cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Arsitektur Mintakat
ISSN : 14117193     EISSN : 26544059     DOI : 10.26905
Core Subject : Social, Engineering,
Mintakat: Jurnal Arsitektur (JAM) dalam versi jurnal online yang terbit di tahun 2017 ini sebenarnya adalah format baru dari penerbitan offline sejak tahun 2000. Jurnal ini diterbitkan oleh oleh Group Konservasi Arsitektur & Kota, Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Merdeka Malang. Dalam format online JAM merencanakan akan terbit 2 (dua) kali dalam setiap volume pada bulan Maret dan September.
Arjuna Subject : -
Articles 41 Documents
PERKEMBANGAN POLA SPASIAL KAMPUNG PADA SENTRA USAHA BERBASIS RUMAH TANGGA (UBR) Tutuko, Pindo
Mintakat: Jurnal Arsitektur Vol 18, No 1 (2017): Maret 2017
Publisher : Architecture Department University of Merdeka Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (916.58 KB) | DOI: 10.26905/mintakat.v18i1.1414

Abstract

Penelitian ini merupakan penelitian lanjutan dari penemuan adanya pola perkembangan hunian rumah produktif kampung Sanan ?Tempe? (Tutuko, 2004). Pada penelitian kali ini akan diteliti perubahan yang terjadi pada aspek permukiman dan lingkungan hunian Usaha Berbasis Rumah Tangga (UBR) UKM. Harapan yang akan dicapai adalah menemukan pola spasial kampung akibat perkembangan UBR dan kondisi permukiman dari aspek fisik. Metode yang digunakan untuk penelitian kualitatif ini adalah metoda penelitian perkembangan. Untuk mendapatkan hasil yang diinginkan, pendekatan yang dilakukan untuk melakukan studi tentang perkembangan rumah produktif adalah dengan menggunakan teori pengembangan rumah oleh Silas (1993). Sedangkan untuk menelusuri hal-hal yang perlu diperhatikan, hasilnya  ditampilkan dalam bentuk diagramatis, ditunjang oleh kognisi lingkungan yang dikemukakan oleh Rapoport (1977). Hasil penelitian adalah mengkategorikan faktor-faktor perkembangan pola spasial kampung berdasarkan 5 aspek, yaitu: 1) Perkembangan bentuk dan pola permukiman; 2) Ruang dan lahan dalam permukiman dan perkembangannya; 3) Prasarana dasarpermukiman; 4) Aspek permukiman; dan 5) Pembangunan oleh masyarakat. DOI: https://doi.org/10.26905/mintakat.v18i1.1414
Pemakaian Modul Photovoltaics di Remote Area, Kasus: Kantor Kepolisian Sektor (Polsek) Boni, Nurhamdoko
Jurnal Arsitektur Mintakat Vol 6, No 2 (2005): September 2005
Publisher : Jurnal Arsitektur Mintakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kepolisian Sektor (Polsek) merupakan institusi pelayanan publik non komersial yang berfungsi untuk menjaga keamanan dan ketertiban warga pada wilayah yang dibawahinya. Dalam menjalankan fungsinya sebuah polsek dituntut untuk selalu dalam rantai komunikasi yang tidak terputus dengan semua bagian diatasnya sehingga kehandalan dan kesiapan alat menjadi hal yang vital.
STUDI KENYAMANAN TERMAL PADA RUMAH SUSUN MENANGGAL, SURABAYA Mufidah, Mufidah
Mintakat: Jurnal Arsitektur Vol 5, No 1 (2004): Maret 2004
Publisher : Architecture Department University of Merdeka Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4318.534 KB) | DOI: 10.26905/mintakat.v5i1.583

Abstract

MORFOLOGI DAN TIPOLOGI KOTA TRENGGALEK Handoko, Rifan
Mintakat: Jurnal Arsitektur Vol 5, No 1 (2004): Maret 2004
Publisher : Architecture Department University of Merdeka Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26905/mintakat.v5i1.1943

Abstract

Perkembangan kota Trenggalek yang dikaji dengan tinjauan historis dari studi morfologi dan tipologi dikelompokkan ke dalam kawasan pemerintahan, kawasan perdagangan dan kawasan permukiman. Pusat pemerintahan pertama kali dibentuk pada abad 18 sebagai daerah kekuasaan Mataram dan terletak di Surodakan yang berupa kadipaten. Pada pemerintahan kolonial Belanda banyak penambahan di sekitar alun-alun untuk fungsi dan kadipaten menjadi kota kawedanan dari kabupaten Tulungagung. Pada masa kemerdekaan terjadi perluasan alun-alun yang memotong sumbu jalan utama dan perubahan fungsi. Kawasan permukiman berciri tradisional dengan penggunaan toponim Jawa seperti Pandean, Dabangsan, Sasoetan, Tamertan, Jambangan, Ngantru, Ngemplak dan Sawahan. Pada masa pemerintahan kolonial Belanda dilakukan pembagian menurut tingkatan masyarakatnya yaitu : permukiman bangsawan dan pemerintah, permukiman Belanda, permukiman kaum Cina dan terakhir permukiman pribumi. Saat ini hal tersebut tidak tampak lagi karena dibumihanguskannya pusat kota pada tahun 1949 dan minoritasnya penduduk Cina. Kawasan perdagangan dimulai dengan pasar tradisional yaitu Pasar Pon yang terletak di jalan Panglima Sudirman kelurahan Sumbergedong. Kegiatan perdagangan ini juga diwarnai oleh kedatangan etnis Cina yang bermukim disekitar Pasar Pon. Sampai saat ini perekonomian kota relatif lambat dan cenderung tertarik ke arah Tulungagung.
PERUBAHAN PENGGUNAAN RUANG KOTA DAN BANGUNAN PADA KAWASAN BUDAYA OLEH PERKEMBANGAN TEKNOLOGI DALAM KONSTRUKSI DAN UPAYA REVITALISASI Sadana, Agus S.
Mintakat: Jurnal Arsitektur Vol 18, No 1 (2017): Maret 2017
Publisher : Architecture Department University of Merdeka Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (285.722 KB) | DOI: 10.26905/mintakat.v18i1.1477

Abstract

Upaya pelestarian dan konservasi bangunan kuno pada kawasan budaya hingga saat ini masih menemui nanyak kendala. Perubahan struktur kota yang kurang terkendali sebagai akibat dari pesatnya perkembangan perekonomian mempunyai andil yang cukup besar dalam tersingkirkannya kawasan budaya di sebagian kota-kota besar. Semakin banyaknya kebutuhan luas ruang dalam bangunan pada lahan yang sama telah mendorong public dan arsitek untuk memaksimalkan penggunaan lahan. Perkembangan perekonomian yang pesat juga mendorong public untuk mencari image-image baru sebagai identitas kemajuan itu sendiri. Selanjutnya, kehadiran teknologi modern masa kini dalam dunia konstruksi juga semakin mempermudah public dan arsitek mewujudkan image-image baru tersebut ke dalam sosok bangunan. Masih lemahnya perhatian pada pelestarian serta lemahnya pengawasan pada penggunaan lahan perkotaan mendorong terjadinya perubahan pola tata ruang kawasan dan bangunan yang nyaris tak terkendali. Akibatnya, di sebagian kawasan budaya sering munculnya sosok bangunan baru tanpa identitas yang jelas, terjadi perubahan bahkan pemusnahan pada bangunan-bangunan lama yang menjadi penanda kawasan tersebut, atau terjadi perpindahan aktivitas ke dalam kawasan dan sosok bangunan baru di luar kawasan pusat kota lama. Akibatnya, pusat kota lama mulai kehilangan identitasnya, atau perlahan-lahan menjadi kawasan mati karena ditinggalkan penghuninya. Perkembangan yang demikian ini bertolak belakang dengan cita-cita dan nilai-nilai yang terkandung dalam upaya pelestarian. Padahal kawasan budaya masa lalu dengan identitas yang jelas merupakan asset yang dapat dikembangkan sebagai kawasan wisata budaya, sehingga akan memberikan multiplier effect semakin pouplernya suatu kawasan dan kota serta memberikan sumber-sumber pendapatan baru bagi pemerintah dan masyarakat dari berbagai aktivitas yang yang menyertainya. DOI: https://doi.org/10.26905/mintakat.v18i1.1477
RONA PERILAKU (BEHAVIOR SETTING) DAN KEPUASAN PENGHUNI SEBAGAI DASAR PENYEMPURNAAN KRITERIA RANCANG BANGUN RUSUNAWA (STUDI KASUS : RUMAH SUSUN SEDERHANA SEWA DI MALANG ) Subagijo, Edi
Mintakat: Jurnal Arsitektur Vol 18, No 1 (2017): Maret 2017
Publisher : Architecture Department University of Merdeka Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (550.737 KB) | DOI: 10.26905/mintakat.v18i1.1415

Abstract

Pada saat ini tahun 2008 perkembangan teknologi sangat pesat, berbagai bentuk arsitektur sangat beragam dan lebih inovatif. Disain arsitek lebih mencerminkan ke arah masa depan daripada ke masa silam. Konservasi arsitektur dianggap kurang mengakomodasi tuntunan jaman dan ekonomis. Namun masih ada faktor-faktor dari aspek manusia yang dilupakan. Seperti contoh rumah susun di negara lain yang sudah dihuni selama berpuluh-puluh tahun telah menimbulkan permasalah-an. Kegagalan rumah susun di negara lain tidak disebabkan oleh faktor teknis, justru faktor non teknis, yaitu faktor manusiasebagai penghuni kurang mendapat perhatian (Eko Budiharjo, 1984), seperti : Rumah susun 12 lantai Pruit Igoe di St. Louis tahun 1972 dan rumah susun Ronan Point di Inggris tahun 1968, telah dibongkar karena banyak permasalahan sosial. Manusia sebagai mahluk sosial tidak bisa hidup, jika tidak berdampingan dengan manusia lain untuk berinteraksi sosial. Gerakan sejuta rumah dan seribu tower yang dicanangkan oleh presiden Susilo Bambang Yudoyono, akan memicu pembangunan rusunawa di kota-kota besar(Menpera, 2006). Kota Malang sebagai kota besar ke 2 di Jawa Timur, sudah membangun rusunawa sejumlah 2 blok, terdiri 3 lantai dan dihuni selama 10 tahun. Penelitian deskriptif dengan menekankan aspek spesifik yaitu persepsi dan perilaku. Kepuasan penghuni dalam melakukan kegiatan bersama dapat diukur dengan persepsi penghuni melalui kuisner, terutama kepuasan terhadap privacy, teritoriality, dan crowding, kemudian dianalisis dengan model skala Osgood dan Likert, kemudian hasilnya ditabulasikan. Sedangkan rona perilaku (bahavior setting) melalui pengamatan di lapangan, dicari sebab akibat pola perilaku kebersamaan itu terjadi, kemudian dianalisis pengaruh elemen-elemen arsitektur apa yang mempengaruhinya. Selasar yang cukup luas, setiap unit rumah saling berhadapan, void di tengah untuk masuknya cahaya matahari dan setiap lantai bisa saling melihat, merupakan tempat yang paling sering untuk berinteraksi sosial. Selasar merupakan ruang multifungsi yang digunakan penghuni berinterksi sosial. Responden merasa cukup puas dalam melakukan kebersamaan di Ruang bersama (selasar, MCK umum, dan Dapur). DOI: https://doi.org/10.26905/mintakat.v18i1.1415
PENELUSURAN HISTORIS MELALUI VISUAL BANGUNAN ART DECO SEBUAH UPAYA BUFFER KUALITAS WAJAH KOTA KE ERA KOMERSIALISASI DI MALANG Santoso, Imam
Mintakat: Jurnal Arsitektur Vol 18, No 1 (2017): Maret 2017
Publisher : Architecture Department University of Merdeka Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (359.962 KB) | DOI: 10.26905/mintakat.v18i1.1396

Abstract

Penelusuran historis sebagai upaya dalam menata performance wajah kota telah lama dilakukan dibeberapa negara maju di Eropa dan Amerika, bahkan merambah di Asia Tenggara seperti Singapura dan Malaysia, yangmana telah banyak memberi nilai tambah bagi aset pariwisata kota melalui penandaan tempat atau kawasan seperti Chinatown, Little India, ataupun Raffles City . Dalam beberapa hal, peningkatan atau performance suatu kawasan tersebut selalu ditandai dengan sentuhan-sentuhan terhadap bangunan-bangunan yang memiliki nilai-nilai tertentu, baik secara visual bangunannya yang dikuatkan pada nilai-nilai historisnya. Fenomena perkembangan pembangunan kota hingga saat ini belum beranjak dari era komersialisme sebagai bagian dari modernisme kehidupan kota, terutama di Indonesia (secara umum). Apapun yang bernilai komersial menjadi alasan yang dianggap cukup kuat untuk membangun yang baru dan membongkar yang lama (yang bernilai histories). Fenomena yang sama tidak ada kecuali terjadi di kota Malang. Dalam kurun waktu 5 tahun terakhir ini, telah dibangun puluhan fasilitas komersial di kawasan kota Malang baik berupa ruko, kantor, hotel, dsb yang didirikan dengan mengabaikan aspek keselarasan dan kesinambungan kualitas wajah kota. Bahkan sebagian besar cenderung melanggar aturan-aturan teknis pembangunan yang ditetapkan pihak Pemkot. Kota Malang memiliki karakteristiknya sendiri sebagai salah satu kota koloni Belanda. Sejak tahun 1914 kota Malang direncanakan dengan sangat baik oleh arsitek Belanda Thomas Karsten. Perkembangan arsitektur kota Malang pada masa kolonial tidak lepas dari pengaruh arsitektur modern yang sedang melanda pada waktu itu. Tak terkecuali pada era 1920 dan 1930 an, saat berkembangnya style Art Deco di Eropa. Dalam beberapa kasus bangunan kolonial di kota Malang, karakteristik Art Deco masih eksis dan relevan dengan perkembangan jaman hingga saat ini. Sebagai contoh adalah bangunan yang berada di kawasan Kayutangan. Art Deco sebagai semangat berarsitektur (walaupun belum ada penelitian tentang hal ini), dapat dirasakan hingga saat ini. Gaya minimalis yang banyak digemari saat ini diyakini oleh sebagian arsitek di Indonesia memiliki kekuatan rancangan Art Deco. Salah satu ciri streamline hasil fabrikasi serta teknik pembentukannya dipandang sukses membentuk citra masa lampau sekaligus masa kini. Di beberapa negara di Eropa (Perancis, Belanda, dsb), dan Amerika ( Miami), style Art Deco memberi peran yang cukup besar bagi wajah kota dan kontribusi bagi kepariwisataan hingga dikenal hingga saat ini. (Tinniswood: 2002, Cherwinsky: 1981). Wajah bangunan kota Malang memiliki sebagian dari karakteristik Art Deco. Mendasarkan pada wacana Art Deco sebagai semangat berarsitektur, tentunya aset-aset bangunan yang masih tersisa di Kota Malang menjadi sangat berharga untuk dikaji. Sehingga,studi tentang karakteristik bangunan Art Deco di kawasan Kota Malang sangat diperlukan untuk menjaga performance wajah kota, dalam rangka melestarikan pusaka kota. Permasalahan yang selalu muncul untuk dikaji harus mampu menjawab tentang adanya pertanyaan seperti: Bagaimanakah karakteristik visual bangunan Art Deco di kawasan Kota Malang? DOI: https://doi.org/10.26905/mintakat.v18i1.1396
KESENJANGAN KONSEP DAN PENERAPAN GAYA MODERN MINIMALIS PADA BANGUNAN RUMAH TINGGAL Wahjutami, Erlina Laksmiani
Mintakat: Jurnal Arsitektur Vol 18, No 1 (2017): Maret 2017
Publisher : Architecture Department University of Merdeka Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (617.352 KB) | DOI: 10.26905/mintakat.v18i1.1416

Abstract

Gaya Arsitektur Modern Minimalis sedang menjadi trend dalam mengisi kekayaan khasanah arsitektur di Indonesia. Banyak pengembang yang menawarkan gaya ini pada rumah-rumah tinggal yang mereka bangun. Dalam penawarannya mereka menyebutkan gaya Modern MINIMALIS ini sebagai bagian dari pemasaran mereka. Tetapi apabila dikaji lebih dalam, unsur-unsur dan prinsip-prinsip perancangan yang mereka pakai sebagai konsep Modern MINIMALIS tersebut kurang atau bahkan tidak mencerminkan gaya tersebut apabila ditelusur dari unsur-unsur dan prinsip-prinsip perancangan yang diambil dari arsitek-arsitek Modernist pencetusnya. Arsitek-arsitek Modernist yang mewakili pemikiran gaya ini diantaranya adalah: Mies van der Rohe, Frank Lloyd Wright, Le Corbusier, Gerrit Rietveld,, dan masih banyak lagi lainnya. Mereka secara umum mencanangkan Arsitektur Modern sebagai dasar berpikir merancangnya walaupun mereka mempunyai kekhasan konsep masing-masing yang berbeda. Gaya arsitektural Minimalis yang ditawarkan pengembang - terutama pada pemecahan fasadenya - bisa jadi merupakan persepsi dari masing-masing arsiteknya atau hanya merupakan salah satu strategi pemasarannya saja. Denah tidak menjadi bagian dari bahan pertimbangan konsep MINIMALIS tersebut, Hal ini terlihat dari penyelesaian denah yang standar, tidak diselesaikan dengan pemikiran khusus. Pada akhirnya, pemilihan istilah Modern MINIMALIS untuk gaya perancangan bangunan yang banyak ditawarkan pengembang tersebut lebih pada penyelesaian fasadenya yang minimal, tidak mendalam sampai pada tataran filosofi seperti yang yang telah digariskan oleh para arsitek pencetusnya. DOI: https://doi.org/10.26905/mintakat.v18i1.1416
KONSERVASI MASIH MINORITAS Liauw, Franky
Mintakat: Jurnal Arsitektur Vol 18, No 1 (2017): Maret 2017
Publisher : Architecture Department University of Merdeka Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (253.137 KB) | DOI: 10.26905/mintakat.v18i1.1468

Abstract

Pihak yang pro konservasi masih minoritas. Konservasi dalam arti mempertahankan bangunan tua pada kondisi seperti semula menjadi barang aneh di tengah perubahan yang sangat pesat dalam hampir semua aspek kehidupan, di tengah persepsi bahwa perubahan dan perkembangan adalah tanda kemajuan. Konservasi hanya penting bagi minoritas ini. Bagaimana caranya membuat konservasi menjadi penting juga bagi mayoritas masyarakat ? Mungkin ini adalah jalan keluarnya. Buktikan disertai fakta-fakta yang meyakinkan mengenai dampak negatifnya bila kita tidak mempertahankan warisan budaya bernilai tinggi bangsa kita, bila kita menghancurkan bangunan-bangunan tua bersejarah yang menjadi identitas suatu kota, bila kita melupakan pengalaman dan nilai-nilai dari pendahulu kita, Buktikan juga bahwa konservasi tidak berarti mengurangi hak generasi mendatang dalam memenuhi kebutuhan mereka sesuai dengan perkembangan jamannya, bahwa konservasi tidak akan menjadi halangan bagi kebebasan generasi mendatang dalam menjalani kehidupannya, bahkan justeru sebaliknya, bahwa konservasi tidak akan merugikan pemilik bangunan bersangkutan, bahkan akan menguntungkan. Buktikan disertai perhitungan-perhitungan yang kuat bahwa konservasi justeru akan mendatangkan keuntungan bagi masyarakat dalam bidang ekonomi, bahkan akan meningkatkan mutu kehidupan masyarakat dan lingkungan hidup secara keseluruhan. Buktikan bahwa konservasi bukan berarti anti perubahan dan kemajuan, tapi dapat berjalan seiring dan justeru dapat menunjang kemajuan dan keseimbangan dalam kehidupan masyarakat, juga dengan perkembangan teknologi. Buktikan bahwa konservasi bukan hanya keinginan sekelompok elit tertentu untuk bernostalgia, tapi memang mewakili kepentingan kita semua. Buktikan bahwa konservasi tidak bersifat kaku dan hanya memaksakan kepentingan sepihak, tapi dapat dijalankan dengan fleksibel disesuaikan dengan kondisi dan perkembangan masyarakat. Buktikan bahwa masyarakat pelaku konservasi akan mendapat dukungan penuh karena tindakan ini bukan hanya bagi kepentingannya pribadi melainkan untuk kepentingan umum, bukan dipaksa atau malah menanggung semua beban biayanya sendiri. Masyarakat perlu diberikan bukti, bukan hanya kata-kata bujukan atau paksaan untuk melakukan konservasi. Masyarakat kita telanjur terlalu lama diberikan janji tanpa bukti. Bila persepsi terhadap konservasi dapat diubah, masyarakat banyak akan mendukung. DOI: https://doi.org/10.26905/mintakat.v18i1.1468
ADAPTASI TEKNOLOGI DI RUMAH ADAT SUMBA Winandari, Ririk
Mintakat: Jurnal Arsitektur Vol 18, No 2 (2017): September 2017
Publisher : Architecture Department University of Merdeka Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (210.172 KB) | DOI: 10.26905/mintakat.v18i2.1470

Abstract

Pulau sumba memiliki beberapa kampung adat yang masih dan akan terus dipertahankan di masa depan. Masing-masing kampung adat memiliki karakter arsitektur khas, sebuah representasi arsitektur megalitik di bagian Timur nusantara, yang tidak dapat dijumpai di tempat lain. Kekhasan tersebut merupakan bentukan fisik sebuah proses panjang kegiatan dan budaya masyarakat setempat yang juga dipengaruhi oleh faktor ekonomi, bahkan politik penguasa. Keinginan untuk mempertahankan kekhasan inilah yang menjadi kekuatan utama konservasi rumah adat Sumba. Pada dasarnya, konservasi merupakan upaya yang dilakukan untuk melestarikan bangunan, mengefisienkan penggunaan serta mengatur arah perkembangan di masa mendatang. Di masa kini, upaya tersebut harus didukung oleh perkembangan teknologi. Tanpa dukungan teknologi, bisa dibayangkan ratusan kayu yang harus ditebang, ratusan kubik batu cadas tepian pantai yang harus dipindahkan, dan ratusan alang-alang yang harus ditanam. Dengan kata lain, penggunaan teknologi serta alternatif material sangat diperlukan untuk mempermudah pelestarian bangunan dan lingkungan. Tentunya, penggunaan teknologi tersebut harus berada dalam koridor pelestarian bangunan dan lingkungan. Paper ini akan memaparkan mengenai bantuan teknologi dalam proses kesinambungan budaya dan fisik bangunan rumah adat Sumba.  DOI: https://doi.org/10.26905/mintakat.v18i2.1470