penyakit malaria merupakan penyakit yang sampai saat ini masih menjadi masalah utama kesehatan masyarakat di dunia dan Indonesia khususnya yang belum bisa ditangani secara tuntas. Penyakit ini disebabkan oleh infeksi parasit Plasmodium sp yang disebarkan oleh nyamuk betina Anopheles sp dan ditularkan dari orang sakit ke orang yang sehat melalui gigitan nyamuk tersebut sebagai vektor malaria [1]. Tercatat ada 4 spesies parasit penyebab malaria yaitu Plasmodium ovale, Plasmodium malariae, Plasmodium vivax dan Plasmodium falciparum. Yang terakhir ini yang paling ganas, karena dapat menyebabkan kematian, terutama pada anak-anak dibawah usia lima tahun. Parasit yang ditularkan lewat nyamuk biasanya masuk ke hati dan berubah menjadi merozoites, masuk ke aliran darah, menginfeksi sel darah merah dan berkembang biak. Gejala tiap jenis malaria biasanya berupa meriang, panas dingin menggigil dan keringat dingin. Dalam beberapa kasus yang tidak disertai pengobatan, gejala-gejala ini muncul kembali secara periodik. Jenis malaria yang paling ringan adalah malaria Tertiana yang disebabkan oleh Plasmodium vivax, dengan gejala demam yang dapat terjadi setiap dua hari sekali setelah gejala pertama terjadi (dapat terjadi selama 2 minggu setelah infeksi). Demam rimba (jungle fever), malaria aestivo- autumnal atau disebut juga malaria tropika, disebabkan oleh Plasmodium falciparum merupakan penyebab sebagian besar kematian akibat malaria. Organisme bentuk ini sering menghalangi jalan darah ke otak, menyebabkan koma, mengigau serta kematian. Malaria kuartana yang disebabkan oleh Plasmodium malariae, memiliki masa inkubasi lebih lama dari pada penyakit malaria tertiana atau tropika; gejala pertama biasanya tidak terjadi antara 18-40 hari setelah infeksi terjadi. Gejala tersebut kemudian akan terulang kembali setiap 3 hari dan ini merupakan jenis malaria yang paling jarang ditemukan, disebabkan oleh Plasmodium ovale dan mirip dengan malaria teriana.
KONSEKUENSI KECELAKAAN REAKTOR CHERNOBYL TERHADAP KESEHATAN DAN LINGKUNGAN Alatas, Zubaidah
Buletin Alara Vol 7, No 3 (2006): April 2006
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (279.42 KB)

Abstract

Kecelakaan nuklir yang paling parah dalam sejarah industri nuklir terjadi pada tanggal 26 April 1986 di Unit 4 reaktor instalasi daya nuklir Chernobyl di negara yang dulu dikenal sebagai Republik Ukrainian, Soviet Union. Ledakan yang menghancurkan pengungkung dan struktur inti reaktor (Gambar 1) menimbulkan kebakaran selama 10 hari dan menyebabkan terjadinya pelepasan sejumlah besar materi radioaktif ke lingkungan. Awan yang berasal dari reaktor yang terbakar tersebut menyebarkan berbagai jenis radionuklida, terutama yodium (131I) dan cesium(137Cs), ke hampir seluruh bagian Eropa. Radionuklida 131I, senyawa yang mempunyai organ target kelenjar tiroid dan berumur paro pendek (8 hari), terlepas ke lingkungan dalam jumlah yang banyak pada beberapa minggu pertama kecelakaan. Sedangkan radionuklida 137Cs yang mempunyai waktu paro lebih lama (30 tahun), memberikan kontribusi paparan radiasi eksterna dan interna pada tubuh, masih terdeteksi keberadaannya dalam tanah dan pada beberapa makanan yang berasal dari beberapa wilayah di Eropa. Deposit radionuklida paling besar terjadi di wilayah sekitar reaktor yang sekarang dikenal sebagai Negara Belarus, Federasi Rusia, dan Ukraina (Gambar 2).
INDIKATOR BIOKIMIA SEL TERHADAP RADIASI PENGION Syaifudin, Mukh
Buletin Alara Vol 6, No 3 (2005): April 2005
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (319.942 KB)

Abstract

Radiasi pengion yang mengenai sistem hidup dapat menghasilkan serangkaian hasil akhir biologik meliputi proses pembengkakan, luka pada jaringan, karsinogenesis dan kematian. Tahap awal interaksi radiasi dengan materi biologi ini adalah pemindahan energi pada atom dan molekul yang menyebabkan pengionan dan eksitasi. Dosis letal sinar-X untuk pajanan akut seluruh tubuh pada manusia diperkirakan sebesar 4,5 Gy (450 rad). Dosis ini sangat kecil dan energi panas ekivalen dosis ini akan menambah suhu tubuh hanya sebesar 1/1000 oC. Daya mematikan dari energi sekecil ini berasal dari deposisi energi tak merata dalam sel dan melalui serangkaian proses biokimia yang menimbulkan luka. Proses tersebut meliputi pembentukan radikal bebas dan spesies aktif lain pada tingkat molekul dan pelepasan mediator biologik pada tingkat selular dan jaringan. Luka pada tingkat molekuler kemudian dapat menyebabkan luka pada jaringan yang dapat terjadi segera atau beberapa waktu sesudahnya. Proses lain dapat muncul melalui ketidakseimbangan hormonal dan pelepasan yang berlebihan agensia penyebab pembengkakan.
PEMERIKSAAN ABERASI KROMOSOM PADA PEKERJA RADIASI Lusiyanti, Yanti
Buletin Alara Vol 8, No 2 (2006): Desember 2006
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (241.034 KB)

Abstract

PENDAHULUANPemeriksaan kesehatan pekerja radiasi merupakan suatu kegiatan yang mutlak perlu dilakukan pada setiap fasilitas yang memanfaatkan radiasi pengion. International Atomic Energy Agency (IAEA) telah memberikan pedoman untuk pelaksanaan pemeriksaan kesehatan ini dalam publikasi Basic Safety Standards atau Standar Keselamatan Dasar yang diterbitkan pada tahun 1996. Di Indonesia, beberapa ketentuan hukum yang berkaitan dengan pemeriksaan kesehatan juga telah berlaku, yaitu Undang-Undang No 10 Tahun 1997 tentang Ketenaganukliran pasal 16 ayat (1) yang menyatakan bahwa ?setiap kegiatan yang berkaitan dengan pemanfaatan tenaga nuklir wajib memperhatikan kesehatan, keamanan dan ketentraman, kesehatan pekerja dan anggota masyarakat serta perlindungan terhadap lingkungan hidup?. Kemudian Keputusan Kepala BAPETEN No. 01/Ka-BAPETEN/V-99 tentang Ketentuan Keselamatan Kerja Terhadap Radiasi. Selain itu juga ada Peraturan Pemerintah RI No. 63 tahun 2000 tentang Keselamatan dan Kesehatan Terhadap Pemanfaatan Radiasi Pengion, dan Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 172/MENKES/PER/III/1991 tentang Pengawasan Kesehatan Pekerja radiasi. Pada saat tubuh terpajan radiasi, sel dapat mengalami kerusakan sitogenetik yaitu kerusakan yang terjadi pada aspek genetik sel, khususnya kromosom bergantung pada dosis yang diterima. Kromosom terdapat di dalam inti sel dan merupakan struktur yang terdiri dari rangkaian panjang molekul asam deoksiribonukleat (DNA) dengan matriks protein, dan memegang peranan sebagai pembawa sifat dari suatu individu. Kromosom manusia berjumlah 23 pasang mengandung ribuan gen yang merupakan suatu rantai pendek dari DNA yang membawa kode informasi genetik tertentu dan spesifik. Secara normal, kromosom terdiri dari lengan atas dan lengan bawah yang dihubungkan dengan sentromer. Radiasi dapat menyebabkan terjadinya perubahan struktur kromosom. Perubahan yang dimaksud dapat berupa: (1). kromosom disentrik yaitu kromosom dengan dua sentro- mer yang terbentuk dari penggabungan dua patahan kromosom; (2). fragmen asentrik yaitu delesi pada lengan kromosom sehingga terbentuk fragmen kromosom tanpa sentromer;(3). kromosom cincin yang terbentuk karena adanya penggabungan patahan antar lengan kromosom. Kromosom disentrik merupakan bentuk aberasi yang paling spesifik akibat radiasi pengion dan merupakan Gold Standard untuk  diaplikasikan dalam pengkajian efek radiasi. Jumlah kromosom disentrik yang terbentuk akibat paparan radiasi latar dari alam pada tubuh adalah sekitar 1?2 dalam 1000 sel darah limfosit.
MONITORING DOSIS RADIASI PERORANGAN MENGGUNAKAN LENCANA DOSIMETER GELAS Sofyan, Hasnel
Buletin Alara Vol 13, No 2: Desember 2011
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2172.277 KB)

Abstract

Abstrak Tidak Ada
ANALISIS UNSUR KELUMIT MELALUI PANCARAN SINAR-X KARAKTERISTIK Akhadi, Mukhlis
Buletin Alara Vol 8, No 1 (2006): Agustus 2006
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (288.964 KB)

Abstract

PENDAHULUANPenemuan sinar-X oleh fisikawan Jerman Wilhelm Conrad Roentgen pada tahun 1895 ternyata mampu mengantarkan ke arah terjadinya perubahan mendasar dalam bidang kedokteran. Manusia mendapatkan jalan dalam memanfaatkan sinar-X penemuan W.C. Roentgen terutama untuk radiodiagnosa dalam bidang medis. Sinar X mampu membedakan kerapatan dari berbagai jaringan dalam tubuh manusia yang dilewatinya. Dengan penemuan sinar-X ini, informasi mengenai tubuh manusia menjadi mudah diperoleh tanpa perlu melakukan operasi bedah. Proses pembuatan gambar anatomi tubuh manusia dengan sinar-X dapat dilakukan pada permukaan film fotografi. Gambar terbentuk karena adanya perbedaan intensitas sinar-X yang mengenai permukaan film setelah terjadinya penyerapan sebagian sinar-X oleh bagain tubuh manusia. Daya serap tubuh terhadap sinar-X sangat bergantung pada kandungan unsur-unsur yang ada di dalam organ. Tulang manusia yang didominasi oleh unsur Ca mempunyai kemampuan menyerap yang tinggi terhadap sinar-X. Karena penyerapan itu maka sinar-X yang melewati tulang akan memberikan bayangan gambar pada film yang berbeda dibandingkan bayangan gambar dari organ tubuh yang hanya berisi udara seperti paruparu, atau air seperti jaringan lunak pada umumnya. Jadi pada prinsipnya, bayangan gambar anatomi terbentuk karena adanya perbedaan kemampuan dalam menyerap maupun meneruskan sinar-X yang ada di dalamk organ.