cover
Contact Name
Hari Purnomo
Contact Email
liriomyza@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
bip@unej.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kab. jember,
Jawa timur
INDONESIA
Berkala Ilmiah Pertanian
Published by Universitas Jember
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Berkala Ilmiah PERTANIAN (BIP) merupakan jurnal elektronik (e-journal) yang mulai diterbitkan pada Agustus 2013 dan menerbitkan artikel ilmiah khususnya hasil penelitian mahasiswa di lingkungan Universitas Jember di bidang pertanian secara umum yang mencakup Pertanian (Bidang Budidaya, Tanah dan Hama dan Penyakit Tumbuhan), Teknologi Pertanian (Bidang Teknik dan Teknologi Hasil Pertanian) serta bidang Sosial Ekonomi Pertanian. Meskipun demikian, BIP juga menerima naskah artikel penelitian dari luar Universitas Jember melalui sistem penerimaan naskah OJS (Open Journal System). Artikel yang dikirim belum pernah dipublikasikan atau tidak dalam proses penerbitan dalam berkala ilmiah lain dan akan melalui proses penelaahan oleh mitra bebestari. Berkala Ilmiah PERTANIAN (BIP) diterbitkan empat kali setahun: Agustus, November, Februari, dan Mei.
Arjuna Subject : -
Articles 73 Documents
ISOLASI DAN SELEKSI PSEUDOMONAD FLUORESCENS PADA RISOSFER PENYAMBUNGAN TOMAT Nurcahyanti, Suhartiningsih Dwi; Arwiyanto, Triwidodo; Indradewa, Didik; Widada, Jaka
Berkala Ilmiah Pertanian Vol 1, No 1: AGUSTUS 2013
Publisher : Berkala Ilmiah Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

[ENGLISH] Fluorescen pseudomonad had been isolated from the rhizosphere of grafting tomato with resisten rootstock (H 7996 and EG 203 from Asian Vegetable Research Development Center). Tomato varieties Permata and Fortuna were used as scion in grafting. Fluorescen pseudomonad was isolated on King’S B medium and used phosphate buffer 0,1 M + 0,1 % pepton. About 230 isolates of P. fluorescens were isolated from tomato rhizosphere at 14 HST and about 454 isolates at 28 HST. All isolates were tested for their capability to suppress the growth Ralstonia solanacearum in vitro. All isolates inhibited the growth of R. solanacearum with an inhibition zone of 1 mm to 7 mm or more. The mechanism growth of inhibition was bacteriostatic. About Ten isolates of P. fluorescens which had large inhibition zone, were not inhibit each other and inhibition against R. solanacearum due to nutrient competition. Keywords : tomato; grafting; Fluorescens pseudomonad [INDONESIAN] Pseudomonad fluorescens diisolasi dari risosfer tomat hasil penyambungan dengan batang bawah tahan yaitu tomat H 7996 dan terung EG 203 dari Asian vegetebles Research Development Center (Taiwan). Sebagai batang atas digunakan varietas Permata dan Fortuna. Isolasi dilakukan pada media King’s B dan menggunakan buffer phospat 0,1 M + pepton 0,1 %. Sejumlah 230 isolat P. fluorescens berhasil diisolasi dari risosfer pada 14 HST dan 454 isolat pada 28 HST. Semua isolat diuji kemampuannya dalam menghambat pertumbuhan Ralstonia solanacearum secara in vitro. Semua isolat P. fluorescens mampu menghambat R. solanacearum dengan zona hambatan antara 1 mm sampai dengan lebih dari 7 mm. Semua isolat mempunyai mekanisme penghambatan bakteriostatik. Sebanyak sepuluh isolat P. fluorescens yang mempunyai daya hambat besar, tidak saling menghambat satu dengan yang lain dan penghambatan terhadap R solanacearum yang terjadi karena adanya kompetisi nutrisi. Kata kunci: Tomat; Penyambungan; Pseudomonad fluorescens  How to citate: Nurcahyanti SD, T Arwiyanto, D Indradewa, J Widada. 2013. Isolasi dan seleksi pseudomonad fluorescens pada risosfer penyambungan tomat. Berkala Ilmiah Pertanian 1(1): 15-18
PENGENDALIAN HAMA PADA TANAMAN KUBIS DENGAN SISTEM TANAM TUMPANGSARI Kristanto, Seto Pandu; ,, Sutjipto; ,, Soekarto
Berkala Ilmiah Pertanian Vol 1, No 1: AGUSTUS 2013
Publisher : Berkala Ilmiah Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

[ENGLISH]The research of pest control at cabbage plant by inter cropping system was done at Semboro village, Semboro town, Jember Regency. The aim of this research is to find out the most effective inter cropping system to overcome the cabbage plant’s pest problem. This research uses randomized block design (RBD) with six treatments and each treatment is repeated five times. The treatments are planting monoculture cabbage, inter cropping cabbage with chili, inter cropping cabbage with marigold, inter cropping cabbage with sweet basil, inter cropping cabbage with eggplant, and inter cropping cabbage with tomato. The results shows that none of the treatments are sufficienly effective to reduce the population of both caterpillar pest, Crociodolomia binotalis or Plutella xylostella. The average population of Crociodolomia binotalis at cabbage with sweet basil’s inter cropping is lower than monoculture cabbage that is 0,89 tail/plant. The average population of Plutella xylostella for each treatment did not give a substantial different. The inter cropping of cabbage with sweet basil produces the highest weight per crop, that is 1,11 Kg/krop with grade II crop quality. Keywords: Cabbage; Crocidolomia binotalis; Plutella xylostella; inter cropping  [INDONESIAN] Penelitian pengendalian hama pada kubis dengan sistem tanam tumpangsari dilakukan di desa Semboro Kecamatan Semboro, Kabupaten Jember. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui jenis tumpangsari yang efektif dalam mengendalikan hama tanaman kubis. Rancangan yang dipergunakan dalam penelitian yaitu Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan enam perlakuan dan diulang sebanyak lima kali. Perlakuan yang digunakan yaitu penanaman kubis monokultur, kubis tumpangsari dengan cabai rawit, kubis tumpangsari dengan kenikir, kubis tumpangsari dengan selasih, kubis tumpangsari dengan terung, dan kubis tumpangsari dengan tomat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masing-masing perlakuan tidak efektif dalam menekan populasi hama ulat Crocidolomia binotalis maupun ulat Plutella xylostella. Rata-rata populasi Crocidolomia binotalis pada tumpangsari kubis dan selasih hasilnya lebih rendah dibandingkan kubis monokultur yaitu 0.89 ekor/tanaman. Rata-rata populasi Plutella xylostella pada masing-masing perlakuan menunjukkan hasil yang berbeda tidak nyata. Perlakuan tumpangsari kubis dan selasih menghasilkan berat per krop paling tinggi, yaitu 1.11 Kg/krop dengan kriteria mutu II. Kata Kunci: Kubis; Crocidolomia binotalis; Plutella xylostella; tumpangsari  How to citate: Kristanto SP, Sutjipto, Soekarto. 2013. Pengendalian hama pada tanaman kubis dengan sistem tanam tumpangsari. Berkala Ilmiah Pertanian 1(1): 7-9.
KARAKTERISASI BAKTERI PENYEBAB PENYAKIT HAWAR DAUN EDAMAME DI JEMBER Masnilah, Rachmi; Abadi, Abd Latif; Astono, Tutung Hadi; Aini, Luqman Qurata
Berkala Ilmiah Pertanian Vol 1, No 1: AGUSTUS 2013
Publisher : Berkala Ilmiah Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

[ENGLISH] One among important diseases in Edamame soybean is bacterial bligh. The disease is relatively new and causes significant loss of soybean yield. This research was aim to know the characterize the pathogen of bacterial blight in Jember. Survey was one in several soybean field in Jember and the plant sample was culture on Kings B medium to grow the pathogen. Identification was done through pysiological and biochemistry assay. The result showed that the pathogen of bacterial blight disease on Edamame soybean di Jember (Panti, Sukorambi, Wirolegi, Ajung, and Sumbersari) was Pseudomonas syringae pv. glycinea with properties as Gram negative, produce fluorescent pigment on Kings B medium, grew on 20-40O C, pH range of 4.5-8.5, tolerant on 0.5-2% NaCl and also pathogenic and virulent on Edamame while reinoculated to Edamame. Keywords: Edamame, bacterial blight, soybean  [INDONESIAN] Salah satu penyakit penting pada kedelai khususnya edamame ialah hawar daun bakteri, penyakit ini merupakan penyakit yang relatif baru dan menyebabkan kerugian yang cukup signifikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik bakteri penyebab penyakit hawar daun edamame di daerah Jember. Penelitian diawali dengan pengamatan gejala di lapangan di beberapa lokasi di daerah Jember. Bagian tanaman yang sakit dibawa ke laboratorium, selanjutnya dilakukan isolasi pada medium King B. Identifikasi dilakukan dengan serangkaian pengujian fisiologi dan biokimia. Berdasarkan pengujian yang telah dilakukan disimpulkan bahwa bakteri penyebab penyakit hawar daun edamame di Jember (Panti, Sukorambi, Wirolegi, Ajung, dan Sumbersari) ialah Pseudomonas syringae pv. glycinea yang bersifat gram negatif, mampu membentuk pigmen fluoresen pada medium king B, mampu tumbuh baik pada kisaran suhu 20-400 C, mempunyai kisaran pH 4,5-8,5, toleran pada kandungan NaCl 0,5-2%, serta bersifat patogenik dan virulen pada tanaman edamame. Keywords: Edamame; Hawar Daun; Kedelai How to citate: Masnilah R, AL Abadi, TH Astono, LQ Aini. 2013. Karakterisasi bakteri penyebab penyakit hawar daun edamame di Jember. Berkala Ilmiah Pertanian 1(1): 10-14.
PERAN ASOSIASI Synechococcus sp. TERHADAP PROTEIN DAN PRODUKSI BIJI TANAMAN KEDELAI PADA BERBAGAI DOSIS BOKASHI Setia, Abadi Darma; Soedradjad, Raden; Syamsunihar, Anang
Berkala Ilmiah Pertanian Vol 1, No 1: AGUSTUS 2013
Publisher : Berkala Ilmiah Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

[ENGLSIH]Seed of soybean is known contained proteins that are good to consume. Soybean is able to live in mutualistic symbiosis with Rhizobium bacteria and non-symbiotic association with photosynthetic bacteria of Synechococcus sp. This bacteria can be a biofertilizer for plants even in unfavorable environmental conditions these bacteria can still contribute nutrients N from N2 fixation in the air. The conducted research aims to study substance of seed protein, and also the plant productions (Glycine max. L. Merill) which is associated with Synechococcus sp. strain Situbondo in various dosages of bokashi. To address this aim, a research was conducted at the Agrotechnopark field Jember University. The research was based on Split-split plot design with two factors, those are bacterium innoculation, and Bokashi rates. The Standard Error of Mean (SEM) was used as different mean test among treatments. The results of this research show that: (1) association of Synechococcus sp. in soybean plant tend to increase seed weight per plant by 34,61% and seed protein by 1,9% only in 0 kg/ha dosages of bokashi, however the effect of Synechococcus sp. was linier with the increasing dosages of bokashi. (2) Dosages of bokashi tend to increase seed protein content and seed weight per plant. Keywords: Glycine; Synechococcus sp.; Bokashi [INDONESIAN] Biji kedelai diketahui memiliki kandungan protein yang baik untuk dikonsumsi. Tanaman kedelai dapat bersimbiosis mutualisme dengan bakteri Rhizobium dan non simbiotik dengan bakteri fotosintetik Synechococcus sp. Bakteri ini dapat menjadi biofertilizer bagi tanaman bahkan dalam kondisi lingkungan yang tidak menguntungkan bakteri ini masih dapat menyumbang unsur hara N dari hasil fiksasi N2 di udara. Penelitian yang dilakukan bertujuan untuk mengetahui kandungan protein biji serta produksi tanaman kedelai yang berasosiasi dengan bakteri fotosintetik Synechococcus sp. Strain situbondo pada berbagai dosis bokasi. Penelitian ini dilaksanakan di lahan Agrotechnopark Universitas Jember. Penelitian ini menggunakan Split Plot dengan dua faktor yaitu faktor bakteri dan faktor bokashi. Nilai rerata masing-masing perlakuan setiap parameter dibandingkan dengan nilai SEM (Standard error of the mean). Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Asosiasi Synechococcus sp. pada tanaman kedelai (Glicine max L. Merrill) cenderung meningkatkan berat biji per-tanaman sebesar 34,61% dan protein biji sebesar 1,9% hanya pada dosis 0 kg/ha bokashi, namun pengaruh Synechococcus sp. tidak nyata seiring dengan meningkatnya dosis bokashi. (2) Dosis bokashi cenderung meningkatkan kandungan protein biji serta berat biji per-tanaman. Kata Kunci: Kedelai; Synechococcus sp.; Bokashi   How to citate: Setia AD, R Soedradjad, A Syamsunihar. 2013. Peran asosiasi Synechococcus sp. terhadap protein dan produksi biji tanaman kedelai pada berbagai dosis bokashi . Berkala Ilmiah Pertanian 1(1): 4-6.
KEMAMPUAN DOSIS PUPUK ZA DAN WAKTU PEWIWILAN TUNAS LATERAL TERHADAP HASIL DAN KUALITAS CABAI BESAR Taufik, Imam; Soeparjono, Sigit; Mudjiharjati, Arie
Berkala Ilmiah Pertanian Vol 1, No 1: AGUSTUS 2013
Publisher : Berkala Ilmiah Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

[ENGLISH]Chili is one of the horticultural commodities which have high economic value and have a large export opportunities. The development of technology makes great chili farming business will be more profitable. The purpose of research to determine the interaction between fertilizer dosing ZA and pruning time of lateral shoots that are most influential to the outcome and quality of hot pepper. Factorial (3 x 3) research carried out using Random Design Group. The first factor is the fertilizer doses studied with 3 threshold ZA covers: N1, N2, and N3, respectively 14, 28, and 42 grams per plant. The second factor is the time of pruning with 3 degrees include: W1, W2, and W3, each for 0, 15, and 25 days after planting. The results showed that the combination treatment of ZA 28 gram per plant and prunning of lateral shoots in 15 dat tend to the best result on the yield and quality of chilli. Keywords: Chilli; ZA Fertilizer Dose; Nitrogen; Pruning.  [INDONESIAN] Cabai merupakan salah satu komoditas hortikultura yang memiliki nilai ekonomi tinggi serta memiliki peluang eksport yang besar. Perkembangan teknologi menjadikan usaha pertanian cabai besar akan semakin menguntungkan. Tujuan penelitian untuk mengetahui interaksi antara pemberian dosis pupuk ZA dan waktu pewiwilan tunas lateral yang berpengaruh paling baik terhadap hasil dan kualitas cabai besar. Penelitian faktorial (3x3) dilaksanakan menggunakan Rancangan Acak Kelompok. Faktor pertama yang diteliti adalah dosis pupuk ZA dengan 3 taraf yang meliputi: N1, N2, dan N3 ,masing-masing 14, 28, dan 42 gram per tanaman. Faktor kedua adalah waktu pewiwilan dengan 3 taraf meliputi: W1, W2, dan W3, masing- masing untuk 0, 15, dan 25 hari setelah tanam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi perlakuan ZA 28g/tanaman dan pewiwilan tunas lateral umur 15 hari setelah tanam cenderung memberikan hasil terbaik terhadap hasil dan kualitas cabai besar. Kata Kunci: Cabai Besar; Dosis Pupuk ZA; Nitrogen; Pewiwilan.How to citate: Taufik I, S Suparjono, A Mudjiharjati. 2013. Kemampuan dosis pupuk za dan waktu pewiwilan tunas lateral terhadap hasil dan kualitas cabai besar. Berkala Ilmiah Pertanian 1(1): 1-3.
PENGARUH KOMPOS DAN PGPR (PLANT GROWTH PROMOTING RHIZOBACTERIA) PADA LAHAN KERING TERHADAP PRODUKSI SAWI (BRASSICA RAPA L.) Kurniasih, Farida Puput; Soedradjad, Raden
Berkala Ilmiah Pertanian Vol 2 No 4 (2019): NOVEMBER
Publisher : Jember University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT The increasing of demand for agricultural product and the narrowing of fields where fields are currently being prioritized for cultivating food crops forcing them to take and use dry land. Problem happended by conducting agricultural activities on dry land such as limited water availability, low microorganism population and low nutrient avaibility. Water avaibility on dry land can be optimized by providing compost and PGPR. The productivity of Sawi nauli varieties according to the minister of agriculture decision (2009) that 37 -39 tons/ha with a population per hectare are 93.000 plants. This purpose of this study is to determine the effect of compost and PGPR on dry land about pakchoy productivity. This study also used factorial completely randomizing design and replicated 3 times. The design of two treatments are : firsty, compost which consists of 4 levels with a dose of 5 kilograms of soil, 4900 grams of soil with 100 grams of compost, 4800 grams of soil with 200 grams of compost, 4700 grams of soil with 300 grams of compost. For the second factor is PGPR which consists of 4 levels with a dose of 0 miligrams/plant, 100 miligrams/plant, 200 miligram/plant and 300 miligram/plant. The data obtained were analyzed by using analysis of variance (ANOVA). Then, the results obtained from the ANOVA test were followed by the Standart Error Mean (SEM). Based on the results of the study it is known that there are influences from each single factor and combination of treatments. Compost treatment showed significantly different results on variable number of leaves, number of leaf chlorophyll and dry weight of plants. Whereas there is a very significant effect on plant height and plant fresh weight. On a si ngle factor PGPR showed no significant results on variable plant height, number of leaf chlorophyll, but showed a significant effect on variable number of leaves, plant fresh weight and plant dry weight. The combination of compost and PGPR treatment showed no significant results on variable plant height, number of leaves, number of leaf chlorophyll, and plant dry weight. The treatment combination treatment showed a significant effect on the fresh weight variable of the plant. Keywords: compost, dry land, PGPR, pakchoy. ABSTRAK Meningkatnya permintaan untuk produk pertanian dan penyempitan lahan di mana lahan saat ini sedang diprioritaskan untuk menanam tanaman pangan memaksa mereka untuk mengambil dan menggunakan lahan kering. Masalah terjadi dengan melakukan kegiatan pertanian di la han kering seperti ketersediaan air yang terbatas, populasi mikroorganisme yang rendah dan ketersediaan nutrisi yang rendah. Ketersediaan air di lahan kering dapat dioptimalkan dengan menyediakan kompos dan PGPR. Produktivitas varietas Sawi nauli menurut keputusan menteri pertanian (2009) bahwa 37-39 ton / ha dengan populasi per hektar adalah 93.000 tanaman. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh kompos dan PGPR pada lahan kering terhadap produktivitas pakchoy. Penelitian ini juga menggunakan rancangan acak lengkap faktorial dan direplikasi sebanyak 3 kali. Rancangan dua perlakuan tersebut adalah: pertama, kompos yang terdiri dari 4 level dengan dosis 5 kg tanah, 4900 gram tanah dengan 100 gram kompos, 4800 gram tanah dengan 200 gram kompos, 4700 gram tanah dengan 300 gram kompos. Untuk faktor kedua adalah PGPR y ang terdiri dari 4 level dengan dosis 0 miligram / tanaman, 100 miligram / tanaman, 200 miligram / tanaman dan 300 miligram / tanaman. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan analisis varian (ANOVA). Kemudian, hasil yang diperoleh dari uji ANOVA dianalisis menggunakan Standart Error Mean (SEM). Berdasarkan dari hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh dari masing-masing faktor tunggal dan kombinasi perlakuan. Perlakuan kompos menunjukkan hasil yang tidak nyata pada variabel jumlah daun, jumlah klorofil daun, tinggi tanaman dan bobot kering tanaman sedangkan pada variabel bobot segar tanaman menunjukkan hasil berbeda nyata. Pada faktor tunggal PGPR me nunjukkan hasil yang tidak nyata pada variabel tinggi tanaman, jumlah klorofil daun, tetapi menunjukkan hasil berbeda nyata pada variabel jumlah daun, bobot segar tanaman dan bobot kering tanaman. Pada kombinasi perlakuan kompos dan PGPR menunjukkan hasil tidak nyata pada variabel tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah klorofil daun, dan bobot kering tanaman. Perlakuan kombinasi perlakuan yang menunjukkan berbeda nyata terdapat pada variabel bobot segar tanaman Kata kunci : Kompos, lahan kering, PGPR, pakchoy.
PENGARUH PEMUPUKAN KOMPOS BLOTONG DAN PUPUK ORGANIK CAIR ECENG GONDOK TERHADAP INFEKSI ENDOMIKORIZA DAN PRODUKSI TANAMAN SORGUM (SORGHUM BICOLOR (L.) MOENCH) PADA LAHAN PASIR PANTAI PASEBAN KABUPATEN JEMBER Pramesti, Andina Dwi; Hermiyanto, Bambang
Berkala Ilmiah Pertanian Vol 2 No 3 (2019): AGUSTUS
Publisher : Jember University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT Sandy land has a considerable potential to resolve the problem of the narrowing area of agricultural land in Indonesia. Improvement of sandy land quality which belongs to the marginal land is necessary in order to increase its productivity, for example through the addition of compost and organic liquid fertilizer. This research aims to know the effect of blotong compost and organic liquid fertilizer of Eichhornia crassipes to endomycorrhizal infection and the production of sorghum plants. The experimental design used was factorial completely randomized block design with 2 factors and 3 replicates. The first factor was dose of blotong compost which consists of 3 levels, i.e. 0, 20, and 40 tons blotong compost /ha. The second factor was concentration of the organic liquid fertilizer of Eichhornia crassipes consists of 4 levels, i.e. 0, 10, 25, and 40% of the organic liquid fertilizer of Eichhornia crassipes. Further data obtained were analyzed using ANOVA, followed by Duncan Multiple Range Test (DMRT) for significantly different data. The results showed that the application of blotong compost increase soil Corganic, total soil microorganisms, plant height and lowering endomycorrhizal infection. Optimal fertilizing compost blotong dose is 40 tons/ha. The application of organic liquid fertilizer of Eichhornia crassipes increase the total soil microorganisms with optimal concentration of 40%, as well as reducing endomycorrhizal infection. The combination treatment of 20 tons of compost blotong/ha and 10% organic liquid fertilizer of Eichhornia crassipes already enhance the growth and production of sorghum, but the maximum growth and plant production is achieved with the addition of 40 tons of compost blotong/ha and 40% organic liquid fertilizer of Eichhornia crassipes. Keywords: Root infection, sandy land, blotong, Eichhornia crassipes, sorghum ABSTRAK Lahan pasir pantai memiliki potensi cukup besar untuk mengatasi masalah semakin menyempitnya luasan lahan pertanian di Indonesia. Perbaikan kualitas lahan pasir pantai yang termasuk ke dalam lahan marginal sangat diperlukan agar dapat meningkatkan produktivitasnya, misalnya melalui penambahan pupuk kompos dan pupuk organik cair (POC). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemupukan kompos blotong dan POC eceng gondok terhadap infeksi endomikoriza dan produksi tanaman sorgum. Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) dengan 2 faktor dan 3 ulangan. Faktor pertama yaitu dosis kompos blotong yang terdiri atas 3 taraf yaitu 0, 20, dan 40 ton kompos blotong/ha. Faktor kedua yaitu konsentrasi POC eceng gondok yang terdiri atas 4 taraf yaitu 0, 10, 25, dan 40% POC eceng gondok. Data dianalisis menggunakan ANOVA. Apabila antar perlakuan berbeda nyata maka dilakukan uji lanjut menggunakan Duncan Multiple Range Test (DMRT). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian blotong dapat meningkatkan C-organik tanah, total mikroorganisme tanah, tinggi tanaman, serta menurunkan infeksi endomikoriza. Dosis pemupukan kompos blotong yang optimal adalah 40 ton/ha. Pemberian pupuk organik cair eceng gondok dapat meningkatkan total mikroorganisme tanah dibanding kontrol dengan konsentrasi optimal 40%, serta menurunkan infeksi endomikoriza. Kombinasi perlakuan 20 ton kompos blotong/ha dan 10% POC eceng gondok sudah dapat meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman sorgum, namun pertumbuhan dan produksi tanaman maksimum dicapai pada perlakuan penambahan 40 ton kompos blotong/ha dan 40% POC eceng gondok. Kata kunci: Infeksi endomikoriza, tanah pasir pantai, blotong, eceng gondok, sorgum.
IDENTIFIKASI KARAKTERISTIK MORFOLOGI DAN MOLEKULER 21 VARIETAS PADI AROMATIK (ORYZA SATIVA L.) BERDASARKAN PENANDA RAPD (RANDOM AMPLIFIED POLYMORPHIC DNA) Fitri, Irza Guari Syah; Handoyo, Tri
Berkala Ilmiah Pertanian Vol 2 No 2 (2019): MEI
Publisher : Jember University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19184/bip.v2i2.16174

Abstract

ABSTRACT Aromatic rice (Oryza sativa L.) is one type of rice that has aroma and high selling price than non-aromatic rice. The variety development is needed to form superior aromatic rice. The variety development requires information about kinship and diversity between varieties. Kinship analysis with identification of morphological characteristics is an observation based on taxonomic approach. This research aims to determine the morphological characteristics and kinship of 21 aromatic rice varieties. The research was conducted from March to September 2018 with a randomized block design (RBD) of 3 replications. Observation variables used plant height (cm), number of productive tillers (tiller), age of flowering and harvesting (days), weight of 100 grain (gram), shape of grain, color of grain, color of rice and DNA band pattern as molecular data. Morphological data were analyzed by variance (ANOVA) and cluster analysis with UPGMA program (Unweight Pair Group Method with Arithmetic Mean) using DIST Coefficient on NTSYS 2.02 software. Molecular data showed in visualisation of DNA band using Primer OPB-07 based on RAPD marker. The research results showed the differences in morphological characters and kinship levels. Cluster analysis forms 2 clusters and 2 sub-clusters. Keywords: Aromatic Rice, Mophological Diversity, RAPD, Dendrogram ABSTRAK Padi aromatik (Oryza sativa L.) merupakan salah satu jenis padi yang memiliki aroma wangi dan memiliki harga jual yang lebih tinggi dibanding padi biasa. Pengembangan varietas diperlukan untuk membentuk padi aromatik yang lebih unggul. Pengembangan varietas membutuhkan informasi tentang kekerabatan dan keanekaragaman antar varietas. Analisis kekerabatan dengan identifikasi karakteristik morfologi merupakan suatu observasi berdasarkan pendekatan taksonomi. Percobaan ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik morfologi dan molekuler 21 varietas padi aromatik. Percobaan dilakukan di mulai Maret - September 2018 dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK) 3 ulangan. Variabel pengamatan menggunakan tinggi tanaman (cm), jumlah anakan produktif (batang), umur berbunga dan panen (HSS), bobot 100 gabah, bentuk gabah, warna gabah, dan warna beras serta pola pita DNA sebagai data molekuler. Data morfologi dianalisis dengan ragam (ANOVA) serta dianalisis gerombol dengan program UPGMA (Unweight Pair Group Method with Arithmetic Mean) menggunakan DIST Koefisien pada software NTSYS 2.02. Data molekuler ditunjukkan dalam bentuk visualisasi DNA menggunakan primer OPB-07 berdasarkan penanda RAPD. Hasil percobaan menunjukkan perbedaan karakter morfologi dan tingkat kekerabatan yang berbeda. Analisis gerombol membentuk 2 cluster dan 2 sub-cluster. Kata kunci: Padi Aromatik, Kekerabatan Morfologi, RAPD, Dendrogram
PENGARUH KONSENTRASI EKSTRAK BAWANG MERAH DAN AIR KELAPA TERHADAP PERTUMBUHAN STEK PUCUK JAMBU AIR MADU DELI HIJAU (SYZYGIUM SAMARANGENSE) Al Ayyubi, Nabila Nur Aisyah; Kusmanadhi, Bambang; Siswoyo, Tri Agus; Wijayanto, Yagus
Berkala Ilmiah Pertanian Vol 2 No 1 (2019): FEBRUARI
Publisher : Jember University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19184/bip.v2i1.16148

Abstract

ABSTRACT Green Deli Rose Apples (Syzygium samarangense) has several beneficial properties in terms of usability, cultivation, health, and economy. The intensive development of green deli rose apples plants is needed given increasing demand, needs, and has bright prospects. One of the efforts to develop green deli rose apples plants is through handling plant propagation. Propagation of green deli rose apples can be done in two ways, namely generative and vegetative. Generative propagation requires a relatively long time, while vegetative propagation have difficult to growth in rooted. Shoot-cuttings is one of the vegetative propagation that has been chosen because it is easier to root than the old parts of the plant. The use of plant growth regulators (PGR) is needed to stimulate green deli rose apples shoot-cuttings rooting. Alternative PGR is giving shallot extract and coconut water as a substitute for synthetic auxin which has a relatively expensive price. The purpose of this study was to determine the combination of the effect of the concentration shallot extract and coconut water, as well as to find out the concentration of shallot extracts and coconut water which was most influential on the growth of shoot-cutting of green deli rose apples. The extract shallot concentration used is control, 0,5%, 1,0%, and 1,5%. The coconut water concentration used is control, 20%, 30% and 40%. Data obtained next analyzed and tested using DMRT ? 5%. The result showed te best treatment combination for concentration shallot extract of 0,5% and coconut water of 20%.   Keywords: greend deli rose apples, shoot-cutting, shallot extract, coconut water ABSTRAK Jambu air madu deli hijau (MDH) (Syzygium samarangense) memiliki beberapa sifat yang menguntungkan baik dari segi kegunaan, budidaya, kesehatan, maupun ekonomi. Pengembangan tanaman secara intensif diperlukan mengingat permintaan dan kebutuhan yang semakin meningkat, serta memiliki prospek yang cerah. Salah satu usaha pengembangan tanaman yaitu melalui penanganan perbanyakan tanaman. Perbanyakan dapat dilakukan dengan dua cara yaitu generatif dan vegetatif. Perbanyakan secara generatif membutuhkan waktu yang relatif lama, sedangkan perbanyakan vegetatif memiliki kendala sulit membentuk perakaran. Stek pucuk merupakan salah satu perbanyakan vegetatif yang banyak dipilih karena lebih mudah berakar dibandingkan bagian tanaman tua. Penggunaan zat pengatur tumbuh (ZPT) diperlukan untuk merangsang perakaran stek pucuk jambu air MDH. Alternatif ZPT yaitu pemberian ekstrak bawang merah dan air kelapa sebagai pengganti auksin sintetis yang memiliki harga relatif mahal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kombinasi pengaruh konsentrasi ekstrak bawang merah dan air kelapa terhadap pertumbuhan stek pucuk jambu air MDH, serta mengetahui konsentrasi ekstrak bawang merah dan air kelapa yang paling berpengaruh terhadap pertumbuhan stek pucuk jambu air MDH. Konsentrasi ekstrak bawang merah yang digunakan antara lain kontrol, 0,5%, 1% dan 1,5%. Konsentrasi air kelapa yang digunakan antara lain kontrol, 20%, 30%, dan 40%. Data yang diperoleh selanjutnya dianalisis dan diuji menggunakan DMRT ? 5%. Hasil penelitian menunjukkan kombinasi perlakuan terbaik untuk konsentrasi ekstrak bawang merah dan air kelapa adalah konsentrasi 0,5% dan air kelapa 20%.   Kata Kunci: jambu air madu deli hijau, stek pucuk, ekstrak bawang merah, air kelapa
PENGARUH KOLKISIN TERHADAP KARAKTER MORFOLOGI TANAMAN TERUNG (SOLANUM MELONGENA L.) Pradana, Dovy Andis; Hartatik, Sri
Berkala Ilmiah Pertanian Vol 2 No 4 (2019): NOVEMBER
Publisher : Jember University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT The Eggplant (Solanum melongena L.) is one of the plant commodities that has high economic value. Eggplant production is still volatile so plant breeding with a colchicine mutation is needed to increase eggplant production. Colchicine is Colchicum autumnale seed extract which is able to weaken the spindle thread from the metaphase process to anaphase so that chromosome multiplication occurs without the formation of cell walls. Eggplant sprouts induced by different concentrations of colchicine, they are 0 ppm (K0), 100 ppm (K1), 200 ppm (K2) for 6 hours (L1), 12 hours (L2), 18 hours (L3) . The variables observed were morphological characters such as plant height, flowering age, fruit weight, fruit diameter, fruit length, leaf length, leaf width and stem diameter. The results of the treatment show concentration of colchicine and soaking time had a very significant effect on fruit diameter and fruit weight. K1L2 is the most effectif treatment on diameter and weigh of fruit.The concentration of colchicine has a significant effect on plant height and flowering age. The most effectif concentration in plant height and flowering age is K1. Keywords: Eggplant, Colchicine concentration, Soaking time of colchicine ABSTRAK Terung (Solanum melongena L.) merupakan salah satu komoditas tanaman dengan nilai ekonomis tinggi. Produksi terung masih fluktuatif sehingga pemuliaan tanaman dengan mutasi colchicine diperlukan untuk meningkatkan produksi terung. Colchicine merupakan ekstrak dari biji Colchicum autumnale yang mampu melemahkan untaian DNA dari proses metafase menjadi anafase, sehingga multiplikasi kromosom terjadi tanpa pembentukan dinding sel. Kecambah terung diinduksi dengan colchicine dalam konsentrasi yang berbeda, yaitu 0 ppm (K0), 100 ppm (K1), 200 ppm (K2) selama 6 jam (L1), 12 jam (L2), 18 jam (L3). Variabel yang diamati adalah karakter morfologi seperti tinggi tanaman, umur berbunga, berat buah, diameter buah, panjang buah, panjang daun, lebar daun dan diameter batang. Hasil percobaan menunjukkan konsentrasi colchicine dan waktu perendaman memiliki pengaruh yang sangat signifikan terhadap diameter buah dan berat buah. Perlakuan K1L2 merupakan perlakuan yang paling efektif mempengaruhi diameter dan berat buah. Konsentrasi colchicine memiliki efek signifikan terhadap tinggi tanaman dan usia berbunga. Konsentrasi paling efektif terhadap tinggi tanaman dan umur berbunga adalah K1. Kata Kunci: Terung, konsentrasi colchicine, waktu perendaman colchicine