cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Teknobuga
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Arjuna Subject : -
Articles 149 Documents
PEMBENTUKAN WIRAUSAHA BARU BUSANA KE ARAH PENGEMBANGAN KEHIDUPAN INDUSTRI BUSANA Hartatianti, -
Teknobuga Vol 1, No 1 (2008)
Publisher : Jurusan Teknologi Jasa dan Produksi, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Graduate of Education Fashion Study Program do not have to become teacher,but also have to create the opportunity of occupation for their own and others, throughentrepreneurship. This activity represent devotion to society, developing new small scaleclothing business to be instructed to become bigger industry. It needed partnership with"father industry" which can train entrepreneur candidate in blazing and developingbusiness. Target of this activity are : (1) improving skill and knowledge about fashionbusiness through apprenticeship program; (2) improving knowledge and skill of fashionproduction according to industrial standard; and (3) developing business. Target of theactivity is a small scale business which is just blazed by graduates of Fashion StudyProgram of IKIP Semarang, Academy of Social Prosperity ( AKS) and of SMU, entirely 5peoples. Approach is held through action research, as the following steps : (1) identifyingcondition; (2) apprenticeship; (3) assessment of goals achievement; and ( 4) evaluation.Results are gained in the form of make-up of knowledge and skill in management andmarketing, correct sewing and finishing skills, where evaluation show 80% “perfectcategory” and 20% “good”. Developing program of the new business unit should becontinued in cooperation with industry, and business perpetrators.Keywords : entrepreneurship, fashion, industryLulusan program studi Pendidikan Tata Busana, tidak harus menjadi guru, tetapijuga harus dapat menciptakan peluang kerja bagi dirinya sendiri maupun orang lain,dengan berwirausaha. Kegiatan ini merupakan pengabdian kepada masyarakat, melaluipembentukan wirausaha baru yang akan diarahkan menjadi industri busana. Untuk itu,diperlukan mitra "bapak angkat" yang dapat melatih calon usahawan dalam merintis danmengembangkan usaha. Tujuan kegiatan ini diarahkan untuk (1) meningkatkanketrampilan dan pengetahuan tentang bisnis busana melalui program pemagangan; (2)meningkatkan pengetahuan dan keterampilan produksi busana sesuai standar industri;dan (3) mengembangkan usaha. Sasaran kegiatan ini adalah usaha yang baru dirintisoleh lulusan Tata Busana dari IKIP Semarang, Akademi Kesejahteraan Sosial (AKS) danSMU, seluruhnya 5 orang. Pendekatan dilakukan melalui kaji tindak, dengan langkahlangkahberikut (1) identifikasi kondisi (2) pemagangan (3) penilaian prestasi target dan(4) evaluasi hasil. Hasil yang dicapai berupa peningkatan pengetahuan dan keterampilanaktual dalam pengelolaan usaha dan pemasaran, keterampilan menjahit danpenyelesaian secara benar, di mana hasil evaluasi menunjukkan kategori sempurna 80%dan baik 20%. Program pembinaan terhadap unit usaha baru ini perlu dilanjutkanbekerjasama dengan industri, pelaku bisnis dan koperasi.Kata Kunci: kewirausahaan, pertunjukan, industri
PEMANFAATAN DAUN SENGON (ALBIZIA FALCATARIA) SEBAGAI PEWARNA KAIN SUTERA MENGGUNAKAN MORDAN TAWAS DENGAN KONSENTRASI YANG BERBEDA Kusriniani, Dewi
Teknobuga Vol 1, No 1 (2008)
Publisher : Jurusan Teknologi Jasa dan Produksi, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sengon leaves could be used as silk dye with the assistance of Al2(SO4)3. Theaim of the research are to know: (1) the quality of silk yarn dyed with sengon leavesextract, with variation of Al2(SO4)3; and; (2) Al2(SO4)3 concentration with optimum quality.Research hypothesis is there are differences of washing fastness and color depth in everyvariation of Al2(SO4)3. Independent variable is Al2(SO4)3, with concentration variation: 25g/l, 50 g/l, 75 g/l, 100 g/l, 150 g/l and 200 g/l. Dependent variable is quality of silk fabriccolor, measured with: washing fastness and color depth. Control variables are: extractconcentration of sengon leaves 500 g/l, temperature 400C, mordant treatment and dyeingtime is 60 minutes each, and dyeing frequencies are 5 times. Data are collected throughlaboratory test. The optimal quality of color in 150 g/l Al2(SO4)3, with good color fastnessand deep color. The research conclude that sengon leaves could dye silk, and there aresignificant differences of color quality in variation of Al2(SO4)3. The higher theconcentration, washing fastness gets better, and color gets deeper.Keyword : sengon leaves, Al2(SO4)3 mordant, silk dyeDaun sengon dapat digunakan sebagai pewarna sutera, dengan bantuanmordan tawas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) kualitas warna kain suterayang dicelup dengan ekstrak sengon dengan variasi konsentrasi tawas; (2) konsentrasitawas yang menghasilkan kualitas warna optimal. Hipotesis penelitian, ada perbedaanketahanan luntur terhadap pencucian dan ketuaan warna pada tiap konsentrasi tawas.Variabel bebas adalah tawas dengan variasi konsentrasi 25g/l, 50g/l, 75g/l, 100g/l, 150g/ldan 200g/l. Variabel terikat adalah kualitas warna kain sutera, meliputi: ketahanan lunturterhadap pencucian dan ketuaan warna. Variabel control antara lain: konsentrasi ekstrakdaun sengon 500 g/l, temperatur 400C, waktu mordanting dan waktu pencelupan masingmasing60 menit, dan frekuensi pencelupan 5 kali. Data diperoleh melalui uji laboratorium.Hasil analisis deskriptif menunjukkan kualitas warna optimum pada konsentrasi tawas 150g/l, dengan nilai ketahanan luntur baik dan warna tua. Simpulan penelitian adalah ekstrakdaun sengon dapat dipakai sebagai pewarna kain sutera, terdapat perbedaan kualitaswarna yang signifikan pada tiap variasi konsentrasi tawas. Makin tinggi konsentrasi tawas,ketahanan luntur warna terhadap pencucian makin baik, dan warna makin tua.Kata Kunci : daun sengon, mordan tawas, pewarna sutera
PEMANFAATAN DAUN TEMBAKAU UNTUK PEWARNAAN KAIN SUTERA DENGAN MORDAN JERUK NIPIS Santosa, Ester Kusumawati; Kusumastuti, Adhi
Teknobuga Vol 1, No 1 (2008)
Publisher : Jurusan Teknologi Jasa dan Produksi, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Natural dyes are cheaper, easy to get, and environmentally save. One of itis: tobacco leaves (nicotiana tabacum). The experiment is held to know the differencesof color quality of silk fabric dyed with addition of lemon extract (citrus aurantifoliaswingle). Independent variable is lemon extract with variation of concentration: 25g/l,50g/l, 75g/l, dan 100g/l, and quality of color as dependent variable. Control variablesare: tobacco leaves concentration 750g/l, dyeing times 1 hour, mordant ing times 30minutes, and dyeing frequences 5 times. Data collecting use laboratory test. Varianceanalysis proof that hypothesis is accepted, means that the color quality of silk dyed withtobacco leaves difference significantly according to concentration lemon extract. Thehigher mordant concentration, washing fastness becomes better, and color is deeper.The optimal result is in the used of 100g/l lemon mordant.Keyword : tobacco leaves, silk fabric, lemon.Zat warna alam digunakan untuk pewarnaan tekstil, karena lebih murah,mudah diperoleh, dan ramah lingkungan. Salah satu di antaranya adalah dauntembakau (nicotiana tabacum). Penelitian eksperimen dilakukan untuk mengetahuiperbedaan kualitas warna kain sutera yang dicelup dengan konsentrasi mordan jeruknipis (citrus aurantifolia swingle). Variasi konsentrasi jeruk nipis 25g/l, 50g/l, 75g/l, dan100g/l menjadi variabel bebas, kualitas warna kain sutera adalah variabel terikat.Variabel kontrolnya: konsentrasi daun tembakau 750g/l, waktu pencelupan 1 jam,waktu mordanting 30 menit, dan frekuensi pencelupan sebanyak 5 kali. Pengumpulandata dilakukan melalui uji laboratorium. Hasil analisis varian menunjukkan bahwahipotesis diterima, artinya kualitas warna kain sutera berbeda secara signifikan padasetiap variasi konsentrasi mordan jeruk nipis. Makin tinggi konsentrasi mordan yangdigunakan, ketahanan luntur warna terhadap pencucian makin baik, dan warna makintua. Kesimpulan dari penelitian ini adalah daun tembakau dapat dipakai sebagaipewarna kain sutera dengan bantuan mordan jeruk nipis, dengan kualitas warnaoptimum pada pemakaian konsentrasi mordan 100g/l.Kata kunci : daun tembakau, kain sutera, jeruk nipis.
PENGEMBANGAN PRODUK TEKSTIL PADA INDUSTRI KECIL MENENGAH BATIK TRADISIONAL DAN SUTERA DI JAWA TENGAH Sawitri, Sicilia
Teknobuga Vol 1, No 1 (2008)
Publisher : Jurusan Teknologi Jasa dan Produksi, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Come into the global market era, all industries in Indonesia have to developtheir competitiveness, including small and medium scale industries of batik and silk fabricin Central Java. Hard work and hard effort has to be done to increase the efficiency,innovation, and creativity. Product diversification is one of the effective effort for theindustry, by developing: (1) batik new technique; (2) tye dye technique; embroiderytechnique. The steps of the proses will be: (1) design producing; (2) proses menghiaskain; dan (4) apparel, wardrobe, and upholstry production.Keyword: industry, traditional batik, silk, product diversificationMemasuki pasar bebas, semua industri di Indonesia harus berbenahmeningkatkan daya saingnya dan memperluas pangsa pasarnya, tidak terkecuali industrikecil dan menengah batik tradisional dan sutera di Jawa Tengah. Salah satu upayaindustri tersebut adalah meningkatkan efisiensi, inovasi dan kreativitas. Upayadiversifikasi produk, dipandang cukup efektif untuk industri ini, antara lain pengembangan:(1) berbagai teknik membatik; (2) berbagai teknik jumputan; (3) berbagai teknik bordir.Langkah yang dilakukan adalah: (1) pembuatan desain; (2) proses menghias kain; dan (4)pembuatan pakaian dan asesoris rumah tangga.Kata kunci : industri, batik tradisional, sutera, diversifikasi produk
PERBEDAAN KEKUATAN BENANG KAIN KATUN DITINJAU DARI JENIS AIR RENDAMAN Wahyuningsih, Sri Endah
Teknobuga Vol 1, No 1 (2008)
Publisher : Jurusan Teknologi Jasa dan Produksi, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Water from well, river, and sea are differ in chemical content. The aim of the study is toknow if there are differences in cotton fabric yarn strength between one which are steeped in wellwater, river water, and sea water. Experiment using cotton fabric taken with total random sampling.Data are collected with laboratory test, using yarn strength tester equipment according to textilestandard. Variance analysis was used for data analyzing proved the hypothesis where Fh=337,35 >Ft=3,4, and Tukey B test value for sea water= 4,3556, river water=2,5926, and well water=3,6370.The research conclude that there are differences of cotton fabric yarn strength by the influence byeach type of steeping water, separately, and all together. Hence suggested to choose river waterinsist of sea water with higher risk of fabric damage.Keyword: strength, cotton yarn, steeping waterAir sumur, air sungai, dan air laut mengandung unsur yang berbeda. Diduga kandunganunsur dapat mempengaruhi kekuatan bahan. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui adanyaperbedaan kekuatan benang kain katun yang direndam dengan tiga jenis air tersebut. Penelitian iniberupa eksperimen, dengan obyek penelitian benang katun yang terdapat dalam kain.Pengumpulan data melalui uji laboratorium menggunakan yarn strength tester. Analisis data menggunakananalisis varians dilanjutkan dengan uji B Tukey. Hasil analisis menunjukkan hipotesisditerima (F=337,35 > Ft=3,4), yang didukung oleh hasil uji Tukey dengan besaran untuk air lautadalah 4,3556, air sungai sebesar 2,5926 dan air sumur sebesar 3,6370. Simpulan yang dapatdiambil adalah ada perbedaan yang signifikan antara kekuatan benang kain katun pada setiapvariasi air rendaman. Perbedaan terbesar terdapat pada perendaman dengan air laut. Saranmenghindari penggunaan air laut dan air dengan kadar asam tinggi untuk merendam kain katun.Kata kunci : Kekuatan, benang kain katun, air rendaman.
REVOLUSI DALAM TEKNOLOGI PEMELIHARAAN TEKSTIL Syamwil, Rodia
Teknobuga Vol 1, No 1 (2008)
Publisher : Jurusan Teknologi Jasa dan Produksi, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Maintaining clothes and textiles are very importance following theincreasing of people awareness in clean and healthy life. Textile maintenancetechnology like washing, bleaching, patching or mending, sizing or resin finishing,ironing, pleating and keeping, are grow rapidly. Textile maintenance are dailyactivities, but we found that many people could not follow the rapid changing of itstechonology. The differences of consumer knowledge of available technologies, couldcause inefficient usage, difficulty in justified damage and workmanship. To overcomethis problem, informations through mass media, web, counsellings program in PKK,internalization through school lifeskills curriculum, are needed. Corret textilemaintenance, give beneficial economically, since it can lengthen the life of textilesand minimalize purchasing.Keyword: maintenance of textilePemeliharaan tekstil sangat penting seiiring meningkatnya kesadaranmasyarakat terhadap pola hidup bersih, sehat dan indah. Proses pemeliharaan tekstilmeliputi : proses-proses pencucian, pemutihan atau pengelantangan, penisikan ataupenambalan, penganjian atau peresinan, penyetrikaan, pelipatan dan penyimpanan.Semua kegiatan tersebut dapat dikerjakan dengan baik apabila masyarakat memilikipengetahuan tentang teknik pemeliharaan yang benar. Perkembangan teknologipemeliharaan tekstil yang pesat, harus sejalan dengan pengetahuan masyarakattentang teknologi tersebut. Apabila terjadi kesenjangan antara pengetahuankonsumen dengan teknologi yang tersedia, maka akan terjadi pemakaian yang tidakefisien, kesulitan pengerjaan, atau kerusakan. Kesenjangan tersebut dapat di atasidengan menyebarkan informasi-informasi melalui media massa, internet, penyuluhanpada kelompok-kelompok PKK, internalisasi melalui kurikulum lifeskill di sekolah.Pemeliharaan tekstil yang dilakukan dengan benar dapat memperpanjang usiapemakaian pakaian dan menghemat pembelian.Kata kunci: pemeliharaan tekstil
PERMASALAHAN WANITA PENGUSAHA KECIL MENENGAH PAKAIAN JADI DALAM MENGEMBANGKAN INDUSTRI KONVEKSI DI ERA GLOBAL Wahyuningsih, Sri Endah; Wahyuningsih, Urip; N, Muh Fakhrihun
Teknobuga Vol 2, No 1 (2010)
Publisher : Jurusan Teknologi Jasa dan Produksi, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The main research is to descript the result connected to the problem :How is the lower and middle businesswomen problem to ready clothes industries in theglobal era.The research using qualitative approach. The industries includes that haveminimal 5 mans as the worker and 100 mans for maximal, the product are ready clothesfor man, women, kid and linen and located at Semarang and Semarang District. 2-5 keypersons on each industry have made. The result : 1) The problem of ready clothesbusinesswomen to improve the lower and middle industries (Convection / garment) atglobal era are structural problem, general, production and personal problem. Thestructural problem, economic concentration, business group domination, integration andindustrial connection, BUMN act, source, knowledge and technology, capital, marketingand socio culture. Production problem connected to medium product, plan product,cutting, sewing and finishing.2) Personal problem connected to family earning, kideducation, house work and as the wife., The dominant problems is government policy,capital, human resource, socio culture and marketing as a life 3) Personal problemespecially socio culture and domestic is the one of Businesswomen contains to improvetheir business.The recommendation suggestion : government should make a precise policy and couldgive industries forward opportunity so that could give precise suppor, Women shouldhave coherent behave and applying management knowledge she had, Modern kideducation place is the one choice to get precise education in the world and for the futureKeyword: Problems,businesswomen,convection industries,global eraTujuan penelitian ini mendiskripsikan temuan-temuan yang terkait dengan persoalanberikut : Bagaimanakah permasalahan wanita pengusaha industri kecil menengah dalammengembangkan usaha pakaian jadi di era global, Penelitian ini menggunakan pendekatankualitatif. Industri konveksi yang dimaksud mencakup industri yang memiliki tenaga kerjaminimal 5 orang dan maksimal 100 orang, dengan jenis produk pakaian pria, wanita, anak sertalenan rumah tangga dengan lokasi penelitian di kota Semarang dan Kabupaten Semarang.Dari setiap jenis industri ditetapkan 2-5 informan. Seorang informan dipilih mulai pemilik,karyawan, keluarga maupun Disperindag. Data dikumpulkan dengan teknik wawancaramendalam dan obeservasi non partisipan sesuai focus penelitian. Analisis data secara induktifdan Harvard, untuk pemeriksaan keabsahan data dilakukan triangulasi.Hasil penelitian : Jenis permasalahan wanita pengusaha pakaian jadi dalam mengembangkanIndustri kecil dan menengah (konveksi) di era global meliputi permasalahan struktural, umum,proses produksi, dan permasalahan rumah tangga. Permasalahan struktural terkait dengankonsentrasi ekonomi, dominasi kelompok bisnis, integrasi dan hubungan antar ,sentra industri,peran BUMN, bahan baku, IPTEK dan kondisi SDM. Permasalahan umum terkait denganmanajemen, teknologi produksi, modal, pemasaran dan sosial budaya. Permasalahan dalamproses produksi terkait dengan ketersediaan sarana produksi, perencanaan produk, pemotongan,penjahitan dan penyempurnaan. Permasalahan rumah tangga terkait denganekonomi/pendapatan keluarga, pendidikan anak, tugas rumah tangga dan sebagai istri. danSebagian besar industri konveksi pakaian jadi yang dikelola kaum wanita meskipun sudahberkeluarga mengalami perkembangan kemajuan.Saran yang direkomendasikan : Pemerintah yang terkait rendahnya membuat kebijakan yangtepat dan dapat memberi peluang maju industri sehingga dapat memberikan bantuan sesuaikebutuhan, Sebaiknya perempuan bersikap tegas dan menerapkan pengetahuan manajemenyang telah dimiliki. pilihan tempat pendidikan modern sebagai alternative mengasuh / mendidikanak sehingga mendapat bekal pendidikan di dunia dan akhiratKata Kunci : Permasalahan, Wanita Pengusaha, IKM, Pakaian Jadi, Era Global.
BUSANA PANGGUNG DITINJAU DARI TATA RIAS KARAKTER DAN TATA RIAS FANTASI -, Marwiyah
Teknobuga Vol 2, No 1 (2010)
Publisher : Jurusan Teknologi Jasa dan Produksi, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Cloth Podium as one of the means, media of penggembang and oftransformasi materialization an culture, arrange character make up and arrange fantasymake up have role which strategic enough. That thing is enabled by because arrangingcharacter make up and arrange fantasy make up represent materialization of total swansong, atara arrange face make up, arrangement of cloth, settlement of hair and alsoused accessories there is in one unity of concept. In designing podium cloth to arrangecharacter rias and arrange fantasy rias, usage of element cover: line, direction, sizemeasure, form, bold dark value, and colour of tekstur, and also ground cover:compatibility, comparison, balance, cynosure and rhythm have to always there is, strivedin making to be designed by podium cloth according to figure character and idea sourcemade by as beautiful as possible with high innovation and creativity will be yielded bynew cloth masterpiece, beautiful, harmonious and elegen.Keywords: Cloth Podium, character make up, fantasy make up Busana panggung sebagai salah satu wahana, media penggembang dantransformasi perwujudan suatu budaya, tata rias karakter dan tata rias fantasi memilikiperanan yang cukup strategis. Hal itu dimungkinkan karena tata rias karakter dan tatarias fantasi merupakan perwujudan karya seni yang total, atara tata rias wajah,pengaturan busana, penataan rambut serta asesoris yang digunakan ada dalam satukesatuan konsep. Dalam merancang busana panggung untuk tata rias karakter dan tatarias fantasi, penggunaan unsur meliputi: garis, arah, ukuran, bentuk, nilai gelap terang,warna dan tekstur, serta asas meliputi: keselarasan, perbandingan, keseimbangan,irama dan pusat perhatian harus selalu ada, diupayakan dalam membuat desain busanapanggung sesuai watak tokoh dan sumber ide dibuat seindah mungkin dengankreatifitas dan inovasi yang tinggi akan dihasilkan karya busana baru, indah, harmonisdan elegen.Kata Kunci: Busana panggung, tata rias karakter dan tata rias fantasi
PERAN ETIKA BERBUSANA SERTA BATASAN PORNOGRAFI DAN PORNOAKSI SEBAGAI PENCEGAHAN KEKERASAN TERHADAP PEREMPUAN Na’am, Muh Fakhrihun; Wahyuningsih, Sri Endah
Teknobuga Vol 2, No 1 (2010)
Publisher : Jurusan Teknologi Jasa dan Produksi, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The purpose of this research is to know the influence of pornographyand porno actions towards prevention the violence of woman and to know theprevention method of woman violence exactly. This research done withqualitative method because to know the description of woman violence factually.Data conception technique through interview and questionnaire to NGO (NonGovernment Organization) who asked violence to the woman case, the police,woman empowerment, student, physiology, lecturer and society. The analysisused inductive and triangulation. The result of this research shows that thelimitation of definition between pornography and porno actions and dressed ethicwas the dominant way dressed in society and make not bring about pro andcontra and admitted. Factor that stimulate the violence to the woman are badattitude, culture-politic and how to dressed.Key Word: the pornography and porno actions, the prevention method of womanviolence exactly.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh batasanpornografi dan pornoaksi terhadap pencegahan kekerasan terhadap perempuandan mengetahui metode pencegahan kekerasan pada perempuan yang tepat.Penelitian ini dilakukan secara kualitatif karena untuk melihat gambarankekerasan terhadap perempuan secara nyata. Teknik pengambilan data melaluiwawancara dan angket terhadap LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) yangmenanyai kasus Kekerasann Terhadap Perempuan, Kepolisian, PemberdayaanPerempuan, Mahasiswa, Psikolog, dan Dosen serta Masyarakat lainnya. Analisisdata secara induktif dan dilakukan triangulasi.Hasil penelitian menunjukkanbeberapa batasan definisi yang tidak sama antara pornografi dan pornoaksi sertaetika berbusana merupakan cara berpakaian yang dominan di masyarakat dandiakui serta tidak menimbulkan pro dan kontra. Faktor-faktor yang memicukekerasan terhadap perempuan meliputi adanya sikap perilaku mendasar yangsudah buruk, budaya dan politik serta faktor busana tidak mendasar. Metodepencegahan kekerasan terhadap perempuan adalah diberlakukannya UU danpendidikan sejak dini tentang pentingnya perilaku baik serta kewaspadaanterhadap lingkungan sekitar.Kata Kunci: Pornigrafi dan porno aksi, Kekerasan Terhadap Perempuan.
KANDUNGAN GIZI DAN SIFAT FISIK TEPUNG AMPAS KELAPA SEBAGAI BAHAN PANGAN SUMBER SERAT Putri, Meddiati Fajri
Teknobuga Vol 2, No 1 (2010)
Publisher : Jurusan Teknologi Jasa dan Produksi, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Fiber intake becomes increasingly take precedence in making the formulationof food products for its role in speeding up digestion, where the bacteria grow duringdiusus and reduce the availability of cholesterol. Utilization of by-product of coconuthusks as a substitute material for health food has not been much revealed. Althoughcoconut pulp is a byproduct manufacture the coconut milk, but coconut pulp is a sourceof food fiber. Coconut pulp derived from a byproduct of the commodity which has theadvantage as a supporter of sustainable food security. This is supported by highproduction potential, process and equipment used in a simple and inexpensiveproduction, has the ability to be processed into products of higher quality, can be addedto bread products, recipes, and food products others as a health food that can supportdiversivikasi food. Nutrient coconut pulp flour contains carbohydrates in a lower amountis about 33.64125 percent, of flour (73.52 percent). Flour protein content of coconut pulpis relatively low at 5.78725 percent, rather than wheat flour (13.51 percent). Fat contentof coconut flour is high enough residue from flour (38.2377 percent). Crude fiber flourcoconut pulp is high enough (15.068865) per cent, higher than wheat flour (0.25percent). Content of insoluble fiber foods are very high (63.66%), and (soluble fiber foodis very low 4.53%, Raghavendra et al, 2004). Flour coconut pulp is one of the flour as asource of food and fiber, coconut husks flour contains water that is low enough to6.9969 percent lower than in wheat flour (11.31 percent). degree of coconut pulp andwhite flour whiter than white flour with a round shape with a range of granule sizes Ø60-Ø140 μm, and granule forms fragments with a range of sizes Þ140-300 μm. Gelconsistency coconut pulp flour has a very weak gel consistency and viscosity of flourpaste coconut pulp is low, NKA flour with coconut husks for 94.62% and 0.34% for theNPAKeywords: Nutrient, physical properties, flour coconut pulp, fiberAsupan serat menjadi semakin diutamakan dalam membuat formulasi produkpangan karena perannya dalam memperlancar pencernaan, tempat berkembang bakteriselama diusus dan mengurangi ketersediaan kolesterol. Pemanfaatan hasil sampingampas kelapa sebagai bahan substitusi makanan kesehatan selama ini belum banyakterungkap. Meskipun ampas kelapa merupakan hasil samping pembuatan santan,namun ampas kelapa merupakan bahan pangan sumber serat. Ampas kelapa berasaldari komoditi hasil samping yang memiliki keunggulan sebagai pendukung kelestarianketahanan pangan. Hal tersebut ditunjang oleh potensi produksi yang tinggi, proses danperalatan yang digunakan dalam produksinya sederhana dan murah, memilikikemampuan untuk diolah menjadi produk-produk yang lebih berkualitas, dapatditambahkan pada produk-produk roti, resep-resep masakan, dan produk-produkmakanan lainnya sebagai makanan kesehatan sehingga dapat menunjang diversivikasipangan. Kandungan gizi tepung ampas kelapa mengandung karbohidrat dalam jumlahyang lebih rendah yaitu sekitar 33,64125 persen, dari tepung terigu (73,52 persen).Kandungan protein tepung ampas kelapa relative cukup rendah yaitu 5,78725 persen,daripada tepung terigu (13,51 persen). Kandungan lemak tepung ampas kelapa cukuptinggi dari tepung terigu (38,2377 persen). Kandungan serat kasar tepung ampas kelapacukup tinggi yaitu (15,068865) persen, lebih tinggi dari tepung terigu (0,25 persen).Kandungan serat pangan tak larut sangat tinggi yaitu (63,66%), dan (serat pangan larutsangat rendah 4,53% ,Raghavendra et al, 2004). Tepung ampas kelapa merupakansalah satu tepung sebagai sumber serat pangan dan tepung ampas kelapamengandung air cukup rendah yaitu 6,9969 persen lebih rendah dari pada tepung terigu(11,31 persen). derajat putih tepung ampas kelapa lebih putih daripada tepung terigu dengan bentuk granula bulat dengan kisaran ukuran Ø60-Ø140 μm dan bentuk granulaserpihan dengan kisaran ukuran Þ140-300 μm. Konsistensi gel tepung ampas kelapamempunyai konsistensi gel sangat lemah dan viskositas pasta tepung ampas kelaparendah, dengan NKA tepung ampas kelapa sebesar 94,62 % dan NPA sebesar 0.34%Kata kunci: Kandungan gizi, sifat fisik, tepung ampas kelapa, serat

Page 1 of 15 | Total Record : 149