cover
Contact Name
Made Hery Santosa, Ph.D
Contact Email
mhsantosa@undiksha.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Arjuna Subject : -
Articles 132 Documents
PERANAN PROGRAM PKPR (PELAYANAN KESEHATAN PEDULI REMAJA) TERHADAP KESEHATAN REPRODUKSI REMAJA DI KECAMATAN BULELENG Kadek Alit Arsani, Ni Luh
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 2, No 1 (2013)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (201.798 KB) | DOI: 10.23887/jish-undiksha.v2i1.1289

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui: 1) Peranan Puskesmas dalam Program Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR); 2) Keterlaksanaan program PKPR terhadap kesehatan reproduksi remaja; 3) Peranan program PKPR terhadap kesehatan reproduksi remaja. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan focus group discussion. Informan dipilih secara purposive sampling. Data dianalisis dengan menggunakan analisis interaktif model dari Miles dan Huberman terdiri dari empat tahap yaitu pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan simpulan/verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) Peranan Puskesmas dalam program PKPR adalah sebagai ujung tombak pemberi pelayanan kesehatan di masyarakat termasuk remaja; 2) Program PKPR yang dicanangkan Puskesmas Buleleng 1 sebagian besar sudah terlaksana dengan baik, namun masih terdapat 1 sasaran yang belum tercapai yaitu pembentukan konselor sebaya serta belum maksimalnya sosialisasi kepada remaja secara luas; 3) PKPR dirasakan memiliki peranan yang sangat penting bagi remaja.
IDEOLOGI NYEGARA GUNUNG: SEBUAH KAJIAN SOSIOKULTURAL KEMISKINAN PADA MASYARAKAT PESISIR DI BALI UTARA Mudana, I Wayan
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 2, No 1 (2013)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1338.561 KB) | DOI: 10.23887/jish-undiksha.v2i1.1290

Abstract

Target khusus yang ingin dicapai dalam tahun ini adalah terdeskrepsikannya fenomenan kemiskinan sosiokultural dan geneologis kemiskinan sosiokultural masyarakat pesisir; terdeskrepsikannya secara kritis ideologi nyegara gunung yang berkembang pada masyarakat pesisir; terdeskrepsikannya secara kritis keberfungsian ideologi nyegara gunung dalam mengatasi masalah kemiskinan sosiokultural pada masyarakat pesisir di Bali Utara; serta tersdeskrepsikannya peranan masyarakat politik, ekonomi dan sipil dalam pengentasan kemiskinan sosiokultural berbasis ideologi nyegara gunung pada masyarakat prsisir di Bali Utara. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini pada tahun pertama adalah pendekatan yang bersifat etnografis kritis. Sehunbungan dengan hal itu, informan penelitian ini menggunakan purposive smowball, pengumpulan data dengan observasi, wawancara mendalam, dan studi pustaka, analisis data menggunakan analisis kritis deskreptif kualitatif. Berdasarkan pendekatan tersebut di atas dapat dikemukakan hasil kajian ini sebagai berikut: Kemiskinan sosiokultural masyarakat di Bali Utara dapat dilihat dari lingkungan pemukiman masyarakat pesisir yang berada di sekitar pantai pada umumnya menempati tanah negara dan dengan kondisi bangunan yang sangat sederhana. Kemiskinan sosiokultural yang dimilikinya juga tercermin oleh tingkat pendidikan dan penguasan teknologi kebaharian yang masih terbatasa. Kondisi ini tentu saja juga terkait dengan keterbatasan modal  finansial yang dimiliki oleh m syarakat pesisir.Terjadinya kemiskinan sosiokultural pada masyarakat pesisir secara geneologis disebabkan oleh keterbatasan modal financial yang dimiliki dan kebijakan-kebijakan pembangunan yang kurang berpihak pada masyarakat pesisir yang mengalami jeratan gurita kemiskinan. Dalam mengatasi kemiskinan sosiokultural, masyarakat pesisir mengembangkan berbagai aktivitas sosial ekonomi yang dilandasi kesadarannya terhadap kebenaran ideologi nyegara gunung, dan menjadikan laut sebagai ruang hidup yang menjanjikan. Di samping itu, masyarakat pesisir juga mengembangkan berbagai diversifikasi usaha dan kelembagaan kredit sosial dan ekonomi sebagai bentuk adaptasinya dalam mengatasi kemiskinan sosiokultural yang ada.  Dalam mengatasi kemiskinan, masyarakat politik, ekonomi dan sipil ikut berperan, baik dalam bentuk pendampingan modal maupun pembinaan terhadap masyarakat pesisir.
PENGEMBANGAN POTENSI PARIWISATA SPIRITUAL BERBASIS MASYARAKAT LOKAL DI BALI ., Sukadi
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 2, No 1 (2013)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1341.63 KB) | DOI: 10.23887/jish-undiksha.v2i1.1310

Abstract

Bali memiliki daya tarik wisata yang beragam. Wisata spiritual belum banyak dikembangkan oleh masyarakat lokal Bali.  Tujuan penelitian tahun pertama ini adalah mengidentifikasi potensi pariwisata spiritual di Bali dan merumuskan strategi pengembangan serta pemasaran pariwisata spiritual di Bali. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan etnografi di tiga Kabuapten di Bali.  Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Pura Lempuyang Luhur, Pura Penegil Dharma, Pura Negara Gambur Anglayang, Pura Ponjok Batu, Pura Pulaki, dan Pura Perancak dengan segala aktivitas spiritualnya sangat cocok dikembangkan sebagai objek wisata spiritual di Bali. Ini karena seluruh pura dapat memberikan pengalaman nilai-nilai historis, sosial budaya, dan nilai-nilai spiritual kepada wisatawan yang datang.  Strategi pengembangan dan pemasaran yang masih harus dilakukan antara lain adalah pemberdayaan masyarakat lokal pengempon pura, koordinasi dengan pemkab dan pihak-pihak terkait, penataan lingkungan pura yang lebih baik, penyediaan sarana pendukung yang lebih baik, kegiatan inventarisasi dan dokumentasi, sosialisasi melalui media TIK, sosialisasi melalui kerja sama dengan asosiasi perhotelan dan jasa wisata lainnya, sosialisasi melalui desa pakraman, sekolah dan perguruan tinggi, dunia kerja dan industri, masyarakat transmigran Bali, dan masyarakat Hindu Nusantara.
KAJIAN ESTETIKA RAGAM HIAS TENUN SONGKET JINENGDALEM, BULELENG Sila, I Nyoman
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 2, No 1 (2013)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1352.734 KB) | DOI: 10.23887/jish-undiksha.v2i1.1311

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan tentang (1) komposisi penempatan ragam hias tenun songket desa Jinengdalem, Buleleng, (2) ritme/irama penataan ragam hias tenun songket desa Jinengdalem, Buleleng, (3) keharmonisan tata letak ragam hias tenun songket desa Jinengdalem, Buleleng, (4) keseimbangan penataan ragam hias tenun songket desa Jinengdalem, Buleleng, (5) variasi-varisai ragam hias yang dibuat oleh perajin pada kain tenun songket desa Jinengdalem, Buleleng. Penelitian ini menggunakan pendekatan estetika, dan etnografi. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dokumentasi, fokus group, dan dianalisis secara deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan (1) Kompisisi penempatan ragam hias objek utama, secara umum ditempatkan secara penuh pada bidang kain, (2) Irama penataan ragam hias ditampilkan melalui pengaturan bentuk motif hias seperti: besar, kecil, tinggi, rendah, panjang, pendek, dan juga dalam pengaturan warna yang berbeda-beda secara berulang-ulang. (3) Keharmonisan penempatan ragam hias tenun songket Jinengdalem, melalui motif-motif hias dan warna-warna yang ditampilkan secara keseluruhan dipandang dari nilai-nilai estetikanya sangat harmonis. Karena disini ada keselarasan dalam penempatan motif hias cukup terpadu, penyusunan warna pada beberapa motif hias dengan warna-warna yang komplementer dan tidak ada yang mengalami pertentangan-pertentangan. (4) Keseimbangan penempatan ragam hias pada tenun songket Jinengdalem terlihat pada keseimbangan simetris. Keseimbangan simetris merupakan pengaturan yang tidak banyak mengambil resiko, karena tidak akan menimbulkan kesan berat sebelah. (5) Penempatan ragam hias pada kain tenun songket dilakukan sesuai dengan motif hias yang dibuat. Karena masing-masing motif hias sudah ada polanya seperti misalnya motif hias tirta nadi, siapapun yang membuat motif hias tersebut polanya pasti sama sesuai pakem sebagai motif hias kain tenun songket Jinengdalem. Variasi yang dilakukan oleh perajin adalah pada pengaturan atau penempatan isian-isian dari motif tersebut. Variasi juga dilakukan pada penempatan objek-objeknya, dan juga pada penempatan hiasan pinggirnya pada kain.
PENGGUNAAN ENGLISH AS MEDIUM OF INSTRUCTIONS (EMI) DAN KONSEKUENSINYA TERHADAP PROSES PEMBELAJARAN DITINJAU DARI PERSEPSI SISWA Artini, Luh Putu
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 2, No 1 (2013)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (34.905 KB) | DOI: 10.23887/jish-undiksha.v2i1.1312

Abstract

Penelitian ini bertujuan menjelaskan penggunaan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar (EMI) di kelas, bagaimana persepsi guru dan siswa tentang penggunaan bahasa tersebut dan konsekuensinya terhadap proses pembelajaran. Data dikumpulkan dari empat sekolah menengah atas unggulan di Bali melalui rekaman penggunaan bahasa di kelas, kuesioner persepsi guru dan siswa terhadap penggunaan bahasa Inggris dan wawancara. Data dianalisis secara kualitatif deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan adanya komitmen dari guru dan siswa untuk menggunakan bahasa Inggris sebanyak mungkin dalam proses pembelajaran walaupun baik guru maupun siswa memiliki keterbatasan dalam hal penguasaan bahasa asing tersebut. Data persepsi menunjukkan bahwa guru secara umum kurang percaya diri dalam menggunakan bahasa asing tersebut dalam proses pembelajaran. Secara konsisten siswa merasa bahasa Inggris yang digunakan oleh guru dalam mengajar kurang jelas. Sebagai kosekuensinya siswa mengalami kesulitan memahami pelajaran dan pengerjaan tugas-tugas. Penelitian ini memberikan bukti empiris tentang perlunya peninjauan kebijakan tentang pendidikan bilingual dalam konteks pendidikan formal di Indonesia.
PERBAIKAN KONDISI KERJA BERBASIS KEARIFAN LOKAL YANG RELEVAN DENGAN KONSEP ERGONOMI UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS KESEHATAN DAN PRODUKTIVITAS PEMATUNG Sutajaya, I Made
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 2, No 1 (2013)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1338.014 KB) | DOI: 10.23887/jish-undiksha.v2i1.1313

Abstract

Tujuan utama penelitian adalah mengetahui perbaikan kondisi kerja berbasis kearifan lokal yang relevan dengan konsep ergonomi untuk meningkatkan kualitas kesehatan dan produktivitas pematung. Penelitian quasi eksperimental ini menggunakan rancangan sama subject ( treatment by subject design) yang melibatkan 30 pematung sebagai sampel yang dipilih secara acak dengan multistage random sampling. Subjek diberi perlakuan berupa perbaikan kondisi kerja. Hasilnya dianalisis dengan uji t paired dan menunjukkan bahwa kualitas kesehatan pematung meningkat dilihat dari penurunan beban kerja, kelelahan, dan keluhan musculoskeletal secara bermakna (p < 0,05). Seirama dengan peningkatan kualitas kesehatan juga terjadi peningkatan produktivitas secara bermakna (p < 0,05). Dengan demikian dapat disimpulkan perbaikan kondisi kerja berbasis kearifan lokal yang relevan dengan konsep ergonomi dapat mengurangi beban kerja sebesar 8,72%., keluhan muskuloskeletal sebesar 12,23%., kelelahan sebesar 22,11%, dan meningkatkan produktivitas sebesar 14,85%.
MEMBACA TUBUH GUSTI AYU KADEK MURNIASIH: REPRESENTASI SEKS, KEKERASAN, DAN KUASA LAKI-LAKI ., Hardiman
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 2, No 1 (2013)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1359.809 KB) | DOI: 10.23887/jish-undiksha.v2i1.1407

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan dan mendeskripsikan bentuk dan fungsi subject matter tubuh Gusti Ayu Kadek Murniasih dalam karya lukisannya; untuk mengungkapkan dan mendeskripsikan pula makna representasi seks, kekerasan, dan kuasa laki-laki dalam lukisan karya Gusti Ayu Kadek Murniasih. Penelitian kualitatif dengan pendekatan cultural studies ini, sebagaimana yang diringkus oleh teori-teori kritis, terutama diharapkan menghasilkan pembacaan konteks dengan tetap tidak mengabaikan pembacaan teks (visual). Penelitian ini memperoleh hasil: (1) Bentuk dan fungsi lukisan I Gusti Ayu Kadek Murniasih adalah turunan dari gaya Pengosekan. Ini ditandai dengan penggunaan kontur yang tegas sebagai pembagi unit-unit objek, bentuk berjejer dan repetisi, yang secara konviguratif menghasilkan susunan ornamen yang dekoratif. Murni menemukan idioleknya sendiri yang khas. (2) Tema lukisan Murni adalah persoalan seksual yang didorong oleh realitas biografinya yang mengalami peristiwa kekerasan fisik terhadap tubuhnya. Sebuah laku kekerasan yang memosisikan perempuan sebagai objek seksual bagi laki-laki.
PERKEMBANGAN FEMINISME BARAT DARI ABAD KEDELAPAN BELAS HINGGA POSTFEMINISME: SEBUAH TINJAUAN TEORETIS Suwastini, Ni Komang Arie
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 2, No 1 (2013)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1338.565 KB) | DOI: 10.23887/jish-undiksha.v2i1.1408

Abstract

Tulisan ini mengulas perkembangan feminisme barat dari abad ke delapan belas hingga abad ke dua puluh satu saat feminisme memasuki era postfeminisme untuk mengungkapkan perubahan feminisme dari waktu ke waktu merupakan perkembangan yang menunjukkan kemampuan feminisme untuk menyesuaikan diri dengan tuntutan situasi dan kondisi yang dialami perempuan. Dalam garis besar, feminisme dapat dibagi menjadi empat tonggak perkembangan, yakni feminisme awal, feminisme gelombang pertama, feminisme gelombang kedua, dan feminisme gelombang ketiga dan/atau postfeminisme. Secara umum keempatnya memiliki tujuan yang sama yakni untuk memperjuangkan subjektivitas perempuan Masing-masing gelombang memiliki penekanan perjuangan yang berbeda dan setiap gelombang berikutnya merupakan revisi dari gelombang sebelumnya. Dikotomi feminisme gelombang ketiga dan/atau postfeminisme merupakan perkembangan yang paling majemuk dan menimbulkan banyak kontroversi karena postfeminisme merupakan persinggungan antara feminisme dan postmodernisme yang berkembang menjelang pergantian milennium yang berpadu dengan kebutuhan internal dalam feminisme sendiri. Kemajemukan dalam perkembangan feminisme terakhir ini harus dipandang sebagai kekayaan dan kelebihan karena itu berarti feminisme semakin terbuka terhadap perbedaan dan perubahan.
MODAL SOSIAL DALAM PENGINTEGRASIAN MASYARAKAT MULTIETNIS PADA MASYARAKAT DESA PAKRAMAN DI BALI Raga, Gede
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 2, No 2 (2013)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (207.444 KB) | DOI: 10.23887/jish-undiksha.v2i2.2176

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengungkapkan tentang modal sosial dalam pengintegrasian masyarakat multietnis pada desa pakraman di Bali yang di dalamnya mencakup kemultietnikan masyarakat desa pakraman, pola pemukiman masyarakat multietnik, jaringan hubungan sosial antaretnis, bentuk-bentuk integrasi antar etnis, model kontrol sosial yang dikembangkan guna mempertahankan integrasi antaretnik pada desa pakraman. Kajian terhadap hal itu akan dilakukan dengan memanfaatkan teori-teori kritis, dengan pendekatan kualitatif. Berdasarkan hal itu, terungkap bahwa masyarakat desa pakraman di Bali merupakan masyarakat multietnik, kemultietnikan tersebut dapat dilihat dari adanya berbagai kelompok etnik yang bermukim di wilayah tersebut, seperti etnis Bali, etnis Tionghoa, dan etnis Jawa. Pola pemukimannya pada umumnya cenderung mengelompok dan berada dekat dengan pusat aktivitas ekonomi, jalur utama dan cenderung berbaur dengan etnis lainnya. Jaringan hubungan sosial yang dikembangkan ada yang didasarkan atas kedekatan tempat tinggal, kekerabatan, kepentingan sosial, ekonomi, budaya dan politik. Integrasi sosialnya tampak dalam bentuk perkawinan, hubungan pertetanggaan/ hubungan tempat tinggal, persekutuan/perkumpulan/organisasi sosial baik yang berbasis sosial, budaya, ekonomi maupun politik. Model kontrol sosial yang dikembangkan berupa penanaman nilai melalui sosialisasi, pemanfaatan sistem sosial keluarga/kuren, desa pakraman, berbagai kelembagaan formal, dan dengan pemanfaatan budaya fisik seperti surat, telepon, radio, pengeras suara. Di samping itu, juga digunakan bahasa. Dengan kata lain kontrol sosial dalam pemeliharaan modal sosial dan integrasi antar etnik dilakukan secara sekala dan niskala.
HUBUNGAN ANTARA KUALITAS LAYANAN PERPUSTAKAAN UNDIKSHA DAN KEPUASAN PENGGUNANYA Dharma, Nyoman Oka
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 2, No 2 (2013)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (224.132 KB) | DOI: 10.23887/jish-undiksha.v2i2.2177

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kualitas pelayanan Perpustakaan Undiksha dengan kepuasan penggunanya. Pengukuran kualitas pelayanan berdasarkan pada lima dimensi kualitas pelayanan yang dikemukakan oleh Parasuraman,dkk, yaitu bukti langsung (tangible), keandalan (reliability), daya tanggap (responsiveness), jaminan (assurance), dan empati (empathy). Penelitian ini menggunakan pendekatan ex post facto. Sampel penelitian ini adalah mahasiswa Undiksha yang berkunjung ke perpustakaan Undiksha sebanyak 60 orang. Teknik pengambilan sampel menggunakan accidental random sampling. Data utama dalam penelitian ini dikumpulkan dengan menggunakan kuisioner, sedangkan data pendukungnya dikupulkan dengan observasi dan wawancara. Data yang telah terkumpul dianalisis dengan menggunakan analisis kuantitatif. Penelitian ini menemukan bahwa terdapat hubungan kualitas pelayanan terhadap kepuasan pengunjung perpustakaan Undiksha dilihat dari aspek bukti langsung (katagori agak rendah); kehandalan (katagori cukup); cepat tanggap (katagori tinggi); kepastian (katagori agak rendah); dan empati (katagori tinggi). Secara umum besarnya korelasi antara kualitas pelayanan terhadap kepuasan pengunjung r = 0,952 sedangkan kontribusinya sebesar 0,906 atau 90,60%, dimana hal ini diinterpretasikanke dalam katagori sangat kuat

Page 1 of 14 | Total Record : 132