cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sumedang,
Jawa barat
INDONESIA
Majalah Kedokteran Bandung
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 43, No 1" : 5 Documents clear
Pengaruh Pemakaian Pipa Nasogastrik pada Kejadian Otitis Media Efusi Kamaludin, Deden; Boesoirie, Thaufiq S.; Soeseno, Bogi; Purwanto, Bambang
Majalah Kedokteran Bandung Vol 43, No 1
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Otitis media merupakan peradangan lapisan mukoperiosteum di telinga tengah tanpa melihat penyebab atau patogenesisnya. Angka kejadiannya bervariasi, di Bandung dan sekitarnya mencapai 6,9%. Penyebab otitis media karena terganggunya fungsi tuba eustakius dapat ditimbulkan oleh pemakaian pipa nasogastrik (PNG). Dilakukan penelitian analisis observasional untuk melihat pengaruh PNG pada kejadian otitis media efusi pada penderita rawat inap di Departemen Ilmu Kesehatan Telinga, Hidung, Tenggorok-Bedah Kepala dan Leher Rumah Sakit Hasan Sadikin. Sebanyak 34 orang subjek didapatkan dalam periode Januari 2007 yang memenuhi kriteria inklusi diikutsertakan dalam penelitian. Pada 34 subjek dilakukan pemeriksaan fisik THT dan timpanometri sebelum dan selama pemasangan PNG. Pemeriksaan timpanometri diulang tiap 24 jam sampai PNG dilepas. Timpanogram dibaca dan data yang diperoleh dianalisis menggunakan uji Friedman untuk membandingkan nilai tengah tekanan dan compliance antara sebelum dan sesudah pemasangan PNG. Uji Spearman correlation untuk mengetahui hubungan tekanan dengan compliance di telinga tengah. Besarnya kejadian ganguan otitis media efusi diuji dengan uji binomial. Terjadi penurunan puncak tekanan dan compliance di telinga tengah sampai hari ke-3 (p=0,197), sedangkan pada hari ke-4–ke-7 terjadi peningkatan kembali. Simpulan, penggunaan PNG tidak berpengaruh pada tingkat otitis media efusi, tetapi pada penurunan puncak tekanan (daPa) dan compliance (mmho) telinga tengah. [MKB. 2011;43(1):42–8].Kata kunci: Compliance, otitis media, pipa nasogastrik, tekanan, telinga tengah, tuba eustakiusThe Effect of Using Nasogastric Tube on Incidence of Otitis Media with Effusion Otitis media is an inflammation of the middle ear mucoperiosteal without reference to its cause or pathogenesis. The incidence rate in Bandung area was 6.9%. Otitis media caused by Eustachian tube dysfunction might be induced by the use of nasogastric tube (NGT). An observational analytic was conducted to know the effect of NGT on incidence rate of otitis media with effusion in hospitalized patients at Department of Otolaryngology-Head and Neck Surgery, Dr. Hasan Sadikin Hospital. There were 34 subjects in January 2007 were included in this study. Before NGT insertion all subjects had physical examination and tympanometry. Every 24 hours tympanometry was performed till exertion the NGT. Tympanogram was collected and analysed statistically by Friedman test to compared median value of pressure before and after NGT insertion, and that of compliance. Spearman correlation test to identify correlation between peak pressure and compliance in the middle ear, and binomial to test hypotesis. There was decreasing pressure and compliance in middle ear until day 3 (p=0.197) and increased on day -4 and -7. In conclusion, the incidence rate of otitis media with effusion is not affected by using of NGT. The using of NGT is associated with reduced peak middle ear pressure (daPa) and peak compliance (mmho). [MKB. 2011;43(1):42–8].Key words: Compliance, eustachian tube, middle ear, pressure, nasogastric tube, otitis media DOI: http://dx.doi.org/10.15395/mkb.v43n1.43
Efek Pemberian Niasin terhadap Glukosa Darah pada Tikus Wistar dengan Obesitas Hermawan, Robby; Sitorus, Trully D.; Sastramihardja, Herri S.
Majalah Kedokteran Bandung Vol 43, No 1
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Niasin memiliki kontroversi mengenai efeknya terhadap pengaturan glukosa darah. Penelitian bertujuan untuk mengetahui efek niasin terhadap kadar glukosa darah pada tikus Wistar dengan obesitas yang diinduksi diet. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorik dengan desain paralel yang menggunakan randomisasi di laboratorium Farmakologi Fakultas Kedokteran Unpad periode Juli 2008–Maret 2009. Penelitian dilakukan pada tikus jantan galur Wistar. Pertama, semua subjek penelitian diinduksi menjadi obesitas dengan diet tinggi lemak selama 10 minggu. Tikus yang memenuhi kriteria dibagi dalam dua kelompok secara acak. Kelompok pertama diberikan plasebo. Kelompok kedua diberikan niasin. Niasin dan plasebo diberikan selama 20 hari. Dosis niasin yang diberikan sebesar 0,135 mg/gBB/hari. Glukosa darah puasa (GDP) dan tes toleransi glukosa oral (TTGO) diukur pada hari ke-21. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang bermakna antara kelompok kontrol dan perlakuan baik pada GDP maupun TTGO. GDP kelompok niasin lebih rendah 4,0 mg/dL (IK95% -0,342–8,4) dibandingkan dengan kelompok kontrol, dengan p=0,068, sedangkan hasil TTGO kelompok niasin lebih tinggi 0,8 mg/dL (IK95% -5,6–7,1) dibandingkan dengan kelompok kontrol, dengan p=0,800. Disimpulkan pemberian niasin tidak menyebabkan perbedaan kadar GDP dan TTGO pada tikus jantan galur Wistar dengan obesitas yang diinduksi diet. [MKB. 2011;43(1):16–20].Kata kunci: Glukosa darah puasa, niasin, obesitas, tes toleransi glukosa oralThe Effect of Niacin to the Blood Glucose in Obese Wistar RatsNiacin has many controversies about its effect to the management of the blood glucose. The objective of the research was to know the effect of niacin to the blood glucose in obese wistar rats. This research was an experimental laboratory study with a parallel design using randomization. Male Wistar rats were used in this research. All rats were induced to be obesed with high-fat feeding for 10 weeks. Rats that fulfill the criteria were randomly divided into two groups. The first group was given the placebo. The second group was given the niacin. The niacin and the placebo were given for the next 20 days. The niacin dose was 0.135 mg/g body weight/day. Fasting blood glucose (FBG) and oral glucose tolerance test (OGTT) were taken on the 21st day. The results showed that there were not any significant differences in FBG and OGTT between control and treated group. The FBG of the niacin group was 4.0 mg/dL (95% CI -0.342–8.4) lower than the control group, with p=0.068. The OGTT result of the niacin group was 0.8 mg/dL (95% CI -5.6 –7.1) higher than the control group, with p=0.800. This study concludes that taking niacin does not cause differences in FBG and OGTT results in the male Wistar rats with diet induced obesity. [MKB. 2011;43(1):16–20].Key words: Fasting blood glucose, niacin, obesity, oral glucose tolerance test DOI: http://dx.doi.org/10.15395/mkb.v43n1.39
Prothrombin Time, Activated Partial Thromboplastin Time, Fibrinogen, dan D-dimer Sebagai Prediktor Decompensated Disseminated Intravascular Coagulation Sisseminated pada Sepsis Fenny, -; Dalimoenthe, Nadjwa Zamalek; Noormartany, -; Pranggono, Emmy; Dewi, Nina Susana
Majalah Kedokteran Bandung Vol 43, No 1
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15395/n

Abstract

AbstrakSepsis adalah respons sistemik terhadap infeksi dan terutama terjadi pada pneumonia. Sepsis dapat menyebabkan komplikasi disseminated intravascular coagulation (DIC) yang dibedakan menjadi compensated dan decompensated DIC. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan apakah nilai prothrombin time (PT), activated partial thromboplastin time (aPTT), kadar fibrinogen, dan D-dimer dapat digunakan sebagai prediktor decompensated DIC pada penderita sepsis. Penelitian dilakukan di Laboratorium Patologi Klinik Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung mulai September 2008 sampai Juni 2010. Subjek penelitian adalah penderita sepsis yang disebabkan pneumonia. Nilai PT, aPTT, kadar fibrinogen, dan D-dimer semua subjek sepsis dicatat kemudian dilakukan pengamatan sampai subjek dinyatakan mengalami decompensated atau non-decompensated DIC; selanjutnya dilakukan analisis nilai PT, aPTT, kadar fibrinogen, dan D-dimer pada kelompok decompensated dan non-decompensated DIC. Penelitian menggunakan rancangan cohort. Subjek berjumlah 39 orang (58%) penderita sepsis dengan luaran decompensated DIC dan 28 orang (42%) penderita sepsis dengan luaran non-decompensated DIC. Dari parameter hemostasis yang diperiksa, didapatkan bahwa nilai PT, aPTT, dan fibrinogen merupakan prediktor decompensated DIC pada penderita sepsis dengan risiko relatif (RR) masing-masing 240,500; 7,157; dan 6,421. Simpulan, prothrombin time, aPTT, dan fibrinogen merupakan pemeriksaan untuk mengetahui aktivasi koagulasi. Parameter hemostasis yang merupakan prediktor decompensated DIC pada penderita sepsis adalah nilai PT dan aPTT yang memendek serta kadar fibrinogen yang meningkat. [MKB. 2011;43(1):49–54].Kata kunci: Activated partial thromboplastin time, D-dimer, disseminated intravascular coagulation, fibrinogen, prothrombin time, sepsisProthrombin Time, Activated Partial Thromboplastin Time, Fibrinogen, and D-dimer as a Predictor of Decompensated Disseminated Intravascular Coagulation in SepsisSepsis is a systemic response to infection especially in pneumonia case. Sepsis can cause complications such as disseminated intravascular coagulation (DIC) which can be divided into compensated and decompensated DIC. The purpose of this study was to assess whether the value of prothrombin time (PT), activated partial thromboplastin time (aPTT), fibrinogen, and D-dimer levels can be used as predictors of decompensated DIC in sepsis patients. This study was conducted at the Laboratory of Clinical Pathology Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung since September 2008 to June 2010. Subjects were patients with sepsis caused by pneumonia. PT and aPTT values, fibrinogen, and D-dimer levels was recorded from all sepsis patients then patients were observed until diagnosed decompensated or non-decompensated DIC, then the value of PT, aPTT, fibrinogen and D-dimer levels in the group of decompensated DIC and non-decompensated DIC were analysed. This study used cohort design. Subjects were 39 sepsis patients (58%) with outcome decompensated DIC and 28 sepsis patients (42%) with outcome non-decompensated DIC. From the hemostasis parameter test out, it was found that PT, aPTT, and fibrinogen were the predictor of decompensated DIC in patients with sepsis with relative risk 240.500, 7.157, and 6.421; respectively. Conclusions, prothrombin time, aPTT, fibrinogen are the test to know coagulation activation. Hemostasis parameter to predict decompensated DIC in sepsis patients are the shorten PT, aPTT, and the increased fibrinogen. [MKB. 2011;43(1):49–54].Key words: Activated partial thromboplastin time, D-dimer, disseminated intravascular coagulation, fibrinogen, prothrombin time, sepsi DOI: http://dx.doi.org/10.15395/mkb.v43n1.44
Risk Factors to Growth Retardation in Major Thalassemia Uda, Riva; Idjradinata, Ponpon S.; Djais, Julistio TB
Majalah Kedokteran Bandung Vol 43, No 1
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The increasing in the life span of patients with major thalassemia should be followed by increased quality of life. There are factors which can affect growth retardation in these patients. The aim of this study was to find out the risk factors for growth retardation in patients with major thalassemia. An analytical study with cross-sectional design was conducted at Pediatric Thalassemia Clinics of Dr.Hasan Sadikin Hospital, Bandung, in June to July 2006. The subjects of this study were patients with major thalassemia. Inclusion criteria’s were age under 14 years old, had no chronic diseases like tuberculosis, cerebral palsy with complete medical records. Risk factors were the timing of diagnosis, initial and dose of deferoxamine, volume of transfused blood, mean pretransfusion hemoglobin level, family income, and age. Antropometric measurement indices were used to assess the growth which expressed in Z score. Growth evaluated based on height/age (H/A) and growth retardation if H/A <-2 SD. Risk factors for growth retardation were analyzed separately using chi-square test and odds ratio (OR) with 95% confidence interval (CI). Then they were analyzed simultaneously with logistic regression method. Subjects consisted of 152 patients with major thalassemia. Seventy three thalassemia patients were stunted. Analysis showed that age (OR: 5.42, 95% CI:2.32–12.65, p <0.001), dosage of deferoxamine (OR: 4.0, 95% CI: 1.29–12.41, p: 0.016), and family income (OR: 2.32, 95% CI: 1.06–5.06, p: 0.036) were risks factors for growth retardation. Conclusion, risk factors for growth retardation in major thalassemia are age, dosage of deferoxamine, and family income. [MKB. 2011;43(1):21–5].Key words: Major thalassemia, risk factors, stuntedFaktor Risiko terhadap Gangguan Tumbuh pada Thalassemia MayorBertambahnya harapan hidup penderita thalassemia, seyogianya diikuti dengan kualitas hidup seperti anak normal. Terdapat berbagai faktor risiko yang mempengaruhi terjadinya gangguan tumbuh pada penderita thalassemia mayor. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui berbagai faktor risiko terjadinya gangguan tumbuh pada penderita thalassemia mayor. Penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan rancangan cross sectional di Poliklinik Anak thalassemia Dr. Hasan Sadikin, Bandung, pada bulan Juni–Juli 2006. Subjek penelitian ini adalah penderita thalassemia mayor. Kriteria inklusi adalah penderita berusia <14 tahun, tidak mempunyai penyakit kronik seperti tuberkulosis, palsi serebral, dan rekam medis yang lengkap. Faktor risiko adalah usia saat penegakan diagnosis, usia mulai menggunakan desferoksamin, dosis desferoksamin, volume darah yang telah diterima, kadar hemoglobin rata-rata sebelum transfusi, penghasilan keluarga, dan usia penderita. Dengan antropometri akan ditentukan pertumbuhan berdasarkan skor-Z. Pertumbuhan dinilai dari indeks tinggi badan/usia dan penderita yang mengalami gangguan tumbuh bila tinggi badan/usia <-2 SD. Faktor risiko gangguan tumbuh dianalisis menggunakan uji ki kuadrat dan rasio odds (RO) dengan interval kepercayaaan (IK) 95%, selanjutnya dilakukan analisis dengan metode regresi logistik. Subjek terdiri atas 152 penderita thalassemia mayor. Terdapat 73 penderita yang mengalami gangguan tumbuh. Hasil analisis menunjukkan usia penderita (RO 5,42; IK 95%: 2,32–12,65, p <0, 001), dosis desferoksamin (RO 4,0; IK95%:1,29–12,41, p: 0,016), dan penghasilan keluarga (RO 2,32; IK 95%:1,06–5,06, p: 0,036). merupakan faktor risiko terjadinya gangguan tumbuh. Simpulan, faktor risiko terjadinya gangguan tumbuh pada thalassemia mayor adalah usia, dosis desferoksamin, dan penghasilan keluarga. [MKB. 2011;43(1):21–5].Kata kunci: Faktor risiko, gangguan tumbuh, thalassemia mayor DOI: http://dx.doi.org/10.15395/mkb.v43n1.40
Efek Antidiabetes Kombinasi Ekstrak Bawang Putih (Allium sativum Linn.) dan Rimpang Kunyit (Curcumma domestica Val.) dengan Pembanding Glibenklamid pada Penderita Diabetes Melitus Tipe 2 Setiawan, Ame Suciati; Yulinah, Elin; Adnyana, I Ketut; Permana, Hikmat; Sudjana, Primal
Majalah Kedokteran Bandung Vol 43, No 1
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kombinasi ekstrak bulbus bawang putih (Allium sativum Linn.) dan rimpang kunyit (Curcumma domestica Val.) dapat digunakan sebagai obat antidiabetes oral pada penderita diabetes melitus (DM) tipe 2, dan secara klinis telah terbukti dapat menurunkan kadar glukosa darah dengan dosis 2,4 g/hari. Penelitian klinis dilakukan untuk melihat efek antidiabetes kombinasi ekstrak dibandingkan dengan antidiabetik oral, glibenklamid. Subjek adalah usia >35 tahun dengan DM tipe 2 yang berobat ke poliklinik Penyakit Dalam dan Endokrin Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung periode November 2007–Agustus 2008 dan telah mendapat terapi gizi medis selama 2 minggu. Penelitian dilakukan secara paralel, acak, dan tersamar ganda. Penggunaan kombinasi ekstrak menunjukkan penurunan kadar glukosa darah puasa rata-rata 9,25 mg/dL, glukosa darah 2 jam postprandial (PP) 22,25 mg/dL, HbA1c 1,30%, serta insulin 12,57 mg/dL bila dibandingkan dengan baseline glibenklamid rata-rata kadar glukosa darah puasa 72,37 mg/dL, glukosa darah 2 jam PP 114,25 mg/dL, dan HbA1c 4,12%, tetapi meningkatkan insulin 3,34 mg/ dL. Kombinasi ekstrak tidak mempengaruhi fungsi hati, ginjal, dan profil hematologi. Kesimpulannya kombinasi ekstrak memiliki efek antidiabetes tetapi efek yang ditimbulkan tidak sebaik glibenklamid. [MKB. 2011;43(1):26–34].Kata kunci: Bawang putih, kunyit, diabetes melitus tipe 2, glibenklamid, glukosa darah Antidiabetic Effect of Garlic Extract (Allium sativum Linn.) and Curcumin Extract (Curcumma domestica Val.) Combination Compared to Glibenclamide in Type 2 Diabetes MellitusThe combination of garlic (Allium sativum Linn.) and curcumin extract (Curcumma domestica Val.) can be used as an oral antidiabetic in type 2 diabetes mellitus (DM) patients. The clinical trial has shown that the extract can decrease blood glucose at a dose of 2.4 g/day. This clinical trial  was conducted to explore the antidiabetic effect of garlic and curcumin extract combination compared to oral antidiabetics, glibenclamide. The subjects were >35 years old patients with type 2 DM who visited the internal and endocrine clinic of Dr. Hasan Sadikin Hospital Bandung and has been treated with medical nutrition therapy for 2 weeks during the period of November 2007–December 2008. This study was a parallel, randomized and double blind study. The garlic and curcumin extract combination decreased the mean value of fasting blood glucose 9.25 mg/dL, 2h PP blood glucose 22.25 mg/dL, HbA1c 1,30% and insulin 12.57 mg/dL  compared to baseline whereas glibenclamide decreased the mean value of fasting blood glucose to 72.37 mg/dL, 2h PP 114,25 mg/dL, HbA1c 4.12% and increased the insulin to 3.34 mg/dL. In conclusion, the extract combination has antidiabetic effect even though it is lower than the glibenclamide. [MKB. 2011;43(1):26–34].Key words: Blood glucose, curcumin, garlic, glibenclamide, type 2 diabetes mellitus DOI: http://dx.doi.org/10.15395/mkb.v43n1.41

Page 1 of 1 | Total Record : 5