cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Humanika : Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum
ISSN : 14121271     EISSN : 25794248     DOI : 10.21831
Core Subject : Humanities, Art,
HUMANIKA published by P-MKU LPPMP is an academic journal, publishes high quality manuscripts that engage theoretical and empirical issues including education, social sciences, and religion studies. They are tackled from a multidisciplinary perspective. The journal also features case studies focusing on practical implications, or papers related to learning and teaching in social and science disciplines.
Arjuna Subject : -
Articles 110 Documents
HUBUNGAN LINGKUNGAN KAMPUS, POLA ASUH ORANG TUA DAN MOTIVASI BERPRESTASI MAHASISWA FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA Wibowo, Agus
HUMANIKA Vol 16, No 1 (2016): Humanika, Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/hum.v16i1.12071

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) hubungan antara lingkungan kampus dengan motivasi berprestasi mahasiswa FE-UNJ; (2) hubungan antara perhatian orang tua dengan motivasi berprestasi mahasiswa FE-UNJ, dan (3) hubungan antara lingkungan kampus dan pola asuh orang tua dengan motivasi berprestasi mahasiswa FE-UNJ.Penelitian ini menggunakan metode survei dengan pendekatan korelasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa: (1) ada korelasi signifikan antara lingkungan kampus dengan motivasi berprestasi mahasiswa FE-UNJ, di mana koefisien korelasi ganda (Ry.12) = 0,196 dan F hitung (F Change) = 11,144, serta p-value = 0,040 < 0,05. (2) ada hubungan yang signifikan antara pola asuh orang tua terhadap motivasi berprestasi mahasiswa FE-UNJ, di mana koefisien korelasi X2 ke Y sebesar 0,102 dengan nilai signifikansi 0,000 ? 0,050. Hasil hitung koefisien korelasi ganda (Ry.12) = 0,410 dan F hitung (F Change) = 21,817, serta p-value = 0,000 < 0,05. Sedangkan koefisien determinasinya, yaitu R square = 0,168, (3) ada hubungan yang signifikan antara lingkungan kampus dan pola asuh orang tua terhadap motivasi berprestasi mahasiswa FE-UNJ di mana hasil perhitungan uji koefisien korelasi ganda (Ry.12) = 0,415 dan F hitung (F Change) = 11,144, serta p-value = 0,000 < 0,05. Sedangkan koefisien determinasinya, yaitu R square = 0,172.
KAJIAN TENTANG SISTEM PENYELENGGARAAN NEGARA DI INDONESIA SETELAH AMANDEMEN UUD 1945 Kusdarini, Eny
HUMANIKA Vol 11, No 1 (2011): Humanika, Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/hum.v11i1.20993

Abstract

Setelah terjadi era reformasi UUD 1945 yang dulunya disakralkan dan ternyata mengandung banyak kelemahan oleh MPR hasil pemilu diamanden sampai beberapa kali. Di dalam UUD 1945 yang telah diamandemen terjadi perubahan terhadap sistem penyelenggaraan negara di Indonesia termasuk perubahan sistem pemilihan penyelenggara negara yang diadakan tiap lima tahun sekali. Setelah diadakan amandemen terhadap UUD 1945 pemilihan untuk anggota legislatif diadakan secara langsung sekaligus memilih anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD). Di samping itu, pemilihan presiden dan wakil presiden setelah amandemen UUD 1945 juga diadakan secara langsung. Sebelum amandemen UUD 1945, pemilihan presiden dan wakil yang diadakan melalui sistem perwakilan yang dilakukan oleh anggota-anggota DPR.
KAJIAN KONSTITUSI INDONESIA DARI AWAL KEMERDEKAAN SAMPAI REFORMASI KONSTITUSI PASCA ORDE BARU Sartono, Kus Eddy
HUMANIKA Vol 8, No 1 (2008): Humanika, Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/hum.v8i1.21011

Abstract

Sejarah konstitusi Indonesia dapat dikatakan telah melewati berbagai  tahap perkembangan. Tiap tahap memunculkan model ketatanegaraan yang khas, sampai  karena trauma masa lalu terutama akibat praktek politik Orde Baru yang  menyalah gunakan konstitusi untuk tujuan kekuasaannya yang sentralistik dan otoriter, memunculkan ide untuk mengamandemen UUD 1945. Tahap perkembangan konstitusi di Indonesia dapat dikelompokkan menjadi beberapa periode.  Periode pertama berlaku UUD 1945, periode kedua berlaku Konstitusi RIS 1949, periode ketiga berlaku Undang-Undang Dasar Sementara 1950, Periode keempat berlaku kembali UUD 1945 beserta Penjelasannya. Setelah itu UUD 1945 diubah berturut-turut pada tahun 1999, 2000, 2001, 2002 dengan menggunakan naskah yang berlaku mulai 5 Juli 1959 sebagai standar dalam melakukan perubahan di luar teks yang kemudian dijadikan lampiran yang tak terpisahkan dari naskah UUD 1945.Mengamandemen konstitusi (undang-undang dasar) jelas bukan urusan sederhana. Sebab undang-undang dasar merupakan desains utama negara untuk mengatur berbagai hal fundamental dan strategis, dari soal struktur kekuasaan dan hubungan antar kekuasaan organ negara sampai hak asasi manusia.  Proses amandemen UUD 1945 terjadi secara bertahap selama empat kali. Ada berbagai kekurangan dalam empat tahap amandemen tersebut yang mendapat sorotan tajam diantara para pengamat, yang memunculkan ide perlunya dibentuk Komisi Konstitusi  yang akan membantu melakukan koreksi dan mengatasi kekurangan-kekurangan itu untuk amandemen mendatang.
ILMUWAN SOSIAL BERKARAKTER UNTUK INDONESIA BERKEMAJUAN Setiawan, Benni
HUMANIKA Vol 18, No 2 (2018): Humanika, Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/hum.v18i2.29236

Abstract

Social science is often considered the second caste in the current system, whereas social science provides a humanist face for humanity and nationality. Therefore social scientists need to convey their thoughts to proclaim the truth. Social scientists should have a distinctive character that makes it no less competitive with science and technology scientists. Social scientists have an important role in building Indonesia. This paper presents the exposure of the character of social humanities scientists to be able to contribute to humanitarian and national development. At least, there is one main character for a humanities social scientist plus three other characters. The main character for a social scientist is intelligent and morally puritanical. The second character for a social scientist is being wasathiyyah. The third character that social scientists need to have is being able to work with anyone. The fourth character is social scientists could build a center of excellence.Ilmu sosial seringkali dianggap kasta kedua dalam sistem saat ini, padahal ilmu sosial memberikan wajah humanis bagi kemanusiaan dan kebangsaan. Oleh karena itu ilmuwan sosial perlu menunjukkan pemikirannya untuk mewartakan kebenaran. Ilmuwan sosial selayaknya memiliki karakter khas yang menjadikannya tidak kalah saing dengan ilmuwan sains dan teknologi. Ilmuwan sosial mempunyai peran penting dalam membangun Indonesia. Tulisan ini mengemukakan paparan karakter ilmuwan sosial humaniora untuk dapat berkontribusi bagi pembangunan kemanusiaan dan kebangsaan. Setidaknya, ada satu karakter utama bagi seorang ilmuwan sosial humaniora ditambah tiga karakter lanjutan. Karakter utama bagi seorang ilmuwan sosial ialah cerdas berilmu dan puritan secara moral. Karakter kedua bagi seorang ilmuwan sosial adalah bersikap wasathiyyah. Karakter ketiga yang perlu dimilki oleh ilmuwan sosial adalah mampu bekerjasama dengan siapa pun. Karakter keempat adalah ilmuwun sosial dapat membangun pusat keunggulan.
AGAMA SEBAGAI BASIS TERCIPTANYA ETIKA GLOBAL Ismulyadi, C.B.
HUMANIKA Vol 13, No 1 (2013): Humanika, Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/hum.v13i1.3196

Abstract

Globalisasi secara umum merupakan bentuk keterbukaan dunia yang tidaklagi tersekat oleh wilayah administrasi negara, ideologi, agama, kultur budayamasyarakat dan keterpisahan geografi fisik tempat tinggal. Dunia bisa terbuka karenadipercepat oleh perkembangan teknologi komunikasi dan transportasi. Teknologitersebut dapat menembus batas berbagai sekat-sekat dunia manusia. Melalui saranateknologi informasi di jaman globalisasi pula, setiap orang bisa mendapatkan berita,baik dari hal yang paling dianggap tabu sampai yang paling suci sekalipun.Agama dipaksa masuk ke dalam dan berada dunia pusaran global. Karena itu,mekanisme pasar global harus juga dipelajari oleh agama-agama, jika agama-agamamasih ingin tetap eksis di dalam pusaran yang mahadahsyat ini. Sebagai contoh,meskipun pesan Kitab Suci esensinya tetap sama, masing-masing agama harus beranimerumuskan secara baru apa yang menjadi pesan Kitab Suci tersebut. Atau bila perlu,ada pembaruan ajaran-ajaran agama yang sudah tidak sesuai dengan sensitivitashumanisme kontemporer. Keberadaan agama di pusaran globalisasi menuntut sebuahpilihan. Pilihan ini tidak lain adalah ketika agama menentukan langkah yang tepat agarwajahnya, minimal mengakomodasai kerinduan dari roh zaman yang bertiup di erapasar bebas dan globalisasi.
PLURALISME HUKUM ISLAM, SEBUAH PEMBACAAN AWAL Setiawan, Benni
HUMANIKA Vol 12, No 1 (2012): Humanika, Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/hum.v12i1.3650

Abstract

Pluralisme meniscayakan adanya kesediaan antarpemeluk agama dan keagamaan untuk berdialog, saling berbicara, dan saling mendengar. Dialog yang dikembangkan bukan semata dialog teologi, tetapi juga dialog kehidupan, dialog kegiatan sosial, berbagi pengalaman keagamaan, dan do?a bersama. Hukum Islam berdiri di atas prinsip-prinsip yang harus dipertahankan secara absolut dan universal. Prinsip-prinsip tersebut adalah ajaran yang qath'i dan menjadi tolok ukur pemahaman dan penerimaan hukum Islam secara keseluruhan. Pluralisme hukum Islam (Islamic legal pluralism) penting dibahas untuk memberikan gambaran yang jelas mengenai makna dan interpretasi sesuai konteks zaman. Aturan-aturan dalam hukum Islam yang kelihatannya tidak sesuai dengan prinsip egaliter dan dan prinsip-prinsip lainnya, maka aturan tersebut harus dipahami sesuai dengan konteks realitas sosial yang melingkupinya dan memperhatikan fungsinya sebagai legal counter terhadap aturan-aturan hukum non-egaliter yang berlaku pada masa Jahiliyyah.   Kata kunci: pluralisme, hukum Islam
MENERAPKAN METODE COOPERATIVE LEARNING DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM Widodo, Syukri Fathudin Achmad
HUMANIKA Vol 6, No 1 (2006): Humanika, Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/hum.v6i1.3808

Abstract

Cooperative learning adalah metode pembelajaran dengan prinsip belajar untuk sukses bersama. Cooperative Learning biasa disebut dengan tutorial teman sebaya, artinya metode pembelajaran yang dilakukan dengan melibatkan siswa untuk saling membantu siswa yang lainnya. Cooperative learning sebagai salah satu alternatif metode pembelajaran dapat dijadikan pilihan bagi para pendidik mulai  jenjang pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi. Dengan cooperative learning diharapkan mahasiswa dapat meningkatkan hasil belajarnya dan interaksi sosial dengan sesamanya dapat terjalin dengan baik. Implementasi cooperative learning pada kelas akan merubah paradigma cara belajar dengan suasana tradisional yang berfokus pada kegiatan belajar mengajar yang berpusat pada dosen menjadi kegiatan belajar mengajar yang berpusat pada mahasiswa. Dengan demikian, diharapkan penguasaan pengetahuan dan keterampilan mahasiswa menjadi lebih baik selain  juga mengembangkan tanggung jawab, pemahanan pengetahuan, empati, dan interaksi sosial dengan sesama siswa lainnya, sehingga pendidikan berbasis mutu tidak hanya sebagai konsep tetapi juga perbaikan berkelanjutan dalam pendidikan menuju ke arah lebih baik. Tujuan Pendidikan Agama Islam lebih merupakan suatu upaya untuk membangkitkan intuisi agama dan kesiapan rohani dalam mencapai pengalaman transendental. Dengan demikian tujuan utamanya bukanlah sekedar mengalihkan pengetahuan dan keterampilan (sebagai isi pendidikan), melainkan lebih merupakan suatu ikhtiar untuk menggugah fitrah insaniyah (to stir up certain innate powers), sehingga mahasiswa bisa menjadi penganut atau pemeluk agama yang taat dan baik (Muslim paripurna). Sedangkan pendidikan pada umumnya, bertujuan lebih menitikberatkan pada pemberian pengetahuan dan ketrampilan khusus dan secara ketat berhubungan dengan pertumbuhan serta pemilahan areal kerja yang diperlukan dalam masyarakat. Dalam hal ini hubungan interaksi lebih bersifat kognitif-psikomotorik, dan kurang banyak menyentuh kealaman rohani serta sifat-sifat watak kepribadian manusia.
ETIKA SOSIAL DALAM KERUKUNAN UMAT BERAGAMA (STUDI KASUS DI DESA KOTESAN KECAMATAN PRAMBANAN KABUPATEN KLATEN JAWA TENGAH) Dermawan, Andy; Nadia, Zunly
HUMANIKA Vol 15, No 1 (2015): Humanika, Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/hum.v15i1.7641

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengungkap lebih dalam fungsi etika sosial yang berlakudi dalam masyarakat Kotesan yang tidak hanya memegang teguh ajaran agama tetapi juga etikasosial di dalam bermasyarakat yang terwujud dalam kerukunan umat beragama di DesaKotesan, Prambanan, Klaten, Jawa Tengah. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatifdengan pendekatan sosio-antropologis, yakni mencermati fenomena sosial-budaya yangberkembang di Kotesan sekaligus dan mencaritahu bagaimana masyarakat tersebut memaknaifenomena itu. Setting penelitian adalah Desa Kotesan, Kecamatan Prambanan, KabupatenKlaten, Provinsi Jawa Tengah yang merupakan masyarakat multikultural dari aspek keyakinanagama. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara mendalam dan Focus GroupDiscussion (FGD). Teknik analisis data menggunakan analisis interaktif berupa reduksi data,penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan etika sosialmasyarakat desa Kotesan mempunyai signifikansi besar dalam rangka merajut hubungan sosialdan pengelolaan konflik yang ada di dalam masyarakat. Etika sosial yang terbangun di desaKotesan disebabkan oleh adanya persamaan konsepsi tentang ajaran leluhur yang menuntuthidup rukun, aman dan damai serta sebagai simbol kesetiaan dan kepatuhan dalam memeliharadan menjaga warisan leluhur yang mereka takzimi. Secara faktual menunjukkan tidak adapemisahan yang signifikan antara warga muslim dan warga yang nonmuslim di desa Kotesan,dalam pengertian tidak ada daerah muslim, daerah Kristen dan daerah Budha. Meski berbedabedaagama, tetapi mereka merasa berasal dari satu nenek moyang yang sama, merasa masihsatu darah atau keturunan. Sikap toleransi menjadi kunci bagi masyarakat Kotesan yang hidupdalam suasana harmonis.Meski diakui, sikap toleransi ini juga menyebabkan perpindahanagama (konversi agama) menjadi hal yang biasa.Kata kunci: Agama, Sosio-budaya, Etika Sosial dan Multikulturalisme
HOLISTIKA PEMIKIRAN TENTANG PEMBINAAN KARAKTER BERBASIS NILAI-NILAI ISLAM BAGI SISWA OPEN SCHOOL Usman, Abd Malik
HUMANIKA Vol 17, No 2 (2017): Humanika, Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/hum.v17i1.18567

Abstract

Pendidikan adalah ikhtiar memasukkan anak ke dalam nilai nilai, dan jugamemasukkan dunia nilai ke dalam jiwa anak. Islam sebagai system way of life yangsempurna menjadi sumber nilai yang ditransformasikan melalui pendidikan danpembinaan karakter bagi siswa open shcool, agar kelak menjadi generasi penerus umat danbangsa yang berkarakter unggul secara intelektual dan anggun secara moral yangtermanifestasikan pada aspek thinking, feeling, and action (berpikiran baik, berhati muliadan berperilaku terpuji), sebagai modal untuk membangun bangsa yang multikultural,serta meningkatkan peradaban bangsa yang kompetitif dalam percaturan global. Education is an effort to assimilate children into values, and also incorporate the world ofvalues into the soul of the child. Islam as a perfect way of life becomes a source of valuethat is transformed through education and character building for open shcool students, sothat later it will become the next generation of people and nations who are morallysuperior and gracefully characterized by manifestations of thinking, feeling and action(good-minded, noble and commendable behavior), as a capital to build a multiculturalnation, and to increase competitive national civilization in the global arena.
TUHAN DAN ALAM PIKIRAN ANAK Syamsudin, Amir
HUMANIKA Vol 8, No 1 (2008): Humanika, Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/hum.v8i1.21004

Abstract

Konsep ketuhanan pada anak sangat terkait erat dengan perkembangan moralitas anak. Perkembangan moralitas anak juga terkait erat dengan perkembangan kognitif anak. Semakin matang perkembangan kognitif anak, maka semakin matang pula perkembangan moralitas anak. Demikian pula semakin matang perkembangan moralitas anak, maka semakin jelas pula konsep ketuhanan dalam alam pikiran anak.Tahap perkembangan kognitif anak usia 0-7 tahun adalah sensorimotor dan pra-operasional. Tahap perkembangan moral anak usia 0-7 tahun adalah pra-moral, tidak dapat membedakan baik dan buruk. Tahap perkembangan konsep ketuhanan pada anak usia 0-6 tahun bersifat kongkrit. Tahap perkembangan konsep ketuhanan pada anak usia 6-10 tahun bersifat personifikatif, yaitu orang dewasa dianggap sebagai tuhan karena ialah yang memberikan hukuman kepada anak yang nakal dan memberikan pujian kepada anak yang patuh.

Page 1 of 11 | Total Record : 110