cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Bahan Alam Terbarukan
ISSN : 23030623     EISSN : 24072370     DOI : -
Core Subject : Science,
This journal presents articles and information on research, development and applications in biomass conversion processes (thermo-chemical conversion; physico-chemical conversion and bio-chemical conversion) and equipment to produce fuels, power, heat, and value-added chemicals from biomass. A biorefinery takes advantage of the various components in biomass and their intermediates therefore maximizing the value derived from the biomass feedstock. A biorefinery could, for example, produce one or several low-volume, but high-value, chemical or nutraceutical products and a low-value, but high-volume liquid transportation fuel such as biodiesel or bioethanol (see also alcohol fuel). The high-value products increase profitability, the high-volume fuel helps meet energy needs, and the power production helps to lower energy costs and reduce greenhouse gas emissions from traditional power plant facilities. Future biorefineries may play a major role in producing chemicals and materials that are traditionally produced from petroleum.
Arjuna Subject : -
Articles 12 Documents
Search results for , issue " Vol 3, No 1 (2014): June 2014" : 12 Documents clear
SINTESIS BIODIESEL DARI MINYAK MIKROALGA Chlorella vulgaris DENGAN REAKSI TRANSESTERIFIKASI MENGGUNAKAN KATALIS KOH Widyastuti, Catur Rini; Dewi, Ayu Candra
Jurnal Bahan Alam Terbarukan Vol 3, No 1 (2014): June 2014
Publisher : Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jbat.v3i1.3099

Abstract

Biodiesel merupakan salah satu energi alternatif yang dianggap mampu menjawab permasalahan kelangkaan bahan bakar minyak. Biodiesel dapat disintesis dari minyak nabati melalui reaksi transesterifikasi. Sumber minyak nabati yang potensial adalah mikroalga yang memiliki produktifitas minyak yang lebih tinggi per satuan luas lahan yang digunakan jika dibandingkan dengan tanaman darat. Mikroalga jenis Chlorella sp diketahui mengandung komponen lipid cukup tinggi yaitu sebesar 14-22%. Langkah-langkah penelitian yang dilakukan meliputi ekstraksi minyak mikroalga dengan n-heksana, reaksi transesterifikasi minyak mikroalga dan metanol dengan katalis KOH, dilanjutkan dengan filtrasi untuk memisahkan produk biodiesel dengan gliserol yang terbentuk. Untuk mengetahui kandungan kimia dalam bahan baku dan produk, minyak hasil ekstraksi mikroalga dan biodiesel yang dihasilkan dianalisis dengan GC-MS. Dari hasil uji GC-MS diketahui dua kandungan asam lemak terbesar dalam minyak mikroalga, yaitu Dodecanoic acid sebesar 59.52% dan n-Decanoic acid sebesar 12.64%. Dari proses transesterifikasi, yield biodiesel yang diperoleh sebesar 59.85% dengan densitas 0.88 g/cm3. Kandungan kimia biodiesel diketahui terdiri dari senyawa Fatty Acid Methyl Ester (FAME) sebesar 15.4% dan Fatty Acid Ethyl Ester (FAEE) sebesar 21.14%.Biodiesel is one of the alternative energy which expected to provide a solution towards our dependence of fossil fuel. Biodiesel could be synthesized from vegetable oil through transesterification process. One of the most potential sources of vegetable oil is microalgae which is more productive than a land-based plant. One of the species of microalgae which is Chlorella sp is known for containing high lipid content from 14 to 22%. The steps of the research including extraction of microalgae oil using n-hexane, transesterification reaction between microalgae and methanol using KOH as a catalyst, and continued by filtration to separate the biodiesel product with the glycerol. To determine the chemical compound of the raw material and the product, the oil of the extracted microalgae and the biodiesel were analyzed using GC-MS. The GC-MS test shows two biggest fatty acid compound are Dodecanoic acid which is 59.52% and n-Decanoic acid which is 12.64%. From the transesterification process, the obtained biodiesel yield is 59.85% with density of 0.88 g/cm3. The chemical compound of the biodiesel known as fatty Acid Methyl Ester (FAME) which is 15.4% and Fatty Acid Ethyl Ester (FAEE) which is 21.14%.
EKSTRAKSI MINYAK ATSIRI DAUN ZODIA (Evodia suaveolens) DENGAN METODE MASERASI DAN DISTILASI AIR Astuti Handayani, Prima; Nurcahyanti, Heti
Jurnal Bahan Alam Terbarukan Vol 3, No 1 (2014): June 2014
Publisher : Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jbat.v3i1.3095

Abstract

Daun zodia merupakan tumbuhan yang berpotensi sebagai insektisida nabati. Daun zodia mengandung senyawa aktif limonene yang bersifat neurotoksin terhadap serangga. Pengambilan minyak atsiri daun zodia dilakuan dengan metode maserasi dan metode distilasi air. Pada metode maserasi bahan digunakan etanol dan dimaserasi selama 3x24 jam. Kemudian didistilasi untuk menguapkan pelarut etanol. Untuk metode distilasi air bahan didistilasi selama 3 jam, campuran minyak dan air dipisahkan dengan menambahkan pelarut n-heksana. Kemudian pelarut n-heksana dipisahkan dari minyak atsiri dengan cara direcovery menggunakan alat sokhlet. Minyak atsiri daun zodia yang dihasilkan dianalisis dengan Gas Cromatography-Mass Spectrometry (GC-MS) untuk mengetahui kandungan senyawa kimianya. Hasil percobaan diperoleh randemen minyak atsiri daun zodia dengan metode maserasi sebesar 1,0566% dengan kandungan senyawa limonene 2,6%, sedangkan metode distilasi diperoleh randemen sebesar 0,6471% dengan kandungan senyawa limonene 1,26 %.Zodia leaf is a plant which has a potential to be plant-based insecticide. Zodia leaf has limonene as its active component which is neurotoxin towards insect. The extraction of the essential oil of the zodiac leaf is conducted using maceration method and water distillation method. In the maceration process, the raw material was macerated using ethanol for 72 hours, after that it was distillated to evaporate the ethanol. In the water distillated method, the raw material was distillated for 3 hours, the mixture of water and oil are separated by adding n-hexane solvent. After that, the n-hexane solvent was separated from the essential oil using recovery method using soxhlet. The obtained essential oil of zodia leaf was analyzed using GC-MS to determine its chemical component. The result of the research provides the yield of essential oil of zodiac leaf using maceration method is 1.0566% with limonene component is 2.6%, whereas the distillation method resulted in 0.6471% yield with 1.26% limonene.
PENGARUH KONSENTRASI BUAH CABAI MERAH (Capsicum annum L.) DAN BUAH CABAI RAWIT (Capsicum frutescens L.) DALAM PRODUKSI BIOGAS DARI SAMPAH ORGANIK Cahyari, Khamdan; Sahroni, Alvin
Jurnal Bahan Alam Terbarukan Vol 3, No 1 (2014): June 2014
Publisher : Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jbat.v3i1.3096

Abstract

Meningkatnya kesejahteraan masyarakat Indonesia berdampak positif bagi peningkatan jumlah pasar tradisional dan komoditas perdagangannya. Namun, permasalahan sampah yang ditimbulkan oleh kegiatan perdagangan tersebut masih belum dapat ditangani dengan baik. Tidak hanya itu, sampah pasar tradisional yang hanya ditimbun di area tempat pembuangan akhir (TPA) telah menyebabkan pencemaran lingkungan berupa kontaminasi air tanah, emisi gas rumah kaca dan masalah kesehatan. Sampah pasar tradisional memiliki potensi yang besar untuk diolah menjadi biogas melalui metode anaerobic digestion. Dengan adanya mikroorganisme, proses ini mampu mendegradasi sampah organik menjadi bahan organik yang stabil dan biogas (metana dan karbondioksida). Salah satu faktor yang mempengaruhi proses tersebut adalah adanya senyawa-senyawa antibiotik yang terkandung dalam sampah. Senyawa capsaicinoid dalam sampah buah cabai merupakan senyawa yang berperan dalam rasa pedas cabai memiliki pengaruh negatif terhadap kinerja mikroorganisme dalam mendegradasi sampah menjadi biogas. Pengaruh konsentrasi buah cabai terhadap produksi biogas ini belum banyak diteliti dan diketahui sehingga perlu dilakukan penelitian untuk menentukan konsentrasi minimal yang menyebabkan proses inhibisi (penghambatan).Hasil penelitian membuktikan adanya pengaruh konsentrasi buah cabai (capsaicinoid) terhadap produksi biogas. Sampah pasar tradisional dengan konsentrasi 8 g VS/liter yang diumpankan terhadap konsorsium mikroorganisme tanpa adanya buah cabai menghasilkan yield biogas yang lebih tinggi dibandingkan dengan sampah yang tercampur buah cabai. Semakin tinggi konsentrasi buah cabai semakin besar pengaruh penghambatannya (inhibition). Hal ini ditunjukkan dengan menurunnya yield biogas yang dihasilkan. Konsentrasi buah cabai yang menghasilkan yield optimal diperoleh pada nilai konsentrasi 5 dan 8 g VS/liter untuk cabai merah dan cabai rawit secara berturut-turut. Yield tertinggi biogas dan gas metana ialah  35 dan 12 ml/g VS (cabai rawit). Persentase reduksi VS relatif cukup tinggi mencapai 75%.The rising of Indonesian welfare has a positive impact towards the number of traditional market and its commodity. However, the problem of waste as a result of the market activity still not handled properly. Moreover, the waste of traditional market which remains in the landfill resulted in pollution such as groundwater contamination, green house emission and also health problems.The waste of traditional market has a big potential to be processed as biogas through anaerobic digestion method. With the presence of microorganism, this process is capable of degrading organic waste into stable organic material and biogas (methane and carbon dioxyde). One of the factor which affecting the process are the antibiotic components contained by the waste. Capsaicinoid which found in chili is the component which responsible to provide the spicy taste, has a negative effect towards the microorganism in degrading the waste into biogas. The effect of chili towards biogas production is not widely known that needs to be investigated, therefore a research needs to be conducted to determine the minimum concentration which resulted in inhibition process. The research result shows the influence of the concentration of chili (capsaicinoid) towards biogas production. Traditional market waste with 8g VS/litre which exposed to microorganism without the existence of chili reulted in higher amount of biogas than the one which mixed with chili. The bigger the concentration of chili, the bigger the inhibition. This is demonstrated by the the decreasing number of the yield of the biogas. The concentration of chili which can resulted in optimal yield production obtained at concentration value of 5 and 8 g VS/ litre for red chili and cayenne pepper respectively. The highest yield of biogas and methane are 35 and 12 ml/g VS (cayenne pepper). The VS reduction percentage is relatively high to 75%.
EKSTRAKSI PEKTIN KULIT BUAH NAGA (Dragon fruit) DAN APLIKASINYA SEBAGAI EDIBLE FILM Megawati, Megawati; Ulinuha, Adientya Yaniz
Jurnal Bahan Alam Terbarukan Vol 3, No 1 (2014): June 2014
Publisher : Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jbat.v3i1.3097

Abstract

Ekstraksi pektin kulit buah naga dilakukan menggunakan metode Microwave Assisted Extraction (MAE) dengan variasi berat bahan (10, 15, and 20 gram) dan waktu ekstraksi (15, 20, and 25 minute). Ekstraksi dengan variasi berat bahan dilakukan pada waktu ekstraksi 25 menit dan daya 600 W, sedangkan ekstraksi dengan variasi waktu dilakukan pada berat bahan 10 gram dan daya 600 W. Pektin yang diperoleh dianalisis kadar pektinnya menggunakan uji Fourier Transform Infrared (FTIR) dan diproses menjadi edible film. Hasil penelitian menunjukkan bahwa yield pektin kulit buah naga  dengan metode MAE  lebih besar dibandingkan metode konvensional. Variasi berat bahan mempengaruhi yield pektin yang dihasilkan, semakin sedikit bahan yang digunakan dalam ekstraksi, semakin besar yield pektin kulit buah naga yang dihasilkan. Yield pektin terbesar (72 %) dihasilkan pada variasi berat 10 gram. Variasi waktu ekstraksi juga memberikan pengaruh terhadap yield pektin, semakin lama waktu ekstraksi semakin besar yield pektin kulit buah naga yang dihasilkan. Yield pektin terbesar dihasilkan pada waktu ekstraksi 25 menit. Pektin hasil ekstraksi dapat digunakan sebagai bahan edible film. Extraction of pectinfrom dragon fruit peel is conducted using Microwave Assisted Extraction (MAE) method with the variation of the weight of the raw materials are 10, 15, and 20 gram and the time of the extraction are 15, 20 and 25 minutes. Extraction with the variation of the weight of raw material is conducted in 25 minutes using power of 600 W, whereas the extraction with the variation of time is conducted with 10 gram of raw material using power of 600 W. The obtained pectin was analyzed using Fourier Transform Infrared (FTIR) and processed into edible film. The result of the research shows that MAE method provides more yield of dragon fruit peel rather than the conventional method. The variation of the weight affecting the amount of the obtained pectin, the less material used in the extraction the more yield of the pectin obtained. The highest amount of pectin obtained when the weight of the material is 10 grams. The variation of time also affecting the obtained result, the longer the extraction time, the yield of the dragon fruit pectin is higher. The highest amount of pectin obtained when the extraction time is 25 minutes. The obtained pectin can be used as material of edible film.
PENINGKATAN KADAR GERANIOL DALAM MINYAK SEREH WANGI DAN APLIKASINYA SEBAGAI BIO ADDITIVE GASOLINE Astuti, Widi; Putra, Nur Nalindra
Jurnal Bahan Alam Terbarukan Vol 3, No 1 (2014): June 2014
Publisher : Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jbat.v3i1.3098

Abstract

Sereh wangi merupakan salah satu tanaman penghasil minyak atsiri yang banyak mengandung geraniol. Geraniol merupakan senyawa penyedia oksigen sehingga minyak sereh wangi dimungkinkan dapat digunakan sebagai bio additive gasoline. Penelitian ini bertujuan  meningkatkan kadar geraniol dalam minyak sereh wangi dan menggunakannya sebagai bio additive gasoline.Penelitian dilakukan dalam  tiga tahap, yaitu  pemungutan minyak sereh wangi dari daun sereh wangi, peningkatan kadar geraniol dalam minyak sereh wangi dan aplikasi minyak sereh wangi yang mengandung geraniol tinggi sebagai bio aditive gasoline.Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemungutan minyak sereh wangi yang dilakukan dengan metode distilasi uap menghasilkan rendemen sebesar 0,76% dengan kadar geraniol 5,36%.Kadar geraniol dapat ditingkatkan menjadi 21,78% melalui proses distilasi vakum pada suhu 120oC. Pengujian minyak sereh wangi dengan kadar geraniol tinggi sebagai bio additive gasoline meliputi uji performa dan efisiensi konsumsi bahan bakar dengan variasi perbandingan volume gasoline dengan bio additive. Hasilnya, penambahan minyak sereh wangi dengan perbandingan volume gasoline ; minyak sereh wangi = 1000:2 mampu meningkatkan power mesin dari 7,8HP menjadi 8,6HP. Sementara, pada pengujian efisiensi bahan bakar, penambahan minyak sereh wangi dengan perbandingan volume gasoline : minyak sereh wangi = 1000:2 dapat meningkatkan efisiensi mesin sebesar 10,8%. Citronella contains geraniol which is an oxygen provider substances, so it may be used as bio additive. The purpose of this research  is to increase geraniol content in citronella oil and use it as a gasoline bio additive. This research is conducted  in three steps including take the citronella oil from citronella leaf, increase geraniol content in citronella oil and use citronella oil as a gasoline bio additive. The result show that citronella oil produced from citronella leaf using vapor distillation method contains geraniol by 5.36%. The content can be increase using vacuum distillation  up to 21.78 % at temperature of 120oC. The citronella oil test as a gasoline bio additive including  performance test and fuel efficiency test with gasoline-bio additive ratio as variable. The addition of citronella oil to gasoline with the volume ratio of gasoline : citronella oil = 1000:2  increases machine power from 7.8 HP to 8.6 HP and fuel efficiency up to 10.8 %.
Pengambilan Minyak Mikroalga Chlorella sp. dengan Metode Microwave Assisted Extraction Barqi, Wildan Syaeful
Jurnal Bahan Alam Terbarukan Vol 3, No 1 (2014): June 2014
Publisher : Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jbat.v3i1.5764

Abstract

Penelitian ini mengkaji metode yang effektif untuk mengambil kandungan minyak dalam mikroalga yang merupakan bahan baku potensial untuk produksi biodiesel. Proses pengambilan minyak mikroalga dilakukan dengan metode Microwave Assisted Extraction (MAE). Kelebihan MAE adalah waktu ekstraksi dan kebutuhan pelarut yang relatif rendah dibanding ekstraksi konvensional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rendemen terbesar dihasilkan dari proses ekstraksi dengan microwave pada daya 450 W selama 20 menit dengan besar rendemen 0,547%. Berdasarkan uji GC-MS, minyak mikroalga hasil ekstraksi mengandung asam oleat, yang merupakan asam lemak tidak jenuh rantai panjang.This study examines effective methods to take the oil content in the microalgae which is a potential raw material for biodiesel production. Microalgae oil was extracted by using method of Microwave Assisted Extraction (MAE). The advantages of using MAE is less amount of solvent consumption and needs relatively lower energy compared to conventional extraction. The results showed that the greatest yield of was obtained from extraction using  microwave power of 450 W for 20 minutes with a yield of 0.547%. According to GC-MS analysis, microalgae oil contain oleic acid, which is a long-chain unsaturated fatty acid.
PENGARUH KONSENTRASI BUAH CABAI MERAH (Capsicum annum L.) DAN BUAH CABAI RAWIT (Capsicum frutescens L.) DALAM PRODUKSI BIOGAS DARI SAMPAH ORGANIK Cahyari, Khamdan; Sahroni, Alvin
Jurnal Bahan Alam Terbarukan Vol 3, No 1 (2014): June 2014
Publisher : Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jbat.v3i1.3096

Abstract

Meningkatnya kesejahteraan masyarakat Indonesia berdampak positif bagi peningkatan jumlah pasar tradisional dan komoditas perdagangannya. Namun, permasalahan sampah yang ditimbulkan oleh kegiatan perdagangan tersebut masih belum dapat ditangani dengan baik. Tidak hanya itu, sampah pasar tradisional yang hanya ditimbun di area tempat pembuangan akhir (TPA) telah menyebabkan pencemaran lingkungan berupa kontaminasi air tanah, emisi gas rumah kaca dan masalah kesehatan. Sampah pasar tradisional memiliki potensi yang besar untuk diolah menjadi biogas melalui metode anaerobic digestion. Dengan adanya mikroorganisme, proses ini mampu mendegradasi sampah organik menjadi bahan organik yang stabil dan biogas (metana dan karbondioksida). Salah satu faktor yang mempengaruhi proses tersebut adalah adanya senyawa-senyawa antibiotik yang terkandung dalam sampah. Senyawa capsaicinoid dalam sampah buah cabai merupakan senyawa yang berperan dalam rasa pedas cabai memiliki pengaruh negatif terhadap kinerja mikroorganisme dalam mendegradasi sampah menjadi biogas. Pengaruh konsentrasi buah cabai terhadap produksi biogas ini belum banyak diteliti dan diketahui sehingga perlu dilakukan penelitian untuk menentukan konsentrasi minimal yang menyebabkan proses inhibisi (penghambatan).Hasil penelitian membuktikan adanya pengaruh konsentrasi buah cabai (capsaicinoid) terhadap produksi biogas. Sampah pasar tradisional dengan konsentrasi 8 g VS/liter yang diumpankan terhadap konsorsium mikroorganisme tanpa adanya buah cabai menghasilkan yield biogas yang lebih tinggi dibandingkan dengan sampah yang tercampur buah cabai. Semakin tinggi konsentrasi buah cabai semakin besar pengaruh penghambatannya (inhibition). Hal ini ditunjukkan dengan menurunnya yield biogas yang dihasilkan. Konsentrasi buah cabai yang menghasilkan yield optimal diperoleh pada nilai konsentrasi 5 dan 8 g VS/liter untuk cabai merah dan cabai rawit secara berturut-turut. Yield tertinggi biogas dan gas metana ialah 35 dan 12 ml/g VS (cabai rawit). Persentase reduksi VS relatif cukup tinggi mencapai 75%.The rising of Indonesian welfare has a positive impact towards the number of traditional market and its commodity. However, the problem of waste as a result of the market activity still not handled properly. Moreover, the waste of traditional market which remains in the landfill resulted in pollution such as groundwater contamination, green house emission and also health problems.The waste of traditional market has a big potential to be processed as biogas through anaerobic digestion method. With the presence of microorganism, this process is capable of degrading organic waste into stable organic material and biogas (methane and carbon dioxyde). One of the factor which affecting the process are the antibiotic components contained by the waste. Capsaicinoid which found in chili is the component which responsible to provide the spicy taste, has a negative effect towards the microorganism in degrading the waste into biogas. The effect of chili towards biogas production is not widely known that needs to be investigated, therefore a research needs to be conducted to determine the minimum concentration which resulted in inhibition process. The research result shows the influence of the concentration of chili (capsaicinoid) towards biogas production. Traditional market waste with 8g VS/litre which exposed to microorganism without the existence of chili reulted in higher amount of biogas than the one which mixed with chili. The bigger the concentration of chili, the bigger the inhibition. This is demonstrated by the the decreasing number of the yield of the biogas. The concentration of chili which can resulted in optimal yield production obtained at concentration value of 5 and 8 g VS/ litre for red chili and cayenne pepper respectively. The highest yield of biogas and methane are 35 and 12 ml/g VS (cayenne pepper). The VS reduction percentage is relatively high to 75%.
Pengambilan Minyak Mikroalga Chlorella sp. dengan Metode Microwave Assisted Extraction Barqi, Wildan Syaeful
Jurnal Bahan Alam Terbarukan Vol 3, No 1 (2014): June 2014
Publisher : Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jbat.v3i1.5764

Abstract

Penelitian ini mengkaji metode yang effektif untuk mengambil kandungan minyak dalam mikroalga yang merupakan bahan baku potensial untuk produksi biodiesel. Proses pengambilan minyak mikroalga dilakukan dengan metode Microwave Assisted Extraction (MAE). Kelebihan MAE adalah waktu ekstraksi dan kebutuhan pelarut yang relatif rendah dibanding ekstraksi konvensional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rendemen terbesar dihasilkan dari proses ekstraksi dengan microwave pada daya 450 W selama 20 menit dengan besar rendemen 0,547%. Berdasarkan uji GC-MS, minyak mikroalga hasil ekstraksi mengandung asam oleat, yang merupakan asam lemak tidak jenuh rantai panjang.This study examines effective methods to take the oil content in the microalgae which is a potential raw material for biodiesel production. Microalgae oil was extracted by using method of Microwave Assisted Extraction (MAE). The advantages of using MAE is less amount of solvent consumption and needs relatively lower energy compared to conventional extraction. The results showed that the greatest yield of was obtained from extraction using microwave power of 450 W for 20 minutes with a yield of 0.547%. According to GC-MS analysis, microalgae oil contain oleic acid, which is a long-chain unsaturated fatty acid.
EKSTRAKSI PEKTIN KULIT BUAH NAGA (Dragon fruit) DAN APLIKASINYA SEBAGAI EDIBLE FILM Megawati, Megawati; Ulinuha, Adientya Yaniz
Jurnal Bahan Alam Terbarukan Vol 3, No 1 (2014): June 2014
Publisher : Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jbat.v3i1.3097

Abstract

Ekstraksi pektin kulit buah naga dilakukan menggunakan metode Microwave Assisted Extraction (MAE) dengan variasi berat bahan (10, 15, and 20 gram) dan waktu ekstraksi (15, 20, and 25 minute). Ekstraksi dengan variasi berat bahan dilakukan pada waktu ekstraksi 25 menit dan daya 600 W, sedangkan ekstraksi dengan variasi waktu dilakukan pada berat bahan 10 gram dan daya 600 W. Pektin yang diperoleh dianalisis kadar pektinnya menggunakan uji Fourier Transform Infrared (FTIR) dan diproses menjadi edible film. Hasil penelitian menunjukkan bahwa yield pektin kulit buah naga dengan metode MAE lebih besar dibandingkan metode konvensional. Variasi berat bahan mempengaruhi yield pektin yang dihasilkan, semakin sedikit bahan yang digunakan dalam ekstraksi, semakin besar yield pektin kulit buah naga yang dihasilkan. Yield pektin terbesar (72 %) dihasilkan pada variasi berat 10 gram. Variasi waktu ekstraksi juga memberikan pengaruh terhadap yield pektin, semakin lama waktu ekstraksi semakin besar yield pektin kulit buah naga yang dihasilkan. Yield pektin terbesar dihasilkan pada waktu ekstraksi 25 menit. Pektin hasil ekstraksi dapat digunakan sebagai bahan edible film.Extraction of pectinfrom dragon fruit peel is conducted using Microwave Assisted Extraction (MAE) method with the variation of the weight of the raw materials are 10, 15, and 20 gram and the time of the extraction are 15, 20 and 25 minutes. Extraction with the variation of the weight of raw material is conducted in 25 minutes using power of 600 W, whereas the extraction with the variation of time is conducted with 10 gram of raw material using power of 600 W. The obtained pectin was analyzed using Fourier Transform Infrared (FTIR) and processed into edible film. The result of the research shows that MAE method provides more yield of dragon fruit peel rather than the conventional method. The variation of the weight affecting the amount of the obtained pectin, the less material used in the extraction the more yield of the pectin obtained. The highest amount of pectin obtained when the weight of the material is 10 grams. The variation of time also affecting the obtained result, the longer the extraction time, the yield of the dragon fruit pectin is higher. The highest amount of pectin obtained when the extraction time is 25 minutes. The obtained pectin can be used as material of edible film.
PENINGKATAN KADAR GERANIOL DALAM MINYAK SEREH WANGI DAN APLIKASINYA SEBAGAI BIO ADDITIVE GASOLINE Astuti, Widi; Putra, Nur Nalindra
Jurnal Bahan Alam Terbarukan Vol 3, No 1 (2014): June 2014
Publisher : Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jbat.v3i1.3098

Abstract

Sereh wangi merupakan salah satu tanaman penghasil minyak atsiri yang banyak mengandung geraniol. Geraniol merupakan senyawa penyedia oksigen sehingga minyak sereh wangi dimungkinkan dapat digunakan sebagai bio additive gasoline. Penelitian ini bertujuan meningkatkan kadar geraniol dalam minyak sereh wangi dan menggunakannya sebagai bio additive gasoline.Penelitian dilakukan dalam tiga tahap, yaitu pemungutan minyak sereh wangi dari daun sereh wangi, peningkatan kadar geraniol dalam minyak sereh wangi dan aplikasi minyak sereh wangi yang mengandung geraniol tinggi sebagai bio aditive gasoline.Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemungutan minyak sereh wangi yang dilakukan dengan metode distilasi uap menghasilkan rendemen sebesar 0,76% dengan kadar geraniol 5,36%.Kadar geraniol dapat ditingkatkan menjadi 21,78% melalui proses distilasi vakum pada suhu 120oC. Pengujian minyak sereh wangi dengan kadar geraniol tinggi sebagai bio additive gasoline meliputi uji performa dan efisiensi konsumsi bahan bakar dengan variasi perbandingan volume gasoline dengan bio additive. Hasilnya, penambahan minyak sereh wangi dengan perbandingan volume gasoline ; minyak sereh wangi = 1000:2 mampu meningkatkan power mesin dari 7,8HP menjadi 8,6HP. Sementara, pada pengujian efisiensi bahan bakar, penambahan minyak sereh wangi dengan perbandingan volume gasoline : minyak sereh wangi = 1000:2 dapat meningkatkan efisiensi mesin sebesar 10,8%.Citronella contains geraniol which is an oxygen provider substances, so it may be used as bio additive. The purpose of this research is to increase geraniol content in citronella oil and use it as a gasoline bio additive. This research is conducted in three steps including take the citronella oil from citronella leaf, increase geraniol content in citronella oil and use citronella oil as a gasoline bio additive. The result show that citronella oil produced from citronella leaf using vapor distillation method contains geraniol by 5.36%. The content can be increase using vacuum distillation up to 21.78 % at temperature of 120oC. The citronella oil test as a gasoline bio additive including performance test and fuel efficiency test with gasoline-bio additive ratio as variable. The addition of citronella oil to gasoline with the volume ratio of gasoline : citronella oil = 1000:2 increases machine power from 7.8 HP to 8.6 HP and fuel efficiency up to 10.8 %.

Page 1 of 2 | Total Record : 12