cover
Contact Name
Hayani Anastasia
Contact Email
jvektorpenyakit@gmail.com
Phone
+62811459507
Journal Mail Official
jvektorpenyakit@gmail.com
Editorial Address
Balai Litbangkes Donggala, Jl. Masitudju No.58, Labuan Panimba, Labuan, Kabupaten Donggala, Provinsi Sulawesi Tengah, 94252
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Vektor Penyakit
ISSN : 19783647     EISSN : 23548835     DOI : https://doi.org/10.22435/vektorp
Jurnal Vektor Penyakit is an open access, per-reviewed, online journal fully dedicated to publishing quality manuscript on all aspects on tropical diseases, i.e malaria, dengue, lymphatic filariasis, chikungunya, schistosomiasis, soil transmitted helminth, leptospirosis and others related to vector, reservoir and zoonotic diseases. Jurnal Vektor Penyakit also concerned to the pathology, epidemiology, prevention, health environment, treatment and control of the parasitic and infectious diseases, tropical diseases as well as public policy relevant to that group of diseases.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 45 Documents
DISTRIBUSI VEKTOR MALARIA ANOPHELES (DIPTERA: CULLICIDAE) DI KABUPATEN BULUKUMBA, INDONESIA Muftiah, Andi Tilka
Jurnal Vektor Penyakit Vol 12 No 1 (2018): Edisi Juni
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Donggala, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (148.634 KB) | DOI: 10.22435/vektorp.v12i1.225

Abstract

Abstract Anopheles is an eminent mosquito vector responsible for Plasmodium infection in human. By far, 430 anophelines have been identified but only 30-40 species have the potential to transmit malaria. A survey was carried to describe the distribution of anophelines species in seven community health centre (CHC) working areas including Caile, Ujung Loe, Bonto Bahari, Bonto Tiro, Batang, Bonto Bangun and Tanete in Bulukumba District, South Sulawesi. Human Landing Collection, Net Trap, and Light Trap was applied to collect adult anophelines mosquitoes. The Anopheles malaria vectors were observed in all areas. Various anophelines malaria vectors exist in Bulukumba District, including An. subpictus, An. barbirostris, An. hyrcanus, An. vagus, An. indefinitus, An. parangensis and An. kochi. Of which, Anopheles subpictus was the most abundant species and the majority of Anopheles mosquitoes were found in Ujung Loe area. Our study indicates that community-based programs and routine entomological surveillance, especially in high-risk areas, should be implemented to effectively control malaria transmission in Bulukumba District. Abstrak Malaria pada manusia ditularkan oleh nyamuk betina Anopheles yang berperan sebagai vektor yang membawa parasit Plasmodium. Terdapat sekitar 430 spesies Anopheles, 30-40 diantaranya berpotensi untuk menularkan malaria ke manusia. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan distribusi vektor Anopheles di Kabupaten Bulukumba melalui survei entomologi (observasional) dengan pendekatan deskriptif. Sampel penelitian adalah nyamuk Anopheles di tujuh wilayah kerja puskesmas, yakni Puskesmas Caile, Ujung Loe, Bonto Bahari, Bonto Tiro, Batang, Bonto Bangun dan Tanete. Penangkapan vektor Anopheles dilakukan dengan metode Human Landing Collection (HLC), Net Trap, dan Light Trap. Hasil penelitian menggambarkan distribusi vektor Anopheles yang tersebar di tujuh wilayah kerja puskesmas yakni An. subpictus, An. barbirostris, An. hyrcanus, An. vagus, An. indefinitus, An. parangensis dan An. kochi. Anopheles subpictus merupakan spesies yang paling banyak ditemukan, sedangkan wilayah kerja Puskesmas Ujung Loe merupakan lokasi yang paling banyak ditemukan vektor Anopheles. Variasi vektor Anopheles yang tersebar di wilayah Kabupaten Bulukumba hendaknya mendorong para pengambil kebijakan di tingkat dinas kesehatan dan puskesmas untuk menyusun program pengendalian malaria yang optimal dan sesuai, baik dari segi pemberdayaan masyarakat dan pelaksanaan survei entomologi secara berkala khususnya pada wilayah yang berisiko.
HUBUNGAN KARAKTERISTIK KONTAINER DENGAN KEBERADAAN JENTIK AEDES AEGYPTI PADA KEJADIAN LUAR BIASA DEMAM BERDARAH DENGUE : STUDI KASUS DI KABUPATEN OGAN KOMERING ULU Santoso, Santoso; Margarety, Indah; Taviv, Yulian; Wempi, I Gede; Mayasari, Rika; Marini, Marini
Jurnal Vektor Penyakit Vol 12 No 1 (2018): Edisi Juni
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Donggala, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (132.102 KB) | DOI: 10.22435/vektorp.v12i1.229

Abstract

Abstract Dengue hemorrhagic fever (DHF) is an infectious arboviral disease transmitted by Aedesmosquitoes. DHF is a public health importance in Indonesia which cause outbreaks inendemic areas. Dengue infection could be fatal if it is not immediately addressed. InJanuary 2016, the dengue outbreak occurred in the Sekarjaya community health center(CHC) working area, Ogan Komering Ulu district leading to one fatal case. A post-outbreakinvestigation was employed to observe the presence of the Aedes immature stage and tocharacterize their potential breeding sites. A total of 230 houses were inspected. A highlarval density was observed with free-larval index and house index (HI) was 54% and 46%,respectively. Of 876 containers were found; of which 181containers contained larva and 49containers with Aedes pupae. The container index (CI) and pupal index (PI) was 21% and6%, respectively. Aedes aegypti positive containers associated with the water source, type,color, the presence of predatory fish, the presence of cover and draining frequency. Aroutine larval survey needs to be conducted in public places around the residences. Abstrak Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh  virus dengue dan ditularkan oleh nyamuk sebagai vektor. Penyakit ini masih menjadimasalah kesehatan di Indonesia karena sering menimbulkan kejadian luar biasa (KLB)di beberapa daerah endemis. Penyakit ini dapat menimbulkan kematian dalam waktuyang singkat bila tidak segera ditangani. Kejadian luar biasa DBD telah terjadi di wilayahPuskesmas Sekarjaya, Kabupaten Ogan Komering Ulu dengan satu kasus kematian padabulan Januari 2016. Penelitian ini merupakan studi kasus dengan tujuan untukmengetahui indeks larva dan karakteristik kontainer yang berpotensi sebagai tempatperkembangbiakan nyamuk . Jumlah rumah yang diperiksa sebanyak 230 Aedes aegyptirumah. Hasil survei jentik mendapatkan angka kepadatan jentik termasuk dalamkepadatan tinggi. Hasil perhitungan indek larva mendapatkan Angka Bebas Jentik (ABJ)sebesar 54% sedangkan sebesar 46%. Jumlah kontainer yang house index (HI)ditemukan sebanyak 876 buah dengan jumlah kontainer positif jentik sebanyak 181dan kontainer dengan pupa sebanyak 49 buah kontainer. Hasil perhitunganmendapatkan nilai sebesar 21% dan sebesar 6%. container index (CI) pupa index (PI)Karaketeristik yang berhubungan dengan keberadaan jentik kontainer Aedes aegyptiadalah sumber air, jenis, warna, pemeliharaan ikan, keberadaan tutup dan pengurasankontainer. Perlu ditingkatkan kegiatan pemeriksaan jentik di tempat-tempat umum disekitar pemukiman.
EFEKTIVITAS BIOLARVASIDA EKSTRAK FRAKSI POLAR DAUN CITRUS HYSTRIX DAN CITRUS AURANTIFOLIA TERHADAP CULEX QUINQUEFASCIATUS Ansori, Arif Nur Muhammad; Adrianto, Hebert; Hamidah, Hamidah
Jurnal Vektor Penyakit Vol 12 No 1 (2018): Edisi Juni
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Donggala, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (92.374 KB) | DOI: 10.22435/vektorp.v12i1.261

Abstract

Abstract The development of resistance to chemical insecticides against mosquitoes has beenconsidered as a setback in vector control. This study was aimed to identify LethalConcentration 90% (LC90) of polar fraction extract from  Citrus hystrix and Citrusaurantifolia leaves as biolarvicide against mosquito larvae after 24 hours of exposure.This study was an experimental research based on a Completely Randomized Design(CRD). The polar fraction extract of C. hystrix and C. aurantifolia  were tested in concentrations of 0 ppm, 500 ppm, 1375 ppm, 2250 ppm, 3125 ppm, and 4000 ppm againstthe 3rd instar larvae of  Culex quinquefasciatus. Each treatment was done in five independent replications. The numbers of deceased mosquito larvae were determinedafter 24 hours of treatment and analyzed by probit. The results showed that the polarfraction extract of  C. hystrix and C. aurantifolia  have bio-larvicidal activity against the 3rdinstar larvae of Cx. quinquefasciatus at LC90 of 1,653 ppm and 2,797 ppm, respectively. In conclusion, the polar fraction extract of C. hystrix leaf is more toxic than C. aurantifolialeaf's against  Cx. quinquefasciatus larvae. Abstrak Perkembangan resistensi terhadap insektisida kimia di antara spesies nyamuk telahdianggap sebagai kemunduran dalam pengendalian vektor. Penelitian ini bertujuanuntuk mengetahui Lethal Concentration 90% (LC90 ) ekstrak fraksi polar daun  C. hystrix dan C. aurantifolia sebagai biolarvasida terhadap larva nyamuk setelah paparan 24 jam. Penelitian ini adalah penelitian eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL).Ekstrak fraksi polar daun C. hystrix dan C. aurantifolia  diuji dengan konsentrasi 0 ppm,500 ppm, 1.375 ppm, 2.250 ppm, 3.125 ppm, dan 4.000 ppm terhadap larva nyamuk Cx.quinquefasciatus instar III. Setiap konsentrasi dilakukan replikasi sebanyak lima kali.Jumlah larva nyamuk yang mati dihitung setelah 24 jam. Setelah itu, data dari larvanyamuk yang mati dianalisis menggunakan probit. Hasil penelitian ini mengungkapkanbahwa ekstrak fraksi polar daun C. hystrix dan C. aurantifolia memiliki aktivitas sebagai biolarvasida terhadap larva nyamuk Cx. quinquefasciatus instar III dengan LC 90= 1.653  ppm dan 2.797 ppm, secara berurutan. Kesimpulan dari penelitian ini adalah ekstrakfraksi polar dari daun C. hystrix lebih toksik dibandingkan dengan  C. aurantifoliaterhadap larva nyamuk instar III.  
KEPADATAN NYAMUK ANOPHELES SPP. DAN KORELASINYA TERHADAP FAKTOR-FAKTOR METEOROLOGI DI DESA SUNGAI NYAMUK, KABUPATEN NUNUKAN, KALIMANTAN UTARA Sugiarto, Sugiarto; Hadi, Upik Kesumawati; Soviana, Susi; Hakim, Lukman
Jurnal Vektor Penyakit Vol 12 No 1 (2018): Edisi Juni
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Donggala, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (807.653 KB) | DOI: 10.22435/vektorp.v12i1.274

Abstract

Abstract Correlation between Man Biting Rate (MBT) and meteorologist factors is important to anticipate malaria case fluctuation. The aim of this study was to analyze the correlation between Anopheles spp. density and meteorologist factors in Sungai Nyamuk Village, a malaria endemic area in North Kalimantan. The density of Anopheles spp. was obtained from human landing collection (HLC) from 6 p.m to 6 a.m. Pearson product-moment was used to analyze the correlation between MBR and meteorologist factors. The results showed that rainfall was related to MBR and Anopheles density was related to malaria  cases. However, temperature and humidity were not related to Anopheles density. Rainfall  can be used as an indicator in an early warning system to anticipate malaria case fluctuation. Abstrak Korelasi antara angka menggigit Anopheles  (man biting rate-MBR) dengan faktor-faktor  meteorologi sangat penting untuk mengantisipasi fluktuasi kejadian kasus malaria. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis korelasi kepadatan Anopheles spp. dengan faktor-faktor meteorologi di Desa Sungai Nyamuk, daerah endemis malaria di Kalimantan Utara. Kepadatan nyamuk Anopheles spp. didapatkan dari umpan orang (human landing collection-HLC) (pengamatan 18.00-06.00). Pearson Product Moment Test digunakan untuk menganalisis korelasi antara angka menggigit Anopheles (MBR) dengan faktor-faktor meteorologi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa curah hujan mempunyai hubungan bermakna dengan kepadatan (MBR), sedangkan kepadatan Anopheles mempunyai hubungan bermakna dengan kejadian kasus malaria. Suhu udara dan kelembaban tidak mempunyai hubungan bermakna dengan kepadatan Anopheles (MBR). Curah hujan dapat dijadikan sebagai salah satu indikator dalam penerapan sistem kewaspadaan dini untuk mengantisipasi fluktuasi kejadian kasus malaria.
POTENSI LARVASIDA DARI EKSTRAK DAUN JERUK BALI CITRUS MAXIMA TERHADAP DAN AEDES AEGYPTI DAN CULEX QUINQUEFASCIATUS Ardianto, Hebert; Anshori, Arif Nur Muhammad; Hamidah, Hamidah
Jurnal Vektor Penyakit Vol 12 No 1 (2018): Edisi Juni
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Donggala, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (90.235 KB) | DOI: 10.22435/vektorp.v12i1.280

Abstract

Abstract The used of chemical insecticides for mosquito control has caused resistance in themosquito populations. The aims of this study are to find out Lethal Concentration of non-polarextract from pomelo (Citrus maxima) leaf against mosquito larvae after 24 hoursexposure. Aedes aegypti and Culex quinquefasciatus larvae were tested in the study A.Larvicidal assay was using 20 larvae for each concentration in 100 ml solution with 5replications. The non-polar extract was tested at concentrations of 0 ppm, 500 ppm, 1375ppm, 2250 ppm, 3125 ppm, and 4000 ppm. The number of larvae mortality wasdetermined after 24 hours exposure. The dead larvae were counted and the data wasanalyzed using probit analyze. The results showed that non-polar extract from Citrusmaxima Leaf has potential larvicidal,  LC90 = 880 ppm for mortality of Aedes aegypti larvae, LC90 = 408  ppm for mortality of Culex quinquefasciatus larvae, the non-polar extract is more toxic against Culex quinquefasciatus than Aedes aegypti larvae. The non-polar extract from pomelo (Citrus maxima) leaf has the potential of being developed aslarvicides for mosquito control. Abstrak Penggunaan insektisida kimia untuk mengontrol nyamuk dapat menyebabkanresistensi pada populasi nyamuk. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menemukannilai Konsentrasi Letal (LC90 ) ekstrak non polar daun jeruk bali (Citrus maxima)  terhadap nyamuk setelah 24 jam. Larva yang digunakan dalam penelitian ini adalahlarva Aedes aegypti dan Culex quinquefasciatus. Kematian larva dihitung setelah 24 dan 48 jam.Uji larvasida menggunakan 20 ekor larva untuk setiap konsentrasi di dalam 100ml larutan ekstrak dengan lima replikasi. Ekstrak non polar diuji dengan konsentrasi 0ppm, 500 ppm, 1.375 ppm, 2.250 ppm, 3.125 ppm, dan 4.000 ppm. Angka kematianlarva dihitung setelah 24 jam paparan. Data dihitung dan dianalisa dengan analisisprobit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak non polar daun Citrus maximaberpotensi sebagai larvasida, Nilai LC90 = 880 ppm untuk kematian larva nyamuk  Aedesaegypti, Nilai LC90 = 408 ppm untuk kematian larva nyamuk Culex quinquefasciatus, Ekstrak non polar lebih toksik terhadap larva Culex quinquefasciatus daripada larva Aedes aegypti. Ekstrak  non polar dari daun Citrus maxima memiliki potensi untukdikembangkan sebagai larvasida untuk pengendalian nyamuk.
UJI EFEKTIFITAS EKSTRAK DAUN SIRIH (PIPER BETLE L) SEBAGAI LARVASIDA LARVA LALAT RUMAH (MUSCA DOMESTICA) Anisah, Anisah; Sukesi, Tri Wahyuni
Jurnal Vektor Penyakit Vol 12 No 1 (2018): Edisi Juni
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Donggala, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (383.522 KB) | DOI: 10.22435/vektorp.v12i1.283

Abstract

Abstract Musca domestica can be found easily in the residential area and can be controlled by usingbio-insecticide. Betle leaf contains tannins, terpenoids, flavonoids, and essential oils. Thepurpose of this study was to identify the effectiveness of Piper betle L as a larvicide against Musca domestica larvae. The experiment was a true experimental with a pre-test post-testwith control group design. Feeding assay method was used on 20 third instar larvae ofMusca domestica. Data were analyzed by using descriptive analysis, Kruskal Walls test,and probit analysis. The results showed the p-value for Levene test and Kruskal Walls testwere 0.028 and 0.014 respectively. Moreover, the LC50 was 0.05% and LT50 was 7.7 hours.There was a difference between negative control and all treatment concentrations. Itindicated that the betle leaf extract (Piper betle L) can be used as a bio-insecticide. Abstrak Lalat rumah (Musca domestica) sering terlihat di lingkungan rumah. Upaya yangdilakukan untuk pengendalian lalat rumah yaitu dengan penggunaan insektisida yangramah lingkungan seperti insektisida nabati. Daun sirih mengandung tanin, terpenoid,flavonoid dan minyak atsiri. Tujuan penelitian ini yaitu mengetahui efektivitas ekstrakdaun sirih (Piper betle L) sebagai larvasida larva lalat rumah (M. domestica). Jenis penelitian ini adalah true experimental dengan jenis disain  pretest posttest controlgroup. Objek penelitian ini menggunakan 20 ekor larva lalat instar III yang diberiperlakuan dengan metode feeding assay. Analisis data yang digunakan yaitu analisis deskriptif, analisis analitik dengan menggunakan uji Kruskal Walls, serta analisis probit. Penelitian ini dilakukan berdasarkan hasil uji normalitas dengan nilai p value0,002<0,05, pada uji Levene statistik nilai p value 0,028<0,05, uji Kruskal Walls nilai pvalue 0,014<0,05, dan uji Mann Whitney <0,05 pada kontrol negatif. Semua konsentrasiperlakuan, LC50 terletak pada konsentrasi 0,04827% dan LT50  pada 7,661 jam. Terdapat perbedaan antara kontrol negatif dengan semua konsentrasi perlakuan. Hal inimenunjukkan bahwa konsentrasi pada ekstrak daun sirih (P. betle L.) dapat digunakan sebagai insektisida nabati.  
KAJIAN PENGENDALIAN MALARIA DI PROVINSI SUMATERA UTARA DALAM UPAYA MENCAPAI ELIMINASI MALARIA Hakim, Lukman; Hadi, Upik Kesumawati; Sugiarto, Sugiarto
Jurnal Vektor Penyakit Vol 12 No 1 (2018): Edisi Juni
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Donggala, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (194.823 KB) | DOI: 10.22435/vektorp.v12i1.286

Abstract

Abstract North Sumatera province was the largest contributor to malaria positive cases for Sumatera island in 2016. This study aim was to analyze the malaria situation in North Sumatera, subsequently taken into consideration for the preparation of a strategic plan to achieve the elimination of malaria in the region. Malaria case data, figures on Slide Positivity Rate, Annual Parasite Incidence, and plasmodium species were derived fromthe entire districts and cities of the North Sumatera province. Data were collected from 2010 - 2016. The data were analyzed qualitatively or descriptively. The results showed the Annual Parasite Incidence in North Sumatera had tended to decline from 0.91 per 1000 population in 2010 to 0.27 per 1000 population in 2016. The results showed the number of Slide Positivity Rate increased from 8.80 % in 2010 to 17.06 % in 2013 but decreased to 8.71 % in 2016. Target elimination of malaria in North Sumatera (2020) can be achieved when the discovery of cases of malaria, such as the enhanced efforts in intensification and extension, followed by improvement of malaria case management and vector control. Abstrak Provinsi Sumatera Utara termasuk daerah malaria penyumbang terbanyak kasus positif malaria di Pulau Sumatera pada tahun 2016. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis situasi malaria di Provinsi Sumatera Utara, selanjutnya menjadi bahan pertimbangan untuk penyusunan rencana strategis dalam tercapainya eliminasi malaria di wilayah ini. Data kasus malaria, angka Slide Positivity Rate, angka Annual Parasite Incidence, jenis Plasmodium  dan lainnya diperoleh dari seluruh kabupaten/kota di Provinsi Sumatera Utara. Data dikumpulkan dari tahun 2010-2016. Analisis data dilakukan secara kualitatif atau descriptive analysis. Hasil penelitian menunjukkan saat ini angka Annual Parasite Incidence malaria di Provinsi SumateraUtara sudah cenderung menurun dari 0,91 per 1000 penduduk pada tahun 2010 menjadi 0,27 per 1000 penduduk pada tahun 2016. Namun, angka Slide Positivity Rate dari pada tahun 2010 mempunyai kecenderungan meningkat dari 8,80 % pada tahun 2010 meningkat terus sampai 17,06% pada tahun 2013, walaupun menurun lagi menjadi  8,71 % pada tahun 2016. Target eliminasi malaria di Sumatera Utara tahun 2020 dapat dicapai apabila penemuan kasus malaria, seperti upaya intensifikasi dan ekstensifikasi ditingkatkan, diikuti dengan perbaikan penatalaksanaan kasus, dan pengendalian vektor.    
PENGARUH PERBEDAAN EKOSISTEM DAN FAKTOR LINGKUNGAN TERHADAP KERAGAMAN JENIS KELELAWAR DI KABUPATEN TOJO UNA - UNA DAN TOLITOLI PROVINSI SULAWESI TENGAH Nurwidayati, Anis; Nurjana, Made Agus
Jurnal Vektor Penyakit Vol 12 No 2 (2018): Edisi Desember
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Donggala, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (188.091 KB) | DOI: 10.22435/vektorp.v12i2.291

Abstract

Abstract The bat species biodiversity varies across environments in six different ecosystems based on Vectora 2015 Research Report. These ecosystems were distant forests and near settlements, non forests near and far residential, as well as near and remote coastal settlements. We measured species diversity (Shannon-Wiener index), environmental factors were also measured during bat surveys, ie air temperature, humidity and weather during survey. This paper was a further analysis of Vectora 2015 Research Report. The analysis was aimed to determine the impact of environmental factors to the bat species diversity especially in Tojo Una-Una and Tolitoli District. We found that the temperature and humidity factors significantly affect the diversity of bat species. The highest species diversity found in the forest near settlement, that was 0,3396. Abstrak Data Riset Khusus Vektora tahun 2015 menunjukkan adanya keragaman spesieskelelawar di lokasi riset yang terdiri atas enam ekosistem yang berbeda. Ekosistemtersebut adalah hutan , non hutan jauh dan dekat pemukiman dekat dan jauhpemukiman, serta dekat dan jauh pemukiman pantai . Faktor lingkungan juga diukurpada saat dilakukan survei kelelawar, yaitu suhu udara, kelembaban dan cuaca saatpenangkapan. Tulisan ini merupakan hasil analisis lanjut Riset Khusus vektora tahun2015. Analisis dilakukan dengan tujuan untuk mengidentifikasi pengaruh ekosistemdan faktor lingkungan (suhu, kelembaban dan cuaca) terhadap keragaman jeniskelelawar di Kabupaten Tojo Una-Una dan Tolitoli Provinsi Sulawesi Tengah danperannya sebagai reservoir penyakit zoonosis. Hasil analisis menunjukkan bahwafaktor suhu dan kelembaban berpengaruh pada keragaman spesies kelelawar secarasignifikan.
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM PENGENDALIAN DEMAM BERDARAH DENGUE (LITERATURE REVIEW) Sukesi, Tri Yuni; Supriyati, Supriyati; Satoto, Tribaskoro Tunggul
Jurnal Vektor Penyakit Vol 12 No 2 (2018): Edisi Desember
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Donggala, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (250.928 KB) | DOI: 10.22435/vektorp.v12i2.294

Abstract

Abstract Dengue Haemorrhagic Fever (DHF) was still a public health problem that has been more than 20 years with various efforts. Community participation was great for reducing the incidence of DHF. Community empowerment will greatly assist the government in succeeding DHF preventive efforts so that DHF can be controlled. The method used in this study was a literature study that examines the various references closely related to community empowerment in the control of DHF diseases. References examined come from the results of research both from within or abroad, books and official reports issued within a period of not more than 10 years. The number of literature studied was 35 literatures.Community empowerment in the control of DHF was necessary because the government can not run alone in efforts to control DHF. All programs that were rolled out will be useless if the community was not involved in planning, monitoring and evaluation processes. This is because DHF was related to environmental problems in which humans were involved in creating an enabling environment for the spread of DHF Community empowerment in . DHF control was important to support the implementation and sustainability of DHF control program. Abstrak Demam Berdarah Dengue (DBD) masih merupakan masalah kesehatan masyarakatwalaupun sudah dikendalikan lebih dari 20 tahun dengan berbagai upaya. Peran sertamasyarakat sangat besar dalam upaya pengendalian sehingga pemberdayaanmasyarakat penting dilakukan untuk mengurangi kejadian penyakit DBD.Pemberdayaan masyarakat akan sangat membantu pemerintah dalam menyukseskanupaya preventif DBD sehingga DBD dapat dikendalikan. Metode yang digunakan dalamkajian ini adalah studi literatur yang mengkaji berbagai referensi yang erat kaitannyadengan pemberdayaan masyarakat dalam pengendalian penyakit DBD. Referensi yangdikaji berasal dari hasil penelitian baik dari dalam atau luar negeri, buku dan laporanresmi yang dikeluarkan dalam kurun waktu tidak lebih dari 10 tahun. Jumlah literatureyang dikaji sebanyak 35 literatur. Pemberdayaan masyarakat dalam pengendalian DBDdiperlukan karena pemerintah tidak bisa berjalan sendiri dalam upaya pengendalianDBD. Semua program yang digulirkan akan tidak berguna apabila masyarakat tidakdilibatkan dalam perencanaan, proses monitoring dan evaluasi. Hal ini disebabkankarena DBD berhubungan dengan masalah lingkungan dimana manusia terlibat dalammenciptakan lingkungan yang mendukung terhadap penyebaran penyakit DBD.Pemberdayaan masyarakat dalam pengendalian DBD penting untuk menunjangpelaksanaan dan keberlangsungan program pengendalian DBD.
INVENTARISASI RAGAM TUMBUHAN OBAT BERPOTENSI SEBAGAI ANTI NYAMUK Susanti, Dian; Sari, Aniska Novita
Jurnal Vektor Penyakit Vol 13 No 1 (2019): Edisi Juni
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Donggala, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (375.913 KB) | DOI: 10.22435/vektorp.v13i1.447

Abstract

Abstract The use of chemical pesticides for mosquito control has been widely known by the public. The negative impact of the use of chemical pesticides has led to the importance of finding anti-mosquito alternatives from medicinal plants. This research was descriptive research using qualitative methods to know the medicinal plant potentially as anti mosquitos which were used in Indonesia. Qualitative data or the parameters examined were following the type of medicinal plant, the number of uses of the medicinal plant, and user tribes. Activities performed were including analysis of a subset of the RISTOJA data and literature study. The data used were obtained from 2012, 2015 and 2017 RISTOJA. There were 18 plant species that were used as anti-mosquito medicinal plants. Medicinal plants that widely used by ethnic groups in Indonesia as anti mosquitos  are Cymbopogon nardus (L.) Rendle, Premna serratifolia L. and Goniothalamus macrophyllus (Blume) Hook.f. & Thomson with the main compound is terpenoid (monoterpene and sesquiterpene) in the essential oil. Abstrak Penggunaan pestisida kimia untuk pengendalian nyamuk telah banyak dikenal oleh masyarakat. Dampak negatif dari penggunaan pestisida kimia menyebabkan pentingnya mencari alternatif anti nyamuk dari tumbuhan obat. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif yang menggunakan metode kualitatif untuk mengetahui ragam tumbuhan obat (TO) berpotensi sebagai anti nyamuk yang digunakan di Indonesia. Parameter data yang diteliti meliputi jenis TO, jumlah penggunaan TO, dan etnis yang memanfaatkan. Kegiatan yang dilakukan meliputi analisis subset data RISTOJA dan studi literatur. Data yang digunakan adalah data yang diperoleh dari metadata penelitian RISTOJA tahun 2012, 2015 dan 2017. Tumbuhan obat berkhasiat anti nyamuk yang digunakan oleh etnis-etnis di Indonesia berjumlah 18 jenis. Tumbuhan obat yang banyak digunakan oleh etnis-etnis di Indonesia adalah Cymbopogon nardus (L.) Rendle, Premna serratifolia L. dan Goniothalamus macrophyllus (Blume) Hook.f. & Thomson dengan kandungan senyawa utama berupa terpenoid (monoterpene dan sesquiterpene) yang terdapat di dalam minyak atsiri.