cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
ISSN : 08539987     EISSN : 23383445     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Media Health Research and Development ( Media of Health Research and Development ) is one of the journals published by the Agency for Health Research and Development ( National Institute of Health Research and Development ) , Ministry of Health of the Republic of Indonesia. This journal article is a form of research results , research reports and assessments / reviews related to the efforts of health in Indonesia . Media Research and Development of Health published 4 times a year and has been accredited Indonesian Institute of Sciences ( LIPI ) by Decree No. 396/AU2/P2MI/04/2012 . This journal was first published in March 1991.
Arjuna Subject : -
Articles 289 Documents
INFEKSI Schistosoma japonicum PADA HOSPES RESERVOIR TIKUS DI DATARAN TINGGI NAPU, KABUPATEN POSO, SULAWESI TENGAH TAHUN 2012
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 23, No 3 Sep (2013)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (510.085 KB)

Abstract

Abstrak Tikus merupakan salah satu mamalia yang dapat menjadi sumber penularan di daerah endemis schistosomiasis. Telah dilakukan penangkapan tikus dengan perangkap di 22 daerah fokus keong yang tersebar di 6 desa di Dataran Tinggi Napu, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah untuk mengetahui tingkat infeksi Schistosoma japonicum pada tikus. Hasilnya menunjukkan bahwa tingkat infeksi pada tikus sebesar 22,7% (5/22), dimana tingkat infeksi pada Rattus norvegicus lebih tinggi dibandingkan dengan Rattus exulans. Uji statistik dengan Fisher exact menunjukkan bahwa ada hubungan antara spesies tikus dengan infeksi cacing Schistosoma japonicum (P = 0, 039). Pengendalian tikus sangat sulit dilakukan sehingga diperlukan kerja sama lintas sektor antara Kementerian Kesehatan, Pertanian, Kehutanan dan Taman Nasional Lore Lindu. Kata kunci: Schistosoma japonicum, tikus, Dataran Tinggi Napu Abstract Rat is one of the mammals that can be the source of transmission in endemic areas schistosomiasis. Rat collection was done by using trap in 22 foci that spread in 6 villages in Napu Highland, Poso District Central Sulawesi. This study was done to investigate the infection rate of Schistosoma japonicum in rats. The result showed that infection rate of Schistosoma japonicum in rats was 22.7% (5/22). The infection rate in Rattus norvergicus was higher then in Rattus exulans. Fisher exact test showed that there is a relationship between species of rats and  schistosomiasis infection (P=0.039). To control rat’s population is difficult, therefore to control the disease inter sectoral cooperation Ministry of Health, Agriculture, Foresty, and Lore Lindu National Park is needed. Key words: Schistosoma japonicum, rat, Napu Highland
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PERILAKU MASYARAKAT DALAM MENCEGAH PENULARAN SCHISTOSOMIASIS DI DUA DESA DI DATARAN TINGGI NAPU KAPUPATEN POSO, SULAWESI TENGAH TAHUN 2010
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 23, No 3 (2013)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (400.453 KB) | DOI: 10.22435/mpk.v23i3.3282.130-136

Abstract

Abstrak Pemberantasan penyakit schistosomiasis sudah dilaksanakan sejak tahun 1974, namun sampai dengan tahun 2010 prevalensi penyakit ini masih tinggi yaitu sebesar 4,78%, dan akan mengalami peningkatan apabila tidak dilaksanakan kegiatan pemberantasan. Keberhasilan program pemberantasan terhadap suatu penyakit sangat tergantung dari partisipasi/perilaku masyarakat dalam mendukung program tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran perilaku masyarakat di Desa Mekarsari dan Desa Dodolo dalam mencegah penularan schistosomiasis dan mengetahui hubungan antara tingkat pendidikan, pekerjaan dan pengetahuan dengan perilaku masyarakat dalam pencegahan schistosomiasis. Penelitian dilaksanakan di Desa Mekarsari dan Dodolo selama enam bulan dari bulan Juni – November 2010. Desain penelitian yaitu cross sectional study. Sampel dalam penelitian ini adalah kepala keluarga atau yang mewakili yang berusia diatas 15 tahun, yang terpilih secara acak pada waktu pengambilan sampel. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara menggunakan kuesioner yang terstruktur dan observasi lapangan. Analisis data dilakukan dengan menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat di Desa Mekarsari dan Desa Dodolo sebagian besar memiliki perilaku yang kurang dalam mencegah penularan schistosomiasis. Dari ketiga faktor yang diteliti, yang berhubungan dengan perilaku masyarakat dalam mencegah penularan schistosomiasis adalah pekerjaan (p=0,013). Oleh karena itu, upaya pencegahan schistosomiasis perlu diinformasikan pada semua masyarakat tanpa melihat jenis pekerjaan, tingkat pendidikan dan tingkat pengetahuan yang mereka miliki. Selain itu peningkatan perilaku tidak semata-mata karena tingkat pengetahuan yang tinggi, karena itu perlu juga mempelajari faktor-faktor lain yang dapat berpengaruh pada perilaku seperti faktor lingkungan, tingkat sosial ekonomi, budaya dan kebiasaan setempat. Kata kunci : Pengetahuan, Perilaku, Schistosomiasis, Dataran Tinggi Napu Abstract Schistosomiasis control programs have been done since 1974. However, the prevalence of schistosomiasis is still high with 4.78% in 2010 and it will continuosly increase if the control programs are not conducted. The success of a disease control programs depends on the participation/behavior of the community in supporting the program. The aim of this study was to describe the community behavior to prevent the transmission of schistosomiasis and to identify the relationship between educational level, occupation, knowledge, and community behavior in prevention of schistosomiasis. This study was carried out in Mekarsari and Dodolo villages from June to November 2010. The sample of this cross-sectional study was the head of household that randomly selected from the population. Data were collected through interview with structured questionnaire and field observation. The results showed that most of the people in Mekarsari and Dodolo did not have adequate behavior in schistosomiasis prevention. From all variables, only occupation was found related to schistosomiasis (p=0.013). Therefore, schistosomiasis prevention programs need to be informed to all people, from all occupation, educational level, and knowledge level. As good behavior not only depends on knowledge, other factors that related to behavior, such as environment, social-economy, and culture need to be studied. Key words: knowledge, behaviour, schistosomiasis, Napu highland
FAKTOR RISIKO TUMOR/KANKER RONGGA MULUT DAN TENGGOROKAN DI INDONESIA (Analisis Riskesdas 2007)
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 23, No 3 Sep (2013)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (376.285 KB)

Abstract

Abstrak Latar belakang: Tumor/kanker rongga mulut ditemukan sekitar 2-5% dari seluruh keganasan. Angka kematiannya 2-3% dari seluruh kematian akibat keganasan. Tujuan: penelitian ini adalah untuk mengetahui prevalensi serta faktor-faktor yang mempengaruhi tumor/kanker rongga mulut dan tenggorokan di Indonesia. Metode: Desain penelitian ini adalah kasus kontrol. Data diambil dari data individu Riset Kesehatan Dasar 2007. Kasus adalah semua responden yang menderita tumor/kanker rongga mulut dan tenggorokan. Kontrol adalah responden yang tidak menderita tumor/kanker pada anggota tubuh lain. Perbandingan kasus dan kontrol adalah 1 : 4 yang dipadankan dengan kabupaten kasus. Hasil: Terdapat 203 kasus tumor/kanker rongga mulut dan tenggorokan (prevalensi 0,2‰), kontrol diambil sebanyak 802 orang. Jumlah kasus terbanyak terdapat di Provinsi Jawa Tengah. Ada 5 provinsi yang tidak ditemukan adanya kasus yaitu Provinsi Jambi, Sulawesi Barat, Maluku Utara, Papua Barat dan Papua. Ditemukan OR suaian kelompok umur 11-20 tahun sebesar 2,5 dengan 95% CI 1,3-4,9 dibanding dengan umur 60 tahun atau lebih. Merokok/menyirih mempunyai OR suaian 1,6 dengan 95% CI 1,1-2,3 dibanding yang tidak merokok. Kebersihan mulut kurang mempunyai OR suaian 2,3 dengan 95% CI 1,4-3,9 dibanding dengan kebersihan mulut baik. Kesimpulan: Ditemukan hubungan yang bermakna antara umur, merokok/menyirih dan kebersihan mulut dengan tumor/kanker rongga mulut dan tenggorokan. Kata kunci: prevalensi, tumor/kanker, rongga mulut dan tenggorokan, Riskesdas 2007 Abstract Background: Globally, oral cancer is counted about 2-5% from all malignancies. The death rate of the disease is about 2-3% from all cancer related mortalities. Objective: The aim of this study was to estimate prevalence and risk factors of nasopharyngeal cancer (NPC) in Indonesia. Method: Study design was case control. Data was retrieved from individual data of Indonesia Basic Health Research 2007. Cases were all respondents who suffered NPC. Controls were all respondents who did not suffer the disease. The proportion ratio between cases and controls was 1 : 4, and they were matched based on their regency (kabupaten). Result: There were 203 cases of NPC (prevalence was 0.2‰), and 802 controls were retrieved from the study population. The majority of NPC cases were found in Central Java Province. There were five provinces where none of cases was found; these provinces were: Jambi, West Sulawesi, North Maluku, West Papua and Papua. The adjusted OR of NPC for respondents aged 60 years or older was 2.5 (95% CI 1.3-4.9) higher than those aged 11-20 years. Smoking and betel nut chewing (menyirih) have an adjusted OR of NPC as much as 1.6 (95% CI 1.1-2.3) when never smoker became the reference class. And the adjusted OR of NPC for respondents with poor oral hygiene was 2.3 (95% CI 1.4-3.9) when respondents with good oral hygiene became the reference class. Conclussion: There was paralel and significant association between age, smoking and oral hygiene with NPC. Keywords: prevalence, cancer, oral and naso-pharyngeal. Basic Health Research 2007
FAKTOR LANGSUNG DAN TIDAK LANGSUNG YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN WASTING PADA ANAK UMUR 6 – 59 BULAN DI INDONESIA TAHUN 2010
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 23, No 3 Sep (2013)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (380.077 KB)

Abstract

Abstrak Hasil Riset Kesehatan Dasar menunjukkan prevalensi wasting pada anak di bawah umur lima tahun (balita) tidak mengalami penurunan yang berarti, yaitu dari 13,6 persen pada tahun 2007 menjadi 13,3 persen pada tahun 2010. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor langsung dan tidak langsung yang berhubungan dengan kejadian wasting pada anak umur 6 – 59 bulan di Indonesia tahun 2010. Desain penelitian ialah kroseksional dengan sampel sebanyak 9897 anak balita responden Riset Kesehatan Dasar 2010. Variabel dependen pada penelitian ini ialah status wasting anak dan variabel independennya ialah variabel faktor langsung (asupan energi, karbohidrat, lemak, protein, pola menyusui, dan penyakit malaria), faktor tidak langsung dan karakteristik anak (pendidikan bapak, pendidikan ibu, pekerjaan bapak, pekerjaan ibu, persentase pengeluaran pangan terhadap pengeluaran total, status imunisasi, kondisi rumah, umur dan jenis kelamin). Odds Ratio dan 95% Confident Interval dihitung dengan menggunakan analisis regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan faktor langsung dominan yang berhubungan dengan kejadian wasting pada kelompok anak umur 24 – 59 bulan ialah asupan karbohidrat dengan OR (95% CI): 1,29 (1,14 – 1,47). Faktor tidak langsung yang paling dominan berhubungan dengan kejadian wasting pada kelompok anak umur 6 – 59 bulan ialah  persentase pengeluaran pangan yang tinggi (≥ 70%) dengan OR (95% CI) sebesar: 1,32 (1,11 – 1,56) setelah dikontrol variabel umur dan pekerjaan ayah. Kata kunci : wasting, balita, faktor langsung, faktor tidak langsung Abstract Baseline Health Research showed that the prevalence of wasting among under five children in Indonesia has not significantly decline, from 13,6 percent in 2006 to 13,3 percent in 2010. The objective of this study was to determine the predictors of wasting among children age 6 – 59 months in Indonesia, 2010. This study was a cross sectional study with 9897 children age 6 – 59 months as samples taken from Baseline Health Research 2010 data. The dependent variable in this study was wasting status. The independent variable were direct factors (intake of energy, carbohydrates, fats, proteins, breastfeeding pattern, and malaria), indirect factors and child characteristics (mother’s education and occupation, father’s education and occupation, the percentage of food expenditure, immunization status, number of under five children in family, type of living places, house condition, child’s age, and sex). Odds Ratio and 95% Confident Intervals were calculated by logistic regression. Analysis showed that the insufficient intake of carbohydrate was the most related factor to wasting in children aged 24 – 59 months with OR (95%CI): 1,29 (1,14 – 1,47). The most related indirect factor to wasting in children aged 6 – 59 months was the percentage of food expenditure by total expenditure ≥70% with OR(95%CI): 1,32(1,11 – 1,56) adjusted by child’s age and father’s education. Keywords: wasting, under five children, direct factors, indirect factors
HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN DAN SIKAP PENGELOLA VAKSIN DENGAN SKOR PENGELOLAAN VAKSIN DI DAERAH KASUS DIFTERI DI JAWA TIMUR Pracoyo, Noer Endah; Jekti, Rabea P; Puspandari, Nelly; W, Dimas Bagus
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 23, No 3 Sep (2013)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (203.714 KB)

Abstract

Abstrak Provinsi Jawa Timur merupakan daerah endemis penyakit difteri dari tahun 2000 sampai- 2012. Setiap tahunnya selalu terjadi kenaikan kasus (KLB), meskipun angka cakupan imunisasi tinggi. Kasus banyak terjadi pada anak-anak baik yang sudah diimunisasi maupun yang belum diimunisasi dengan angka kematian cukup tinggi.Tujuan penelitian ini adalah menilai pengetahuan dan sikap petugas pengelola vaksin dalam mengelola vaksin di tempat pelayanan kesehatan di daerah Jawa Timur. Metode penelitian menggunakan desain potong lintang, yang dilakukan di 6 Kabupaten/kota di Jawa Timur, dengan lama penelitian 11 bulan dari Januari sampai November 2011. Variabel dependen adalah kualitas vaksin dan variabel independen adalah cara kerja pengelola vaksin dan skor pengelolaan vaksin. Hasil penelitian menemukan bahwa  pelatihan petugas dalam mengelola vaksin berpengaruh terhadap ketepatan dalam pengelolaan vaksin di tempat pelayanan kesehatan. Kata kunci : pengelolaan, vaksin , difteri. Abstract East Java Province is an area endemic diphtheria from 2000 to-2012., Every year is always an increase in cases (KLB), despite a high rate of immunization coverage.  Common cases in both children who have been immunized or not immunized  with mortality rate is quite high. The purpose of this study was to assess the knowledge and attitude of management personnel in managing vaccine vaccines in the health service in the area of East Java. The method used is a design study using cross-sectional design, which was done in the study in six districts / cities in East Java, with a long 11-month study period is the month of January to November 2011. The dependent variable is the quality of the vaccine used and the independent variable is how the Human Resources (HR) managers vaccines and vaccine observed score management. The results found that the training of administer vaccines officer was affecting  the accuracy in vaccine management in the health service. Keywords: management, vaccines, diphtheria.
3-ACETYL -2,5,7-TRIHYDROXY-1,4-NAPHTALENEDIONE, AN ANTIMICROBIAL METABOLITE FROM THE CULTURE OF ENDOPHYTIC FUNGUS COELOMYCETES TCBP4 FROM Tinospora crispa Praptiwi, Praptiwi; Jamal, Yuliasri; Fathoni, Ahmad; Nurkanto, Arif; Agusta, Andria
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 23, No 3 Sep (2013)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (312.471 KB)

Abstract

Abstract Isolation, identification and testing of antimicrobial activity of secondary metabolites of endophytic fungal culture TCBP4 isolated from bratawali (Tinospora crispa) has been performed. The fungus TCBP4 was cultivated in Potato Dextrose Broth (PDB) for 1 month, media and fungi extracted with ethyl acetate. The extract was separated and purified by several chromatographic techniques, from which 9 fractions were obtained. Fraction 3e was purified again and was obtained 6 fractions (3e1-3e6). Fractions 3e3-3e6 were tested against bacteria isolates Staphylococcus aureus Bacillus subtilis,Eschericia coli and yeast isolate Candida albicans by microdillution method. Antimicrobial activity test result showed that fractions 3e3-3e5 had better antibacterial activity compared to chloramphenicol as commercial antibiotic. It was indicated by MIC value of the fractions was lower (8 ug/ml) compared with the antibiotic chloramphenicol (16 ug/ml). Fraction 3e3 had better antifungal activity compared to commercial antifungal nystatin and cabisidin against C. albicans. GC-MS analysis showed that the chemical constituent of 3e5 fraction was identified as 3-acetyl -2,5,7-trihydroxy-1,4-naphtalenedione . Key words : Tinospora crispa, endophytic fungi, isolation, identification, antimicrobial Abstrak Isolasi, identifikasi dan uji aktivitas antimikrobia terhadap metabolit sekunder dari kultur jamur endofit TCBP4 yang diisolasi dari tumbuhan bratawali (Tinospora crispa). Jamur endofit TCBP4 dikultivasi pada media Potato Dextrose Broth (PDB) selama 1 bulan, selanjutnya media dan jamur diekstrak dengan pelarut etil asetat. Ekstrak dipisahkan dan dimurnikan dengan beberapa teknik kromatografi sehingga diperoleh 9 fraksi. Fraksi 3e dimurnikan kembali dan diperoleh 6 fraksi (3e1-3e6). Fraksi 3e3-3e6 diuji aktivitas antibakterinya terhadap beberapa isolate bakteri Staphylo-coccus aureus Bacillus subtilis, Eschericia coli dan isolate khamir Candida albicans dengan metode mikrodilusi. Hasil uji antimikrobia menunjukkan bahwa fraksi 3e3-3e5 mempunyai aktivitas antibakteri lebih baik bila dibandingkan dengan chloramfenikol, dimana nilai MIC dari fraksi (8 ug/ml) lebih rendah dari antibiotika chloramfenikol (16 ug/ml). Fraksi 3e3 mempunyai aktivitas antijamur lebih baik bila dibandingkan dengan antijamur komersial nistatin dan kabisidin terhadap  C. albicans. Analisis GC-MS menunjukkan bahwa komponen kimia dari fraksi 3e5 diidentifikasi sebagai 3-acetyl -2,5,7-trihydroxy-1,4-naphtalenedione . Kata kunci : Tinospora crispa, jamur endofit, isolasi, identifikasi, antimikrobia
KOMPETENSI VEKTORIAL Anopheles maculatus, Theobald di KECAMATAN KOKAP, KABUPATEN KULONPROGO Widyastuti, Umi; Boewono, Damar Tri; Widiarti, Widiarti; Supargiyono, Supargiyono; Satoto, Tri Baskoro T.
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 23, No 2 Jun (2013)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (477.131 KB)

Abstract

Abstrak Malaria masih merupakan masalah kesehatan di Kabupaten Kulonprogo, khususnya di Kecamatan Kokap. Dalam dua tahun terakhir menunjukkan bahwa pada tahun 2009, 1 dari 5 desa di Kecamatan Kokap sebagai daerah malaria dengan statifikasi Insidensi Kasus Rendah (Low Case Incidence/LCI). Pada tahun 2010 meningkat menjadi 3 desa, peningkatan kasus malaria di Kecamatan Kokap berkaitan dengan keberadaan nyamuk Anopheles yang berpotensi sebagai vektor. Beberapa spesies seperti An. maculatus, An. aconitus, dan An. balabacensis diduga sebagai vektor malaria potensial di daerah ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kompetensi vektorial An. maculatus yang terdiri dari: kerentanan nyamuk An. maculatus terhadap Plasmodium, sifat antropofilik, angka paritas, dan kepadatan nyamuk. Kerentanan nyamuk terhadap Plasmodium diukur dengan deteksi antigen protein sporozoit (Circum Sporozoite Protein/CSP) dari P. falciparum atau P. vivax pada dada-kepala dari semua nyamuk parous. Karakteristik antropofilik diukur dengan mendeteksi darah manusia pada perut nyamuk dengan kondisi penuh darah dan setengah gravid. Kedua deteksi tersebut dilakukan dengan teknik ELISA. Penelitian dilakukan pada bulan Mei sampai Oktober 2011 di dua desa yaitu: Tegiri dan Gunungrego, Kecamatan Kokap. Nyamuk ditangkap dengan menggunakan metode sesuai dengan pedoman WHO. Penangkapan dilakukan pada malam hari (18.00-06.00) terhadap nyamuk yang hinggap pada manusia di dalam rumah, di luar rumah, nyamuk yang istirahat baik di dalam rumah (dinding) maupun luar rumah (sekitar kandang ternak) dan penangkapan pada pagi hari (06.00-08.00). Kepadatan An. maculatus dihitung dan paritas nyamuk ditentukan dengan pembedahan ovarium secara mikroskopis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa An. maculatus di Gunungrego rentan terhadap P. vivax dengan angka sporozoit 3,57%. Namun, CSP antigen P. vivax tidak terdeteksi pada dada-kepala nyamuk An. maculatus dari Tegiri. Antigen CSP P. falciparum negatif pada dada-kepala nyamuk An. maculatus dari Gunungrego dan Tegiri. Proporsi An. maculatus yang mengisap darah manusia (Human Blood Index / HBI) adalah 40,00% di Tegiri dan 33,33% di Gunungrego. Angka paritas dan kepadatan An. maculatus lebih tinggi ditemukan di Tegiri daripada di Gunungrego. Kata Kunci: malaria, ELISA sporozoit, analisis pakan darah. Abstract Malaria is still a health problem in Kulonprogo Regency, particularly in the Kokap Subdistrict. In the last two years indicate that in 2009, 1 out of 5 villages in Kokap Subdistrict were considered as malarious areas with Low Case Incidence (LCI). In the year of 2010, it increased to 3 villages. The increase of malaria cases in Kokap Subdistrict was related to the presence of  Anopheline mosquitoes which serve as potential vector. Several species such as Anopheles maculatus, An. aconitus, and An. balabacensis are suspected as potential malaria vectors in this area.  The objective of this study was to determine the vectorial competence of An. maculatus consisting of:  the An. maculatus mosquitoes susceptibility to Plasmodia,  its anthropophilic characteristics, the parity rate, and the mosquito density. The susceptibility of mosquito to Plasmodia was measured by detection of sporozoite protein antigen (Circum Sporozoite Protein/ CSP) of P. falciparum or P. vivax on the head-thorax of all parous mosquitoes. The anthropophilic characteristics were measured by detection of human blood on the abdomen of blood fed and half gravid mosquitoes. Both of these were done by Enzyme Linked Immunosorbant Assay (ELISA) technique. The study was conducted from  May until October 2011 in two villages i.e: Tegiri and Gunungrego, Kokap Subdistrict. The Anopheline mosquitoes were collected using the landing and resting mosquito collection technique both indoors and outdoors, at night (18.00-06.00) as well as in the morning (06.00-08.00) according to the WHO guideline. The density of An. maculatus was calculated and its parity was determined by microscopic ovary dissection. The result showed that An. maculatus in Gunungrego was susceptible to P. vivax with a sporozoite rate of 3.57 %. However, CSP antigen of P. vivax was not detected in the head-thorax of mosquitoes from Tegiri. CSP antigen of  P. falciparum was negative in the head-thorax  of mosquitoes both from Gunungrego and Tegiri villages. The proportion of An. maculatus fed on human (Human Blood Index / HBI) was 40,00 % in Tegiri and 33,33 % in Gunungrego. The parity rate of An. maculatus and its density was found higher in Tegiri than  in Gunungrego. Keywords: malaria, sporozoite ELISA, blood meal analysis.
SERO SURVEI STATUS KEKEBALAN CAMPAK HASIL RISKESDAS 2007 Pracoyo, Noer Endah; Yekti, Rabea Pangerti; Roselinda, Roselinda
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 23, No 2 Jun (2013)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (307.094 KB)

Abstract

Abstrak Penyakit campak merupakan penyakit menular yang sering terjadi pada anak-anak. Kasus campak di Indonesia masih sering terjadi meskipun telah berhasil direduksi. Jumlah kasus tahun 1990 sebanyak 180.000 kasus menjadi sekitar 20.000 kasus pada tahun 2010. Upaya mengurangi terjadinya penularan penyakit campak telah dilakukan pemberian imunisasi secara rutin pada balita dan booster pada anak usia sekolah dasar. Telah dilakukan analisis hubungan antara kekebalan campak pada individu terpilih dengan faktor risiko penyebab terjadinya kekebalan campak pada  Riskesdas 2007. Tujuannya untuk menilai hubungan antara fator risiko dengan kekebalan campak pada individu terpilih hasil Riskesdas 2007. Metode mengikuti kerangka Riskesdas 2007. Analisis data dengan menggunakan perangkat lunak stata 9.00. Hasilnya risiko non protektif campak sebesar 68% pada individu yang berusia 10-14 tahun, dan risiko non protektif  sebesar 73% pada golongan ekonomi menengah ke bawah yakni pada golongan ekonomi tingkat 3 . Kata kunci: titer antibodi campak, individu terpilih, riskesdas 2007 Abstract Measles is a contagious disease that often occurs in children. Cases of measles in Indonesia are still common despite successfully reduced. The number of cases of 180,000 cases in 1990 to approximately 20,000 cases in 2010. Efforts to reduce disease transmission measles immunization has been carried out on a regular basis. In the toddler and booster at primary school age children. Analyzed the relationship  measles antibody titers in individuals with risk factors for selected causes immunity against measles in Riskesdas 2007. The aim is to assess the relationship between risk factor immunity against measles in selected individual in Riskesdas 2007. The method follows the framework of Riskesdas 2007. Analysis of the data using the software stata 9:00. The result, risk non protective measles by 68% in individuals aged 10-14 years, and non-protective risk by 73% in the middle and lower economic classes namely the economic group level 3. Keywords: measles antibody titers, the individual selected, Riskesdas 2007.
KAJIAN EPIDEMIOLOGIS PENYAKIT PARU OBSTRUKTIF KRONIK (PPOK) Oemiati, Ratih
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 23, No 2 Jun (2013)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (331.306 KB)

Abstract

Abstrak Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) sangat kurang dikenal di masyarakat. Di Amerika Serikat pada tahun 1991 diperkirakan terdapat 14 juta orang menderita PPOK, meningkat 41,5% dibandingkan tahun 1982, sedangkan mortalitas menduduki peringkat IV penyebab terbanyak yaitu 18,6 per 100.000 penduduk pada tahun 1991 dan angka kematian ini meningkat 32,9% dari tahun 1979 sampai 1991. WHO menyebutkan PPOK merupakan penyebab kematian keempat didunia yaitu akan menyebabkan kematian pada 2,75 juta orang atau setara dengan 4,8%. Selain itu WHO juga menyebutkan bahwa sekitar 80 juta orang akan menderita PPOK dan 3 juta meninggal karena PPOK pada tahun 2005. Kajian ini bertujuan untuk mengukur prevalensi PPOK, tingkat keparahan, serta untuk mengidentifikasi tipe PPOK, faktor risiko, morbiditas dan mortalitas, dampak PPOK dan biaya pengobatan. Penelitian ini merupakan review PPOK berdasarkan data kepustakaan dan jurnal dengan fokus penulisan PPOK, yang meliputi; gejala, klasifikasi, prevalensi, faktor risiko, morbiditas dan mortalitas, dampak PPOK, pengobatan dan biaya pengobatan PPOK. Berdasarkan kajian tipe PPOK ada dua yaitu bronchitis kronik dan emphysema. Di Asia Tenggara diperkirakan prevalensi PPOK sebesar 6,3% dengan prevalensi tertinggi ada di negara Vietnam (6,7%)dan RRC (6,5%). Faktor risiko antara lain merokok; polusi indoor, outdoor, dan polusi di tempat kerja; genetik; riwayat infeksi saluran napas berulang. Ada 4 indikator tingkat keparahan berdasarkan ATS (American Thoracic Society). Keterbatasan aktivitas pada pasien PPOK, penurunan berat badan, peningkatan risiko penyakit kardiovaskuler, osteoporosis dan depresi merupakan akibat PPOK.Dibutuhkan sekitar $ 18 miliar biaya langsung dan biaya tidak langsung sekitar $14.1 miliar dalam penanggulangan PPOK di Eropa. Kata Kunci: PPOK, faktor risiko, mortalitas Abstract Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD) was unknown diseases. It predicted 14 million COPD’s patient in 1991 in USA,in the other hand it raised to 41.5% compare with in 1982.Mortality rate have raised up 32.9% from 1979 to 1991. World Health Organization (WHO) assumed that COPD was in fourth ranks of cause of death in the world, would have 2.75 million mortality or equivalence with 4.8%. Otherwise WHO predicted 80 million people had COPD that 3 million among of them would be death in 2005. The aim of this study to measure COPD prevalenced, degree of severity, COPD types, risk factors, morbidity and mortality, impact of COPD and cost of health care in COPD. The data wasexplored of review COPD based on literature and journal that focused on type of COPD, risk factors, prevalence, morbidity and mortality, severe ranks, impact of COPD, medication and cost of PPOK medication.There were two types of COPD, i.e chronic bronchitis and emphysema. It was 6.3 % prevalence of COPD in South East Asian where maximum prevalences were in Vietnam (6.7%) and China (6.5%). The risk factors of COPD were smoking, indoor, outdoor and workplace pollution, genetic (ATT); repeated of infectious respiratory disease history.It was four indicators severe based on ATS (American Thoracic Society) standards. There were many impacts of COPD i.e; disability, decending of weight body, rising up of risk of cardiovascular disesase, osteoporosis and depression. It needed $ 18 billion to cover direct cost and $14.1 billion covered indirect cost, according to cope of COPDin Europe Key words: COPD, risk factors, mortality
CURRENT STATUS AND FUTURE CHALLENGES OF HEALTHCARE WASTE MANAGEMENT IN INDONESIA Irianti, Sri
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 23, No 2 Jun (2013)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (287.675 KB)

Abstract

Abstrak Latar belakang: Dalam memberikan pelayanan kesehatan, rumah sakit maupun sarana pelayanan kesehatan lainnya menghasilkan limbah medik yang mempunyai risiko menularkan penyakit-penyakit  tular darah dan penyakit lainnya  apabila tidak dikelola secara aman. Tujuan:Diperolehnya gambaran tentang kondisi dan praktik Pengelolaan Limbah Layanan Kesehatan (PLLK) di beberapa rumah sakit umum (RSU) di Indonesia, agar dapat digunakan oleh RSU dan sarana pelayanan kesehatan lainnya untuk melaksanakan PLLK secara aman. Bahan dan Cara: Kajian berupa survei dilakukan oleh Direktorat Penyehatan Lingkungan dengan cara mengirimkan kuesioner terstruktur di100 RSU pada tahun 2004. Hanya 76 RSU yang mengisi kuesioner. Lingkup survei meliputi aspek sanitasi RSU, di antaranya PLLK yang meliputi variabel ketersedian unit organisasi yang bertanggungjawab dalam PLLK, rencana pengelolaan limbah medik , ketersediaan pedoman PLLK, praktik pemilahan dan teknologi pengolahan limbah medik. Hasil: Sebagian besar RSU telah mempunyai unit yang bertanggungjawab dalam PLLK, namun hanya sekitar 33% yang mempunyai rencana PLLK. Demikian pula hanya sekitar 30% RSU yang memilah limbahnya menjadi tiga kategori sesuai pedomanPLLK, walaupun lebih dari 60% RSU telah mempunyai buku pedoman PLLK sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan No. 1204/2004. Insinerasi merupakan cara pemusnahan limbah yang dipilih oleh mayoritas RSU. Kesimpulan: Masih banyak RSU yang disurvei belum mengelola limbahnya sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan No. 1204/2004 seperti diamanatkan oleh Peraturan Pemerintah tentang Pengelolaan Limbah Berbahaya dan Beracun termasuk  limbah layanan kesehatan. Kata kunci: fasilitas kesehatan, pengelolaan limbah layanan kesehatan, kebijakan, risiko kesehatan Abstract Background: In providing healthcare services, hospitals and other healthcare facilities generate medical wastes which can spread blood-borne diseases and other waste diseases if they do not manage their medical wastes safely. Material and Method: Information presented in this paper is part of a survey of Environmental Health Directorate regarding hospital sanitation using a structured questionnaire mailed to 100 general hospitals in 2004. There were 76 hospitals participated in the survey by filling in the questionnaires and sending them back to the Environmental Health Directorate. Study variables include availability of sanitation unit responsible for Health Care Waste Management (HCWM), HCWM plans, HCWM guidelines, waste segregation practices, and HCWM technologies used. Result: Majority of hospitals had sanitation units; however, only about 30% hospitals had HCWM plans. Moreover, only about 33% hospitals segregated their wastes into three categories as recommended by HCWM guidelines, although more than 60% hospitals owned HCWM guidelines according to Health Ministerial Decree No. 1204/2004. Incineration is a preferred means of medical waste treatment technology. Conclusion: There were many surveyed hospitals did not comply with Ministerial Health Decree No.1204/2004 in terms of safe HCWM as mandated by Government Regulations No. 18 and 85/1999 concerning Hazardous Waste Management, including HCWM. Keywords: healthcare institution, healthcare waste, policy, health risk.

Page 1 of 29 | Total Record : 289