cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sumedang,
Jawa barat
INDONESIA
Majalah Kedokteran Bandung
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 41, No 2" : 7 Documents clear
PERBEDAAN EFEK PEMBERIAN TOPIKAL GEL LIDAH BUAYA (ALOE VERA L.) DENGAN SOLUSIO POVIDONE IODINE TERHADAP PENYEMBUHAN LUKA SAYAT PADA KULIT MENCIT (MUS MUSCULUS) Atik, Nur; Iwan A. Rahman, Januarsih
Majalah Kedokteran Bandung Vol 41, No 2
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (409.027 KB)

Abstract

Penyembuhan luka yang normal merupakan suatu proses kompleks dan dinamis. Proses penyembuhan dapat dibantu baik dengan pengobatan secara kimiawi maupun alami. Pengobatan kimiawi biasanya menggunakan povidone iodine sedangkan salah satu cara alami dengan pemberian topikal gel lidah buaya (Aloe vera L.) yang diduga dapat mempercepat proses penyembuhan luka. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perbedaan penyembuhan luka sayat yang diberikan topikal gel lidah buaya dengan povidone iodine pada kulit mencit. Penelitian ini menggunakan 18 mencit (Mus musculus) yang terbagi dalam 3 kelompok, yaitu kelompok luka sayat (kontrol), kelompok luka sayat ? lidah buaya, dan kelompok luka sayat povidone iodine. Setiap kelompok dibuat full-thickness skin wound di punggung mencit. Luka pada grup kontrol tidak diberikan perlakuan, sementara gel lidah buaya diberikan secara topikal sebanyak 2 kali/hari pada grup kedua, dan solusio povidone iodine diberikan sebanyak 2 kali/hari pada grup ketiga. Pada hari kelima semua mencit dikorbankan untuk dievaluasi perubahan histologik dan ekspresi vascular endothelial growth factor A (VEGF-A). Data diperoleh melalui pengamatan mikroskopik terhadap jaringan kulit yang terluka, dengan parameter tebal epitel, jumlah rata-rata sel fibroblas, pembuluh darah dan ekspresi VEGF A, kemudian dianalisis statistik menggunakan independent samples T test, Analisis of variant (ANOVA) dan Chi square. Dari hasil penelitian didapatkan tebal epitel, jumlah rata-rata fibroblas, pembuluh darah, dan ekspresi VEGF A pada kelompok luka sayat -lidah buaya lebih tebal dan lebih banyak jika dibandingkan dengan kelompok povidone iodine. Melalui uji statistik dapat diketahui adanya perbedaan yang bermakna (p < 0,05) tebal epitel, jumlah rata-rata sel fibroblas; pembuluh darah dan ekspresi VEGF A pada kedua kelompok dengan taraf kepercayaan 95%. Hal ini menandakan bahwa pemberian topikal gel lidah buaya pada luka sayat kulit mencit sebanyak dua kali sehari lebih baik daripada pemberian solusio povidone iodine dilihat dari parameter tebal epitel, jumlah rata-rata fibroblas, pembuluh darah, dan ekspresi VEGF A.Kata kunci: Lidah buaya (Aloe vera L.), solusio povidone iodine, penyembuhan luka sayat, pemberian topikalTHE DIFFERENCES BETWEEN TOPICAL APLICATION OF THE ALOE VERA GEL WITH THE POVIDONE IODINE SOLUTIO FOR SKIN WOUND HEALING IN MICE (Mus Musculus)Normal wound healing is a complex and dynamic process. Wound healing process can accelerate, with chemical treatment or natural. The chemical treatment often used in healing process is povidone iodine. For natural treatment, topical application of Aloe vera gel may accelerate the full-thickness wound healing process. The purpose of this research was to evaluate the differences between topical application of povidone iodine and Aloe vera gel for skin wound healing in mice. This study used 18 mice that were divided into three groups. First group was the wounded (control) group, the second group was wounded ? Aloe vera group, the third group was wounded - povidone iodine group. Full-thickness skin wound were created on the dorsal area of mice in each group. The control group were not given anything, while the second group were given Aloe vera gel twice a day, and the third group were given povidone iodine solution twice a day. At the fifth day, all mice were sacrificed for histologic evaluation and VEGF A expression. Data was obtained by microscopic observation of the wounded skin, based on quantitative parameter: epithelial thickness, total fibroblast, total blood vessels, and VEGF A expression. Then the data was statistically analyzed by using independent samples T test, ANOVA, and Chi square. The result demonstrated that the sum of epithelial thickness, fibroblast, blood vessels, and VEGF A expression in the Aloe vera group is higher than in povidone iodine group.  Statistic evaluation showed that there were significant differences between the two groups (p < 0.05), with 95% confidence interval. Based on this result, it can be concluded that the topical administration of Aloe vera gel twice a day is better than povidone iodine with parameter epithelial thickness, total fibroblass, total blood vessels and VEGF A expression.Key words: Aloe vera, povidone iodine solution, lacerating wound healing, topical application DOI: http://dx.doi.org/10.15395/mkb.v41n2.188
PENCEGAHAN DAN PENATALAKSANAAN INFEKSI HIV/AIDS PADA KEHAMILAN Suhaimi, Donel; Savira, Maya; Krisnadi, Sofie R.
Majalah Kedokteran Bandung Vol 41, No 2
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Acquired immunodeficiency syndrome (AIDS) adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus human immunodeficiency virus (HIV). AIDS dikarakteristikkan sebagai penyakit imunosupresif berat yang sering dikaitkan dengan infeksi oportunistik dan tumor ganas serta degenerasi susunan saraf pusat. Penyebaran HIV ini berkembang dengan cepat dan mengenai wanita dan anak-anak. AIDS menyebabkan kematian lebih dari 20 juta orang setahun. Tahun 2003 diperkirakan 700.000 bayi baru lahir terinfeksi HIV di seluruh dunia. Angka morbiditas dan mortalitas yang disebabkan oleh HIV semakin meningkat dan merupakan masalah kesehatan masyarakat yang paling penting di semua negara. Penggunaan obat antivirus seperti highly active antiretroviral therapy (HAART) dan persalinan berencana dengan seksio sesaria telah menurunkan angka transmisi perinatal mother to child trasmission (MTCT) penyakit ini dari 30% menjadi 20%. Manejemen antenatal, persalinan, dan perawatan pascasalin yang terkontrol dengan baik pada ibu hamil dengan HIV dapat mencegah transmisi perinatal.Kata kunci : AIDS, HAART, MTCTPREVENTION AND MANAGEMENT OF HIV INFECTION (AIDS) IN PREGNANCYAcquired immunodeficiency syndrome (AIDS) is a disease which caused by human immunodeficiency virus (HIV). Characteristic of AIDS is due to severe immunosupresive disease which related to opportunistic infection, malignant tumour and central nervous system degeneration. HIV spread widely and mostly infect women and children. Mortality rate of AIDS are more than 20 million people per year. In 2003, 700,000 newborn were infected by HIV in the world. Morbidity and mortality rate of HIV are highly increase dan become an important public health problem in all around the world. Using of antiviral drugs like highly active antiretroviral therapy (HAART) and ceasarean labor has decreased the perinatal transmission (mother-to-child trasmission=MTCT) rate of this disease from 30% to 20%. The intensive control in management of antenatal care, labor and delivery for the pregnant women with HIV can prevent the perinatal transmission.Key words: AIDS, HAART, MTCT DOI: http://dx.doi.org/10.15395/mkb.v41n2.184
PREVALENSI KECACINGAN PADA MURID SEKOLAH DASAR NEGERI DI DESA CIHANJUANG RAHAYU PARONGPONG BANDUNG BARAT Silitonga, Mettison M.; Sudharmono, Untung; Hutasoit, Masta
Majalah Kedokteran Bandung Vol 41, No 2
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penyakit infeksi akibat cacing usus di Indonesia masih cukup tinggi. Hal ini berhubungan dengan kurang diperhatikannya pola perilaku hidup bersih dan sehat. Penyakit cacing dapat mengganggu pertumbuhan anak dan menghambat prestasi belajar murid sekolah dasar. Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh data prevalensi kecacingan pada murid Sekolah Dasar Negeri di Desa Cihanjuang Rahayu. Penelitian ini menggunakan metode epidemiologik observasional dengan bentuk dan rancangan prevalensi selektif. Objek penelitian ini adalah sampel tinja murid-murid SD Kelas III hingga Kelas V dari empat SD yang berbeda selama 25-27 juni 2008. Pemilihan sampel dilakukan dengan purposive sampling design. Sampel tinja diperiksa menggunakan teknik sediaan tebal atau teknik Kato. Dari 142 sampel yang diperiksa, ditemukan 22 sampel yang positif mengandung telur atau larva cacing, yaitu: >12 sampel mengandung cacing A. lumbricoides, 7 sampel mengandung cacing T. trichiura, 1 sampel mengandung E. vermicularis, dan 2 sampel mengandung cacing tambang. Prevalensi kecacingan pada murid SDN di Desa Cihanjuang Rahayu adalah 15,5%. Angka ini menunjukkan bahwa ada sebanyak 15,5% murid-murid SDN terinfeksi atau mengidap penyakit cacing.Kata kunci: Prevalensi, cacing usus, SDN, Cihanjuang RahayuPREVALENCE OF HELMINTHIC DISEASE AMONG GOVERNMENT ELEMENTARY SCHOOL STUDENTS AT CIHANJUANG RAHAYU VILLAGE PARONGPONG, WEST BANDUNGThe prevalence of helminthic disease in Indonesia is still high. This is due to the negligence of healthy life style. Helminthic disease may disrupt physical growth and development of a child and even lowers his intellectual ability. The purpose of this research was to measure the prevalence rate of helminthic disease among Government Elementary School Students in Cihanjuang Rahayu Village. The research was conducted by using observational epidemiologic method. The object of the research was the stool of third to fifth grade pupils from four different elementary schools during 25-27 june 2008. The sample was chose by using purposive sampling design and the stool was observed with Kato technique. From 142 samples, it was found out that 22 samples were positive with egg and larva of helminth, which further classification as follows: A. limbriocoides, T. trichiura, E. Vermicularis, and N. americanus/A. duododenale were found in 12, 7, 1, and 2 samples, respectively. The prevalence of helminthic disease among government elementary students in Cihanjuang Rahayu village was 15.5 percent. This number shows that there are 15,5 percent students infected by helminthic disease.Key words: Prevalence, helminthes, elementary school, Cihanjuang Rahayu DOI: http://dx.doi.org/10.15395/mkb.v41n2.260
BINDING OF ENDOTHELIN-1 TO HUMAN BLOOD MONOCYTE Achmad, Tri Hanggono; S. Rao, Govind
Majalah Kedokteran Bandung Vol 41, No 2
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Monocyte attachment to the endothelium and migration into the vessel intima are the initiating steps in atherogenesis. This is thought to be facilitated by endothelin-1 (ET-1) as a potent chemoattractant to human blood monocytes. To explore the presence of ET-1 receptor(s) on the monocyte, we studied the binding of ET-1 to freshly isolated human blood monocytes, in the laboratory of the Institute of Clinical Biochemistry, University of Bon, Germany in 1995. Radioligand binding studies revealed the presence of two distinct subclasses of binding sites with apparent dissociation constants, K s, of 10.3 pM and 3.5 nM and maximal binding capacities, B s, of 0.027 fmol and 0.63 d max fmol/1.5x105 cells. Using monocyte migration as a response to ET-1, and ET-1 receptor antagonists BQ-123, BQ- 18257B and IRL-1038, the presence of two ET receptor subtypes, ET and ET , were detected. These results suggest A B that the chemotactic stimulus introduced by ET-1 can be activated ET-1 specific receptors on the monocytes.Key words: Endothelin-1, monocyte, receptor-bindingIKATAN ENDOTELIN-1 PADA MONOSIT DARAH MANUSIAMenempelnya monosit ke permukaan endotel dan bermigrasi kedalam tunika intima merupakan langkah awal pada aterogenesis. Hal ini diduga diperantarai oleh peran endotelin-1 (ET-1) yang dikenal sebagai chemoattractant poten bagi monosit. Untuk mengungkapkan adanya reseptor ET-1 pada monosit, dilakukan penelitian ikatan ET-1 pada monosit yang diisolasi dari darah manusia, di laboratorium Institute of Clinical Biochemistry, Universitas Bonn, Jerman pada tahun 1995. Penilaian ikatan radioligand menunjukkan adanya dua subkelas berbeda dari tempat ikatan dengan konstanta disosiasi (K ) masing-masing 10,3 pM dan 3,5 nM, serta kapasitas ikatan maksimal (B ) d max masing-masing sebesar 0,027 fmol dan 0,63 fmol/1,5x105 sel. Dari hasil penilaian tingkat migrasi monosit sebagai respons terhadap ET-1 dengan atau tanpa beberapa antagonis reseptor ET-1, BQ-123, BQ-18257B dan IRL-1038, terdeteksi adanya dua subtipe reseptor ET, yaitu ET dan ET . Hasil ini menunjukkan bahwa rangsangan kemotaksis A B yang ditimbulkan ET-1 dapat mengaktifkan reseptor spesifik ET-1 pada monosit.Kata kunci: Endotelin-1, monosit, ikatan-reseptor DOI: http://dx.doi.org/10.15395/mkb.v41n2.185
HUBUNGAN JUMLAH DARAH TRANSFUSI, PEMBERIAN DEFEROKSAMIN, DAN STATUS GIZI DENGAN KADAR SENG PLASMA PADA PENDERITA THALASSEMIA MAYOR ANAK Bachtiar, Ivan Rachmad; Fadil, R. M. Ryadi; M. S, Azhali
Majalah Kedokteran Bandung Vol 41, No 2
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Seng banyak berperan dalam berbagai aktivitas biologik penting. Beberapa penelitian sebelumnya menunjukkan kadar seng plasma yang rendah pada penderita thalassemia mayor anak. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan jumlah darah transfusi, pemberian deferoksamin, dan status gizi dengan kadar seng plasma penderita thalassemia mayor anak. Penelitian ini menggunakan rancangan cross-sectional dengan subjek penelitian penderita thalassemia mayor berusia kurang dari 14 tahun yang berobat jalan di Poliklinik Thalassemia Anak RS Hasan Sadikin Bandung selama bulan Mei-Juni 2008. Dilakukan penghitungan jumlah darah transfusi, pemberian deferoksamin dibedakan antara optimal-tidak optimal, status gizi dibedakan menjadi gizi baik-gizi kurang. Analisis statistik dilakukan dengan uji korelasi Pearson dan uji Chi square, dengan interval kepercayaan 95%. Didapatkan 57 subjek terdiri dari 29 anak laki-laki dan 28 anak perempuan berusia antara 2 tahun 1 bulan dan 13 tahun 9 bulan. Kadar seng plasma berkisar antara 42 dan 91 g/dL (68,65;11,68) dan jumlah darah transfusi berkisar antara 1.680 dan 45.700 mL (17.913,25;10.404,18). Uji korelasi Pearson menunjukkan hubungan antara jumlah darah transfusi dan kadar seng plasma dinyatakan dengan r=-0,189; p=0,0795. Uji Chi square tentang hubungan pemberian deferoksamin dan status gizi dengan kadar seng plasma dinyatakan dengan x2=0,073; p=0,786 dan x2=0,468; p=0,494. Kesimpulan: Jumlah darah transfusi, pemberian deferoksamin, dan status gizi tidak memiliki hubungan dengan kadar seng plasma pada penderita thalassemia mayor anak.Kata kunci: Thalassemia mayor, darah tranfusi, deferoksamin, status gizi, seng plasmaCORRELATION THE AMOUNT OF BLOOD TRANSFUSION, DEFEROXAMINE USAGE, AND NUTRITIONAL STATUS WITH PLASMA ZINC LEVEL IN PEDIATRIC MAJOR THALASSEMIARoles of zinc have been known in many important biologic activities. Previous studies found that there were low plasma zinc level in children with major thalassemia. The aim of this study was to determinate correlation the amount of blood transfusion, deferoxamine usage and nutrition status with plasma zinc level in pediatric major thalassemia. The cross-sectional study was conducted from Mei to June 2008 at Clinic of Pediatric Thalassemia Dr. Hasan Sadikin Hospital Bandung with subjects below 14 years. The amount of blood transfusion was calculated, deferoxamine usage was divided into optimal and non-optimal, nutritional status was classified into well-nourished and undernourished. Statistical analysis were performed with Pearson correlation test and Chi square test, with 95% confidence interval. The amount of 57 subjects consisted of 29 boys and 28 girls, ages ranged from 2 years 1 month to 13 years 9 months. The plasma zinc levels ranged from 42 to 91 g/dL (68.65; 11.68) and the amount of blood transfusion ranged from 1,680 to 45,700 mL (17,913.25; 10,404.18). The Pearson correlation test which showed the correlation between plasma zinc level and the amount of blood transfusion was stated by r=-0.189; p=0.0795. Chi-square test showed the impact of deferoxamine usage and nutritional status on plasma zinc level were x2=0.073; p=0.786 and x2=0.468; p=0.494. We conclude that the amount of blood transfusion, deferoxamine usage, and nutritional status are not correlated with plasma zinc level in children with major thalassemia.Key words: Major thalassemia, blood tranfusion, deferoxamine, nutritional status, plasma zinc DOI:  http://dx.doi.org/10.15395/mkb.v41n2.261
KADAR ADIPONEKTIN SEBAGAI FAKTOR RISIKO PENEBALAN TUNIKA INTIMA MEDIA ARTERI KAROTIS Juanda, Hadi; MA, Toni; Ruhimat, Undang; Suardi, Ernijati
Majalah Kedokteran Bandung Vol 41, No 2
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penyakit kardiovaskular masih merupakan masalah kesehatan dan penyebab kematian utama di negara maju dan berkembang walaupun telah dilakukan upaya pencegahan dan tata laksana yang baik. Pemeriksaan ultrasonografi (USG) sebagai evaluasi/diagnosis dini adanya aterosklerosis subklinis untuk memprediksi kejadian kardiovaskular di masa mendatang. Pemeriksaan carotid intima media thickness (CIMT) dapat memberikan gambaran adanya kerusakan/disfungsi pembuluh darah secara umum terutama pembuluh koroner jantung. Adiponektin mempunyai efek antiinflamasi dan antiaterogenik sehingga disimpulkan adiponektin bermanfaat karena mempunyai efek kardioprotektif. Walaupun demikian penelitian peranan adiponektin terhadap penebalan tunika intima media arteri karotis pada manusia masih terbatas dan hasil penelitian menemukan hasil yang berbeda. Untuk mengetahui peranan adiponektin sebagai faktor risiko terhadap penebalan tunika intima media arteri karotis dilakukan penelitian dengan rancangan kasus kelola. Subjek penelitian adalah penderita obesitas abdominal pria dan wanita dengan rentang usia 40-59 tahun yang telah diperiksa ketebalan tunika intima media arteri karotis dengan USG. Kriteria eksklusi adalah gagal jantung kongestif, penyakit jantung koroner, stroke, dan penderita yang menggunakan obat glukokortikoid. Didapatkan 40 subjek dengan penebalan tunika intima media arteri karotis (kasus) dan 40 subjek tanpa penebalan tunika intima media arteri karotis (kontrol). Pada kelompok kasus kadar adiponektin lebih rendah dibanding kelompok kontrol, yaitu yaitu 4,1 ìg/mL (SB 1,7) berbanding 6,0 ìg/mL (SB 3,0). Hasil analisis statistik dengan uji chi square pada derajat kepercayaan 95% (1,05-12,78), OR 3,67 dengan nilai p=0,04 menunjukkan bahwa adiponektin bersama dengan DM, hipertensi dan MetS secara bermakna merupakan faktor risiko untuk terjadinya penebalan tunika intima media arteri karotis. Pada penelitian ini didapatkan titik potong (cut-off point) kadar adiponektin sebesar 5,09 ug/dL dengan ROC 0,682, derajat kepercayaan 95% (0,569-0,782), sensitivitas 77,5% dan spesifisitas 55,0%. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa kadar adiponektin yang rendah (<5,09 ug/dL) merupakan faktor risiko untuk terjadinya penebalan tunika intima media arteri karotis.Kata kunci: Adiponektin, penyakit kardiovaskular, CIMTADIPONECTIN LEVEL AS A RISK FACTOR OF CAROTID ARTERY INTIMAMEDIAL THICKENINGCardiovascular diseases remain a major health problem and the leading cause of mortality both in industrialized and developing country, despite the improvement in its prevention and management. Ultrasonography (USG) can be used in the evaluation and early diagnosis of subclinical atherosclerosis to predict cardiovascular events in the future. Carotid intima-medial thickness (CIMT) is a surrogate of vascular dysfunction especially coronary vessels. Adiponectin has anti-inflammatory and anti-atherogenic properties, that is thought to be beneficial because of its cardioprotective effect. However the studies in the role of adiponectin in human is limited and earlier studies found conflicting results. To evaluate the role of adiponectin as a risk factor of carotid artery intima-medial thickening, we conducted this case-control study. The subjects were obese male and female between 40-59 years of age, who were evaluated by carotid artery intima-medial ultrasonography. Exclusion criteria were congestive heart failure, coronary heart disease, stroke and glucocorticoid treatment. Forty subjects with carotid artery intima-medial thickening (cases) and 40 subjects without thickening (control). Adiponectin levels in case group were lower than in control group, 4.1 ìg/mL (SB 1.7) and 6.0 ìg/mL (SB 3.0), respectively. Statistical analysis with chi square test with confidence interval (CI) 95% (1.05-12.78), OR 3.67 with p=0.04 (p<0.05) showed that adiponectin is a significant risk factor of carotid artery intima-medial thickening together with diabetes mellitus, hypertension, and metabolic syndrome.  This study found the cut-off point of adiponectin was 5.09 ug/dL with ROC 0.682, CI 95% (0.569-0.782), sensitivity 77.5% and specificity 55,0%. Conclusion: low adiponectin level (<5,09 ug/dL) is a risk factor of developing carotid artery intima-medial thickening.Key words: Adiponectin, cardiovascular disease, CIMT DOI: http://dx.doi.org/10.15395/mkb.v41n2.186
PERBANDINGAN ANGKA POSITIVITAS DAN WAKTU DETEKSI PERTUMBUHAN MYCOBACTERIUM TUBERCULOSIS ANTARA MEDIA BIAKAN CAIR KOLOROMETRIK DAN MEDIA PADAT OGAWA PADA SPESIMEN SPUTUM,CAIRAN PLEURA, DAN CAIRAN SEREBROSPINAL Indahwaty, -; Parwati, Ida; Soeroto, Arto Yuwono; Noormartany, -
Majalah Kedokteran Bandung Vol 41, No 2
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Biakan merupakan pemeriksaan baku emas untuk diagnosis tuberkulosis (TB). Pertumbuhan M. tuberculosis pada medium padat memerlukan waktu 3-4 minggu, sedangkan pada medium cair lebih cepat tumbuh. Penelitian ini bertujuan membandingkan angka positivitas dan waktu deteksi pertumbuhan M. tuberculosis antara medium cair kolorimetrik dan medium padat Ogawa. Penelitian dilakukan di Laboratorium Patologi Klinik RSHS periode Juni- Desember 2007. Subjek penelitian adalah penderita tersangka TB paru, pleura, atau meningen. Analisis statistik menggunakan chi square dan independent t test. Spesimen penelitian terdiri dari 71 sputum, 24 cairan pleura, dan 20 cairan serebrospinal (CSS). Pada medium cair biakan positif M. tuberculosis dari sputum adalah 69%, cairan pleura 41,7%, CSS 60%; pada medium padat dari sputum 52,1%, cairan pleura 25%, CSS 20%. Angka positivitas medium cair berbeda bermakna untuk sputum dan CSS (p<0,05). Rerata waktu deteksi pertumbuhan pada medium cair untuk sputum 15,2 (±8,7) hari, cairan pleura 8 (±12,7) hari, CSS 13,5 (±19,5) hari. Rerata waktu deteksi pertumbuhan pada medium padat untuk sputum 23 (±9) hari, cairan pleura 36 (±18,3) hari, dan CSS 32 (±11,4) hari. Waktu deteksi pertumbuhan M. tuberculosis pada medium cair berbeda bermakna untuk sputum dan cairan pleura (p<0,05). Medium cair memberikan angka positivitas lebih tinggi dan waktu deteksi pertumbuhan M. tuberculosis lebih cepat dibandingkan medium padat, sehingga baik untuk diagnosis TB.Kata kunci: M. tuberculosis, sputum, cairan pleura, CSS, medium padat, medium cair, angka positivitas, waktu deteksi pertumbuhanCOMPARISON OF THE POSITIVITY AND MEAN DETECTION TIME OF MYCOBACTERIUM TUBERCULOSIS GROWTH USING COLORIMETRIC LIQUID MEDIA AND OGAWA SOLID MEDIA WITH SPECIMENS FROM SPUTUM, PLEURAL FLUID AND CEREBROSPINAL FLUIDCultivation is the gold standard in diagnosing tuberculosis (TB). M. tuberculosis needs 3-4 weeks to growth in solid media, but it is growing faster in liquid media. The aim of this study was to compare the positivity rate and detection time of M. tuberculosis growth using colorimetric liquid and Ogawa solid media. This study did in Laboratory of Clinical Pathology Hasan Sadikin Hospital during June-Desember 2007. The subject was pulmonary, pleuritis or meningitis TB patients. The statistic analyzed using chi square and independent t test. The specimens were 71 sputums, 24 pleural fluids, 20 cerebrospinal fluids (CSF). The positivity rate of liquid media for sputums were 69%, pleural fluids 41.7%, CSF 60%. The positivity rate of solid media for sputums were 52.1%, pleural fluids 25%, CSF 20%. The positivity rate in liquid media was significant for sputum and CSF (p=0..05). The mean detection time in liquid media for sputums were 15.2 (±8.7) days, pleural fluids 8 (±12.7) days, CSF 13.5 (±19.5) days. The mean detection time in solid media for sputums 23 (±9) days, pleural fluids 36 (±18.3) days, CSF 32 (±11.4) days. The mean detection time in liquid media was significant for sputum and pleural fluid (p=0.05). The positivity rate and detection time of M. tuberculosis growth in colorimetric liquid media are higher and faster than in Ogawa solid media, so it is better for diagnosing TB.Key words: M. tuberculosis, sputum, pleural fluid, CSF, liquid media, solid media, positivity rate, mean detection time DOI: http://dx.doi.org/10.15395/mkb.v41n2.262

Page 1 of 1 | Total Record : 7