cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sumedang,
Jawa barat
INDONESIA
Majalah Kedokteran Bandung
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 41, No 3" : 6 Documents clear
SENSITIVITAS Salmonella Sp. PENYEBAB DEMAM TIFOID TERHADAP BEBERAPA ANTIBIOTIK DI RUMAH SAKIT IMMANUEL BANDUNG Maulana, Yanti
Majalah Kedokteran Bandung Vol 41, No 3
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Demam tifoid adalah penyakit demam enterik yang disebabkan Salmonella sp. terutama Salmonella typhi dan Salmonella paratyphi. Selain menggunakan kloramfenikol sebagai drug of choice , banyak pula antibiotik lain yang digunakan untuk penyembuhannya. Penggunaan antibiotik yang tidak rasional menyebabkan peningkatan resistensi bakteri. Penelitian ini bermaksud mengetahui sensitivitas Salmonella typhi dan Salmonella paratyphi terhadap beberapa antibiotik pilihan yang banyak digunakan di Indonesia dengan tujuan memberi informasi pola resistensi guna terapi empiris. Salmonella typhi dan Salmonella paratyphi didapat dari penderita demam tifoid di Rumah Sakit Immanuel Bandung tahun 2004–2007, dan dilakukan uji resistensi dengan metode difusi cakram menurut Kirby Bauer dengan standar NCCLS. Antibiotik uji terdiri dari amoksisilin, amoksisilin-asam klavulanat, kloramfenikol, siprofloksasin, seftriakson, trimetoprim, dan trimetoprim-sulfametoksazol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa golongan penisilin yaitu amoksisilin dan gabungan amoksisilin-asam klavulanat memberikan sensitivitas terhadap Salmonella sp. yang masih tinggi 99,36–99,68%. Kloramfenikol yang selama ini masih dipertahankan sebagai drug ofchoice masih sensitif 99,05% walaupun ternyata ada 3 sampel (0,95%) resisten. Karena sensitivitas tidak mencapai 100% berarti ada kemungkinan kurang lebih 8% resisten, itu sebabnya walaupun data ini dapat digunakan sebagai terapi empiris, disarankan untuk melakukan tes resistensi pada Salmonella sp. penyebab demam tifoid guna terapi antibiotik yang rasional dan tepat guna. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa S. typhi dan S. paratyphi masihsensitif terhadap antibiotik uji.Kata kunci: Sensitivitas, Salmonella sp., antibiotikSENSITIVITY TEST OF Salmonella Sp. AS CAUSATIVE OF TYPHOID FEVER TO SEVERAL ANTIBIOTICS AT IMMANUEL HOSPITAL BANDUNGTyphoid fever is an enteric fever caused by Salmonella sp. especially Salmonella typhi and Salmonella paratyphi. Various antibiotics used for therapy beside chloramphenicol as drug of choice. Non rational use of antibiotics may result increasing of resistence in bacteria. The aim of the research is to know the sensitivity of Salmonella typhi and Salmonella paratyphi to some antibiotics. The purpose is to gather information about antibiotics which are still effective for typhoid fever and enteric therapy. Salmonella typhi and Salmonella paratyphi strain from positive cultures diagnose typhoid fever patients at Immanuel Hospital Bandung during 2004-2007. The method of resistance is Kirby Bauer's disk diffusion assay with NCCLS standard. The disk antibiotics used are amoxicillin, amoxicillinclavulanic acid, chloramphenicol, ciprofloxacin, ceftriaxone, trimethoprim, and trimethoprim-sulfamethoxazole. The result showed penicillin group, amoxicillin and amoxicillin-clavulanic acid had 96.3–99.68% sensitive against Salmonella sp. Sensitivity of chloramphenicol as drug of choice of typhoid fever still 99.05%. Since the sensitivity less than 100%, it means there was about 8% resistence. Thats why eventhough this data can be used as empiric therapy, the writer suggest to do sensitivity test to Salmonella sp. that caused typhoid to get rationally dan effective treatment. From the result, it's concluded that Salmonella typhi and Salmonella paratyphi are still sensitive to all that antibiotics.Key words: Sensitivity, Salmonella sp., antibiotic DOI: http://dx.doi.org/10.15395/mkb.v41n3.248
NONTHYROIDAL ILLNESS (NTIs) Soetedjo, Nanny Natalia Mulyani
Majalah Kedokteran Bandung Vol 41, No 3
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Nonthyroidal Illness (NTIs) didefinisikan sebagai keadaan didapatkan fungsi tiroid yang abnormal tanpa ditemukan gangguan pada aksis hipotalamus-hipofise, juga tidak ada gangguan pada kelenjar tiroidnya. NTIs ditemukan pada penderita dengan sakit berat, dan biasanya fungsi tiroid akan membaik sejalan dengan kesembuhan penyakit dasarnya. Macam-macam gangguan fungsi tiroid sangat bervariasi, mulai dari rendahnya kadar triiodotironin serum (T3) dan meningkatnya reverse T3 (rT3). Sejalan dengan beratnya penyakit dasarnya maka sering juga mengakibatkan gangguan pada thyroid-stimulating hormone (TSH), tiroksin (T4), dan free T4 (fT4). NTIs semakin berat terjadi saat kedua hormon T3 dan T4 ditemukan menurun dan secara perlahan-lahan akan meningkat sejalan dengan kesembuhan penyakitnya. Sampai saat ini masih menjadi perdebatan apakah perlu atau tidak diberikan hormon pengganti tiroid. Masih diperlukan studi prospektif dengan jumlah pasien yang besar mengenai penggunaan hormon pengganti ini. Oleh karena itu perlu untuk memahami fisiologi dan patofisiologi NTIs sehingga kita dapat memahami kapan menggunakan hormon pengganti tiroid.Kata kunci: NTIs, fungsi tiroid, hormon pengganti tiroidNONTHYROIDAL ILLNESS (NTIs)Nonthyroidal illness (NTIs) can be described as abnormal findings on thyroid function tests that occur in the setting of a nonthyroidal illness (NTI) without preexisting hypothalamic-pituitary and thyroid gland dysfunction. After recovery from an NTI, these thyroid function test result abnormalities should be completely reversible. Multiple alterations in serum thyroid function test findings have been recognized in patients with a wide variety of NTI without evidence of preexisting thyroid or hypothalamic-pituitary disease. The most prominent alterations are low serum triiodothyronine (T3) and elevated reverse T3 (rT3), leading to the general term low T3 syndrome. Thyroid-stimulating hormone (TSH), thyroxine (T4), and free T4 also are affected in variable degrees based on the severity and duration of the NTI. It cannot diagnosed NTIs only by measure one thyroid hormone. As the severity of the NTI increases, both serum T3 and T4 levels drop and gradually normalize as the patient recovers. It's still be an argument for administration of replacement T3 and T4 hormone in patients with NTIS. However, it is impossible to be certain at this time that it is beneficial to replace hormone, or whether this could be harmful. Only a prospective study will be adequate to prove this point, and probably this would need to involve hundreds of patients. Ongoing studies document the beneficial effects of replacement of other hormones in these acutely and severely ill patients.Key words: NTIs, thyroid function, hormone replacement DOI: http://dx.doi.org/10.15395/mkb.v41n3.246
PERBANDINGAN KADAR MIKROALBUMINURIA PADA STROKE INFARK ATEROTROMBOTIK DENGAN FAKTOR RISIKO HIPERTENSI DAN PASIEN HIPERTENSI Putri, S A; Nurimaba, Nurdjaman; Sadeli, Henny Anggraini; Syamsudin, Thamrin
Majalah Kedokteran Bandung Vol 41, No 3
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Mikroalbuminuria berhubungan dengan kerusakan vaskular di sistem glomerular ginjal yang disebabkan oleh faktorfaktor risiko vaskular antara lain: tekanan darah tinggi, diabetes melitus, profil lipid, merokok, usia lanjut, faktor genetika, dan proses aterosklerosis. Mikroalbuminuria juga menggambarkan kerusakan vaskular di tempat lain termasuk di serebral. Hubungan mikroalbuminuria dengan penyakit serebrovaskular belum banyak diketahui. Penelitian ini merupakan penelitian kasus kontrol dengan pendekatan analitik observasional yang dilakukan di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung periode Desember 2007–Juli 2008. Pemeriksaan mikroalbuminuria dilakukan pada kelompok kasus (35 subjek stroke infark aterotrombotik dengan faktor risiko hipertensi saja) dan kelompok kontrol (35 subjek dengan hipertensi). Perbandingan kadar mikroalbuminuria antara kedua kelompok dianalisis dengan uji T Independen. Sementara untuk faktor penentu kejadian stroke digunakan uji regresi logistik multipel. Rata-rata kadar miroalbuminuria pada kelompok kasus lebih tinggi (54,76 mg/24 jam) dibanding kelompok kontrol (23,56 mg/24 jam) dengan perbedaan yang bermakna (p=0,013). Hasil analisis regresi logistik multipel menunjukkan miroalbuminuria merupakan faktor penanda independen kejadian stroke infark aterotrombotik pada pasien denganfaktor risiko hipertensi (p=0,032; OR=2,91;CI95%). Pasien hipertensi dengan mikroalbuminuria memiliki potensi terjadinya stroke infark aterotrombotik 2,91 kali dibandingkan pasien hipertensi tanpa mikroalbuminuria. Disarankan pemeriksaan mikroalbuminuria sebagai pemeriksaan rutin pada pasien hipertensi untuk preventif primer stroke infark aterotrombotik.Kata kunci: Stroke infark aterotrombotik, faktor risiko hipertensi, mikroalbuminuriaCOMPARISON OF MICROALBUMINURIA LEVEL BETWEENATHEROTROMBOTIC INFARCTION STROKE WITH HYPERTENSION RISK FACTOR AND PATIENT WITH HYPERTENSIONMicroalbuminuria is a marker of vascular damage in glomerular system caused by vascular risk factors : hypertension, diabetes mellitus, lipid profile, smoking, older age, genetic and atherosclerosis. Microalbuminuria is a window of vasculature damage in cerebrovascular system. Correlation between microalbuminuria and cerebrovascular disease is not well established. This was an observational analytical case control study, conducted on December 2007 to July 2008 in Hasan Sadikin Hospital Bandung. Measurement of microalbuminuria level was done in case group (35 subjects atherotrombotic infarction stroke with hypertension as the risk factor) and control group (35 subjects with hypertension). Comparison of microalbuminuria level were analyzed with independent T test. Determinant factor for atherotrombotic infarction stroke incidence was analyzed with multiple regression logistic. Mean rate of microalbuminuria level in case group was higher (54.76 mg/24 hours) compared with control (23.56 mg/24 hours) and comparison was significant (p=0.013). Multiple logistic regression analyzed that microalbuminuria as an independent determinant factor for atherotrombotic infarction stroke in patients with hypertension (p=0.032, OR=2.91, CI95%). Patients with hypertension and microalbuminuria had an increased risk for atherotrombotic infarction stroke 2,91 times than hypertension without microalbuminuria. Microalbuminuria level suggested as a routine examination in patients with hypertension for primary prevention of atherotrombotic infarction stroke.Key words: Atherotrombotic infarction stroke, hypertension, microalbuminuria DOI: http://dx.doi.org/10.15395/mkb.v41n3.244
PERBANDINGAN KADAR SOLUBLE fms-LIKE TYROSINE KINASE 1 (sFlt1) SERUM KEHAMILAN NORMAL DENGAN PREEKLAMSI BERAT SERTA HUBUNGANNYA DENGAN TEKANAN DARAH DAN DERAJAT PROTEINURIA Siddiq, Amillia; Mose, Johanes C.; Irianti, Setyorini
Majalah Kedokteran Bandung Vol 41, No 3
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Prediksi dan deteksi dini preeklamsi sangat diperlukan untuk mengurangi angka morbiditas dan mortalitas maternal dan perinatal. Penelitian ini bertujuan mengetahui perbedaan kadar sFlt1 serum kehamilan normal dengan preeklamsi berat (PEB) dan mengetahui hubungan antara kadar sFlt1 serum dan tekanan darah serta derajat proteinuria. Dilakukan studi observasional analitik secara potong silang. Kadar sFlt1 diperiksa dengan ELISA. Analisis statistik menggunakan uji chi kuadrat, uji t, uji Mann-Whitney, koefisien korelasi Rank Spearman, serta uji diagnostik untuk mencari nilai penentu kadar sFlt1. Karakteristik subjek penelitian pada kelompok PEB dan kelompok kontrol tidak berbeda bermakna (p>0,05). Terdapat perbedaan bermakna antara kadar sFlt1 serum kelompok PEB dan kelompok kontrol (3.827±471 pg/mL dan 2.708±441 pg/mL; p<0,05). Terdapat hubungan positif bermakna antara kadar sFlt1 dan tekanan darah sistolik (p=0,042; p<0,05) dan antara kadar sFlt1 dan tekanan darah diastolik (p=0,041; p<0,05). Terdapat hubungan bermakna antara kadar sFlt1 dan derajat proteinuria (p=0,012; p<0,05). Nilai penentu kadar sFlt1 untuk membedakan penderita PEB dengan hamil normal 2.815 pg/mL dengan sensitivitas 97,1%, spesifisitas 42%, dan akurasi 69,6%. Terdapat perbedaan bermakna antara kadar sFlt1 pada PEB dan kehamilan normal. Terdapat hubungan bermakna antara kadar sFlt1 dan tekanan darah sistolik, diastolik, serta dengan derajat proteinuria. Nilai penentu (cut-off point) kadar sFlt1 adalah 2.815 pg/mL.Kata kunci: sFlt1, preeklamsi berat, tekanan darah, proteinuria, hamil normalCOMPARISON OF SERUM SOLUBLE fms-LIKE TYROSINE KINASE 1 (sFlt1) LEVEL IN NORMAL PREGNANCY AND SEVERE PREECLAMPSIA AND ITS ASSOCIATION WITH BLOOD PRESSURE AND DEGREE OF PROTEINURIAPrediction and early detection of preeclampsia is very important to reduce maternal and perinatal morbidity and mortality. This research was to find out the difference of serum sFlt1 level between normal pregnancy and severe preeclampsia (SPE) and to determine the correlation of serum sFlt1 level with blood pressure as well as the degree of proteinuria. This was an analytic observational cross sectional study. Measurement of serum sFlt1 level using ELISA. >Statistical analysis was performed by using chi square, t test, Mann-Whitney test, Spearman Rank correlation coefficient and diagnostic test for cut-off point determination.The characteristics of the subjects in both groups were not statistically different (p>0.05). There was a significant difference in sFlt1 level between SPE group and control group (3,827±471 pg/mL and 2,708±441 pg/mL subsequently; p<0.05). There were significant association between sFlt1 level and systolic blood pressure (p=0.042; p<0.05 ); between sFlt1 level and diastolic blood pressure (p=0.041; p<0.05); and between sFlt1 level and degree of proteinuria (p=0.012; p<0.05). The cut-off point of sFlt1 level to differentiate SPE from normal pregnancy was 2,815 pg/mL with sensitivity of 97.1%, specificity 42% and accuracy of 69.6%.There is statistically significant difference of sFlt1 level in SPE compared to normal pregnancy. Significant association is noted between sFlt1 level and systolic and diastolic blood pressure, as well as degree of proteinuria. The cut-off point of sFlt1 level is 2,815 pg/mL.Keywords: sFlt1, severe preeclampsia, blood pressure, proteinuria DOI: http://dx.doi.org/10.15395/mkb.v41n3.241
FAKTOR RISIKO HEPATITIS B PADA TENAGA KESEHATAN KOTA PEKANBARU Amtarina, Rina; Arfianti, A; Zainal, Andi; Chandra, Fifia
Majalah Kedokteran Bandung Vol 41, No 3
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penyakit hepatitis B tergolong penyakit yang menjadi masalah kesehatan serius di Indonesia. Penularan virus hepatitis B melalui kontak dengan produk darah. Data mengenai pembawa HBsAg dan faktor risiko penularan VHB di Kota Pekanbaru belum ada sehingga perlu diadakan penelitian mengenai hal tersebut. Penelitian dilakukan secara retrospektif terhadap hasil pemeriksaan HBsAg dan anti-HBs responden dengan cara menganalisis hasil jawaban kuesioner. Responden dibagi 2 kriteria yaitu kriteria pernah/sedang terpapar hepatitis B dengan hasil pemeriksaan anti-HBs positif HBsAg negatif atau HBsAg positif Anti-HBs negatif dan kriteria tidak pernah terpapar VHB dengan hasil pemeriksaan HBsAg dan anti-HBs negatif. Dari 110 responden, 32 orang (29,1%) hasil anti-HBs positif, HBsAg negatif, 1 orang (0,9%) hasil HBsAg positif, anti-HBs negatif. Dari analisis kuesioner, faktor risiko penularan dari 32 orang anti-HBs positif terbanyak melalui pernah cabut gigi yaitu sebanyak 29 orang (90,6%) diikuti dengan pernah tertusuk jarum bekas/tidak steril sebanyak 18 orang (56,2%). Hanya 3 (9,3%) dari 32 orang pernah menderita hepatitis B sebelumnya. Pada 1 orang dengan HBsAg positif, faktor risiko penularan melalui tertusuk jarum bekas/tidak steril, pengobatan akupuntur, cabut gigi, dan ada anggota keluarga serumah yang pernah menderita hepatitis B. Faktor risiko penularan terbanyak pada tenaga kesehatan di Pekanbaru adalah melalui cabut gigi dan tertusuk jarum bekas/tidak steril.Kata kunci: Hepatitis B virus, anti-HBs, HBsAg, tenaga kesehatan, faktor risikoRISK FACTORS FOR TRANSMISSION OF HEPATITIS B VIRUS INFECTION IN HEALTH CARE WORKER OF PEKANBARU CITYHepatitis B is still the one of serious public health problem in the world including Indonesia. Transmission of hepatitis B virus (HBV) is strongly associated with use of contaminated blood products. For many people infected with HBV, risk factors of transmission are unknown. We examined risk factors for acquiring HBV in health care worker. This research was done by retrospective to blood participants who tested positive for HBs antibody or HBs antigen, using a questionnaire.participants divided into 2 groups. Had/having exposed to VHB with ati-HBs Positive HBsag negative or HBsag positive, anti-HBs negative and never had exposed to VHB with HBsag and anti-HBs negative. Positive anti- HBs were identified in 32 (29.1%) of 110 participants. Positive HBs antigen anti-HBs negative was identified in 1 (0.9%) of 110 participants. In questionnaire analysis, significant risk factors for HBV infection among HBs antibody - positive participants were tooth extraction in 29 (90.6%), and needle stick injuries in 18 (56.2%) of 32 participants. Only 3 (9.3%) of 32 participants with HBs antibody - positive had history of post infected HBV for several years ago. In 1 participant with HBs antigen - positive, significant risk factors were needle stick injuries, acupuncture, tooth extraction, and contact infected person. The most significant risk factors for transmission of hepatitis B in health care worker in Pekanbaru city are tooth extraction and needle stick injuries.Key words: Hepatitis B virus (HBV), HBs antibody, HBs antigen, health care worker, risk factor DOI: http://dx.doi.org/10.15395/mkb.v41n3.245
PENGARUH TEPUNG TERIPANG PASIR (Holothuria scabra) TERHADAP PERILAKU SEKSUAL DAN KADAR TESTOSTERON DARAH MENCIT (Mus musculus) Nurjanah, Sarifah; Gumbira-Sa'id, E; Syamsu, Khaswar; Suprihatin, Suprihatin; Riani, Etty
Majalah Kedokteran Bandung Vol 41, No 3
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Masyarakat meyakini teripang dapat dijadikan makanan yang dapat meningkatkan vitalitas laki-laki. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji potensi teripang sebagai aprodisiaka dengan mempelajari pengaruh tepung teripang pasir terhadap perilaku seksual mencit jantan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimental laboratories. Perlakuan yang dikaji adalah pemberian tepung teripang pada tingkat dosis kandungan steroid 10, 30 dan 50 ìg steroid/100 g bobot badan mencit jantan, sebagai kontrol digunakan perlakuan tanpa pemberian hormon dan pemberian metil testosteron. Pemberian ekstrak dilakukan selama 12 hari. Pengamatan yang dilakukan meliputi perilaku seksual dan kadar testosteron darah mencit. Perilaku seksual mencit jantan yang diamati meliputi aktifitas kissing vagina dan mounting, yang dilakukan satu jam setelah pemberian ekstrak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian tepung teripang dapat meningkatkan frekuensi perilaku seksual mencit. Hal tersebut ditunjukkan oleh meningkatnya frekuensi perilaku kissing vagina dan mounting dibandingkan dengan kontrol. Frekuensi perilaku seksual tertinggi ditunjukkan oleh mencit yang diberi tepung teripang pada konsentrasi kandungan steroid 10 ìg /100 g bobot badan dengan frekuensi kissing vagina 25 kali dalam 30 menit dan mounting 6 kali dalam 30 menit. Pemberian tepung teripang juga dapat meningkatkan kadar testosteron dalam darah mencit percobaan. Hal ini diduga karena tepung teripang mengandung steroid juga mengandung sejumlah nutrisi yang sangat berguna dalam peningkatan libido. Hasil penelitian membuktikan bahwa tepung teripang berpotensi sebagaiaprodisiaka alami.Kata kunci: tepung teripang, perilaku seksual, kadar testosteronEFFECT OF SANDFISH (HOLOTHURIA SCABRA) POWDER ON THE SEXUAL BEHAVIOR AND THE BLOOD TESTOSTERONE LEVEL OF THE MALE MOUSE (MUS MUSCULUS)Sea cucumber is generally believed as a natural material that can be used as a tonic food to increase man vitality. The aim of this study was to investigate the effect of sandfish powder on sexual behavior and blood testosterone level of male mice. Method applied in the study was laboratory experimental method. Mature male mice were treated with administration of sandfish powder with three dosage rate of steroid content (10, 30 and 50 ìg/100 g body weight) during 12 days, whereas for control treatment were without hormone administration and with the metil testosterone administration. Parameters that were investigated were kissing vagina and mounting for sexual behavior and the blood testosterone level of male mice. It was found that administration of sandfish powder significantly give effect on the number of kissing vagina and mounting compared to control. Administration of 10 ìg/100 g body weight on male mice showed the highest sexual behavior with 25 kissing vagina for and 6 mounting for 30 minutes. Moreover, administration of sandfish powder increased the testosterone level in the male mice blood. This may due to the steroid contained in sandfish powder and nutrition value that increase mice libido. The study proved that the sandfish powder has a potential as a nature aphrodisiac.Keywords: sandfish powder, sexual behavior, testosterone level DOI: http://dx.doi.org/10.15395/mkb.v41n3.247

Page 1 of 1 | Total Record : 6