cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sumedang,
Jawa barat
INDONESIA
Majalah Kedokteran Bandung
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 41, No 4" : 5 Documents clear
Perbandingan Penanganan Clubfoot Metode Kite-Lovell dengan Ponseti Primadhi, Andri; Ismiarto, Yoyos D.
Majalah Kedokteran Bandung Vol 41, No 4
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Clubfoot banyak terjadi pada bayi baru lahir dan akan menghambat anak untuk berjalan. Bila kelainan ini tidak ditangani dengan benar, akan menetap sampai dewasa dan mempengaruhi kualitas hidupnya. Umumnya penatalaksanaan inisial clubfoot menggunakan cara konservatif, walaupun pemilihan metode manipulasi masih menjadi kontroversi. Penanganan clubfoot di RS Hasan Sadikin Bandung (RSHS) menggunakan metode Kite-Lovell dan Ponseti, yang berbeda dalam teknik manipulasinya. Sejumlah penelitian menyebutkan bahwa penatalaksanaan clubfoot dengan metode Ponseti lebih baik dibandingkan Kite-Lovell. Penelitian ini membandingkan hasil penanganan clubfoot menggunakan kedua metode tahun 2001-2005. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan data yang diambil dari rekam medis pasien clubfoot di RSHS, terdiri dari karakteristik pasien, metode, serta kemajuan pasien tersebut, diukur menggunakan skoring Dimeglio. Jumlah pasien ada 64 anak, atau 103 kaki karena tidak semua anak memiliki kelainan bilateral. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah pasien laki-laki lebih dominan yaitu 36 anak (56%). Bila digolongkan menurut usia saat pertama kali berobat, persentase terbanyak ialah pada kelompok usia paling dini, yaitu 0-3 bulan (34 anak). Sebanyak 71 kaki (69%) ditangani dengan metode Kite-Lovell sedangkan sisanya dengan metode Ponseti. Dengan skoring Dimeglio, tidak ditemukan perbedaan yang bermakna pada hasil penanganan antara kedua metode, tetapi angka keberhasilan akan lebih tinggi bila penanganan dilakukan pada usia lebih dini.Kata kunci: Clubfoot, metode Kite-Lovell, metode PonsetiComparison Between Kite-Lovell Method and Ponseti in ClubfootTreatmentClubfoot is anomalies frequently seen in the newborns. This limits the child's walking ability. Without adequate treatment, it will interfere the patient's living. Treatment consists of conservative and operative. Conservative treatment is initial choice, with controversies about its methods. Conservative treatment consists of Kite-Lovell and Ponseti methods. There is difference between them in the matter of manipulation. Numbers of study said that the Ponseti methods gave better result than Kite-Lovell. This study was to compare about the two methods performed in Hasan Sadikin General Hospital in the year of 2001-2005. The design was cross sectional. Data collected from the medical records from 2001 to 2005, including characteristic, methods used, and clinical improvement that measured by Dimeglio scoring system. This research included 64 children, or 103 foot, due to not all the children had bilateral clubfoot. The results showed that male patients were dominant (56%). According to age at initial treatment, the most common was 0-3 years, i.e. 34 children. Seventy-one feet (69%) were treated with Kite-Lovell methods, and the rests by Ponseti methods. Using Dimeglio scoring, we measured the initial and final scores, and there was no significant difference between them, but the results are better if done at younger age. Key words: Clubfoot, Kite-Lovell method, Ponseti method DOI: http://dx.doi.org/10.15395/mkb.v41n4.255
Kualitas Spermatozoa Tikus Jantan yang Diberi Tepung Kedelai Kaya Isoflavon Astuti, Sussi
Majalah Kedokteran Bandung Vol 41, No 4
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Spesies oksigen reaktif (ROS) adalah radikal bebas yang berperan penting pada beberapa proses fisiologis spermatozoa. Spermatozoa membutuhkan ROS pada level rendah untuk menginduksi proses tersebut sehingga fertilisasi dapat berlangsung. Komponen bioaktif isoflavon yang terkandung dalam kedelai berperan sebagai penangkap radikal bebas, menghambat pembentukan peroksida lipid, serta mencegah kondisi stres oksidatif pada jaringan yang memproduksi spermatozoa. Dua puluh lima ekor tikus jantan strain Sprague Dawley umur 21 hari dibagi dalam lima kelompok dan mendapat perlakuan tepung kedelai kaya isoflavon secara oral dengan berbagai tingkatan dosis isoflavon selama dua bulan. Tikus betina strain Sprague Dawley umur 21 hari digunakan untuk mengobservasi fertilitas tikus jantan. Ransum basal kasein tikus jantan dan betina disusun isonitrogen dan isokalori dengan kadar protein 10%. Angka konsepsi dan jumlah fetus dievaluasi pada tikus betina yang dikawinkan dengan tikus jantan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian tepung kedelai kaya isoflavon pada berbagai tingkatan dosis tidak berpengaruh terhadap abnormalitas spermatozoa. Pemberian tepung kedelai kaya isoflavon dengan dosis isoflavon tertinggi (6 mg/ekor/hari) mengakibatkan kasus infertilitas tikus jantan. Dosis isoflavon 1.5 mg/ekor/hari merupakan dosis optimum, mengakibatkan: meningkatnya berat testis, motilitas spermatozoa dan konsentrasi spermatozoa. Kesimpulan: Pemberian tepung kedelai kaya isoflavon pada dosis isoflavon 1.5 mg/ekor/hari dapat meningkatkan kualitas spermatozoa tikus jantan. [ .Kata kunci: Tepung kedelai kaya isoflavon, kualitas spermatozoa The Effects of Isoflavone-riched Soybean Flour on The Quality of Spermatozoa of Male RatsReactive oxygen species (ROS) are free radicals that play a significant role in many of the sperm physiological processes. Spermatozoa need low amounts of endogenous ROS to inducing that processes for acquisition of spermfertilizing ability. Isoflavone as the active compound in soybean can act as scavenger free radicals, prevent formation of lipid peroxide, and prevent of oxidative stress condition on the tissue that produce spermatozoa. Twenty five males of Sprague Dawley weaning rats (21 days old) were divided into five groups and treated with isoflavone-riched soybean flour by oral administration with different levels (dosage) for 2 months. Conception rate and the number of fetus were evaluated on the mated-female rats. Diet was given as isonitrogen and isocaloric with 10% of dietary protein from casein for male and female rats. Result indicated that the treatment didn't affect significantly on spermatozoa abnormality. The treatment of isoflavone-riched soybean flour on male rats with highest dosage (6 mg isoflavone/day) resulted in infertility. The optimum dosage of isoflavone was 1.5 mg/day and resulted in increase of relative of weight testes, higher motility rate and sperm concentration of rat testes. Conclusion : Isoflavone-riched soybean flour treatment with 1.5 mg/day dosage of isoflavone improved the quality of spermatozoa of male rats.Key words: Isoflavone-riched soybean flour, quality of spermatozoa DOI: http://dx.doi.org/10.15395/mkb.v41n4.251
Optimalisasi Persalinan Non-institusional Untuk Menurunkan Angka Kematian Ibu Era Millenium Development Goals Sastrawinata, Ucke S.
Majalah Kedokteran Bandung Vol 41, No 4
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The Millennium Development Goals (MDGs) adalah delapan target yang harus dicapai pada tahun 2015 sebagai respons terhadap tantangan pembangunan utama dunia. MDGs dalam bidang kesehatan maternal diukur dengan indikator angka kematian ibu (AKI) dan persentase persalinan yang dilakukan oleh penolong persalinan terlatih (skilled birth attendant). Artikel ini membahas kembali program yang sangat baik dan ada di Indonesia namun belum terlaksana dengan sempurna melihat Indonesia merupakan negara dengan AKI tertinggi di Asia Tenggara. AKI nasional memang menunjukkan penurunan dalam beberapa tahun terakhir, tetapi di beberapa daerah masih sangat tinggi, sementara proporsi persalinan yang ditolong oleh penolong persalinan terlatih memang menunjukkan peningkatan tapi dukungan sistem dan keterampilan penolong dianggap masih belum memenuhi harapan. Sebagian besar proses persalinan di Indonesia terjadi di rumah (non-institusional), beberapa faktor yang saling berkaitan dengan karakteristik proses persalinan di Indonesia adalah psikologis, keluarga, dan ekonomi. Upaya menurunkan AKI di Indonesia merupakan gabungan dari penolong persalinan terlatih, asuhan obstetrik emergensi, dan sistem rujukan emergensi. Intervensi di atas tidak harus dilakukan di fasilitas kesehatan, tapi dapat diimplementasikan oleh penolong persalinan terlatih saat persalinan di rumah, harus didukung oleh: lingkungan yang menunjang, rujukan emergensi, dan juga perbaikan akses kontrasepsi. Optimalisasi persalinan non-institusional dengan desa SIAGA dan Gerakan Sayang Ibu (GSI). GSI menggalakkan kesiapan persalinan dan kesiagaan komplikasi dengan “desa SIAGA” yang mempunyai komponen: Sistem Dana, Sistem Transportasi, Sistem Donor Darah, Sistem Pemberitahuan, dan Kemitraan pertolongan persalinan dukun paraji dan bidan. Kata kunci: MDGs, AKI, persalinan non-institusional, desa SIAGA, GSIOptimalization Non-institutional Delivery in Reducing Maternal Mortality Ratios To Achieve Millenium Development GoalsThe Millennium Development Goals are goals that must be achieved in 2015 as a responds to world development challenges. MDGs in maternal healthcare were measured by indicators such as maternal mortality ratios and percentage of births attended by skilled birth attendants (SBA). This article focuses on very good programs inIndonesia but still not being done perfectly because Indonesia's MMR is still the highest among south east asian countries. National MMR is declining over decades, but in several provinces MMR still high. Deliveries by SBA proportion show promising trends although with low system support and skill monitoring support. Most of deliveries were non-institutional, several aspects known to play important roles were psychological, families, and economics aspects. Efforts on lowering maternal mortality in Indonesia actually are combinations between SBA, emergency obstetric care, and emergency referral system. Interventions can be done by SBA at home whileworking, with an adequate support from community system, emergency referral system, and improvement of contraception  access. Non-institutional delivery optimalization with des SIAGA and GSI (Safe Motherhood Activities) which had 5 components; Funding System, Transportation System, Blood Donor System, Information System, and partnership in midwives and traditional birth attendant (TBA). Key words: MDGs, MMR, non-institutional deliveries, desa SIAGA, GSI DOI: http://dx.doi.org/10.15395/mkb.v41n4.256
Prevalensi dan Faktor Risiko Anemia pada HIV-AIDS Sumantri, Rachmat; Wicaksana, Rudi; R. Ariantana, Agnes
Majalah Kedokteran Bandung Vol 41, No 4
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Anemia berperan dalam morbiditas dan mortalitas penderita HIV-AIDS. Penelitian mengenai anemia pada infeksiHIV di Indonesia belum banyak. Studi potong lintang dilakukan untuk mengetahui prevalensi dan faktor risikoanemia pada penderita HIV-AIDS di Poliklinik Teratai RS. Hasan Sadikin dari 1 Januari-30 Juni 2008. Hasilpenelitian: terdapat 534 penderita HIV-AIDS, anemia 222 penderita, prevalensinya 41,6%. Anemia ringan (Hb 10-14 g/dL laki-laki, 10-12 g/dL wanita) didapatkan pada 188 penderita (35%); anemia sedang (Hb 8-10 g/dL) pada 28penderita (5,2%), dan anemia berat (Hb < 8 g/dL) terdapat pada 6 penderita (1,1%). Faktor risiko yaitu jenis kelamin,umur, indeks massa tubuh (BMI), intravenous drug user (IDU), stadium klinis WHO, kandidiasis oral, peradangankronik, pemberian kotrimoksazol, pemberian ARV, tuberkulosis, CD4, dan viral load. Uji statistik menunjukkanbahwa faktor risiko anemia yang penting adalah BMI antara 18,5-22,9 dengan OR 0,368 (95% CI 0,216-0,627).Kandidiasis oral dengan OR 1,793 (95% CI 0.99-3,248), pemberian ARV dengan OR 0,905 (95% CI 0,555-1,474),dan CD4 antara 1-50 dengan OR 8,66 (95% CI 4,407-13,522). Peluang kejadian terbesar untuk kejadian anemiaadalah kombinasi BMI yang rendah (< 18,5) baik mendapat ARV ataupun tidak mendapat ARV dengan kandidiasisoral dan CD4 antara 1-50/mm3. Penelitian ini menunjukkan prevalensi anemia yang cukup tinggi (41,6%) dan faktorrisiko yang penting untuk kejadian anemia adalah BMI yang rendah, kandidiasis oral, ARV dan CD4 yang rendah. [MKB 2009;41(4):187-93].Kata kunci: HIV-AIDS, anemia, faktor risikoPrevalence and Risk Factors of Anemia in HIV-AIDSAnemia has an important role in morbidity and mortality among HIV-AIDS patients. The study of anemia amongHIV-AIDS patients in Indonesia was not much done. A cross-sectional study has been done in Teratai Clinic HasanSadikin Hospital Bandung to evaluate the prevalence and risk factors of anemia in HIV-AIDS patients between 1January to 30 June 2008. There were 534 HIV-AIDS patients, anemia occured in 222 patients, the prevalence was41.6%. Mild anemia or Hb level 10-14 g/dL in man or 10-12 g/dL in woman was found in 188 (35%), moderateanemia or Hb 8-10 g/dL in 28 (5,2%) and severe anemia or Hb less than 8 g/dL in 6 (1,1%) patients. Risk factors weregender, age, BMI, IDU, WHO staging, oral candidiasis, chronic inflammation, ARV, tuberculosis, CD4, and viralload. Statistical analysis showed that the important risk factors were BMI between 18.5-22.9 OR 0.368 (95% CI0.216-0.627), oral candidiasis OR 1.793 (95% CI 0.99-3.248), use of ARV OR 0.905 (95% CI 0.555-1.474), andCD4 1-50 OR 8.66 (95% CI 4.407-13.522). The chance of anemia was great in combination of BMI ≤ 18.5 with CD4≤ 50 , oral candidiasis with or without ARV. This study showed that the prevalence of anemia in HIV-AIDS patients isprominent and the important risk factors for anemia are BMI, oral candidiasis, ARV and CD4.[MKB. 2009;41(4):187-93]Key words: HIV-AIDS, anemia, risk factorsDOI: http://dx.doi.org/10.15395/mkb.v41n4.252
Pengalaman Traumatik Penyebab Gangguan Jiwa (Skizofrenia) Pasien di Rumah Sakit Jiwa Cimahi Yoseph, Iyus; Puspowati, Ni Luh Nyoman Sri; Sriati, Aat
Majalah Kedokteran Bandung Vol 41, No 4
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu faktor penyebab yang menjadi stresor seseorang mengalami gangguan jiwa adalah pengalaman traumatik. Pengalaman traumatik tersebut sulit dilupakan dan memiliki efek psikologis dalam waktu yang panjang. Apabila seseorang tidak mampu beradaptasi dalam menanggulangi stresor, maka akan timbul keluhan-keluhan dalam aspek kejiwaan, berupa gangguan jiwa ringan hingga berat. Salah satu bentuk gangguan jiwa yang paling banyak dan terus meningkat adalah gangguan jiwa berat yaitu skizofrenia. Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh gambaran mengenai pengalaman traumatik pasien skizofrenia. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Populasi dalam penelitian ini adalah pasien skizofrenia yang dirawat di Rumah Sakit Jiwa Cimahi, subjek diperoleh berdasarkan purposive sampling sebanyak tujuh orang, pada bulan November 2008. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara secara mendalam (in depth interview). Hasil penelitian terhadap pengalaman traumatik tujuh pasien skizofrenia menunjukkan adanya lima tema yang muncul yaitu: cita-cita/keinginan tak tercapai/kegagalan, kehilangan orang yang dicintai, kehilangan pekerjaan, orangtua galak/pola asuh otoriter, dan mendapat tindakan kekerasan. Terungkapnya pengalaman tersebut, memberi informasi bagi tim kesehatan dalam mencegah dan mengatasi meningkatnya pasien skizofrenia, khususnya yang diakibatkan oleh pengalaman traumatik yang dapat menjadi pencetus, sehingga angka kejadianskizofrenia dapat ditekan seminimal mungkin. Kata kunci: Pengalaman traumatik, skizofrenia, stresorTraumatic Experiences of Mental Disorder Client (Schizophrenia) atMental Health Hospital CimahiOne factor causes as stressor of mental health disorder was traumatic experiences that experiences never forgotten and psychological long lasting effect. Whenever anyone could not be adaptation to fight the stressor, there will suffer light and state symptom in mental disorder as a manifestation. One kind of chronic mental health disorder is schizophrenia. The purpose of this research was to find out description about schizophrenic client traumatic experiences. The method of this research was qualitative method with phenomenological approach. The population of this research was schizophrenic client covering with purposive sampling. Amount of informants in this research was seven persons. Each of sample include 4 mans and 3 women's. Technical of data collecting used by in dept interview. The result of traumatic experiences from seven schizophrenic client showed that there was 5 theme: failed of dream/failed to reach the life goals, loss of significant persons, jobless, sadism parent/pattern of authoritarian parenting and abused experience. Based on the result of that experiences give information for health provider team to prevent and implementation of schizophrenic client, especially for schizophrenic which caused by traumatic experiences. So that the occurrence of schizophrenia number which triggered by traumatic experience can be depressed as minimum as possible. Key words: Traumatic experiences, schizophrenia DOI:  http://dx.doi.org/10.15395/mkb.v41n4.253

Page 1 of 1 | Total Record : 5