cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sumedang,
Jawa barat
INDONESIA
Majalah Kedokteran Bandung
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 52, No 2 (2020)" : 10 Documents clear
Antioxidant Activities of Black Soybean Extract (Glycine max (L.) Merr.) and Daidzein as Hydroxyl and Nitric Oxide Scavengers Irwan, Mulia; Girsang, Ermi; Nasution, Ali Napiah; Lister, I Nyoman Ehrich; Amalia, Annisa; Widowati, Wahyu
Majalah Kedokteran Bandung Vol 52, No 2 (2020)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (273.086 KB) | DOI: 10.15395/mkb.v52n2.1816

Abstract

Free radicals are known as a leading factor in aging. Nitric oxide (NO) and O2•- have been shown to inhibit the synthesis of matrix components and stimulate prolidase activities involved in collagen degradation. Hydroxyl (•OH) radical is a precursor of hyaluronic acid degradation. Antioxidants act as a scavenger for free radicals, creating a possibility to use them to prevent the aging process. Black soybeans (Glycine max (L.) Merr.) contain bioactive compounds that have the ability to scavenge free radicals, including daidzein. Daidzein belongs to the isoflavones group which is the most active compound in black soybean. This study aimed to understand the antioxidant activities of the black soybean extract (BSE) and daidzein compound in the scavenging of •OH and NO radicals and was performed at the Aretha Medika Utama-Biomolecular and Biomedical Research Center (BBRC), Bandung, Indonesia, from September to November 2018. The scavenging activity of •OH was assessed using the deoxyribose method, while the assessment of the scavenging of NO radicals was carried out using the sodium nitroprusside method. BSE and daidzein had an •OH scavenging activity with an IC50 value of 71.07 μg/mL, followed by daidzein with 24.57 μg/mL. A higher NO scavenging activity was seen in BSE with an IC50 of 71.60 μg/mL followed by daidzein with 35.68 μg/mL. Daidzein has a higher antioxidant activity through hydroxyl and nitric oxide scavenging compared to Glycine max (L.) Merr. extract. Hence, daidzein has a higher potential as an anti-aging agent based on the free-radical theory of aging. Aktivitas Antioksidan Ekstrak Kedelai Hitam (Glycine max (L.) Merr.) dan Daidzein sebagai Pemerangkap Hidroksil dan Nitrogen MonoksidaRadikal bebas dikenal sebagai faktor utama penuaan. Nitrogen monoksida (NO) dan O2•- telah terbukti menghambat sintesis komponen matriks dan merangsang aktivitas prolidase yang terlibat dalam degradasi kolagen. Radikal hidroksil (•OH) adalah prekursor dari degradasi asam hialuronat. Antioksidan bertindak sebagai pemerangkap radikal bebas sehingga dapat digunakan untuk mencegah proses penuaan. Kedelai hitam (Glycine max (L.) Merr.) mengandung senyawa bioaktif yang mampu memerangkap radikal bebas, salah satunya adalah daidzein. Daidzein termasuk dalam kelompok isoflavon yang merupakan senyawa paling aktif dalam kedelai hitam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antioksidan, pemerangkapan •OH dan NO dari ekstrak etanol kedelai hitam (BSE) dan senyawa daidzein. Penelitian ini dilakukan selama bulan September sampai dengan November tahun 2018 di Laboratorium Aretha Medika Utama Biomolecular and Biomedical Research Center (BBRC) Bandung. Pemerangkapan •OH dilakukan dengan metode deoksiribosa, sedangkan pemerangkapan radikal NO dilakukan dengan metode menghitung natrium nitroprusida. BSE dan daidzein memiliki aktivitas pemerangkapan •OH dengan nilai IC50 71,07 μg/mL diikuti oleh daidzein 24,57 μg/mL. Aktivitas pemerangkapan NO pada BSE ditunjukkan dengan IC50 71,60 μg/mL sementara daidzein 35,68 μg/mL. Daidzein memiliki aktivitas antioksidan yang lebih tinggi berdasarkan pemerangkapan •OH dan NO dibanding BSE. Oleh karena itu, daidzein memiliki potensi lebih sebagai antiaging menurut teori penuaan akibat radikal bebas.
Functional Recovery of Rare Case of Sciatic Nerve Schwannoma with Peripheral Nerve Block and without Intraoperative Neurophysiological Monitoring Henky, Jefri; Faried, Ahmad
Majalah Kedokteran Bandung Vol 52, No 2 (2020)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (72.4 KB) | DOI: 10.15395/mkb.v52n2.1996

Abstract

Schwannoma are benign peripheral nerve tumors derived from the Schwann cells in the neural sheath. Sciatic nerve schwannoma in the lower extremity is uncommon, accounting for only 1% of all schwannoma cases. This report aimed to describe the functional recovery after lower limb surgery of sciatic nerve schwannoma with peripheral nerve block and without intraoperative neurophysiological monitoring (IOM) performed in Semen Padang Hospital in 2019. A 78-year-old woman presented with a complaint of pain on her slowly growing mass at the right popliteal region, which had existed for 22 years. Microsurgical resection was performed with local peripheral nerve block and without intraoperative neurophysiological monitoring. Tumor was removed en-bloc by sharp dissection using a microscope without any complication. The patient had significant pain relief without any neurologic deficit three weeks after the surgery. Penyembuhan Secara Fungsi Kasus Langka Schwannoma Saraf Sciatic dengan Blok Saraf Perifer Tanpa Pemantauan Neurofisiologis Intraoperatif Schwannoma adalah tumor saraf tepi jinak yang berasal dari sel Schwann dalam selubung saraf. Pada ekstremitas bawah, schwannoma saraf sciatic jarang terjadi, terhitung 1% dari semua schwannoma. Laporan ini bertujuan menggambarkan pemulihan fungsional dengan blok saraf perifer setelah operasi tungkai bawah schwannoma saraf sciatic tanpa pemantauan neurofisiologis intraoperatif (IOM) di Rumah Sakit Semen Padang, 2019. Seorang wanita 78 tahun datang dengan keluhan nyeri pada massa yang tumbuh perlahan di daerah popliteal kanannya selama 22 tahun. Reseksi bedah mikro dilakukan dengan blok saraf perifer secara lokal dan tanpa pemantauan neurofisiologis intraoperatif. Tumor terangkat secara en-bloc dengan diseksi tajam menggunakan mikroskop tanpa ada komplikasi. Pada minggu ketiga pascaoperasi, pasien mengalami pengurangan rasa sakit yang signifikan tanpa defisit neurologis.
Correlation between Quality of Life and Gastroesophageal Reflux Disease Tandarto, Kevin; Tenggara, Riki; Chriestya, Febie; Steffanus, Mario
Majalah Kedokteran Bandung Vol 52, No 2 (2020)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15395/mkb.v52n2.2003

Abstract

Gastroesophageal reflux disease (GERD) is a disease characterized by the rise of stomach acid into the esophagus which leads to heartburn and regurgitation. The prevalence of adult GERD cases worldwide is 11-38.8%. This study aimed to determine the correlation between GERD and quality of life among patients affected by this disease. This was a cross-sectional study conducted on 92 GERD patients in Atma Jaya Hospital, Jakarta, Indonesia from April 2018 to June 2018. Two questionnaires, GERD-Q and GERD-HRQL were used in this study. A validation of the Indonesian version of the GERD-HRQL questionnaire was performed prior to this study. The Mann Whitney test was used to identify the correlation between GERD and the quality of life in patients with upper gastrointestinal symptoms. This study indicated that the GERD-HRQL questionnaire showed good validity and reliability. Results showed that there was a correlation between GERD and quality of life (p = 0.005) in patients with upper gastrointestinal symptoms. In conclusion, GERD affects the quality of life of patients affected by this disease. Korelasi antara Kualitas Hidup dan Penyakit Refluks GastroesofagusGastroesophageal reflux disease (GERD) atau penyakit refluks gastroesofagus adalah penyakit yang ditandai dengan naiknya asam lambung ke kerongkongan yang menyebabkan sensasi terbakar di dada dan regurgitasi. Prevalensi kasus GERD di seluruh dunia pada orang dewasa adalah 11–38,8%. Penelitian ini bertujuan mengetahui korelasi antara GERD dan kualitas hidup di antara pasien yang terkena penyakit ini. Penelitian dilakukan pada 92 pasien GERD di Rumah Sakit Atma Jaya, Jakarta, Indonesia dari April 2018 hingga Juni 2018. Dua kuesioner, GERD-Q dan GERD-HRQL digunakan dalam penelitian ini. Validasi kuesioner GERD-HRQL versi bahasa Indonesia dilakukan sebelum penelitian ini. Analisis uji Mann Whitney digunakan untuk mengidentifikasi korelasi antara GERD dan kualitas hidup pada pasien dengan gejala gastrointestinal bagian atas. Penelitian ini menunjukkan bahwa kuesioner GERD-HRQL memperlihatkan validitas dan reliabilitas yang baik. Hasil penelitian ini juga menunjukkan erdapat korelasi antara GERD dan kualitas hidup (p=0,005) pada pasien dengan gejala gastrointestinal atas. Simpulan, GERD mempengaruhi kualitas hidup pasien yang terkena penyakit ini.
NUTRITION COUNSELING NEED IN BURN PATIENTS Soedjana, Hardisiswo; Lukman, Kiki; Septrina, Rani; Hasibuan, Lisa; Harianti, Selvy; Febrina, Amelia
Majalah Kedokteran Bandung Vol 52, No 2 (2020)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15395/mkb.v52n2.1882

Abstract

Burns can increase metabolic responses of the sufferers, making adequate nutrition important for burn patients and needs to be considered in the management of burns. Counseling on the importance of nutrition for burn patients can reduce the risk of burn complications. This study was an intervention study designed to increase the community's knowledge and awareness of the importance of nutrition in burn patients. In this study, a lecture session and discussion session on nutrition in burn patients were held by the Division of Plastic Surgery, Department of Surgery, Dr. Hasan Sadikin General Hospital, Bandung, Indonesia at the Jatinangor Public Health Center, Sumedang, Indonesia, on August 14, 2019. Of all participants attending this event, thirty-one participants who participated in through the whole agenda of this event were sampled to be the respondents. Data were collected using a pre- and post-test questionnaires consisting of items on basic knowledge, first treatment, and nutrition for burn patients. More women (74%) participated in this study. Most respondents were over 40 years old (39%) and graduated from senior high school (39%). There was a significant increase in knowledge of the respondents before and after counseling the nutrition of burn patients (p<0.05). Thus, counseling is proven to increase knowledge in the general population that it should be performed routinely in various areas. Perlunya Penyuluhan Nutrisi Pada Pasien Luka BakarLuka bakar dapat meningkatkan respons metabolisme penderita, membuat nutrisi yang cukup penting bagi pasien luka bakar dan perlu dipertimbangkan dalam manajemen luka bakar. Penyuluhan tentang pentingnya nutrisi untuk pasien luka bakar dapat mengurangi risiko komplikasi luka bakar. Penelitian ini adalah studi intervensi yang dirancang untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat tentang pentingnya nutrisi pada pasien luka bakar. Dalam penelitian ini, sesi kuliah dan sesi diskusi tentang nutrisi pada pasien luka bakar diadakan oleh Divisi Bedah Plastik, Departemen Bedah, Rumah Sakit Umum Dr. Hasan Sadikin, Bandung, Indonesia di Pusat Kesehatan Masyarakat Jatinangor, Sumedang, Indonesia, pada 14 Agustus 2019. Dari semua peserta yang menghadiri acara ini, tiga puluh satu peserta yang berpartisipasi melalui seluruh agenda acara ini dijadikan sampel untuk menjadi responden. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner sebelum dan sesudah tes yang terdiri dari item pada pengetahuan dasar, pengobatan pertama, dan nutrisi untuk pasien luka bakar. Lebih banyak perempuan (74%) berpartisipasi dalam penelitian ini. Sebagian besar responden berusia di atas 40 tahun (39%) dan lulus dari sekolah menengah atas (39%). Ada peningkatan yang signifikan dalam pengetahuan responden sebelum dan sesudah konseling nutrisi pasien luka bakar (p <0,05). Dengan demikian, konseling terbukti meningkatkan pengetahuan dalam populasi umum bahwa itu harus dilakukan secara rutin di berbagai bidang.
CORRELATION BETWEEN PROTEINURIA AND GLOMERULAR FILTRATION RATE IN TYPE 2 DIABETES MELLITUS Rosdiana, Dani; Mukhyarjon, Mukhyarjon; Asputra, Hendra; Hernita, Nisa Faradisa; Makmur, Olivia; Prayogo, Prayogo; Hirfawaty, Hetty
Majalah Kedokteran Bandung Vol 52, No 2 (2020)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2469.618 KB) | DOI: 10.15395/mkb.v52n2.1811

Abstract

Indonesia faces a double burden of communicable and non-communicable diseases, including metabolic and degenerative problems. Delay in the detection of diabetic nephropathy (DN) as one of the chronic microvascular complications is often seen, leading to the need for hemodialysis due to the end-stage renal disease (ESRD). An assessment of diabetes mellitus (DM) control target achievement, based on the guideline from the Indonesian Society of Endocrinology (Perkumpulan Endokrinologi Indonesia, PERKENI), and nephropathy early detection was performed in 54 Type-2 DM patients from 5 private hospitals in Pekanbaru Riau, Indonesia, from November 2018 to September 2019. Results showed poor achievement of DM control with 61.1% had abnormal body mass index, 57.5% had HbA1c>7%, and 77.7% had LDL serum >100 mg/dL. Nevertheless, most patients achieved good blood pressure control (74%). A high percentage of nephropathy-proteinuria was seen (40.7%) with 40.9% of them revealed renal insufficiency classified as chronic kidney disease (CKD) stage 3 and 4. There was a significant correlation between proteinuria and declined GFR (p=0.016), onset of DM (p=0.02), and diastolic blood pressure (p=0.03). No correlation was found between HbA1c and declined GFR, which may be due to the cross-sectional nature of the study. It will be interesting to perform a prospective study on proteinuria modification as a predictor of nephropathy early detection in DM patients since kidney biopsy and urine albumin creatinine ratio assessment are not available in primary health care services in remote areas. Korelasi antara Proteinuria dan Laju Filtrasi Glomerulus pada Diabetes Melitus Tipe 2Indonesia menghadapi beban ganda penyakit menular dan tidak menular, termasuk masalah metabolisme dan degeneratif. Keterlambatan dalam deteksi nefropati diabetik sebagai salah satu komplikasi mikrovaskular kronis sering terlihat, mengarah pada kebutuhan untuk hemodialisis karena penyakit ginjal stadium akhir (ESRD). Dari 54 pasien diabetes melitus (DM) tipe-2 tanpa keluhan edema, sesak, dan lemas dari 5 rumah sakit swasta di Pekanbaru, Riau, Indonesia, dari November 2018 hingga September 2019, dilakukan penilaian kontrol DM sesuai panduan Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI). Didapatkan hasil bahwa pencapaian kontrol DM masih buruk dengan 61,1% memiliki indeks massa tubuh abnormal 57,5% memiliki HbA1c >7%, dan 77,7% memiliki serum LDL >100 mg/dL. Namun demikian, sebagian besar pasien mencapai kontrol tekanan darah yang baik (74%). Pasien terdeteksi proteinuria >25 mg/dL mencapai 40,7% dengan 40,9% diantaranya mengalami gangguan filtrasi ginjal yang didefinisikan sebagai GFR <60 diklasifikasikan penyakit ginjal kronis tahap 3 dan 4. Walaupun secara statistik tidak ditemukan hubungan bermakna antara kontrol glikemik dengan insufisiensi renal, namun ditemukan hubungan yang bermakna antara nefropati dengan penurunan laju filtrasi glomerulus (GFR) (p=0.016), awitan DM (p=0,02), dan tekanan darah diastolik (p=0,03). Tidak ada hubungan bermakna antara HbA1c dan penurunan GFR yang mungkin disebabkan observasi sesaat. Akan menarik untuk melakukan studi prospektif pada modifikasi proteinuria sebagai prediktor deteksi dini nefropati pada pasien DM karena biopsi ginjal dan penilaian rasio albumin kreatinin urin tidak tersedia di layanan perawatan kesehatan primer di daerah terpencil.
PLATELET-DERIVED MICROPARTICLE COUNT IN β-THALASSEMIA PATIENTS WITH DIRECT LABELING MONOCLONAL ANTIBODY CD62P AND CD41 Toruan, Ivan Lumban; Fianza, Pandji Irani; Prihatni, Delita
Majalah Kedokteran Bandung Vol 52, No 2 (2020)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (560.822 KB) | DOI: 10.15395/mkb.v52n2.1836

Abstract

Thromboembolic events are potentially life-threatening clinical complications found in ?-thalassemia patients. The pathogenesis of the hypercoagulable state in ?-thalassemia patients results from the degradation of excess ?-globin chains in red blood cells, leading to intracellular labile iron accumulation, oxidative stress, and more rigid, deformed, and eventually prematurely damaged red blood cells. This process is associated with the loss of the normal asymmetrical distribution of membrane phosphatidylserine and its exposure to the outer surface of the blood cell membrane resulting in the formation of tenase complexes, prothrombinase, and thrombin complexes. Increased thrombins lead to platelet activation and platelet-derived microparticles synthesis, which in turn contributes to thrombus formation. This study aimed to determine the increase in the platelet-derived microparticle count by direct labeling of CD62P and CD41 monoclonal antibodies in ?-thalassemia patients when compared with normal subjects. This was a cross-sectional analytical quantitative study conducted in Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung and Dharmais Cancer Hospital Jakarta Indonesia between August and September 2019. Sixty patients, divided evenly into ?-thalassemia group and control group, were labeled by CD62P and CD41 monoclonal antibodies. Results showed that the ?-thalassemia group had a platelet count of 197 x 103/uL (58-1,261) with a median count for platelet-derived microparticles of 10,553 events/uL (779 ? 90,971) as opposed to 1,861 events/uL (1,244 ? 3,174) in the normal group (p<0.05). Therefore, the platelet-derived microparticle count in the ?-thalassemia patients is 5.7 times greater than in the normal subjects. Jumlah Platelet Derived Microparticles pada Pasien Thalassemia ? dengan Metode Pelabelan Langsung Antibodi Monoklonal CD62P dan CD41Kejadian tromboemboli berpotensi komplikasi klinis yang mengancam jiwa ditemukan pada pasien ?-thalassemia. Patogenesis keadaan hiperkoagulasi pada pasien thalassemia ? akibat dari degradasi rantai globin ? berlebih dalam sel darah merah yang menghasilkan akumulasi besi labil intraseluler, dan mengarah pada stres oksidatif serta sel darah merah yang lebih kaku dan cacat, dengan akibat kerusakan prematur. Proses ini dikaitkan dengan hilangnya distribusi asimetris normal dari fosfatidilserin membran dan paparannya pada permukaan luar membran sel darah, yang meyebabkan pembentukan kompleks tenase, kompleks protrombinase dan trombin. Peningkatan trombin mengarah pada aktivasi trombosit dan sintesis platelet derived microparticles yang selanjutnya berkontribusi pada pembentukan trombus. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui peningkatan jumlah platelet derived microparticles dengan metode pelabelan langsung antibodi monoklonal CD62P dan CD41 pada pasien thalassemia ? dibanding subjek normal. Penelitian ini merupakan suatu penelitian kuantitatif dengan metode analitik potong lintang yang dilakukan di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung dan Rmah Sakit Kanker Dharmais Jakarta antara bulan Agustus dan September 2019.Enam puluh pasien, dibagi secara merata menjadi kelompok ?-thalassemia dan kelompok kontrol, diberi label oleh CD62P dan CD41 antibodi monoklonal. Hasil penelitian menunjukkan kelompok thalassemia ? memiliki jumlah trombosit 197x103/uL (58?1.261) dengan jumlah median platelet derived microparticles 10.553 partikel/uL (779?90.971) dibanding dengan 1.861 partikel/uL ( 1,244?3,174) pada kelompok normal (p <0,05). Simpulan, jumlah platelet derived microparticles pada pasien ?-thalassemia adalah 5,7 kali lebih besar daripada pada subjek normal
COMPARISON OF CARCINOEMBRYONIC ANTIGEN SERUM LEVELS IN COLORECTAL CANCER PATIENTS WITH DIFFERENT HISTOPATHOLOGICAL GRADES Agusrly, Chandra; Sungkar, Taufik; Siregar, Gontar Alamsyah
Majalah Kedokteran Bandung Vol 52, No 2 (2020)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (143.057 KB) | DOI: 10.15395/mkb.v52n2.1950

Abstract

Histopathological grading, which represents the degree of histopathological differentiation, is often used as one of the factors to determine the prognosis of colorectal cancer. However, this grading cannot comprehensively present the clinical features of the disease. Carcinoembryonic antigen (CEA), as a tumor marker tested in the laboratory, is commonly used to determine the diagnosis and prognosis of colorectal cancer. The purpose of this study was to determine differences in CEA serum levels based on the cellular differentiation of colorectal cancer. This was a cross-sectional analytical study on medical records of colorectal cancer patients who were admitted to H. Adam Malik General Hospital Medan, Indonesia from January 2016 to December 2018. As many as 52 medical records of colorectal cancer patients who met the inclusion and exclusion criteria were included in this study. These patients were then divided into three groups based on the histopathological grade: well-differentiated, moderately differentiated, and poorly-differentiated. The Kruskal-Wallis test was then used to compare the CEA levels in these different histopathological grades. Results show that the CEA serum level was different in colorectal cancer patients with different histopathological grades (p=0.020). The CEA level was significantly higher in the poorly-differentiated group than the well-differentiated (p=0.044) and moderately differentiated (p=0.015) groups. Hence, the CEA level of colorectal cancer patients with poorly-differentiated grade is the highest when compared to other grades. Perbandingan Kadar Serum Carcinoembryonic Antigen Berdasar atas Derajat Histopatologi Pada Pasien Kanker Kolorektal Derajat diferensiasi dapat dijadikan sebagai salah satu faktor prognosis pada kanker kolorektal. Namun, penilaian ini tidak dapat menyajikan gambaran klinis penyakit secara komprehensif. Penanda tumor carcinoembryonic antigen (CEA) sebagai penanda tumor yang diuji di laboratorium, umumnya digunakan untuk menentukan diagnosis dan prognosis kanker kolorektal. Tujuan dari penelitian ini adalah menentukan perbedaan kadar serum CEA berdasar atas diferensiasi sel kanker kolorektal. Penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan desain bedah lintang dengan menggunakan data rekam medis pasien yang didiagnosis kanker kolorektal di Rumah Sakit Umum Pusat H. Adam Malik, Medan periode Januari 2016 hingga Desember 2018. Sebanyak 52 catatan medis pasien kanker kolorektal yang memenuhi inklusi dan kriteria eksklusi dimasukkan dalam penelitian ini. Derajat diferensiasi dikelompokkan menjadi tiga: derajat baik, sedang, dan buruk. Uji Kruskal-Wallis digunakan untuk membandingkan kadar CEA berdasar atas derajat diferensiasi. Hasil menunjukkan bahwa kadar serum CEA berbeda pada pasien kanker kolorektal dengan nilai histopatologis yang berbeda (p=0,020). Tingkat CEA secara signifikan lebih tinggi pada kelompok berdiferensiasi buruk daripada kelompok berdiferensiasi baik (p=0,044) dan kelompok berdiferensiasi sedang (p=0,015). Oleh karena itu, tingkat CEA pasien kanker kolorektal dengan derajat diferensiasi buruk adalah yang tertinggi jika dibandingkan dengan tingkat lainnya.
Performance of Xpert® MTB/RIF in detecting Multidrug-Resistance Tuberculosis in West Java, Indonesia Andriyoko, Basti; Mega, Gde Sindu; Parwati, Ida; Sahiratmadja, Edhyana
Majalah Kedokteran Bandung Vol 52, No 2 (2020)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (213.27 KB) | DOI: 10.15395/mkb.v52n2.1966

Abstract

Indonesia is the 2nd country with the highest tuberculosis (TB) caseload in the world. Inappropriate TB treatment may lead to multidrug-resistance tuberculosis (MDR-TB) development. TB rapid detection is important, and very much needed, to prevent transmission and deaths due to this disease. The Xpert® MTB/RIF is proposed to address this problem. This study aimed to assess the performance of the Xpert® MTB/RIF test in West Java, Indonesia. This was a cross-sectional study conducted on MDR-TB suspects referred to Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung, West Java, Indonesia, using data from the eTB Manager. The performance of Xpert® MTB/RIF testing and its validity was tested against conventional drug susceptibility testing (DST). In total, data from 4,452 MDR-TB suspects were retrieved but only 578 data that had both DST and Xpert® MTB/RIF results were included in the study. The Xpert® MTB/RIF showed a sensitivity of 88% (95%CI: 85%-91%), specificity of 66% (95%CI: 60%-72%), positive predictive value of 79% (95%CI: 75%-83%), and negative predictive value of 80% (95%CI: 74%-85%), with a detection accuracy of 79%. Xpert® MTB/RIF test in this study shows a good performance for the diagnosis of MDR-TB when compared to the Mycobacterium tuberculosis culture as the gold standard. Therefore, rapid Xpert® MTB/RIF examination is recommended for MDR-TB screening for countries with a high TB burden as a complementary tool to the reference standard test. Performa Xpert® MTB/RIF Dalam Mendeteksi Tuberculosis Resisten Obat di Jawa Barat, IndonesiaIndonesia adalah negara ke-2 dengan jumlah kasus tuberkulosis (TB) tertinggi di dunia. Pengobatan TB yang tidak sesuai dapat mengakibatkan kuman TB menjadi resisten terhadap obat TB yang disebut TB multidrug-resistances (TB-MDR). Untuk itu diperlukan alat deteksi yang mumpuni sehingga kuman TB-DR dapat segera didiagnosis dan diberikan pengobatan yang tepat; dengan demikian pencegahan dan kematian akibat TB dapat ditekan. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur performa mesin Xpert® MTB/RIF dalam mendeteksi kuman TB-MDR di Jawa Barat, Indonesia. Studi potong lintang dilakukan dengan mengambil data dari 4452 pasien terduga TB-MDR yang terregistrasi di eTB Manager selama tahun 2012-2016 yang dikirim ke Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung. Walaupun demikian, hanya 578 yang memiliki hasil test kultur untuk mengetahui sensitivitas obat TB. Dari kedua test tersebut, didapatkan Xpert® MTB/RIF memiliki sensitivitas 88% (95% IK: 85%-91%), spesifisitas 66% (95%CI: 60%-72%), positive predictive value 79% (95% IK: 75%-83%), dan negative predictive value 80% (95% IK: 74%-85%), dengan akurasi 79%. Test TB-MDR menggunakan Xpert® MTB/RIF pada penelitian ini menunjukkan performa yang baik, sehingga test ini sangat direkomendasikan untuk deteksi TB-MDR yang cepat, utamanya di daerah dengan prevalensi TB yang tinggi.
Comparison of Antibacterial Efficacy between 96% Ethanolic Extracts from Abrus precatorius L. and Piper betle L. Leaves against Escherichia coli Saraswati, Felicia; Angelina, Yohanna; Kurniawan, Sandy Vitria
Majalah Kedokteran Bandung Vol 52, No 2 (2020)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (622.01 KB) | DOI: 10.15395/mkb.v51n2.1970

Abstract

Escherichia coli (E.coli) is a frequently found infectious pathogen commonly transmitted through water. In Indonesia, the level of this pathogen exceeds the accepted standard. Several studies have shown the presence of antibiotic-resistant E.coli, making studies on alternative treatments for E.coli necessary. Abrus precatorius L. and Piper betle L. leaves are among herbs that have herbal antibacterial properties. This study observed and compared the antibacterial effects of Abrus precatorius L. and Piper betle L. leaves against E.coli. This was an in vitro experimental study performed at the Laboratory of the Department of Microbiology, Faculty of Medicine and Health Science, Atma Jaya Catholic University, from August to November 2019. Abrus precatorius L. and Piper betle L. leaves were extracted by maceration in 96% Ethanol, and further processed into concentrations of 10%, 20%, 30%, 40%, 50%, 60%, 70%, 80%, 90%, and 100%. Disc-diffusion on Mueller-Hinton Agar was used to identify the inhibition zones of the extracts against E.coli ATCC 25922. Ciprofloxacin disc and 96% ethanol impregnated-discs were used as positive and negative controls, respectively. Independent t-test results showed a significant difference between Abrus precatorius L. and Piper betle L. leaves effects against E.coli with p=0.044 and p=0.045 (p<0.05), respectively. In conclusion, Abrus precatorius L. and Piper betle L. leaves have antibacterial effects against E.coli ATCC 25922, albeit less sensitivity than Ciprofloxacin, with Piper betle L. presents a greater effect than Abrus precatorius L.Perbandingan Efektivitas Antibakteri Ekstrak Etanol 96% Daun Abrus precatorius L. dan Daun Piper betle L. Terhadap Escherichia coliEscherichia coli (E.coli) adalah patogen infeksius yang sering ditemukan dan ditularkan melalui air. Di Indonesia, tingkat patogen ini melebihi standar yang diterima. Beberapa penelitian telah menunjukkan ada E.coli yang kebal antibiotik, membuat penelitian tentang pengobatan alternatif untuk E.coli diperlukan. Daun Abrus precatorius L. dan Piper betle L. berpotensi sebagai pengobatan herbal antibakteri. Penelitian ini bertujuan melihat dan membandingkan efek antimikroba kedua daun tersebut terhadap E.coli. Penelitian eksperimental in vitro ini dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Atma Jaya mulai dari Agustus sampai November 2019. Daun  Abrus precatorius L. dan Piper betle L.  dimaserasi menggunakan etanol 96%, lalu dibentuk konsentrasi 10%, 20%, 30%, 40%, 50%, 60%, 70%, 80%, 90%, dan 100%. Difusi cakram pada agar Mueller-Hinton dilakukan untuk menguji zona hambat kedua ekstrak terhadap bakteri E.coli ATCC 25922. Cakram ciprofloksasin merupakan kontrol positif, dan kontrol negatif adalah cakram yang direndam etanol 96%. Hasil uji independent t-test didapatkan perbedaan bermakna antara efektivitas ekstrak kedua daun terhadap E.coli, yaitu daun Abrus precatorius L. p=0.044 dan daun Piper betle L. p=0.045 (p<0.05). Simpulan, daun  Abrus precatorius L. dan Piper betle L. memiliki efek antibakteri terhadap E.coli ATCC 25922 walaupun tidak lebih sensitif dari Ciprofloksasin dengan Piper betle L. memiliki efek yang lebih besar dibanding dengan Abrus precatorius L.
Histopathological Effects of Omega-3 in Reducing Cartilage Destruction Progression in Mice with Knee Joint Osteoarthritis Farry, Farry; Ismiarto, Yoyos Dias; Chaidir, M. Rizal; Ismono, Darmadji
Majalah Kedokteran Bandung Vol 52, No 2 (2020)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (435.669 KB) | DOI: 10.15395/mkb.v52n2.1784

Abstract

rimary and secondary osteoarthritis relates to inflammatory processes and inflammatory mediators and is destructive to the articular cartilage. Omega-3 is known to be an alternative treatment for rheumatoid arthritis due to the anti-inflammatory effect. This study is an experimental study with simple random sampling using 36 Wistar mice, which were divided into an intervention group and a control group, to understand the effect of omega-3 in slowing progress cartilage destruction in knee joint with osteoarthritis. This study is performed at the Clinical Pharmacology Laboratory, Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran, and the Anatomical Pathology Laboratory, Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran/Dr. Hasan Sadikin General Hospital, in November 2018. Osteoarthritis was induced using intraarticular 1 mg monosodium iodoacetate injection to the mouse knee joint. The intervention group received oral omega-3 every day while the control group did not. Samples from the knee joint were extracted to evaluate the cartilage destruction histopathologically. Results were then analyzed using the Mann-Whitney test and a significant difference of the osteoarthritis grades was identified between the intervention group and the control group on day 7 (p=0.003), day 14 (p=0.003), and day 21 (p=0.003). In addition, a significant difference in the osteoarthritis grading changes was also found between the study group and the control group on day 7 and day 21 (p=0.004). Hence, omega-3 has the ability to slow down the histopathological cartilage destruction progress in mice with knee joint osteoarthritis.Efek Pemberian Omega-3 terhadap Perlambatan Progresivitas Destruksi Kartilago Sendi Lutut Tikus yang Mengalami Osteoartritis Secara HistopatologisOsteoartritis primer dan sekunder berhubungan dengan proses inflamasi dan mediator inflamasi dan merusak tulang rawan artikular. Omega-3 dikenal sebagai pengobatan alternatif untuk rheumatoid arthritis karena efek anti-inflamasi. Penelitian ini adalah penelitian eksperimental dengan pengambilan sampel acak sederhana menggunakan 36 tikus Wistar, yang dibagi menjadi kelompok intervensi dan kelompok kontrol, untuk memahami efek omega-3 dalam memperlambat perkembangan kerusakan tulang rawan pada sendi lutut dengan osteoarthritis. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Farmakologi Klinik, Fakultas Kedokteran, Universitas Padjadjaran, dan Laboratorium Patologi Anatomi, Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran/Dr. Rumah Sakit Umum Hasan Sadikin Bandung, pada November 2018. Seluruh hewan uji dilakukan induksi osteoartritis dengan monosodium iodoasetat sebanyak 1 mg yang disuntikkan ke dalam sendi lutut. Kelompok perlakuan diberikan omega-3 1 kali per hari per oral, sedangkan kelompok kontrol tidak diberikan omega-3. Sampel jaringan sendi lutut diambil dan dilakukan penilaian destruksi kartilago secara histopatologis. Hasil kemudian dianalisis dengan menggunakan uji Mann-Whitney dan perbedaan yang signifikan dari nilai osteoartritis diidentifikasi antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol pada hari 7 (p=0,003), hari 14 (p=0,003), dan hari 21 (p=0,003). Selain itu, perbedaan yang signifikan dalam perubahan penilaian osteoarthritis juga ditemukan antara kelompok studi dan kelompok kontrol pada hari ke 7 dan hari ke 21 (p=0,004). Oleh karena itu, omega-3 memiliki kemampuan untuk memperlambat progres destruksi tulang rawan histopatologis pada tikus dengan osteoartritis sendi lutut. 

Page 1 of 1 | Total Record : 10