cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Teknik PWK
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Arjuna Subject : -
Articles 372 Documents
DAMPAK PEMBANGUNAN TAMAN KASMARAN PADA PERUBAHAN KONDISI EKONOMI, SOSIAL-BUDAYA MASYARAKAT, DAN LINGKUNGAN KAMPUNG WONOSARI Dewi, Lala Arastya; Susanti, Retno
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 8, No 4 (2019): November 2019
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The Mayor of Semarang revealed that Taman Kasmaran is one of the processes in structuring green open land in the city center. The development of Kasmaran Park is aimed at beautifying the Kampung Pelangi area. Thus, the Semarang City government changed the riverbanks of Semarang which was previously a slum into a productive area. The construction of the Kasmaran Park was completed at the end of 2017 and was inaugurated on January 8, 2018. The beginning of the land which is now the Kasmaran Park is a garage and barber shop area. The people of Kampung Wonosari are aware of the development of Kasmaran Park, but the majority of the people are not involved in the development process of Kasmaran Park. That is because the construction of the Kasmaran Park is a Semarang City government project. The method used is a quantitative method with frequency distribution analysis techniques and content analysis from questionnaire data distributed to 52 respondents. Based on the analysis that has been done, it can be concluded that the most felt impact for the people of Kampung Wonosari with the existence of Taman Kasmaran is on changing environmental conditions. That is because the existence of Taman Kasmaran brings environmental changes to be cleaner, and no longer slums. The community is becoming more concerned about the environment, the community also has a place for refreshing, a gathering place, recreation, playing with a better environment.
PENGARUH SALURAN DRAINASE TERHADAP PENCEMARAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN DI SEKITAR KAWASAN INDUSTRI GENUK KOTA SEMARANG A.D.P, Frisca Fertrisinanda; Wahyono, Hadi
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 1, No 1 (2012): November 2012
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kawasan permukiman di sekitar Kawasan Industri Genuk, Kota Semarang sering mengalami banjir. Disamping itu, kawasan tersebut juga mengalami pencemaran lingkungan.Kondisi ini disebabkan oleh buruknya kondisi saluran drainase. Limbah industri yang dihasilkan dari Kawasan Industri Genuk masuk ke dalam saluran drainase dan mengalirkannya ke luar kawasan, sehingga mencemari sungai dan drainase permukiman di sekitarnya. Permasalahan pencemaran lingkungan yang disebabkan oleh saluran drainase ini menimbulkan pertanyaan apa dan bagaimana pengaruh saluran drainase yang kurang baik terhadap pencemaran lingkungan permukiman di sekitar Kawasan Industri Genuk, Kota Semarang. Berdasarkan pertanyaan penelitian tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh saluran drainase di Kawasan Industri Genuk terhadap pencemaran lingkungan permukiman di sekitarnya. Metode analisis yang digunakan adalah metoda deskriptif kualitatif, dengan menggunakan wawancara dan observasi lapangan sebagai metoda pengumpulan datanya. Dari hasil analisis, dapat diketahui bahwa kondisi saluran drainase yang sangat buruk, seperti bangunan saluran yang masih alami dan pola jaringan yang bersifat alamiah karena belum tertata dengan baik menyebabkan arah aliran dari saluran drainase industri dan permukiman bertemu di satu titik dan langsung menuju ke arah aliran drainase yang sama yaitu ke arah sungai-sungai di sekitar Kawasan Industri Genuk. Akibatnya, air pada saluran drainase yang telah tercemar mencemari air dan tanah di kawasan permukiman di sekitar kawasan tersebut, termasuk sumber mata air. Kondisi ini terjadi juga karena adanya infiltrasi air dimana masuknya atau meresapnya air dari atas permukaan tanah yang sudah tercemar limbah industri ke dalam bumi. Berdasarkan hal tersebut, kesimpulan penelitian yang dapat dirumuskan adalah bahwa kondisi saluran drainase yang buruk dan infiltrasi air ke dalam tanah menyebabkan terjadinya pencemaran air dan tanah permukiman yang terdapat di sekitar Kawasan Industri Genuk.
EFEKTIVITAS PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM PENGENTASAN KEMISKINAN PADA PROGRAM GERDU KEMPLING DI KELURAHAN KEMIJEN KOTA SEMARANG Asfi, Nuskhiya; Wijaya, Holi Bina
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 4, No 2 (2015): Mei 2015
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Masalah terbesar pembangunan ekonomi nasional adalah tingkat kemiskinan yang tinggi. Upaya Pemerintah Kota Semarang untuk mempercepat penanggulangan kemiskinan (strategi percepatan penanggulangan kemiskinan) yaitu melalui program GERDU KEMPLING (Gerakan Terpadu Di Bidang Kesehatan, Ekonomi, Pendidikan, Infrastruktur dan Lingkungan). Gerdu Kempling ini diharapkan dapat membuat angka kemiskinan dari Kota Semarang menurun setidaknya 2% per tahun. Sehingga dampak pelaksanaan program ini tentunya diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat, terutama orang miskin. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji efektivitas pemberdayaan Masyarakat dalam Pengentasan Kemiskinan melalui Program Gerdu Kempling di Kelurahan Kemijen Kota Semarang. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif. Hasil dalam penelitian ini merupakan kajian efektivitas pemberdayaan masyarakat dalam pengentasan kemiskinan pada Program Gerdu Kempling. Secara umum pemberdayaan masyarakat pada program Gerdu Kempling dalam upaya pengentasan kemiskinan kurang efektif dalam meningkatkan kemandirian masyarakat untuk dapat terlepas dari lingkaran kemiskinan. Proses pemberdayaan masyarakat dalam Gerdu Kempling yang kurang efektif tersebut terutama disebabkan oleh kapasitas masyarakat yang belum mampu mengambil peran yaitu dalam membuat keputusan atau pilihan yang masyarakat inginkan. Secara umum pemberdayaan masyarakat dalam Gerdu Kempling di Kelurahan Kemijen cukup efektif yaitu 63% dari masyarakat miskin yang mendapatkan bantuan program Gerdu Kempling mengalami peningkatan kondisi kualitas hidupnya setelah mendapatkan program bantuan Gerdu Kempling.
EVALUASI PENGELOLAAN PROGRAM PAMSIMAS DI LINGKUNGAN PERMUKIMAN KECAMATAN MIJEN, SEMARANG Astuti, Marlina Tri; Rahdriawan, Mardwi
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 2, No 4 (2013): November 2013
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

PAMSIMAS (Penyediaan Air Minum dan sanitasi Berbasis Masyarakat) merupakan salah satu program Pemerintah yang bertujuan menciptakan masyarakat hidup bersih dan sehat dengan meningkatkan akses air minum dan sanitasi yang berkelanjutan serta melibatkan masyarakat secara aktif melalui; sosialisasi program, pembangunan sarana air bersih, pembentukan badan pengelola, pemeliharaan dan pengelolaan sarana, dan kesinambungan program. Salah satu sasaran PAMSIMAS di Kota Semarang adalah Kecamatan Mijen. Untuk mewujudkan keberlanjutan program, harus dilakukan pengelolaan secara efektif. Meskipun sudah dilakukan pengelolaan, masih ada beberapa permasalahan yang mengakibatkan masyarakat belum dapat mengakses air bersih PAMSIMAS. Dari permasalahan tersebut mengindikasikan bahwa kegiatan pengelolaan Program PAMSIMAS di Kecamatan Mijen belum berjalan optimal. Oleh karena itu, perlu dilakukan evaluasi terhadap pengelolaan program PAMSIMAS di kecamatan ini. Dalam mengevaluasi program PAMSIMAS, peneliti menggunakan metode penelitian deskriptif kuantitatif. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif dengan analisis deskriptif kuantitatif serta analisis skoring dan distribusi frekuensi. Melalui analisis mengenai peran badan pengelola, peran serta masyarakat, dan ketersediaan sarana prasarana penunjang program PAMISMAS menghasilkan temuan studi bahwa pengelolaan program PAMSIMAS di Kecamatan Mijen dapat dikategorikan baik hal tersebut karena faktor yang sangat berpengaruh dalam keberhasilan pengelolaan program PAMSIMAS yaitu partisipasi masyarakat dan peran anggota BPSPAM.
FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KETIDAKEFEKTIFAN IMPLEMENTASI RENCANA TATA RUANG KOTA DI KELURAHAN GEDAWANG KOTA SEMARANG Triyanto, Bayu Arief; Setyono, Jawoto Sih
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 4, No 1 (2015): Februari 2015
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kasus pelanggaran pemanfaatan ruang yang terjadi ditingkat permasalahan paling bawah, seperti aktifitas pembangunan di kawasan konservasi di Kelurahan Gedawang merupakan contoh kasus tidak efektifnya implementasi rencana tata ruang Kota Semarang. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengkaji faktor apa yang menyebabkan terjadinya pelanggaran pemanfaatan ruang di Kelurahan Gedawang yang menyebabkan rencana tata ruang Kota Semarang tidak efektif dalam implementasinya. Variabel penelitian yang digunakan terkait dengan mekanisme pengendalian pemanfaatan ruang berdasarkan kajian literatur terpilih 5 variabel utama yaitu Institusi/kelembagaan pengendalian pemanfaatan ruang, instrumen pengendalian pemanfaatan ruang, kegiatan pengendalian pemanfaatan ruang, sosialisasi dan penyampaian informasi kepada masyarakat, keterlibatan masyarakat dalam kegiatan pengawasan dan pelaporan. Metode penelitian yang akan digunakan ialah metode kuantitatif. Kemudian teknik analisis yang digunakan ialah analisis faktor dengan jenis Rfactor analysis. Teknik sampling dalam penelitian menggunakan simple random sampling. Teknik pengumpulan data primer menggunakan teknik kuisioner dan wawancara, sedangkan perolehan data sekunder melalui telaah dokumen. Penilaian data analisis dilakukan dengan menggunakan skala likert. Keseluruhan hasil analisis menunjukkan bahwa variabel bebas yaitu variabel-variabel pernyataan yang terkait dengan variabel utama hasilnya signifikan berkontribusi terhadap variabel terikat yaitu pelanggaran pemanfaatan ruang. Dari hasil analisis dapat disimpulkan bahwa dari segi instrumen pengendalian pemanfaatan ruang yaitu pertanyaan kurangnya pemahaman masyarakat terhadap rencana tata ruang dan peraturan peruntukkan lahan atau peraturan zonasi merupakan faktor yang berkontribusi paling besar terhadap terjadinya pelanggaran pemanfaatan ruang di Kelurahan Gedawang. 
ARAHAN INSENTIF DISENTIF UNTUK MENDUKUNG PENGEMBANGAN KAMPUNG MELAYU SEBAGAI KAWASAN CAGAR BUDAYA KOTA SEMARANG Kinanti, Chitra Putri; Marif, Samsul
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 2, No 3 (2013): Agustus 2013
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kampung Kota dapat dianggap sebagai suatu kawasan yang memiliki kebudayaan dan kondisi sosial yang unik di dalamnya perbedaan karakteristik masyarakatnya. Oleh karena itu, keberadaan kampung kota penting di dalam perkembangan suatu kota sebagai salah satu nilai dan bukti sejarah. Kampung Melayu adalah salah satu kampung yang bersejarah di Kota Semarang yang awal mulanya sebagai kampung yang didiami oleh etnis Melayu dan kawasan kampung ini telah terbentuk pada abad ke-16. Namun, kondisi fisik maupun kondisi sosial, budaya, dan kepercayaan yang terdapat di Kampung Melayu semakin lama semakin memprihatinkan dan semakin menghilang sebagai dampak dari modernisasi perkotaan padahal kawasan Kampung Melayu merupakan salah satu kawasan yang telah ditetapkan oleh pemerintah sebagai kawasan cagar budaya. Untuk mempertahankan eksistensi kawasan Kampung Melayu sebagai cagar budaya perlu dilakukan upaya pelestarian dan penyelamatan terhadap warisan sejarah dalam bentuk pemberian insentif Metode penelitian yang dilakukan dengan menggunakan yaitu metode kuantitatif. Adapun teknik analisis yang diigunakan berupa deskriptif serta analisis komparatif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan dua teknik, yaitu teknik primer wawancara, observasi dan dokumentasi, kemudian teknik sekunder dilakukan dengan survey ke instansi-instansi terkait. Metode penentuan sampel dengan metode sample non probability sampling dengan teknik purposive sampling adalah teknik pengambilan sampel yang dalam mengambil sample memperhatikan faktor-faktor tertentu sehingga tidak semua anggota populasi memiliki kesempatan yang sama untuk dipilih sebagai responden. Purposive sampling dilakukan berdasarkan pertimbangan peneliti dan pengambilan sample dilakukan terhadap responden yang dianggap berkompeten dalam hal pengembangam kawasan kampung Melayu sebagai kawasan cagar budayaDengan diketahuinya arahan insentif disentif Kampung Melayu Semarang diharapkan dapat lebih mengembangakan dan melestarikan Melayu sebagai salah satu kawasan cagar budaya Kota Semarang sehingga dapat menjaga eksistensi Kampung Melayu tersebut dan pada akhirnya dapat mengatasi permasalahan dan lebih mengembangkan potensi kesejarahan Kampung Melayu sebagai kawasan cagar budaya melalui upaya arahan insentif disentif.
PENGARUH PERSEPSI MASYARAKAT TENTANG PERENCANAAN PARTISIPATIF TERHADAP SIKAP UNTUK BERPARTISIPASI: KASUS PENYUSUNAN RTBL KAWASAN TAMBAKLOROK KOTA SEMARANG Vinandita, Safilia; Wijaya, Holi Bina
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 6, No 3 (2017): Agustus 2017
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Social factors influence attitude towards participation. This paper examines the influence of social factor especially citizen perception about participatory planning on attitudes toward participation in the preparation of buildings and environments planning (RTBL) Tambaklorok. Citizens perception about planning is shaped by attention, learning, memory and expectation. This perception shapes individual?s attitude that includes receiving, responding, valuing, and responsibility. The study shows that citizens have lack of attention to planning information and responsibilities. But generally they have positive thought. There is a directly proportional relationship between the two variables, namely the perceptions and attitudes. Better perception of planning, leads to the better attitude towards the implementation of the plan. In addition, there is a difference between two groups with different levels of education. Based on this, good attitudes are shaped by enhancing public mindset, so improving community awareness and understandings are needed through the information sharing and education improvement with effective methods.
PENGARUH PEMBANGUNAN JALAN TOL TERHADAP PERUBAHAN POLA DAN STRUKTUR RUANG KAWASAN SIDOMULYO, UNGARAN TIMUR Hartanto, Abdul Aziz; Pradoto, Wisnu
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 3, No 4 (2014): November 2014
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan kota - kota di dunia selalu menunjukkan pergerakan yang sangat cepat. Luas lahan dan potensi lahan bersifat statis yang tentunya dibatasi oleh batas administrasi maupun fungsional, sehingga kerap dilakukan intervensi penggunaan lahan wilayah pinggir kota yang masih memiliki sedikit lahan terbangun. Perluasan fungsi kota mulai terlihat dengan jelas di pinggir Kota Semarang, salah satunya Kelurahan Sidomulyo yang terletak di Kecamatan Ungaran timur. Pembangunan yang terjadi di Kelurahan Sidomulyo berupa permukiman dan perdagangan dan jasa dan mulai bergerak dengan pesat sejak adanya akses pintu tol Semarang-Ungaran di Kelurahan Sidomulyo. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi seberapa jauh dampak yang ditimbulkan dengan adanya pintu tol di Kelurahan Sidomulyo terhadap pola dan struktur ruang. Dalam menjawab tujuan tersebut, penelitian ini menggunakan analisis perubahan guna lahan dengan melakukan perbandingan citra kawasan pada tahun 2008 dan 2013 sehingga akan didapatkan gambaran perubahan guna lahan yang terjadi baik dari aktivitas maupun kepadatan bangunannya. Dalam penelitian ini selain melakukan analisis terhadap perubahan guna lahan secara spasial juga akan melakukan kajian faktor perubahan guna lahan dengan menggunakan metoda crosstab. Dari hasil analisis korelasi variabel yang mempengaruhi perubahan guna lahan adalah aksesibilitas, sarana dan prasarana, dan jumlah penduduk, dan dari tinjauan langsung ke lapangan ternyata terdapat dua faktor lain yang turut mempengaruhi aktivitas perubahan guna lahan di kawasan Sidomulyo yaitu RTRW Kabupaten Semarang dan topografi wilayah. Pada kajian perubahan guna lahan kawasan Sidomulyo, wilayah amatan dibagi menjadi 3 kawasan dengan justifikasi perbedaan percepatan pembangunan serta aktivitas yang paling cepat berkembang. Kawasan 1 adalah kawasan yang paling cepat berkembang, kawasan 2 adalah kawasan yang percepatan pembangunannya menengah, dan kawasan 3 adalah kawasan dengan percepatan pembangunannya lambat.
TRANSFORMASI PEMANFAATAN RUANG KORIDOR SULTAN AGUNG KOTA SEMARANG Jaya, R Clarrio Dimassetya; Pradoto, Wisnu
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 2, No 3 (2013): Agustus 2013
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Proses transformasi sebuah ruang akan berlangsung bersamaan dengan perkembangan tuntutan terhadap kebutuhan ruang dari masyarakat. Relokasi pusat pemerintahan pada koridor Jalan Pemuda, pusat kegiatan Kota Semarang pada kawasan simpang lima, dan adanya kebijakan pengembangan ruang koridor sultan agung sebagai koridor komersial hingga tahun 2031 telah memberikan dorongan terjadinya perkembangan kawasan perkotaan di ruang Jalan Sultan Agung sebagai koridor yang memiliki sifat menjari (poros transportasi) dengan pusat kegiatan Kota Semarang. Dijelaskan oleh Legawa (dalam Wijayanti, 1998) bahwa daerah poros transportasi akan mengalami perkembangan fisik yang berbeda dengan daerah diantara jalur-jalur transportasi. Perbedaan tersebut terletak pada perkembangan dari tampilan kawasan terbangun di sepanjang poros transportasi yang akan terlihat lebih besar dibandingkan daerah lainnya. Berdasarkan permasalahan tersebut, diperoleh sebuah research question penelitian berupa : ?Bagaimana tendensi transformasi pemanfaatan ruang koridor sultan agung hingga tahun 2031??. Merujuk pada research question, disusun sebuah penelitian yang bertujuan untuk mengetahui tendensi transformasi pemanfaatan ruang koridor sultan agung hingga tahun 2031. Untuk mencapai tujuan tersebut disusunlah tahapan-tahapan penelitian yang menggunakan pendekatan kuantitatif positivistik melalui analisis proses transformasi yang disusun dengan menggunakan teknik analisis deskriptif kuantitatif, analisis nilai tertinggi dan penggunaan terbaik dari sebuah ruang yang menggunakan model most probable use dan dijelaskan dengan teknik analisis statistik deskriptif, serta peramalan terhadap tendensi transformasi ruang koridor hingga tahun 2031 dengan menggunakan kombinasi terhadap teknik trendline dan analisis most probable use. Melalui analisis tersebut diperoleh temuan bahwa transformasi pemanfaatan ruang koridor sultan agung mulai mengalami pergeseran dari perkembangan perkotaan yang melompat menjadi perkembangan perkotaan yang memanjang, pengembangan secara horizontal menjadi vertikal, fungsi perumahan menjadi fungsi komersial dalam bentuk compact center. Bentuk tersebut akan berkembang hingga tahun 2031 seiring dengan keinginan terbesar dari partisipan aktif pembangunan yang menginginkan pembangunan ruang koridor sultan agung sebagai kawasan campuran.
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM PENGEMBANGAN DESA WISATA, STUDI KASUS : DESA WISATA PENTINGSARI, DIY Andrianto, Raden Harya; Damayanti, Maya
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 7, No 4 (2018): November 2018
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tourist village is one of the alternative approaches of sustainable tourism development. One of the goals of this tourism village is to develop the natural potential in an area or village while maintaining local culture as a tourist attraction. Furthermore, to realize a good tourist village, intervention and direct involvement are needed in the management of tourist village. This can be done by conducting community empowerment activities in economic, social, and environmental aspects. Pentingsari Tourist Village is one of the tourist villages that developed quite well and managed to apply the principle of community empowerment in its development. This can be seen when Pentingsari Tourist Village won the second place in Sleman Regency Tourist Village Competition in 2008 and the first winner of DIY Tourist Village Competition in 2009. This research used a descriptive qualitative method with the aim to see how the community empowerment process in Pentingsari Tourist Village.Community empowerment in Pentingsari Tourist Village beganwith the previous process of tourist village formation to Pentingsari Tourist Village at this time. Various forms of training have been given to the community as an effort to empower the community. This assistance is carried out by various parties, including the government, namely the Tourism Office of Sleman Regency, as well as the private sector. One of them is training from PT. Bank Central Asia (BCA).Tbk, which provides training to the public in the form of excellent service standards. These things show that the empowerment process carried out in the Pentingsari Tourist Village was going gradually. This is also influenced by several supporting factors, such as the driving actors, the community, the role of the government, and the private sector.

Page 1 of 38 | Total Record : 372