cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Journal of Nutrition College
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : 23376236     EISSN : 2622884X     DOI : -
Core Subject : Health, Social,
Journal of Nutrition College (P-ISSN : 2337-6236; E-ISSN : 2622-884X) diterbitkan oleh Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro sebagai media publikasi artikel-artikel ilmiah dalam biang Ilmu Gizi dengan skala terbit 4 kali dalam setahun, yaitu pada Januari, April, Juli, dan Oktober.
Arjuna Subject : -
Articles 553 Documents
HUBUNGAN STATUS GIZI DAN KUALITAS TIDUR DENGAN KUALITAS HIDUP PADA LANJUT USIA Hermawan, Febriyanti; Widyastuti, Nurmasari; Tsani, A Fahmy Arif; Fitranti, Deny Yudi
Journal of Nutrition College Vol 8, No 4 (2019): Oktober 2019
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (352.283 KB) | DOI: 10.14710/jnc.v8i4.25841

Abstract

Latar Belakang : Jumlah penduduk lanjut usia mengalami peningkatan setiap tahunnya. Peningkatan kuantitas lanjut usia harus diseimbangkan dengan peningkatan kualitas hidupnya. Status gizi dan kualitas tidur menjadi masalah yang dialami oleh lansia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan status gizi dan kualitas tidur dengan kualitas hidup pada lanjut usia.Metode : Penelitian ini menggunakan metode cross-sectional. Penelitian ini dilaksanakan di Kelurahan Kalisegoro Kecamatan Gunungpati Kota Semarang. Berdasarkan hasil skrining 254 lanjut usia didapatkan 44 subjek menggunakan metode simple random sampling. Data Status gizi didapatkan melalui pengukuran langsung menggunakan timbangan digital dan alat pengukur tinggi lutut. Data kualitas tidur dan kualitas hidup diperoleh melalui wawancara menggunakan form Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) dan World Health Organization Quality of Life (WHOQOL-BREF). Hasil : Tidak terdapat hubungan antara status gizi dengan kualitas hidup (r = 0,251; p = 0,101) dan tidak terdapat hubungan antara kualitas tidur  dengan kualitas hidup (r = 0,027; p = 0,862).Simpulan : Tidak terdapat hubungan antara status gizi dan kualitas tidur dengan kualitas hidup pada lanjut usia.
KADAR PROTEIN, GULA TOTAL, TOTAL PADATAN, VISKOSITAS DAN NILAI PH ES KRIM YANG DISUBSTITUSI INULIN UMBI GEMBILI (DIOSCOREA ESCULENTA) Astuti, Indah Mega; Rustanti, Ninik
Journal of Nutrition College Vol 3, No 3 (2014): Juli 2014
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (294.019 KB) | DOI: 10.14710/jnc.v3i3.6584

Abstract

Latar Belakang : Diare merupakan salah satu penyakit infeksi penyebab kematian terbesar pada anak. Diare dapat disebabkan oleh ketidakstabilan mikroflora usus terutama pada anak. Ketidakstabilan mikroflora dapat diperbaiki dengan pemberian prebiotik berupa inulin. Inulin hasil ekstraksi dari umbi gembili dapat disubstitusi pada produk es krim sebagai alternatif makanan untuk meningkatkan sistem imun anak.Tujuan : Menganalisis perbedaan kadar protein, gula total, total padatan, viskositas dan nilai pH es krim dengan substitusi inulin.Metode: Merupakan penelitian eksperimental dengan satu faktor yaitu konsentrasi inulin (2%, 3%, dan 4%). Analisis yang dilakukan adalah kadar protein, kadar gula total, total padatan, viskositas dan nilai pH. Kadar protein, kadar gula total, viskositas dan nilai pH diuji menggunakan One Way Anova dilanjutkan uji LSD (Least Significance Different). Hasil : Es krim dengan substitusi inulin 4% dapat menurunkan kadar protein sampai 6,86%. Es krim dengan substitusi inulin 4% dapat menurunkan kadar gula total sampai 16,4%. Tidak ada perbedaan antar kelompok perlakuan pada total padatan es krim (p=0,198). Es krim dengan substitusi inulin 4% dapat meningkatkan viskositas sampai 7,28 dPas. Es krim dengan substitusi inulin 4% dapat menurunkan nilai pH sampai 6,4.Simpulan : Substitusi inulin berpengaruh terhadap penurunan kadar protein, kadar gula total, nilai pH, peningkatan viskositas es krim, dan tidak berpengaruh terhadap total padatan es krim.
HUBUNGAN ASUPAN PROTEIN, ZAT BESI, VITAMIN C DAN SENG DENGAN KADAR HEMOGLOBIN PADA BALITA STUNTING Roziqo, Ikhfina Oktokenia; Nuryanto, Nuryanto
Journal of Nutrition College Vol 5, No 4 (2016): Oktober 2016
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (661.162 KB) | DOI: 10.14710/jnc.v5i4.16453

Abstract

Latar belakang : Anemia merupakan salah satu penyakit penyerta pada balita stunting. Kejadian anemia dapat diketahui berdasarkan kadar hemoglobin darah (Hb). Zat besi merupakan faktor penyebab utama terjadinya anemia. Namun, pada kenyataannya anemia dapat disebabkan karena asupan zat gizi lain seperti protein, vitamin C dan seng.Metode : Jenis penelitian ini adalah penelitian observasional dengan desain cross-sectional pada 20 balita berusia 24 ? 59 bulan di Kelurahan Jangli. Kadar Hemoglobin (Hb) diperoleh dari analisis dengan metode cyanmethaemoglobin. Kadar Hb <11g/dL dinyatakan sebagai anemia pada balita. Data stunting diperoleh menggunakan standar prosedur antropometri. Data asupan zat besi, protein vitamin C dan seng diperoleh melalui metode Semi Quantitative-Foof Frequency Questionnaire (SQ-FFQ). Data yang diperoleh dianalisis menggunakan produk moment korelasi tes (Pearson test) dengan mempertimbangkan norrmalitas data.Hasil : Rerata kadar hemoglobin sebesar 11,27±0,22 g/dL. Rerata asupan protein sebesar 27,10±2,57 gr, zat besi 3,8±0,95 mg, vitamin C 15,96±8,07 mg, seng 2,88±0,30 mg. Terdapat hubungan antara asupan protein dengan kadar hemoglobin pada balita stunting (r=0,499, p-0,025). Sedangkan asupan zat besi, vitamin C, dan seng tidak terdapat hubungan dengan kadar hemoglobin pada balita stunting (p>0,05).Simpulan : Terdapat hubungan antara asupan protein dengan kadar hemoglobin pada balita stunting. Sedangkan asupan zat besi, vitamin C, dan seng tidak terdapat hubungan dengan kadar hemoglobin pada balita stunting (p>0,05).
HUBUNGAN USIA MENARCHE DENGAN OBESITAS PADA REMAJA PUTRI DI SMA THERESIANA 1 SEMARANG Widyaningtyas, Silvia Agus; Kartini, Apoina
Journal of Nutrition College Vol 2, No 1 (2013): Januari 2013
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (269.555 KB) | DOI: 10.14710/jnc.v2i1.2090

Abstract

Latar belakang: Obesitas merupakan salah satu masalah kesehatan dunia yang terjadi akibat simpanan lemak yang berlebih. Simpanan lemak berkaitan dengan kematangan seksual yang ditandai dengan munculnya menstruasi pertama (menarche) pada remaja putri. Remaja akan mengalami peningkatan komposisi lemak tubuh setelah mengalami menstruasi, apabila tidak dikendalikan dengan benar dapat membawa pada kejadian obesitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan usia menarche dengan obesitas pada remaja putri di SMA Theresiana 1 Semarang. Metode: Rancangan penelitian cross sectional, sampel berjumlah 71 dipilih secara stratified random sampling dari seluruh kelas X dan XI. Status gizi didasarkan nilai z-score IMT/U dan ditunjang dengan pengukuran persen lemak tubuh menggunakan Bioelectrical Impedance Analysis (BIA). Data usia menarche sampel dan keluarga didapatkan dari kuesioner, data asupan makan (energi, karbohidrat, protein dan lemak) didapatkan dari kuesioner semi quantitative food frequency dan aktivitas fisik didapatkan dari formulir recall aktivitas fisik selama 3 hari. Analisis data menggunakan Rank Spearman, Pearson Product Moment dan regresi linier ganda. Hasil: Sebanyak 14,1% subyek mengalami obesitas. Rata-rata usia menarche subyek 12,1±1,3 tahun dan sebanyak 2,8% berkategori dini (<10 tahun). Tidak terdapat hubungan usia menarche (r=-0,151; p=0,209), asupan energi (r=-0,009; p=0,942), asupan protein (r=0,113; p=0,35) dan asupan lemak (r=-0,024; p=0,844) dengan obesitas. Namun terdapat hubungan antara aktifitas fisik dengan obesitas (r= -0,236; p=0,031) dan terdapat hubungan usia menache keluarga dengan usia menarche subyek (r=0,445; p=0,000). Faktor yang paling berhubungan dengan obesitas adalah aktifitas fisik (p=0,040). Simpulan: Tidak terdapat hubungan antara usia menarche dengan obesitas pada remaja, namun pada penelitian ini menunjukkan terdapat hubungan antara aktivitas fisik dengan obesitas melalui parameter IMT/U.
HUBUNGAN STATUS SENG (ZN) DENGAN INTELLIGENCE QUOTIENT (IQ) PADA ANAK USIA 9-11 TAHUN DI SDN 1 GONDANG WONOGIRI Kurniawaty, Emma; Panunggal, Binar
Journal of Nutrition College Vol 4, No 2 (2015): April 2015
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (610.111 KB) | DOI: 10.14710/jnc.v4i2.10055

Abstract

Latar Belakang: Intelegensi merupakan salah satu perkembangan kognitif. Pengukuran inteligensi dapat dilakukan melalui tes Intelligence Quotient (IQ). Penurunan skor Intelligence Quotien (IQ) dapat terjadi karena kekurangan zat gizi jangka panjang. Seng merupakan salah satu mikronutrient yang penting untuk pertumbuhan dan perkembangan otak. Defisiensi seng (Zn) dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangan, malformasi organ, dan gangguan kognitif pada anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan status seng (Zn) dengan Intelligence Quotient (IQ) pada anak usia 9-11 tahun di SDN 1 Gondang Wonogiri.Metode:  Total subjek 67 anak usia 9-11 tahun dari SDN 1 Gondang Wonogiri berpartisipasi dalam penelitian ini. Penelitian ini merupakan penelitian cross-sectional dengan menggunakan metode purposive sampling dalam pengambilan sampel. Status seng diperoleh melalui pengukuran kadar seng rambut dengan metode Atomic Absorption Spectrophotometry (AAS). Skor IQ diperoleh melalui tes intelegensi dengan metode Culture Fair Intelligence Test (CFIT). Hasil:  Pada penelitian ini diperoleh rerata skor IQ (90,67±1,5), dengan kategori Mentally Deffective 2 orang (3%), Borderline 11 orang (16,4%), Low Average 18 orang (26,9%), Average 32 orang (47,8%), dan High Average 4 orang (6%). Rerata usia subjek adalah 9,66±0,07 tahun. Semua subjek memiliki status seng (Zn) batas normal (260,67 ± 7,28 ppm) dan tidak terdapat hubungan yang signifikan status seng (Zn) dengan Intelligence Quotient (IQ) secara statistik (r =   -0,118 ; p = 0,340).Simpulan: Status seng (Zn) tidak berhubungan dengan Intelligence Quotient (IQ) secara statistik.
HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP RESPONSIVE FEEDING DENGAN KEJADIAN STUNTING PADA BADUTA USIA 6-24 BULAN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS BANDARHARJO, SEMARANG Septamarini, Risna Galuh; Widyastuti, Nurmasari; Purwanti, Rachma
Journal of Nutrition College Vol 8, No 1 (2019): Januari 2019
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (458.895 KB) | DOI: 10.14710/jnc.v8i1.23808

Abstract

Latar Belakang : Stunting merupakan wujud gizi kurang yang ditandai dengan indikator PB/U dan paling berisiko terjadi pada masa dua tahun pertama usia anak. Faktor yang mempengaruhi salah satunya adalah asupan dimana ibu memiliki peran penting terhadap asupan melalui pola pemberian makan, salah satunya dengan Responsive Feeding (RF). Praktik RF di Indonesia sejak usia 6 bulan keatas masih belum optimal. Tujuan : Mengetahui hubungan antara pengetahuan dan sikap RF  dengan kejadian stunting pada baduta usia 6-24 bulan. Metode : Penelitian observasional dengan pendekatan case control di Wilayah Puskesmas Bandarharjo Semarang. Banyak subjek kelompok kasus 32 baduta dan kelompok konrol 32 baduta, dipilih secara purposive sampling dengan matching. Data yang dikumpulkan meliputi: karakteristik subjek, karakteristik ibu, pengetahuan serta sikap RF ibu. Berat badan diukur menggunakan baby scale dan tinggi badan diukur menggunakan length board. Asupan energi, protein, seng  diperoleh dari semi quantitatif - food frequency questionairre (SQ-FFQ). Data dianalisis dengan uji analisis univariat, analisis bivariat menggunakan uji Chi Square, dan OR untuk mengetahui besar risiko. Hasil : Prevalensi baduta stunting di Kelurahan Bandarharjo 22,6%. Rerata pengetahuan dan sikap RF kelompok kasus 59,4% rendah, 68,7% kurang sesuai, pada kelompok kontrol 87,5% cukup, 72,9% cukup sesuai. Terdapat hubungan antara pengetahuan dan sikap RF dengan kejadian stunting pada baduta usia 6-24 bulan (p=0,000;OR=10,2;CI=3,76-27,75); (p=0,003;OR=5,6;CI=2,17-21,67)Simpulan : Terdapat hubungan antara pengetahuan dan sikap RF dengan kejadian stunting pada baduta usia 6-24 bulan. Ibu dengan pengetahuan RF rendah berisiko 10,2 kali lebih besar memiliki anak stunting dibandingkan dengan ibu berpengetahuan cukup. Ibu dengan sikap RF kurang sesuai berisiko 5,6 kali lebih besar memiliki anak stunting dibandingkan dengan ibu yang memiliki sikap RF yang cukup.
PERBEDAAN PERUBAHAN KADAR KOLESTEROL LDL SETELAH PEMBERIAN EKSTRAK DAN REBUSAN DAUN SALAM (EUGENIA POLYANTHA) PADA TIKUS SPRAGUE DAWLEY YANG DIBERI PAKAN TINGGI LEMAK Shinta, Astri Praba; Kartasurya, Martha Irene
Journal of Nutrition College Vol 3, No 1 (2014): Januari 2014
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (272.916 KB) | DOI: 10.14710/jnc.v3i1.4536

Abstract

LatarBelakang : Dislipidemia merupakan gangguan metabolisme lipid berupa peningkatan kadar kolesterol total, kolesterol Low Density Lipoprotein (LDL), trigliserida, dan penurunan kolesterol High Density Lipoprotein (HDL). Quercetin yang terkandung dalam flavonoid daun salam dapat menurunkan kadar kolesterol LDL.Metode : Jenis penelitian ini adalah eksperimental laboratorik dengan pre-post test randomized control group design. Subjek penelitian adalah 24 tikus Sprague Dawley jantan berumur 8 minggu yang dibagi menjadi 4 kelompok, yang terdiri dari 6 ekor tikus. Keempat kelompok diberi pakan standar dan diet tinggi lemak. Kelompok pertama merupakan kelompok kontrol positif dan kelompok kedua diberi 0,18 g/kg BB simvastatin. Kelompok ketiga diberi 0,034 g/kg BB ekstrak daun salam dan kelompok keempat diberi 0,72 g/kg BB rebusan daun salam. Kadar kolesterol LDL ditentukan dengan metode CHOD-PAP. Normalitas distribusi data diuji dengan Shapiro-Wilks. Data dianalisis dengan uji paired t-test, Kruskall Wallis, dan One Way Anova.Hasil : Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan kadar kolesterol LDL yaitu 79,7 mg/dL pada kelompok kontrol positif; 38,3 mg/dL pada kelompok rebusan; 26,2 mg/dL pada kelompok ekstrak; serta 2,9 mg/dL pada kelompok simvastatin. Kelompok kontrol positif mengalami peningkatan kadar kolesterol LDL paling tinggi dibandingkan dengan kelompok lainnya. Peningkatan kadar kolesterol LDL pada kelompok ekstrak (26,2 mg/dL) lebih rendah dibandingkan dengan kelompok rebusan (38,3 mg/dL). Hasil uji Post Hoc menunjukkan bahwa terdapat perbedaan perubahan kadar kolesterol LDL antara kelompok simvastatin dan kontrol positif; simvastatin dan ekstrak; simvastatin dan rebusan; ekstrak dan kontrol positif; ekstrak dan rebusan; serta rebusan dan kontrol positif. Simpulan : Pemberian rebusan daun salam tidak dapat menurunkan kadar kolesterol LDL pada tikus Sprague Dawley yang diberi pakan tinggi lemak namun peningkatan kadar kolesterol LDL pada kelompok rebusan lebih rendah dibandingkan dengan kelompok kontrol positif serta lebih tinggi peningkatannya dibandingkan dengan kelompok ekstrak dan simvastatin.
HUBUNGAN ASUPAN PROTEIN, SENG DAN SERUM SENG PADA ANAK SEKOLAH DASAR Rejeki, Vina Puji; Panunggal, Binar
Journal of Nutrition College Vol 5, No 3 (2016): Juli 2016
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (547 KB) | DOI: 10.14710/jnc.v5i3.16393

Abstract

Latar belakang : Defisiensi seng merupakan salah satu penyebab gangguuan pertumbuhan dan perkembangan pada anak dengan prevalensi yang bervariasi di berbagai negara berkembang. Salah satu faktor penyebab defisiensi seng adalah asupan makronutrien dan mikronutrien yang tidak adekuat, seperti asupan protein dan asupan seng.Tujuan : Untuk menganalisa hubungan antara asupan protein, seng dan serum seng pada anak sekolah dasarMetode : Penelitian ini menggunakan rancangan cross-sectional. Jumlah subjek penelitian ini adalah 40 anak sekolah dasar (usia 9-12 tahun) di SD IT Taqwityatul Wathon dan SDN 02 Bandarharjo, Kota Semarang. Subjek dipilih dengan metode simple random sampling. Data yang dikaji meliputi karakeristik subjek, asupan protein, asupan seng, dan kadar serum seng. Data asupan diperoleh dengan menggunakan instrumen Semi Quantitative Food Frequency Questionare. Kadar serum seng menggunakan metode Atomic Absorbant Spechtrophometry (AAS). Uji statistik yang digunakan adalah uji Pearson?s.Hasil : Sebanyak 92,5% subjek mengalami defisiensi seng dengan nilai rerata 43,98 ± 16,1 µg/dl, dan sebanyak 5% subjek masuk dalam kategori sangat pendek . Terdapat hubungan yang positif antara asupan protein dengan kadar serum seng (r=0,36, p=0,022) dengan nilai rerata asupan protein 51,31 ± 21,5 g. Ada hubungan yang positif antara asupan seng dengan kadar serum seng (r=0,46, p = 0,006) dengan dan rerata asupan seng sebesar 5,71 ± 2,3 mg. Sebagian besar asupan subjek kurang dari kebutuhan, terutama untuk asupan protein dan seng. Presentase asupan protein subjek yang tergolong kurang sebesar 47,5%, dan sebanyak 97,5% subjek memiliki asupan seng yang kurang.Simpulan : Ada hubungan antara asupan protein, asupan seng dengan kadar serum seng pada anak sekolah dasar.
FEMALE ATHLETE TRIAD PADA ATLET PUTRI DI PUSAT PENDIDIKAN LATIHAN (PUSDIKLAT) RAGUNAN JAKARTA Ratu Saputri, Gita Ayu Rosalinda; Dieny, Fillah Fithra
Journal of Nutrition College Vol 1, No 1 (2012): Oktober 2012
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (234.247 KB) | DOI: 10.14710/jnc.v1i1.512

Abstract

Background: Female athletes tend to consume improper for supporting their performance, so that can impact eating disorder. Eating disorder can lead menstrual irregularity and osteoporosis for them, so they have risk of female athlete triad. The aimed of this study to determine prevalence of female athlete triad in education and training centre (PUSDIKLAT) Ragunan Jakarta. Methods: Descriptive research with cross sectional design, and calculation of total subject used stratified proportional random sampling. The sample was composed of 65 female athletes in Education and Training Center (PUSDIKLAT) Ragunan Jakarta. Data include nutritional status, eating disorder, menstrual disorder, and bone density. Assessment of nutritional status used BMI/A percentile and percent body fat; measurement of percent body fat used body fat analyzer HBF 200; assessment of eating disorder used eating disorder diagnostic scale; measurement of menstrual irregularity used questionnaire including frequency, menstrual cycle, menarche, and menstruation on last 3 months; and measurement of bone density used quantitative ultrasound bone densitometry. Result: Female athlete triad not found on subjects, but 15 subjects (23.1%) had bulimia and 1 subject (1.5%) had menstrual irregularity, i.e oligoamenorrhea, whereas bone density of all subjects (100%) normal, so that only 1 subject (1.5%) had two symptom of female athlete triad (bulimia and oligoamenorrhea).fifty six subjects (86,2%) had normal  nutritional status. Based on fat body percent, that was found 1 subject (1.5%) having underfat, 10 subjects (15.4%) overfat, and 2 subjects (3.1%) obese. Conclusion:Female athlete triad not found in Education and Training Center (PUSDIKLAT) Ragunan Jakarta
HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP DALAM MEMILIH MAKANAN JAJANAN DENGAN OBESITAS PADA REMAJA DI SMP NEGERI 2 BREBES Sukma, Devi Cahya; Margawati, Ani
Journal of Nutrition College Vol 3, No 4 (2014): Oktober 2014
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (273.479 KB) | DOI: 10.14710/jnc.v3i4.6892

Abstract

Latar belakang : Pengetahuan berpengaruh terhadap sikap  dalam  memilih makanan jajanan. Pengetahuan yang baik diharapkan mempengaruhi  konsumsi makanan yang baik sehingga  dapat menuju status gizi yang baik pula. Kurang cukupnya pengetahuan tentang gizi dan kesalahan dalam memilih makanan jajanan akan berpengaruh terhadap status gizi seperti obesitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara pengetahuan dan sikap dalam memilih makanan jajanan dengan obesitas di SMP Negeri 2 BrebesMetode: Jenis penelitian ini adalah penelitian observasional dengan rancangan cross sectional. Subyek penelitian ini adalah remaja kelas VII-IX di SMP Negeri 2 Brebes. Pengambilan sampel sebanyak 66 anak dilakuan dengan simple random sampling. Data yang dikumpulkan meliputi pengetahuan dan sikap dalam memilih makanan jajanan yang diperoleh berdasarkan hasil wawancara dengan kuesioner, dan perhitungan IMT berdasarkan hasil pengukuran berat badan dan tinggi badan. Uji normalitas menggunakan Kolmogorof- Smirnov. Data berdistribusi tidak normal pengujian menggunakan uji korelasi Chi-Square.Hasil:. Hampir seluruh responden memiliki pengetahuan baik yaitu sebanyak 63 orang (95,5%), dan memiliki sikap yang baik sebanyak 57 orang (86,4%). Subyek dalam kategori non obesitas sebanyak 50 orang (75,8%), pre obesitas  sebanyak 7 orang (10,6%), dan obesitas  sebanyak 9 orang (13,6%).  Uji statistik menunjukkan tidak terdapat hubungan yang bermakna antara pengetahuan dan sikap dalam memilih makanan jajanan dengan obesitas pada remaja (p>0,05)Simpulan: Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara pengetahuan dan sikap dalam memilih makanan jajanan dengan obesitas pada remaja di SMP Negeri 2 Brebes.

Page 1 of 56 | Total Record : 553