cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sumedang,
Jawa barat
INDONESIA
Majalah Kedokteran Bandung
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 52, No 1 (2020)" : 10 Documents clear
Vitamin D Deficiency Prevalence And Its Association with Bacterial Load Sputum in Newly Diagnosed TB Patients Lubis, Melviana; Sinaga, Bintang Yinke Magdalena; Lubis, Nita Andriani
Majalah Kedokteran Bandung Vol 52, No 1 (2020)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (558.813 KB) | DOI: 10.15395/mkb.v52n1.1937

Abstract

Vitamin D plays a role in innate and adaptive immune functions, and its deficiency has become a risk factor for TB infection. This study aimed to describe the prevalence of vitamin D deficiency in newly diagnosed TB patients and to examine the relationship between vitamin D levels and sputum smear positivity that reflects bacterial load. This is a cross-sectional study conducted at several primary health care facilities in Medan and Deli Serdang from November 2015 to June 2016. As many as 86 subjects adult TB patients with positive smear sputum who had not received therapy or had at most 1 week on therapy were recruited. Sputum examination were interpreted using IUATLD (International Union Against Tuberculosis and Lung Disease) grading scale. Serum 25 (OH) vitamin D level was estimated using enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA) and interpreted as deficiency (<20 ng/ml), insufficiency (20–29 ng/ml), or optimum (30–100 ng/ml). The association between vitamin D level and positivity level of AFB sputum was analyzed using Spearman correlation test. The prevalence of VDD in new pulmonary TB patients with positive smear sputum was 17.4%.  There was a weak relationship between vitamin D level and positivity level of  AFB sputum (p = 0.014), with a correlation coefficient of (-0.264). Many of newly diagnosed TB patients had vitamin D deficiency despite the fact that Indonesia is an equatorial area with sufficient sunshine throughout the year. This study shows vitamin D indeed affect bacterial load and a low 25 (OH) vitamin D level is associated with higher bacterial load. Prevalensi Defisiensi Vitamin D pada Pasien TB Paru Baru dan Hubungan dengan Derajat Kepositifan Sputum Basil Tahan AsamVitamin D berperan dalam imunitas bawaan dan adaptif. Kekurangan vitamin D merupakan faktor risiko terinfeksi TB. Penelitian ini bertujuan menggambarkan prevalensi defisiensi vitamin D pada pasien TB baru dan mengetahui hubungan kadar vitamin D dengan derajat kepositifan sputum yang mencerminkan kepadatan bakteri. Penelitian potong lintang ini dilakukan di beberapa Puskesmas di wilayah Medan dan Deli Serdang pada November 2015 hingga Juni 2016. Subjek penelitian sebanyak 86 pasien TB dewasa dengan sputum basil tahan asam (BTA) positif, yang belum atau maksimal 1 minggu mengkonsumsi obat. Pemeriksaan sputum dinilai menggunakan skala IUATLD. Kadar vitamin D serum 25 (OH) dinilai dengan metode ELISA dan diklasifikasikan menjadi defisiensi (<20 ng/mL), insuffisiensi (20–29 ng/mL), optimum (30–100 ng/mL). Hubungan kadar vitamin D dengan tingkat kepositifan sputum BTA dilakukan dengan uji korelasi Spearman. Prevalensi VDD pada pasien TB paru baru dengan sputum positif adalah 17,4%. Terdapat  hubungan antara kadar vitamin D dan tingkat kepositifan sputum BTA (p=0,014), dengan koefisien korelasi (-0,264). Banyak pasien TB paru baru yang mengalami kekurangan vitamin D, meskipun Indonesia berada di khatulistiwa dengan kecukupan sinar matahari sepanjang tahun. Penelitian ini menunjukkan bahwa vitamin D berhubungan dengan kepositifan sputum dan kadar vitamin D yang rendah berhubungan dengan kepadatan bakteri yang lebih tinggi.
Distribution of VDR Gene Polymorphisms Bsm-I rs1544410 and Apa-I rs7975232 among HIV/AIDS Patients from West Java Hendro, Hendro; Sahiratmadja, Edhyana; Indrati, Agnes Rengga; Maskoen, Ani Melani
Majalah Kedokteran Bandung Vol 52, No 1 (2020)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15395/mkb.v52n1.1680

Abstract

Vitamin D receptor, encoded by VDR gene, mediates vitamin D functions by not only regulating calcium metabolism and homeostasis but also in regulating immune response. Polymorphisms in VDR gene may increase the progression of human immunodeficiency virus (HIV) infection into acquired immunodeficiency syndrome (AIDS). This study aimed to explore the distribution of VDR polymorphisms among HIV sero-positive patients in West Java. A cross-sectional study was performed, recruiting 96 patients infected with HIV and VDR polymorphisms were analyzed. The genotype distributions of Bsm-I among HIV-infected patients were 2.2%, 18.5%, and 79.3% for BB, Bb, and bb, respectively whereas the distributions of Apa-I were 54.4%, 38.9%, and 6.7% for AA, Aa and aa, respectively. The frequency of VDR polymorphisms in Bsm-I among HIV-infected patients in West Java were considered high for b allele (88.6%), and in contrast for A allele in Apa-I that was 73.91%. Further studies involving healthy controls are needed to explore the VDR polymorphisms distribution in general population. Moreover, a cohort study, albeit challenging, is needed to further assess the association between VDR polymorphisms and the progression of HIV infection.Distribusi Polimorfisme gen VDR Bsm-I rs1544410 dan Apa-I rs7975232 pada Pasien HIV/AIDS di Jawa BaratReseptor vitamin D yang dikode oleh gen VDR mempunyai peranan penting terhadap fungsi vitamin D, tidak hanya dalam regulasi metabolisme dan keseimbangan kalsium namun juga berperan dalam meregulasi respon imun. Polimorfisme pada gen VDR ditengarai dapat meningkatkan progresivitas infeksi human immunodeficiency virus (HIV) menjadi acquired immunodeficiency syndrome (AIDS). Penelitian ini bertujuan mengetahui distribusi polimorfisme gen VDR pada pasien HIV di Jawa Barat. Penelitian ini melibatkan 96 pasien HIV dan dilakukan analisis polimorfisme gen VDR. Distribusi genotip Bsm-I pada pasien HIV di Jawa Barat adalah 2,2%, 18,5%, dan 79,3% untuk BB, Bb, dan bb, secara beurutan; sedangkan pada Apa-I adalah 54,4%, 38,9%, dan 6,7% untuk AA, Aa, dan aa. Frekuensi polimorfisme pada Bsm-I pada pasien HIV di Jawa Barat tergolong tinggi pada alel b (88,6%) dan berbanding terbalik pada dan Apa-I dengan alel A yaitu 73,91%. Penelitian lebih lanjut yang melibatkan individu kontrol diperlukan untuk mengetahui distribusi polimorfisme gen VDR pada populasi umum. Selain itu, studi kohort pada pasien HIV/AIDS diperlukan untuk menilai hubungan antara polimorfisme gen VDR terhadap progresivitas infeksi HIV.
IL-10 Promoter Polymorphism Distribution among HBsAg-Reactive and HBsAg-Nonreactive Blood Donors Kemal, Rahmat Azhari; Arfianti, Arfianti; Oktora, Reni; Gani, Bebe; Djojosugito, Fauzia Andrini; Winarto, Winarto
Majalah Kedokteran Bandung Vol 52, No 1 (2020)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (694.508 KB) | DOI: 10.15395/mkb.v52n1.1812

Abstract

Hepatitis B surface antigen (HBsAg) serves as a serological marker for Hepatitis B virus (HBV) infection. People with HBV asymptomatic infection might readily donate blood due to the lack of clinical manifestations. Host immunity contributes to susceptibility and progression of infection. A polymorphism in IL-10 gene promoter, rs1800896, might contribute to host immunity. This study was conducted on May 2019 – January 2020 in Faculty of Medicine, University of Riau on  70 blood samples from donors  in the Indonesian Red Cross Pekanbaru. Out of these samples, 35 were reactive for HBsAg and 35 donors were nonreactive. Genotyping of rs1800896 was conducted using Amplification Refractory Mutation System (ARMS-PCR). In total, The distribution of AA (74.3%), AG (24.3%), and GG (1.4%) genotypes revealed in this study seemed to be similar to genotype distribution among East and South-East Asian populations. While no significant difference was observed on age mean and gender distribution, a significant difference was identified in  genotype distribution between HBsAg status (p-value 0.028) with the percentage of AA genotype was higher among HBsAg-nonreactive donors (85.7%) compared to reactive donors (62.9%). More studies should be conducted to characterize HBsAg-reactive blood donors, including the donor characteristics and the viral genotypes. Such studies should contribute to hepatitis B management in Indonesia. Distribusi Polimorfisme Promoter IL-10 pada Donor Darah dengan HBsAg Reaktif dan Nonreaktif di Pekanbaru Hepatitis B surface antigen (HBsAg) merupakan penanda serologis infeksi virus hepatitis B (HBV). Individu dengan infeksi HBV asimptomatik dapat melakukan donasi darah karena tidak adanya gejala klinis. Imunitas inang berkontribusi pada kerentanan dan perkembangan infeksi. Polimorfisme pada promoter gen IL-10, rs1800896, dapat berkontribusi pada imunitas inang. Penelitian dilakukan pada bulan Mei 2019 – Januari 2020 di Fakultas Kedokteran Universitas Riau. Sampel diambil adalah 70 darah donor dari Palang Merah Indonesia Pekanbaru, 35 sampel reaktif HBsAg dan 35 sampel nonreaktif. Genotipe rs1800896 dilihat berdasarkan Amplification Refractory Mutation System (ARMS-PCR). Pada populasi studi ini, distribusi genotipe AA (74.3%), AG (24.3%), dan GG (1.4%) sesuai populasi Asia Timur dan Tenggara. Walaupun tidak terdapat perbedaan pada rerata umur dan distribusi jenis kelamin, penelitian ini menemukan perbedaan signifikan pada distribusi genotipe antar kelompok status HBsAg (p-value 0.028), yaitu persentase genotipe AA lebih tinggi pada kelompok donor dengan HBsAg nonreaktif (85.7%) dibandingkan kelompok reaktif (62.9%). Studi lebih lanjut perlu dilakukan untuk karakterisasi donor darah dengan HBsAg reaktif, termasuk gneotipe donor dan virus. Informasi tersebut diharapkan dapat bermanfaat pada manajemen hepatitis B di Indonesia.
BODY PROFILE AND ARTHROSCOPIC ANTERIOR CRUCIATE LIGAMENT RECONSTRUCTION USING AUTOGRAFT HAMSTRING TENDON Primayudha, Bangkit; Arioharjo Utoyo, Ghuna; Prasetya, Renaldi; Rasyid, Hermawan Nagar
Majalah Kedokteran Bandung Vol 52, No 1 (2020)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (862.404 KB) | DOI: 10.15395/mkb.v52n1.1707

Abstract

The incidence of obesity in Indonesia has increased from 14.8% in 2013 to approximately 21.8% in 2018. There is no published data regarding assessments on functional outcomes and complication after Anterior Cruciate Ligament (ACL) reconstruction in patients with different Body Mass Index (BMI) in Indonesia. The aim of this study was to describe the distribution of ACL injury and compare the functional outcomes after ACL reconstruction using hamstring tendon autograft in patients with different BMI categories.This was a retrospective study in 2 groups of patients with different BMI categories: normal BMI group (18.5 to 24.99) and high BMI group (?25), who had undergone surgeries for ACL injury in Dr. Hasan Sadikin General Hospital, Bandung, Indonesia, during the period of 2017 to 2018. Data were collected from medical records and direct examination on  functional outcome measurement using Lysholm score.This study comprised of 71 patients who were followed for a minimum of 6 months. Of 71 patients, 43 were in the normal BMI group and 28 were in the high BMI group. No significant differences in postoperative functional outcome between the groups when assessed using Lysholm score. In normal BMI group 95% were graded as excellent to good while5% were in the fair functional category. Meanwhile, in the high BMI group, 86% were graded as excellent to good and 14% were graded as having fair functional results. ACL reconstruction with Hamstring tendon autograft results in a good functional score and a high succes rate in both BMI groups. High BMI does not adversely affect functional outcomes as both BMI groups gain equal benefits. Rekonstruksi Anterior Cruciate Ligament Menggunakan Autograft Tendon HamstringInsidensi obesitas di Indonesia meningkat dari 14.8% pada tahun 2013 menjadi 21.8% pada tahun 2018. Tidak ada publikasi data yang menilai hasil akhir fungsional dan komplikasi setelah operasi rekonstruksi Anterior Cruciate Ligament (ACL) pada pasien dengan indeks massa tubuh (IMT) yang berbeda di Indonesia. Tujuan dari penelitian ini membandingkan hasil akhir fungsional menggunakan skor Lysholm setelah rekonstruksi ACL pada pasien dengan IMT yang berbeda. Penelitian ini bersifat retrospektif yang dibagi menjadi 2 kelompok penelitian dengan IMT yang berbeda; yaitu IMT normal (18.5?24.99) dan IMT yang tinggi (?25), yang dilakukan operasi cedera ACL di Rumah Sakit Hasan Sadikin periode tahun 2017-2018. Penelitian ini terdiri dari 71 pasien dan dilakukan pengamatan selama minimal 6 bulan dengan jumlah pasien kelompok IMT normal sebesar 43 pasien, sedangkan 28 pasien pada kelompok IMT yang tinggi. Tidak ada perbedaan signifikan diantara kedua kelompok pada hasil akhir fungsional pasca operasi ACL. Kelompok IMT normal terdiri dari 95% dinilai sebagai excellent sampai good dan 5% dinilai sebagai fair, sedangkan untuk kelompok IMT yang tinggi terdiri dari 86% dinilai sebagai excellent sampai good dan 14% dinilai sebagai fair hasil fungsional. Simpulan, operasi rekonstruksi ACL memiliki skor akhir fungsional yang bagus dan angka kesuksesan yang tinggi pada kedua kelompok IMT.
A REMS SCAN-BASED REPORT ON RELATION BETWEEN BODY MASS INDEX AND OSTEOPOROSIS IN URBAN POPULATION OF MEDAN AT ROYAL PRIMA HOSPITAL Khu, Adrian; Sumardi, Michael
Majalah Kedokteran Bandung Vol 52, No 1 (2020)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (423.568 KB) | DOI: 10.15395/mkb.v52n1.1827

Abstract

Body Mass Index (BMI) and osteoporosis are two major medical issues in practical life. Body Mass Index is recognized as an index to determine body fat mass while osteoporosis is a condition that decreases bone mass density and disrupts bone architecture, which will eventually affect bone strength and increase the risk of fracture. This study aimed to determine the relationship between BMI and osteoporosis using REMS. This was a cross-sectional study on 300 patients, 21 years of age and above, who underwent Radiofrequency Echographic Multi-Spectrometry (REMS) scan during October 2018 to September 2019 in Royal Prima Hospital, Medan, North Sumatra, Indonesia. Osteoporosis was defined based on densitometer parameters for spine and neck of femur while the BMI categories used were underweight (< 18.5 kg/m2), normal-weight (18.5-22.9 kg/m2), overweight (23-24.9 kg/m2), pre-obese (25-29.9 kg/m2), obese type 1 (BMI 30-40 kg/m2), and obese type 2 (40.1-50 kg/m2). Correlation between osteoporosis and BMI was analyzed using Spearman correlation test. The median BMIs for Spine osteoporosis and Neck of Femur osteoporosis groups were 23.24 and 22.51, respectively. Meanwhile, the central tendency of the bone mass density (gr/cm2) of the spine and neck of femur osteoporosis were 0.70 and 0.53, respectively. There was a significant correlation between BMI and the incidence of the neck of femur (R coefficient = -0.690) and spine (R = -0.390) osteoporosis. Hence, lower BMI increases the potential of the neck of femur and spine osteoporosis.Laporan Berbasis Pemindaian REMS tentang Hubungan Antara Indeks Massa Tubuh dan Osteoporosis pada Penduduk Kota Medan di Rumah Sakit Royal PrimaIndeks Massa Tubuh (IMT) dan osteoporosis merupakan dua masalah medis utama dalam kehidupan sehari-hari. Indeks Massa Tubuh telah diakui sebagai indeks yang digunakan untuk menentukan massa lemak tubuh sementara osteoporosis merupakan kondisi yang menurunkan kepadatan tulang dan mengganggu arsitektur tulang yang pada akhirnya memengaruhi kekuatan tulang dan meningkatkan risiko fraktur. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan hubungan antara BI dan osteoporosis dengan menggunakan Radiofrequency Echographic Multi-Spectrometry (REMS). Penelitian ini merupakan penelitian potong lintang pada 300 pasien berusia 21 tahun ke atas yang menjalani pemindaian REMS selama periode Oktober 2018 sampai September 2019 di RS Royal Prima Medan. Osteoporosis ditentukan berdasarkan parameteri densitometri untuk tulang belakang dan leher femur sementara kategori BMI yang digunakan adalah berat badan (BB) kurang (<18,5 kg/m2), BB normal- (18,5-22,9 kg/m2), BB berlebih (23-24,9 kg/m2), pra-obesitas (25-29.9 kg/m2), obesitas tipe 1 (BMI 30-40 kg/m2), dan obesitas tipe 2 (40.1-50 kg/m2). Korelasi antara osteoporosis dan BMI dianalisis dengan menggunakan uji korelasi Spearman. Median IMT untuk osteoporosis pada tulang belakang dan leher femur adalah, secara berturut-turut, 23,24 dan 22,51. Terdapat perbedaan antara IMT dan insiden osteoporosis leher femur (R=-0,690) dan tulang punggung (R=-0,390). Dengan demikian, IMT yang lebih rendah meningkatkan kemungkinan osteoporosis di leher femur dan tulang belakang.
Case Study on Cardiac Decompensation in Patients with Preeclampsia and Peripartum Cardiomyopathy Phanaka, Evelyn Leonie; Iqbal, Mohammad; Wiwaha, Guswan
Majalah Kedokteran Bandung Vol 52, No 1 (2020)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (707.294 KB) | DOI: 10.15395/mkb.v52n1.1779

Abstract

In pregnant women, cardiovascular complications are among the causes of maternal death, one of which is peripartum cardiomyopathy (PPCM). The similarity in the mechanism of PPCM and pre-eclampsia makes preeclampsia a risk factor for PPCM. Preeclampsia, together with PPCM, also contributes to the increasing maternal mortality when most of the causes of maternal death are preventable. This case study aimed to provide descriptions as the basis in education, raising public awareness, early detection, and early treatment, especially for patients at risk. Eight PPCM cases with preeclampsia were identified during the period of 2017–2018 in Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung, Indonesia (RSHS). Cases of PPCM with preeclampsia are rarely reported in RSHS. Out of 8 patients, 7 experienced severe preeclampsia and 1 had impending eclampsia. Diagnosis in PPCM patients requires a complete history taking, physical examination, and other diagnostic tests such as echocardiography. In this study, all patients (100%) complained of dyspnea on exertion as a chief complaint and, based on the New York Heart Association in 1994, 87.5% were included in functional class III-IV. The average ejection fraction was shown to be 34.6%, indicating a value below normal limit. Studi Kasus Dekompensasi Jantung pada Pasien Preeklampsia dengan Kardiomiopati PeripartumPada wanita hamil, komplikasi kardiovaskular berperan dalam kematian ibu, salah satunya adalah kardiomiopati peripartum (PPCM). Persamaan patogenesis antara PPCM dan pre-eklampsia menjadikan preeklampsia sebagai faktor risiko untuk PPCM. Preeklampsia bersama dengan PPCM berperan dalam peningkatan angka kematian ibu (AKI) ketika sebagian besar penyebab AKI dapat dicegah. Studi kasus ini bertujuan diharapkan untuk memberikan deskripsi sebagai dasar dalam pendidikan, meningkatkan kesadaran masyarakat, deteksi dini, dan perawatan dini, terutama untuk pasien yang berisiko. Pada tahun 2017–2018, terdapat 8 kasus pasien PPCM dengan preeklampsia yang dirawat di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung (RSHS). Kasus PPCM dengan preeklampsia jarang dilaporkan di RSHS. Dari 8 pasien, 7 mengalami preeklamsia berat dan 1 mengalami eklampsia yang akan datang. Diagnosis pada pasien PPCM memerlukan anamnesis yang lengkap, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang seperti ekokardiografi. Pada penelitian ini, semua pasien (100%) mengeluhkan sesak nafas sebagai keluhan utama dan berdasar atas klasifikasi New York Heart Association tahun 1994, 87.5% termasuk dalam kelas fungsional III-IV. Rata-rata fraksi ejeksi menunjukkan 34.6% yang menandakan nilai di bawah batas normal.
DNA Methylation from Bloodstain as a Forensic Age Estimation Method Yudianto, Ahmad; Novita, Masniari; Jauhani, Muhammad Afiful; Binarsa, Deka Bagus
Majalah Kedokteran Bandung Vol 52, No 1 (2020)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (487.229 KB) | DOI: 10.15395/mkb.v52n1.1863

Abstract

Forensic identification is an effort to help law enforcement officers to reveal a person's identity. Personal identity is often a problem in criminal and civil cases as well as  cases related to death without identity and mass disasters. Age estimation is very important in forensic identification. DNA methylation is a potential epigenetic modification for age estimation because the aging process of DNA resembles the developments regulated in processes that are tightly controlled by specific epigenetic modifications. In most cases of violent crime, bloodstains can be found at the crime scene. Bloodstain may come from victims, perpetrators of crime, or both. Bloodstain can be used to scientifically reveal the correlation between DNA methylation from bloodstain and the age of unknown person. This study aimed to determine the correlation betweeen DNA methylation from bloodstain and a person's age. The study was conducted at the Institute of Tropical Disease of Universitas Airlangga from July to October 2019 using the analytic observational approach on 10 samples consisting of 5 male and 5 female samples. It was discovered that the correlation coefficient between DNA methylation and age in male subjects was 0.888 with a significance value of 0.04 and 0.834 in female subjects with a significance value of 0.079. In conclusion, there is a significant correlation between percent methylation and age in male subjects. However, this correlation is not statistically significant in female subjects. Metilasi DNA pada Bercak Darah sebagai Metode Forensik untuk Perkiraan UmurIdentifikasi dalam bidang kedokteran forensik adalah upaya untuk membantu penegak hukum dalam menentukan identitas seseorang. Identitas personal sering menjadi masalah dalam kasus pidana, kasus perdata, kematian tanpa identitas, dan bencana massal. Estimasi umur sangat penting dalam identifikasi forensik. Metilasi DNA merupakan suatu modifikasi epigenetik yang potensial untuk memperkirakan umur. Hal ini dikarenakan, DNA pada individu yang mengalami penuaan menyerupai perkembangan yang diatur dalam proses yang dikontrol ketat oleh modifikasi epigenetik khusus. Pada kebanyakan kasus kriminal dengan tindak kekerasan, bercak darah dapat ditemukan pada tempat kejadian perkara. Bercak darah tersebut mungkin berasal dari korban, pelaku kejahatan, atau bahkan dari keduanya. Bercak darah dapat digunakan untuk membantu mengungkap peristiwa tersebut secara ilmiah Sejauh ini korelasi metilasi DNA dari bercak darah dengan umur seseorang belum banyak diketahui. Penelitian ini bertujuan mengetahui korelasi metilasi DNA dari bercak darah dengan umur seseorang. Penelitian dilakukan di Institute of Tropical Disease Universitas Airlangga periode Juli sampai Oktober 2019. Metode penelitian yang digunakan observasional analitik yang dilakukan pada 10 sampel dengan rincian 5 sampel pria dan 5 sampel wanita. Hasil penelitian, korelasi metilasi DNA dengan umur pada subyek laki-laki didapatkan nilai r adalah 0.888 dengan nilai signifikansi 0.04 dan pada subyek perempuan didapatkan r adalah 0.834 dengan nilai signifikansi 0.079. Simpulan, ditemukan korelasi signifikan antara persen metilasi dengan umur pada laki-laki, sedangkan pada perempuan tidak terdapat korelasi yang signifikan secara statistik.
Elderly Quality of Life and Its Predictors in Chronic Disease Management Program: Indonesian Version of WHOQOL-BREF and WHOQOL-OLD Lionthina, Melly; Wiwaha, Guswan; Gondodiputro, Sharon; Sukandar, Hadyana; Arya, Insi Farida Desy; Sunjaya, Deni K.
Majalah Kedokteran Bandung Vol 52, No 1 (2020)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (632.031 KB)

Abstract

Indonesia is currently experiencing increasing proportion of older population, which also increases the prevalence of chronic diseases that may decrease the quality of life (QoL). The Indonesian Social Security Agency develops a program to control chronic diseases, which is referred to as the Chronic Disease Management Program (Program Pengelolaan Penyakit Kronis, PROLANIS) for the National Health Insurance participants. Its goals is to control chronic diseases in order to improve participants’ QoL. To evaluate the QoL of the elderly, the World Health Organization (WHO) has developed two questionnaires, namely WHOQOL-BREF and WHOQOL-OLD. The objective of this study was to analyze the differences in the QoL of the elderly between PROLANIS and non-PROLANIS participants using the Indonesian-verson of WHOQOL-BREF and WHOQOL-OLD as well as the QoL predictors. A  cross-sectional study was carried out to 84 elderly  PROLANIS participants (n=42) and non-PROLANIS participants (n=42).  Respondents were sampled consecutively from 6 public health health centers (Pusat Kesehatan Masyarakat, Puskesmas) in Bangka District, Indonesia in 2018. Mann Whitney test or the unpaired T test were used to statistically analyze the difference between the two groups. A multiple linear regression test was then carried out to determine the predictors of the QoL.  This study discovered that no difference was observed in the QoL of the elderly between PROLANIS and non-PROLANIS participants. Disease status and depression were the predictors of the QoL. Therefore, PROLANIS has not been proven to be able to improve the QoL of the elderly. Kualitas Hidup Lanjut Usia dan Prediktornya pada Program Pengelolaan Penyakit Kronis: Versi Indonesia dari WHOQOL-BREF dan WHOQOL-OLD  Peningkatan proporsi penduduk lanjut usia (lansia) di Indonesia meningkatkan prevalensi penyakit kronis sehingga dapat menyebabkan penurunan kualitas hidup. Badan Penyelenggara Jaminan Sosial mengembangkan Program Pengelolaan Penyakit Kronis (PROLANIS) bagi peserta Jaminan Kesehatan Nasional dengan tujuan agar penyakit kronis tersebut terkontrol dan lansia dapat hidup berkualitas. World Health Organization (WHO) mengembangkan instrumen untuk mengukur kualitas hidup, yaitu WHOQOL-BREF dan WHOQOL-OLD. Penelitian ini bertujuan menganalisis adanya perbedaan kualitas hidup lanjut usia antara bukan peserta PROLANIS dan peserta PROLANIS menggunakan kuesioner WHOQOL-BREF dan WHOQOL-OLD versi Bahasa Indonesia dan faktor yang berpengaruh. Penelitian potong lintang dilakukan pada 84 lansia yang terbagi menjadi 2 grup masing-masing 42 responden, yaitu bukan peserta PROLANIS danpeserta PROLANIS. Responden berasal dari 6 Puskesmas di Kabupaten Bangka Provinsi Bangka Belitung Indonesia pada tahun 2018 yang dipilih sesuai kriteria inklusi dan dengan metode consecutive sampling. Data yang terkumpul dilakukan analisis menggunakan Uji Mann Whitney atau uji T tidak berpasangan. Uji regresi linier multipel dilakukan untuk menentukan prediktor dari kualitas hidup. Hasil penelitian  menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan kualitas hidup lansia antara bukan peserta PROLANIS dan peserta PROLANIS. Status penyakit dan depresi merupakan prediktor kualitas hidup. Simpulan, PROLANIS belum terbukti dapat meningkatkan kualitas hidup lansia.
Translation and Validation of Indonesian Version of Scleroderma Health Assessment Questionnaire Defi, Irma Ruslina; Jennie, Jennie; Vitriana, Vitriana; Arisanti, Farida
Majalah Kedokteran Bandung Vol 52, No 1 (2020)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15395/mkb.v52n1.2004

Abstract

Systemic sclerosis (SSc) or Scleroderma is a chronic autoimmune disease characterized by vasculopathy, fibrosis, and autoimmunity. Scleroderma Health Assessment Questionnare (SHAQ) is a measurement of SSc that is more specific than Health Assessment Questionnaire (HAQ) disability index(DI) to measure disability and function.The aim of this study was to translate SHAQ into Indonesian language and assess its validity and reability. The SHAQ was translated into Indonesian language and then back translated to ensure the meaning. The Indonesian version was then applied to the SSc outpatients. The validity of HAQ-DI and VAS scores was assessed using Pearson Product Moment Correlation and Cronbach’s alpha for the reability test of SSc HAQ score. To determine the convergent validity, comparisons were made between HAQ-DI, Scleroderma Visual Analog Scale (VAS), and Short Form 36 (SF 36). Eighteen females, ranging between 42 to 66 years old, were included in this study from Desember 2019 to February 2020. The results of the validity test in all variables of HAQ-DI and SSc-VAS were valid (r-count >0.361). Cronbach’s alpha for these variables were higher than the standardized items (r > 0.700), reflecting very good reability and acceptable. There was a statistically significant correlation between SSc HAQ score and HAQ-DI with most of SF-36 physical domains, except for general health.The Indonesian version of SHAQ demonstrates a good construct and discriminant validity as well as the reproducibility. Thus, it can be used for measuring disability in systemic sclerosis patients. Translasi  dan Validasi  Scleroderma Health Assessment Questionnaire versi  Bahasa IndonesiaSklerosis sistemik atau skleroderma merupakan penyakit autoimun kronik dengan vaskulopati, fibrosis dan autoimunitas. Scleroderma Health Assessment Questionnaire (SHAQ)menilai disabilitas dan fungsi pada pasien sklerosis sistemiklebih spesifik dibandingkan Health Assessment Questionnaire (HAQ) Disability Index (DI). Tujuan dari penelitian ini adalah menerjemahkan SHAQ ke dalam bahasa Indonesia dan menilai validitas serta relialibilitasnya. Scleroderma Health Assessment Questionnaire diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan kemudian dilakukan translasi balik lalu kuesioner diisi oleh pasien sklerosis sistemik rawat jalan. Tes validitas HAQ-DI dan Visual Analog Scale (VAS) dinilai menggunakan korelasi Pearson dan reliabilitas menggunakan Cronbach’s alpha. Perbandingan antara HAQ-DI, Scleroderma-VAS, dan Short Form 36 (SF 36) dilakukan untuk menilai validitas konvergen. Subjek terdiri dari 18 orang wanita yang berusia antara 42 sampai 66 tahun dari Desember 2019 sampai Februari 2020. Hasil validitas pada semua parameter HAQ-DI dan SSc-VAS ditemukan valid (r hitung>0,361). Terdapat reliabilitas yang baik dilihat dari nilai Cronbach’s alpha yang lebih tinggi dari nilai r tabel (r>0,700). Terdapat korelasi yang signifikan antara Skleroderma-HAQ dan HAQ-DI dengan domain SF-36 kecuali domain kesehatan umum. Simpulan, bahwa SHAQ versi Indonesia memiliki konstruk dan validitas diskriminan serta reproduktifitas yang baik sehingga dapat digunakan untuk menilai disabilitas pada pasien sklerosis sistemik.
Role of Cystatin-C as Serum Biomarkers in Predicting Glomerular Function-Associated with Copper-Induced Acute Kidney Injury Wardhani, Fiska Maya; Chiuman, Linda; Ginting, Chrismis Novalinda; Ginting, Sahna Ferdinand
Majalah Kedokteran Bandung Vol 52, No 1 (2020)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (112.919 KB) | DOI: 10.15395/mkb.v52n1.1793

Abstract

Cystatin C is a 13 kD molecular-weight protein synthesized by all nucleated cells which functions as a cysteine protease inhibitor. Cystatin C is detectable when kidney function decreases due to the excessive accumulation of nephrotoxic substances such as copper. Previous studies have proven that white turmeric rhizome can act as a nephroprotector agent at a dose of 500mg/BW. The purpose of this study was to compare Cystatin-C marker and serum creatinine as biomarkers in the examination of acute kidney injuries induced by nephrotoxic substance. This was a post-test only controlled experimental study on wistar strain male rats that were divided randomly using simple random sampling approach into three groups: normal control group, treatment control group (Curcumin for 2 weeks followed by CuSO4 for 3 days at each weekend), and CuSO4 pentahydrate control group. This study was conducted in Faculty of Pharmacy and Faculty of Medicine of the University of North Sumatera in May to August 2019. Results were normally distributed with significant differences in levels of Cystatin-C, creatinine, and protein serum due to differences in the treatment of each group  (p<0.05). Serum Cystatin-C is proven to be a more sensitive biomarker for detecting acute kidney damage compared to serum creatinine. Peran Cystatin-C sebagai Biomarker Serum dalam Memprediksi Fungsi Glomerulus-Terkait dengan Cedera Ginjal Akut yang Dipicu TembagaCystatin C adalah  protein dengan berat molekul 13 kD disintesis oleh setiap sel yang memiliki inti berfungsi sebagai inhibitor protease sistein. Cystatin C terdeteksi ketika fungsi ginjal menurun oleh zat nefrotoksik seperti tembaga. Tembaga merupakan salah satu logam yang dapat menjadi zat nefrotoksik bila terakumulasi berlebihan. Ekstrak rimpang kunyit putih memiliki manfaat sebagai nefroprotektor dengan dosis  mg/kgBB. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui perbandingan Cystatin-C dan kreatinin serum sebagai biomarker dalam pemeriksaan kerusakan ginjal akut akibat zat nefrotoksik. Penelitian eksperimental ini menggunakan the post test only control group design dengan teknik simple random sampling. Penelitian ini dilakukan di Fakultas Farmasi dan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara pada bulan Mei hingga Agustus 2019. Tikus jantan dengan galur wistar dibagi tiga kelompok; kontrol normal, kontrol kunyit putih (500 mg/kgBB) sebagai pre-treatment (curcumin selama 2 minggu diikuti CuSO4selama 3 hari di setiap akhir pekan), dan kontrol  CuSO4 pentahidrat. Hasil analisis data terdistribusi normal dan terdapat perbedaan yang signifikan kadar Cystatin-C, kreatinin dan protein serum pada setiap kelompok dimana nilai p<0.05. Cystatin-C serum sebagai biomarker lebih sensitif dalam mendeteksi kerusakan ginjal akut dibanding dengan kreatinin serum.

Page 1 of 1 | Total Record : 10