cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Interaksi Online
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science, Social,
Jurnal Interaksi Online adalah jurnal yang memuat karya ilmiah mahasiswa S1 Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP Undip. Interaksi Online menerima artikel-artikel yang berfokus pada topik yang ada dalam ranah kajian Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosial
Arjuna Subject : -
Articles 978 Documents
EFEKTIFITAS TERPAAN IKLAN APLIKASI INSTANT MESSENGER LINE DI TELEVISI DAN FAKTOR DEMOGRAFIS TERHADAP MINAT MENGUNDUH Yunarto, Aprilla Agung; Rakhmad, Wiwid Noor; Rahardjo, Turnomo; Herieningsih, Sri Widowati
Interaksi Online Vol 4, No 1: Januari 2016
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan teknologi berdampak secara tidak langsung terhadap industri aplikasi instant messenger di Indonesia. Para pengembang / developer berusaha melakukan kegiatan pemasaran dengan tujuan produknya dapat diterima oleh konsumen. Line sebagai aplikasi instant messenger pendatang baru di Indonesia juga berusaha menarik perhatian konsumen salah satunya melalui cara iklan di media televisi. Namun, minat mengunduh masyarakat terhdap Line nampaknya masih kalah dengan para kompetitornya yang lebih dulu terjun di industri ini. Maka dari itu, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji seberapa besar efektifitas terpaan iklan aplikasi instant messenger Line di televisi dan faktor demografis terhadap minat mengunduh aplikasi instant messenger Line. Model Pemrosesan Informasi, Teori Kategori Sosial dan Model Sosial Budaya digunakan untuk menjelaskan efektifitas terpaan iklan aplikasi instant messenger Line di televisi dan faktor demografis terhadap minat mengunduh aplikasi instant messenger Line. Populasi dalam penelitian ini adalah masyarakat yang mempunyai smartphone dan mengunduh Line yang terterpa iklan aplikasi instant messenger Line di televisi yang diambil sebanyak 50 orang, dengan teknik purposive sampling.Analisis Regresi Linear Berganda digunakan untuk melakukan uji hipotesis. Uji hipotesis menunjukkan nilai t variabel terpaan iklan aplikasi instant messenger Line di televisi adalah 3,644 atau lebih besar dari t tabel (2,012), sehingga terpaan iklan aplikasi instant messenger Line di televisi mempengaruhi minat mengunduh aplikasi instant messenger Line. Sedangkan, nilai t variabel faktor demografis adalah 2,197 atau lebih besar dari t tabel (2,012), sehingga faktor demografis mempengaruhi minat mengunduh aplikasi instant messenger Line. Untuk mengetahui pengaruh antara semua variabel bebas terhadap variabel terikat dilakukan uji F dimana nilai F hitung sebesar 11,732 atau lebih besar dari F tabel (3,195), sehingga variabel terpaan iklan aplikasi instant messenger Line di televisi dan faktor demografis bersama-sama mempengaruhi minat mengunduh aplikasi instant messenger Line.Variasi variabel dependen yang dapat dijelaskan oleh kedua variabel independen adalah sebesar 33,3%, dimana sumbangan efektif dari variabel terpaan iklan aplikasi instant messenger Line di televisi sebesar 25,93% dan variabel faktor demografis menyumbang sebesar 7,39%.
BEAUTY REPRESENTATION (SEMIOTIC ANALYSIS OF ROLAND BARTHES IN RACHEL GODDARD YOUTUBE ACCOUNT) Wening Anindya, Afrilia; Ratri Rahmiaji, M.Si, Dr. Lintang
Interaksi Online Vol 5, No 2: April 2017
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research was started from beautiful meaning that remains a problem for women and still debated to this day. Rapid technological development, until the advent of vlog makes the concept of beauty changes. One of vlogger that discusses about beauty on her YouTube account is Rachel Goddard. She presents vlog about makeup tutorials, tips on caring for the body and face, also reviews on beauty products through her youtube account. The aim of this research is to know the beauty representation based on Semiotic analysis and also to dismantle the myth of what was built by Rachel Goddard. In analyzing vlog about beauty tutorials titled "Learning Makeup For Beginners" in the Rachel Goddard YouTube account, the writer using semiotic researchers from Roland Barthes. The first conclusion of this research is beauty representation still refer to the same criteria, but with the development of technology, beauty criteria has expanded. Beauty criteria that have expanded is thick and tidy eyebrows; big and colorful eyelids; curly, thick, and long eyelashes; eyes that look big; under eye that look bright; flawless, smooth, and perfect face; rosy cheeks; and colored lip in order not to look pale. The second conclusion of this research is beauty criteria still oriented to the western culture. This is evidenced by the figure of Rachel Goddard who became a model in the vlog also many makeup products and foreign language vocabulary that she used.
PEMBUATAN WEBSITE MAGAZINE “IKILHO” BEKERJASAMA DENGAN EKSPRESI SUARA REMAJA ( DIVISI REPORTER, VIDEOGRAFER DAN VIDEO EDITOR) Karamina, Renis Susani; Ulfa, Nurist Surayya; Widagdo, M Bayu; Nugroho, Adi
Interaksi Online Vol 3, No 1: Januari 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Internet saat ini menjadi media baru di dalam dunia jurnalistik. Masyarakat modern khususnya kalangan remaja sering kali menggunakan internet dalam mencari informasi, begitu pula dengan anak remaja di kota Semarang yang membutuhkan informasi seputar gaya hidup atau informasi-informasi apapun tentang kota Semarang. Dengan melihat peluang tersebut website magazine Ikilho hadir untuk memberikan informasi-informasi seputar kota Semarang dengan gaya remaja.Pada website magazine Ikilho, Seorang reporter bertugas sebagai pencari berita-berita menarik yang akan diangkat ke website sebelum di edit oleh sang editor. Selain itu dalam Website Magazine Ikilho juga terdapat videografer dan juga video editor. Videografer bertugas mengambil video untuk beberapa rubrik Ikilho, sedangkan video editor bertugas untuk mengedit hasil pengambilan video dari sang videografer untuk dikemas agar lebih bagus untuk dilihat para pengunjung website. Pada saat pelaksanaan berlangsung, ada beberapa hambatan yang dihadapi oleh Reporter, Videografer dan juga Video editor mulai dari perubahan perencanaan isi berita untuk reporter, cahaya dalam pengambilan gambar untuk videografer dan juga teknis pengeditan untuk sang video editor. Dari hasil pasca riset yang dilakukan, banyak nya pengunjung yang puas dengan isu berita dan juga dengan video-video yang disertakan di beberapa rubrik Website Magazine Ikilho. Namun ada beberapa pula yang kurang puas dengan isu berita yang diliput oleh sang reporter, namun hal tersebut adalah sebuah masukan untuk website magazine Ikilho agar lebih baik kedepannya.Kata kunci : Website Magazine, Lifestyle, Internet, Semarang, Reporter, Videografer, Video Editor, Karya Bidang.
REPRESENTASI KEKUASAAN PEREMPUAN DALAM FILM THE INCREDIBLES 2 Rafif Sujatmoko, Muhammad; Widagdo, M.Bayu
Interaksi Online Vol 7, No 3: Agustus 2019
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Film as a media is one of the medium to understand about power ideology in gender through woman and man representation. Character building in action Hollywood film usually depict woman as complement and decoration for the male lead character. This research?s aim was to know about the standpoint used for representing woman power in a film that uses a female lead character. This research was a descriptive-qualitative research with Critical Discourse Analysis by Sara Mills. First, character analysis was conducted to unearth the depiction of female character through apeareance and role. Second, fragmentation analysis was conducted in which female body was reduced to certain fragments to see how female was represented in film media. Third, focalization analysis to determine the posision of female character from dialog aspect. Fourth, schemata analysis to show the power ideology of female character. The outcome from this research showed that female power was represented through a female lead character using a male standpoint. Based on the appeareance and personality, the female lead character used the element of power that can be associated with male characteristics and traits such as dominance, brave, asertive, and resistance that were far from femininity. The fragmentation of masculine female was represented through her leg and chest as signs of physical power and bravery. In the other side, the character was also represented through the face, back, hips, and buttocks as signs of sexual appeal. The standpoint of power was shown through the dominance with other characters which was narrated with masculine traits stylistic. To sum up, There was a connection found in schemata analysis that shown there was influence of male standpoint in representation of female power in the film.
UNDERSTANDING COMMUNICATION EXPERIENCE BETWEEN TEACHER AND STUDENT WITH VISUAL IMPAIRMENT IN THE FORMATION OF SELF- CONCEPT Putri Arifiana, Kholita; Noor Rakhmad, M.Si, Wiwid
Interaksi Online Vol 4, No 2: April 2016
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Student with visual impairnment are children who have limited eyesight so he was not able to learn something by looking at it directly. Blind students enriching experiences through the rest of its senses. They can not understand exactly an abstract concept. Limitations sense of vision experienced by visually impaired students bring a certain impact inside the blind. The impact what happens to students is one of the emergence of certain properties shown their students as a way to show his existence. That if left unchecked will affect the students' self-concept for what could be done to encourage students into the negative behavior that will form a negative self concept anyway. This study uses qualitative descriptive type with a phenomenological approach. This study seeks to explain how the communication experience of teachers and students with visual impairment in the formation of self-concept. This study uses the Coordinated Management theory that explains how the meaning of the stages of delivering a message to a message can be interpreted together. Based on the research results indicate that a teacher has to understand that blindness can lead their particular behaviors that can affect the self-concept of the blind students. Communication problems experienced by teachers in educating the blind is on how so that students can interpret the exact message delivered even without involving the sense of sight. How do teachers in providing knowledge and the formation of self-concept in visual impairment was with verbal explanations orally using easily understood language blind students. Intonation is also important to note because the intonation blind students will easily understand the emotions interlocutors. The communication process teachers and students with visual impairment in build self-concept is make approach with students, then understand character each student to understand the positive and negative of these students then provide guidance or counseling if negative behaviors begin to emerge.
HUBUNGAN INTENSITAS MENONTON FILM ANIMASI DAN PERAN ORANGTUA SEBAGAI GATEKEEPER TERHADAP TINGKAT AGRESIVITAS ANAK Ardianto, Marcia Julifar; Pradekso, Tandiyo; Herieningsih, Sri Widowati
Interaksi Online Vol 2, No 1: Januari 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hubungan Intensitas Menonton Film Animasi dan Peran Orangtua SebagaiGatekeeper terhadap Tingkat Agresivitas AnakABSTRAKSaat ini banyak film animasi yang ditayangkan untuk anak-anak dan pada jammenonton anak. Film animasi tersebut tidak hanya ditayangkan di televisi nasional saja,bahkan televisi berlangganan pun mempunyai beberapa channel yang khususmenayangkan film animasi. Akan tetapi, tidak semua film animasi mengandung muatanpositif. Film animasi yang mengandung muatan-muatan negatif, dikhawatirkan dapatmemicu perilaku agresif pada anak. Faktor yang mempengaruhi tingkat agresivitas anakantara lain intensitas menonton film animasi dan peran orangtua sebagai gatekeeper.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara intensitasmenonton film animasi terhadap tingkat agresivitas anak yang disertai dengan peranorangtua sebagai gatekeeper. Teori yang digunakan adalah teori belajar sosial (sociallearning theory) dan parental mediation theory. Tipe penelitian yang digunakan dalampenelitian ini adalah tipe eksplanatori dengan pendekatan metode penelitian kuantitatif.Populasi penelitian ini adalah anak sekolah dasar kelas 4, 5, dan 6 di kota Semarang.Teknik pengambilan sampel menggunakan multistage random sampling dengan sampelsebanyak 73 responden.Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang positif antaraintensitas menonton film animasi terhadap tingkat agresivitas anak dengan signifikansi0,04 dan terdapat hubungan yang negatif antara peran orangtua sebagai gatekeeperterhadap tingkat agresivitas anak dengan signifikansi 0,521. Akan tetapi terdapathubungan yang positif antara intensitas menonton film animasi dan peran orangtuasebagai gatekeeper terhadap tingkat agresivitas anak dengan signifikansi 0,021.Persentase sumbangan variabel intensitas menonton film animasi dan variabel peranorangtua sebagai gatekeeper terhadap variabel tingkat agresivitas anak sebesar 10,4%.Saran bagi Komisi Penyiaran Indonesia, hendaknya bisa membatasi penayanganfilm animasi yang mengandung muatan negatif. Bagi penelitian selanjutnya disarankanuntuk melakukan penelitian dengan variabel yang berbeda, misalnya intensitaskomunikasi interpersonal, pola asuh orangtua, atau faktor demografis, karenavariabel-variabel tersebut dimungkinkan bisa mempengaruhi tingkat agresivitas anak.Kata kunci : intensitas menonton film animasi; peran orangtua sebagai gatekeeper;tingkat agresivitas anakABSTRACTToday there?s a lot of animated films are aired for the children and in thechildren?s spare time. The animated film is not only aired on national television,but also in subscription television that have channels that broadcast animatedfilms. However, not all animated films contains positive values. Animated filmsthat contained negative values, it is feared could trigger aggressive behavior inchildren. Factors that affected the level of children?s aggressivity include theintensity of watching animated films and the parent?s role as gatekeeper.The purpose of this study was to recognize the relationship between theintensity of watching the animated films and the parent?s role as gatekeeper andthe level of children?s aggressivity. The theory that is used is the social learningtheory and parental mediation theory. This type of research used in this study isthe explanatory type with quantitative research method approach. The populationof this research were primary school childrens grades 4, 5, and 6 in Semarang.The sampling technique was multistage random sampling with the sample of 73respondents.The results showed that there was a realtionship between the intensity ofwatching the animated movie and the level of children?s aggresivity with asignificance level of 0,04, and also a relationship between the parent?s role asgatekeeper and the level of children?s aggressivity with a significance level of0,521. However, there?s a relationship between the intensity of watching animatedmovie and the parent?s role as gatekeeper and the level of children?s aggresivitywith a significance level of 0.021. The contribution from independence variableand intervening variable toward dependence variable are 10,4%The suggestion for Komisi Penyiaran Indonesia is to limit the animatedfilms with negative values. To the next research, it is suggested to do a researchwith different variables, such as interpersonal communication intensity, parent?sparenting method, or children?s demographic factors, because these variables canalso influence the level of children?s aggressiveness.Keywords: the intensity of watching the animated films;parent?s role asgatekeeper; levels of children?s aggressivity1. PENDAHULUANFilm animasi merupakan tayangan TV bergenre program anak yang mempunyaipersentase paling besar dibandingkan tayangan anak lainnya. Ironisnya, tidaksedikit film animasi yang ditayangkan mengandung lebih banyak muatan negatif,seperti kekerasan, mistik, dan seks.Menurut Yayasan Pengembangan Media Anak (YPMA) terdapat tigakategori tayangan televisi untuk anak, yaitu : a). Aman: kategori tayangan yangtidak hanya menghibur bagi anak, tapi juga memberikan manfaat lebih, sepertipendidikan, motivasi, mengembangkan sikap percaya diri dan penanamannilai-nilai positif dalam kehidupan (persahabatan, penghargaan terhadap dirisendiri dan orang lain, kejujuran). b). Hati-hati : tayangan yang relatif seimbangantara muatan positif dan negatif. c). Bahaya : tayangan yang mengandung jauhlebih banyak muatan negatif daripada muatan positif.Di Indonesia pada tahun 2010, menurut YPMA tayangan anak berlabelmerah masih 30%, idealnya 70% adalah aman, padahal angka 30% tersebut belumtermasuk tayangan berkategori hati-hati. Menurut Wayne Danielson dalamNational Television Violence Study 1995-1997, disimpulkan bahwa anak-anaklebih rawan daripada orang dewasa ketika menonton kekerasan. Anak-anak yangmemiliki kecenderungan untuk meniru apa yang dilihat, mempunyaikemungkinan untuk meniru adegan kekerasan di televisi (Vivian, 2008 : 487).Salah satu penyebab anak melakukan kekerasan, menurut Ketua KomnasPerlindungan anak adalah adegan kekerasan yang dipertontonkan pada anak.Adegan kekerasan tersebut menjadi role model bagi anak yang kemudiandiaplikasikan anak dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini dikarenakan anak senangmeniru apa yang dilihatnya(http://m.merdeka.com/jakarta/tawuran-pelajar-dampak-adegan-kekerasan-yang-dilihat-remaja.html. diakses pada tanggal 12 April 2013).Orangtua sebagai pembimbing anak saat menonton televisi sangatlahpenting. Orangtua perlu menyeleksi program-program, menghidupkan hanya padaacara tertentu, melakukan diet televisi, juga mengajari anak untuk mengkritisiacara yang ada di televisi. Selain itu, orangtua pun harus tahu banyak mengenaiacara apa saja yang berkaitan dengan anak (Hidayati, 1998 : 90). Peran orangtuasebagai gatekeeper dilihat sebagai penyaring dan pengontrol tayangan televisiyang ditonton anak. Gatekeeper dapat berupa seseorang atau sekelompok yangdilalui suatu pesan dalam perjalanannya dari pengirim ke penerima. Fungsi utamagatekeeper adalah menyaring pesan yang diterima seseorang (DeVito, 1997:530).Hal ini dapat dilakukan orangtua dengan memberi batasan mana yang ditontonoleh anak dan mana yang tidak, serta mendampingi dan memberi penjelasanmengenai adegan atau peristiwa yang ada dalam film kepada anak.Perumusan masalahApakah terdapat hubungan antara intensitas menonton film animasi dan peranorang tua sebagai gatekeeper dengan tingkat angresivitas anak-anak?Tujuan penelitianUntuk mengetahui hubungan intensitas menonton film animasi dan peranorangtua sebagai gatekeeper dengan tingkat agresivitas anak.Kerangka teoriTeori belajar sosial oleh Bandura mengatakan bahwa kita belajar denganmengamati apa yang dilakukan oleh orang lain. Melalui belajar observasi(modeling atau imitasi), kita secara kognitif mempresentasikan tingkah laku oranglain dan kemudian mungkin meniru tingkah laku tersebut (Santrock, 2003 : 53).J. L. Singer menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara parentalmediation, tingkat agresivitas anak, dan seringnya anak menonton televisi. Anakprasekolah yang jarang menonton televisi menunjukkan tingkat agresivitas danparental mediation yang rendah. Anak yang sering menonton televisi denganorangtua yang melakukan parental mediation menunjukkan tingkat agresivitasyang lebih rendah daripada anak yang sering menonton televisi dengan orangtuayang jarang melakukan parental mediation (Moeller, 2001 : 144).Parental mediation merupakan mediasi yang dilakukan orangtua pada anakmengenai televisi. Parental mediation diuraikan sebagai salah satu cara yangpaling efektif dalam mengatur pengaruh televisi pada anak. Terdapat tiga bentukparental mediation menurut Nathanson (Mendoza, 2009 : 30), antara lain:Coviewing mediation (orangtua menonton televisi dengan anak tanpa adanyadiskusi), Restrictive mediation (orangtua menetapkan aturan dan batasan padakonsumsi televisi anak, termasuk jenis program dan isi dari televisi), Activemediation (orangtua mendiskusikan dengan anak mengenai apa yang dilihat ditelevisi).Geometri Hubungan Antar VariabelHipotesis· Terdapat hubungan yang positif antara intensitas menonton film animasi(X1) terhadap tingkat agresivitas anak (Y). Semakin tinggi intensitasmenonton film animasi akan menyebabkan semakin tingginya tingkatagresivitas anak.· Terdapat hubungan yang positif antara peran orangtua sebagai gatekeeper(X2) terhadap tingkat agresivitas anak (Y). Semakin tinggi peran orangtuasebagai gatekeeper akan menyebabkan semakin rendahnya tingkatagresivitas anak.· Terdapat hubungan yang positif antara intensitas menonton film animasi(X1) dan peran orangtua sebagai gatekeeper (X2) terhadap tingkatagresivitas anak (Y).MetodologiTipe / jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksplanatori.Populasi dalam penelitian ini adalah anak sekolah dasar kelas 4, 5 dan 6 di kotaSemarang yang tersebar di 16 subrayon. Untuk penelitian ini menggunakanmultistage random sampling dengan teknik pengambilan sampel menggunakansimple random sampling, jumlah sampel yang diperoleh adalah 73 siswa.INTENSITASMENONTON FILMANIMASI (X1)PERAN ORANGTUASEBAGAIGATEKEEPER (X2)TINGKATAGRESIVITASANAK(Y)2. HASIL PENELITIANFrekuensi Menonton Film Animasi Durasi Menonton Film AnimasiIndikator Peran Orangtua Sebagai GatekeeperPeran Orangtua Sebagai Gatekeeper Tingkat Agresivitas Responden3. PEMBAHASANHubungan X1 dengan YPengujian adanya hubungan intensitas menonton film animasi (X1) terhadaptingkat agresivitas anak (Y) didasarkan pada nilai korelasi yang diperoleh yaitu0,311, nilai korelasi mendekati angka 1 dengan signifikansi yang diperoleh, yaitusebesar 0,04, yang artinya lebih kecil dari 0,05, maka Ho ditolak. Sehinggahipotesis yang menyatakan bahwa intensitas menonton film animasi berpengaruhterhadap tingkat agresivitas anak diterima.Hubungan X2 dengan YPengujian adanya hubungan intensitas menonton film animasi (X1) terhadaptingkat agresivitas anak (Y) didasarkan pada nilai korelasi yang diperoleh yaitu -0,073, nilai korelasi mendekati angka 0, menunjukkan hubungan yang lemah.Signifikansi yang diperoleh, yaitu sebesar 0,521, yang artinya lebih besar dari0,05, maka Ho diterima. Sehingga hipotesis yang menyatakan bahwa peranorangtua sebagai gatekeeper berpengaruh terhadap tingkat agresivitas anakditolak.Hubungan X1 dan X2 dengan YPengujian adanya pengaruh intensitas menonton film animasi dan peran orangtuasebagai gatekeeper terhadap tingkat agresivitas anak didasarkan pada signifikansiyang diperoleh, yaitu sebesar 0,021. Karena signifikansi < 0,05, maka Ho ditolak.Sehingga hipotesis yang menyatakan bahwa intensitas menonton film animasi danperan orangtua sebagai gatekeeper berpengaruh terhadap tingkat agresivitas anakditerima. persentase sumbangan pengaruh variabel intensitas menonton filmanimasi dan peran orangtua sebagai gatekeeper terhadap variabel tingkatagresivitas anak sebesar 10,4%. Sedangkan sisanya dipengaruhi oleh variabel lainyang tidak dimasukkan dalam model penelitian ini.4. PENUTUPSimpulan1. Terdapat hubungan yang positif antara intensitas menonton film animasi (X1)terhadap tingkat agresivitas anak (Y). Semakin tinggi intensitas menontonfilm animasi, menyebabkan semakin tingginya tingkat agresivitas anak.2. Terdapat hubungan yang negatif antara peran orangtua sebagai gatekeeper(X2) terhadap tingkat agresivitas anak (Y). Tingkat agresivitas anak rendahwalaupun parental mediation yang dilakukan orangtua rendah.3. Terdapat hubungan yang positif antara intensitas menonton film animasi (X1)dan peran orangtua sebagai gatekeeper (X2) terhadap tingkat agresivitas anak(Y). Semakin tinggi intensitas menonton film animasi, semakin tinggi tingkatagresivitas anak, apabila peran orangtua sebagai gatekeeper rendah.SaranSecara teoriris, disarankan tidak hanya meneliti mengenai hubungan, tetapi jugapengaruh intensitas menonton film animasi. Peneliti selanjutnya juga bisamenambahkan variabel yang berbeda, misalnya intensitas komunikasiinterpersonal, pola asuh orangtua, atau faktor demografis, karena variabel-variabeltersebut dimungkinkan bisa mempengaruhi tingkat agresivitas anak.Secara praktis, untuk Komisi Penyiaran Indonesia adalah supaya bisa membatasipenayangan film animasi yang mengandung muatan negatif, dan memberikanklasifikasi tayangan pada film animasi yang ditayangkan.Secara sosial, untuk masyarakat khususnya orang tua agar lebih waspada terhadaptontonan anak, khususnya film animasi. Orangtua harus bisa memperhatikaninformasi yang dikonsumsi melalui program televisi beserta dampak negatifnyapada anak dengan memberikan bimbingan pada anaknya (parental mediation).Bagi orang tua yang memiliki kesibukan karena bekerja, sehingga tidak memilikiwaktu untuk selalu bisa menemani anak menonton televisi, sebaiknya bimbingankepada anak tetap dilakukan dengan melakukan restrictive mediation yaitumemberi aturan-aturan pada anak mengenai tayangan televisi. Selain itu, orangtuadapat melakukan coviewing mediation dan active mediation pada hari libur,seperti sabtu dan minggu.5. DAFTAR PUSTAKADeVito, Joseph. 1997. Komunikasi Antar Manusia. Jakarta : Profesional BooksHidayati, Arini. 1998. Televisi dan Perkembangan Sosial Anak. Yogyakarta :Pustaka PelajarMendoza, Kelly. 2009. Journal of Media Literacy Education : Surveying ParentalMediation: Connections, Challenges and Questions for MediaLiteracyMoeller, Thomas G. 2001. Youth Aggresion and Violence: A PsychologicalApproachSantrock, John W. 2003. Adolescence : Perkembangan Remaja, Edisi 6. Jakarta :ErlanggaSilalahi, Laurel Benny Saron. 2012. Tawuran Pelajar, Dampak Adegan Kekerasanyang Dilihat Remaja dalamhttp://m.merdeka.com/jakarta/tawuran-pelajar-dampak-adegan-kekerasan-yang-dilihat-remaja.html . Diakses pada tanggal 12 April 2013Vivian, John. 2008. Teori Komunikasi Massa, Edisi Kedelapan. Prenada MediaGroup
HUBUNGAN TERPAAN IKLAN, PROMOSI PENJUALAN DENGAN KEPUTUSAN PEMBELIAN PRODUK INDIHOME PT.TELKOM INDONESIA Cita Mahardini, Natasya; Widowati Herieningsih, Sri
Interaksi Online Vol 6, No 3: Juli 2018
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

In the midst of competition ruling the internet (provider), causing companies such as Telkom Group to step business strategy development to get the target. Through advertising and sales promotion gave rise an attitude to the consumers to decide to buy the product. The purpose of this study is to determine the relationship of advertising exposure and sales promotion with the purchase decision of Indihome products. The study population is a consumer who has been hit by Indihome ads. While, the sample of research taken as many as 60 respondents with age range 19-50 years. Based on the hypothesis test conducted using Chi-Square correlation analysis, it shows the result that: Firstly, The score of signification and correlation that are has after do a test with SPSS formula: Chi-Square, is gotten the score of signification amount 0,000. While the score that shows which the cell of expected count below 5 out of 3 cell (37,5% > 20%) and the lowest expected count is 0,47. Thus, that shows the result can?t be solved. Secondly, the score of signification and correlation that are has after do a test with SPSS formula: Chi-Square, is gotten the score of signification amount 0,000. While the score that shows which the cell of expected count below 5 out of 3 cell (37,5% > 20%) and the lowest expected count is 2,10. Thus, that shows the result can?t be solved.
STRATEGIC COMMUNICATION MUSEUM KERETA API AMBARAWA DIVISI COMMUNICATION ( HUMAS ) Maisyarah, Hilda; Pradekso, Tandiyo; Widagdo, M Bayu; Setyabudi, Djoko
Interaksi Online Vol 3, No 4: Oktober 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Karya bidang ini dilatarbelakangi oleh kurangnya promosi museum kereta api Ambarawa yang merupakan aset sejarah yang memiliki potensi pariwisata di Jawa Tengah. kurangnya informasi yang didapat oleh masyarakat mengenai museum ini membuat aset sejarah yang merupakan tempat wisata yang hanya 3 di dunia ini membuat kurangnya masyarakat untuk mengunjungi tempat ini. Divisi komunikasi melakukan tujuan untuk menyebarkan informasi akan museum Kereta Api Ambarawa melalui beberapa media dan menjalin relasi dengan komunitas. Berdasarkan teori magic bullet theory (teori peluru), dilakukan pengiriman satu arah mengenai museum kereta api Ambarawa dari single point oringin terhadap khalayak yang diinginkan Selain itu, divisi komunikasi bertugas melakukan dealing dengan media.Kegiatan ini diangkat dalam Strategic Communication Museum Kereta Api Ambarawa, guna meningkatkan informasi kepada masyarakat dan mendapatkan publisitas dari media.Kegiatan ini dilaksanakan selama 1 bulan dan berhasil mendapatkan publisitas total 30 publikasi dari 17 perusahaan media dengan rincian 11 media cetak lokal, 2 media eletronik dan 18 media online. Kegiatan promosi berhasil dilakukan dengan menggunakan 3 media cetak, elektronik dan online melalui 7 media partner. Berhasil melakukan relasi kepada 5 komunitas yang berkaitan dengan kereta api, budaya dan fotografi serta mampu menyebarkan informasi lewat akun sosial media komunitas tersebut. Selain itu, Karya bidang ini menunjukkan bahwa ?Strategic Communication Museum Kereta Api Ambarawa ?Sepoorheroes? berhasil dilakukan.
REPRESENTASI ISLAM DALAM FILM TANDA TANYA “?” Herdini, Geta Ariesta; Suprihatini, Taufik; Rahardjo, Turnomo
Interaksi Online Vol 2, No 2: April 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang Film Tanda Tanya ??? menceritakan tentang kehidupan beberapa keluargadengan konflik yang berbeda. Konflik-konflik yang ditayangkan yaitu seputarpermasalahan antar etnis dan agama. Diperankan oleh Revalina S Temat (Menuk),Reza Rahardian (Soleh), Rio Dewanto (Ping Hen / Hendra), Hengky Sulaeman (TanKat Sun), Agus Kuncoro (Surya), dan Endhita (Rika).Film Tanda Tanya ??? merupakan sebuah film yang mengangkat tentangmasalah sosial dalam kehidupan masyarakat multi agama dan etnis. Di film inidiceritakan tentang kehidupan suatu kelompok masyarakat yang didalamnya terdapatkeluarga-keluarga dengan latar belakang agama dan kepercayaan yang berbeda,mereka hidup berdampingan dalam suatu struktur masyarakat. Dalam film ini adaadegan perpindahan agama, percintaan beda agama, ada kritik keberagama-an,pembunuhan seorang pastor, ada juga upaya teroris untuk mem-bom gereja, sertapermusuhan antar ras, dan semua itu disajikan dengan gamblang tanpa ada yangditutup-tutupi.Dalam dunia perfilman Indonesia hal-hal yang menyinggung tentang SARAmerupakan hal yang tabu dan sensitif untuk dibahas dan diangkat ke dalam suatufilm. Di dalam Film Tanda Tanya ini akan lebih banyak kita jumpai adegan tentangkehidupan antar umat beragama satu dengan yang lainnya, khususnya antara umatmuslim dengan umat beragama lain. Setiap tokohnya dipastikan memiliki perananadegan dan dialog yang bersentuhan dengan Islam. Sayangnya hampir sebagian besardari adegan dan dialog tersebut mengandung kontroversi dan menuai banyak protesdari para pemuka agama Islam.Banyak yang menganggap bahwa Film ini adalah sesat karena didalamnyatidak menampilkan Islam secara asli, banyak adegan yang dilebih-lebihkan dan tidaksesuai dengan kenyataannya. Selain itu yang film ini juga mengajarkan tentangpluralitas beragama, yang mana ajaran tersebut bertentangan dengan apa yangdiyakini oleh umat Islam sebagai agama mayoritas di Indonesia.Film garapan Hanung Bramantyo ini menjadi begitu kontroversial karenaselain kental dengan unsur ? unsur SARA juga mengandung unsur pluralisme, yangdianggap tindakan murtad oleh beberapa kelompok penganut agama yang fanatikselain itu juga dianggap menyudutkan umat Islam dan Islam sebagai agama yangkasar, tidak mengenal toleransi, rasis dllTujuan PenelitianPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran Islam saatdikonstruksikan melalui simbol-simbol visual dan linguistik dalam film TandaTanya .Penemuan PenelitianAnalisis yang pertama adalah sintagmatik yang menganalisis level realitydan level representasi dari John Fiske. Menguraikan tentang analisa sintagmatik yangmenjelaskan tentang tanda-tanda atau makna-makna yang muncul dalam shot dan adeganyang terjalin dari berbagai aspek teknis yang merujuk pada representasi Islam dalam filmTanda Tanya ???.Pada level realitas dapat diuraikan melalui penampilan dan lingkungan yangditampilkan dalam film. Kode sosialnya meliputi : appearance (penampilan), dress(pakaian/kostum), make-up (tata rias), environment (lingkungan), speech (gaya bicara),gesture (bahasa tubuh), expression (ekspresi).Level yang kedua adalah level representasi. Level representasi realitas sosial yangdihadirkan kembali oleh tayangan ini. Dalam penghadiran kode-kode representasi yangumum ini dibangun menggunakan camera (kamera), lighting (tata pencahayaan), editing,musik dan selanjutnya ditransmisikan kedalam bentuk cerita, konflik, karakter, dialog,setting dan lain-lainSelanjutnya dilakukan secara paradigmatic yang merujuk pada representasiIslam dalam film. untuk membedah ideologi memerlukan pemaknaan lebih mendalamterhadap penggambaran Islam dalam film ini dan keterkaitannya dengan aspek yang lebihluasDalam representasi atas Islam, penulis menggunakan dasar Teori Representasidengan pendekatan konstruksionis milik Stuart Hall (1997). Representasi adalah bagianterpenting dari proses di mana arti produksi dipertukarkan antar anggota kelompok dalamsebuah kebudayaan. Representasi menghubungkan antara konsep dalam benak kitadengan menggunakan bahasa yang memungkinkan kita untuk mengartikan benda, orangatau kejadian yang nyata, dan dunia imajinasi dari obyek, orang, benda dan kejadian yangtidak nyataAnalisis paradigmatik perlu digunakan untuk mengetahui kedalaman makna darisuatu tanda serta untuk membedah lebih lanjut kode-kode tersembunyi di balik berbagaimacam tanda dalam sebuah teks maupun gambar. Analisis paradigmatik (Chandler,2002:87-88). Perbedaan mendasar antara analisis paradigmatik dan sintagmatik adalahjika analisis sintagmatik mencoba untuk menemukan makna denotasinya, maka analisisparadigmatik berusaha untuk menemukan makna konotasi dari teksAnalisis paradigmatik adalah analisa yang berusaha mengetahui makna terdalamdari teks film dengan melihat hubungan eksternal pada suatu tanda dengan tanda lain.Bagaimana Islam dan kehidupan umat Islam dalam masyarakat serta bagaimana ideologitentang Islam ditampilkan dalam film ini. Kode-kode ideologis yang terlihat dalam filmini akan dianalisis ke dalam beberapa sub bab utama. Analisis yang pertama yaitumeliputi pesan yang terkandung dalam film Tanda Tanya ??? ini, kemudian tentangkonsep Islam yang ingin ditampilkan dalam film, Islam ditampilkan sebagai agama yangkeras, Islam sebagai agama penebar terror, Islam sebagai agama yang intoleran, Islamsebagai agama yang rasis, Islam sebagai agama yang picik, kemudian mengenai Islambeserta Aqidah dan Syariat Islamiahnya serta bagaimana pemikiran Islam tentang ajaranpluralisme agamaPada bab ini dilakukan analisis paradigmatik dengan tujuan untuk mengetahuimakna terdalam dari teks film Tanda Tanya ???dengan melihat hubungan eksternal padasuatu tanda dengan tanda lain. Bagaimana mitos-mitos mengenai identitas Islam danbagaimana posisi ideologis sutradara film dalam menggambarkan Islam. Selain itu,analisis paradigmatik juga berfungsi untuk menunjukkan adanya realitas lain yangmungkin bersifat abstrak yang ada di balik tanda yang teridentifikasi dalam analisissintagmatik- PESAN DALAM FILM TANDA TANYAHanung sebagai sutradara ingin menyampaikan pesan moral utama yang ingindisampaikan melalui film ini yaitu tentang kerukunan antar umat beragama. Perihal lainyang ingin ditanamkan Hanung adalah mengenai ajaran pluralisme agama. Ajaranpluralisme agama adalah ajaran yang meyakini bahwa semua agama yang ada adalahsama. Banyak hal yang berhubungan dengan kehidupan beragama ditampilkan disiniseperti pelajaran tentang toleransi antar umat beragama, kerukunan antar umat beragamaserta terdapat pesan tentang bagaimana kita menghargai perbedaan dan pilihan orang laindan bukan hanya sebatas toleransi- MITOS ISLAM DALAM FILM TANDA TANYAMenurut Barthes (1977: 165), mitos adalah type of speech (tipe wicara). Mitosmerupakan sebentuk komunikasi yang mengandung sekumpulan pesan dan tidaktergantung pada pesan yang dibawa tetapi bagaimana komunikator menyampaikannya.o ISLAM DITAMPILKAN SEBAGAI AGAMA YANG KERASDalam film Tanda Tanya ??? penggambaran Islam beserta umatnyaseringkali berlebihan dan tidak sesuai dengan apa yang ada diajaran Islam.Islam sering ditampilkan sebagai agama yang keras. ?Keras? di sini dapatdiartikan bahwa Islam adalah agama yang menyukai kekerasan. Dalam filmini Islam juga direpresentasikan sebagai agama yang identik dengan teroris.Islam di film ini tampilkan sebagai agama penebar terror. Hal ini tampak dariadegan dan dialog yang ada. Adegan serta dialog yang ada memperkuat kesandan mitos bahwa Islam adalah agama yang menghalalkan kekerasan. Caramedia untuk menampilkan atau menghadirkan sosok Islam yang akrab dengankekerasan, inilah yang akhirnya mengundang kontroversi dari banyak pihako ISLAM SEBAGAI AGAMA YANG RASISDalam film Tanda Tanya ??? Islam juga dugambarkan sebagai agamayang rasis. Rasis disini dapat diartikan bahwa Islam memberikan perlakuanyang berbeda terhadap orang-orang yang berasal dari ras yang berbeda. Difilm ini digambarkan bagaimana Islam tidak menghargai perbedaan ras yangada serta tidak menghargai perbedaan dan keragaman yang akhirnya memicukonflik antar umat Islam dengan umat beragama yang laino ISLAM SEBAGAI AGAMA YANG PICIKPenggambaran Islam dan umatnya dalam film ini seringkali ditampilkansebagai sosok yang picik dan pemikiran yang sempit. Pemikiran seperti itubiasanya dimiliki oleh orang-orang yang merasa dirinya paling benar,sehingga tidak mau menerima saran serta perubahan yang terjadi. Umat Islamdalam film ini digambarkan sebagai pribadi yang merasa paling benar, tidakterbuka dengan saran dan masukan yang datang kepadanya dan juga mudahterpengaruh akan suatu hal yang menurut diri mereka pribadi benar.o ISLAM BESERTA AQIDAH DAN SYARIAH ISLAMNYADalam film Tanda Tanya terdapat banyak dialog dan adegan yangbersinggungan langsung dengan aqidah dan syariah ? syariah Islam. Aqidahdan syariah Islam di film ini seringkali ditampilkan melenceng dari yangseharusnyao PEMIKIRAN ISLAM TENTANG AJARAN PLURALISME AGAMADalam film Tanda Tanya banyak disinggung tentang ajaranpluralisme agama. Hal tersebut merupakan salah satu pemicu mengapafilm Tanda Tanya ini dilarang tayang dan menjadi kontroversi.Pluralisme agama adalah ajaran yang menyatakan bahwa semuaagama adalah sama. Hal ini berbeda dengan apa yang diyakini olehumat Islam, sehingga MUI memfatwakan pluralism agama bertentangandengan Islam dan muslim haram mengikuti paham itu. Namun dalamfilm Tanda Tanya ini yang dimunculkan adalah berbeda, Islam di filmini umatnya digambarkan menyetujui ajaran pluralisme danmengikutinya.Jika di lihat dari sudut pemikiran Islam tentang pluralisme, maka filmini ingin menggambarakan suatu pandangan bahwa Islam mengakui bahwasetiap ajaran agama sama yaitu menyampaikan ajaran tentang adanya berbelaskasih, tolong menolong dan solidaritas tanpa memandang batas ? batas agama.Tetapi tetap tidak mengakui bahwa agama lain selain Islam adalah benar.PenutupAkan diuraikan kesimpulan yang menjawab tujuan dari penelitian yaitu tentanggambaran Islam saat dikonstruksikan melalui simbol-simbol visual dan linguistik dalamfilm Tanda Tanya ??? serta mengungkap bagaimana mitos di balik representasi inibekerja.Temuan yang pertama berdasarkan analisis paradigmatik yang dilakukan padafilm Tanda Tanya ??? adalah munculnya mitos Islam yang diangkat dalam film yaituIslam ditampilkan sebagai agama yang keras. Selain itu kesan Islam sebagai agamapenebar terror juga sangat kuat, dengan adanya adegan-adegan yang menampilkanperistiwa penusukan pastur serta peristiwa pengeboman yang mana hal tersebut identikdengan tindak terorisme yang sempat marak terjadi di Indonesia yang tidak lainpelakunya adalah para umat muslimKemudian mitos selanjutnya adalah Islam digambarkan sebagai agama yang rasisdan picik, terutama saat berhadapan dengan umat agama yang lain. Rasis dan picik difilm ini digambarkan dengan interaksi yang terjadi antara para pemeran yang beragamaIslam dengan pemeran lain yang beragama Katolik dan Konghucu, serta berasal dariketurunan TionghoaKedua, apabila dilihat dari segi kostum, riasan, dan ekpresi yang telah dianalisissecara sintagmatik, Islam dan umatnya tampil sebagai sosok yang sederhana, tidakberlebihan dan taat terhadap ajaran agamanyaTemuan terakhir adalah sang sutradara Hanung Brahmantyo dalam film TandaTanya ??? ini ingin menyampaikan pesan tentang pluralisme agama. Paham pluralismeagama ini berbeda dengan pandangan umum masyarakat terhadap klaim kebenaranmutlak agama dan khususnya pandangan umat muslim yang tidak mengakui agama lainselain agama Islam adalah benar dan menyatakan bahwa Islam adalah satu-satunyaagama yang benar. Islam dan umatnya digambarkan sebagai agama yang menyetujuipraktik paham pluralisme ini. Padahal dalam ajaran Islam jelas-jelas tidak mengakui dantidak membenarkan ajaran pluralism yang menyatakan bahwa setiap agama adalah sama.Dalam ajaran Islam telah ditegaskan bahwa tiada agama lain yang benar selain agamaIslamPenggunaan daya tarik isu-isu agama ini menjadi produk yang mampumendatangkan keuntungan. Dengan segala kontroversi dan protes yang munculmenguatkan kesan bahwa film Tanda Tanya ??? menggunakan magnet isu agama dalamfilm garapannya sebagai nilai jual utama dalam menarik minat masyarakat untukmenontonnya.Film melahirkan sebuah bentuk realitas yang sengaja dikonstruksikan untukmemberikan sebuah gambaran lewat kode-kode, konversi, mitos, ideologi ? ideologikebudayaannya. Karena realitas merupakan hasil konstruksi maka realitas di sini telahmengalami penambahan maupun pengurangan karena turut campurnya faktorsubyektivitas dari pelaku representasi atau orang ? orang yang terlibat dalam media itusendiriDAFTAR PUSTAKABuku:Ali, Moh. Daud. 1986. Islam Untuk Disiplin Ilmu Hukum, Sosial dan Politik. Jakarta: CVWirabuana.Anshari, Endang Saifudin. 1987. Ilmu, Filsafat, dan Agama. Surabaya: Bina Ilmu.Barthes, Roland. 1977. Elements of Semiology. Farrar, Straus and Giroux.Berg, Bruce L. 2001. Qualitative Research Methods For The Social Sciences. Singapore: Allyn& Bacon.Butler, Andrew M. 2005. Film Studies. Vermont : Trafalgar Square Publishing.Chandler, Daniel. 2002. Semiotics: The Basics. New York: Routledge.Eco, Umberto diterjemahkan oleh Inyiak Ridwan Muzir. 2009. Teori Semiotika. Bantul: KreasiWacanaEffendy, Onong Uchyana. 2009. Human Relation & Public Relation. Bandung: CV. MandarMajuErikson, Erik H. (1989). Identitas dan Siklus Hidup Manusia. Jakarta: PT. Gramedia.Fiske, John. 1987. Television Culture. London: Routledge.Fiske, John. 2004. Cultural and Communication Studies. Yogyakarta: Jalasutra.Hall, Stuart. 1997. Representation: Cultural Representatuons and Sygnifying Practices. London:Sage Publications Ltd.Junaedi, Fajar. 2007. Komunikasi Massa Pengantar Teoritis. Yogyakarta: Santusta.Liliweri, Alo. 2007. Makna Budaya dalam Komunikasi Antarbudaya. Yogyakarta: LKisYogyakartaLittlejohn, Stephen. W and Karen A Foss. 2005. Theories of Human Communication EightEdition. Wadsworth Publishing Company. Canada.Mulyana, Deddy dan Solatun.2007. Metode Penelitian Komunikasi: Contoh-contoh PenelitianKualitatif Dengan Pendekatan Praktis. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.Noviani, Ratna. 2002. Jalan Tengah Memahami Iklan: Antara Realitas, Representasi danSimulasi. Yogyakarta: Pustaka Belajar.Piliang, Yasraf A. 2003. Hipersemiotika. Tafsir Cultural Studies atas Matinya Makna.Yogyakarta: Jalasutra.Webb, Jen. 2009. Understanding Representation. London: SAGE Publications Ltd.Williams, Noel. 2004. How To Get a 2:1 in Media, Communication and Cultural Studies.California: Sage Publications.Sugiyono. 2008. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta.Sumarno, Marselli. 1996. Dasar-dasar Apresiasi Film. Jakarta: Gramedia Pustaka UtamaRitchie, Jane., and Lewis, Jane. 2003. Qualitative Research Practice: a Guide For SocialScience Students and Researchers. New Delhi: SAGE Publications.Theo Van Leeuwen and Carey Jewitt. 2001. Handbook of Visual Analysis. London: SAGEPublication.Internet :http://forum.kompas.com/movies/35504-mengkritisi-film-tanda-tanya.html. Diunduh pada 28Agustus 2012 jam 00.09 WIBhttp://agama.kompasiana.com/2010/07/05/konflik-agama-menjadikan-indonesia-menakutkan-185565.html. Diunduh pada 28 Agustus 2012 jam 01.00 WIBhttp://beritakbar.blogspot.com/2011/04/film-tanda-tanya-pelecehan-sistematis.html. Diunduhpada 3 September 2012 jam 21.58 WIBhttp://www.voa-islam.com/news/indonesiana/2011/04/06/14019/menyoal-film-pluralismetanda-tanya-garapan-hanung/. Diunduh pada 3 Sepetember 2012 jam 22.30 WIBhttp://kisah-anak-kost-kikos.blogspot.com/2012/08/tanda-tanya-film-yang-mengangkatisu_31.html. Diunduh pada 3 September 2012 jam 22.35 WIBhttp://www.eramuslim.com/berita/analisa/film-tanda-tanya-pelecehan-sistematis-terhadapislam.htm#.UKXOG2fNsrc. Diunduh pada 3 September 2012 jam 22.45 WIBhttp://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/12/06/18/m5t1qz-islam-menentangpluralisme-agama. Diunduh pada 3 September 2012 jam 22.48 WIBhttp://www.wikipedia.com. Diunduh pada 3 September 2012 jam 23.00 WIB
THE MEANING OF NATIVE PAPUANESE WOMEN TOWARDS VIOLENCE AGAINST WOMEN IN RADAR SORONG NEWSPAPER Syafaati, Ikhsanti; Dwiningtyas, S.Sos, MA, Dr. Hapsari
Interaksi Online Vol 4, No 4: Oktober 2016
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Papua is a province with the highest number of cases of violence against women. Vulnerability Papuan women subjected to violence due to various factors such as high domestic violence, patriarchal cultural values and customs system, economic problems, and liquor. Newspapers Radar Sorongmerupakan one of the mass media that contains various news about cases of violence against women in Papua. This study aimed to describe the diversity of meanings indigenous Papuan women against violence news in newspapers Radar Sorong. Syntagmatic and paradigmatic analysis of Ferdinand Sussaure used to determine the meaning offered by the media. This study used a qualitative approach-descriptive analysis method Stuart Hall reception. Data collected by indepth interview to ten informants who read the paper sliding radar. These results indicate the dominant meaning in the news in the newspaper Radar Sorong violence that abused women are still portrayed as passive, weak, and helpless. From the comparison between the preferred reading with the informant interviews there are four informants who are in the dominant position in the research reading through meaning informants tend to be similar to those shown by sliding radar. And six informants in a position Negotiaded Reading which has its own arguments concerning the meaning of the displayed radar sliding and no informants who are in a position oppositional reading.

Page 1 of 98 | Total Record : 978