cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sumedang,
Jawa barat
INDONESIA
Majalah Kedokteran Bandung
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 4 Documents
Search results for , issue "Vol 42, No 1" : 4 Documents clear
Efikasi Terapi Kombinasi Salep Kalsipotriol 0,005% dan Klobetasol Propionat 0,05% Dibanding Klobetasol Propionat 0,05% pada Psoriasis Vulgaris Indriyani, Dian; Sutedja, Endang; Suwarsa, Oki
Majalah Kedokteran Bandung Vol 42, No 1
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Psoriasis adalah penyakit eritropapuloskuamosa kronik residif. Obat yang paling sering digunakan untuk terapi penyakit ini adalah kortikosteroid topikal, tetapi penggunaan jangka panjang dapat menyebabkan berbagai efek samping. Kalsipotriol merupakan obat topikal selain kortikosteroid yang memiliki efek samping yang lebih ringan. Tujuan penelitian ini adalah untuk membandingkan skor psoriasis area and severity index (PASI) sebelum dan sesudah pengobatan dengan kombinasi salep kalsipotriol 0,005% dengan salep klobetasol propionat 0,05% dan monoterapi salep klobetasol propionat 0,05% pada penderita psoriasis vulgaris. Skor psoriasis area severity index (PASI), digunakan untuk mengukur berat ringannya psoriasis dan mengevaluasi perbaikan lesi. Desain penelitian adalah uji klinik dengan rancangan acak secara double blind. Uji Mann-Whitney dan Wilcoxon digunakan untuk menganalisis data skor PASI sebelum dan sesudah pengobatan. Penelitian dilakukan di poliklinik I.K. Kulit danKelamin RS. Hasan Sadikin Bandung dari bulan November 2007- Januari 2008 dengan subjek penelitian sebanyak 44 orang yang dibagi dalam dua kelompok. Derajat keparahan penyakit dinilai dengan skor PASI yang dinilai sebelum, satu minggu, dan dua minggu setelah pengobatan. Kesimpulan: Penggunaan terapi kombinasi salep kalsipotriol 0,005% dan klobetasol propionat 0,05% selama dua minggu memiliki efikasi yang lebih baik dibandingkan monoterapi salep klobetasol propionat 0,05%, secara statistik sangat bermakna (p<0,001).Efficacy Combination Therapy of 0.005% Calcipotriol and 0.05% Clobetasol Propionat Compared to 0.05% Clobetasol Propionat Ointment in Psoriasis VulgarisPsoriasis is a chronic relapsing erythropapulosquamous skin disease. Topical corticosteroid is the most common treatment for psoriasis, but it can cause many side effect on longterm used. Calcipotriol ointment is the other topical treatment for psoriasis and has minimal side effect. The study was a double blind randomized clinical trial, compared psoriasis area and severity index score before and after treatment combination therapy of 0.005% calcipotriol ointment 0.05% and clobetasol propionat ointment with 0.05% clobetasol propionat alone. Psoriasis area severity index (PASI) score was used to evaluate severity degree and imprvoment of psoriasis. Mann-Whitney and Wilcoxon test were used for statistical analysis of PASI score before and after treatment. Study was conducted at Dermatology and Venereology outpatient Department of Hasan Sadikin Hospital Bandung period November 2007 to January 2008 with fourty four psoriasis vulgaris patients were enrolled in this study, divided into two groups. The assesment of the severity of skin lesions psoriasis area and severity index was performed at baseline, after one week and two weeks treatment. Conclusion: the use of daily 0.005% calcipotriol ointment combined with 0.05% clobetasol propionate. DOI: http://dx.doi.org/10.15395/mkb.v42n1.4
Kematian Neonatal dan Bayi Lahir Mati serta Hubungannya dengan Kepercayaan dan Perilaku Masyarakat Machmud, Rizanda; Yunarti, Yunarti
Majalah Kedokteran Bandung Vol 42, No 1
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kabupaten Cirebon memiliki angka kematian ibu dan bayi yang tinggi. Berbagai upaya sudah dilakukan untuk menurunkan angka tersebut, namun belum berhasil. Penelitian ini bertujuan untuk menggali informasi yang lebih mendalam tentang keterkaitan kematian bayi lahir mati dan neonatal dengan latar belakang perilaku serta kepercayaan masyarakat tentang kehamilan, persalinan, dan perawatan bayi baru lahir di desa pesisir dan pedalaman. Pendekatan penelitian menggunakan paradigma gabungan antara kualitatif dan kuantitatif (mixed paradigm) dengan menggali informasi secara mendalam mengenai faktor predisposing, faktor enabling, dan faktor reinforcing kepercayaan serta perilaku masyarakat. Penelitian dilakukan di desa Weru Lor (pedalaman) dan Suranenggala (pesisir) di kabupaten Cirebon, Jawa Barat pada tahun 2006. Hasil penelitian menunjukkan adanya stigma-stigma yang melatarbelakangi perilaku tidak rasional dalam hubungannya dengan kematian bayi lahir mati dan neonatal. Tidak terdapat perbedaan kepercayaan antara desa pedalaman dan desa pesisir. Kesimpulan penelitian ini adalah perlunya kompetensi petugas kesehatan dalam penyebarluasan informasi rasional sehingga mampu menghilangkan stigma-stigma yang tumbuh dalam masyarakat.Relationship Between Neonatal Mortality and Still Birth with Believe and Behavior of Health SocietyCirebon's district is one of highest infant mortality and maternal mortality rate. So many efforts have been done to reduce this rate but, it's no effect yet. The etiology of these problems isn't known. The aim of research was to discover deeper information about relationship between neonatal mortality and social behavior background and believe of health society in pregnancy, delivery and antenatal care in mainland and coastal district. A qualitative and quantitative methods were used to exploring deeper information about predisposing, enabling, and reinforcing factors in health believe and behavior in society. Location of the study were in mainland (Weru Lor) and costal village (Suranenggala) in Cirebon-West Java in 2006. This research answered the reseach question, why neonatal death are happened and why health behavior in society seems irrational. There were stigmas in society that affect infant mortality rate. The result of research showed there were existence of stigmas which was irrational background in its relation with infant and neonatal mortality. There were no difference of local culture, knowledge, and believe among mainland and coastal countryside. Conclusion of this research is the importance of provider of health competence in dissemination of rational information so that can eliminate stigmas which grow in society.DOI: http://dx.doi.org/10.15395/mkb.v42n1.5
The Association Between Initial Solid Food and Atopy in Children with or without Family History of Atopic Disease Perdana, Nanan Surya; Setiabudiawan, Budi; Kartasasmita, Cissy B.
Majalah Kedokteran Bandung Vol 42, No 1
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Atopic diseases are the most common chronic diseases in childhood. Their incidence has a tendency to increase recently. The tendency of atopy could be triggered by many factors originated in the early life, including early introduction of solid food. To investigate the association between initial solid food and atopy, an analytic comparative study with historical cohort design was conducted from May to June 2006 in Pediatric Department of Hasan Sadikin Hospital Bandung. It was the second phase study of 'allergic prevalence and risk factors identification in the first two years of life'. Out of 800 children in Garuda, Padasuka, and Babakansari Primary Health Care Center who were included in the first phase of the study, 749 children were eligible to continue the second phase of the study, 284 children were randomized into two groups of children with and without family history of atopic disease consisting of 142 children each. They then underwent skin prick test. History of initiation time of solid food were obtained from their parents. To analyze the data chi-square and odds ratio with 95% confidence interval were used. Among 284 children who fullfilled the inclusion criteria, 50% had family history of atopic disease. Atopy was found in 28.2% children, 32.4% with family history of atopic disease and 23.9% without family history of atopic disease. There was no significant correlation between family history of atopic disease and atopy (p=0.113). There was a high risk for atopy related to initial solid food (OR = 4.50, 95%CI = 1.96-10.74, p < 0.001). The difference of atopy was strongly significant between children who had initial solid food at the age of <6 months and at the age of >6 months whether or not the children had family history of atopic disease (p=0.016 and p=0.002). Conclusions: A significant increase in the risk of childhood atopy occured if initial solid food is given at the age of <6 months, whether or not the children have family history of atopic disease.Hubungan antara Waktu Pemberian Makanan Pendamping ASI dan Kejadian Atopi pada Anak dengan atau Tanpa Riwayat Penyakit Atopik dalam KeluargaPenyakit atopik merupakan penyakit kronik yang paling sering ditemukan pada anak. Angka kejadian penyakit atopik cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Kecenderungan atopi atau timbulnya penyakit atopik dapat dicetuskan oleh faktor faktor yang berpengaruh di awal kehidupan, salah satunya adalah pemberian makanan pendamping ASI (MP ASI). Untuk mengetahui hubungan antara waktu pemberian MP ASI dan kejadian atopi dilakukan penelitian analitik komparatif dengan rancangan historical cohort. Penelitian dilakukan pada bulan Mei-Juni 2006 di Bagian Ilmu Kesehatan Anak Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung. Penelitian ini merupakan fase kedua dari penelitian “Prevalens alergi dan identifikasi faktor risiko pada dua tahun pertama kehidupan”. Penelitian dilakukan di Puskesmas Garuda, Padasuka, dan Babakansari. Dari 800 anak yang mengikuti fase I, sebanyak 749 anak dapat diteliti pada penelitian fase II. Dengan teknik sampling secara acak terpilih 142 anak, masing-masing dari  kelompok dengan dan tanpa riwayat penyakit atopik dalam keluarga. Selanjutnya dilakukan pemeriksaan uji tusuk kulit dan ditanyakan mengenai riwayat pemberian MP ASI. Analisis statistik yang digunakan adalah uji kai-kuadrat dan Odds ratio dengan IK95%. Dua ratus delapan puluh empat anak memenuhi kriteria inklusi penelitian. Dari jumlah tersebut diperoleh 50% anak dengan riwayat penyakit atopik dalam keluarga. Atopi didapatkan pada 28,2% anak, 32,4% di antaranya dengan riwayat penyakit atopik dan 23,9% tanpa riwayat penyakit atopik dalam keluarga. Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara anak dengan riwayat penyakit atopik dalam keluarga dan kejadian atopi (p=0,113). Dua ratus delapan (73,2%) anak mendapat MP ASI pada usia <6 bulan, 76 (26,8%) anak mendapat ASI pada usia >6 bulan. Kejadian atopi berbeda bermakna antara anak yang mendapat MP ASI pada usia <6 bulan dan >6 bulan (OR=4,50; IK95%=1,96-10,47; p<0,001), baik pada kelompok anak dengan riwayat penyakit atopik (OR=3,38; IK95%=1,12-10,86; p=0,016) maupun tanpa riwayat penyakit atopik (OR=6,08; IK95%=1,63-26,72, p=0,002) dalam keluarga. Kesimpulan: Pemberian MP ASI pada usia <6 bulan meningkatkan risiko terjadinya atopi, baik pada kelompok anak dengan atau tanpa riwayat penyakit atopik dalam keluarga.DOI: http://dx.doi.org/10.15395/mkb.v42n1.6 
Eosinofil Kerokan Mukosa Hidung Sebagai Diagnostik Rinitis Alergi Sudiro, Melati; Madiadipoera, Teti HS; Purwanto, Bambang
Majalah Kedokteran Bandung Vol 42, No 1
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Rinitis alergi merupakan gangguan fungsi hidung, terjadi setelah pajanan alergen melalui inflamasi mukosa hidung yang diperantarai IgE. Walaupun rinitis alergi bukan penyakit yang berat, penyakit ini dapat menurunkan kualitas hidup penderita. Allergic Rhinitis and Its Impact on Asthma (ARIA-WHO) menganjurkan tes kulit tusuk (TKT) sebagai pemeriksaan penunjang diagnostik, tetapi tidak semua sarana kesehatan memiliki fasilitas tersebut, oleh karena itu perlu dipilih pemeriksaan alternatif yang sesuai atau setara yaitu eosinofil kerokan mukosa hidung. Suatu uji diagnostik dilakukan pada 50 subjek tersangka rinitis alergi periode Februari-April 2005 di poliklinik alergi Bagian THT-KL FKUP–RSHS. Sebanyak 78% penderita menunjukkan TKT positif, 76% terdapat eosinofil pada mukosa hidung, 64% positif terhadap kedua pemeriksaan. Uji statistik menunjukkan hubungan bermakna antara TKT positif dan eosinofil positif (X2= 3,559; p = 0,03), sensitivitas eosinofil kerokan mukosa hidung 82,1% (95%CI: 82,02-82,18), spesifisitas 64,3% (95% CI: 63,52-65,08), dan akurasi 74% (95% CI: 73,94–74,06). Penelitian ini menunjukkan pemeriksaan eosinofil kerokan mukosa hidung dapat digunakan sebagai pengganti tes kulit tusuk pada sarana kesehatan yang tidak mempunyai fasilitas tersebut. [MKB. 2010;42(1):6-11].Nasal Scrapping Eosinophil As a Diagnostic Test for Allergic RhinitisAllergic rhinitis is clinically defined as a symptomatic disorder of the nose induced by IgE mediated inflammation. Allergic Rhinitis and Its Impact on Asthma (ARIA-WHO) recommended the use of skin prick test (SPT) as a diagnostic test, but the facility to acquire this method is not always available at some of the health centres, therefore alternative diagnostic test should be performed such as nasal smear eosinophil count. The aim of this study was to assess the usefulness of nasal smear eosinophilia compared with SPT for the diagnosis of allergic rhinitis. A diagnostic study using the cross sectional design, conducted in Department of ORL-HNS at FKUP-RSHS (February-April 2005). Fifty patients with a clinical history suggestive of nasal allergy were studied. A positive SPTwas demonstrated in 78% of the study population, 76% of the patients demonstrated positive eosinophil count. There was 64% correlation between positive SPT and nasal eosinophil and it was statistically significant (X2= 3.559;p=0.03). The sensitivity of nasal smear eosinophilia count was 82.1% (95% CI 82.02-82.18), specificity 64.3% (95%CI 63.52-65.08), and accuracy 74% (95% CI 73.94-74.06). The eosinophil count of nasal scrapping can be used as the replacement of the SPT at the health centre which do not have the SPT facility. DOI: http://dx.doi.org/10.15395/mkb.v42n1.2

Page 1 of 1 | Total Record : 4